• Tidak ada hasil yang ditemukan

OUTPUT PARAMETER INDIKATOR

Dalam dokumen UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta (Halaman 34-77)

METODE PENELITIAN

3. OUTPUT PARAMETER INDIKATOR

(P5) Kemampuan mengakses Keuangan

Diberi bantuan modal usaha Bantuan melalui apa

Akses ke bank/lembaga keuangan (P6) Kemampuan

mengelola aset Menggunakan pencatatan keuangan Penambahan Keuntungan

Pengelolaan modal dan keuntungan pakai rekening bank

(P7) Kemampuan mata

pencaharian berkelanjutan

Peningkatan pendapatan Pemenuhan kebutuhan pokok Penambahan modal atau menabung (P8) Kemampuan

mengelola modal sosial dan berjejaring

Berjejaring dengan sesama KPM ProKUS

Berjejaring dengan Mentor / pembimbing bisnis

Menambah karyawan

4. OUTCOME

(P9) Meningkatnya

pendapatan Peningkatan pendapatan keluarga Mentoring Bisnis

(IMB) Dibimbing market analysis Ijin Usaha

Ada pendamping usaha Intensitas pendampingan Penangkapan materi

3. OUTPUT PARAMETER INDIKATOR

(P5) Kemampuan mengakses Keuangan

Diberi bantuan modal usaha Bantuan melalui apa

Akses ke bank/lembaga keuangan (P6) Kemampuan

mengelola aset Menggunakan pencatatan keuangan Penambahan Keuntungan

Pengelolaan modal dan keuntungan pakai rekening bank

(P7) Kemampuan mata

pencaharian berkelanjutan

Peningkatan pendapatan Pemenuhan kebutuhan pokok Penambahan modal atau menabung (P8) Kemampuan

mengelola modal sosial dan berjejaring

Berjejaring dengan sesama KPM ProKUS

Berjejaring dengan Mentor / pembimbing bisnis

Menambah karyawan

4. OUTCOME

(P9) Meningkatnya

pendapatan Peningkatan pendapatan keluarga Mentoring Bisnis

(IMB) Dibimbing market analysis Ijin Usaha

Ada pendamping usaha Intensitas pendampingan Penangkapan materi

3. OUTPUT PARAMETER INDIKATOR

(P5) Kemampuan mengakses Keuangan

Diberi bantuan modal usaha Bantuan melalui apa

Akses ke bank/lembaga keuangan (P6) Kemampuan

mengelola aset Menggunakan pencatatan keuangan Penambahan Keuntungan

Pengelolaan modal dan keuntungan pakai rekening bank

(P7) Kemampuan mata

pencaharian berkelanjutan

Peningkatan pendapatan Pemenuhan kebutuhan pokok Penambahan modal atau menabung (P8) Kemampuan

mengelola modal sosial dan berjejaring

Berjejaring dengan sesama KPM ProKUS

Berjejaring dengan Mentor / pembimbing bisnis

Menambah karyawan

4. OUTCOME

(P9) Meningkatnya

pendapatan Peningkatan pendapatan keluarga

Pengolahan Data

Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Mengorganisir informasi, b) membaca keseluruhan informasi dan memberi kode, c) membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya, d) peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori, e) selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain dan f) menyajikan secara naratif.

Analisis Data

Metode ini digunakan untuk mengkaji variabel yang ada pada penelitian. Analisis statistik deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini adalah persentase, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Membuat tabel distribusi jawaban angket variabel X dan Y.

b. Menentukan skor jawaban responden dengan ketentuan skor yang telah ditetapkan.

c. Menjumlahkan skor jawaban yang diperoleh dari tiap-tiap responden.

d. Memasukkan skor tersebut ke dalam rumus:

Keterangan:

DP : Deskripsi persentase

n : Jumlah skor yang diharapkan N : Nilai persentase atau hasil

Penghitungan jumlah nilai dari setiap dimensi diperoleh dari jumlah nilai rata-rata setiap indikator dalam parameter. Sedangkan nilai

Pengolahan Data

Data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut: a) Mengorganisir informasi, b) membaca keseluruhan informasi dan memberi kode, c) membuat suatu uraian terperinci mengenai kasus dan konteksnya, d) peneliti menetapkan pola dan mencari hubungan antara beberapa kategori, e) selanjutnya peneliti melakukan interpretasi dan mengembangkan generalisasi natural dari kasus baik untuk peneliti maupun untuk penerapannya pada kasus yang lain dan f) menyajikan secara naratif.

