BAB IV PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA TENTANG
4.2 Pembaharuan Sistem Hukum Pidana Masa Mendatang 144
4.2 Pembaharuan Sistem Hukum Pidana Masa Mendatang 4.2.1 Hukum Sebagai Suatu Sistem
Membahas hukum sebagai suatu sistem, perlu kiranya dibahas terlebih dahulu mengenai sistem itu sendiri karena bagaimanapun juga hukum sebagai suatu sistem akan tunduk pada batasan dan ciri-ciri sistem tersebut. Terdapat dua pengertian yang penting untuk dikenali mengenai sistem. Pengertian yang pertama yaitu sistem sebagai jenis satuan, yang mempunyai tatanan tertentu. Tatanan tertentu di sini menunjuk kepada suatu struktur yang tersusun dari bagian-bagian. Kedua, sistem sebagai suatu rencana, metoda, atau prosedur untuk mengerjakan sesuatu.78
Pemahaman yang umum mengenai sistem menyebutkan
78 William A. Shrode dan Dan Voich, 1974. Organization and Management, Basic System Concept, dalam Satjipto Rahardjo, 2006, Ilmu Hukum, Cetakan ke-6, Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm.48.
bahwa suatu sistem adalah: “suatu kesatuan yang bersifat kompleks, yang terdiri atas bagian-bagian yang berhubungan satu sama lain”.79 Pemahaman yang demikian tersebut hanya menekankan pada ciri keterhubungan dari bagian-bagiannya, tetapi mengabaikan cirinya yang lain, yaitu bahwa bagian-bagian tersebut bekerja bersama secara aktif untuk mencapai tujuan pokok dari kesatuan tersebut.80 Apabila suatu sistem itu ditempatkan pada pusat pengamatan yang demikian itu maka pengertian-pengertian dasar yang terkandung di dalamnya adalah sebagai berikut:
Sistem itu berorientasi kepada tujuan
Keseluruhan adalah lebih dari sekedar jumlah dari bagian-bagiannya (wholism).
Suatu sistem berinteraksi dengan sistem yang lebih besar, yaitu lingkungan (keterbukaan sistem).
Bekerjanya bagian-bagian dari sistem itu menciptakan sesuatu yang berharga (transformasi).
Masing-masing bagian harus cocok satu sama lain (keterhubungan)
Ada kekuatan pemersatu yang mengikat sistem itu (mekanisme kontrol).81
Beberapa alasan lain untuk mempertanggungjawabkan bahwa hukum itu merupakan suatu sistem adalah sebagai berikut:
pertama, suatu sistem hukum itu bisa disebut demikian karena ia bukan sekadar merupakan kumpulan peraturan-peraturan belaka. Kaitan yang mempersatukannya sehingga tercipta pola kesatuan yang demikian itu adalah: masalah keabsahannya.
Peraturan-peraturan itu diterima sebagai sah apabila dikeluarkan dari sumber atau sumber-sumber yang sama, seperti peraturan hukum, yurisprudensi dan kebiasaan. Sumber-sumber tersebut
79 Ibid.
80 Ibid.
81 Ibid.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
melibatkan kelembagaan seperti pengadilan dan pembuat undang-undang.
Ikatan sistem tercipta pula melalui praktik penerapan peraturan-peraturan hukum. Praktik ini menjamin terciptanya susunan kesatuan dari peraturan-peraturan tersebut dalam dimensi waktu. Sarana-sarana yang dipakai untuk menjalankan praktik itu, seperti penafsiran atau pola-pola penafsiran yang seragam menyebabkan terciptanya ikatan sistem tersebut.
Fuller mengajukan satu pendapat untuk mengukur apakah kita pada suatu saat dapat berbicara mengenai adanya suatu sistem hukum. Ukuran tersebut diletakkannya pada delapan asas yang dinamakannya principles of legality, yaitu:
1. law system contains of rules, not only based on a verdict about particular things;
(sistem hukum terdiri dari peraturan-peraturan, tidak berdasarkan putusan-putusan sesaat untuk hal-hal tertentu);
2. the rule must be publish to public;
(peraturan tersebut diumumkan kepada publik);
3. unretroactive, it will break the integrity of a system;
(tidak berlaku surut, karena akan merusak integritas sistem);
4. makes on commonly understood form;
(dibuat dalam rumusan yang dimengerti oleh umum);
5. should not be conß ict with another rule;
(tidak boleh ada peraturan yang saling bertentangan);
6. should not require an act that exceeds what can be done;
(tidak boleh menuntut suatu tindakan yang melebihi apa yang bisa dilakukan);
7. should not be frequently changed;
(tidak boleh sering diubah-ubah);
8. the rule should compability with the daily implementation.82 (harus ada kesesuaian antara peraturan dan pelaksanaan sehari-hari).
