PANDUAN
PELAYANAN KLINIS REHABILITASI MEDIK
RSUP Dr. KARIADI
SEMARANG
Halaman Judul ... ... i Daftar Isi ... ... ii
Cedera Otak Traumatik
... ... 2
Cedera Medula Spinalis
... ... 7 Bell’s Palsy ... ... 13
Rehabilitasi Cedera Pleksus Brakialis
... ... 17 Rehabilitasi Stroke ... ... 21
Rehabilitasi Carpal Tunnel Syndrome
... ... 26
Rehabilitasi Motor Neuron Disease
... ... 30 Meningitis ... ... 35
Esefalitis
... ... 40
Rehabilitasi Pasien Dengan Parkinson
... ... 44
Rehabilitasi Pada Tumor Otak
... ... 48
Rehabilitasi Tumor Medula Spinalis
... ... 52
Guillain Barse Syndrome
... ... 56 Myasthenia Gravis ... ... 60
Cedera Saraf Perifer
... ... 64 Vertigo ... ... 68 Rehabilitasi Epikondilitis ... ... 75
Rehabilitasi Ankle Sprain
... ... 77
... ... 79
Rehabilitasi Cedera Meniskus
... ... 83
Rehabilitasi Pada Total Knee Replacement
... ... 87
Rehabilitasi Tendinitis Rotator Cuff
... ... 91
Rehabilitasi Tendinitis Achiles
... ... 93
Rehabilitasi Bursitis pada Lutut
... ... 95
Rehabilitasi Instabilitas Glenohumeral
... ... 99
Rehabilitasi Collateral Ligament Sprain
... ... 102
Rehabilitasi Pada Robekan Ligamentum Krusiatum Posterior ... ... 105 De Quervain Tenosynovitis ... ... 109
... ... 112
Low Back Pain
... ... 116
Tension Type Headache (Tth)
... ... 121
Frozen Shoulder (Adhesive Capsulitis)
... ... 123
Cedera Ligamen Bahu
... ... 126
Jebakan Saraf Median
... ... 131 Neuropati Ulnar ... ... 135
Osteoartritis (Oa) Cervical
... ... 139 Spondylolisthesis ... ... 144 Cervical Syndrome ... ... 147 Osteoporosis
... ... 151 Plantar Fasciitis ... ... 156 Kaki Diabetik ... ... 160 Drop Foot ... ... 165
Post Total Knee Arthroplasti
... ... 168
Pasca Bedah Region Panggul (Hip)
... ... 171 Rheumatoid Arthritis ... ... 173
Cedera Tendon Tangan Ruptur Tendon Ekstensor ... ... 178
Cedera Tendon Fleksor
... ... 182
Rehabilitasi Pasca Mci
... ... 187
... ... 191 Miopati ... ... 195 Kesulitan Belajar ... ... 198
Rehabilitasi Penyakit Blount
... ... 202 Rehabilitasi Hemofilia ... ... 204 Rehabilitasi Leukimia ... ... 206
Rehabilitasi Cerebral Palsy
... ... 208
Rehabilitasi Pasca Meningitis
... ... 212
Rehabilitasi Pasca Ensefalitis
... ... 215
Rehabilitasi Sindrom Down
... ... 218
... ... 222
Rehabilitasi Gangguan Komunikasi
... ... 225
Subluksasi Panggul Pada Palsi Serebral
... ... 228
Rehabilitasi Pada Sindroma Dekondisi
... ... 232
Rehabilitasi Pada Demensia
... ... 249
Rehabilitasi Pasien Geriatri Dengan Depresi ... ... 253
Rehabilitasi Pasien Geriatri Dengan Acute Confusional State (Acs) / Delirium
... ... 257
Rehabilitasi Pada Instabilitas Dan Jatuh ... ... 260
Rehabilitasi Pasien Geriatri Dengan Osteoartritis ... ... 268
Rehabilitasi Pasien Geriatri Dengan Gangguan Fungsi Berkemih ... ... 275
Tatalaksana Rehabilitasi Pada Perawatan Paliatif Pasien Geriatri ... ... 280
DIVISI
NEUROMUSKULAR
CEDERA OTAK TRAUMATIK (TRAUMATIC BRAIN INJURY)
Batasan dan uraian umum
Cedera otak traumatik merupakan traumafisik eksternal mengenai otak dan mengakibatkan impairmen baik sementara maupun permanen, adanya gangguan fungsi, dan bisa menyebabkan gangguan fisik, kognisi, sosial, emosi dan perilaku yang dapat menimbulkan hilangnya kemampuan menyesuaikan diri atau beradaptasi. Berdasarkan epidemiologi laki-laki lebih sering dari pada perempuan.
Klasifikasi
Diklasifikasi berdasarkan tingkat keparahan dan mekanisme trauma Tingkat keparahan dibagi atas:
GCS PTA LOC
Mild (ringan) 13-15 <1 day 0 – 30 minutes
Moderate (sedang) 9 - 12 > 1 to < 7 day > 30 minutes to < 24 hours Severe (berat) 3 - 8 > 7 day > 24 hours
Keterangan:
GCS = Glasgow Coma Scale PTA = Post Traumatic Amnesia LOC = Lost of Consciousness
Menurut mekanisme trauma dapat dibagi atas:
Close head injury Penetrating head injury
Proses patofisiologi cedera otak biasanya dibagi menjadi:
Cedera primer, merupakan cedera pada otak akibat trauma langsung
Cedera sekunder, yang dapat dianggap sebagai kerusakan biokimia atau fisiologis yang terjadi dalam periode menit, jam, hari, minggu, dan bulan setelah cedera primer. Contoh : perdarahan intrakranial, edema, hipoksia, pergeseran otak, herniasi, dan neurokimia.
Lesi yang terjadi bisa dibagi atas:
Ekstraaksial (pada tulang tengkorak di luar jaringan otak) Intraaksial (terjadi pada jaringan otak)
- fokal, simptom yang terjadi berhubungan dengan lesi neuroanatomis - diffuse (mis: diffuse axonal injury)
Gabungan
Gejala
Gejala tergantung tipe traumatik brain injury dan bagian otak yang terkena, gejala dapat bervariasi sesuai dengan tingkat keparahan cedera dan tahap pemulihan
Anamnesa mencakup proses terjadinya cedera, penyakit komorbid, GCS awal, lama koma dan lamanya terjadi amnesia. Jika terjadi penurunan fungsi, evaluasi mengenai metabolisme seperti infeksi, efek samping obat, status nutrisi termasuk hidrasi dan oksigen.
Pada pasien dengan cedera otak p, setelah fase akut teratasi, evaluasi cedera pada nervus kranialis, gangguan penglihatan, gangguan gerakan bola
mata, evaluasi kejang, vertigo, dan perubahan sensibilitas baik pada wajah dan tubuh, gangguan motorik seperti parese/plegi, kontraktur, spastisitas, maupun gangguan gerak lainnya. Gejala dysautonom seperti peningkatan suhu tubuh, takikardi, takipneu, peningkatan tonus dan keringat yang berlebihan.
Gejala yang sering muncul terakhir antara lain defisit memori, sakit kepala, depresi, kelelahan gangguan tidur, gangguan kontrol motorik halus dan kasar, dll.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan neurologis termasuk evaluasi neuropsikologi, Rancho Los Amigos Cognitive Scale, status mental, MMSE, fungsi nervus kranialis, penglihatan, pendengaran, refleks fisiologis dan patologis, kekuatan otot, tonus, koordinasi, keseimbangan, analisa pola jalan, dan mobilisasi lainnya termasuk kursi roda bila diperlukan.
Diagnosis
Pemeriksaan penunjang : CT-scan, MRI, Foto Rontgen Alat penilaian fungsi :
- GCS
- Glasgow Outcome Scale or the Disability Rating Scale. - Rancho Los Amigos Cognitive Scale
Penilaian neuropsikologis: kognisi, afektif, fungsi emosional
Terapi Rehabilitasi
Terapi rehabilitasi diberikan saat rawat inap baik saat stadium akut dan pemulihan. Pada stadium pemulihan dimana kondisi medis dan neurologis sudah stabil, diberikan rehabilitasi aktif.
Stimulasi koma dapat diberikan pada skala II-III dari Rancho Los Amigos Cognitive Scale. Dan dilanjutkan dengan cognitive behaviour rehabilitation sesuai tahapan
Rehabilitasi fungsi kognitif
Meliputi pengembalian fungsi yang mengalami impairmen, dan meningkatkan kompensasi dari area yang mengalami defisit melalui training, atau latihan
meliputi atensi, memori, dan konsentrasi dari sistem kognisi dan berbagai proses daya pikir lain.
