BAB III PEMBAHASAN
F. Etika Pegawai KPP Pratama Medan Barat Dalam
Kantor Pelayanan Pajak Pratama berada dibawah Direktorat Jenderal Pajak memiliki ratusan kantor dan ribuan pegawai yang tersebar dari sabang sampai merauke. Maka untuk mewujudakan pelayanan yang optimal diciptakan standard pelayanan sehingga tidak ada perbedaan antara satu kantor dengan kantor lainnya. Pelayan dan kinerja pegawai harusnya memenu suatu standard tertentu dengan peraturan yang sama dan berlaku nasional. Hal ini juga berlaku untuk KPP Pratama Medan Barat. Dengan jumlah pegawai yang relatif sedikit dan jumlah wajib pajak yang lumayan besar maka KPP Pratama Medan Barat harus bekerja keras dalam memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat. Dalam melayani seluruh wajib pajak pegawai tidak dapat membeda-bedakan latar belakangnya, selama ada yang mau lapor pajak dan bayar pajak semua harus dilayani dengan baik. Pengusaha, dokter, guru, pengacara, pekerjaan apapun, siapapun, dan berapapun jumlah pajak yg mau dibayar harus diedukasi dan dilayani dengan baik.
Para pegawai KPP Pratama Medan Barat juga memiliki tata tertib serta kewajiban yang sama dengan Pegawai Pajak lainnya diseluruh Indonesia. Adapun kewajiban yang harus dijalankan oleh setiap Pegawai KPP Pratama Medan Barat adalah sebagai berikut :
10. Menghormati agama, kepercayaan, budaya, dan adat istiadat orang lain.
11. Bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel. Bekerja secara profesional meliputi:
d. Integritas, yaitu ukuran kualitas moral Pegawai yang diwujudkan dalam sikap jujur, bersih dari tindakan tercela, dan senantiasa mengutamakan kepentingan negara
e. Disiplin, yaitu pencerminan ketaatan Pegawai terhadap setiap ketentuan yang berlaku;
f. Kompetensi, yaitu ukuran tingkat pengetahuan, kemampuan dan penguasaan atas bidang tugas Pegawai sehingga mampu melaksanakan tugas secara efektif dan efisien.
g. Bekerja secara transparan, yaitu setiap Pegawai bersikap terbuka dalam melaksanakan tanggung jawab sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dengan peraturan perundang-undangan.
12. Mengamankan data dan atau informasi yang dimiliki Direktorat Jenderal Pajak.
13. Memberikan pelayanan kepada wajib pajak, sesama pegawai, atau pihak lain dalam pelaksanaan tugas dengan sebaik-baiknya.
14. Mentaati perintah kedinasan. Perintah kedinasan adalah perintah yang diberikan oleh atasan yang berwenang mengenai atau yang ada hubungannya dengan kedinasan.
15. Bertanggung jawab dalam penggunaan barang investaris milik Direktorat Jendral Pajak.
16. Mentaati ketentuan jam kerja dan tata tertib kantor.
17. Menjadi panutan yang baik bagi masyarakat dalam memenuhi kewajiban perpajakan.
18. Bersikap, berpenampilan, dan bertutur kata secara sopan.
Adapun tata tertib / larangan bagi pegawai KPP Pratama Medan Barat adalah sebagai berikut:
1. Bersikap diskriminatif dalam melaksanakan tugas.
2. Menggunakan kewenangan jabatan baik langsung maupun tidak langsung dan fasilitas kantor untuk kepentingan diri sendiri maupun pihak ketiga lainnya
3. Menerima segala pemberian ataupun penghargaan dalam bentuk apapun termasuk uang, saham atau surat berharga lainnya, komisi, hadiah, cindera mata, hiburan, jamuan, perjalanan wisata, sponsorship, dan jasa lainnya dari Wajib Pajak secara langsung maupun tidak langsung yang menyebabkan pegawai memiliki kewajiban yang berkaitan dengan pelaksanaan tugasnya
4. Menerima kunjungan Wajib Pajak dalam rangka urusan dinas di luar kantor;
5. Memanfaatkan data dan atau informasi perpajakan untuk memperoleh keuntungan pribadi pegawai
6. Memanfaatkan kewenangan jabatan dan pengaruhnya untuk memperoleh keuntungan pribadi;
7. Menggandakan sistem dan atau program aplikasi komputer milik Direktorat Jenderal Pajak di luar kepentingan dinas;
8. Menyampaikan informasi perpajakan kepada Pihak Ketiga kecuali bagi pegawai yang berwenang;
9. Membantu, melindungi, bekerja sama, menyuruh, atau memberi kesempatan pihak lain untuk melakukan tindak pidana di bidang perpajakan;