Analisis Data

Metode ini digunakan untuk mengkaji variabel yang ada pada penelitian. Analisis statistik deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini adalah persentase, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Membuat tabel distribusi jawaban angket variabel X dan Y.

b. Menentukan skor jawaban responden dengan ketentuan skor yang telah ditetapkan.

c. Menjumlahkan skor jawaban yang diperoleh dari tiap-tiap responden.

d. Memasukkan skor tersebut ke dalam rumus:

Keterangan:

DP : Deskripsi persentase

n : Jumlah skor yang diharapkan N : Nilai persentase atau hasil

Penghitungan jumlah nilai dari setiap dimensi diperoleh dari jumlah nilai rata-rata setiap indikator dalam parameter. Sedangkan nilai parameter komposit (gabungan) merupakan jumlah nilai rata-rata dari

setiap parameter dikalikan dengan penimbang, yaitu 0,11 (untuk 9 dimensi). Selanjutnya nilai akan dikategorikan menjadi empat yaitu : A (Sangat Baik) : 75,26 - 100,00

B (Baik) : 50,51 - 75,25 C (Kurang Baik) : 25,76 - 50,50 D (Tidak Baik) : 1 - 25,75

BAB IV

GAMBARAN UMUM ProKUS DI LOKASI PENELITIAN

Program Kewirausahaan Sosial (ProKUS) pertama kali dilaksanakan di tahun 2020 yang berlokasi di 5 kabupaten/kota antara lain: Kab. Bantul, Kab. Semarang, Kab. Majalengka, Kab. Bandung Barat dan DKI Jakarta. Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih setelah empat bulan berjalannya program. Pelaksanaan ProKUS di setiap lokasi juga terselenggara dalam situasi kondisi pandemi Covid-19. Dengan demikian kedua kondisi ini banyak berpengaruh terhadap jalannya program.

DKI Jakarta

DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang menjadi pilot project pelaksanaan Program Kewirausahaan Sosial.

Sebanyak 109 KK menjadi Penerima Manfaat dan seluruhnya merupakan Keluarga Penerima Manfaat Program PKH dengan usaha kecil rintisan yang tersebar di Jakarta Utara, Timur, Barat, Pusat dan Selatan. Ada berbagai start up usaha kecil yang dimiliki oleh penerima manfaat, ada yang bergerak di bidang usaha warung yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, makanan cepat saji, kuliner, garmen, dan usaha jasa. Inkubator bisnis yang mengimplementasikannya adalah “Bina Swadaya” yang salah satu kegiatan usahanya adalah sebagai konsultan usaha kecil, menengah di masyarakat. Memiliki empat staf teknis yang menjadi mentor bagi penerima manfaat di DKI Jakarta. Keempat mentor tersebut juga memiliki pengalaman di usaha kecil dan menengah.

Menurut pembimbing, secara umum usaha yang dilakukan oleh penerima manfaat termasuk dalam jenis usaha Ultra Mikro karena memiliki modal yang sangat kecil dan memiliki pangsa pasar di sekitarnya sehingga keuntungan usaha tidak terlalu besar.

BAB IV

GAMBARAN UMUM ProKUS DI LOKASI PENELITIAN

Program Kewirausahaan Sosial (ProKUS) pertama kali dilaksanakan di tahun 2020 yang berlokasi di 5 kabupaten/kota antara lain: Kab. Bantul, Kab. Semarang, Kab. Majalengka, Kab. Bandung Barat dan DKI Jakarta. Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih setelah empat bulan berjalannya program. Pelaksanaan ProKUS di setiap lokasi juga terselenggara dalam situasi kondisi pandemi Covid-19. Dengan demikian kedua kondisi ini banyak berpengaruh terhadap jalannya program.

DKI Jakarta

DKI Jakarta merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang menjadi pilot project pelaksanaan Program Kewirausahaan Sosial.