Dilakukan evaluasi fungsi menelan bilamana ditemukan disfagia Rehabilitasi kemampuan wicara
Ditujukan pada pasien dengan gangguan komunikasi baik berbahasa, berbicara
Rehabilitasi fungsi motorik
Memperbaiki LGS ditujukan untuk pemeliharaan sendi saat kekuatan otot menurun atau peningkatan tonus otot (spastis), latihan transfer dan ambulasi, latihan penggunaan wheelchair pada pasien dengan keterbatasan mobilisasi Rehabilitasi kemampuan ADL
Evaluasi dan latihan perawatan diri dan aktivitas sehari-hari seperti memakai baju, mandi, dll, termasuk penilaian fungsi
Evaluasi cacat dan evaluasi kembali bekerja Rehabilitasi vokasional
Diberikan pada pasien yang mengalami kesulitan untuk kembali ke pekerjaan semula sehingga dibutuhkan konseling untuk membantu menentukan pekerjaan sesuai ketrampilan
Komplikasi
1. Akibat penurunan kesadaran dapat terjadi:
Locked in syndrome, persistent vegetative state, brain dead 2. Gangguan kognisi
- Post traumatic amnesia (memory loss) - Gangguan atensi
- Gangguan berpikir - Gangguan insight - Gangguan judgment - Distraksi
- Gangguan fungsi eksekutif seperti pemahaman abstrak, problem solving, dan multi tasking
3. Gangguan komunikasi
4. Defisit sistem sensibilitas baik penglihatan, pendengaran, penciuman, pengecapan dan peradaban.
5. Gangguan emosi dan perilaku 6. Gangguan fisik
- Deep venous thrombosis - Emboli paru
- Kejang paska trauma, epilepsi paska trauma - Nyeri kepala
- Sindroma Parkinson dan gangguan gerak lainnya - Fraktur tulang tengkorak
- Hidrosefalus paska traumatik
- Gangguan keseimbangan hormonal dan cairan: SIADH dan hipotiroid - Gangguan menelan aspirasi dan pneumonia malnutrisi dan dehidrasi - sleep apneu
Daftar Pustaka
1. Burke D. Traumatic Brain Injury. In: Frontera WR, editor. Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation, 2nd ed. Saunders Elsevier. Philadelphia ; 2008 .P 913-82
2. Elovic E, Baerga E, Cuccurullo S. Traumatic Brain Injury . In : Cuccurullo SJ. Physical Medicine and Rehabilitation Board Review. 4 th ed. Demos Medical Publishing. New York ; 2005 . p 47-63
3. Wagner AK, Arenth PM, Kwasnica C, et al. Traumatic Brain Injury. In: Braddom RL et al. Physical Medicine and Rehabilitation. 4th ed. Elsevier Saunders. Philadelphia ; 2011. p 1133-75.
CEDERA MEDULA SPINALIS (SPINAL CORD INJURY – SCI)
Definisi :
Kerusakan medulla spinalis akibat trauma atau penyakit, dapat bersifat komplit atau parsial (inkomplit), dapat disertai atau tanpa fraktur tulang belakang yang menyebabkan gangguan sistem saraf sensorik, motorik dan otonom tergantung level kerusakan medulla spinalis dan radiks sehingga menimbulkan gangguan fungsional (disabilitas) dan handicap penderitanya.
Klasifikasi
Cedera medula spinalis diklasifikasikan dalam 5 kategori dari ASIA Impairment Scale
-A bila terjadi lesi komplit : tidak
ditemukan fungsi motorik atau sensorik pada segmen sacral S4-S5
-B bila terjadi lesi inkomlit : hanya
sensorik tanpa fungsi motorik di bawah level neurologis dan termasuk segmen sacral S4-S5
-C inkomplit : fungsi motorik di bawah level neurologis dan lebih dari setengah otot di bawah level neurologis memiliki kekuatan otot < 3
-D inkomplit : fungsi motorik di bawah level neurologis dan kurang lebih dari ½ dari otot di bawah level neurologis dengan kekuatan 3 atau lebih
-E Normal : fungsi sensorik dan motorik normal
Klasifikasi ini berbasis dermatom bagi pemeriksaan sensibilitas dan miotom bagi C5, C6, C7, T1, L2, L3, L4, L5 dan S1
Root level Kelompok otot Root level Kelompok otot
C5 Fleksor siku L2 Fleksor panggul
C6 Ekstensor pergelangan L3 Ekstensor lutut
C7 Ekstensor siku L4 Dorsofleksi lutut
C8 Fleksor jauh jari L5 Ekstensor tumit T1 Abduktor kecil jari S1 Plantarfleksi lutut
Gejala dari cedera medula spinalis tergantung pada level kerusakan medula spinalis:
1. Servikal:
Kerusakan fungsi motorik dan sensorik setinggi segmen servikal mengakibatkan kerusakan fungsi pada lengan, batang tubuh, anggota gerak bawah. Dapat terjadi kerusakan sensorimotor diluar kanalis spinalis, seperti lesi pleksus brachialis, trauma saraf perifer.
Cedera pada C1/C2 seringkali menghasilkan hilangnya kemampuan bernafas, diperlukannya ventilator mekanik atau phrenic nerve pacing Cedera C3 dan di atasnya: biasanya mengakibatkan hilangnya fungsi
diafragma, membutuhkan bantuan ventilator C4: hilangnya fungsi signifikan bisep dan bahu
C5: hilangnya fungsi bisep, bahu, dan complete loss dari fungsi pergelangan dan tangan
C6: kemampuan kontrol pergelangan terbatas, dan complete loss fungsi tangan
C7 dan T1: kekakuan pada tangan dan jari, tapi masih dapat menggerakkan bahu namun terbatas. Pasien dengan trauma komplit di atas C7 biasanya tidak dapat melakukan pekerjaan sehari-hari.
2. Torakal:
Kerusakan setinggi segmen toraks, paling sering terjadi setinggi T12, mengakibatkan paralisis atau paraplegia, tidak hanya mempengaruhi ekstremitas bawah tetapi juga otot-otot abdomen bagian atas dan bawah. T1-T8 : hilangnya kemampuan kontrol otot abdomen
T9-T12 : hilangnya sebagian kontrol otot tungkai dan abdomen
Lesi di atas level T6 medula spinalis dapat menyebabkan autonomic dysreflexia
3. Lumbosakral:
Kerusakan fungsi motor dan sensori pada medulla spinalis segmen lumbal atau sakral. Terdapat kerusakan pada kaki dan organ pelvik, sedangkan fungsi lengan dan batang tubuh diatasnya masih baik.
Fungsi defekasi dan berkemih diatus oleh regio sacralis pada medula spinalis. Gangguan fungsi defekasi dan berkemih termasuk infeksi dan inkontinensia anal sering kali dialporkan pada cedera trauma
Fungsi seksual juga berhubungan dengan bagian sacral dan seringkali terganggu setelah trauma. Lesi pada serat saraf descending pada level S2-S4 berpotensial mengakibatkan hilangnya kemampuan ereksi.
Sindrom cedera medula spinalis inkomplit: Central cord syndrome
Anterior cord syndrome Posterior cord syndrome Brown secuard syndrome Conus medularis syndrome Cauda equina syndrome
Etiologi :
Trauma : Kecelakaan lalu lintas, jatuh, trauma akibat kekerasan, dan kecelakaan olahraga
Non trauma : Neoplasma (lihat tumor medulla spinalis), infeksi, inflamasi, vaskular, proses degenerasi (spondilosis), kongenital, intervertebral disease, spinal cord vascular disease, gangguan toxic-metabolic, defisiensi nutrisi, radiasi, multiple sklerosis, neuromielitis optika.
Anamnesa
Adanya kelemahan otot, kerusakan sensori dan otonomik (bladder, bowel dan disfungsi seksual) dan anamnesa mengenai penyebab cedera, mekanisme cedera, onset, cara transportasi, pertolongan pertama, kondisi fisik sebelum cedera.
Pemeriksaan Fisik:
Pemeriksaan fisik secara umum Tanda-tanda vital
Pemeriksaan khusus :
-Muskuloskeletal : level skeletal (pada tulang belakang), cedera skeletal lain
-Neurologis : level neurologis, klasifikasi AIS (ASIA Impairment Scale)
-Pemeriksaan Lain: Sistem otonomik, kardiorespirasi, gastrointestinal, genitourinaria Pemeriksaan Fungsional: alat ukur yang mengevaluasi status fungsional
pasien selama proses rehabilitasi adalah FIM (Functional Independence Measure). Alat ukur ini mengukur derajat disabilitas yang terdiri dari 18 kategori, fokus pada fungsi motorik dan kognitif. Setiap kategori dinilai pada nominal 7, 1 adalh tergantung total, 7 adalah mandiri. FIM juga merupakan penilaian luaran (outcome)
Pemeriksaan Penunjang :
Laboratorium darah dan urin
Pemeriksaan fungsi ginjal: ureum, creatinin, urin analisa, BNO-IVP Radiologi : Rontgen tulang belakang, torak, CT-Scan, MRI, USG Elektrofisiologi
Pemeriksaan urodinamik Uji latih kardiorespirasi
Penulisan diagnosa :
Cedera Medulla Spinalis komplit / inkomplit dengan atau tanpa fraktur kompresi /
dislokasi / burst vertebra…atau Contusio Medulla Spinalis dengan level sensorik / neurologis setinggi…(level cedera)…, klasifikasi AIS A/B/C/D/E dengan :
Gangguan mobilisasi/ambulasi akibat tetraplegi/paraplegi Gangguan fungsi respirasi
Gangguan dalam aktivitas sehari-hari Gangguan berkemih/defekasi
Gangguan fungsi seksual
Intervensi dan Terapi
Proses rehabilitasi cedera medulla spinalis dibagi dalam 3 fase :
Fase Akut
Dilaksanakan dalam rawat inap, lebih diutamakan pada penatalaksanaan medis dan bedah. Tujuan rehabilitasi untuk mencegah atau meminimalkan defisit neurologis dan mencegah komplikasi tirah baring
Program :
Mencegah kegagalan kardiorespirasi akibat retensi sekresi bronkial Mencegah dekubitus
Mencegah komplikasi kardiovaskuler Mencegah kontraktur dan deformitas
Mencegah distensi kandung kemih dan infeksi traktus urinarius
Fase Pemulihan
Dilaksanakan dalam rawat inap, merupakan proses rehabilitasi aktif. Tujuan rehabilitasi untuk mengatasi masalah disabilitas dan handicap yang ditimbulkan akibat cedera, mamaksimalkan fungsi yang ada untuk kemandirian, meningkatkan kebugaran kardiorespirasi dan mencegah komplikasi sekunder.
