• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KARAKTERSITIK KEBUDAYAAN

2. Beberapa Pengertian Tentang

2.2 Pandangan Kebatinan Menurut

kebatinan ini dengan istilah golongan aliran kepercayaan.

Menurut pandangannya aliran keprcayaan ini dapat dikategorikan dalam 3 kelompok, yaitu Kebatinan, Kejiwaan dan Kerohanian. Kebatinan mengandaikan pandangan tentang ruang hidup yang bersifat kekal yang

83 Sufa’at M., 1985, Beberapa Pembahasan Tentang Kebatinan, Yogyakarta: Kota Kembang, hlm. 9.

84 Bdk Niels Mulder, 1983, Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa,Jakarta: PT. Gramedia, hlm. 5.

mana di dalamnya terdapat kenyataan yang mutlak. Daya batin bisa diwujudkan dengan olah rasa atau Samadhi.

Dengan olah rasa inilah diri menjadi bebas dan merasa menjadi satu. Tidak ada lagi keanekaan, yang ada hanya persatuan dengan segalanya dalam kosmos.

Kebatinan mengajarkan bahwa jiwa yang abadi dalam manusia menyadari dirinya sebagai Ada-yang bebas dan tak tergantung dari apapun yang ada di luar dirinya.

Namun ketidaktergantungan ini bukan semata-mata menunjukan bahwa jiwa bersifat egois. Jiwa dengan kebebasannya ini berusaha membebaskan diri dari belenggu keakuan dan keduniawian yang akhirnya mengarahkan pada Sang Mutlak. Kerohanian ini merujuk pada konsep tentang Sangkan Paraning dumadi, yang mana memberikan sebuah pandangan tentang jalan hidup roh menuju pada sumber dan asal tujuan roh insani.

2.3 Pandangan Kebatinan Menurut Niels Mulder Penghayatan kebatinan dalam Pandangan Niels Mulder adalah usaha untuk berkomunikasi dengan relitas asali, sebagai cabang pengetahuan, kebatinan mempelajari tempat manusia dalam dunia dan dalam kosmos yang didasarkan atas keyakinan akan adanya kesatuan hakiki antara segala yang ada85. Bagi orang Jawa kebatinan itu

85 Bdk Niels Mulder, 1983, Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa,Jakarta: PT. Gramedia, hlm. 22.

adalah sebuah gaya hidup. Segala bentuk kehidupan kebudayaan Jawa ini didasari oleh pola kebatinan.

Bagi kalangan Jawa, nilai positif atau negatif dari kebatinan ini di tentukan oleh siapa yang menafsir dan untuk tujuan apa kebatinan itu dihidupi86. Karena segala macama ilmu gaib, ilmu sihir, baik hitam maupun putih, dan segala macam pengetahuan gaib itu masuk dalam konteks kebatinan jawa. Kebatinan Jawa tak dapat lepas dari konteks dan pengaruh Hinduisme. Sebagaimana Hindu mengakui karma, penghayat kebatinan pun juga demikian.

2.4 Pandangan Kebatinan Menurut S. De Jong

Menurut pandangan De Jong untuk dapat melihat tentang salah satu pola hidup orang Jawa dapat dilihat dari penghayatan kebatinan yang dilaksanakan. Kebatinan tidak bisa lepas dari konteks budaya jawa. Kebatinan jawa terjadi karena masyarakat jawa dekat dengan mistik87. Mistik menjadi kepribadian yang mendasar bagi nafas hidup orang jawa. De Jong mengatakan bahwa aliran

86 Bagi orang yang tidak suka dengan kebatinan semisal kaum santri, menganggap bahwa kebatinan itu adalah sebuah tindakan sihir yang dosa, misalkan santet direpresentasikan sebagai kakuatan sihir yang jahat. Sebaliknya bagi mereka yang menyukai kebatinan semisal kaum abangan yang saleh , menganggab bahwa kebatinan adalah mistik yang murni dari hati dengan kesederhanaan yang menggambarkan ekspresi hidup keagamaan yang luhur.

87 Bdk Dr. S. De Jong, 1976, Salah satu Sikap Hidup Orang Jawa, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 10.

kebatinan dalam perkembangannya mengalami kemajuan yang pesat. Ada ratusan macam aliran kebatianan, namun di antara ratusan itu ada beberapa kesepahaman yang mencirikan sebagai sebuah aliran kebatinan Jawa. Hal itu adalah:

Kesatuan

Kebatinan selalu mencari dan mengarahkan pada yang satu. Segala macam pluralitas yang ada di dunia ini adalah sebuah kesementaraan dan kesemuan.

