BAB III KARAKTERSITIK KEBUDAYAAN
3. Pokok-Pokok Ajaran Kebatinan
3.4 Pandangan Hidup Jawa Tentang
Idealisme alam pikiran Jawa adalah mengusahakan dan menegakkan keteraturan. Keteraturan hidup manusia ini dapat mengarahkan pada kesempurnaan hidup (kasumparning urip). Dan jalan menuju kesempurnaan hidup ini dapat ditempuh dengan jalan kebatinan. Hal-hal praktis yang dapat dilakukan dalam kebatinan misalnya, latihan rohani, topo brata dan semadi. Dari praktek-praktek kebatinan seperti yang telah dikemukakan di atas kita dapat melihat bahwa olah jiwa menjadi pondasi bagi kebatinan Jawa. Dari jiwa yang terlatih inilah keharmonisan hidup tercapai. Harmoni adalah keselarasan yang menjadi arah hidup alam pikir Jawa.
Kehidupan Jawa tak dapat lepas dari ritual. Pada bagian ini pola hidup orang Jawa sangat dekat dengan
Hinduisme, di mana praktek ritual kurban menjadi nafas iman. Slametan dan nyadaran adalah beberapa contoh ritual yang menjadi pondasi dasar kehidupan Jawa yang menunjukan kebutuhan akan ritual bagi orang Jawa.
Penguasaan harmoni kehidupan melalui ritual seolah menjadi keharusan. Bila ritual itu dilakukan dengan baik, dengan jiwa yang seimbang maka situasi tenang, tertib, aman dan sejahtera menjadi nyata.
Idealisme Jawa tentang keteraturan dengan sendirinya sejalan dengan cita-cita tetang harmoni dalam alam pikir Jawa. Dalam harmoni ada kesatuan manusia dengan alam semesta. Kesatuan dan kemanunggalan inilah yang kemudian mengidentikan adanya kesatuan dengan Yang Ilahi. Jadi terlihat jelaslah bahwa harmoni merupakan kewajiban moral dan juga cita-cita bagi para penghayat dan pelaku kebatinan.
Penghayatan kebatinan dianggap sebagai kondisi bagi hidup yang baik di bumi dan bagi tercapainya tatanan dan keteraturan kosmos97. Keharmonisan ini dapat dilihat dalam tatanan hidup masyarakat. Suatu masyarakat yang adil, makmur, loh jinawi mununjukan suatu hubungan yang harmonis dalam masyarakat Jawa. Harmoni manusia dengan alam semesta adalah mutlak dalam kebatinan Jawa.
97 Niels Mulder, 1983, Kebatinan dan Hidup Sehari-hari Orang Jawa,Jakarta: PT. Gramedia, hal. 38.
Harmoni ini dapat diusahakan dengan mengasah dan mengolah jiwa.
Merujuk pada pandangan De Jong tentang pandangan jagad cilik (mikrokosmos) dan jagad gedhe (makrokosmos) menunjukan bahwa keharmonisan alam semesta ini bisa terealisasikan jika jagad cilik ini dituntaskan dulu. Pandangan tentang alam semesta sebagai hologram98 ternyata juga ada di alam pikir Jawa. Hal senada juga pernah diucapkan oleh Mahatma Gandhi
‚jadilah perubahan yang Anda inginkan terjadi di luar sana”--- Mahatma Gandhi (12 Okt 1869-30 Jan 1948)‛.
Jadi jelaslah bahwa penekanan terhadap hubungan antar jagad cilik dan jagad gedhe ini juga berpengaruh pada pandangan harmoni dalam alam pikir Jawa.Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan diberi hak dan kewajiban
98 Hukum‚Gaya tarik‛ menjadi penyatu universal dalam diri seorang dengan yang lain. Dalam pandangan alam semesta sebagai sebuah hologram digambarkan bahwa seluruh alam semesta termasuk manusia di dalamnya adalah satu kesatuan yang saling menghubung. Bak sebuah fractal yang tak pernah habis dilihat itulah gambaran tentang dunia hologram. Hubungannya dengan konsep alam pikir Jawa adalah kesamaan tujuan harmoni, keseimbangan dan kesatuan. sejarah Hologram dimulai oleh Alain Aspect yang melakukan suatu eksperimen yang mungkin merupakan eksperimen yang paling penting di abad ke-20. Aspect bersama timnya menemukan bahwa dalam lingkungan tertentu partikel-partikel subatomik, seperti elektron, mampu berkomunikasi dengan seketika satu sama lain tanpa tergantung pada jarak yang memisahkan mereka.
menjadi rekan-Pencipta namun tidak setara dengan Sang Pencipta dalam hal tanggungjawabnya atas akibat pilihan-pilihan-nya. ‚Akibat‛ selalu terjadi bagi diri sendiri dan bagi pribadi-pribadi lain, bagi perjalanan seluruh kosmos, bagi semuanya. Sebagai rekan sang Pencipta jiwa harus dapat lepas dari nafsu. Dengan melepasnya nafsu dalam jiwa ‚Tuhan‛ sang Pencipta menjadi rekan manusia. Alam kosmos adalah suatu tempat untuk mencari ketenangan.