Sebanyak 109 KK menjadi Penerima Manfaat dan seluruhnya merupakan Keluarga Penerima Manfaat Program PKH dengan usaha kecil rintisan yang tersebar di Jakarta Utara, Timur, Barat, Pusat dan Selatan. Ada berbagai start up usaha kecil yang dimiliki oleh penerima manfaat, ada yang bergerak di bidang usaha warung yang menyediakan kebutuhan sehari-hari, makanan cepat saji, kuliner, garmen, dan usaha jasa. Inkubator bisnis yang mengimplementasikannya adalah “Bina Swadaya” yang salah satu kegiatan usahanya adalah sebagai konsultan usaha kecil, menengah di masyarakat. Memiliki empat staf teknis yang menjadi mentor bagi penerima manfaat di DKI Jakarta. Keempat mentor tersebut juga memiliki pengalaman di usaha kecil dan menengah.

Menurut pembimbing, secara umum usaha yang dilakukan oleh penerima manfaat termasuk dalam jenis usaha Ultra Mikro karena memiliki modal yang sangat kecil dan memiliki pangsa pasar di sekitarnya sehingga keuntungan usaha tidak terlalu besar.

Dinas Sosial DKI Jakarta menyambut baik program yang digagas Kementerian Sosial RI, namun Dinas Sosial DKI Jakarta masih belum

mengetahui peran teknis dalam skema Program Kewirausahaan Sosial.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memiliki program yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pengembangan Program Kewirausahaan Terpadu yang secara teknis mirip dengan Program Kewirausahaan Sosial. Perbedaan dari kedua program ini adalah adanya bantuan modal sebesar tiga juta rupiah untuk program dari Kementerian Sosial.

Profil KPM (Kepesertaan)

Sejumlah 109 keluarga yang menjadi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Kewirausahaan Sosial (Prokus) keseluruhannya merupakan KPM Graduasi dari Program Keluarga Harapan (PKH). Dari 109 KPM diambil 57 KPM menjadi responden dalam penelitian ini yang tersebar di Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Jakarta Barat. Keseluruhan responden merupakan perempuan atau Ibu/isteri yang menjadi penerima manfaat PKH sebelumnya.

Gambar 2

Kepesertaan Berdasarkan Lamanya Graduasi Dari PKH

Usia atau jangka waktu graduasi responden bervariasi (Tabel 1) dan paling banyak responden menyatakan sudah graduasi dari PKH selama 1 tahun yakni sebanyak 61,4%, kemudian menjawab sudah graduasi selama 2 tahun sebanyak 26,3% dan terdapat sudah graduasi kurang dari 1 tahun sebanyak 7,0%. Selanjutnya pada Tabel 2, pada umumnya responden DKI Jakarta sudah memiliki rintisan usaha sebelum menjadi KPM Prokus, yakni sebesar 96%.

Gambar 3 Jenis Rintisan Usaha

Rintisan usaha yang dimiliki responden sebelum menjadi KPM Prokus beraneka ragam dan pada umumnya memiliki usaha pada bidang kuliner sebanyak 57,9%, kemudian disusul usaha pada bidang jasa sebanyak 15,8%, usaha pada bidang retail sebanyak 12,3% dan menjawab sudah memiliki rintisan usaha pada bidang agribisnis dan lainnya masing-masing sebesar 7,0%.

Usia atau jangka waktu graduasi responden bervariasi (Tabel 1) dan paling banyak responden menyatakan sudah graduasi dari PKH selama 1 tahun yakni sebanyak 61,4%, kemudian menjawab sudah graduasi selama 2 tahun sebanyak 26,3% dan terdapat sudah graduasi kurang dari 1 tahun sebanyak 7,0%. Selanjutnya pada Tabel 2, pada umumnya responden DKI Jakarta sudah memiliki rintisan usaha sebelum menjadi KPM Prokus, yakni sebesar 96%.

Gambar 3 Jenis Rintisan Usaha

Rintisan usaha yang dimiliki responden sebelum menjadi KPM Prokus beraneka ragam dan pada umumnya memiliki usaha pada bidang kuliner sebanyak 57,9%, kemudian disusul usaha pada bidang jasa sebanyak 15,8%, usaha pada bidang retail sebanyak 12,3% dan menjawab sudah memiliki rintisan usaha pada bidang agribisnis dan lainnya masing-masing sebesar 7,0%.

