PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
5.4 Orientasi Model PMAIMI
Orientasi Model PMAIMI meliputi tujuan, prinsip-prinsip pembelajaran, dan pokok-pokok konsep yang mendasari model. Adapun tujuan model pembelajaran ini, yaitu meningkatkan keterampilan menyimak mahasiswa agar memiliki keterampilan
272 dan kemampuan memberikan rangsangan untuk menyimak kritis melalui pengondisian dalam pembelajaran yang melibatkan proses kognitif mahasiswa, yaitu mengidentifikasi kesimpulan, kemampuan menerapkan prinsip dan mengidentifikasi hal yang relevan dan tidak relevan, mempertimbangkan alternatif untuk menyelesaikan, serta kemampuan memberikan alasan dalam menangkap isi informasi dan memahami makna wacana komunikasi suatu ujaran atau lisan. Hal tersebut akan bermuara pada membelajarkan mahasiswa menyimak kritis dengan melibatkan cara menyimak interpretatif, introspektif, responsif, produktif, dan evaluatif terhadap suatu kejadian atau peristiwa. Mengembangkan keterampilan menyimak kritis dalam penelitian ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan rangsangan kepada mahasiswa untuk menyimak kritis melalui pengondisian dalam pembelajaran yang melibatkan proses kognitif, afektif, dan psikomotor mahasiswa.
Prinsip-prinsip model pembelajaran ini, yaitu ada dua prinsip model pembelajaran dan prinsip media pembelajaran (multimedia interaktif). Prinsip model pembelajaran ini, yaitu model pembelajaran yang menekankan pada aktivitas dan partisipasi aktif mahasiswa dari segi intelektual dan emosional secara optimal, melalui aktivitas belajar di dalam kelompok, antarkelompok, dan individu untuk memperoleh keterampilan menyimak secara kritis terhadap bahan simakan. Keaktifan mahasiswa tersebut termasuk dalam menyimak-berbicara dan menyimak-menulis. Seperti yang dikemukakan oleh Santrock (2010:483-484) bahwa prinsip pembelajaran berpusat pada mahasiswa ini menekankan pembelajaran dan pembelajar yang aktif dan reflektif. Pendidikan akan lebih baik apabila fokus utamanya adalah pada orang yang belajar (learner).
Jika dihubungkan dengan model pembelajaran yang dikembangkan oleh Joyce dan Weil, model PMAI merupakan rumpun model pemerosesan informasi (Yusuf, et.al., 1992:61-72). Model pemerosesan informasi merupakan model pembelajaran yang berorientasi ke arah kemampuan siswa dalam mengolah informasi dan cara-cara yang dapat mengembangkan mereka dalam menguasai informasi yang datang dari
273 lingkungannya, yaitu mengorganisasi data, memformulasikan masalah, membangun konsep-konsep, memecahkan masalah, dan menggunakan symbol-simbol verbal dan nonverbal. Tujuan utama model pemerosesan informasi ini untuk penguasaan metode-metode inkuiri, penguasaan fakta-fakta dan konsep-konsep akademik, dan pengembangan keterampilan intelektual umum. Rumpun model pemerosesan informasi yang dikembangkan dalam pengembangan model ini lebih menekankan pada model mengingat yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas mengingat yang dipelopori oleh Harry Lorayne dan Jerry Lucas.
Karena pengembangan model ini menggunakan multimedia interaktif, model ini juga menekankan pada model interaksi sosial. Rumpun model interaksi sosial ini merupakan model pembelajaran dalam yang menekankan atas hubungan-hubungan individu dengan masyarakat dan atau orang lain dalam hal pengembangan diri dan pemikiran serta mempelajari bidang studi. Tujuan utama model sosial untuk membantu siswa bekerja sama mengidentifikasi dan memecahkan masalah, mengembangkan keterampilan dalam relasi manusiawi, dan menjadikan sadar akan nilai-nilai personal dan sosial. Rumpun model interaksi sosial ini lebih menekankan pada model laboratorium yang dipelopori oleh National Training Laboratory (NTL) Bethel, Manie. Untuk mendukung pembelajaran aktif tersebut, mahasiswa memerlukan media pembelajaran yang memadai, seperti yang dikemukakan oleh Chickering dan Gamson (1987) bahwa teknologi sangat mendorong pembelajaran aktif. Oleh karena itu, pembelajaran aktif saat ini sangat diperlukan dalam inovasi pembelajaran. Pembelalaran aktif adalah pembelajaran siswa yang bermakna atau mencerminkan tentang apa yang mereka lakukan (Bonwell dan Eison, 1991).