Dunia kosmos dan jiwa adalah sahabat, yang akan mengantarkan kaum kebatinan menuju pada kehidupan abadi99.
4. “MOKSHA” SEBAGAI TUJUAN KEBATINAN Setiap ajaran hidup selalu mempunyai tujuan.
Agama-agama samawi menawarkan jalan-jalan keselamatan sesuai dengan ajaranya. Konsep Hindupun juga menawarkan jalan keselamatan bagi para penganutnya. Hindu menawarkan mokshasebagai jalan keselamatannya. Meminjam istilah Hindu tentang moksha, kebatinan pun tentunya juga menawarkan sebuah jalan keselamatan. Moksha dalam kebatinan juga identik dengan jalan pelepasan. Kebatinan juga menghayati bahwa apa yang kita lakukan dalam hidup saat ini berpengaruh pada hidup yang kemudian.
99 Suwardi Endraswara, 2011, Kebatianan Jawa : Laku Hidup Utama Meraih Derajat sempurna, Yogyakarta: Lembu Jawa, hlm 148.
Konsep harmoni dalam alam pikir Jawa mengidentikan adanya kesatuan dari semua yang ada di alam semesta ini. Dalam pikiran Jawa ada istilah Sangkan Paraning Dumadi sebagai asal muasal dan tujuan segala sesuatu diidentikan dengan Yang Mutlak. Dalam konteks Hindu Yang Mutlak dan yang merupakan awal dan asal serta ini disebut Brahman. Brahman adalah satu-satunya kasunyatan. Begitupula Yang Mutlak dalam kebatinan memiliki sifat ‚tan kena kinaya apa‛. Artinya Yang Mutlak ini tak bisa dijelaskan dan pun tak bisa dibayangkan. Plato mengatakan bahwa Idea adalah sesuatu yang nyata dan yang materi hanya bayangan semu. Begitupula dengan alam pikir Jawa segala materi yang ada di dunia ini itu hanya kenyataan semu saja, sedangkan yang menjadi kenyataan (kasunyatan) adalah Yang Mutlak. Sejalan dengan alam pikir Jawa, Hinduisme juga berpendapat serupa. Baginya pengalaman rohani adalah Brahman itu sendiri sedangkan yang materi adalah sesuatu yang tidak nyata.
Dalam konsep Hindusime kita mengenal tentang sintesis Atman-Brahman. Sintesis ini adalah identifikasi jiwa individual (Atman) dengan dasar semesta alam (Brahman).
Atman adalah Jatidiri manusia yang terdalam (Psiskis), sedangkan Brahman adalah Prinsip pertama alam semesta (Kosmis). Atman dan Brahman merupakan dua aspek berbeda dari satu kenyataan yang sama. Atman merupakan
aspek subjektif dari seluruh kenyataan, sedangkan Brahman adalah Aspek Objektif atau keluasan dirinya. Atman dan Brahman ini ternyata ada dalam alam pikir jawa. Pada manusia Jawa, unsur rohani menjadi hakekat yang terdalam dalam diri manusia, berarti juga sama dengan atman dalam Hinduisme.
Kerohanian atau identifikasi jiwa manusia inilah yang senyatanya ada pada manusia. Seperti telah dibahas di atas bahwa manusia menjadi bagian dari keseluruhan alam semsta. Maka berarti atman adalah juga identik denganBrahman (jika dalam konsep Hinduisme) dan jiwa manusia adalah bagian dari Sangkan Paraning Dumadi (jika menilik pada alam pikir jawa). Sebagai manusia tentunya lahir dalam wujud badan. Badan inilah yang menjadi materi yang melahirkan keakuan dalam diri manusia. Jadi individualisme tumbuh dan melupakan hakekatnya sebagai bagian dari alam semesta, jika manusia mengabaikan apa yang dinamakan ‚roso’.