Profil Inkubator bisnis

Kementerian Sosial menunjuk sebuah lembaga yang bernama Bina Swadaya sebagai inkubator bisnis dan menyiapkan tenaga pendamping/mentor bisnis untuk Program Kewirausahaan Sosial di Propinsi DKI Jakarta. Lembaga ini dikenal sudah memiliki pengalaman dalam melakukan pendampingan kepada pelaku usaha kecil dan menengah di DKI Jakarta. Namun secara aktual inkubator bisnis ini hanya bersifat formal dalam kerjasama pendampingan karena yang paling dominan dalam melakukan pendampingan dan pelatihan adalah para mentor.

Profil Mentor

Program Kewirausahaan Sosial (Prokus) di Propinsi DKI Jakarta didampingi oleh 4 orang mentor yang sudah memiliki pengalaman dalam dunia usaha kecil dan menengah (UKM) bahkan para mentor ini juga menjadi pelaku UKM. Keempat mentor ini antara lain: Bapak David, Ibu Ervince, Bapak Arie dan Bapak Benito. Keempat mentor ini berpasangan dan membagi wilayah kerja, yakni untuk KPM yang berada di Jakarta Selatan, Timur serta Barat didampingi oleh Bapak David dan Ibu Ervince. Sementara untuk KPM yang berada di Jakarta Utara dan Jakarta Pusat didampingi oleh Bapak Arie dan Bapak Benito.

Meski program kewirausahaan sosial baru mulai berjalan pada tahun 2020 dan fase pendampingan efektif dilakukan oleh para pendamping/mentor pada akhir November 2020, para pendamping secara pribadi akan terus membantu para penerima manfaat menjalankan usahanya ke tingkat usaha yang lebih baik. Para mentor menilai beberapa penerima manfaat bisa naik level dengan beberapa indikator, salah satunya kemahiran dalam promosi bisnis dengan menuju marketplace. Oleh karena itu, mentor telah menyediakan halaman arahan yang disebut “Pasar Wirausaha Indonesia” agar penerima manfaat dapat belajar menggunakan marketplace untuk meningkatkan promosi dan pendapatan.

Kabupaten Bandung Barat

Profil Keluarga Penerima Manfaat (KPM)

Kabupaten Bandung Barat, merupakan salah satu lokasi Program Kewirausahaan Sosial 2020 yang menjadi prioritas nasional dalam pengentasan kemiskinan. Dalam situasi pandemi COVID-19, program Kewirausahaan Sosial diharapkan dapat membantu keluarga miskin yang terkena dampak kebijakan pembatasan sosial. Penambahan modal diharapkan dapat menjadi stimulan bagi keberlangsungan usahanya.

Program Kewirausahaan Sosial di Kabupaten Bandung Barat dimulai pada tahun 2020 dengan melibatkan 286 penerima manfaat. Mereka mendapatkan Bantuan Sosial Modal Usaha untuk mengembangkan usahanya. Penerima manfaat terdiri dari: Klaster kuliner 24,5% (70 penerima manfaat), Agribisnis 29,02% (83 penerima manfaat), Ritel 34,9% (97 penerima manfaat) dan Klaster Fashion 12,6% (36 penerima manfaat). Kemampuan mereka dalam berbisnis dapat dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu pemula (Startup) dan berkembang (Scaleup). Data Dinas Sosial Kabupaten Bandung Barat menunjukkan bahwa tingkat Startup sekitar 32,02% atau 92 penerima manfaat, dan tingkat Scaleup sekitar 67,1% atau 192 penerima manfaat.

Hasil survei yang diikuti oleh 145 KPM Program Kewirausahaan Sosial yang telah menerima Bantuan Sosial Modal saha (BSMU) dari Kemenetrian Sosial, persebarannya adalah dari 145 responden peserta Program Kewirausahaan Sosial di Kabupaten Bandung Barat menyatakan bahwa seratus persen pernah mendapatkan Program Keluarga Harapan (PKH). Dan seluruhnya sudah dinyatakan graduasi dari PKH. Lamanya jarak waktu gradusai dengan keterlibatan mereka dalam Program Kewirausahaan Sosial (ProKUS) sebagaimana bagan berikut ini.

Kabupaten Bandung Barat

Profil Keluarga Penerima Manfaat (KPM)

Kabupaten Bandung Barat, merupakan salah satu lokasi Program Kewirausahaan Sosial 2020 yang menjadi prioritas nasional dalam pengentasan kemiskinan. Dalam situasi pandemi COVID-19, program Kewirausahaan Sosial diharapkan dapat membantu keluarga miskin yang terkena dampak kebijakan pembatasan sosial. Penambahan modal diharapkan dapat menjadi stimulan bagi keberlangsungan usahanya.

