• Tidak ada hasil yang ditemukan

Representasi Peran dan Relasi Gender dalam Lakon Singa Lundaya

GENDER ROLES AND RELATIONS OF USING PEOPLE AS REFLECTED IN BARONG PERFORMANCE OF KEMIREN

D. Representasi Peran dan Relasi Gender dalam Lakon Singa Lundaya

Dalam lakon Singa Lodaya, “Di antara kedua istri Pak Mantri, nampaknya hanya Siti Ambari yang bereaksi terhadap dominasi sang suami. Pada saat dia bertemu dengan Singa Lodaya dan jatuh cinta, Siti Ambari mengambil keputusan untuk pergi bersama kekasih barunya itu. Dalam hal ini keputusan Siti Ambari mencerminkan penolakannya untuk terus ada dalam bayang-bayang suaminya; untuk diperlakukan seenaknya. Dia ingin bebas menentukan apa yang diinginkannya. Dia menolak dominasi patriaki.”

Apakah nilai-nilai budaya yang tercermin dalam faham feminisme radikal seperti di atas pantas untuk dilestarikan dan disebarluaskan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya ?

Tabel 7. Representasi Peran Gender dalam Lakon Singa Lundaya

No. Peran Gender Bentuk Profesi Tokoh Jumlah

1. Laki-laki di sektor publik Pertapa, Guru Lundaya, 1

Pendekar Lundaya 1

Mantri Pak Mantri 1

2. Laki-laki di sektor domestik Abdi Blendhang, Blendhung dan Bledhus

3

3. Perempuan di sektor publik - -

-Perempuan di sektor domestik Ibu rumah tangga Siti Sundari dan Siti Ambari

2

Tabel 8. Representasi Relasi Gender dalam Lakon Singa Lundaya

No. Relasi Gender Tokoh Jumlah

1. Perempuan dominan Siti Ambari 1 2. Laki-laki dominan Pak Mantri dan Lundaya 2

Representasi peran dan relasi gender dalam lakon Singa Lundaya sebagaimana dalam tabel 7 dan 8 masih menunjukkan adanya ketimpangan gender. Hal tersebut paling kentara pada kehidupan rumah tangga Pak Mantri. Kenyataan bahwa Pak Mantri memiliki dua orang istri sudah merupakan bukti dominasi kekuasaan laki-laki atas perempuan. Istri baginya bukanlah individu merdeka yang punya keinginan sendiri seperti halnya laki-laki. Cara pandang Pak Mantri terhadap istrinya terwakili juga dengan sikapnya saat tahu bahwa istrinya dibawa lari oleh Lundaya. Pak Mantri menantang Lundaya untuk diuji kesaktiannya. Sebagai imbalannya, jika Lundaya mampu melewati uji kesaktian tersebut, Pak Mantri akan menghadiahkan istrinya kepada Lundaya. Jelas kemudian bahwa Siti Ambari sekedar properti yang bisa dengan mudah dipindahtangankan oleh Pak Mantri. Keputusannya untuk mengadakan uji kesaktian terhadap Lundaya juga merupakan kamufl ase untuk menjaga harkat martabatnya di mata masyarakat lain.

Di antara kedua istri Pak Mantri, nampaknya hanya Siti Ambari yang bereaksi terhadap dominasi sang suami. Meskipun demikian, reaksi perlawanan Siti Ambari diwujudkan dalam bentuk “hubungan terlarang” dengan Lundaya. Pada saat dia bertemu dengan Lundaya dan jatuh cinta, Siti Ambari berani mengambil keputusan untuk pergi bersama kekasih barunya itu. Dalam hal ini keputusan Siti Ambari mencerminkan penolakannya untuk terus ada dalam dominasi suaminya. Dia ingin bebas menentukan apa yang diinginkannya.

Dia menolak dominasi patriarki. Namun pada akhirnya Siti Ambari kembali jatuh dalam dominasi laki-laki lain yaitu Lundaya. Ketika akhirnya menyadari keputusannya yang keliru dalam memilih bentuk perlawanan terhadap dominasi laki-laki tersebut, Siti Ambari memutuskan untuk meninggalkan Lundaya.

V. PENUTUP A. Kesimpulan

Analisis struktural cerita menunjukkan bahwa pertunjukan Barong Kemiren terbagi dalam 4 lakon yang walaupun ditampilkan secara berurutan, tetapi tidak saling berkaitan secara langsung dan masing-masing memiliki alur yang sudah pakem dan tidak dikenal adanya skenario tertulis. Tokoh-tokoh yang ada dalam pertunjukan Barong Kemiren adalah manusia, raksasa, binatang jadi-jadian dan jin. Tokoh-tokoh yang terdiri dari berbagai macam mahluk tersebut menyiratkan pandangan dunia masyarakat adat Using Kemiren yang menganggap semuanya sebagai sesama mahluk Tuhan yang harus saling menghormati dan tidak boleh abai. Sebagian besar adegan dalam pertunjukan Barong Kemiren berlatar sebuah hutan belantara imajiner dan alam pedesaan, hal ini mendukung tema utama dalam seluruh lakon ini yang berisi kisah dan perjuangan manusia dalam relasinya dengan sesama manusia, alam, dan makhluk halus. Struktur cerita kesemuanya mengarah pada penggambaran awal mula terbentuknya perkampungan atau desa dan harapan terhadap adanya kerukunan dan kesejahteraan penduduknya yang dijabarkan ke dalam hubungan harmonis antara penduduk dengan roh leluhur, terutama dengan roh penjaga desa, sesama warga desa maupun pendatang, dan sesama lelaki dan perempuan.

