• Tidak ada hasil yang ditemukan

Polemik Euthanasia dalam Pandangan FilosoÞ s

Dalam dokumen PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA (Halaman 32-36)

BAB II POLEMIK EUTHANASIA DALAM

2.1 Polemik Euthanasia dalam Pandangan FilosoÞ s

Berdasarkan pada Pasal 1 ayat (3) Undang-undang Dasar Tahun 1945, “Indonesia adalah Negara Hukum” dan konsekuensi yang kemudian timbul minimum (Negara hukum) mempunya ciri-ciri khas atau unsur-unsur yang terdiri atas:

1. Bahwa pemerintah dalam melaksanakan tugas dan kewajiban harus berdasar atas hukum atau peraturan perundang-undangan;

2. adanya jaminan terhadap hak-hak asasi manusia (warga negara);

3. adanya pembagian kekuasaan (distribution of power) dalam Negara; dan

4. adanya pengawasan dari badan-badan peradilan (rechsterlijke controle).1

Oemar Senoadji mengemukakan pendapatnya bahwa Negara Hukum Indonesia memiliki ciri-ciri khas Indonesia, karena Pancasila diangkat sebagai dasar pokok dan sumber hukum, Negara Hukum Indonesia dapat pula dinamakan Negara Hukum Pancasila. Salah satu ciri pokok dalam Negara Hukum Pancasila ialah adanya jaminan terhadap freedom of religion atau kebebasan beragama. Ciri berikutnya dari Negara Hukum Pancasila menurut Oemar Senoadji ialah tiada pemisahan yang

1 Sri Soemantri, 1992, Bunga Rampai Hukum Tata Negara Indonesia, Alumni, Bandung, hlm.37.

rigid dan mutlak antaragama dan Negara. Karena menurutnya, agama dan Negara berada dalam hubungan yang harmonis. Lebih jauh Padmo Wahjono menelaah Negara hukum Pancasila dengan bertitik tolak dari asas kekeluargaan yang tercantum dalam UUD Tahun 1945, yang diutamakan dalam asas kekeluargaan adalah rakyat banyak dan harkat dan martabat manusia dihargai.2 Jaminan terhadap hak asasi manusia dalam UUD Tahun 1945, diatur dalam Pasal 28A, yaitu: ”Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya”.

Adanya hak untuk hidup merupakan bentuk rasa hormat terhadap manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan dan nilai-nilai kemanusiaan yang dilandasi atas pengakuan terhadap manusia sebagai pribadi. Oleh karena itu, setiap orang dilarang menghilangkan nyawa orang lain dalam bentuk apa pun.

Kehidupan dan kematian merupakan kodrat manusia yang tidak bisa dihindari. Setiap orang pasti akan mengalami kematian, oleh karena itu tidak boleh diintervensi oleh siapa pun dan dalam bentuk apa pun. Hak asasi manusia seperti yang terdapat dalam Universal Declaration of Human Rights sebenarnya telah ada dalam Pembukaan UUD Tahun 1945. Hal tersebut disampaikan oleh Ismail Suny yang dikutip oleh Darji Darmodiharjo dan Shidarta sebagai berikut:

Dalam alinea pertama Pembukaan UUD 1945 dinyatakan adanya pengakuan freedom to be free. Pengakuan pada perikemanusiaan merupakan suatu intisari dari hak asasi manusia dan pengakuan pada perikeadilan merupakan intisari Negara hukum. Di samping itu pada alinea kedua menyebutkan Indonesia sebagai Negara yang adil, adil adalah tujuan dari hukum. Alinea ketiga, sesuai dengan Pasal 27 ayat (1) Deklarasi universal Hak Asasi Manusia yaitu: setiap orang berhak untuk turut serta bebas dalam

2 Padmo Wahjono, 1982. Konsep Yuridis Negara Hukum Republik Indonesia, Ra-jawali, Jakarta, hlm.17.

hidup kebudayaan masyarakat. Dalam alinea ke empat berisi hak asasi manusia di bidang politik, sipil, ekonomi, sosial dan budaya.3

UUD Tahun 1945, terdiri atas Pembukaan yang memuat Pancasila dan batang tubuh. Pancasila harus selalu dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak bisa dimaknai secara terpisah. Sila yang satu tidak bisa terlepas dari sila yang lain, keseluruhan sila di dalam Pancasila merupakan suatu kesatuan organis atau suatu kesatuan keseluruhan yang bulat. Hal ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Sila I : Ketuhanan Yang Maha Esa, meliputi dan menjiwai sila II, III, IV, dan V

Sila II : Kemanusiaan yang adil dan beradab, diliputi dan dijiwai sila I, meliputi dan menjiwai sila III, IV dan V Sila III : Persatuan Indonesia, diliputi dan dijiwai sila I, dan II,

meliputi dan menjiwai sila IV dan V.

