2 Deskripsi Proyek
3.5 Paket Dokumen Perlindungan Lingkungan dan Sosial
Dampak-dampak ini meliputi hal-hal yang signifikan seperti kemacetan lalulintas, pengurangan mutu air karena debu dan pengeluaran bau busuk, bertambahnya tingkat bising, reduksi air permukaan dan mutu air laut, dll. (lihat Bagian 5 untuk penjelasan lebih rinci tentang dampak lingkungan negatif dari proyek ini).
62. Proyek ini akan secara potensial memiliki dampak lingkungan yang buruk yang mungkin peka dan tak baik dan dengan demikian dapat mempengaruhi wilayah-wilayah yang tersebar. Dengan demikian proyek ini memicu Kebijakan Operasional Penilaian Lingkungan Bank Dunia (OP 4.01) dan mengenai persyaratan kebijakan ini ditentukan sebagai kategori EA jenis A. Kebijakan ini akan berlaku untuk semua lokasi proyek. Sebagai tambahan, semua tiga lokasi pembuangan, yaitu CDF Ancol, TPA Bantar Gebang dan fasilitas PPLi dianggap sebagai bagian integral dari proyek ini.
3.4 Kebijakan dan Persyaratan Perlindungan Sosial yang Sesuai dengan
Bank Dunia.
63. Proyek ini diharapkan memiliki dampak sosial signifikan positif. Terutama, pengurangan peristiwa banjir akan mengurangi gangguan dalam masyarakat di wilayah proyek. Ahli waris penerima uang akan menjadi dominan dalam kehidupan masyarakat miskin yang tinggal di daerah rawan banjir dalam ruang lingkup proyek. Bagaimanapun juga, pemukiman kembali secara terpaksa kini diidentifikasi diharuskan dalam enam lokasi proyek (lihat Pasal 5 untuk penjelasan lebih rinci tentang dampak sosial yang berpotensi negatif penting dari proyek ini), Atas alasan ini, proyek memicu Kebijakan Pemukiman kembali dari Bank Dunia (OP 4.12). Kebijakan ini akan berlaku dalam semua lokasi proyek (termasuk lokasi-lokasi terkait).
3.5 Paket Dokumen Perlindungan Lingkungan dan Sosial.
3.5.1 Dokumen perlindungan lingkungan
64. Penilaian Lingkungan menyeluruh telah dilaksanakan JUFMP dalam proses dan cara yang sejajar dengan paket dan rangkaian pekerjaan seperti dinyatakan dalam Tabel 3-1 di bawah. Untuk pekerjaan Tahap 1, AMDAL orisinal (yaitu ANDAL, RKL dan RPL) disiapkan oleh PMU pada tahun 2009 untuk memenuhi persyaratan lingkungan Pemerintah Indonesia dan diperiksa dan disetujui oleh BPLHD Provinsi pada Maret 2010 (mengikuti proses AMDAL yang dijelaskan dalam Gambar 31). Selama persiapan proyek, Bank Dunia juga memeriksa AMDAL Tahap 1 untuk kesesuaian dengan Penilaian Lingkungannya sendiri OP 4.01 dan ditemukan ada kesenjangan dalam dokumen. Dari sini PMU menyiapkan dan memakai Laporan tambahan Tahap 1 JUFMP (meliputi rekomendasi tindakan tambahan) untuk menjembatani kesenjangan yang ditemukan dengan persyaratan OP 4.01 Bank Dunia.
65. Pekerjaan Tahap 2 telah diidentifikasi dan meskipun bahwa pekerjaan ini akan dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya setelah pekerjaan Tahap 1, PMU telah menyelesikan AMDAL lengkap dan draft pertama dari laporan ini kini sedang diperiksa oleh BPLHD. Pekerjaan Tahap 2 tidak akan ditaksir oleh Bank Dunia selama persiapan proyek tapi gantinya akan ditaksir selama pelaksanaan proyek. Oleh sebab itu, PMU telah menyiapkan Kerangka Pengelolaan Lingkungan dan Sosial (ESMF) untuk memenuhi persyaratan lingkungan dan sosial dari pekerjaan Tahap 2.