Program :
Terapi latihan mobilisasi dan transfer
Pemberian ortosis sesuai level skeletal dan level medula spinalis (baik ortosis spinal, tungkai dan splint tangan) dan fiksasi internal
Terapi latihan persiapan mobilisasi dan ambulasi, jalan dengan atau tanpa ortosis, dengan atau tanpa kursi roda sesuai level neurologis dan level kemandirian
Terapi latihan persiapan kemandirian aktivitas sehari-hari Terapi latihan perawatan diri
Terapi latihan kontrol miksi dan defekasi
Mencegah komplikasi: pulmoner, kardiovaskuler, gastrointestinal, traktus urinarius, integritas kulit, HO, spastisitas, nyeri, osteoporosis, autonomic dysrefleksia, nyeri
Terapi latihan kebugaran dan prevokasional Terapi supportif (kelompok)
Fase Lanjut
Saat rawat jalan, seumur hidup pada pasien dengan kecacatan menetap. Tujuan rehabilitasi untuk meningkatkan kualitas hidup, mempertahankan kemampuan fungsional dan memiliki produktivitas sesuai kemampuan.
Tujuan Program : Resosialisasi
Meningkatkan kualitas hidup
Mempertahankan kemampuan fungsional Program rehabilitasi
Evaluasi berkala seumur hidup mengatasi masalah yang timbul - Evaluasi medikamentosa - Laboratorium rutin - USG - BNO-IVP - Foto toraks Resosialisasi
Rujukan untuk vocational training Rujukan spesialis lain yang perlu Konseling keluarga
Daftar Pustaka
1. Sabharwal S, Wierbicky J, Nesathurai S. Spinal Cord Injury. In: Frontera WR, editor. Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation. 2nd ed, Saunders Elsevier . Philadelphia ; 2008 .p 859-85
2. Bryce T.N, Ragnarsson K.T, Stein A. B. Biering-Sorensen F. Spinal Cord Injury. In: Braddom RL et al. Physical Medicine and Rehabilitation. 4th ed. Elsevier Saunders. Philadelphia ; 2011. p. 1293-346
3. Standar Pelayanan Medik – PERDOSRI 2007. p 18-22
4. American Spinal Cord Injury Association – International Standards for Neurological Classification of Spinal Cord Injury. 2010.
BELL’S PALSY
Definisi
Bell’s palsy adalah fasial paralisis karena disfungsi dari nervus fasialis perifer yang menyebabkan kelumpuhan otot-otot wajah. Dapat disebabkan oleh inflamasi yang menyebabkan edema nervus fasialis. Suatu proses non-supuratif, non-neoplasmatik, non-degeneratif primer pada bagian nervus fasialis di foramen stilomastoideus atau sedikit proksimal dari foramen tersebut, yang akut dan sembuh sendiri tanpa pengobatan.
Etiologi
Penyebabnya tidak diketahui, tetapi diduga terjadi pembengkakan pada saraf wajah sebagai reaksi terhadap infeksi virus, penekanan atau berkurangnya aliran darah.
Patofisiologi
Apapun etiologi Bell’s palsy, proses yang dianggap bertanggungjawab atas gejala klinik Bell’s palsy adalah proses edema yang selanjutnya menyebabkan kompresi nervus fasialis. Gangguan atau kerusakan pertama adalah endotelium dari kapiler dan permeabilitas kapiler meningkat, sehingga dapat terjadi kebocoran kapiler kemudian terjadi edema pada jaringan sekitarnya dan akan terjadi gangguan aliran darah sehingga terjadi hipoksia dan asidosis yang mengakibatkan kematian sel. Kerusakan sel ini mengakibatkan hadirnya enzim proteolitik, terbentuknya peptida-peptida toksik dan pengaktifan kinin dan
kallikrein sebagai hancurnya nukleus dan lisosom. Jika dibiarkan dapat terjadi kerusakan jaringan yang permanen.
Gejala
terjadi secara tiba-tiba.
terjadi kelemahan pada otot wajah (kelemahan otot yang terjadi bisa ringan sampai berat, tetapi selalu pada satu sisi wajah)
merasakan nyeri dibelakang telinga
mati rasa, atau merasakan ada beban berat di daerah wajah, meskipun sebetulnya sensasi diwajah adalah normal
karena bersifat perifer, maka penderita mengalami kesulitan dalam menutup mata pada sisi yang terkena, mempengaruhi sekresi air liur, air mata atau mempengaruhi rasa pengecapan di lidah.
Anamnesa
Rasa nyeri.
Gangguan atau kehilangan pengecapan.
Riwayat pekerjaan dan adakah aktivitas yang dilakukan pada malam hari diruangan terbuka atau di luar ruangan.
Riwayat penyakit yang pernah dialami oleh penderita seperti infeksi saluran pernafasan, otitis, herpes, dan lain-lain.
Pemeriksaan
Pemeriksaan neurologis pada paresis N.VII tipe perifer yaitu gerakan volunter dari:
Mengerutkan dahi Memejamkan mata
Mengembangkan cuping hidung Tersenyum
Bersiul
Mengencangkan kedua bibir
Prognosis
Prognosis bell’s palsy baik
Diferensial diagnosis
Kerusakan saraf wajah karena infeksi virus (misal sindroma Ramsay Hunt) Infeksi telinga tengah atau sinus mastoideus
Patah tulang pada dasar tengkorak
Pemeriksaan Penunjang
Untuk mengeklusikan bell’s palsy dari diferential diagnosis di atas dapat ditentukan dari riwayat perjalanan penyakit, hasil pemeriksaan Rontgen, CT-scan, MRI dan elektrofisiologi.
Terapi Rehabilitasi
Terapi medikamentosa oral (golongan kortikosteroid) Terapi non medikamentosa:
Untuk mengurangi nyeri pemberian modalitas panas pada sisi wajah yang terkena.
Pemanasan superfisial dengan infra red, pemanasan dalam berupa Shortwave Diathermy atau Microwave Diathermy dengan memperhatikan indikasi dan kontraindikasi
Latihan reedukasi otot-otot wajah.
Latihan gerak volunter otot wajah dan massage wajah diberikan setelah fase akut. Latihan berupa mengangkat alis tahan 5 detik, mengerutkan dahi, menutup mata dan mengangkat sudut mulut, tersenyum, bersiul / meniup (dilakukan di depan kaca untuk feedback dengan konsentrasi penuh).
Pemberian modalitas listrik untuk mencegah atrofi dan memperkuat otot Tujuan pemberian stimulasi listrik yaitu menstimulasi otot untuk mencegah / memperlambat terjadi atrofi sambil menunggu proses regenerasi dan memperkuat otot yang masih lemah. Misalnya dengan faradisasi yang tujuannya adalah untuk menstimulasi otot, reedukasi dari aksi otot, melatih fungsi otot, meningkatkan sirkulasi, meregangkan serta mencegah perlengketan.
Diberikan 2minggu setelah onset.
Program rumah
Kompres hangat daerah sisi wajah yang sakit selama 20 menit bila sudah melewati stadium akut
Massage wajah yang sakit ke arah atas dengan menggunakan tangan dari sisi wajah yang sehat.
Latihan tiup lilin, berkumur, makan dengan mengunyah disisi yang sakit, minum dengan sedotan, mengunyah permen karet
Perawatan mata
Beri obat tetes mata (golongan artifial tears) 3x sehari Memakai kacamata gelap sewaktu bepergian siang hari. Biasakan menutup kelopak mata secara pasif sebelum tidur
Daftar Pustaka
1. Sidharta P. Bell’s Palsy. Dalam Tata Pemeriksaan Klinis dalam Neurologi. Edisi ke-2. astroasmoro S, Trihono PP, Pujiadi A, Tridjaja B, Mulya GD. Dian Rakyat Jakarta ; 2007.
2. Dillingham TR. Electrodiagnostic Medicine II: Clinical Evaluation and Findings . In: Braddom RL et al. Physical Medicine and Rehabilitation. 4th ed. Elsevier Saunders. Philadelphia ; 2011. p.209
3. Committee of Physical Therapy Protocols Office of Physical Therapy Affairs Ministry of Health –Physical Therapy Management Facial Nerve Paralysis. Kuwait; 2007.
4. Teixeira LJ. Physical therapy for Bell´ s palsy (idiopathic facial paralysis). The Cochrane Collaboration. Published by JohnWiley & Sons, Ltd. 2008
Batasan dan Uraian Umum
Merupakan lesi pada pleksus brakialis mulai dari C5-C8 dan T1 baik akibat trauma dan non trauma yang mengenai anggota gerak atas mulai dari bahu, punggung, dada, lengan dan jari-jari.
