• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

C- Organik dan Tekstur Substrat

Banyaknya limbah yang masuk kedalam perairan akan mengakibatkan penambahan bahan organik pada sedimen yang akan berpengaruh terhadap persebaran komposisi dan kelimpahan makrozoobenthos. Sedimen berpasir umumnya miskin zat hara dan begitu sebaliknya substrat yang lebih halus kaya akan unsur hara. Kandungan bahan organik berkaitan dengan ukuran butir sedimen. Semakin halus sedimen, maka akan semakin besar kemampuan butiran sedimen tersebut dalam mengikat bahan organik. Bahan organik di perairan terdapat sebagai partikel tersuspensi, bahan organik yang mengalami perubahan dan bahan organik yang berasal dari daratan dan terbawa oleh aliran sungai. Pada umumnya jenis sedimen lumpur lebih kaya akan unsur hara daripada sedimen pasir. Penyebaran dan kelimpahan gastropoda dan bivalvia berhubungan dengan besar kecilnya diameter butiran sedimen di dalam atau diatas gastropoda dan bivalvia berada (Kinasih et al., 2015).

Pengamatan terhadap karakteristik fisika dan kimia serta tekstur sedimen dalam hubungannya dengan struktur komunitas makrozoobenthos sangat penting dilakukan karena sedimen atau substrat dasar perairan merupakan habitat bagi hewan dan tumbuhan yang hidup di dasar perairan. Tekstur sedimen sangat erat kaitannya dengan fraksi butiran sedimen. Kriteria bahan organik sedimen adalah sangat tinggi : >35%, tinggi : 17 – 35%, sedang : 7 – 17%, rendah : 3,5–7%, sangat rendah < 3,5% (Barus et al., 2019).

Karbon organik dalam perairan muncul dari materi hidup (fotosintesis tanaman atau dari bahan organik darat) dan juga sebagai konstituen dari banyak bahan limbah. Sifat C-organik yaitu tidak tahan terhadap suhu tinggi menjadikan kandungan karbon dalam air tergolong rendah bahkan tidak ada. Konsentrasi karbon organik yang rendah diperkirakan karena adanya proses sedimentasi C- organik yang tinggi dan pemanfaatan oleh organisme (Rizal et al., 2017).

Bahan organik utama yang terdapat di dalam air asam amino, protein, karbohidrat dan lemak. Komponen lain seperti asam amino organik, hidrokarbon, vitamin dan hormon juga ditemukan di perairan, tetapi hanya 10% dari material organik tersebut yang mengendap sebagai substrat ke dasar perairan. Kadar bahan organik adalah salah satu hal yang sangat berpengaruh pada kehidupan makrozoobenthos tersebut. Tingginya kadar bahan organik pada suatu perairan umumnya akan mengakibatkan meningkatnya jumlah populasi hewan benthos.

Sebagai organisme dasar, benthos menyukai substrat yang kaya akan bahan organik. Maka pada perairan yang kaya bahan organik, umumnya terjadi peningkatan populasi hewan benthos (Sumanto, 2019).

Substrat dasar merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pola penyebaran hewan makrozoobentos termasuk bivalvia, karena selain berperan sebagai tempat tinggal juga berfungsi sebagai penimbun unsur hara, tempat berkumpulnya bahan organik serta tempat perlindungan organisme dari ancaman predator. Pendistribusian sedimen biasanya sangat ditentukan oleh pasang surut, gelombang, dan debit air serta interaksi faktor biofisik kelautan lainnya (Akhrianti et al., 2014).

Kelimpahan Makrozoobenthos

Makrozoobenthos merupakan komunitas organisme yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang merayap, sessil, maupun menggali lubang. Makrozoobenthos mempunyai peranan penting di perairan sebagai bioindikator lingkungan, bioturbasi sedimen, dan pemakan bahan organik (Indrawan et al., 2016).

Kelimpahan dan keanekaragaman makrozoobenthos sangat bergantung pada toleransi dan tingkat sensitifnya terhadap kondisi lingkungannya. Kisaran toleransi dari makrozoobenthos terhadap lingkungan berbeda-beda. Kelimpahan dan keanekaragaman komunitas makrozoobenthos juga ditentukan oleh sifat fisika, kimia, dan biologi perairan. Sifat fisik perairan seperti kedalaman, kecepatan arus, warna, kekeruhan atau kecerahan dan suhu air. Sifat kimia perairan antara lain, kandungan gas terlarut, bahan organik, pH, kandungan hara, dan faktor biologi yang berpengaruh adalah komposisi jenis hewan dalam perairan diantaranya adalah produsen yang merupakan sumber makanan bagi hewan makrozoobenthos dan hewan predator yang akan mempengaruhi kelimpahan makrozoobenthos (Pelealu et al., 2018).