Program Kewirausahaan Sosial di Kabupaten Bandung Barat dimulai pada tahun 2020 dengan melibatkan 286 penerima manfaat. Mereka mendapatkan Bantuan Sosial Modal Usaha untuk mengembangkan usahanya. Penerima manfaat terdiri dari: Klaster kuliner 24,5% (70 penerima manfaat), Agribisnis 29,02% (83 penerima manfaat), Ritel 34,9% (97 penerima manfaat) dan Klaster Fashion 12,6% (36 penerima manfaat). Kemampuan mereka dalam berbisnis dapat dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu pemula (Startup) dan berkembang (Scaleup). Data Dinas Sosial Kabupaten Bandung Barat menunjukkan bahwa tingkat Startup sekitar 32,02% atau 92 penerima manfaat, dan tingkat Scaleup sekitar 67,1% atau 192 penerima manfaat.

Hasil survei yang diikuti oleh 145 KPM Program Kewirausahaan Sosial yang telah menerima Bantuan Sosial Modal saha (BSMU) dari Kemenetrian Sosial, persebarannya adalah dari 145 responden peserta Program Kewirausahaan Sosial di Kabupaten Bandung Barat menyatakan bahwa seratus persen pernah mendapatkan Program Keluarga Harapan (PKH). Dan seluruhnya sudah dinyatakan graduasi dari PKH. Lamanya jarak waktu gradusai dengan keterlibatan mereka dalam Program Kewirausahaan Sosial (ProKUS) sebagaimana bagan berikut ini.

Gambar 4

Kepesertaan Berdasarkan Lamanya Graduasi Dari PKH

Berdasarkan data diatas bahwa sebagian besar KPM ProKUS sudah graduasi dari PKH selama 2 tahun sebanyak 38,62 persen dan selama 3 tahun sebanyak 30,34 persen. Karakteristik yang lain bisa dilihat dari usia KPM sebagai berikut.

Gambar 5

Usia KPM Program Kewirausahaan Sosial

Usia KPM ProKUS yang paling banyak adalah antara 45-49 tahun yaitu sebanyak 25,52 persen selanjutnya yang lebih dari itu dan yang kurang jumlahnya seimbang. Hal ini menunjukkan bahwa usia yang lebih dari 50 tahun jumlahnya cukup banyak yang memerlukan tantangan tersendiri untuk mengembangkannya. Data selanjutnya adalah jenis usaha dari KPM ProKUS.

Gambar 6

Jenis Usaha Peserta Program Kewirausahaan Sosial

Data diatas memperlihatkan bahwa sebagian besar usaha yang dikembangkan sebelum mendapatkan ProKUS adalah agribisnis yaitu sebanyak 33,10 persen selanjutnya retail sebanyak 26,90 persen dan kuliner sebanyak 24,83 persen. Karakteristik selanjutnya adalah tingkat Pendidikan KPM dapat dilihat sebagai berikut.

Usia KPM ProKUS yang paling banyak adalah antara 45-49 tahun yaitu sebanyak 25,52 persen selanjutnya yang lebih dari itu dan yang kurang jumlahnya seimbang. Hal ini menunjukkan bahwa usia yang lebih dari 50 tahun jumlahnya cukup banyak yang memerlukan tantangan tersendiri untuk mengembangkannya. Data selanjutnya adalah jenis usaha dari KPM ProKUS.

Gambar 6

Jenis Usaha Peserta Program Kewirausahaan Sosial

Data diatas memperlihatkan bahwa sebagian besar usaha yang dikembangkan sebelum mendapatkan ProKUS adalah agribisnis yaitu sebanyak 33,10 persen selanjutnya retail sebanyak 26,90 persen dan kuliner sebanyak 24,83 persen. Karakteristik selanjutnya adalah tingkat Pendidikan KPM dapat dilihat sebagai berikut.

Gambar 7

Tingkat Pendidikan KPM

Sebagian besar tingkat pendidikan KPM adalah Sekolah Dasar yaitu sebanyak 64,83 persen selanjutnya Sekolah Menengah Pertama sebanyak 29,66 persen. Tingkat Pendidikan yang rendah akan mempengaruhi usaha yang akan dikembangkan kedepan.