Roso adalah pengalaman rohani dari jiwa manusia yang jika dikembangkan akan menemukan atman-nya. Dan jika atman-nya ditemukan berarti kesejatiaan manusia, hakekat manusai yang terdalam, dan Brahman sebagai Sangkan Paraning Dumadi ditemukan dalam hidup. Sistem mencari dan kembali pada hakekat yang terdalam inilah yang menjadi jalan pelepasan bagi para penghayat kebatinan. Jadi dapat dilihat bagi para penghayat kebatinan
mencari atman dalam diri dan kembali bersatu dengan Sangkan paraning Dumadi adalah menjadi tujuan hidup yang menyelamatkan. Menyelaraskan Jagad cilik dengan Jagad gedhe guna mencapai harmoni kehidupan adalah jalan keselamatan bagi para penghayat kebatinan.
5. KESIMPULAN
Memperbincangkan masalah kebatinan Jawa memang sangat beragam. Namun ada suatu hal yang sama, yaitu perihal letak wilayah kebatinan. Kebatianan itu berada pada wilayah kejiwaaan manusia. Kata batin sendiri berasal dari bahasa Arab yang artinya yang tersembunyi.
Kebatinan itu pada dasarnya adalah mistik-jawa, yang terbentuk dari ramuan antara mistik Hindu sebagai intinya, dengan paduan kepercayaan Jawa Kuno.
Kebatinan seringkali dianggap sebagai inti yang paling mendasar dari Jawanisme. Jika kita ingin melihat salah satu gaya hidup orang Jawa, kita dapat melihatnya dari praktek kebatinan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Karena dalam kebatinan itu dapat kita jumpai banyak sekali nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat Jawa.
Sebagai dasar dari Mistik-Jawa atau Mistik-Kejawen, aliran kebatinan mempunyai ciri khas yang menjadi dasar dari beberapa aliran Kejawen. Terminologi mistik ini mengandaikan di dalamnya unsur-unsur Manunggaling
Kawula Gusti, Sangkan Paraning Dumadi, wahyu dan keutamaan batin. Menuju pada Sangkan Paraning Dumadi seseorang harus melakukan laku tapa. Laku tapa ini ada dua macam, yaitu laku yang ringan untuk para pengikut biasa, dan laku berat untuk orang-orang yang ingin mencapai prestasi yang tinggi dalam mistik. Orang-orang yang melakukan tapa berat ini biasanya dilatarbelakangi keinginana untuk menjadi guru-mistik yang menerima wahyu langsung dari Tuhan.
Dalam praktek-praktek kebatinan Jawa terlihat ada beberapa perjumpaan dengan pengaruh Hindu, misalnya konsep tentang samsara, keabadian jiwa, moksha dan karma.
Orang-orang Jawa mengimani bahwa apa yang kita lakukan pada hari ini itu berpengaruh bagi kehidupan selanjutnya. Lingkaran kehidupan yang terus berputar akan terhenti ketika seorang itu telah mengalami jalan pelepasan. Di mana Jagad cilik dan jagad gedhe dapat bersinergis dalam kemanunggalan. Walau dipengaruhi oleh unsur Hindu, Kejawen sebagai sebuah produk kebatinan asli Jawa tetap menjunjung dan mengamalkan nilai-nilai Jawa yang menjiwai seluruh aspek kehidupan mereka, baik dalam kehidupan rohani maupun jasmani.
BAB V PENUTUP
1. PENGANTAR
Dalam bab penutup ini penulis akan memaparkan kesimpulan umum sebagai penggambaran dari seluruh karya tulis ini. Selanjutnya penulis akan memberikan sebuah tanggapan pribadi sehubungan dengan tema besar yang menjadi pembahasan dalam skripsi ini yaitu Perjumaan Hinduisme dengan Praktek Kebatinana Dalam Budaya Jawa. Pada alur selanjutnya penulis akan memberikan sebuah penggambaran relevansi tentang dunia kebatinan Jawa. Dari banyaknya aliran kebatinan Jawa yang ada penulis hanya akan membatasi pembahasan pada dua aliran besar dalam kebatinan Jawa.
2. KESIMPULAN UMUM
Dalam pemaparan pada bab-bab sebelumnya dapat dilihat bahwa beberapa hal dalam Hinduisme ternyata berhubungan cukup dekat dengan praktek kebatinan dalam budaya Jawa. Percampuran gagasan-gagasan Jawa dengan Hindu sangat kentara dalam konsep kebatinan
Jawa. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hal, seperti pandangan tentang manusia. Manusia pada hakekatnya adalah pletikan (bunga api) dari Allah. Sehingga sebenarnya mansusa itu adalah Allah sendiri. Hal ini sejalan dengan konsep keidentikan atman dengan Brahman.
