• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandangan Agama Kristen Katolik

Dalam dokumen PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA (Halaman 51-55)

BAB II POLEMIK EUTHANASIA DALAM

2.3 Polemik Euthanasia dalam Pandangan Agama,

2.3.1 Polemik Euthanasia dalam Pandangan Agama

2.3.1.4 Pandangan Agama Kristen Katolik

Kitab suci Perjanjian Baru (Injil) sebagian besar tidak memuat secara langsung tentang aturan-aturan kehidupan secara konkret. Injil hanya memberikan prinsip-prinsip dasar yang harus dipegang oleh orang Katolik dalam bertingkah laku, seperti misalnya; cinta kasih, keadilan, kesediaan mengampuni orang lain, berbelas kasihan dan sebagainya.24 Kitab suci Injil pada intinya menghendaki agar umat Katolik bersedia menghormati martabat setiap manusia sebagai makhluk ciptaan menurut citra (gambar) Allah. Ada pun konkretisasi lebih lanjut (rinci) dari prinsip-prinsip ini harus dicari oleh umat sendiri dengan bimbingan roh kudus.

Umat Katolik dalam menghadapi berbagai macam masalah kehidupan harus berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar yang terdapat dalam kitab suci Injil. Tindakan konkret sehari-hari seorang Kristiani senantiasa harus diwarnai oleh prinsip-prinsip tersebut. Begitu juga dalam menghadapi masalah euthanasia, seorang Katolik harus dapat mengambil sikap yang bijaksana penuh tanggungjawab dan dengan argumentasi yang ketat dan jelas.

Masalah euthanasia yang cukup problematis adalah apabila menghadapi pasien yang menderita suatu penyakit, misalnya kanker ganas. Penyakit kanker tersebut sulit untuk disembuhkan, bahkan menurut perhitungan ilmu kedokteran sudah tidak mungkin dapat disembuhkan, tetapi penyakit ini tidak cepat mematikan. Pasien tersebut sangat menderita sekali. Belum lagi biaya pengobatan dan obat-obatan yang harganya mahal, sementara keadaan ekonomi keluarga pasien semakin kesulitan.

Menghadapi problematika seperti itu, mendorong kita mencari jalan pintas yang praktis-pragmatis sebagai jalan keluarnya.

Misalnya saja jalan pintas yang terpikirkan adalah berniat melakukan euthanasia aktif terhadap pasien tersebut.25

24 Petrus Yoyo Karyadi, 2001, Euthanasia dalan Perspektif Hak Asasi Manusia, Media Presindo, Yogyakarta, hlm. 103.

25 Ibid.

Tindakan euthanasia aktif pada hakikatnya sama dengan membunuh (menghilangkan nyawa) pasien, sekalipun dengan dalih argumentatif. Membunuh adalah melanggar perintah yang ke 6, dari sepuluh perintah Allah, yaitu “jangan membunuh”, dan lagi “marah dan membunuh berakar dalam kebencian (Matius 5:21)”.26 Kehidupan dan kematian merupakan anugerah Allah di Surga. Hidup matinya seseorang adalah hak Allah semata.

Manusia tidak mempunyai wewenang untuk menentukan secara deÞ nitif hidup dan matinya orang lain atau dirinya sendiri.

Alasan-alasan seperti rasa kasihan melihat penderitaan pasien, alasan ekonomi, atau kerepotan mengurus pasien tersebut, adalah tidak bisa mengesampingkan hak eksklusif dari Allah Bapa, yaitu hak untuk menentukan kehidupan dan kematian atas setiap manusia. Segala pengorbanan melalui jalan euthanasia adalah pengorbanan yang sia-sia belaka.

Injil Yohanes 15:23, menekankan aspek pengorbanan kasih yang sangat besar khasiatnya apabila seseorang karena kasihan

“memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Memang Tuhan Yesus telah berbuat demikian. Pengorbanan Kristus semuanya bersifat positif semata-mata tanpa kecuali. Pengorbanan Kristus memberikan keselamatan untuk kita semua. Lain halnya dengan pengorbanan seseorang dalam bentuk euthanasia (aktif).

Pasien (keluarganya) yang telah meminta dokternya untuk melakukan euthanasia terhadapnya, adalah semata-mata demi kepentingan pasien atau keluarganya. Jadi antara pengorbanan Kristus yang membawa keselamatan bagi kita semua, dengan pengorbanan seseorang yang mati karena euthanasia adalah berbeda sekali.

Euthanasia (aktif) adalah merupakan pembunuhan dan bertentangan dengan perintah Allah yang ke-6, yaitu “jangan membunuh”. Sekarang bagaimana kalau kita menghadapi pasien yang sudah dalam keadaan in persistent vegetative state. Pasien

26 Ibid.

tersebut hanya dapat hidup karena bantuan suatu alat life support system. Apakah masih layak (manusiawi) kehidupannya tetap dipertahankan secara mekanik, yang sebetulnya ia sudah menjadi mayat? Bukankah dengan penerapan alat life support system kita telah bertindak sebagai Tuhan?27

Pemasangan alat life support system berarti kita telah berusaha keras untuk menghindari kematian, padahal kematian itu sendiri tidak dapat dihindari oleh siapa pun. Kematian pasti akan terjadi pada diri setiap manusia, sehingga kenapa harus berbuat sesuatu kebodohan untuk menghindari sesuatu yang sudah pasti terjadi.