Menurut terjadinya dibedakan atas:
1. Compressive brachial plexus neurophaty (CBPN) adalah tipe yang biasa disebut thoracic outlet syndrome (TOS), yaitu istiah umum untuk neuropati atau vaskulopati kompresi yang mengenai pleksus brakialis dan pembuluh darah subklavia.
2. Brachial plexus traction injury (BPTI), terjadi akibat trauma tarikan pada pleksus brakialis. BPTI akan mengganggu neural tissue gliding dan kemampuan untuk mentoleransi tekanan, hal ini mungkin disebabkan oleh fibrosis intra dan ekstraneural akibat trauma langsung, patologi lokal pada vertebra cervikal atau thorax atau kompresi yang berlebihan atau overuse
Anatomi
Pleksus brakial disusun oleh gabungan rami anterior dari empat terakhir akar saraf servikal dan akar saraf torakal pertama. Sering juga mendapat kontribusi dari akar saraf C4-C5 (disebut prefixed) atau bisa juga, walaupun jarang, dari akar saraf T2-T1 (disebut postfixed). Berurutan hingga ke distal, pleksus brakial terdiri dari trunk, divisions, cords, dan terakhir saraf perifer. Kelima segmen akar saraf membentuk tiga trunk, atas (C5-C6), tengah (C7) dan bawah (C8-T1). Setiap trunk terbagi menjadi divisi anterior dan posterior. Setiap divisi anterior dan trunk atas dan tengah, bersatu membentuk cord lateral; divisi anterior dari trunk bawah membentuk cord medial; dan divisi posterior dari ketiga trunk membentuk cord posterior. Sebagian besar saraf perifer berasal dari pleksus yang dibentuk oleh ketiga cords. Kecuali nervus long thoracic dan nervus dorsal scapular yang merupakan percabangan langsung dari spinal roots dan mensarafi otot sekitar scapula. Satu-satunya saraf yang langsung berasal dari trunk adalah nervus suprascapular (C5-C6).
Gejala
Upper trunk plexopathies (C5-C6) memberikan gejala proksimal yang lebih banyak, termasuk pada regio wajah, skapula dan interskapula. Parestesia dan nyeri pada bagian distal pada distribusi saraf median atau ulnar atau dermatom C5-C6.
Lower trunk plexopathies (C8-T1) memberikan gejala distal pada regio medial tangan, forearm dan ulnar
Cord atau division level plexopathies akan memberikan gejala yang lebih bervariasi
Gejala neurogenik awal: gangguan performa otot, gangguan sensibilitas, gejala otonom (hiperhidrosis, instabilitas vasomotor, rasa terbakar), nyeri kepala
Gejala neurogenik lanjut: nyeri, parestesia, kehilangan otot intrinsik, kehilangan sensoris, dan perubahan refleks.
Pemeriksaan Fisik
Thoracic Outlet Syndrome Brachial Plexus Traction Injury Berkaitan dengan postur, atau penyebab
lain yang onsetnya perlahan, nonirritable Gejala transien: nyeri/parestesia
Tes provokatif:
Tes Adson: scalene
Manuver costoclavicular: ruang retroclavicula
Tes Wright’s: ruang axillary
Berkaitan dengan trauma pada bahu, cervical spine, dan bersifat Irritable
Onset delayed Tes provokatif:
Positive upper limb tension
Traksi pada pleksus (bila diperlukan)
Komplikasi
Instabilitas sendi, kekakuan sendi, kontraktur sendi, complex regional pain syndrome, atrofi otot, disabilitas permanen, gangguan sensoris pada daerah leher, bahu, lengan sampai jari-jari yang meningkatkan resiko terjadinya infeksidan amputasi.
Keterbatasan fungsional
Flail arm terjadi segera setelah trauma (tidak ada pergerakan yang terdeteksi pada lengan), sehingga terjadi gangguan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Pemeriksaan Penunjang
Radiologi: foto rontgen untuk melihat kelainan pada sendi dari bahu, MRI untuk mendeteksi keberadaan kelainan saraf maupun patologis pada cervical rib atau tulang
Arteriografi: untuk mendeteksi oklusi arteri subklavia atau aksilaris
Somatosensoryy evoked potentials
Electromyography (EMG)/kecepatan hantar saraf (KHS) pada saraf antebrakial kutaneus untuk melokalisasi level lesi
USG musculoskeletal pada daerah Thorasic Outlet
Tujuan tatalaksana
Mengurangi nyeri (penilaian dengan VAS)
Kontrol gejala dan meningkatkan kenyamanan pasien Meningkatkan kesadaran postur, posisi dan perilaku Pola pernapasan diafragma yang tepat
Mengurangi keluhan sekunder pada sendi glenohumeral, cervical spine dan jaringan lunak sekitarnya
Mengembalikan keseimbangan dan mobilitas otot upper quarter Normalisasi mobilitas dan toleransi tensile loads pada saraf
Kembali ke pekerjaan dan ke rumah dengan modifikasi yang diperlukan
Tata laksana Terapi Konservatif
Nyeri akut diatasi dengan obat-obatan anti nyeri neuropatik, seperti gabapentin dan antidepresan trisiklik, analgesia, seperti tramadol, levatiracetam dan pilihan terakhir adalah opiat pada kasus dengan nyeri yang sangat hebat. Untuk nyeri kronis dapat digunakan metode non medikamentosa seperti TENS.
Rehabilitasi
Positioning dan latihan LGS dilakukan untuk mencegah atrofi otot dan kontraktur sendi, karena hal ini akan mengganggu fungsional pada saat masa penyembuhan.
Latihan LGS dapat dilakukan dengan metode hidroterapidan massage dapat digunakan untuk meregangkan otot.
Setelah terjadi reinervasi, perlu dilakukan latihan penguatan otot.
Terapi okupasi bertugas membantu pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
Terapi vokasional diindikasikan saat disabilitas dari kelemahan lengan mempengaruhi kemampuan pasien untuk melakukan pekerjaannya.
Penggunaan ortosis (shoulder sling) untuk mengurangi tarikan bahu akibat kelemahan lengan proksimal.
FES (Functional Electrical Stimulation) atau FNS (Functional Neuromuscular Stimulation) akan memberikan stimulasi kepada otot lengan yang lemah
Operasi dilakukan pada 5-12 bulan setelah trauma, pada saat kerusakan saraf dipastikan tidak dapat menyembuhkan diri sendiri.
Daftar Pustaka
1. Walsh MT, Davis GK. Brachial plexus injury. In: Burke et al. Hand and Upper Extremity Rehabilitation A Practical Guide. St Louis: Elsevier Churchill Livingston ;2006. p. 195-214
2. Richardson JK, Craig A. Rehabilitation of Patients with Neuropathies. In: Braddom RL et al. Physical Medicine and Rehabilitation. 4th ed, Elsevier Saunders. Philadelphia; 2011. p. 1481
3. Ensrud E, King JC. Plexopathy Brachial. In: Frontera WR, editor. Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation. 2nd ed, Saunders Elsevier . Philadelphia ; 2008 .p 773-7
4. Freeman TL, Johnson EW, Freeman ED, Brown DP. Electrodiagnostic Medicine and Clinical Neuromuscular Physiology. In Cucurullo SJ. Physical Medicine and Rehabilitation Board Review. 4th Edition Demos Medical Publishing . New York; 2005 . p 344-9
REHABILITASI STROKE
Batasan dan Uraian Umum
Stroke adalah kumpulan gejala kelainan neurologis lokal yang timbul mendadak akibat gangguan peredaran darah di otak yang disebabkan penyakit atau kelainan yang juga merupakan faktor risiko. Gejala tersebut dapat disertai atau tidak disertai gangguan kesadaran dan manifestasi klinis tergantung lokasi lesi neuroanatomis.
Klasifikasi stroke yaitu :
1. Berdasarkan lokasi neuroanatomis dari lesi a. kortikal
b. sub kortikal c. batang otak
2. Berdasarkan letak gangguan sirkulasi a. sindroma sirkulasi anterior total b. sindroma sirkulasi anterior parsial c. sindroma sirkulasi posterior d. sindroma lakunar
3. Berdasarkan sifat gangguan aliran darah a. non hemoragik
4. Berdasarkan waktu terjadinya a. Stroke in progression b. Stroke komplit
Gejala
Kelemahan anggota gerak merupakan kelainan yang sering ditemukan pada penderita stroke. Kelainan lain yang juga sering ditemukan adalah gangguan bicara, menelan, afasia, gangguan kognitif, hilangnya fungsi sensorik, dan gangguan penglihatan. Peningkatan tonus otot, kelemahan, depresi, dan nyeri merupakan gejala yang dapat timbul setelah stroke terjadi.
