BAB II LANDASAN TEORI
G. PEARLS Monitoring System
1. P=Protection (P)
Informasi yang dibutuhkan untuk menghitung rasio P adalah sebagai berikut.
a. Cadangan Risiko
Adalah cadangan yang berasal dari cadangan umum, modal sumbangan/donasi, dan penyisihan sumbangan
b. Kelalaian Piutang > 12 bulan
yaitu jumlah total saldo piutang anggota yang tertunggak lebih dari 12 bulan sejak tanggal pembayaran angsuran terakhir.
c. Kelalaian Piutang 1-12 bulan
Yaitu jumlah total saldo piutang anggota yang tertunggak 10 hari sejak tanggal jatuh tempo angsuran sampai dengan kurang dari 1 tahun.
Isabelle (2016), aspek perlindungan adalah tentang memastikan bahwa anggota memiliki tempat yang aman untuk uang mereka. Statistik yang dihasilkan oleh rasio “P” bertujuan untuk mengukur beberapa aspek efektivitas pengelolaan koperasi simpan pinjam. Rasio “P” memiliki 6 rasio utama yang mengukur kualitas pinjaman, manajemen investasi keuangan, dan kecukupan provisi. Cakupannya meliputi kelalaian pinjaman, ketentuan pinjaman, penghapusan pinjaman, dan pemilihan pinjaman. Perlindungan aset yang memadai merupakan prinsip dasar sebuah organisasi koperasi simpan pinjam.
Menurut Munaldus dkk (2014), mutlak bagi CU agar melindungi secara sungguh-sungguh aset-asetnya. Perlindungan diukur dengan: (1) membandingkan antara total penyisihan dana cadangan untuk menutup kerugian atas piutang lalai; dan (2) membandingkan antara total penyisihan terhadap total kerugian investasi bebas (non-regulated investments). Penyisihan dana ini dapat disebut dana cadangan risiko yang dialokasikan secara tahunan dan provisi kredit lalai yang dialokasikan setiap bulan.
Perlindungan terhadap kerugian atas piutang dianggap ideal jika CU mampu menyisihkan dana cadangan risiko dan provisi kredit lalai sama besarnya dengan total piutang lalai di atas 12 bulan ditambah dengan tersedianya cadangan risiko dan provisi kredit lalai yang mampu menutup 35% dari total piutang lalai 1 – 12 bulan. Yang dimaksud piutang adalah pinjaman yang sedang beredar di tangan peminjam (anggota).
2. E = Efective Financial Structure (Struktur Keuangan yang Efektif) Informasi yang dibutuhkan untuk menghitung rasio E adalah sebagai berikut.
a. Piutang lalai
Yaitu jumlah total saldo piutang anggota yang tertunggak 10 hari sejak tanggal jatuh tempo angsuran.
b. Total piutang anggota
Yaitu total pinjaman yang diberikan kepada anggota.
c. Simpanan non saham
Menurut Supriyanto ( 2015 :124-126) simpanan non saham yaitu simpanan yang berasal dari anggota maupun bukan anggota yang apabila KSP mengalami pailit/kerugian maka simpanan non saham tersebut tidak ikut menanggung kerugian kopeprasi, semua simpanan dikembalikan. Contoh dari simpanan non saham yaitu simpanan bunga harian, simpanan sukarela (SISUKA), simpanan hari raya (SIRAYA), simpanan siswa, simpanan yunior, dll.
d. Total aset
Menurut IAI, total aset yaitu seluruh sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari kejadian pada masa lalu dan mendatangkan manfaat ekonomi di masa depan bagi perusahaan.