Dengan alat life support system berarti kita telah memperlakukan pasien dengan tanpa adanya rasa cinta kasih sebagai anak-anak Allah.28

Pasien akan merasa terisolasi dari lingkungan kerabat dan saudaranya. Ia hanya menjadi objek teknologi semata. Memang secara artiÞ sial ia sudah mati karena sudah tidak mampu memberikan tanggapan-tanggapan, akan tetapi jiwanya tidak mati. Ia masih bisa berbicara dengan Allah Bapa. Biarkan Allah sendiri yang memanggil ia untuk kembali pada-Nya.

Ajaran agama Katolik tidak membenarkan membiarkan orang atau pasien untuk menderita secara terus menerus, karena justru kehidupannya telah diperpanjang secara mekanik (buatan).

Apabila perawatan atau (perpanjangan hidup) harus segera dihentikan, karena sudah tidak ada artinya lagi, maka perawatan tidak perlu dilakukan lagi. Akan tetapi, selama kehidupan pasien masih dapat diperpanjang dengan batas-batas yang manusiawi, kita sebagai anak-anak Allah diperkenankan untuk berusaha (dengan bimbingan Roh Kudus) untuk memperpanjang kehidupan pasien (bukan mempertahankan proses kematian). Euthanasia pasif menurut ajaran agama Katolik dapat dibenarkan.29 Jadi ajaran agama Katolik berpandangan pro terhadap euthanasia pasif.

27 Ibid.

28 Ibid.

29 Ibid.

Berbeda halnya dengan euthanasia tidak langsung. Euthanasia tidak langsung adalah usaha untuk meringankan penderitaan pasien, tetapi usaha tersebut dapat menimbulkan efek samping yaitu mungkin hidup pasien diperpendek. Ucapan Paus Pius XII yang diumumkan pada tanggal 24 Pebruari 1957 (hukum, No. 6, 1979:24) mengatakan bahwa:

Apabila….pemberian obat narkotik dengan sendirinya menimbulkan dua efek yang berlainan, pada satu pihak menghilangkan kesakitan dan pada pihak lain dapat memendekkan jangka waktu hidup, maka hal itu diperkenankan; asal harus diperhatikan bahwa di antara kedua efek itu terdapat hubungan yang masuk akal dan apabila keuntungan daripada yang satu mengimbangi kerugian yang lain.

Penanganan pasien dalam keadaan sangat kesakitan (menderita) karena penyakitnya, untuk meringankan rasa sakit tersebut, dokter dapat memberikan obat peringan (narkotik) terhadapnya, walaupun obat peringan tersebut secara berlahan-lahan dapat memperpendek usia pasien tersebut. Akan tetapi, apabila obat peringan (narkotik) tersebut sudah tidak mampu lagi untuk memperingan rasa sakit, maka pemberian obat peringan tersebut sudah tidak diperkenankan lagi, karena hanya akan mengakibatkan hidup pasien diperpendek.

Menurut teologi moral Katolik, tindakan dengan efek ganda dapat dibenarkan asal dipenuhi tiga syarat, yaitu:

1. Tujuan yang baik tidak tercapai melalui efek yang buruk. Itu berarti bahwa penewasan pasien tidak boleh menjadi sarana bagi pengurangan penderitaan pasien. Jadi, menghilangkan penderitaan pasien dengan cara mematikannya tentu tidak dapat dibenarkan. Tujuan yang baik pun (mengurangi penderitaan) tidak pernah menghalalkan sarana buruk (mematikan).

2. Efek buruk (kematian pasien) tidak menjadi tujuan langsung tindakan (pemberian narkotik), melainkan hanya dibiarkan terjadi karena memang tidak dapat dielakkan apabila tindakan itu (pemberian narkotik) mau diberikan (demi pengurangan rasa sakit).

3. Alasan untuk mengambil tindakan dengan efek ganda itu harus cukup penting, misalnya rasa sakit yang sudah tidak tertahankan lagi, sedangkan untuk meringankannya hanya dapat melalui pemberian narkotik yang mempunyai efek memperpendek kehidupan.30

Syarat-syarat tersebut asalkan terpenuhi, maka pemberian obat peringan (narkotika) dengan tujuan agar rasa sakit (penderitaan) dapat diperingan, adalah dibenarkan menurut ajaran Katolik. Dengan kata lain, ajaran Katolik sependapat dengan euthanasia tidak langsung apabila tujuannya justru bukan memperpendek kehidupan pasien, melainkan untuk membantu meringankan penderitaan pasien.

Dalam dokumen PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA (Halaman 51-55)