32
66. AMDAL untuk Fasilitas Pembuangan Tertutup (CDF) Ancol mengharuskan agar tiap material yang ditimbun untuk maksud reklamasi ditutup pada semua sisi untuk mencegah material timbunan bersentuhan dengan laut terbuka dan dengan demikian berisiko ke laut dan mengkontaminasi laut. Oleh sebab itu, disain rekayasa untuk lokasi Ancol adalah untuk fasilitas tertutup. AMDAL untuk CDF Ancol pertama kali disiapkan oleh PT PJA, pemegang ijin untuk lokasi reklamasi pada 2006. Disain fasilitas selanjutnya diubah ketika DKI Jakarta meminta agar material endapan kerukan JUFMP ditimbun di CDF Ancol, hingga menuntun pada revisi AMDAL yang dilaksanakan pada Desember 2008. AMDAL perbaikan ini untuk CDF Ancol kemudian diserahkan untuk pemeriksaan dan persetujuan kepada BPLHD Provinsi yang menyetujuinya pada Maret 2009.
67. Selama persiapan proyek, Bank Dunia juga memeriksa perbaikan RKL dan RPL CDF Ancol27 dan menemukan persyaratan bagi tindakan tambahan untuk lebih menguatkan dokumen-dokumen ini dan untuk memenuhi persyaratan Bank Dunia sendiri. Tindakan tambahan ini yang dicatat dalam Laporan tambahan Perbaikan RKL/RPL Ancol disiapkan oleh PMU adalah (i) untuk memeriksa ijin-ijin dan sumber pasir dan untuk mencatat dampak potensial di lokasi yang berhubungan dengan ekstraksi 8,6 juta m3 pasir, (ii) memperkuat pengawasan dan pemantauan hari demi hari pada konstruksi dan pemenuhan CDF Ancol oleh membolehkan pemakaian akses Konsultan Pengawas Proyek pada CDF Ancol dan keterbukaan rincian rencana pengelolaan lalulintas. PT PJA setuju dengan persyaratan tambahan ini pada Laporan Tambahan Perbaikan RKL/RPL Ancol. Oleh sebab itu, menyangkut persyaratan AMDAL Indonesia, PT PJA akan memasukkan tindakan tambahan ini dalam laporan kemajuan RKL dan RPL pada kwartal berikutnya, yang berlaku pada April 2011. Sebagai catatan bahwa pekerjaan pengerukan JUFMP tidak akan dilakukan sampai evaluasi terhadap tempat pembuangan tertutup Ancol telah dilakukan dan dapat kualitas konstruksi termasuk kedalam nya tanggul penutup dapat diterima secara teknis (lihat Bagian 3.7.2)
68. Lokasi-lokasi pembuangan lain, yaitu, TPA Bantar Gebang untuk sampah padat dan PPLi untuk sampah berbahaya adalah fasilitas yang ada yang telah beroperasi di bawah ijin lingkungan. Sebagai bagian dari pemeriksaan riset dan analisa yang layak maka Bank Dunia telah mengunjungi dua fasilitas ini:
• Tempat Pembuangan Sampah PPLi (untuk bahan berbahaya, jika ada). Kunjungan lokasi dilaksanakan oleh tim Bank Dunia pada 19 Oktober, 2010. PPLi suatu fasilitas pengelolaan sampah berbahaya yang berijin yang beroperasi sejak tahun 1994, sahamnya 5 % dimiliki oleh Pemerintah Indonesia melalui Kementerian BUMN sementara sisa saham 95 % dimiliki oleh Dowa Eco System Co. Ltd., Jepang. PPLi adalah fasilitas pertama di Indonesia yang menyediakan pelayanan pengelolaan sampah berbahaya dalam rangkaian lengkap (berlaku pembayaran komisi tip) termasuk transportasi, proses perlakuan, dan pembuangan di tempat pembuangan sampah modern dan aman yang mematuhi standar pengelolaan sampah internasional termasuk standar Uni Eropa dan EPA-Amerika Serikat. Terletak di kecamatan Cileungsi, Bogor, perusahaan memiliki 50 ha tempat pembuangan sampah yang mempunyai kapasitas total lebih dari 3 juta ton (pada saat kunjungan tim Bank Dunia, hanya 2 ha yang telah dipakai). Lapisan gabungan ganda, dibangun dari tanah liat bentonit dan polietilen kepadatan tinggi (HDPE),
27
Review akan meliputi semua update termasuk kedalam nya usulan perubahan desain tanggul penutup utara (per Maret 2011), yang mana rekomendasi dari tim Bank Dunia telah dimasukan kedalan usulan tersebut sebelum diajukan Ancol ke BPLHD
33
membatasi dasar tanah tempat pembuangan sampah, yang mencegah lindi mengkontaminasi lingkungan sekitar. Sampah baru ditutup dengan tanah atau material sintetis setiap hari. Sekali daerah tempat buang sampah kapasitasnya penuh, kemudian ditutup dengan tanah liat dan HDPE untuk mencegah air merembes ke dalam sel tempat sampah tertutup. Berdasar pada penilaian cepat di lokasi, dikonfirmasi bahwa fasilitas PPLi memenuhi aturan nasional dan propinsi dan lebih penting lagi bahwa ia masih memiliki cukup kapasitas untuk menerima sampah berbahaya (jika ada ditemukan selama pelaksanaan proyek). Proyek mengalokasikan dana untuk menjamin agar dalam kejadian yang hampir tak mungkin sehingga sampah endapan berbahaya ditemukan dan BPLHD memutuskan agar sampah harus dibuang di fasilitas PPLi, maka dana tersedia untuk maksud ini.
