• Tidak ada hasil yang ditemukan

OSTEOARTRITIS (OA) CERVICAL

DIVISI MUSKULODIVISI MUSKULO

OSTEOARTRITIS (OA) CERVICAL

Definisi

Merupakan perubahan degeneratif yang terjadi pada tulang servikal (diskus, corpus vertebra, sendi Luschka dan sendi facet). Penyakit ini memiliki insiden tahunan lebih tinggi pada pria dibandingkan wanita dan puncaknya sekitar 50-54 tahun. Mekanisme yang mendasari penyakit ini adalah multifaktor. Genetik, proses menua (aging), dan faktor gesekan mungkin semuanya memainkan peranan penting. Diyakini bahwa degenerasi dari diskus mengakibatkan distribusi beban menjadi abnormal, dan selanjutnya mengarah pada serangkaian perubahan struktur dari komponen tulang belakang. Segmen C5-7, biasanya menunjukkan perubahan degeneratif lebih cepat dan lebih parah dibanding segmen C1-4.

Gejala Klinis

 Nyeri leher (axial pain) dan keterbatasan gerak (terutama saat hiperekstensi & lateral bending)

 Kekakuan, spasme otot paraspinal

 Nyeri radikular sesuai dengan radiks saraf yang terlibat dan mengikuti distribusi dermatom

 Nyeri menjalar ke kepala area Nuchae ataupun Occipital (degeneratif sendi servikal atas)

 Nyeri menjalar ke regio upper trapezius (degeneratif sendi servikal bawah)  Kelemahan otot mengikuti distribusi miotom

 Paraestesia/hypestesia sesuai dengan distribusi dermatom

 Nyeri otot trapezius, paraspinal dan interscapula juga bisa didapatkan.

Pemeriksaan Fisik

 Inspeksi : keabnormalan postur tulang servikal, lengkung lordosis servikal berkurang , ketidaksimetrisan postur tampak anterior & posterior.

 Palpasi : Nyeri tekan prosesus spinosus, spasme otot paraspinal servikal. Nyeri tekan area Nuchae/mastoid juga bisa terjadi. Didapatkan fibrosis pada otot jika telah kronis.

 Gerak : Keterbatasan lingkup gerak sendi (ROM) servikal (pada satu ataupun beberapa segmen dan bidang), nyeri gerak pada berbagai bidang (fleksi, ekstensi dan rotasi)

- Tanda Spurling (kompresi axial posisi fleksi lateral), positif jika terjadi nyeri radikular

- Gerakan rotasi disertai ekstensi: positif jika terjadi nyeri radikular

- Gerakan peregangan berlebihan ke arah fleksi: positif jika terjadi nyeri paraspinal, maupun kesemutan

- Gerakan fleksi & kontralateral lateral fleksi : positif jika nyeri berkurang - Gerakan fleksi siku & abduksi shoulder ipsilateral : positif jika nyeri

berkurang

Tabel.1 Dampak dari radiks saraf yang terlibat

Otot-otot yang dipengaruhi Distribusi sensorik Refleks

C 5

Deltoid, supraspinatus, & infraspinatus

Bahu & aspek lateral (arm)

Refleks Supinator C

6

Flexor siku: biceps, brachialis, brachioradialis, & ekstensor radial pergelangan tangan

Distal lateral (forearm), ibu jari, & telunjuk

Refleks Biceps C

7

Triceps, flexor pergelangan tangan

Aspek dorsal (forearm) & jari tengah

Refleks Triceps C

8

Flexor digitorum superficialis & profundus

Aspek ulnar lengan bawah (forearm), tangan (hand), & jari IV-V

Keterbatasan Fungsional

 Hendaya pada gerakan leher sehingga membatasi pandangan ke atas dan kemampuan kepala dan leher untuk melihat ke samping. Pertimbangkan untuk aktivitas mengemudi, bekerja dengan menunduk, berenang dan kegiatan lainnya.