Munaldus (2014) menyatakan terdapat aset produktif dan aset non produktif. Aset produktif terdiri atas piutang beredar dan investasi likuid. Sedangkan aset non produktif terdiri atas aset-aset tetap seperti tanah, gedung, perlengkapan, biaya di bayar di muka, dan kas.
e. Total utang kepada pihak ke-3
Menurut SAK ETAP (2009), utang adalah pengorbanan manfaat ekonomi masa mendatang yang mungkin timbul karena kewajiban sekarang suatu entitas untuk menyerahkan aktiva atau memberi jasa kepada entitas lain di masa mendatang sebagai akibat dari adanya transaksi di masa lalu.
f. Modal lembaga bersih
Modal lembaga adalah modal CU yang berasal dari dana cadangan umum, dana cadangan risiko, donasi, SHU tak terbagi, dan SHU tahun berjalan yang dialokasikan untuk dana cadangan.
Sedangkan modal lembaga bersih adalah seluruh modal lembaga yang dimiliki CU setelah dikurangi dengan total kelalaian pinjaman/piutang.
Menurut Munaldus (2014), struktur keuangan yang efektif merupakan faktor penting dalam menentukan potensi pertumbuhan, kemampuan memperoleh pendapatan, dan kekuatan keuangan menyeluruh. Rasio E ini mengukur aset, liabilitas (utang), dan modal.
Rasio E juga menunjukkan apakah struktur keuangannya ideal atau tidak.
a. Aset
1) 95% aset produktif terdiri atas piutang (pinjaman beredar), yaitu berkisar pada rentangan 70-80% dari total aset; dan investasi likuid (tersedianya uang tunai), yang berkisar pada rentangan 10-20% dari total aset.
2) 5% aset-aset yang tidak produktif terutama berupa aset-aset tetap (seperti tanah, gedung, perlengkapan, biaya dibayar di muka, kas).
CU didorong untuk memaksimalkan aset-aset produktif sebagai cara untuk memperoleh pendapatan yang memadai. Pinjaman beredar atau
piutang biasa disebut portofolio pinjaman (loan portfolio). Karena portofolio pinjaman adalah aset CU yang paling menguntunggkan, maka WOCCU merekomendasikan agar selalu berada pada 70-80% dari total aset CU.
WOCCU, dalam Munaldus dkk (2014), menyarankan bahwa aset tidak produktif atau yang disebut dengan aset-aset yang tidak menghasilkan prosentasenya tidak boleh di atas 5% dari total aset CU. Bila lebih dari 5% menandakan bahwa CU akan semakin sulit mendapatkan dana likuid untuk memberikan pelayanan bagi anggotanya.
b. Liabilitas (Utang)
1) 70-80% dari total utang
Informasi mengenai total aset yang dimiliki oleh sebuah CU terdapat pada pos aktiva dalam laporan neraca.
Sedangkan untuk mengetahui liabilitas (utang) terdapat pada pos pasiva. WOCCU menyatakan rasio simpanan non-saham yang ideal berkisar pada 70-80% dari total aset CU.
Bila keadaan ideal ini dapat dicapai maka menunjukan bahwa CU telah mampu mengembangkan program pemasaran secara efektif. Rasio ini juga menunjukan tinggi atau rendahnya semangat anggota dalam menabung.
c. Modal
1) Modal saham (simpanan pokok + simpanan wajib) yang dianggap ideal apabila berada pada 10-20% dari total aset.
2) Modal lembaga (dana cadangan umum, dana cadangan risiko, donasi, SHU tak terbagi, dan SHU tahun berjalan dialokasikan untuk dana cadangan) yang dianggap ideal apabila berada minimal 10% dari total aset dengan tujuan:
a) Untuk mendanai (berfungsi sebagai pengganti) aset-aset yang tidak menghasilkan (tanah, gedung, perlengkapan, biaya dibayar di muka, kas).
Jika modal lembaga tidak memadai, maka untuk mendanai aset-aset yang tidak menghasilkan, CU harus mengambil dari simpanan anggota. Padahal simpanan anggota adalah dana mahal yang setiap bulan harus diberi balas jasa.
b) Meningkatkan pendapatan
Modal lembaga bermanfaat dalam meningkatkan pendapatan karena tidak diberikan balas jasa.
Keberadaan modal lembaga ini sesungguhnya juga dapat diputar, setidaknya dalam bentuk investasi likuid.