• TPA Bantar Gebang (untuk Pembuangan Sampah Padat). Lokasi pembuangan Bantar Gebang terletak di daerah sekitar satelit Kota Bekasi, kira-kira 35 km di timur Jakarta. Tempat pembuangan sampah ini dimiliki oleh Pemerintah Propinsi DKI Jakarta dan telah beroperasi sejak 1989 dan meliputi luas 110,3 hektar. Lokasi ini secara eksklusif menerima sampah padat domestik dari DKI Jakarta yang kira-kira 5000 t/hari, dari total 6000 ton sampah padat yang dihasilkan per hari di DKI Jakarta. Untuk tiap ton sampah, DKI membayar komisi Rp. 100.000 untuk operator lokasi (berdasar pada kunjungan lokasi waktu Desember 2010). Fasilitas ini dirancang untuk menangani 19 juta m3 sampah dan sejak pembukaannya, kira-kira 10 juta m3 sampah telah dibuang di Bantar Gebang. Lokasi ini dikelola oleh perusahaan pribadi, yaitu kerjasama PT Gudang Tua Jaya dan PT Navigat Organis Energy Indonesia (di bawah pengawasan Dinas Kebersihan DKI Jakarta). Dalam dua tahun dari masa 15 tahun kontraknya (kontrak berakhir pada tahun 2023), operator lokasi telah menambahkan beberapa fasilitas baru, yang meliputi (i) Pembangkit listrik tenaga sampah-metan (disain untuk 23 megawatt), (ii) Fasilitas pupuk kompos (kapasitas 500 ton per hari); dan (iii) tempat pembuangan sampah sanitary baru. Mengenai Proyek ini, PMU dan Bank Dunia bersama-sama telah mengunjungi lokasi dan mengkonfirmasi bahwa TPA ini mempunyai kapasitas untuk menerima 95000 m3 sampah padat yang akan disingkirkan dari kali, kanal dan waduk-waduk selama pelaksanaan Proyek dan bahwa lokasi mempunyai ijin operasi yang sah (Surat Gubernur Jawa Barat Nomor 593.82/SK282.P/AGK/DA/86 tertanggal 25 Januari 1986 jo. 593.82/SK.116.P/AGK/DA/26-1987) dan sesuai dengan aturan lokal. Pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan dilaksanakan oleh operator lokasi dan dilaporkan secara teratur atas basis triwulan kepada BPLHD Jakarta dan BPLHD Bekasi.
69. Uji tuntas lingkungan yang dilaksanakan untuk lokasi proyek pembuangan diringkaskan dalam Tabel 3-1.
34
Tabel 3-1 Ringkasan Proses Uji Tuntas Untuk Lokasi-Lokasi Pembuangan
Nama Proyek Lokasi Buang Jenis Proyek sampah yang dibuang di fasilitas ini Status Operasi selama Persiapan Proyek Persyaratan Lingkungan Proyek
Ringkasan Tindakan Uji Tuntas dari Bank Dunia Lokasi CDF Ancol (119 ha) Material Kerukan Tak Bahaya (non B3) Pada saat persiapan proyek, disain rekayasa CDF Ancol sedang difinalkan dan fasilitas sedang dibangun, dengan target selesai pada Desember 2011. Perbaikan ANDAL, RKL dan RPL disetujui pada Maret 2009 (BPLHD) Laporan tambahan Perbaikan RKL/RPL Ancol
• Memeriksa AMDAL (termasuk menyewa konsultan independen untuk melakukan pemeriksaan)
• Memeriksa disain CDF (dan perubahan disain selanjutnya)
• Melakukan (dengan BPLHD provinsi) tugas pengawasan lingkungan bersama pada pekerjaan yang sedang berlangsung (kunjungan bersama terakhir: November 2010).
• Lanjutkan kunjung lokasi selama persiapan proyek untuk memeriksa konstruksi CDF yang sedang berlangsung.
• Memeriksa EA Suplemen.
• Memeriksa dan menilai mutu sedimen di lokasi JUFMP.
• Memeriksa dan menilai dampak di lokasi dari sumber material untuk CDF (yaitu pasir dan tanah liat merah) • BD adakan diskusi teknis dengan PT.