Pemeriksaan Fisik
Diperlukan pemeriksaan neurologis yang menyeluruh. Pemeriksaan ini meliputi : Pemeriksaan kesadaran dengan Glasgow Coma Scale
Evaluasi status mental dengan minimental state evaluation Uji fungsi kognisi dengan RanchoLos Amigos Cognitive Scale Pemeriksaan saraf kranial
Pemeriksaan sensibilitas superfisial dan dalam, proprioseptif, diskriminasi 2 titik, monofilamen tes
Pemeriksaan lingkup gerak sendi Pemeriksaan kekuatan dan tonus otot Pemeriksaan koordinasi motorik Uji keseimbangan statis dan dinamis Uji fungsi lokomotor
Pemeriksaan refleks fisiologis/reflek tendon dalam Pemeriksaan refleks patologis (Babinski, dll) Uji fungsi komunikasi
Uji fungsi menelan Uji fungsi berkemih Uji fungsi defekasi
Uji kemampuan fungsional dan perawatan diri Uji pola jalan
Gangguan gerak
Gangguan keseimbangan Gangguan sensibilitas Gangguan menelan
Gangguan kognitif (memori, perhatian, persepsi ruangan) Gangguan komunikasi
Gangguan fungsi seksual Gangguam berkemih Gangguan defekasi Gangguan psikis
Gangguan fungsional dan perawatan diri
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium yang sesuai
Tujuan tatalaksana
Mengoptimalkan kemampuan fungsi dengan memodifikasi sehingga insan pasca stroke mampu beradaptasi, mandiri dengan kualitas hidup yang sesuai.
Tata laksana Rehabilitasi
Rehabilitasi stroke adalah pengelolaan medis dan rehabilitasi komprehensif terhadap disabilitas yang diakibatkan stroke melalui pendekatan neurorehabilitasi. Program rehabilitasi perlu disusun sesuai dengan tingkat keparahan akibat serangan stroke. Rehabilitasi stroke fase akut dilaksanakan selama pasien dirawat inap maupun rawat jalan/home care. Sedangkan fase kronik/lanjut rehabilitasi dilakukan dengan rawat jalan. Program rehabilitasi multidisiplin secara komprehensif dimulai dari fase akut secara inter maupun intra disiplin dengan spesialis lain.
Latihan (Exercise)
Program latihan fisik umumnya berorientasi pada kapasitas fungsi, dengan penekanan pada restorasi mobilitas fungsional dan kemampuan untuk melakukan aktivitah harian (ADL). Instruksi mengenai tehnik-tehnik
kompensasi dan edukasi terhadap keluarga penting untuk mempersiapkan kembalinya pasien ke rumah. Bukti-bukti menunjukkan efek dari terapi fisik terhada reorganisasi korteks pasca stroke, yang diiringi dengan perbaikan pada kontrol motorik dan kapasitas fungsinya.
Disfagia
Penanganan disfagia meliputi penggunaan selang nasogastric, modifikasi diet (mis., cairan kental, makanan dihaluskan), dan terapi menelan (mis., penggunaan tehnik kompensasi seperti mengangkat dagu saat menelan).
Komunikasi
Gangguan komunikasi bisa berupa afasia, disartria, dan lain-lain. Tindakan rehabilitasi diberikan sesuai dengan penilaian kelainan yang terdapat pada pasien.
Kognisi
Stroke seringkali mempengaruhi kemampuan kognisi pasien. Perubahan dalam memori, perhatian, insight, dan penyelesaian masalah sering ditemukan pada pasien dengan stroke. Uji neuropsikologis dapat berguna untuk mencari penyebab dari faktor dari defisit ini dan membantu menyusun rencana terapi. Terapi wicara dan terapi okupasi meliputi usaha perbaikan dan mengajarkan tehnik kompensasi. Edukasi dan latihan keluarga merupakan komponen penting dalam rehabilitasi kognitif. Pengenalan dan penatalaksanaan depresi pasca stroke merupakan hal yang sangat penting, karena depresi dapat menyebabkan penurunan kognitif pasca stroke.
Ortotis
Ortotis dapat membantu kegiatan mobilisasi penderita stroke. Ortotis dapat membantu kompensasi pada gangguan dorsofleksi pergelangan kaki, mengontrol pergerakan kaki, spastisitas dan stabilisasi sendi lutut.
Adanya hemiparesis pada penderita stroke menyebabkan banyak penderitas stroke membutuhkan alat bantu untuk ambulasi, seperti tongkat, tongkat kaki empat, hemi-walker, atau pada beberapa kasus dapat menggunakan walker konvensional. Pada kondisi yang berat kursi roda dibutuhkan untuk ambulasi pasien. Pada penderita strokeone-side arm wheelchairberguna karena dapat mengontrol kedua roda nya hanya dari satu sisi.
Subluksasi Bahu
Subluksasi bahu umum terjadi pada kasus hemiplegia pasca stroke, meskipun adanya rasa nyeri sangat bervariasi. Menopang lengan dengan menggunakan penopang lengan (arm board) dan penggunaan selektif dengan sling akan membantu untuk mengurangi subluksasi tersebut. Stimulasi listrik bermanfaat untuk mengurangi nyeri bahu.
Evaluasi untuk dapat berkerja kembali
Evaluasi dilakukan terhadap kemampuan fungsional yang masih dimiliki dan ditingkatkan kemampuannya untuk dapat melakukan pekerjaan seperti sebelum terkena stroke dengan atau tanpa alat bantu
Alat Bantu Adaptif
Alat bantu adaptif merupaka alat bantu yang bentuk dan fungsinya disesuaikan untuk meningkatkan kemampuan fungsi seorang penderita stroke untuk mampu melakukan aktifitas yang diperlukan
Komplikasi
Spastisitas Nyeri
Subluksasi bahu, frozen shoulder Ulcus decubitus
Infeksi saluran kemih Komplikasi medikamentosa Gangguan fungsi menelan Kontraktur
Penyakit sendi Osteoporosis
Gangguan kardiorespirasi dan vaskular
Daftar Pustaka
2. Standar Operasional Prosedur, Depkes, 2002.
3. Konsensus Nasional Rehabilitasi Stroke (PERDOSRI), 2004.
4. Konsensus Nasional Pengelolaan Stroke di Indonesia, PERDOSSI, 1999. 5. Bradstater ME. Important Practical Issue in Rehabilitation of the Stroke
Patient. In : Stroke Rehabilitation, Williams and Wilkins. 1987. p 90-101. 6. Stein J. Stroke. In: Frontera WR, editor. Essentials of Physical Medicine and
REHABILITASI CARPAL TUNNEL SYNDROME
Batasan dan Uraian Umum
Carpal Tunnel Syndrome (CTS) adalah neuropati akibat kompresi nervus medianus pada terowongan carpal di pergelangan tangan. Kelainan ini merupakan mononeuropati yang tersering akibat kompresi saraf pada anggota gerak atas. Biasa dihubungkan dengan jenis pekerjaan tertentu seperti posisi pergelangan tangan dan tangan yang salah, penekanan pada bagian dasar telapak tangan dan gerakan yang berlebihan dan vibrasi.
Gejala
Gejala klasik CTS adalah baal dan parestesia pada digiti I, II, III dan setengah lateral digiti IV. Gejala awal berupa terbangun pada malam hari dengan rasa baal atau nyeri pada jari-jari. Gejala pada siang hari biasanya disebabkan oleh aktivitas yang memposisikan pergelangan tangan pada fleksi atau ekstensi berlebihan atau gerakan repetitif yang berlebihan.
Gejala nyeri pada sisi volar pergelangan tangan dan pegal pada forearm juga dapat ditemukan. Gejala berkurang dengan mengibas-ngibaskan tangan (flick sign).
Gangguan otonom dapat dideskripsikan sebagai adanya edema pada tangan, kulit kering dan dingin.
Pada tahap yang lebih lanjut, rasa baal dirasakan konstan dan gangguan motorik tampak lebih jelas, dengan keluhan kelemahan yang berhubungan dengan prehensi tangan. Dilaporkan sering menjatuhkan benda yang digenggam.
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi kedua tangan, bandingkan sisi yang sakit dan sehat, perhatikan asimetris eminentia thenar dan hypothenar. Kelemahan pada otot thenar dapat dites dengan dinamometer atau secara klinis dengan memberikan tahanan pada gerakan abduksi digiti I.
Pemeriksaan sensoris diskriminasi 2 titik merupakan pemeriksaan bedside yang paling sensitif. Special test yang sering dilakukan adalah tes Phalen (sensitivitas 68%; spesifisitas 73%), Tinel (50%;77%) dan tes kompresi saraf (64%;83%).
- Tes phalen dilakukan dengan fleksi pasif pergelangan tangan sebesar 900 selama 1 menit, hasil positif akan menimbulkan gejala CTS. Tes reverse phalen dilakukan dengan cara yang serupa dan ekstensi.
- Tes Tinel dilakukan dengan mengetuk pergelangan tangan bagian volar, distal dari wrist crease. Hasil positif bila terjadi gangguan sensoris yang menjalar ke daerah inervasi nervus medianus.
- Tes kompresi saraf dilakukan dengan memberikan penekanan dengan kedua ibu jari pada daerah carpal tunnel selama 1 menit.
Diskriminasi 2 titik adalah tes yang spesifik, tapi tidak sensitif.
Atrofi dan tes kekuatan otot abduktor pollicis brevis terbukti sebagai tesyang spesifik, tapi tidak sensitif.