 Perubahan motorik dan sensorik indera dapat mengganggu kemampuan memegang, tulisan tangan, atau aktivitas motorik halus (fine motor) lainnya.  Kekuatan menggenggam ekstensor pergelangan tangan, aktivitas motorik

halus, stabilitas bahu dapat dipengaruhi jika terjadi gangguan pada radiks saraf servikal.

Diagnosis

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisis, dan pemeriksaan penunjang

 Foto polos servikal ; terlihat osteofit, spondilotik, degenerasi diskus, hipertrofi vertebra (AP, Lateral), terlihat foramina intervertebra dan neural foramina (Oblique)

MRI : melihat kelainan pada jaringan lunak (soft tissue), hiperintensitas pada T2-weighted

 USG Doppler : melihat aliran A.vertebralis  Elektrodiagnostik : menjelaskan lokasi lesi saraf

Diagnosis Banding

Rotator cuff tendinitis

Rotator cuff tear  Neuropati perifer

Carpal Tunnel Syndrome  Tumor vertebra, Infeksi spinal  Plexopati brachial

Thoracic outlet syndrome

Otot-otot yang dipengaruhi distribusi sensorik reflex

 Deltoid, supraspinatus & infraspinatus

 Shoulder & aspek lateral arm reflex supinator

Fleksor siku: biceps, brachialis, brachioradialis & ekstensor radial pergelangan tangan

 Distal lateral forearm (lengan bawah distal lateral), ibu jari & telunjuk  Refleks biceps

Triceps,flexor pergelangan tangan  Aspek dorsal forearm & jari tengah  Refleks triceps

Flexor digitorum superficialis & profundus  Aspek ulnar forearm, hand & jari IV-V

Komplikasi

 Nyeri kronik & deficit nerologis permanen  Stenosis kanalis spinalis

Kompresi A.vertebralis menyebabkan gangguan keseimbangan, dizziness, postural sway

 Gangguan AKS

 Memperbaiki postur  Mengoptimalkan ROM  Mengurangi nyeri

Tatalaksana

 NSAID (termasuk COX-2 inhibitor)  Analgetik

Tricyclic antidepressants (amitriptyline,nortriptyline)

Muscle relaxants (eperisone, diazepam, chlorazoxasone, cyclobenzaprine)  Tambahan acetaminophen, hydroxyzine sebagai penghilang rasa nyeri  Injeksi steroid melalui epidural (4-6 bulan perjalanan penyakit)

 Edukasi pasien meliputi penjelasan penyakit, resiko penyakit, proper body, home exercise

 Modalitas : ice, elektroterapi, heat, TENS, traksi manual/mekanikal servikal  Ortosis: - Soft Cervical Collar (awal & intermitten)

- Bantal servikal khusus

- Terapi latihan (Therapeutic exercise)

 Alat bantu kegiatan/pekerjaan sehari-hari (monitor komputer ergonomis dalam posisi servikal netral , alat menulis, dll)

 Tindakan bedah: Jika terapi konservatif tidak ada perubahan yang berarti selama 1 tahun.

Daftar Pustaka

1. Fast A, Segal M. Cervical Degenerative Disease. In : Frontera WR, Silver JK,

Rizzo TD (eds). Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation 2nd ed. Saunders publishing, Philadephia; 2008 : 11-6

2. Stitik TP, Kim JH, Stiskal D, Foye P. Osteoarthritis. In: Frontera WR, DeLisa

JA (eds). Delisa’s Physical Medicine & Rehabilitation, 5th ed. Lippincort William & Wilkins, Philadelphia: 2010.p 781-810

3. McKenzie R. The Cervical And Thoracic Spine Mechanical Diagnosis And

SPONDYLOLISTHESIS

Definisi

Merupakan tergelincirnya corpus vertebra bagian atas terhadap vertebra di bawahnya. Tergelincirnya vertebra akan dicegah oleh segmen posterior vertebra, sehingga adanya spondylolisthesis menunjukkan kegagalan struktural segmen posterior vertebra. Sering terjadi pada vertebra L5-S1, dan L4-L5 karena proses degenerative. Dapat juga terjadi pada vertebra Servikal.