PJA, DKI dan pemegang saham lain tentang semua aspek disain dan konstruksi CDF Ancol.
• Pemilik CDF Ancol, PT PJA setuju proyek Konsultan Pengawas (SC), juga untuk mengawasi dan memantau pelaksanaan EMP di Ancol. Ini dimasukkan dalam TOR SC. TPA Bantar Gebang Sampah Padat yang dibuang dari lokasi proyek Fasilitas yang berfungsi, beroperasi sejak tahun 1989
Fasilitas konstruksi atas Keputusan Gubernur Jawa Barat No:593.82/SK/282.P/AGK/ DA/86 tertanggal 25 January 1986 jo. 593.82/SK.116.P /AGK/DA/26-198728.
• Mengunjungi TPA untuk memeriksa ijin operasi dan lingkungan dan menilai kapasitas/kecukupan.
• SC juga akan mengawasi dan memantau kepatuhan kegiatan proyek ini di fasilitas Bantar Gebang. PPLi Material endapan kerukan yang Berbahaya, B3 (jika ditemukan). Fasilitas berfungsi, beroperasi sejak 1994
AMDAL disetujui pada bulan Juli 1993 (Kepala Badan Pengendalaian Dampak Lingkungan Kep-36/BAPEDAL/07/1993)29
• Mengunjuni fasilitas untuk memeriksa operasi, izin-izin lingkungan dan memeriksa kapasitas/kemampuan. • SC akan mengawas dan memantau untuk kesesuaian kegiatan-kegiatan proyek pada fasilitas PPLi. Ini termasuk dalam TOR SC.
28
Kemudian karena persyaratan aturan AMDAL Indonesia pertama, yaitu Peraturan Pemerintah No: 29 tahun 1986 tentang Penilaian Dampak Lingkungan. Dinas Kebersihan DKI melakukan Studi AMDAL dan AMDAL disetujui pada 1989.
29
35
3.5.2 Dokumen perlindungan sosial
70. Untuk memenuhi persoalan kebijakan perlindungan ini dan untuk menjamin hal tersebut pelaksanaan kegiatan proyek yang akan dilaksanakan dengan cara bermasyarakat yang berkelanjutan, DKI Jakarta telah menyiapkan Kerangka Kebijakan Pemukiman kembali (RPF). Kebijakan kerja menanggapi hak-hak WargaTerkena Proyek (WTP) yang adalah penghuni tanah negara atau pemerintah juga hak-hak WTP yang dipengaruhi oleh pembebasan tanah yang dimiliki pribadi, rasional untuk kompensasi bagi aset-aset yang hilang pada ongkos pemindahan, ketentuan khusus untuk menanggapi kelompok-kelompok rentan, dan bantuan untuk pemulihan penghidupan. RPF akan menuntun persiapan Rencana Pemukiman kembali (RP) di lokasi-lokasi proyek di mana pemukiman kembali secara terpaksa diharuskan (termasuk lokasi-lokasi terkait). Pasal 8 memberikan diskusi yang lebih rinci tentang pendekatan proyek untuk perencanaan pemukiman kembali dan pemukiman kembali, termasuk pengelolaan dampak sosial dan aspek-aspek penting dari proses, prosedur dan pelaksanaan RPF dan RP.
3.5.3 Persiapan dan penyampaian dokumen-dokumen perlindungan
71. Sesuai dengan persyaratan Indonesia dan Bank Dunia, dokumen perlindungan lingkungan dan sosial untuk masing-masing pekerjaan dan lokasi akan dibuka. Berdasarkan rangkaian pelaksanaan proyek dalam dua tahap, yaitu Tahap 1 dan Tahap 2, diperkirakan berbagai pekerjaan Tahap 2 akan dimulai -- kira-kira 12 sampai 18 bulan setelah persetujuan proyek (lihat Bagian 2.4 untuk penjelasan rangkaian sebagai mekanisme pengelolaan risiko pelaksanaan kunci). Infrastruktur pengelolaan banjir di Jakarta berada dalam kondisi yang jelek akibat tidak adanya operasi pemeliharaan dan tidak optimalnya fungsi drainase setempat. Kondisi ini menjadikan dampak kerusakan akibat banjir menjadi tidak terprediksi (terutama selama musim banjir tahunan)30. Untuk itu, perubahan disain dalam merespon perubahan kondisi yang terus menerus selama implementasi proyek sangat mungkin terjadi, yang konsekuensi nya memerlukan revisi terhadap dokumen perlindungan. Sebagai akibatnya, kualitas implementasi dan hasil lingkungan dan sosial terkait pekerjaan Tahap 2 hanya dapat dijamin melalui rangkaian persiapan, penyampaian, dan pelaksanaan AMDAL dan RP yang sama. Dokumen perlindungan lingkungan yang berlaku yang berhubungan dengan Tahap 1 pekerjaan akan dibuka sebelum penaksiran31. ESMF dan RPF akan meliputi persyaratan pengelolaan lingkungan dan sosial pekerjaan Tahap 2, dan akan menuntun persiapan, finalisasi dan pelaksanaan dari Tahap 2 terkait AMDAL dan RP. AMDAL dan RP Tahap 2 akan diselesaikan selama pelaksanaan proyek (sebelum pekerjaan terkait dimulai) dan akan melalui proses pemeriksaan dan „tidak ada keberatan‟ dari Bank Dunia sebelum pembukaan dan pelaksanaan. Pelaksanaan pekerjaan pada suatu lokasi hanya akan dimulai jika Bank DUnia telah memberikan “ketidak-beratan” pada dokumen AMDAL dan RPK untuk lokasi tersebut. ESMF dan RPF, dan juga AMDAL dan RPK terkait akan disediakan di lapangan yakni POSKO, yang akan dibuat pada setiap lokasi sebelum pelaksanaan pekerjaan.
