SISTEM PEMBAYARAN
1. P ENGEDARAN U ANG K ARTAL
Selama triwulan I-2011 transaksi sistem pembayaran secara tunai di Jawa Barat mengalami penurunan. Perkembangan aliran uang kartal di wilayah Jawa Barat masih mengalami posisi net inflow
yaitu menunjukkan masih lebih besarnya aliran uang yang masuk ke Bank Indonesia dibandingkan dengan uang yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, terjadi peningkatan net inflow yang terutama terjadi di wilayah kerja KBI Bandung.
Sementara itu, pada sistem pembayaran non tunai terjadi penurunan. Selama triwulan I-2011,
penurunan terutama disebabkan oleh transaksi Real Time Gross Settlement (RTGS) yang menurun baik dari sisi volume maupun nominalnya. Sementara itu, transaksi kliring masih mengalami sedikit kenaikan dibandingkan periode triwulan sebelumnya.
1. P
ENGEDARANU
ANGK
ARTAL1.1.
A
LIRANU
ANGK
ARTALM
ASUK/K
ELUAR(I
NFLOW/O
UTFLOW)
Fenomena terjadinya net inflow aliran uang kartal di wilayah Jawa Barat masih berlanjut pada triwulan I-2011. Hal ini mencerminkan lebih besarnya aliran uang yang masuk (inflow) ke Bank Indonesia di wilayah provinsi Jawa Barat (meliputi KBI Bandung, KBI Cirebon, dan KBI Tasikmalaya) dibandingkan dengan aliran uang yang keluar ke masyarakat Jawa Barat (outflow). Kondisi ini menunjukkan tingginya pembelajaan secara tunai terhadap unit perekonomian di Jawa Barat yang dilakukan oleh pelaku ekonomi yang berasal dari luar Jawa Barat.
Pada triwulan I-2011, net inflow mengalami kenaikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yaitu dari sebesar Rp2,83 triliun pada triwulan IV-2010 menjadi Rp6,02 triliun pada triwulan I-2011, atau naik 112,58% (qtq). Kenaikan tersebut disebabkan karena adanya kenaikan inflow sebesar Rp1,42 triliun sementara outflow turun sebesar Rp1,77 triliun.
Kenaikan net inflow tertinggi terjadi di KBI Bandung yaitu dari sebesar Rp1,41 triliun menjadi Rp3,54 triliun atau tumbuh sebesar 151,06% dibandingkan triwulan sebelumnya. Kenaikan tersebut disebabkan kenaikan pada inflow sebesar Rp1,1 triliun atau naik 27,98% (qtq) sebaliknya outflow mengalami penurunan sebesar Rp1,12 triliun atau turun 50,91% (qtq). Demikian juga di KBI Tasikmalaya mengalami peningkatan net inflow sebesar Rp300 miliar, atau tumbuh 83% dibandingkan triwulan sebelumnya.
Grafik 5.1. Perkembangan Inflow dan Outflow Uang Kartal Di Jawa Barat
Selama triwulan I-2011, aliran uang kertas yang keluar dari KBI Bandung masih mengalami penurunan yang cukup besar dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu sebesar 51,23% (qtq), sedangkan untuk uang logam mengalami kenaikan dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 49,89% (qtq).
Sementara itu, nominal pecahan yang paling banyak dibutuhkan oleh masyarakat selama triwulan I-2011 ini adalah uang pecahan besar yaitu pecahan Rp50.000 (9,62 juta bilyet atau 38,3% dari total bilyet keluar) dan Rp100.000 (5,08 juta bilyet atau 20,2%).
Tabel 5.1. Perkembangan Outflow Uang Kertas dan Uang Logam melalui KBI Bandung
Nominal Bilyet/Keping Nominal Bilyet/Keping (Rp Juta) (Juta) (Rp Juta) (Juta) Uang Kertas 100,000 1,228,471.70 12.28 508,393.90 5.08 -58.62% -58.62% 50,000 926,327.30 18.53 481,086.10 9.62 -48.07% -48.07% 20,000 16,346.12 0.82 37,203.60 1.86 127.60% 127.60% 10,000 13,716.71 1.37 25,191.81 2.52 83.66% 83.66% 5,000 10,362.23 2.07 14,276.29 2.86 37.77% 37.77% 2,000 3,382.88 1.69 6,175.57 3.09 -91.85% -91.85% 1,000 151.87 0.15 102.35 0.10 -32.60% -32.60% Total 2,198,758.81 36.92 1,072,429.62 25.13 -51.23% -31.93% Uang Logam 1,000 1,074.46 1.07 2,711.03 2.71 152.31% 152.31% 500 5.25 0.01 28.54 0.06 443.12% 443.12% 200 46.80 0.23 60.08 0.30 28.37% 28.37% 100 43.32 0.43 61.26 0.61 41.41% 41.41% 50 7.81 0.16 54.38 1.09 596.69% 596.69% 25 - - - - -100.00% -100.00% Total 1,177.64 1.91 2,915.29 4.77 147.55% 149.89% Tw. IV-2010 Tw. I-2011 Nominal Bilyet/Keping Pertumbuhan (qtq) Jenis Pecahan Sumber: BI Bandung
1.2.