Keterbatasan Fungsional
Sering terbangun saat tidur di malam hari
Kesulitan melakukan gerakan repetitif seperti mengetik, mengemudi kendaraan bermotor
Kesulitan menggenggam benda
Kesulitan mengikat tali sepatu, mengancingkan baju dan memasukkan kunci ke lubang kunci
Pemeriksaan Penunjang
Elektrofisiologi: EMG dan Kecepatan Hantar Saraf Ultrasound muskuloskeletal
Radiologi pergelangan tangan
Laboratorium, untuk menyingkirkan kemungkinan kelainan endokrin dan reumatologi
Tujuan tatalaksana
Mengurangi nyeri, kesemutan Meningkatkan kekuatan otot
Tatalaksana
Terapi Konservatif/Rehabilitasi
Medikamentosa steroid sesuai indikasi (baik oral maupun injeksi). Pemberian oral dapat berupa Prednison 1x20 mg pada minggu pertama dan 1x10 mg pada minggu kedua atau Prednisolone 1x25 mg selama 10 hari
Modifikasi pekerjaan sementara waktu termasuk modifikasi postur
Tendon and nerve gliding exercise Modalitas:
- Low Level Laser Therapy (LLLT)pada daerah carpal tunnel. LLLT dapat mengurangi nyeri, meningkatkan LGS aktif dan memperbaiki toleransi aktivitas fungsional.
- Pulsed Ultrasound (25% duty cycle), 1 MHz, 1,0 W/cm2 selama 15 menit. Ortotik. Penggunaan splint pada posisi netral pada malam hari dapat mengurangi gejala CTS. Penggunaan full-time, bila dapat dilakukan, dapat memberikan perbaikan gejala dan elektrofisiologi yang lebih baik. Perbaikan maksimal terjadi pada 2-3 minggu.
Selama periode istirahat, dilakukan streching fleksi dan ekstensi pergelangan tangan dan forearm dengan dibantu oleh tangan yang sehat (tendon & nerve gliding exercise). Latihan strengthening dapat dilakukan, namun hindari strengthening yang agresif.
Semua tindakan di atas disesuaikan dengan derajat keparahan dan hasil pemeriksaan kemampuan fungsional Functional Status Scale (FSS) dan Symptom Severity Scale (SSS)
Komplikasi
Gangguan sensoris dan motorik kronik, kerusakan saraf permanen
Daftar Pustaka
1 Zhao M, Burke D. Median Neuropathy (Carpal tunnel Syndrome). In Frontera WR, editor. Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation. 2nd ed. Saunders Elsevier . Philadelphia ; 2008 . p 173-7
2 Richardson JK, Craig A. Rehabilitation of Patients with Neuropathies. In Braddom RL et al. Physical Medicine and Rehabilitation. 4th ed. Elsevier Saunders. Philadelphia; 2011. p 1084-5
3 Dellagata EM, Nolan Jr TP. Electromagnetic Waves: Laser, Diathermy, and Pulsed ElectromagneticFields. In: Michlovitz SL et al. Modalities for Therapeutic Intervention. 5ed. F.A Davis Company. Philadelphia; 2012. p. 147-8
4 Nadler SF, Schuler S, Nadler JS. Cumulative Trauma Disorders. In: DeLisa JL et al. Physical Medicine and Rehabilitation Principles and Practice. 4th ed. Lippincott Williams and Wilkins. Philadelphia ; 2005. p. 623-4
5 Freeman TL, Johnson EW, Freeman ED, Brown DP. Electrodiagnostic Medicine and Clinical Neuromuscular Physiology. In Cuccurullo SJ. Physical Medicine and Rehabilitation Board Review. 4thed. Demos Medical Publishing. New York ; 2005. p. 401-2
REHABILITASI MOTOR NEURON DISEASE
Batasan dan Uraian Umum
Istilah Motor Neuron Disease (MND) merupakan kelainan neuromuskular progresif yang secara selektif mengenai motor neuron (suatu sel yang mengontrol gerakan volunter otot secara aktif), gejala yang timbul bisa berupa upper atau lower motor neuron. Jenis MND yang paling sering adalah amyotrophic lateral sclerosis (ALS). Diagnosis ALS ditegakkan bila ditemukan disfungsi upper dan lower motor. Bila hanya disfungsi lower motor disebut progressive muscular atrophy dan bila hanya disfungsi upper motor disebut primary lateral sclerosis. Bila hanya disfungsi bulbar disebut progressive bulbar palsy.
Gejala
Sindrom upper motor neuron: spastisitas, kehilangan deksteritas, kekakuan (stiffness), kelemahan akibat spastisitas dan kehilangan kontrol motorik volunter.
Sindrom lower motor neuron: kelemahan, fasikulasi, atrofi otot dan kram pada otot.
Gejala bulbar: disartria, disfagia, ngeces (drooling), aspirasi dan afek pseudobulbar (tertawa atau menangis yang tidak sesuai dengan mood) Gagal napas dan gejala konstitusional seperti kehilangan berat badan dan
fatique dapat juga ditemukan.
Gejala kognitif seperti gangguan perilaku atau fungsi eksekutif dan demensia frontotemporal terjadi pada minoritas pasien.
Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan neurologis
Tanda-tanda disfungsi upper dan lower motor neuron
Status mental, fungsi nervus kranial non motorik, pemeriksaan sensoris dan pemeriksaan serebellar biasanya normal
Gold standart untuk diagnosis upper motor neuron adalah ditemukannya refleks patologis seperti Babinsky sign, Hoffmann sign dan brisk jaw jerk. Hiperrefleks atau hiporefleks, tergantung pada proses penyakit dan
dominansi keterlibatan upper atau lower motor neuron
Tanda-tanda lower motor neuron seperti kelemahan otot, atrofi (otot intrinsik tangan), hipotonis, hiporefleks dan fasikulasi
Pemeriksaan lidah: atrofi, fasikulasi
Pemeriksaan lingkup gerak sendi dan evaluasi sendi atau struktur jaringan lunak yang dikeluhkan nyeri
Evaluasi sistem kardiovaskular seperti menghitung Forced Vital Capacity (FVC) dengan menggunakan hand held spirometry.
Kriteria El Escorial untuk diagnosis ALS 1. Bukti adanya degenerasi LMN 2. Bukti adanya degenerasi UMN
3. Perburukan gejala dan tanda yang progresif pada satu regio ke regio yang lain
Kategori diagnostik
1. Clinically definite ALS: tanda UMN dan LMN pada 3 atau 4 regio
2. Clinically probable ALS: tanda UMN dan LMN pada 2 regio, dengan tanda UMN rostral terhadap tanda LMN
3. Clinically possible ALS: tanda UMN dan LMN hanya pada 1 regio atau tanda UMN setidak-tidaknya pada 2 regio atau tanda LMN ditemukan rostral terhadap tanda UMN
Kategori menurut regio anatomis Bulbar
Cervical, termasuk upper limb Thoracic, termasuk otot abdomen Lumbar, termasuk lower limb
Komplikasi
Kelemahan progresif, kontraktur sendi, musculosceletal pain syndromes, disfagia, aspirasi, disartria, depresi, gagal napas progresif dan kematian
Keterbatasan Fungsional
Efek langsung dan tidak langsung dari kelemahan otot. Gangguan mobilisasi dan kesulitan melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari, seperti makan. Kelemahan otot bulbar akan menimbulkan disartria dan disfagia. Depresi, fatique dan nyeri muskuloskeletal dapat menimbulkan keterbatasan fungsi lebih lanjut.
Pemeriksaan Penunjang
MRI
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk melihat kesehatan pasien secara umum dan menyingkirkan kemungkinan penyakit yang bisa diobati. Pemeriksaan yang lebih spesifik disesuaikan dengan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik
Elektrodiagnostik
Neuroimaging dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk menyingkirkan kondisi yang menyerupai ALS. Setiap pasien harus menjalani tes elektrodiagnostik, kriteria E1 Escorial revisi digunakan untuk mendiagnosis ALS, terdapat 5 kategori: definite, probable, probable dengan dukungan hasil laboratorium, possible dan suspected. Sistem motorik dibagi menjadi 4 regio: bulbar, cervical, thoracic, dan lumbosacral. Bukti keterlibatan upper dan lower motor neuron dicari pada tiap regio. Kategori diagnosis tergantung pada seberapa banyak regio yang memiliki kelainan upper dan lower motor.
Tujuan tatalaksana
Tujuan rehabilitasi:
Tahap awal: mencegah dan memperlambat komplikasi karena terjadinya kelemahan otot
Tahap lanjut: mempertahankan fungsi dan mengkompensasi kelemahan otot
Terapi Konservatif Medikamentosa
Riluzole 2x50 mg (antiglutamat agent), vitamin dan suplemen (antioksidan) dengan dosis 1000 to 3000 mg vitamin C, 400 IU vitamin E, dan maksimal 1200 mg coenzyme Q10.
Spastisitas: Baclofen (Lioresal), tizanidine (Zanaflex).
Bila terdapat depresi (disfungsi bulbar) : antidepresan trisiklik
Rehabilitasi
Latihan fisik pada tahap awal terdiri dari latihan fleksibilitas (stretching dan LGS), strengthening dan aerobic. Latihan penguatan diafragma dengan inspiratory muscle exercise 5-10 menit, 3x/hari.
Pada ALS tahap lanjut, rehabilitasi berfokus pada latihan untuk mempertahankan mobilisasi independen dan fungsi selama mungkin. Intervensi mobilisasi meliputi cane, walker, braces, splint tangan, wheelchair, perlengkapan rumah tangga seperti dressing aids, grab bars, raised toilet seats, shower benches dan lifts, modifikasi (ramps, wide doorways) dan adaptasi kendaraan bermotor seperti hand controls, enviromental control units dan voice-activited software.