Investasi likuid artinya uang CU yang disimpan atau diinvestasikan di lembaga keuangan lain.
c) Menutup berbagai kerugian
Modal lembaga digunakan untuk menutup berbagai kerugian kredit dan/atau kerugian operasional. Hal ini tentunya harus sesuai dengan keputusan bersama di
dalam rapat anggota, dan sebaiknya tidak terlalu sering dilakukan agar tidak mengganggu aliran kas CU.
3. A = Asset Quality (Kualitas Aset)
Informasi yang dibutuhkan untuk menghitung rasio A adalah sebagai berikut.
a. Total kelalaian piutang
Yaitu jumlah seluruh saldo piutang anggota yang tertunggak 10 hari sejak tanggal jatuh tempo angsuran.
b. Pinjaman/ piutang beredar
Menurut IAI (2004), piutang adalah penagihan yang timbul karena penjualan produk atau penyerahan jas dalam rangkakegiatan normal perusahaan. Menurut Munaldus (2014), piutang beredar adalah total piutang anggota yang belum dibayarkan kepada CU.
c. Aset yang tidak menghasilkan/aset tidak produktif
Menurut Munaldus (2014), aset non produktif terdiri atas aset-aset tetap seperti tanah, gedung, perlengkapan, biaya di bayar di muka, dan kas.
d. Total dividen dibagikan kepada anggota
Bagian dari sisa hasil usaha (SHU) yang dibagikan kepada anggota KSP yang juga disebut sebagai pemilik KSP.
e. Total aset
Rasio di bawah “Asset Quality” mengukur hubungan antara aset produktif dan non-produktif (Isabelle:2016). Menurut Munaldus (2014), set-aset yang tidak produktif adalah aset-aset yang tidak meningkatkan pendapatan. Apabila rasionya di atas 5% dari total aset, maka dampak negatifnya akan sangat dirasakan.
PEARLS digunakan untuk mengidentifikasi dampak dari aset-aset yang tidak menghasilkan yang berupa:
a. Rasio kelalaian pinjaman
Rasio kelalaian pinjaman merupakan ukuran penting untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan CU. Jika rasio kelalaian pinjaman diatas 5% dari total piutang, rasio ini akan berpengaruh kepada indikator-indikator lainnya. Bahkan pertanda bahwa CU akan menghadapi krisis.
b. Persentase aset-aset yang tidak menghasilkan
Makin tinggi rasio aset-aset yang tidak menghasilkan, makin sulit CU untuk meningkatkan pendapatannya karena aset-aset telah berubah bentuk menjadi tanah, gedung, kendaraan, perlengkapan. Idealnya rasio aset-aset yang tidak menghasilkan paling tinggi 5% dari total aset CU. Rasio aset-aset yang tidak menghasilkan ini akan turun apabila banyak anggota baru yang menabung.
c. Mendanai aset-aset yang tidak menghasilkan
WOCCU mengharuskan agar 100% dari aset-aset yang tidak menghasilkan atau aset-aset tetap didanai dari modal lembaga.
4. R = Rates of Return and Costs (Tingkat Pendapatan dan Biaya)
Informasi yang dibutuhkan untuk menghitung rasio R adalah sebagai berikut.
a. Dividen yang dibagikan kepada anggota
Bagian dari sisa hasil usaha (SHU) yang dibagikan kepada anggota KSP yang sebagai pemilik KSP.
b. Simpanan saham tahun lalu
Jumlah dari simpanan pokok dan simpanan wajib anggota pada tahun sebelumnya.
c. Simpanan saham tahun berjalan
Jumlah dari simpanan pokok dan simpanan wajib anggota pada tahun berjalan.
d. Total biaya operasional
Yaitu seluruh pendapatan dari bunga tabungan di bank dan cadangan likuiditas yang disimpan di Pusat Koperasi Kredit dibagi dengan total dana yang diinvestasikan di tempat tersebut.