P
ENYEDIAANU
ANGK
ARTALL
AYAKE
DARKegiatan Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB) berupa pemusnahan terhadap Uang Tidak Layak Edar (UTLE) di KBI Bandung pada triwulan I-2011 tercatat mengalami sedikit penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. Selama triwulan I-2011, jumlah uang yang dimusnahkan adalah sebanyak 149,82 juta bilyet, dengan total nominal senilai Rp3,4 triliun. Jenis pecahan yang paling banyak dimusnahkan adalah uang pecahan
Rp2.000, dengan porsi sebesar 22,19% dari seluruh pecahan uang. Selanjutnya, jenis pecahan yang paling banyak dimusnahkan adalah pecahan Rp1.000 (20%); Rp50.000 (19,23%); serta pecahan Rp1.000 15,71%).
Uang dengan nominal pecahan kecil (Rp1.000 – Rp5.000) masih mendominasi
Grafik 5.2. Perkembangan PTTB Kantor Bank Indonesia Bandung 0,00 40,00 80,00 120,00 160,00
Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw.I
2009 2010 2011
Juta Lembar
pemusnahan uang pada triwulan I-2010 yaitu mencapai 53,32% dari keseluruhan bilyet uang yang dimusnahkan. Disisi lain, uang pecahan kecil yang dikeluarkan ke masyarakat pada triwulan I-2011 hanya sebesar 24,06% dari keseluruhan bilyet uang yang dikeluarkan. Hal ini menunjukkan bahwa kecepatan rusak dari uang pecahan kecil lebih tinggi daripada uang pecahan besar maupun pecahan sedang. Untuk memperlama umur uang, Bank Indonesia terus berupaya memberikan sosialisasi mengenai perlakuan uang yang baik dan benar (3D – Didapat, disimpan, disayang).
82,51 83,46 58,52 5,37 5,93 17,43 12,12 10,61 24,06 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 Tw.I Tw.II T
w.III Tw.IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw.IV Tw. I
2009 2010 2011 Pecahan Besar (Rp50rb-Rp100rb) Pecahan Sedang (Rp10rb-Rp20rb) Pecahan Kecil (Rp1rb-Rp5rb) Bilyet Outflow (%) 32,52 29,96 28,80 14,22 17,13 17,87 53,25 52,91 53,32 0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 Tw.I Tw.II Tw.III Tw. IV Tw.I Tw.II Tw.III Tw. IV Tw. I 2009 2010 2011 Pecahan Besar (Rp50rb-Rp100rb) Pecahan Sedang (Rp10rb-Rp20rb) Pecahan Kecil (Rp1rb-Rp5rb) B ilyet P TTB ( %)
Sumber: BI Bandung Sumber: BI Bandung
1.3.
U
ANGP
ALSUPenemuan uang palsu di wilayah kerja KBI Bandung mengalami penurunan dari sisi jumlah bilyet dibandingkan periode sebelumnya. Selama triwulan I-2011, tercatat sebanyak 2.798 lembar uang palsu ditemukan, dengan nominal sebesar Rp179,1 juta. Dari total uang palsu yang ditemukan tersebut, sebanyak 55,29% merupakan uang palsu nominal Rp50.000 dan 34,95% uang palsu nominal Rp100.000. Untuk meminimalisasi peredaran uang palsu tersebut, BI Bandung terus berupaya memberikan sosialisasi ciri-ciri keaslian uang rupiah kepada semua lapisan masyarakat, baik kepada pelajar/mahasiswa yang berkunjung ke BI Bandung maupun masyarakat luas yang ada di beberapa kabupaten/kota.
2. S
ISTEMP
EMBAYARANN
ONT
UNAIBerkembangnya perekonomian domestik meningkatkan kebutuhan masyarakat akan kecepatan, kehandalan, dan keamanan dalam melakukan transaksi. Untuk itu, Bank Indonesia secara terus menerus melakukan penyempurnaan dan pengembangan terhadap sistem yang telah ada, termasuk diantaranya melalui penyelenggaraan kliring dan Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS).