10. Melakukan kesempatan dengan Wajib Pajak yang merugikan Negara dengan sengaja dalam pelaksanaan tugas;
11. Mengkonsumsi minuman keras yang dapat merusak citra dan martabat pegawai
12. Mengkonsumsi, mengedarkan, dan atau memproduksi narkotika dan atau obat terlarang.
Salah satu sasaran strategis Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan KPP Pratama Medan Barat adalah meningkatkan kepuasan Wajib Pajak dan seluruh stakeholder perpajakan dalam rangka mewujudkan tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap pelayanan perpajakan. Hal ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dan arahan Presiden Republik Indonesia terkait upaya menghentikan segala bentuk kejahatan dan penyimpangan serta dalam rangka meningkatkan capaian kinerja DJP.
Dalam rangka membangun budaya melayani maka KPP Pratama Medan Barat menerapkan aturan-aturan baik itu mulai dari pimpinan sampai bawahan. Hal ini sama dengan kantor pajak lainnya di Indonesia. Aturan tersebut nantinya akan menjadikan etika pegawai KPP Pratama Medan Barat dalam melayani masyarakat lebih baik lagi.
Selain itu di aturan-aturan ini terdapat juga kewajiban-kewajiban dari wajib pajak pada
saat berada di KPP Pratama Medan Barat. ini bertujuan untuk menciptakan suatu pelayanan yang baik dan rasa puas atas pelayanan yang di berikan pegawai terhadap masyarakat. Beberapa aturan tersebut adalah :
1) Pimpinan harus memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pelayanan dan memberikan perhatian terhadap kinerja pelayanan di unit kerjanya.
2) Melaksanakan pelayanan kepada Wajib Pajak dengan berpedoman pada:
a) Waktu pelayanan di Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) adalah pukul 08.00 sampai dengan 16.00 waktu setempat. Selisih waktu antara jam kerja dengan jam pelayanan digunakan untuk persiapan dalam memberikan layanan (doa dan spirit pagi, pengarahan, merapikan tata ruang dan administrasi serta persiapan bagi petugas TPT) dan persiapan tutup layanan (melakukan evaluasi layanan yang dilakukan, merapikan dan menyelesaikan administrasi layanan pada hari tersebut). Pada jam istirahat, pelayanan tetap diberikan dengan cara mengatur secara bergiliran petugas yang beristirahat dan menambah jumlah petugas jika TPT terlihat antrian yang panjang;
b) Jadwal Petugas di TPT dan petugas di bagian konseling (helpdesk) diatur oleh Kepala Kantor sesuai kondisi dan situasi setempat;
c) Kepala Kantor menunjuk supervisor harian yang bertanggung jawab atas pemberian layanan di TPT dan helpdesk secara bergiliran;
d) Memperhatikan beberapa hal mengenai Pelayanan Prima sebagai berikut:
i. Area kantor dibagi menjadi 2 (dua) yaitu area umum (public area) dan area terbatas (restricted area). Pada area umum,
Wajib Pajak boleh dengan bebas keluar masuk tanpa menggunakan atribut tertentu untuk mendapatkan pelayanan perpajakan yang baik sesuai dengan standar mutu pelayanan.