e. Total aset tahun lalu f. Total aset tahun berjalan
Menurut Munaldus dkk (2014) sistem PEARLS dapat mengetahui semua komponen penting yang berkontribusi terhadap besarnya keuntungan bersih (net earning) atau selisih hasil usaha. Hal ini bertujuan untuk membantu pihak manajemen menghitung hasil investasi dan menilai biaya-biaya operasional. Empat area utama investasi menurut Munaldus (2014), yaitu :
a. Portofolio pinjaman
Total pendapatan dari bunga pinjaman, pendapatan dari denda, dan pendapatan dari jasa pelayanan dibagi dengan total piutang (pinjaman beredar).
b. Investasi likuid
Semua pendapatan dari bunga tabungan di bank dan cadangan likuiditas yang disimpan di Pusat Koperasi Kredit dibagi dengan total dana yang diinvestasikan di tempat tersebut.
c. Investasi keuangan
Banyak CU menginvestasikan dana likuidnya dalam investasi keuangan (seperti di sekuritas pemerintah) yang menghasilkan pendapatan lebih tinggi dari pada jika diinvestasikan di bank.
d. Investasi non-keuangan lainnya
Area yang tidak termasuk dalam portofolio pinjaman, investasi likuid dan investasi keuangan disebut sebagai investasi non keuangan lainnya. Di beberapa CU, ada investasi di supermarket, farmasi, sekolah, dan proyek-proyek perumahan.
Semua pendapatan dari investasi jenis ini dibagi dengan total investasi pada sektor ini.
e. Biaya intermediasi keuangan
Meliputi biaya untuk membayar balas jasa simpanan saham dan non-saham, simpanan unggulan dan bunga pinjaman dari Puskopdit. Tidak seperti yang terjadi di bank komersial yang meminimalkan biaya modal, CU berusaha semaksimal mungkin memberikan balas jasa simpanan anggota, tanapa mengambil stabilitas lembaga.
f. Biaya administrasi
Area kritis lain yang memerlukan analisis mendalam adalah biaya administrasi. Banyak CU bersaing ketat dengan bank dalam hal besarnya tingkat bunga simpanan dan pinjaman.
Target “ideal” yang direkomendasikan oleh sistem PEARLS adalah menjaga biaya administrasi sebesar 5% dari rata-rata aset.
g. Biaya provisi pinjaman lalai/macet (Provisions for loan losses) Standar akuntansi tradisional biasanya memasukan provisi kerugian atas pinjaman sebagai bagian dari biaya administrasi secara keseluruhan. Dalam kenyataannya, pengalokasian provisi yang memadai menunjukan suatu tipe pengeluaran yang sama sekali berbeda. Ini terkait langsung dengan analisis kredit yang benar dan teknik pengembalian pinjaman yang efektif. Dengan
memisahkan pengeluaran provisi ini dari biaya administrasi, maka ada gambaran yang lebih jelas tentang titik lemah administrasi kredit di CU.
5. L = Liquidity (Likuiditas)
Informasi yang dibutuhkan untuk menghitung rasio P adalah sebagai berikut.
a. Total investasi likuid
Yaitu seluruh pendapatan dari bunga tabungan di bank dan cadangan likuiditas yang disimpan di Pusat Koperasi Kredit dibagi dengan total dana yang diinvestasikan di tempat tersebut.
b. Kewajiban Lancar
Menurut Munaldus (2014), kewajiban lancar terdiri atas seluruh kewajiban CU yang masih harus dibayar, kewajiban pajak, dan kewajiban kepada pihak ketiga.
c. Total simpanan non saham
Menurut Munaldus (2014), manajemen likuiditas yang baik menjadi suatu keunggulan penting karena CU menjalankan struktur keuangan dari simpanan saham menjadi simpanan non-saham. Perubahan-perubahan yang terjadi setelah model tradisional, simpanan saham anggota tidak likuid dan sebagian besar pinjaman pada pihak luar dapat di kembalikan dalam periode yang lama, sehingga tersedia sedikit intensif
untuk menjaga cadangan likuiditas. Likuiditas dulunya dipandang berdasarkan ketersediaan uang tunai untuk dipinjam anggota. Dengan memperkenalkan penekanan pada simpanan non-saham yang dapat ditarik sewaktu-waktu, konsep likuiditas jelas berubah. Saat ini likuiditas merajuk pada uang tunai yang selalu harus tersedia untuk penarikan simpanan maupun pencairan pinjaman. Ini merupakan variabel yang tidak mudah di kontrol oleh CU.