Grafik 5.3. Proposi Outflow Berdasarkan Bilyet Pecahan Uang
Grafik 5.4. Proposi PTTB Berdasarkan Bilyet Pecahan Uang
2.1 K
LIRING LOKALPerkembangan sistem pembayaran di bidang kliring1
di Jawa Barat tidak mengalami perubahan yang signifikan, apabila dilihat dari sisi nominal. Selama triwulan I-2011, transaksi melalui kliring
yang diselesaikan (meliputi kliring debet2
dan dan kliring kredit) senilai Rp34,9 triliun, mengalami peningkatan sebesar 12,19% dibandingkan triwulan I-2010 atau sebesar 3,26% dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan tersebut didukung oleh adanya peningkatan pada semua wilayah yaitu wilayah Bandung, Tasikmalaya dan Cirebon.
Adapun jumlah warkat kliring yang sah sebagai alat transaksi oleh masyarakat sebanyak 1.421.771 lembar, mengalami sedikit penurunan yaitu sebesar 0,49% dibandingkan triwulan I-2010 akan tetapi naik sebesar 7,04% dibandingkan periode sebelumnya. Demikian juga transaksi per warkat juga mengalami penurunan dari Rp25,39 juta pada triwulan IV-2010 menjadi Rp24,55 juta pada triwulan I-2011.
Tabel 5.2. Perkembangan Transaksi Kliring Lokal di Jawa Barat
2011
Tw. I Tw. I I Tw. I I I Tw. I V Tw. I qtq yoy
J a wa Ba r a tNomi nal ( Rp Tr i l 31, 1 32, 1 33, 8 33, 8 34, 90 3, 26 12, 19
Vol ume ( L embar ) 1. 468. 8781. 428. 796 1. 475. 903 1. 328. 202 1. 421. 771 7, 04 - 0, 49 Ba ndung Nomi nal ( Rp Tr i l 26, 03 26, 74 28, 00 28, 07 29, 15 3, 85 11, 98
Vol ume ( L embar ) 1. 220. 1411. 188. 038 1. 216. 903 1. 123. 397 1. 167. 898 3, 96 - 1, 70 T a s i k ma l a yNomi nal ( Rp Tr i l 1, 59 1, 65 1, 88 1, 65 1, 68 1, 80 5, 58
Vol ume ( L embar ) 75. 617 78. 693 85. 859 77. 190 79. 089, 00 2, 46 4, 59 Ci r e bon Nomi nal ( Rp Tr i l 3, 49 3, 69 3, 91 4, 08 4, 07 - 0, 16 16, 73
Vol ume ( L embar ) 165. 141 170. 044 173. 141 127. 615 174. 784 36, 96 5, 84
Wi l ayah Ket er angan 2010 Pertumbuhan
Sumber: Bank Indonesia
2.2 R
EALT
IMEG
ROSSS
ETTLEMENT(RTGS)
Transaksi RTGS masih mendominasi sistem pembayaran non tunai di Jawa Barat, karena keunggulan RTGS dalam kecepatan penyelesaian transaksi (seketika) dan risiko penyelesaian transaksi yang dapat diperkecil. Perkembangan penyelesaian transaksi RTGS (dari dan ke Jawa Barat), selama triwulan I-2011, secara nominal maupun volume mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu sebesar Rp148,74 triliun dan 286.393 transaksi RTGS, atau menurun sebesar 26,60% dari nominal transaksi triwulan sebelumnya dan sebesar 1,62% dari nominal transaksi triwulan I-2010. Secara rata-rata bulanan, transaksi RTGS di masyarakat mencapai sebesar Rp49,58 triliun dan 95.464 transaksi. Dengan demikian terjadi penurunan rata-rata transaksi bulanan RTGS senilai Rp17,97 triliun.
1
liring adalah pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antar-peserta kliring, dan perhitun ya diselesaikan pada aktu tertentu.
K gann
w
Grafik 5.5. Perkembangan Transaksi BI-RTGS Di Jawa Barat
-50,000 100,000 150,000 200,000 250,000 300,000 350,000 -50 100 150 200 250
Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw. I Tw. II Tw. III Tw. IV Tw.I
2007 2008 2009 2010 2011
transaksi (Volume) Rp Triliun (Nilai)
Volume Nilai
BAB 6.PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DAERAH