Pada area terbatas, pihak-pihak yang tidak berkepentingan tidak diperbolehkan secara bebas keluar masuk dalam area tersebut untuk mendapatkan pelayanan perpajakan. Wajib Pajak yang memerlukan pelayanan pada restricted area harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
- Mengisi buku tamu dengan menyatakan secara jelas tujuannya;
- Meninggalkan KTP atau kartu identitas lain untuk ditukar dengan kartu tamu;
- Ada petugas yang menunjukkan/mengantar Wajib Pajak menemui pegawai yang dituju
ii. Pegawai yang berhubungan langsung dengan Wajib Pajak harus menjaga sopan santun dan perilaku, ramah, tanggap, cermat dan cepat, serta tidak mempersulit pelayanan, dengan cara:
- Bersikap hormat dan rendah hati terhadap tamu;
- Petugas selalu berpakaian rapi dan bersepatu;
- Selalu bersikap ramah memberikan 3 S (senyum, sapa, dan salam);
- Mengenakan kartu identitas pegawai di dada;
- Menyapa tamu yang datang dengan menanyakan ( misalnya “selamat pagi, siang, atau sore, apa yang dapat kami bantu pak/buk? )
- Mendengarkan dengan baik apa yang diutarakan oleh Wajib Pajak, tidak melakukan aktivitas lain misalnya menjawab panggilan telepon, makan dan minum atau mendengarkan musik (melalui headphone/earphone) saat memberikan pelayanan;
- Apabila masih terdapat layanan yang perlu dilakukan konfirmasi sehingga Wajib Pajak tidak menunggu terlalu lama, petugas dapat meminta nomor telepon tamu untuk dapat dihubungi kembali;
- Tidak mengobrol atau bercanda berlebihan dengan sesama petugas, atau Wajib Pajak yang dilayani pada saat memberikan pelayanan;
- Menata waktu konsultasi dengan efektif dan efisien;
- Menyerahkan dokumen/tanda terima kepada Wajib Pajak dengan cara yang sopan.
iii. Petugas TPT adalah pegawai DJP (termasuk satpam yang
ditugaskan) Pegawai yang tidak bertugas tidak diperkenankan
berada di area TPT. Pegawai yang ditempatkan di TPT harus memiliki kriteria sebagaimana butir d.ii tersebut di atas;
iv. Petugas TPT dan pegawai yang berhubungan langsung dengan Wajib Pajak apabila ada panggilan penting dan terpaksa harus meninggalkan Wajib Pajak, petugas memohon maaf kepada Wajib Pajak dan agar digantikan oleh petugas lain;
v. Petugas konseling (helpdesk) siaga melayani pertanyaan Wajib Pajak. Apabila ada pertanyaan yang tidak dapat dijawab, petugas meminta waktu untuk menghubungi supervisor/atasannya atau apabila tingkat persoalan agak kompleks dapat diminta menunggu di ruang konsultasi untuk ditangani oleh petugas yang kompeten (misalnya Account Representative (AR)/Pemeriksa Pajak/Kepala Seksi);
vi. Dalam hal petugas konseling adalah AR yang pada saat bersamaan menerima tamu yang merupakan Wajib Pajak tanggung jawabnya, maka tamu lain ditangani oleh AR atau petugas lain;
vii. Petugas pada KPP yang melayani Wajib Pajak Orang Asing
agar memiliki kemampuan bahasa Inggris;
viii. Dalam merespon permasalahan dan memberikan informasi
kepada Wajib Pajak, seharusnya:
- Petugas memberikan informasi/penjelasan secara lengkap dan jelas sehingga Wajib Pajak dapat mengerti dengan baik;
- Untuk lebih meyakinkan Wajib Pajak, petugas dapat menggunakan brosur/leaflet/buku petunjuk teknis pelayanan;
- Minimal satu software peraturan perpajakan ( tax knowledge Base) telah diinstal di computer TPT.
- Apabila petugas belum yakin terhadap permasalahan yang ditanganinya, jangan memaksakan diri. Segera informasikan ke petugas lain, supervisor atau atasan yang bersangkutan dan memberitahukan permasalahan yang disampaikan Wajib Pajak agar Wajib Pajak tidak ditanya berkali-kali;
- Apabila petugas TPT belum bisa memberikan jawaban yang memadai dan Wajib Pajak harus menemui petugas lain dalam menuntaskan permasalahannya, petugas TPT diharapkan untuk meminta maaf (misalnya dengan pernyataan "Mohon Maaf, saya belum dapat membantu Bapak/Ibu saat ini. Oleh karena itu permasalahan ini akan saya teruskan kepada rekan kami/atasan saya yang lain untuk membantu Bapak/Ibu");
- Jika dimungkinkan, jabatlah tangan Wajib Pajak dan mengucapkan terima kasih pada saat tamu akan meninggalkan tempat;
Etika diatas sangatlah mendukung kinerja pegawai di KPP Pratama Medan Barat. Dengan etika yang ditunjukkan oleh pegawai tersebut maka pelayanan yang diberikan akan sangat memuaskan bagi masyarakat. Ini juga mendukung terjadinya peningkatan penerimaan pajak di wilayah KPP Pratama Medan Barat. Ini akan mendorong kepada kemajuan pembangunan yang telah direncanakan oleh pemerintah pusat demi kepentingan Rakyat Indonesia.