Dalam hal ini sangat penting bagi sebuah CU untuk menjaga cadangan likuiditasnya karenahal ini akan menjadi modal utama dalam manajemen keuangan yang sehat. Sistem PEARLS menganalisis likuiditas dari dua perspektif :
a. Total cadangan likuiditas
Indikator ini mengukur presentase simpanan non-saham yang diinvestasikan sebagai aset likuid baikdi bank maupun di Pusat Koperasi Kredit. Target yang ideal dijaga pada minimum 15%
setelah membayar semua kewajiban jangka pendek (30 hari atau kurang).
b. Dana likuid yang menganggur (idle)
Cadangan llikuid itu penting, tetapi cadangan likuid ini juga menjadi opportunity cost yang hilang. Dana-dana yang disimpan di bank atau investasi berpendapatan rendah tidak sebanding dengan biaya membeli dana tersebut. Ada kemungkinan dana
tersebut dari sumber yang mahal. Oleh sebab itu, penting menjaga idle money sekecil mungkin.
6. S = Signs of Growth (Tanda-tanda Pertumbuhan)
Informasi yang dibutuhkan untuk menghitung rasio S adalah sebagai berikut.
a. Jumlah anggota tahun lalu dan jumlah anggota tahun berjalan Jumlah anggota yaitu total dari seluruh anggota tercatat pada tahun tertentu.
b. Total aset tahun lalu c. Total aset tahun berjalan
Menurut Richardson dalam WOCCU (2002), cara paling bagus menjaga nilai aset adalah melalui pertumbuhan aset yang kuat dan cepat dengan tetap menjaga tingkat keuntungan yang memadai. Melihat pertumbuhan aset saja tidaklah cukup, keuntungan dari sistem PEARLS adalah mengaitkan pertumbuhan dengan perolehan keuntungan juga dengan area kunci lain dengan menilai kekuatan sistem secara keseluruhan. Menurut Munaldus dkk (2014) pertumbuhan diukur dalam 5 area kunci :
a. Total aset
Pertumbuhan total aset adalah salah satu rasio yang penting.
Banyak rumus yang digunakan dalam rasio PEARLS
memasukan total aset sebagai faktor pembagi. Pertumbuhan aset yang kuat dan konsisten menyempurnakan rasio-rasio PEARLS.
Pengukurannya dilakukan dengan membandingkan pertumbuhan-pertumbuhan yang terjadi dalam struktur neraca b. Pinjaman
Portofolio pinjaman (pinjaman beredar) merupakan aset CU yang paling penting dan menguntungkan. Jika pertumbuhan total pinjaman sebanding dengan pertumbuhan total aset, maka tingkat pertumbuhan pinjaman menurun, dan tingkat pendapatan juga menurun.
c. Simpanan non-saham (saving deposit)
Dengan pendaketan baru pada penekanan mobilisasi simpanan, simpanan non-saham merupakan tulang punggung pertumbuhan.
Pertumbuhan total aset bergantung pada pertumbuhan simpanan.