Gambar 8

Kepemilikan usaha sebelum mengikuti ProKUS

Karakteristik yang lain adalah sebagian besar KPM adalah mempunyai rintisan usaha sebelum mengikuti ProKUS yaitu sebanyak 92,41 persen. Lainnya yang 7,59 persen tidak mempunyai rintisan usaha. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya sejumlah 7,59 persen tidak memenuhi persyaratan untuk menjadi KPM ProKUS.

Profil Inkubator Bisnis

Kepala Dinas Sosial telah mencanangkan strategi “Sinergi Pentahelix Prokus Kabupaten Bandung Barat” untuk mengembangkan Program Kewirausahaan Sosial di Kabupaten Bandung Barat dengan melibatkan lima pilar utama (penta helix). Kelima pilar tersebut meliputi; Pemerintah (pusat dan Daerah), Dunia Usaha (yang meliputi sektor-sektor usaha/bisnis di wilayah Kabupaten Bandung Barat, Media (untuk keperluan promosi dan market place), komunitas serta Akademisi (dalam hal ini adalah OORANGE, yang telah memulai pemberdayaan bagi KPM PKH Graduasi dalam ProKUS di Kabupaten Bandung Barat). Jika digambarkan alur strategi tersebut akan nampak sebagaimana bagan di bawah ini.

Gambar 9

Sinergi Pentahelix Program Kewirausahaan Sosial

Karakteristik yang lain adalah sebagian besar KPM adalah mempunyai rintisan usaha sebelum mengikuti ProKUS yaitu sebanyak 92,41 persen. Lainnya yang 7,59 persen tidak mempunyai rintisan usaha. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya sejumlah 7,59 persen tidak memenuhi persyaratan untuk menjadi KPM ProKUS.

Profil Inkubator Bisnis

Kepala Dinas Sosial telah mencanangkan strategi “Sinergi Pentahelix Prokus Kabupaten Bandung Barat” untuk mengembangkan Program Kewirausahaan Sosial di Kabupaten Bandung Barat dengan melibatkan lima pilar utama (penta helix). Kelima pilar tersebut meliputi; Pemerintah (pusat dan Daerah), Dunia Usaha (yang meliputi sektor-sektor usaha/bisnis di wilayah Kabupaten Bandung Barat, Media (untuk keperluan promosi dan market place), komunitas serta Akademisi (dalam hal ini adalah OORANGE, yang telah memulai pemberdayaan bagi KPM PKH Graduasi dalam ProKUS di Kabupaten Bandung Barat). Jika digambarkan alur strategi tersebut akan nampak sebagaimana bagan di bawah ini.

Gambar 9

Sinergi Pentahelix Program Kewirausahaan Sosial

Pelaksanaan inkubasi bisnis pada Program Kewirausahaan Sosial di Kabupaten Bandung Barat dilakukan oleh OORANGE, sebuah unit organisasi pengabdian masyarakat dibawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Padjadjaran (UNPAD).

Pada penyelenggaraan inkubasi bisnisnya, OORANGE Unpad melakukannya dengan sistem transformasi skills dan pengetahuan bisnisnya melalui cara mentoring yang dilakukan oleh para pendamping, yang sebelumnya mengikuti pelatihan yang dilaksanakan oleh OORANGE. Para pendamping ini oleh OORANGE dikenal dengan istilah MENTOR. Para mentor inilah yang selanjutnya mentranformasi keahlian dan pengetahuan bisnis kepada para KPM peserta ProKUS.

Proses inkubasi bisnis yang dilakukan oleh Oorange setidaknya meliputi lima tahapan, yaitu; Tahap Persiapan; Pada tahap ini beberapa kegiatan dilakukan dengan target utama adalah agar program siap diimplementasikan. Dalam tahap persiapan ini, setidak ditempuh dengan tiga aksi, meliputi; a) Konsolidasi Tim Pelaksana, b) Penyusunan rancangan program kegiatan, dan c) Rencana pembiayaan program.

Salah satu teknik yang digunakan dalam tahapan ini adalah dengan penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan lima pilar utama (penta helix), yaitu; 1). Akademisi, 2). Industri, 3).