Spastisitas hanya diterapi bila mengganggu fungsi. Teknik non farmakologi meliputi latihan stretching, teknik positioning yang dapat menurunkan tonus otot
dan positional splinting. Farmakologis dengan menggunakan Baclofen, dosis awal 5-10 mg 3x/hari, dosis maksimum 160 mg.
Penanganan kontraktur dengan latihan berdiri dan berjalan setiap hari, LGS aktif dan pasif setiap hari, positioning ekstremitas ke posisi ekstensi pada posisi istirahat dan penggunaan supportive splinting.
Pada pasien dengan gangguan menelan, diperlukan peran speech pathologist. Pada pasien dengan gangguan menelan sedang, dapat diajarkan teknik kompensasi untuk mengurangi risiko aspirasi dan tersedak, modifikasi konsistensi makanan. Indikasi pemasangan NGT meliputi pneumonia aspirasi, kehilangan 10% berat badan dan waktu makan yang sangat lama sehingga mempengaruhi kualitas hidup.
Disartria ringan atau sedang dapat ditangani dengan mengajarkan pasien strategi adaptif seperti overartikulasi dan memperlambat kecepatan bicara. Pada pasien dengan hypernasal speech yang disebabkan oleh kelemahan palatal dan disfungsi lower motor neuron primer, dapat diajarkan palatal lift atau prostetik augmentasi untuk memperbaiki kejernihan suara. Bila disartria memburuk, pasien akan memerlukan cara alternatif untuk berkomunikasi seperti menulis, letter dan word boards, voice synthesizer.
Penggunaan ortosis, sesuai dengan impairment yang ditemukan pada pasien, yang diberikan dengan tujuan mempermudah pasien melakukan ADL (yang sering digunakan AFO, KAFO, kursi roda).
Okupasi terapi dapat melatih pasien agar tetap menjalankan ADL semandiri mungkin, melalui cara konservasi energy, alat bantu untuk berpakaian (buttoners, sock pullers, reachers, velcro fasteners for clothes) dan modifikasi alat lainnya (built-up handles, universal cuffs, plate guards). Hand splint dapat digunakan untuk mengoptimalkan fungsi tangan.
Kemampuan pengembangan rongga dada harus diperiksa secara rutin untuk mengetahui terjadinya gangguan pernafasan. Bilamana terjadi gangguan pernafasan akibat kelemahan otot-otot pernafasan maka elektrostimulasi neuromuskuler dapat diberikan.
Daftar Pustaka
1. Krivickas L.S. Motor Neuron Disesase. In: Frontera WR, editor. Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation, 2nd ed. Saunders Elsevier . Philadelphia ; 2008 .P 705-12.
2. Joyce N, Carter GT. Motor Neuron Disease. In: Braddom RL et al. Physical Medicine and Rehabilitation. 4th ed. Elsevier Saunders . Philadelphia ; 2011. p. 1041-63
3. Krivickas LS, Carter GT. Motor Neuron Disease. In: DeLisa JL et al. Physical Medicine and Rehabilitation Principles and Practice, 4th ed. Lippincott Williams and Wilkins. Philadelphia; 2005. p. 931-56
4. Freeman TL, Johnson EW, Freeman ED, Brown DP. Electrodiagnostic Medicine and Clinical Neuromuscular Physiology. In: Cuccurullo SJ. Physical Medicine and Rehabilitation Board Review. 4th ed, Demos Medical Publishing. New York;2005. p. 404-7
5. Koller H, Hartung HP. Neuromuscular rehabilitation: diseases of the motor neuron, peripheral nerve and neuromuscular junction. In: Seizer ME et al. Textbook of Neural Repair and Rehabilitation Volume II Medical Neurorehabilitation. Cambridge: Cambridge University Press.2006. p. 659-64
MENINGITIS
Batasan dan Uraian Umum
Meningitis adalah radang pada meningen yang membungkus otak dan medulla spinalis, umumnya pada lapisan piamater dan arachnoid. Peradangan dapat disebabkan oleh :
Infeksi : virus, bakteri, jamur, parasit
Aseptik : semua kasus meningitis akibat virus, bakteri yang sudah mendapat pengobatan sehingga tidak ditemukan bakteri atau virus, infeksi lain (sinusitis, endokarditis), infeksi spiroketa (sifilis, Lyme disease), malaria serebral, jamur (kriptokokus), dan amuba.
Non infeksi : penyebaran kanker pada meningen, obat-obatan (NSAID), antibiotika, immunoglobulin intravena, sarcoidosis, SLE, vaskuilitis.
Gejala Demam Sakit kepala Kaku kuduk Confusion Penurunan/perubahan kesadaran
Irritability dan drowsyness (pada anak-anak) Sulit konsentrasi Koma Malaise Myalgia Mual Muntah Photophobia Fonophobia Diare
Rash (terutama jika penyebabnya meningokokus)
Gejala klinis
Gejala klinis pada orang dewasa adalah sakit kepala luar biasa (90% pada meningitis bakteri) dan adanya nuchal rigidity
Triad diagnostic dari meningitis: -Nuchal rigidity
-Sudden high fever -Perubahan status mental
-Photophobia, fonophobia
Gejala di atas tidak ditemui pada anak-anak, irritable dan bulging dari fontanella, lack vein, cold extremity dan abnormal skin colour
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan khusus : adanya kaku kuduk, tanda Kernig dan Brudzinsky yang positif.
Tanda-tanda tekanan intrakranial meningkat : penurunan kesadaran, papilledema, dan, pada bayi sampai umur 6 bulan tampak fontanella menggembung.
Meningkatnya lingkar kepala dapat terjadi pada bayi dengan hidrosefalus.
Keterbatasan fungsional
Gangguan kognitif
Gangguan pendengaran (10%) Retardasi mental (5%)
Gangguan penglihatan (kebutaan) Defisit neurologis permanen (5%)
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium : darah, cairan serebrospinal
Virus-specific PCR, titer antibody, dan kultur (jika penyebab virus) CT scan
MRI
Tata laksana
Rehabilitasi fase akut : (dilaksanakan dalam rawat inap)
Tujuan rehabilitasi :
- Mencegah atau meminimalkan defisit neurologis - Mencegah efek tirah baring lama
Program rehabilitasi :
- Cegah kegagalan respirasi akibat retensi sputum - Cegah ulkus dekubitus
- Cegah komplikasi kardiovaskuler - Cegah kekakuan sendi
Rehabilitasi fase pemulihan (dilaksanakan dalam rawat inap, merupakan proses rehabilitasi aktif) :
Tujuan rehabilitasi :
- Mengatasi masalah disabilitas dan handicap yang timbul - Memaksimalkan fungsi yang ada untuk kemandirian - Meningkatkan kebugaran kardiopulmoner
- Mencegah komplkasi sekunder Program rehabilitasi :
- Terapi latihan persiapan mobilisasi dan transfer - Terapi latihan keseimbangan
- Terapi latihan persiapan ambulasi
- Ortosis tungkai (AFO, KAFO) bila diperlukan
- Latihan jalan dengan atau tanpa ortosis tungkai, dengan atau tanpa alat bantu (crutches, canadian, walker)
- Terapi latihan persiapan kemandirian aktivitas sehari-hari - Splint tangan dan alat bantu adaptif bila diperlukan - Terapi latihan oromotor dan fungsi menelan
- Terapi latihan control miksi dan atau defekasi
- Terapi latihan fungsi luhur/kognitif : arousal, atensi, fungsi eksekutif, inisiasi, bahasa dan komunikasi, memori, persepsi serta visuospasial - Terapi perilaku
- Psikoterapi untuk mengatasi emosi dan depresi - Terapi latihan kebugaran
- Terapi latihan prevokasional
- Aktivitas hobi dan olahraga yang sesuai
- Edukasi : persiapan kembali ke rumah, problema seksual dan family planning
- Terapi suportif (kelompok) : pemahaman mengenai kecacatan
Rehabilitasi fase lanjut (dilaksanakan dalam rawat jalan,lamanya seumur hidup untuk kecacatan menetap) :
Tujuan rehabilitasi :
- Resosialisasi (diantaranya mengembalikan ke tempat kerja atau menyiapkan untuk kemampuan bekerja)
- Mempertahankan kemampuan fungsional - Meningkatkan kualitas hidup
Program rehabilitasi : - Resosialisasi
- Rujukan untuk vocational training - Kenseling keluarga
- Program latihan di rumah - Follow up
Komplikasi
Systemic inflammatory response syndrome : tekanan darah turun, denyut jantung cepat, suhu tinggi/rendah abnormal, nafas cepat
DIC (Disseminated Intravascular Coagulation) Gangren (bila penyebab infeksi : meningokokus)
Pada infeksi meningokokus atau pneumokokus dapat menyebabkan perdarahan kelenjar adrenal, yang menyebabkan sindrom Waterhouse-Friderichsen
Peningkatan tekanan intra kranial Herniasi
Hidrosefalus Kejang
Kelainan saraf kranial Ensefalitis
Vaskulitis
Trombosis vena serebral Epilepsi
Daftar Pustaka
1. Pansky B, Allen DJ, Colin Budd G. Review of Neuroscience. 2nd ed. Macmillan Publishing Company. 1988.
2. Koppel BS. Bacterial, fungal, & parasitic infections of the nervous system. In : Brust JCM. Current Diagnosis & Treatment in Neurology. A Lange medical book. Mc Graw Hill. 2007. p 403-48
3. Sevigny J, Frontera J. Viral infections of the nervous system. In : Brust JCM. Current Diagnosis & Treatment in Neurology. A Lange medical book. Mc Graw Hill. 2007; p 449-61.
