KEFAMENANU CHILDREN IN AN ETNOPHOTOGRAPHY STUDY
C. Optimisme Anak-anak Kefamenanu
Pada faktanya kehidupan anak-anak Kefamenanu pada umumnya mengalami perjalanan hidup yang tidak seberuntung anak-anak di daerah lain di Indonesia. Namun rasa optimisme untuk meraih masa depan tetap ada dalam diri mereka. Rasa optimism tidak mudah dilihat secara harfi ah, tetapi bisa terlihat dari semangat jiwanya yang membara dari tindakan dan aktivitas yang dilakukan anak-anak untuk meraih cita-citanya. Hanya kekuatan optimisme membuat anak-anak Kefamenanu hidup dalam harapan dan perjuangan. Sebagaimana terlihat pada foto 4, secara harfi ah kedua anak perempuan ini tidak layak memikirkan
cita-citanya, tetapi dengan semangat optimisme cita-cita dan harapan disampaikan kepada penulis. Pada faktanya kedua anak ini untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya saja susah, makan tiga kali sehari saja belum tentu bisa. Tetapi optimism dan semangat dalam meraih harapan dan cita-citanya sebagai perawat ditunjukan dengan bersekolah meskipun harus melalui perjuangan yang keras.
Dalam foto 4 diperlihatkan dua anak perempuan duduk di lantai tanah yang berumput. Dua anak perempuan tersebut yang satu berbaju putih kusam/lusuh di kantong sakunya terdapat emblem SD yang berarti merupakan seragam sekolah dan yang satunya tidak mengenakan baju, tetapi memakai rok berwarna merah yang biasa dipakai untuk seragam SD. Sementara di depan mereka duduk terdapat beberapa tampah (jawa) sebagai tempat untuk menaruh beras.
Bagi anak-anak Kefamenanu yang paling penting adalah tetap optimis dan menolak pesimis dengan keadaan. Bagi mereka optimislah yang mampu me ngalahkan kemiskinan, kekurangan, dan berbagai hal yang merugikan kehi dupan. Optimisme satu-satunya yang mem bawa harapan yang pasti, dan juga mem bawa kekuatan untuk menyelesaikan per-masalahan kehidupan.
Untuk masalah makan bagi anak di daerah lain mungkin tidak menjadi masalah, sebab pulang sekolah makanan sudah tersedia dan siap untuk disantap. Tetapi bagi sebagaian anak di Kefamenanu, pulang sekolah belum tentu ada dan tersedia bahan yang bisa untuk dimasak apalagi siap untuk dimakan. Seperti kondisi yang dialami oleh dua gadis kecil ini, sehari makan sekali itu sudah beruntung. Makanan utama masyarakat di Kefamenanu ini adalah jagung, untuk bisa makan nasi adalah sesuatu yang istimewa.
Meski dalam kondisi yang kurang menguntungkan, kemiskinan dan kekurangan bagi masya rakat yang tidak dirasakan dengan keluhan, tetapi hanya dijalani dengan kekuatan optimisme yang memperkuat kehidupan. Optimisme berarti ada harapan, ada keyakinan, dan ada kemampuan untuk mewujudkan apa saja yang diinginkan. Dalam observasi peneliti, ditemukan rasa optimisme anak-anak tersebut dalam menatap kedepan akan harapan akan kehidupan yang tidak hanya diam namun dinamis, dikuatkan dalam kemauan, cita-cita dan keinginan anak-anak tersebut untuk terus bersekolah diatas segala keterbatasan. Semoga harapan, kekuatan optimisme dapat mengantarkan mereka kepada perubahan yang lebih baik. Seburuk apapun realitas kehidupan yang sedang dihadapi anak-anak Kefamenanu, mereka tetap optimis dan yakin untuk menuntaskannya dengan caranya sendiri yang hebat, maka hal yang paling buruk pun bisa diselesaikan. Perjuangan dan optimisme sepertinya menjadi satu kesatuan kata nyang melekat sebagaimana harapan Maria Olle Ayal (foto 4, anak yang berbaju/berseragam) salah satu anak dari sekian banyak anak Kefamenanu yang masih memiliki cita-cita ingin menjadi ‘bidan’. Cita-cita sederhana tetapi sangat mulia bagi seorang anak yang mampu melihat permasalahan kesehatan/tingkat kematian yang relatif tinggi bagi ibu/anak saat melahirkan di Kefamenanu. Menurut data tahun 2008 hingga 2011 angka lahir mati 387 orang dan angka kematian bayi, balita sebanyak 218 orang. Tingginya angka kematian ibu melahirkan, bayi lahir mati dan kematian bayi dan balita di daerah itu disebabkan berbagai faktor antara lain keterbatasan kualitas sumber daya manusia di bidang pelayanan kesehatan, rendahnya kesadaran masyarakat untuk melahirkan di sarana kesehatan serta faktor pemicu lainnya (Pos Kupang, 9 November 2011).
Harapan dan impian yang sangat sederhana tapi mulia dan begitu berharga bagi dia dan masyarakat Kefamenanu. Semoga harapan Maria Olle Ayal dan cita-cita dari anak-anak Kefamenanu yang lain bisa terwujud untuk masa depan Indonesia. Pemerintah harus mengingat serta mencatat mimpi anak-anak tersebut dan harus bisa mewujudkan. Sebab sebagian besar anak Kefamenanu masih nampak suram, dengan segala permasalahan yang belum tuntas sampai saat ini. Jangan sampai keberadaan mereka “terlupakan”. Setiap anak harus mendapatkan hak-haknya, yang pertama setiap anak berhak untuk mendapatkan
perhatian dari siapapun. Kedua, anak-anak harus mendapat jaminan kesehatan. Ketiga, mereka berhak mendapatkan pendidikan yang layak, karena masa depan bangsa ini tergantung di tangan mereka. keempat perlu menata dan mempersiapkan masa depan mereka sejak dini. Kelima, memberikan penghargaan, penghargaan disini adalah masyarakat dan pemerintah harus menghargai hak anak-anak untuk mendapatkan hal tersebut di atas.