Kedelapan asas yang disampaikan Fuller tersebut sebenarnya lebih dari sekadar persyaratan bagi adanya suatu sistem hukum, melainkan memberikan pengkualiÞ kasian terhadap sistem hukum sebagai sistem hukum yang mengandung suatu moralitas tertentu. Kegagalan untuk menciptakan sistem yang demikian itu tidak hanya melahirkan sistem hukum yang jelek, melainkan sesuatu yang tidak bisa disebut sebagai sistem sama sekali.83 Merancang suatu sistem hukum sebagai salah satu perwujudan politik hukum, wajib memperhatikan sub-sub sistem atau bagian-bagian yang terintergrasi antar sub-sub sistem tersebut yang memiliki kesamaan atau kemiripan asas, struktur ataupun teori-teori, agar dapat mewujudkan tujuan yang jelas dari peraturan hukum yang akan dibentuk.
4.2.2 Pembaharuan Sistem Hukum Pidana
Mencermati pembaharuan sistem hukum pidana dari sistem hukum (legal system), terdiri dari: legal substance, legal structure, legal culture maka pembaharuan sistem hukum pidana (penal system reform) dapat meliputi ruang lingkup yang sangat luas, yaitu:
Pembaharuan substansi hukum pidana materiel (KUHP dan UU di luar KUHP), hukum pidana formal (KUHAP) dan hukum pelaksanaan pidana;
Pembaharuan struktur hukum pidana, yang meliputi antara lain pembaharuan, atau penataan institusi/lembaga, sistem manajemen/tata laksana dan mekanismenya serta sarana/
prasarana pendukung dari sistem penegakkan hukum
82 Lon L. Fuller, 1971, The Morality of Law, Yale University Press, New Haven, p. 119
83 Ibid.
a.
b.
pidana (sistem peradilan pidana); dan
Pembaharuan budaya hukum pidana, yang meliputi antara lain masalah kesadaran hukum, perilaku hukum, pendidikan hukum dan ilmu hukum pidana.
Pengertian sistem hukum pidana dapat juga dilihat dari sudut sistem penegakkan hukum pidana atau sistem pemidanaan, yang dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Dari sudut fungsional (dari sudut bekerjanya/berfungsinya/
berprosesnya), sistem hukum pidana dapat diartikan sebagai:
- Keseluruhan sistem (aturan perundang-undangan) untuk fungsionalisasi/ operasionalisasi/konkretisasi hukum pidana);
- Keseluruhan sistem (aturan perundang-undangan) yang mengatur bagaimana hukum pidana ditegakkan atau dioperasikan secara konkret sehingga dijatuhi sanksi (hukum) pidana.
Dengan pengertian demikian, maka sistem hukum pidana identik dengan sistem penegakkan hukum pidana yang terdiri atas sub-sistem Hukum Pidana Materiel, sub-sistem Hukum Pidana Formil dan sub-sistem Pelaksanaan Pidana.
Ketiga sub-sistem itu merupakan satu kesatuan sistem penegakkan hukum pidana atau sistem pemidanaan, karena tidak mungkin hukum pidana dioperasikan/
ditegakkan secara konkret hanya dengan salah satu sub-sistem. Pengertian sistem hukum pidana/pemidanaan yang demikian itu dapat disebut dengan sistem hukum pidana/
pemidanaan fungsional atau sistem hukum pidana dalam arti luas.
b. Dari sudut substantif (hanya dilihat dari norma-norma hukum pidana substantif), sistem hukum pidana/
pemidanaan dapat diartikan sebagai:
c.
- Keseluruhan sistem aturan/norma hukum pidana materiel untuk pemidanaan; atau
- Keseluruhan sistem aturan/norma hukum pidana materiel untuk pemberian/penjatuhan dan pelaksanaan pidana.
Dengan pengertian demikian, maka keseluruhan peraturan perundang-undangan (statutory rules) yang ada di dalam KUHP atau UU Khusus di luar KUHP, pada hakikatnya merupakan satu kesatuan sistem hukum yang terdiri dari aturan umum (generalis rules) dan aturan khusus (special rules). Aturan umum terdapat dalam Buku I KUHP dan aturan khusus terdapat dalam Buku II dan Buku III KUHP maupun dalam UU Khusus di luar KUHP.
Politik hukum pidana Indonesia dalam pembaharuan sistem hukum pidana harus terintegrasi secara menyeluruh (holistik) antar sub-sub sistemnya yang terdiri dari legal substance, legal structure dan legal culture, agar dapat terwujud suatu tujuan yang ingin dicapai dalam sistem tersebut. Tujuan hukum yang dicita-citakan harus berdasarkan ideologi dan falsafah Pancasila, mengingat Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum dan sekaligus sebagai volkgeist (jiwa bangsa).