4. Roos KL, Tyler KL. Meningitis, encephalitis, brain abscess, and empyema. In : Hauser SL editor. Harrison’s Neurology in Clinical Medicine. McGraw Hill. 2006; p 423-55.
ENSEFALITIS
Batasan
Ensefalitis adalah suatu peradangan otak akut. Ensefalitis disertai meningitis disebut meningoensefalitis.
Penyebab :
Infeksi : virus (rabies, herpes, polio, measles), bakteri Komplikasi atau infeksi sekunder dari sifilis
Infestasi: parasit/protozoa (toxoplasmosis, malaria, amoeba)
Compromised immune systems Lyme disease, Bartonella henselae
Jamur (kriptokokus) pada pasien immunocompromised
Gejala
Sakit kepala Demam
Confusion Mengantuk
Gangguan kesadaran: dari letargi sampai koma
Fatigue Kejang Tremor Halusinasi Agitasi Gangguan kepribadian Gangguan perilaku Gangguan memori
Gangguan neurologis fokal : afasia, ataxia, hemiparesis, gerakan involunter (mioklonik, tremor), defisit nervus kranialis
Pemeriksaan Fisik
- Gangguan kesadaran, drowsyness/mengantuk, kadang-kadang kejang, kaku kuduk
- Tanda Kernig dan Brudzinsky positif jika terdapat meningoensefalitis.
Keterbatasan fungsional
Kesulitan dalam berjalan dan melakukan aktivitas harian Gangguan kognitif
Gangguan menelan
Inkontinensia urin Gangguan depresi
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium : darah, cairan cerebrospinal, serologi (PCR)
Pungsi lumbal: pemeriksaan LCS terdapat peningkatan protein dan sel darah putih dengan glukosa normal
CT scan MRI
EEG
Tata laksana
Rehabilitasi fase akut : (dilaksanakan dalam rawat inap)
Tujuan rehabilitasi :
- Mencegah atau meminimalkan deficit neurologis - Mencegah komplikasi tirah baring
Program rehabilitasi :
- Cegah kegagalan respirasi akibat retensi sputum - Cegah ulkus dekubitus
- Cegah komplikasi kardiovaskuler - Cegah kekakuan sendi
- Cegah distensi bladder dan infeksi traktus urinarius
Rehabilitasi fase pemulihan (dilaksanakan dalam rawat inap, merupakan proses rehabilitasi aktif) :
Tujuan rehabilitasi :
- Mengatasi masalah disabilitas dan handicap yang timbul - Memaksimalkan fungsi yang ada untuk kemandirian - Meningkatkan kebugaran kardiopulmoner
- Mencegah komplkasi sekunder Program rehabilitasi :
- Terapi latihan persiapan mobilisasi dan transfer - Terapi latihan keseimbangan
- Terapi latihan persiapan ambulasi
- Ortosis tungkai (AFO, KAFO) bila diperlukan
- Latihan jalan dengan atau tanpa ortosis tungkai, dengan atau tanpa alat bantu (crutches, canadian, walker)
- Terapi latihan persiapan kemandirian aktivitas sehari-hari - Splint tangan dan alat bantu adaptif bila diperlukan - Terapi latihan oromotor dan fungsi menelan
- Terapi latihan kontrol miksi dan atau defekasi
- Terapi latihan fungsi luhur/kognitif : arousal, atensi, fungsi eksekutif, inisiasi, bahasa dan komunikasi, memori, persepsi serta visuospasial - Terapi perilaku
- Psikoterapi untuk mengatasi emosi dan depresi - Terapi latihan kebugaran
- Terapi latihan prevokasional
- Aktivitas hobi dan olahraga yang sesuai
- Edukasi : persiapan kembali ke rumah, problema seksual dan family planning
- Terapi suportif (kelompok) : pemahaman mengenai kecacatan
Rehabilitasi fase lanjut (dilaksanakan dalam rawat jalan,lamanya seumur hidup untuk kecacatan menetap) :
Tujuan rehabilitasi :
- Resosialisasi (diantaranya mengembalikan ke tempat kerja atau menyiapkan untuk kemampuan bekerja)
- Mempertahankan kemampuan fungsional - Meningkatkan kualitas hidup
Program rehabilitasi : - Resosialisasi
- Rujukan untuk vocational training - Kenseling keluarga
- Program latihan di rumah - Follow up
Komplikasi
Kejang
Terlibatnya jaras hipotalamus-hipofisis dapat menyebabkan gangguan regulasi suhu, diabetes insipidus, SIADH (Syndrome of Inappropiate Antidiuretic Hormone Secretion)
Daftar Pustaka
1. Pansky B, Allen DJ, Colin Budd G. Review of Neuroscience. 2nd ed. Macmillan Publishing Company. 1988.
2. Sevigny J, Frontera J. Viral infections of the nervous system. In : Brust JCM. Current Diagnosis & Treatment in Neurology. A Lange medical book. Mc Graw Hill. Philadelphia; 2007. p 449-61.
3. Roos KL, Tyler KL. Meningitis, encephalitis, brain abscess, and empyema. In: Hauser SL editor. Harrison’s Neurology in Clinical Medicine. McGraw Hill. 2006; p 423-55.
REHABILITASI PASIEN DENGAN PARKINSON
Batasan dan Uraian Umum
Parkinson adalah penyakit neurodegeneratif kronik dan progresif yang dikarakteristikkan secara patologis dengan adanya degenerasi saraf dopaminergik pada substansia nigra pars kompakta dan adanya badan inklusi sitoplasmik, yaitu badan Lewy. Parkinson harus dibedakan dengan sindroma Parkinson dimana tidak ditemukan adanya badan Lewy
Prevalensi penyakit Parkinson ini mencapai 110 kasus per 100.000 populasi. Laki-laki mempunyai insidensi yang sedikit lebih tinggi. Onset penyakit ini rata-rata terjadi pada usia 62 tahun. Secara klinis, penyakit ini mengalami perburukan secara perlahan dalam waktu 10 - 15 tahun. Oleh karena itu, tergantung pada usia onsetnya, penderita dapat meninggal akibat penyebab lain yang tidak berkaitan dengan Parkinson ataupun akibat infeksi yang disebabkan oleh imobilitas pada stadium akhir dari penyakit Parkinson tersebut.
Manifestasi Klinis
Nyeri, dapat menjadi keluhan awal
Rasa nyeri tumpul yang awalnya dirasakan pada tungkai mungkin pertama kali dihubungkan dengan bursitis atau arthritis.
Tremor saat istirahat
Tremor ini dapat dihilangkan baik dengan gerakan yang bertujuan atau tidur dan ditimbulkan oleh rasa takut.
Rigiditas
Rigiditas bisa menimbulkan persepsi adanya kekakuan. Rigiditas terjadi karena tonus otot yang meningkat yang bersifat cogwheel phenomena. Kekakuan menimbulkan persepsi bahwa penderita bergerak lambat
Bradikinesia
Gerakan yang lambat pada seluruh otot lurik
Kesulitan gerak ini tampak jelas saat memulai dan mengakhiri suatu gerakan Tulisan tangan menjadi lebih kecil dan sulit dibaca
Perkataan pasien semakin susah dimengerti, terutama melalui telepon Hipofonia
Depresi, juga dapat terlihat selama perjalanan penyakit
Pemeriksaan Fisik
Stadium Parkinson dinilai dengan Hoehn and Yahr Uji keseimbangan statis dan dinamis
Uji fungsi bergerak Uji motorik halus Uji fungsi lokomotor Uji pola jalan
Uji fungsi kardiorespirasi Uji fungsi menelan
Keterbatasan fungsional
Penurunan kemampuan motorik dalam aktivitas sehari-hari, misalnya mengancingkan baju atau mengikat tali sepatu, kesulitan menulis dan huruf menjadi semakin kecil
Kesulitan saat berdiri dan memulai suatu pola gerakan Ketidakstabilan postural
Kesulitan berjalan secara aman
Kesulitan berkomunikasi karena hipofonia Disfagia
Penurunan aktivitas dan dorongan seksual, disfungsi erektil, penurunan orgasme
Afek terkesan mendatar
Pemeriksaan Penunjang
Penyakit Parkinson adalah suatu diagnosis klinis.
Pemeriksaan laboratorium konvensional tidak dibutuhkan untuk diagnosis ataupun tatalaksana Parkinson.
CT-scan dan MRI otak tidak dapat menunjukkan abnormalitas yang konsisten.
PET-scan dengan penggunaan 6-[18F] fluorolevodopa dapat menunjukkan berkurangnya radioisotope di striata. Namun, PET-scan ini tetap dianggap percobaan dibandingkan sebagai alat diagnostik.
Tujuan tatalaksana
Untuk memperbaiki mobilitas dan fleksibilitas dan mencegah perburukan ke stadium yang lebih lanjut
Tatalaksana Rehabilitasi
Dalam perjalanan penyakit gejala Parkinson memburuk secara gradual, pasien dapat mendapat manfaat dari terapi fisik berkala. Latihan berjalan penting diterapkan karena sangat membantu dalam mencegah jatuh dan trauma. Latihan