III. PENUTUP A. Kesimpulan
Kehidupan anak-anak dalam keseharian di Kefamenanu adalah secuil dari gambaran keras nya kehidupan anak-anak di daerah miskin di Indonesia, bahkan dunia. Keterbatasan fasilitas umum, pendidikan, bahkan akses air bersih menjadi cerminan minimnya perhatian pemerintah akan kesejahteraan masyarakatnya, terutama anak-anak. Anak-anak kefamenanu dipaksa oleh lingkungannya bekerja lebih keras dan mandi akan peluh setiap hari demi meraih cita-cita yang terpendam dalam benak. Semangat untuk menatap masa depan lebih baik (optimism) menjadi dorongan tersendiri bagi anak-anak tersebut.
Banyak hal menarik dari kehidupan anak-anak. Dunia anak-anak itu lucu, polos, ceria, dan riang. Ada anak-anak yang telah terpenuhi haknya dan memiliki masa depan, namun banyak pula kisah yang memilukan terjadi pada anak. Mereka berada ‘di dunia yang sakit dan murung’. Hak-haknya dirampas yang disebabkan oleh faktor ekonomi, budaya, politik, dan lain sebagainya. Kasus-kasus kekerasan pada anak, eksploitasi anak, jual beli anak, kekurangan gizi pada anak hampir setiap hari terdengar dan cenderung meningkat setiap tahun. Melalui etnofografi , pesan dapat disampaikan untuk menambah pengetahuan, membentuk kesadaran, dan menggugah empati masyarakat untuk peduli terhadap hak-hak anak. Sebuah kondisi kehidupan yang kurang berpihak untuk anak-anak di daerah ini.
Kajian ini bukan semata-mata untuk menyorot kondisi anak-anak Kefamenanu yang meng alami ketidakberuntungan. Akan tetapi lebih melihat pada semangat yang dimiliki anak-anak Kefamenanu dengan kondisi alam dan lingkungan yang kurang menguntungkan dibanding daerah lain di Indonesia. Kemampuan bertahan yang dimiliki oleh anak-anak Kefamenanu pada dasarnya adalah harapan, bahwa esok akan bisa lebih baik, hanya soal waktu, dan itu membutuhkan kesabaran, semangat dan perhatian semua pihak.
B. Saran
Mengingat waktu penelitian/kajian dan berada di lokasi relatif singkat, tetapi paling tidak temuan-temuan yang dihasilkan sudah dapat menggambarkan kondisi yang menunjukan kehi dupan sosial, ekonomi, dan budaya di wilayah Kefamenanu masih belum beruntung/memprihatinkan. Untuk itu butuh perhatian dari semua pihak untuk melakukan pembangunan. baik di tingkat pemerintah daerah dan maupun pusat, demikian pula dukungan masyarakat luas. Sebab pembangunan merupakan upaya sadar dan terencana dalam rangka mengelola dan memanfaatkan berbagai sumberdaya (sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan sumberdaya buatan) guna meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat Kefamenanu. Tanpa kekuatan dari masyarakat setempat dan dukungan dari pusat hal-hal tersebut di atas upaya mengentaskan ketertinggalan sulit terwujud. Hal di atas merupakan potret kondisi pendidikan, anak-anak di sebagian wilayah Kefamenanu yang menyedihkan. Kajian fotoetnografi ini bukanlah untuk menunjukkan sebuah ironi, tetapi merupakan cermin tentang potret anak-anak negeri di sebagian daerah di Indonesia yang masih membutuhkan perhatian bersama.
IV. DAFTAR PUSTAKA
Barthes, R., 1997. The Fashion System, University of California Press, London _________, 1981. Camera Lucida, Hill and Wang
Benjamin, W: 1938, Illumination, Schocken
Rohidi, T.R., 2000. Ekspresi Seni Orang Miskin, Penerbit Nuansa, Bandung.
Salewangan, S., 2005. Bahan Bacaan Bagi Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat Yang Berfokus Terhadap Anak Laki-Laki dan Perempuan, Plan Indonesia, PU Rembang. Soetjiningsih, 1995. Tumbuh Kembang Anak, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Ajidarma, S.G., 2002. Kisah Mata: Perbincangan Tentang Ada, Galang Press, Yogyakarta Pink, S. 2006, The Future of Visual Anthropology; Engaging The Senses, Routledge. Hadi, U. 1998. Kajian Tentang Daya Guna Gambar Tangan dan Fotografi Pada Rancangan
Grafi s Iklan Ditinjau dari Peranannya Dalam Mendukung Pesan Iklan Thesis, FSRD ITB
Margianto, H., Penataan Sarana dan Prasarana di NTT, Harian Kompas, Kamis, 14 Juni. 2012.
(Kompas, 4 Juni 2013).
Setz, B., “Warga Kefamenanu Konsumsi Air Kali akibat Kekeringan” Harian Timor Express, Jumat, 14 Agustus 2015
Veronika, F., Angka Kematian Ibu dan Anak di TTU Tinggi, Pos Kupang, 9 November 2011
http://www.metrotvnews.com. Biinmafo News, 24 September 2013 https://www.google.co.id/kekayaan+alam+nusa+tenggara+timur