Klasifikasi Berdasarkan etiologi  Displastik  Isthmus  Degeneratif  Traumatik  Patologis

Berdasarkan pergeseran segmen sudut posterior corpus vertebra atas terhadap corpus vertebra bawah :

Grade I ≤ 25%Grade II 26% - 50%Grade III 51% - 75%Grade IV ≥ 75%

Gejala Klinis

Low back pain, dengan nyeri tumpul, nyeri pada punggung, bokong, dan posterior paha.

 Nyeri menjalar ke tungkai bawah, bisa dikaitkan dengan iritasi radiks saraf

Pemeriksaan Fisik

 Inspeksi : kelainan pola gait (waddle dengan hip fleksi, stride length memendek, base of support melebar)

 Palpasi : nyeri radikular pada proc.spinosus diatas slip (khas untuk L4), spasme otot paraspinal, otot hamstring

 Gerak (Movement) : Nyeri gerak, keterbatasan ROM togok (trunk)  Tes khusus : SLR (+) jika terjadi iritasi radiks

Keterbatasan fungsional

Nyeri gerak saat bending, menyetir.

Pemeriksaan Penunjang

Foto polos lumbosakral : terlihat gambaran ‘Scottie dog’s neck/collar (Oblique), tampak pergeseran vertebra sesuai derajat keparahan (AP, Lateral)

 CT Scan & MRI : melihat kompresi radiks saraf pada foramina saraf, stenosis spinal.

 USG Doppler : melihat aliran A.vertebralis  Elektrodiagnostik : menjelaskan lokasi lesi saraf

Diagnosis Banding

 Low back pain karena degenerative  Herniasi diskus lumbar

 Radikulopati lumbal  Stenosis spinal

 Fraktur kompresi vertebra  Tumor, Lumbar sprain & strain.

Tujuan tatalaksana

 Mengurangi nyeri

 Meningkatkan fungsi memperbaiki postur  Meningkatkan fleksibilitas

Tatalaksana

 NSAID (termasuk COX-2 inhibitor)

 Analgetik, tricyclic antidepresan, musle relaksan  Injeksi Epidural

 Edukasi pasien meliputi penjelasan penyakit, resiko penyakit, proper body, memodifikasi aktivitas, home exercise

 Terapi latihan:

o Latihan peregangan (Streching exercise) (peregangan untuk mengurangi keterbatasan mobilitas togok (trunk), meregangkan otot fleksor panggul (hip), otot hamstrings & quadriceps)

o Latihan penguatan (Strengthening exercise) otot-otot (otot punggung & otot abdomen untuk mengurangi keluhan dari instabilitas lumbal)

Modalitas: seperti US (Ultrasound diathermy), ES (Electrical Stimulation)  Ortosis (Brace anti lordotik) selama 23jam/hr

 Alat bantu kegiatan/pekerjaan sehari-hari

 Tindakan bedah: Jika terapi konservatif tidak ada perubahan yang berarti selama 1 tahun.

Komplikasi

 Stenosis spinal

 Kompresi nervus spinalis

Daftar Pustaka

1. Paul SM. Scoliosis and Other Spinal Deformities. In : Frontera WR, DeLisa JA (eds). Delisa’s Physical Medicine & Rehabilitation, 5th ed. Lippincort William & Wilkins, Philadelphia: 2010.p 883-906

2. Barr KP, Harrast MA. Low Back Pain. In : Braddom RL (ed). Physical Medicine and Rehabilitation, fourth edition, Elsevier Saunders publishing, Philadelphia; 2011: 871-912

Dokumen terkait