BAB IV
ANALISIS DAN EVALUASI
A. Pengaruh Etika Terhadap Kinerja Pegawai Dalam Melayani Masyarakat di KPP Pratama Medan Barat
Pengaruh etika terhadap kinerja pegawai dalam melayani masyarakat sangatlah besar.etika itu sudah tertanam pada diri manusia, sekarang tinggal pribadi dari manusia tersebut apakah ia dapat membuat etika nya menjadi pribadi yang baik maupun buruk. Hal itulah yang harus ditunjukkan pegawai pajak dalam melayani masyarakat. Pegawai pajak harus ramah , sopan dan santun kepada setiap masyarakat baik itu dalam berperilaku atau dalam berbicara. Seorang pegawai harus memiliki attitude yang tinggi, Karena pegawai adalah cerminan dari kantor pajak itu sendiri.. Ini juga menunjukkan citra baik dari KPP Pratama Medan Barat kepada masyarakat. Dengan adanya etika yang baik dari pegawai maka masyarakat merasa puas akan pelayanan yang diberikan.
Hal ini bias saja menjadi salah satu cara agar penerimaan pajak yang di targetkan oleh KPP Pratama Medan Barat dapat tercapai. Ini juga mendorong para masyarakat tergugah hatinya untuk mendaftarkan diri menjadi wajib pajak dan mulai sadar akan kewajibanya sebagai warga Negara yang baik harus taat akan pajak.
B. Tingkat Kepatuhan Pegawai Dalam Mematuhi Etika dan Tata Tertib Yang Ada di KPP Pratama Medan Barat
Tingkat kepatuhan pegawai dalam mematuhi etika dan tata tertib yang ada di KPP Pratama Medan Barat tergolong baik. Karena dari segi peraturan saja pegawai pajak sebagian besar mematuhi setiap peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Pegawai juga mematuhi jam kerja, tidak masuk dan pulang sesuka hati, mereka melakukan pekerjaan dengan sepenuh hati. Contohnya di seksi pelayanan, para pegawai tiba di kantor pukul 07:30 wib dan pulang pukul 17:00 wib, dan sistem kehadiran menggunakan fingerprint.
Selain dari segi kehadiran pegawai juga mematuhi seragam kantor yang telah ditetapkan oleh KPP Pratama Medan Barat, misalnya hari Senin Rabu dan Kamis menggunakan kemeja Biru, sedangkan hari Selasa dan Jumat menggunakan Kemeja Batik. Ini bertujuan untuk menerapkan keseragaman dan kebersamaan antar pegawai mulai dari pimpinan sampai pegawai bawahan. Para pegawai juga menerapkan jam kerja yang professional, dalam hal menggunakan jam kerja tanpa bermain-main dan tidak mengganggu pegawai lainnya saat bekerja, dan para pegawai juga menggunakan jam istirahat sebagai waktu untuk makan siang beribadah shalat bagi umat muslim. Pegawai bersikap sopan dan bertutur kata yang baik kepada masyarakat maupun kepada sesama pegawai.
Pegawai juga bertanggung jawab dalam penggunaan barang investaris milik KPP Pratama Medan Barat. Seperti fasilitas mobil dinas dan mobil hasil sitaan kantor. Setiap pegawai juga bekerja sama dan saling menghargai dengan
pegawai lainnya demi menerapkan terciptanya etika dan tata tertib yang ada di KPP Pratama Medan Barat.
C. Upaya dan permasalahan apa saja yang dialami oleh pegawai KPP Pratama Medan Barat dalam melayani setiap masyarakat
Adapun upaya dan permasalahan yang dialami pegawai KPP Pratama Medan Barat dalam melayani setiap masyarakat sangatlah banyak, namun ada beberapa upaya dan permasalahan yang paling mendasar yang dihadapi oleh pegawai dalam melayani masyarakat.
1. kurangnya informasi perpajakan yg diterima oleh masyarakat sehingga membuat pegawai pajak dan masyarakat kurang sepaham pada saat proses penerimaan maupun pembayaran pajak. Hal ini membuat adanya prasangka-prasangka buruk dari pihak masyarakat terhadap pegawai pajak. Seperti masyarakat merasa bahwa pajak yang mereka bayarkan terlalu besar ataupun tidak sebanding dengan harta yang mereka miliki.