Obsesi dari semua aliran kebatinan adalah mencari kesatuan yang paling murni. Kesatuan yang paling hakiki adalah tujuan dari kebatinan. Semua kesatuan yang membentuk dunia ini harus berawal dari manusia.

Manusia

Dalam pandangan Jawa manusia itu terdiri atas dua bagian, batiniah dan lahiriah. Batin adalah roh dari manusia, yang juga merupakan sukma atau pribadi yang mencirikan kemanusiaan. Batin adalah penggambaran dari yang ilahi yang merupakan asal-usul dan kenyataan yang sejati.

Sedangkan bagian lahiriah adalah segala sesuatu yang bernafsu dan memiliki daya-daya rohani. Oleh karena ada dua bagian yang saling mempengaruhi maka ada sebuah konsep pemikiran dimana yang batiniah ini harus menguasai yang lahiriah. Badan

adalah wilayah kerajaan manusia. Inilah jagad cilik (mikrokosmos) yang harus dikuasi agar manusia dapat mencapai kesatuan. Kesatuan terjadi karena badan telah mengalami suatu proses spiritualisasi yang mengarahkan pada keharmonisan.

Perkembangan

Perkembangan dapat terjadi jika manusia berintropeksi. Intropeksi inilah yang kemudian mengarahkan pada kesatuan yang harmonis.

Intropeksi juga membantu manusia agar tidak terjebak dalam sikap pamrih. Taraf perkembangan ini bertujuan agar manusia dapat menguasai jagad cilik dengan tujuan kesatuan harmonis. Dengan dikuasainya jagad cilik seseorang secara sinergis perkembangan jagad gedhe (Makrokosmos) dapat berlangsung dengan baik. Oleh karena itu pembangunan mental manusia harus mendahului pembangunan nasional88.

2.5 Pandangan Kebatinan Menurut Clifford Geertz Seperti halnya De Jong yang mengatakan bahwa kebatinan Jawa itu dekat dengan mistik, Geertz pun berpendapat serupa. Kebatinan Jawa pada umumnya itu harus mendapatkan ketrentaman jiwa. Geertz berpendapat bahwa rasa adalah hal yang paling mendasar dalam

88 Dr. S. De Jong, 1976, Salah satu Sikap Hidup Orang Jawa, Yogyakarta:

Kanisius, hlm. 15.

kebatinan Jawa. Rasa inilah yang memberi penggambaran tentang manusia yang terdalam. Rasa dengan kata lain menunjukan ‚aku‛ yang terdalam dan merupakan manifestasi Tuhan dalam diri manusia.

Mistisisme adalah suatu pandangan tentang adanya suatu yang tersembunyi yang akan tetap terus menjadi misteri. Mistik berperan besar untuk mendapatkan kekuatan batin. Mistik bertujuan agar manusia menyadari kenyataan yang terdalam. Dengan mistik ini pulalah manusia diarahkan pada usaha untuk mendapatkan pengetahuan suci. Puasa, matiraga, nglakoni adalah cara-cara manusia untuk mendaptkan pengatahuan tentang rasa yang sejati. Rasa sejati inilah yang membawa pada kesatuan. Rasa, aku dan Tuhan bukanlah suatu yang terpisah-pisah, semua itu ada dalam kesatuan(manunggal).

2.6 Kesimpulan

Kebatinan Jawa pada hakikatnya mengarahkan pada kesatuan yang harmonis. Kebatinan jawa adalah hakikat yang terdalam dalam kebudayaan Jawa. Segala aspek kehidupan Jawa tak dapat lepas dari konteks kebatinan.

Norma-norma kehidupan Jawa juga terinspirasi dari kebatianan. Dari uraian di atas juga dapat dilihat bahwa kebatinan Jawa tak dapat dilepaskan dari konteks dan pengaruh Hinduisme. Sintesis Atman-Brahman juga mewarnai konsep kesatuan yang harmonis dalam kebatinan.

Ajaran karma, samsara, keabadian Jiwa adalah contoh kongkrit kebatinan Jawa yang dipengaruhi oleh Hinduisme yang dikembangkan dari kalangan istana Jawa sejak jaman Hindu-Buddha. Hal-hal yang gaib dalam kebatinan menunjukan mistik yang kental. Hal-hal gaib ini adalah murni kepercayaan Jawa sebelum adanya pengaruh-pengaruh dari kebudayaan luar.