72. Tabel 3-2 meringkaskan status pembukaan paket dokumen proyek perlindungan lingkungan dan sosial. Rencana persiapan untuk Tahap 2 yang berhubungan dengan AMDAL dan RPK (serta waktu pelaksanaan Tahap 2) disajikan dalam Lampiran 2
30
Secara umum, musim hujan tahunan berlangsung pada bulan November sampai April, kejadian banjir adalah tahunan, namun selama satu dekade terakhir banjir yang terjadi semakin meningkat daya rusak nya
31
36
Tabel 3-2 Ringkasan Dokumen Lingkungan dan Sosial dan Status Pembukaan
Item Dokumen Setuju /
Periksa Bahasa Dokumen Tersedia secara lokal Tanggal Pembukaa n pada publik
Metode/Jalan untuk Pembukaan
Proyek Ringkasan Terpadu Analisis Dampak Lingkung an Bank Dunia review: (Juni 2011) Draft Bahasa Indonesia & Inggris 29 Jul 2011 Kementerian PU:
(i) Website Kementerian PU.
Bank Dunia:
(i) Public Information Center (PIC) di Jakarta, Indonesia,
(ii) The Info Shop, 1818 H Street N.W., Washington DC 20043.
(iii) Website Bank Dunia Kerangka Pengelola an Lingkung an dan Sosial (ESMF)1 World Bank periksa: (Jan 2011) Draft (Juni 2011) Draft English Bahasa Indonesia & English 26 Jan 2011 29 Jul 2011 Kementerian PU:
(i) Website Kementerian PU.
Bank Dunia:
(i) Public Information Center (PIC) di Jakarta, Indonesia,
(ii) The Info Shop, 1818 H Street N.W., Washington DC 20043.
(iii) Website Bank Dunia Kerangka Kebijakan Pemukima n kembali (RPF)2 World Bank periksa: (May 2011) Final Bahasa Indonesia & English 7 Jul 2011 DKI:
(i) website DKI
(ii) Lokasi Proyek (kantor kelurahan)
Kementerian PU:
(i) Website Kementerian PU.
Bank Dunia:
(i) Public Information Center (PIC) di Jakarta, Indonesia,
(ii) The Info Shop, Washington DC. (iii) Website Bank Dunia
Pekerjaan Tahap 1 AMDAL3 BPLHD setuju: (March 2010) Final Bahasa Indonesia & Inggris 30 Mar 2010 BPLHD:
Copy cetakan ada di kantor BPLHD DKI Jakarta, Nyi Ageng Serang Building, lantai 10, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta
World Bank review: (Jan 2011) Final Bahasa Indonesia & Inggris 26 Jan 2011 Kementerian PU:
(i) Website Kementerian PU.
Bank Dunia:
(i) Public Information Center (PIC) di Jakarta, Indonesia,
(ii) The Info Shop, Washington DC. (iii) Website Bank Dunia
Laporan Tambahan Tahap 1 JUFMP World Bank review: (Jan 2011) Draft (Juni 2011) Draft Bahasa Inggris Bahasa Indonesia & English 26 Jan 2011 29 Jul 2011 Kementerian PU:
(i) Website Kementerian PU.
Bank Dunia:
(i) Public Information Center (PIC) di Jakarta, Indonesia,
(ii) The Info Shop, Washington DC. (iii) Website Bank Dunia