Menyampaikan informasi dalam pembelajaran menyimak dapat dilakukan dengan gambaran hidup yang konkret salah satunya dengan melalui tayangan multimedia (teks, suara, grafik, animasi, dan video), seperti yang dikemukakan oleh Taylor (dalam Jensen, 2011:76) bahwa otak diberi sambungan untuk mengidentifikasi objek secara lebih cepat dalam menyerap informasi. Sealin itu, otak memiliki bias
274 perhatian untuk kontras dan kebaruan yang tinggi, 90% masukkan sensori otak adalah dari sumber visual, dan otak memiliki satu tanggapan langsung dan primitif terhadap simbol, ikon, serta gambar sederhana lainnya.
Prinsip media pembelajaran (multimedia interaktif) dalam pengembangan model pembelajaran ini, yaitu (1) Prinsip multimedia: Mahasiswa bisa belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar-gambar daripada kata-kata saja. (2) Prinsip keterdekatan ruang: mahasiswa bisa belajar lebih baik saat kata-kata dan gambar-gambar terkait disajikan saling berdekatan daripada saling berjauhan di halaman atau di layar. (3) Prinsip keterdekatan waktu: Mahasiswa bisa belajar lebih baik saat kata-kata dan gambar-gambar terkait disajikan secara simultan (berbarengan) daripada suksesif (bergantian). (4) Prinsip koherensi: mahasiswa bisa belajar lebih baik saat kata dan gambar atau suara ekstra/tambahan dibuang daripada dimasukkan. (5) Prinsip modalitas: mahasiswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi daripada animasi dan teks on-screen. (6) Prinsip redunansi: Mahasiswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi daripada dari animasi, narasi, dan teks on-screen. (7) Prinsip perbedaan individual: Pengaruh desain lebih kuat terhadap mahasiswa berpengetahuan rendah daripada berpengetahuan tinggi dan terhadap mahasiswa berkemampuan spatial tinggi daripada berspatial rendah (Mayer, 2001:270-271).
Model pembelajaran menyimak aktif integratif mengacu pada teori Vandergrift (1999), Flowerdew & Miller (2005:18), Harris (2007), Thompson et. al. (2009:269), dan Thompson (2010:268-271). Vandergrift dan Harris mengemukakan bahwa pembelajaran menyimak aktif integratif lebih menekankan pada pengetahuan metakognitif dalam pembelajaran menyimak mulai dari perencanaan, perhatian terarah, perhatian selektif, pemantauan, dan evaluasi. Flowerdew dan Miller lebih menekankan pada pembelajaran menyimak secara integratif pada serangkaian sebelum menyimak, saat menyimak, dan tindak lanjut setelah menyimak. Thompson mengemukakan bahwa pembelajaran menyimak aktif integratif dapat dilakukan dalam beberapa tahapan, yaitu mempersiapkan diri dalam menyimak, menerapkan
275 model proses menyimak, menilai efektivitas menyimak, dan menetapkan tujuan baru dalam kegiatan menyimak.
Adapun model pembelajaran menyimak aktif integratif yang penulis rumuskan bahwa pembelajaran menyimak aktif integratif dalam pelaksanaan menyimak berpusat pada mahasiswa yang menekankan pada aktivitas sebelum menyimak, saat menyimak, dan setelah menyimak sebagai satu kesatuan. Ketiga tahapan ini merupakan satu kesatuan dan dinamis dalam pembelajarannya yang juga mengintegrasikan sikap, pengetahuan, dan perilaku untuk mencapai tujuan menyimak. Tahap sebelum menyimak antara lain persiapan dengan perhatian dan merefleksi kata kunci. Tahap saat menyimak, yaitu proses menyimak dengan mengklasifikasi makna dan maksud, serta mencari pilihan dan pengaruh. Tahap setelah menyimak, yaitu merefleksikan tujuan menyimak dengan menentukan apakah hasil menyimak dapat diterima atau telah berhasil. Hal tersebut penulis wujudkan dalam sebuah bagan model menyimak aktif integratif di bawah ini.