Makrozoobenthos yang hidup pada ekosistem lamun berpengaruh terhadap struktur rantai makanan. Selain itu, keanekaragaman jenis makrozoobenthos di padang lamun dapat menggambarkan kemantapan dan kestabilan dalam ekosistem tersebut. Total bahan organik dan kepadatan tutupan lamun dapat mempengaruhi keberadaan struktur makrozoobenthos, kepadatan tutupan lamun yang tinggi memiliki kelimpahan makrozoobenthos yang tinggi dibandingkan dengan kepadatan tutupan lamun yang rendah (Indrawan et al., 2016).

Kelimpahan dihitung untuk mendapatkan gambaran berapa jumlah makrozoobenthos dalam satuan meter persegi (m2). Apabila nilai indeks keanekaragaman masuk dalam kategori rendah maka hal tersebut mengindikasikan bahwa perairan tersebut telah tercemar. Kandungan pasir pada substrat berbanding lurus dengan kelimpahan makrozoobenthos, semakin tinggi kandungan pasir maka akan semakin tinggi kelimpahan makrozoobenthos (Ulfa et al., 2018).

Hiatula chinensis bisa ditemukan pada habitat yang berarus kuat tepatnya pada substrat berpasir, dan kerikil pada zonasi terdepan wilayah pesisir pantai yang berdekatan dengan daratan. Ukuran butiran yang besar (kerikil) sangat terkait dengan kondisi dinamika perairan pada area studi. Besarnya energi gelombang laut yang menyebar hingga ketepian pantai akan mempengaruhi ukuran sedimen yang ada. Energi ini dipengaruhi oleh kecepatan angin, kondisi topografi dasar perairan dan luas penyebarannya. Gelombang yang besar juga berpengaruh terhadap proses pencucian sedimen yang mana sedimen yang berukuran kecil akan tercuci kembali ke laut dan hanya sedikit saja yang mengendap di dasar substrat (Akhrianti et al., 2014).

Makrozoobenthos Sebagai Bioindikator

Selain pendekatan kualitas fisika kimia tingkat kualitas air dapat ditentukan melalui pendekatan biologi dengan menganalisis struktur komunitas organisme yang hidup di dalam perairan tersebut. Komunitas organisme yang dapat digunakan sebagai pendekatan dalam menduga kualitas perairan tempat organisme itu berada umumnya ialah makrozoobenthos. Makrozoobenthos memiliki sifat yang relatif menetap dengan pergerakan yang sangat terbatas

sehingga akan terkena dampak langsung apabila terjadi perubahan kualitas air (Rachman et al., 2016).

Makrozoobenthos merupakan sekelompok hewan yang hidup dan menetap di dasar perairan. Makrozoobenthos kerap dijadikan sebagai indikator kualitas suatu perairan. Penggunaan bioindikator pada saat ini menjadi sangat penting untuk dapat melihat hubungan antara lingkungan biotik dengan non-biotik.

Bioindikator atau indikator ekologis itu sendiri merupakan kelompok organisme yang dapat dijadikan petunjuk bahwa keberadaan mereka dipengaruhi oleh adanya tekanan lingkungan akibat dari kegiatan manusia dan destruksi sistem biotik (Khaeksi et al., 2015).

Perubahan ekosistem perairan akan berdampak juga terhadap kehidupan biota air seperti perubahan struktur komunitas makrozoobenthos, di mana penurunan kelimpahan dan komposisi organisme tersebut biasanya merupakan indikator adanya gangguan ekologi yang terjadi pada suatu perairan.

Makrozoobenthos organisme yang dapat digunakan sebagai indikator pencemaran, Selain itu makrozoobenthos juga berperan sebagai biomonitoring dari suatu perairan karena hidupnya yang cenderung menetap pada sedimen dasar perairan, baik substrat lunak maupun substrat keras, dan memiliki sifat kepekaan terhadap beberapa bahan pencemar (Sihombing et al., 2018).

Makrozoobenthos merupakan kelompok biota yang hidupnya menetap (sesil) dan juga merupakan deposit feeder (pengakumulasi) serta filter feeder (penyaring) yang dapat mengakumulasi suatu bahan pencemar di dalam tubuhnya.

Makrozoobenthos merupakan salah satu komunitas biota yang sering dipakai sebagai bioindikator pencemaran di suatu perairan. Hal ini berdasarkan cara hidup

makrozoobenthos yang hidup menetap (sesil) dan tingkat mobilitasnya rendah sehingga dapat digunakan untuk menduga kualitas suatu perairan dimana komunitas organisme tersebut berada (Ulfa et al., 2018).

Indeks Pencemaran

Berdasarkan Sudirman et al., (2013) Indeks pencemaran adalah nilai yang telah ditentukan besarannya sesuai badan airnya misalnya sungai, danau, laut.