Selain itu Adanya anggapan masyarakat bahwa timbal balik (kontra prestasi) pajak tidak bisa dinikmati secara langsung, bahkan wujud pembangunan sarana prasana belum merata, meluas, apalagi menyentuh pelosok tanah air dan adanya anggapan masyarakat bahwa tidak ada keterbukaan pemerintah terhadap penggunaan uang pajak.hal inilah yang membuat pegawai pajak merasa kewalahan menghadapi masyarakat yang kurang mendapat informasi mengenai sistem dan tata cara
pembayaran pajak , serta harta apa saja yang dikenai pajak. Sehingga masyarakat dan pegawai pajak tidak lagi selisih paham .
2. Jumlah pegawai pajak sekitar 30.000 pegawai sehingga tidak sebanding dengan 240 juta lebih rakyat Indonesia, walaupun yang terdaftar sebagai wajib pajak adalah 40 juta. Jadi rasionya 1: 1.400 . Untuk 1.400 jika dijumlah hari setahun 360 hari itu jadi 4 tahun. Wajib pajak ketemu petugas pajak 4 tahun sekali Dengan kondisi seperti ini akan memberikan potensi kerugian kepada wajib pajak sendiri. Ketika wajib pajak ditagih pajak 4 tahun sekali maka dia akan kena sanksi yang memberatkan.
Selain itu, negara juga akan dirugikan di mana seharusnya pemerintah memperoleh pendapatan setiap tahun maka hanya memperolehnya 4 tahun sekali. Hal inilah yang harus dibenahi oleh pemerintah dan dirjend Kementerian Keuangan agar penerimaan pegawai pajak dapat ditingkatkan, namun harus sesuai dengan standart penerimaan pegawai baik itu mutu dan kualitas dari calon pegawai pajak tersebut.
3. pengetahuan masyarakat yg terbatas mengenai manfaat pajak dan pengelolaannya Menjadi kendala karena akan menyebabkan adanya Prasangka-prasangka negatif kepada pegawai perpajakan. Masyarakat cenderung merasa bahwa membayar pajak seperti membuang-buang uang saja, karena masyarakat belum merasakan bukti nyata dari pembayaran pajak yang selama ini mereka lakukan. hal ini didukung dengan banyaknya para pejabat pemerintahan yang tersandung kasus
korupsi dalam menjalankan pembangunan proyek-proyek dari hasil penerimaan pajak. Oleh sebab itu prasangka negatif harus digantikan dengan prasangka positif. Sebab, prasangka negatif ini akan menyebabkan para wajib pajak bersikap defensif dan tertutup. Mereka akan cenderung menahan informasi dan tidak co operatif karena masyarakat tidak tau manfaat dari penerimaan pajak tersebut. masyarakat harusnya banyak membaca artikel atau buku-buku tentang manfaat serta pengelolaan perpajakan Indonesia agar wawasan dan pengetahuan dari masyarakat dapat terbuka dan lebih memahami fungsi dari penerimaan pajak.
Dibalik dari pemasalahakn-permasalahan diatas, ada berbagai upaya-upaya yang telah ditempuh pegawai pajak dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Kantor pajak menyediakan
1. Tempat Pelayanan Terpadu (TPT)
Untuk meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak dibentuk suatu tempat pelayanan terpadu (TPT) di setiap kantor pelayanan pajak, seperti penerimaan dokumen atau laporan perpajakn (SPT, SSP, dan sebagainya) yang diserahkan langsung oleh Wajib Pajak, sehingga tidak ke masing-masing seksi.
2. Help Desk
Kebingungan dan kesulitan yang kadang-kadang dialami oleh masyarakat bila berhubungan dengan suatu kantor pajak termasuk instansi pemerintah. Selain informasi sangat minim dan tidak mudah memperoleh dan dimiliki lebih-lebih informasi yang terkait dengan urusan atau keperluan (perpajakan) yang harus diselsaikan. Untuk menghilangkan kebingungan dan kesulitan ini, serta agar mudah diperoleh segala informasi yang dibutuhkan mengenai perpajakan maka di setiap Kantor Pelayanan Pajak (KPP) telah disediakan help desk yang lokasinya di lobby gedung kantor pelayanan pajak (KPP) atau tempat pelayanan terpadu (TPT).