Sila IV : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, diliputi dan dijiwai sila I, II,III, meliputi dan menjiwai sila V.

Sila V : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, diliputi dan dijiwai sila I, II, III dan IV.4

Perumusan sila-sila dalam Pancasila tersebut merupakan suatu kesatuan organis atau merupakan suatu kesatuan keseluruhan yang bulat, hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

paham kemanusiaan yang beradab sesuai dengan harkat dan martabat manusia kiranya dimiliki pula oleh bangsa-bangsa lain, tetapi bagi bangsa Indonesia paham kemanusiaan sebagai

3 Darji Darmodiharjo dan Sidharta, 2006. Pokok-pokok Filsafat Hukum, Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, hlm. 173-176.

4 Darji Darmodiharjo, Nyoman Dekker, 1988. Santiaji Pancasila: Suatu tin-jauan FilosoÞ s, Historis dan Yuridis Konstitusional. Usaha Nasional, Surabaya, hlm.37.

yang dirumuskan dalam sila II itu adalah paham kemanusiaan yang dibimbing oleh Ketuhanan Yang Maha Esa. Inilah yang dimaksud dengan sila II diliputi dan dijiwai oleh sila I. Begitu pula halnya dengan sila-sila yang lainnya. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sila-sila II, III, IV dan V pada hakikatnya merupakan penjabaran dan penghayatan sila I.5

Pokok-pokok dari pengaturan kemanusiaan yang adil dan beradab seperti yang tercantum dalam UUD Tahun 1945, Pasal 27 ayat (1), yang menyatakan bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. Hal ini dapat berarti bahwa hak untuk mempertahankan hidup, harus ada pembatasannya yang dimuat dalam undang-undang dengan maksud bahwa dalam mempertahankan hidup tersebut ada batasan yang pasti, yaitu antara hak untuk hidup (secara umum) dengan kewajiban untuk menghormati kehidupan orang lain.

Menganalisis pernyataan ”hak untuk mempertahankan hidup” dan ”menghormati kehidupan”, ternyata mempunyai dua arti yang berbeda. Pertama, setiap orang wajib mempertahankan kehidupannya, yaitu dengan cara berupaya memenuhi segala kebutuhan hidup pribadinya maupun kebutuhan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang maksimal. Kedua, menghormati kehidupan dalam arti bahwa apabila terdapat suatu kondisi saat seseorang yang mengalami suatu penyakit kritis, yang sudah tidak dapat disembuhkan lagi, maka akan terpikirkan untuk melakukan euthanasia untuk mendapatkan kematian yang cepat dan mudah atas dasar kemanusiaan. Cara kematian yang dipilih melalui tindakan euthanasia inilah suatu bentuk menghormati kehidupan tanpa harus memperpanjang proses kematian. Sayangnya, di Indonesia tindakan euthanasia belum diatur secara eksplisit. Peraturan perundang-undangan

5 Ibid.

yang paling mendekati euthanasia terdapat dalam Pasal 344 KUHP.

Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan suatu peraturan perundang-undangan khususnya yang berkaitan dengan hak untuk hidup, menentukan nasib sendiri (rights to self determination) dan euthanasia perlu diadakan pengaturannya dalam suatu pembaharuan hukum pidana.

Menyadari arti penting fungsi hukum bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, maka pemerintah menyelenggarakan pembangunan dan pembinaan terhadap semua unsur-unsur sistem hukum. Pembangunan hukum pada dasarnya meliputi usaha mengadakan pembaharuan pada sifat dan isi dari ketentuan hukum yang berlaku dan usaha-usaha yang diarahkan bagi pembentukan hukum baru yang diperlukan dalam pembangunan masyarakat.6

Penyempurnaan peraturan perundang-undangan harus sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan euthanasia, yang secara internasional telah diakuinya hak untuk hidup, tetapi hak untuk memilih kematian yang baik atas dasar perikemanusiaan belum diatur. Demikian juga apabila dikaji dalam hukum positif yang terdapat dalam KUHP yang merupakan warisan kolonial, tidak ada pengaturan euthanasia secara eksplisit. Oleh karena itu, perlu diupayakan adanya pembaruan hukum pidana tentang euthanasia yang sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia.

2.2 Polemik Euthanasia dalam Pandangan Epistemologis

Dalam dokumen PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA (Halaman 32-36)