Analisis kualitas air menggunakan kreteria mutu air berdasarkan kelas II yang ada dalam lampiran Perda Provinsi Jatim Nomor 2 Tahun 2008. Sedangkan status mutu air mengunakan metode Pollution Index (PI) berdasarkan KepmenLH No.

115 Tahun 2003. Nilai Indeks Pencemaran (IP) dapat digunakan untuk mengetahui nilai kualitas air sungai untuk suatu peruntukan tertentu dan sebagai dasar dalam memperbaiki kualitas air jika terjadi pencemaran. Perhitungan indeks pencemaran dilakukan dengan menggunakan persamaan:

Dimana Lij : konsentrasi parameter kualitas air yang dicantumkan dalam Baku Peruntukan Air (j), dan Ci : konsentrasi parameter kualitas air (i), PIj adalah Indeks Pencemaran bagi peruntukan (j), dengan (Ci/Lij)R : nilai Ci/Lij rata-rata dan (Ci/Lij)M : nilai Ci/Lij maksimum (Mahyudin et al., 2015).

Baku mutu air laut adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya di dalam air laut (Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 51 Tahun 2004). Pencemaran air menurut Peraturan

Pij = √(𝐶𝑖𝐿𝑖𝑗)M

2+(𝐶𝑖𝐿𝑖𝑗)

R 2

2

Pemerintah Nomor : 82 Tahun 2001 adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Tingkat pencemaran di pelabuhan menjadi penting untuk diketahui agar pengelolaan kawasan tersebut lebih terencana serta meminimalisir dampak bencana (Sudirman et al., 2013).

Pengelolaan kualitas air atas dasar Indeks Pencemaran (IP) ini dapat memberi masukan pada pengambil keputusan agar dapat menilai kualitas badan air untuk suatu peruntukan serta melakukan tindakan untuk memperbaiki kualitas jika terjadi penurunan kualitas akibat kehadiran senyawa pencemar. Indeks Pencemaran mencakup berbagai kelompok parameter kualitas yang independen dan bermakna (Sahabuddin et al., 2014).

Kurva ABC (Abudance and Biomass Comparison)

Data kelimpahan dan biomassa spesies yang terdiri dari komunitas bentik lautan dapat dieksploitasi secara luas, yang mana bertujuan untuk menaksir tingkatan kondisi perairan yang dianggap terganggu. Kurva ABC atau k-dominance curves yang mengindikasikan perairan tersebut dalam kondisi masih baik dan layak untuk kehidupan hewan makrozoobenthos dimana kurva biomassa yang terletak diatas kurva kelimpahan individu. Sedangkan apabila perairan tersebut terindikasi tercemar ditunjukkan dengan kurva kelimpahan individu diatas kurva biomassa, biasanya sebagian besar komunitas terganggu dihuni oleh sejumlah besar individu kecil. Yang terakhir adalah untuk perairan terganggu dimana kedua kurva ini bersinggungan atau saling memotong (Hafizulhag et al., 2017).

Apabila kurva K-Dominance untuk biomassa terletak diatas kurva untuk jumlah individu spesies, maka perairan dikatakan tidak tercemar. Bila kurva K-Dominance untuk biomassa dan jumlah individu spesies saling berhimpitan maka perairan dikatakan tercemar sedang dan sebaliknya jika kurva K-Dominance untuk jumlah individu spesies berada diatas kurva biomassa spesies maka perairan dikatakan tercemar berat. Data ranking per satuan luas (ind/m2) dan biomassa per satuan luas (g/m2) diplotkan pada sumbu X dalam bentuk logaritma, sedangkan sumbu Y diplotkan data persentase kumulatif dominan dari jumlah individu per satuan luas dan biomassa per satuan (Labbaik et al., 2018).

Status atau kualitas makrozoobenthos dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu: baik, jika kurva biomassa per satuan luas berada di atas kurva jumlah individu per satuan luas. Sedang, jika kurva biomassa per satuan luas dan kurva jumlah individu per satuan luas saling tumpang tindih. Buruk, jika kurva biomassa per satuan luas berada di bawah kurva jumlah individu per satuan luas.

Analisis regresi dan korelasi dengan menggunakan SPSS versi 16.00 digunakan untuk menentukan hubungan antara konsentrasi total padatan tersuspensi (TSS) dengan kelimpahan dan keanekaragaman makrozoobenthos (Khaeksi et al., 2015).

Parameter biologi (makrozoobenthos) dianalisis dengan kurva Abundance and Biomass Comparison (ABC). Indeks dominansi digunakan untuk memperoleh informasi mengenai famili yang mendominansi dalam suatu komunitas. Menghitung indeks dominansi digunakan rumus Simpson dengan kriteria apabila nilai D mendekati 0 (nol) maka tidak ada jenis yang mendominansi, sedangkan apabila nilai D mendekati 1 (nol) maka ada jenis yang mendominansi (Yasir, et al., 2015).

Dokumen terkait