3. Call Center
Bentuk lain yang dapat dimanfaatkan oleh Waib Pajak adalah “Call Center”, yang fungsi utamanya adalah menyangkut pelayanan (konfirmasi, prosedur, peraturan, material perpajakan, dan lainya), dan penanganan Complaint melalui televon seluler 4. Media Informasi Pajak
Untuk melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan, Wajib Pajak sangat memerlukan informasi atas peraturan perpajakan. Demikian juga mengenai ketentuan praktis terkait persyaratan, formulir, dan lainya. Guna melayani kebutuhan Wajib Pajak untuk hal tersebut, di KPP disediakan sarana atau
medianya, yakni “Media Informasi Pajak” dengan bentuk touch screen. Wajib Pajak dapat mengakses segala sesuatu hal yang
berhubungan dengan pajak dibutuhkan secara gratis di Media Informasi Pajak.
5. Website
Dalam rangka mempermudah akses informasi perpajakn kepada masyarakat, terlebih lagi dengan iklim yang mengglobal, telah di buat website perpajkan yang dikelola DJP, yaitu www.pajak.go.id. Demikian juga Oleh Kantor Wilayah maupun
KPP telah banyak yang membuat website masing-masing, terutama dalam rangka memberikan informasi dan pelayanan terhadap Wajib Pajak yang dikelola.
6. Penyuluhan
Pegawai pajak mulai memberikan penyuluhan tentang perpajakan kepada masyarakat disuatu tempat maupun langsung kerumah-rumah.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan mengenai Etika Pegawai Pajak dalam member Pelayanan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Medan Barat, peneliti dapat mengambil kesimpulan dan memberikan saran sebagai berikut:
A. KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pajak merupakan perwujudan dari pengabdian dan peran serta wajib pajak secara langsung dalam melaksanakan kewajiban perpajakan yang diperlukan untuk pembiayaan Negara dan pembangunan nasional.
2. Etika baik yang ditunjukkan pegawai pajak terhadap masyarakat akan berdampak kepada loyalnya masyarakat dan respeknya masyarakat terhadap kinerja pegawai di KPP Pratama Medan Barat.
3. Pelayanan dan peyajian informasi yang cepat, tepat dan akurat sangat penting sekali bagi pertumbuhan atau perkembangan suatu organisasi atau instansi, karena dengan perkembangan zaman yang sangat pesat saat ini apalagi dengan berkembangnya sistem pengolahan data berbasis komputer sangat memudahkan pelayanan pegawai terhadap masyarakat agar tercipta kepuasan pelayanan di KPP Pratama Medan Barat.
4. Kepatuhan pegawai terhadap tata tertib yang ada di KPP Pratama Medan Barat, akan mendorong terciptanya kualitas pegawai yang memenuhi standard sebagai PNS ( Pegawai Negeri Sipil ) yang mampu memberikan dampak positif bagi KPP Pratama Medan Barat dalam meningkatkan penerimaan pajak khususnya di wilayah kantor tersebut.
5. KPP Pratama Medan Barat tidak hanya memberikan tempat pelayanan terpadu (TPT) di Kantor saja, tetapi para pegawai mulai memberikan pelayanan melalui penyuluhan perpajakan kepada masyarakat. Selain itu KPP Pratama Medan Barat juga memberikan pelayanan melalui call center dan website kepada masyarakat agar mempermudah proses pelayanan.
B. SARAN
Berdasarkan hasil analisis dan kesimpulan, maka penulis mengemukakan saran sebagai berikut :
1. Penulis mengharapkan agar masyarakat mulai patuh akan membayar pajak dan mengetahui apa saja kewajiban mereka sebagai warga Negara Indonesia.
Bukan hanya selalu menuntut hak mereka terhadap pemerintah, tanpa pernah melakukan kewajiban mereka.
2. Para pegawai seharusnya selalu menerapkan Etika yang baik dalam melayani masyarakat, sehingga menciptakan kepercayaan masyarakat terhadap KPP Pratama Medan Barat sebagai instansi pemerintah yang berwenang dalam penerimaan pajak.
3. KPP Pratama Medan Barat diharapkan dapat menyediakan sarana pendukung kepada pegawai , seperti komputer yang dapat membantu dan memudahkan pegawai dalam merekam atau menyimpan data saat melayani masyarakat baik itu data dalam skala kecil, ataupun besar. Selain itu KPP Pratama Medan Barat harus mampu menciptakan pelayanan-pelayanan terbaru agar dapat memuaskan masyarakat.
4. Pegawai diharapkan mampu menerapkan tata tertib bukan hanya di kantor saja, tetapi dapat menerapkannya di luar kantor, sehingga etika baik yang ada pada diri pegawai tersebut dapat timbul secara sendirinya.