Analisis feminis yang berhubungan dengan peran dan relasi gender dalam seluruh lakon Barong Kemiren memperlihatkan adanya perlawanan tokoh perempuan terhadap dominasi tokoh laki-laki dalam berbagai bentuk dan manifestasinya. Penolakan tunduk pada kekuasaan patriarki diperlihatkan tokoh-tokoh perempuan dalam lakon Barong Kemiren (Jaripah, jin perempuan, Suwarti dan Siti Ambari) melalui keberanian dan kebebasan mereka dalam mempertahankan hak dan menentukan pilihan hidupnya. Bentuk perlawanan tokoh perempuan terhadap dominasi laki-laki dalam seluruh lakon Barong kemiren menempuh jalan yang berbeda; Jaripah menempuh jalan perlawanan radikal yang berhasil mendominasi laki-laki, Jin perempuan yang pada awalnya melakukan perlawanan akhirnya tunduk pada dominasi laki-laki, Siti Ambari melakukan perlawanan dengan cara melarikan diri dari laki-laki yang mendominasinya, dan Suwarti menempuh jalan dengan menjalin hubungan yang setara dengan laki-laki (lingkungan patriarki). Dari seluruh lakon Barong Kemiren, pola relasi ideal laki-laki perempuan dalam masyarakat Using nampak dalam pola relasi yang ada dalam tokoh Suwarti-Suwarno yang lebih memilih jalan meminimalisir konfl ik, tidak saling mendominasi dan mengutamakan harmoni. Cerita dalam lakon Barong Kemiren memperlihatkan bahwa wacana kesetaraan gender telah ada pada kultur masyarakat Using sejak dahulu dan secara tersirat menunjukkan nilai-nilai kearifan lokal tentang pola relasi ideal laki-laki perempuan yang setara untuk mencapai harmoni dalam kehidupan.

B. Saran

Kajian terhadap khasanah seni tradisi lisan dari berbagai aspek perlu terus-menerus dilaku kan untuk mengungkap dan mengembangkan nilai-nilai budaya yang merupakan refl eksi dari pengetahuan, budaya, tradisi, dan mindset masyarakat yang melahirkannya. Hal tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memperkaya khasanah nilai-nilai kearifan lokal sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional.

DAFTAR PUSTAKA

Abrams, M. H., 1981. A Glossary of Literary Terms. Fourth edition. New York: Holt, Rinehart and Winston.

Andersen, M. L. 1983. Thinking about Women: Sociological and Feminist Perspectives. New York: McMillan Publishing Co. Inc.

Ariani, C. 2012. Seni Tradisi Barong dan Mitologi Masyarakat Using. Yogyakarta: Patrawidya, Vol. 13, No. 3, September 2012: 433-462.

Beatty, A. 2003. Varieties of Javanese Religion: An Anthropological Account. Cambridge: Cambridge University Press.

Dewi, R. A. R. 2013. Kajian Bentuk Pertunjukan Barong Lancing di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. Surabaya: APRON Jurnal Pemikiran Seni Pertunjukan, Vol. 2, No. 2, 2013.

Fakih, M. 2008. Analisis Gender dan Transformasi Sosial. Yogyakarta: Insist Press. Holman, H. C. 1981. A Handbook to Literature. Fourth Edition. Indianapolis:

Bobbs-Merrill Educational Publishing.

Humm, M. 2007. Ensiklopedia Feminisme, edisi Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Mundi Rahayu. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.

Ikasari, W. S. D. 2001. Gender Stereotyping as Represented by Blanche Dubois in Tennessee Williams’ A Streetcar Named Desire, Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada (Skripsi).

Indiarti, W. 2013. Kajian Mengenai Desa Kemiren Sebagai Penyangga Tradisi dan kearifan Lokal Masyarakat Osing dalam Anasrullah (Ed.) Jagat Osing: Seni, Tradisi dan Kearifan Lokal. Banyuwangi: Rumah Budaya Osing.

Rahayu dan Hariyanto, 2008. Barong Using: Aset Wisata Budaya Banyuwangi. Banyuwangi: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi

Sugihastuti dan Suharto, 2002. Kritik Sastra Feminis: Teori dan Aplikasinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sulistyani. 2006. Barong Trisna Budaya Sebuah Pertunjukan Rakyat di Banyuwangi: Tinjauan Struktur Dramatik dan Fungsi. Denpasar: Institut Seni Indonesia (Laporan Penelitian).

Taum, Y. Y. 2011. Studi Sastra Lisan: Sejarah, Teori, Metode dan Pendekatan disertai Contoh Penerapannya. Yogyakarta: Penerbit Lamalera.

Wiyatmi. 2008. Representasi Peran dan Relasi Gender dalam Novel Cantik Itu Luka Karya Eka Kurniawan dan Nayla Karya Djenar Mahesa Ayu. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta (Laporan Penelitian).

KEHIDUPAN ANAK-ANAK KEFAMENANU DALAM KAJIAN