Program pemasaran produk simpanan yang andal akan meningkatkan jumlah simpanan anggota.
d. Simpanan saham
Meskipun simpanan saham anggota tidak lagi menjadi penekanan, beberapa CU masih menjaga ketergantungan pada pertumbuhan simpanan saham. Jika laju pertumbuhan simpanan saham berlebihan, ini menjadi pertanda bahwa ketidakmampuan CU menerapkan sistem baru dalam mempromosikan simpanan selain simpanan saham.
e. Modal lengkap
Pertumbuhan modal lembaga merupakan indikator terbaik bagi perolehan keuntungan. Pertumbuhan modal lembaga yang statis atau menurun biasanya menunjukan adanya masalah dengan perolehan pendapatan. Jika perolehan pendapatan rendah, CU akan menghadapi masalah besar dalam meningkatkan modal lembaga. Salah satu tanda penting bahwa CU dalam keadaan sehat atau tidak adalah pertumbuhan modal lembaga yang biasanya lebih tinggi daripada pertumbuhan total aset.
H. Penelitian Terdahulu
Penelitian Ida Ayu Setyaningsih (2014) dengan judul “Penerapan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) pada Koperasi Simpan Pinjam Syariah (KSPS)” menilai penerapan SAK ETAP pada laporan keuangan KSPS Makmur Batang dengan menggunakan laporan RAT (Rapat Anggota Tahunan) KSPS Makmur Batang tahun 2012 – 2013 sebagai sumber data. Data dianalisis dengan menggunakan metode analisis data kualitatif.
Hasil dari penelitian Ayu yang pertama yaitu ditemukan bahwa laporan keuangan KSPS Makmur Batang tidak sesuai dengan SAK ETAP, karena kebijakan akuntansi hanya menggunakan UU Koperasi pasal 37 ayat 1. Komparasi pada laporan keuangan KSPS Makmur Batang hanya dilakukan pada pelaporan neraca, perhitungan umur aset tidak sesuai
dengan SAK ETAP, bangunan tidak disusutkan pada tahun 2012-2013, dan laba bersih tidak disajikan pada konsolidasi neraca. Selain itu, KSPS Makmur Batang tidak menyajikan laporan arus kas dan laporan perubahan modal. Sehubungan dengan Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK), KSPS Makmur Batang tidak menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang digunakan;
tidak mengungkapkan informasi yang dibutuhkan di dalam SAK ETAP, namun tidak menyajikan laporan keuangan.
Hasil kedua dari penelitian ini ditemukan bahwa laporan keuangan KSPS Makmur Batang tidak tepat, karena adanya faktor internal dan eksternal. Dalam hal ini, faktor internalnya meliputi kurangnya pengetahuan manajemen mengenai SAK ETAP, sedangkan faktor eksternalnya yaitu kurangnya pengawasan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan koperasi.
Penelitian Livia (2017) dengan judul “Evaluasi Penyusunan Laporan Keuangan Credit Union Berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) Studi Kasus di Credit Union Pancur Kasih Tempat Pelayanan Pemangkat”
mengevaluasi penyusunan laporan keuangan CU Pancur Kasih Tempat Pelayanan Pemangkat tahun 2015. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif komparatif yaitu dengan membandingkan laporan keuangan tahun 2015 dengan standar-standar yang ada di dalam SAK ETAP. Hasil penelitian Livia menunjukkan bahwa
penyusunan laporan keuangan Credit Union Pancur Kasih Tempat Pelayanan Pemangkat tahun 2015 belum sepenuhnya berdsarkan SAK ETAP. Dari 36 unsur yang dibandingkan, enam unsur (17%) tidak sesuai, lima unsur (14%) tidak relevan, dan 25 unsur (69%) telah sesuai dengan SAK ETAP.
Penelitian Sukma dan Hendrika (2016) dengan judul “Analisis PEARLS dalam Menilai Kinerja Keuangan Koperasi Kredit “CU Usaha Kita” tahun 2011-2014” menganalisis kinerja tingkat kesehatan Koperasi Kredit (Credit Union) dari komponen proteksi, struktur keuangan yang efektif, kualitas aset, tingkat pengembalian dan biaya, likuiditas dan tanda-tanda pertumbuhan menurut sistem PEARLS. Penelitian ini dilakukan di kopdit “CU Usaha Kita” pada bulan Oktober 2015 – Januari 2016 dengan menggunakan data sekunder dari Laporan Neraca, Laporan Pendapatan dan Biaya serta data Statistik Pertumbuhan Anggota. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan 13 rasio dalam sistem PEARLS. Teknik pengumumpulan data dilakukan dengan mengumpulkan dokumen dan data-data yang lengkap dan sudah dipublikasikan oleh koperasi kredit “CU Usaha Kita”.