Komunitas, 4). Pemerintah, dan 5). Media. Tahap Seleksi; Pada Tahap Seleksi ini, target utamanya adalah terpilihnya KPM PKH (Graduasi) yang terseleksi. Kegiatannya meliputui; a). Sosialisasi program, b).

Seleksi Pemdamping dan KPM PKH (yang telah graduasi), dan c).

Klustering (jenis usaha Calon KPM). Tahap Pelaksanaan Inkubasi; Target utama dari tahap ini adalah pruduk KPM PKH (graduasi) naik kelas. Hal ini dicapai melalui strategi; a). Workshop, b). Pendampingan, dan c).

Pelatihan. Pelatihan ini meliputi beberapa jenis peningkatan skills bagi para KPM ProKUS, seperti; a). konsep bisnis, b). pemasaran, c).

peningkatan SDM, d). keuangan, e). legalitas produk, f). legalitas bisnis, g). e-commerce, dan h). kemasan. Tahap Expo; Tahap ini bertujuan untuk terlaksananya pameran dan juga pendanaan. Pameran dilakukan

melalui expo yag diselenggarakan bagi para KPM ProKUS, yang melibatkan pemerintah (Pemerintah Daerah setempat), Lembaga Keuangan serta program-program khusus dari perusahaan. Tahap Evaluasi; Pencapaian pada tahap ini diharapkan para KPM ProKUS sudah memiliki aksesibilitas pada system perbankan (bankable) yang ditunjukkan dengan parameter, bahwa KPM ProKUS sudah layak mendapatkan pinjaman dari Lembaga keuangan (setempat). Pinjaman dari Lembaga keuangan ini dalam bentuk Kredit Lunak, yang bisa berasal dari beberapa Lembaga keuangan seperti; Umi, BLU, PIP, dan juga Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Himpunan Bank Negara (HIMBARA). Kredit lunak ini memiliki bunga pinjaman berkisar 2 -4 %.

Secara keseluruhan, skema proses inkubasi bisnis yang dilaksanakan oleh Oorange dapat dilihat dalam tayangan berikut ini:

Gambar 10

Proses Inkubasi Bisnis Program Kewirausahaan Sosial

Mentoring yang dilakukan oleh para mentor ini melibatkan sebanyak 19 mentor yaag dipilih berdasarkan seleksi dengan persyaratan tertentu. Salah satu persyaratan untuk menjadi mentor

melalui expo yag diselenggarakan bagi para KPM ProKUS, yang melibatkan pemerintah (Pemerintah Daerah setempat), Lembaga Keuangan serta program-program khusus dari perusahaan. Tahap Evaluasi; Pencapaian pada tahap ini diharapkan para KPM ProKUS sudah memiliki aksesibilitas pada system perbankan (bankable) yang ditunjukkan dengan parameter, bahwa KPM ProKUS sudah layak mendapatkan pinjaman dari Lembaga keuangan (setempat). Pinjaman dari Lembaga keuangan ini dalam bentuk Kredit Lunak, yang bisa berasal dari beberapa Lembaga keuangan seperti; Umi, BLU, PIP, dan juga Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Himpunan Bank Negara (HIMBARA). Kredit lunak ini memiliki bunga pinjaman berkisar 2 -4 %.

Secara keseluruhan, skema proses inkubasi bisnis yang dilaksanakan oleh Oorange dapat dilihat dalam tayangan berikut ini:

Gambar 10

Proses Inkubasi Bisnis Program Kewirausahaan Sosial

Mentoring yang dilakukan oleh para mentor ini melibatkan sebanyak 19 mentor yaag dipilih berdasarkan seleksi dengan persyaratan tertentu. Salah satu persyaratan untuk menjadi mentor adalah memiliki usaha atau pengalaman berusaha (bisnis).

Profil Pendamping Usaha

Pendamping bagi Keluarga Penerima Manfaat Program Kewirausahaan Sosial (KPM ProKUS), oleh pelaksana inkubasi, Oorange, dikenal dengan istilah mentor. Program Kewirausahaan Sosial di Kabupaten Bandung Barat melibatkan 19 orang pendamping (mentor).

Proses rekruitmen (seleksi) pendamping ini dilakukan oleh Oorange.

Proses rekruitmen (seleksi) pendamping ini dilakukan oleh Oorange.

Dalam dokumen UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta (Halaman 34-77)

Dokumen terkait