Hasil penelitian Sukma dan Hendrika menunjukkan bahwa indikator Protection (proteksi) yaitu komponen ketersediaan cadangan kerugian atas pinjaman menunjukkan kinerja yang bagus sekali. Dari 4 (empat) kelompok pada Effective Financial Structure (Struktur Keuangan yang Efektif), yaitu simpanan non saham menunjukkan kinerja yang
sangat bagus, portofolio pinjaman menunjukkan kinerja yang bagus, simpanan lembaga menunjukkan kinerja yang buruk. Dari 2 (dua) kelompok pada indikator Asset Quality (Kualitas Aset) yaitu total pinjaman lalai menunjukkan kinerja yang bagus sekali, kualitas aset yang tidak menghasilkan menunjukkan kinerja buruk. Dari 2 (dua) kelompok pada indikator Rate of Return on Cost ( tingkat pengembalian dan biaya) yaitu pendapatan bersih menunjukkan kinerja yang bagus, sedangkan total pendapatan dari portofolio pinjaman dan total biaya operasional menunjukkan kinerja sedang bagus. Indikator Liquidity (Likuiditas) memiliki kecukupan yang seimbang dan kinerja yang sedang dalam memenuhi kewajibannya. Dari 2 (dua) komponen Sign of Growth (pertumbuhan) anggota memiliki kinerja yang sedang sementara untuk pertumbuhan aset menunjukkan kinerja yang buruk.
67 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian yang dilakukan adalah studi kasus, yaitu penelitian yang difokuskan pada suatu objek tertentu dengan detail sehingga hasil dan kesimpulan yang diambil hanya terbatas untuk objek yang diteliti tersebut.
B. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di CU Ngudi Raharjo Gereja Paroki Administratif Maria Assumpta Cawas yang berdomisili di Dukuh Brangkal, Desa Barepan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Penelitian pada objek dilakukan selama empat bulan yaitu Bulan Desember 2017 hingga Maret 2018.
C. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek Penelitian dalam penelitian ini adalah:
1. Ketua CU Ngudi Raharjo 2. Bendahara CU Ngudi Raharjo 3. Karyawan CU Ngudi Raharjo
4. Dewan Paroki Administratif Maria Assumpta Cawas 5. Anggota CU Ngudi Raharjo
Objek Penelitian dalam penelitian ini adalah:
1. Dokumen dan catatan terkait dengan kegiatan operasional tahun 2017 2. Penyajian catatan dan laporan keuangan tahun 2017
D. Data yang Diperlukan dalam Penelitian
Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah:
1. Sejarah, visi, misi dan perkembangan CU Ngudi Raharjo 2. Struktur organisasi CU Ngudi Raharjo dan deskripsi pekerjaan.
3. Catatan tentang transaksi dan program-program yang telah dilaksanakan.
4. Dokumen dan laporan keuangan serta pelaporan-pelaporan terkait pelaksanaan kegiatan CU (laporan RAT, laporan bulanan, laporan pelaksanaan progam, data anggota dan pengurus berikut data simpan pinjam yang terjadi).
5. Proses akuntansi yang dijalankan CU Ngudi Raharjo.
6. Data mengenai kebutuhan pengguna laporan keuangan CU Ngudi Raharjo terhadap informasi yang diperoleh dari pencatatan dan pelaporan keuangan CU Ngudi Raharjo.
E. Metode dan Desain Penelitian
Metode penelitian untuk melaksanakan penelitian ini adalah dengan metode kualitatif. Dengan metode ini, peneliti akan melakukan analisis data dan
Metode penelitian untuk melaksanakan penelitian ini adalah dengan metode kualitatif. Dengan metode ini, peneliti akan melakukan analisis data dan