Dalam pandangan menegenai Sangkan paraning Dumadi, sebagai awal dan asal tujuan segala tujuan sesuatu, kesemurnaan atau moksha dapat diperoleh oleh penghayat kejawen jika sang pribadi sudah masuk dalam kemanunggalan dengan Yang Illahi. Moksha dalam pandangan Hindu adalah pembebasan jiwa dari lingkarani samsara. Dalam konsep Jawa pun demikian, seorang manusia yang masih berada dalam sengsara itu masih dikuaasai oleh tumimbal lahiratau hal-hal yang materi. Sang Atman dalam diri belum dituntaskan.
Penekanan terhadap hubungan antar jagad cilik dan jagad gedhe ini juga berpengaruh pada pandangan harmoni dalam alam pikir Jawa. Dalam konsep Hinduisme kita mengenal tentang sintesis Atman-Brahman. Sintesis ini adalah identifikasi jiwa individual (Atman) dengan dasar semesta alam (Brahman). Atman adalah Jatidiri manusia yang terdalam (Psiskis), sedangkan Brahman adalah Prinsip pertama alam semesta (Kosmis). Jadi jalan kesempurnaan dalam konsep Jawa ini tidak melulu ke akuan. Aku sebagai pribadi adalah bagian dari semesta ini. Jadi Jagad cilik
kawula ini menentukan harmonisasi dan kesatuan seluruh alam semesta.
Seperti telah di bahas pada pembahasan di atas bahwa kebatinan Jawa pun terdapat konsep tentang karma,samsara, keabadian jiwa dan kesementaraan hidup di dunia. Kehidupan sekarang ini dipengaruhi oleh segala tindak tanduk yang dilakukan pada kehidupan sebelumnya. Dalam konsep Hindu, kepercayaan tentang jiwa yang tidak terbebaskan akan menjalani kembali hidup duniawi dalam wujud lain, menghasilkan kepercayaan tentang buah perbuatan kehidupan sebelumnya. Perbuatan kehidupan sebelumnya menghasilkan buah yang akan dimakan sendiri karena menetukan nasibnya kemudian.
Perbuatan inilah yang disebut karma. Dalam karma semua perbuatan itu tak ada yang netral, selalu ada konsekuensi logis dari hasil perbuatannya itu. Selama orang tidak bisa mengontrol karmanya manusia akan terus ada dalam lingkaran kehidupan kelahiran yang disebut samsara. Hal ini dikarenakan Jiwa bersifat abadi, hanya badan dan hidup di dunia inilah yang disebut kesementaraan.
Manusia yang telah mendapatkan kasunyatan dipandang sebagai manusia yang sempurna. Manusia yang telah mendapatkan kesempurnaan dipandang sebagai mahakuasa, mahatahu, karena manusia yang telah mendapatkan kasunyatan atau kesempurnaan abadi ini telah disatukan oleh Allah. Jalan menuju kesempurnaan ini
biasanya dicapai dengan melakukan Yoga. Yoga dalam kebatinan Jawa sering dihubungkan dengan Semedi. Semedi dilakukan dengan cara konsentrasi fikiran. Konsentrasi fikiran ini sering dihubungkan dengan kepasrahan, berserah diri secara utuh.
Selain dengan Semedi dengan memusatkan konsentrasi pikiran, dapat dilakukan juga Semedi doa yang mengharuskan orang mengosongkan pikiran. Adapula semedi dengan sujud yang menaikkan air tala (sperma) sampai ke ubun-ubun atau sebagai peniadaan keinginan.
Jalan yang menuju ke kesempurnaan ini adalah jalan yang mengarahkan ke dalam, yaitu ke dalam diri manusia.
Karena dalam konsep Jawa jalan menuju Allah itu ada dalam hakekat terdalam manusia. Karena kita manusia adalah pletikan dari Allah.
3. TANGGAPAN
Inti hidup persembahan kurban dalam Hindu ternyata juga sangat berpengaruh dalam perkembangan mistik masyarakat Jawa hingga kini. Seperti telah dibahas di atas bahwa hal-hal mendasar dalam Jawa itu tidak hilang dapat dilihat dari upacara Nyadran. Nyadran adalah upacara yang diadakan untuk menghormati roh leluhur.
Dalam konteks Hindu upacara pengorbanan terhadap roh leluhur tidaklah jelas ada, namun karena inti asli keimanan Jawa adalah penghormatan kepada leluhur maka unsur
inipun tidak hilang. Pemujaan arwah roh leluhur tidak dikenal di India, tempat asal agama Hindu. Pemujaan arwah para leluhur adalah watak asli kehidupan keagamaan di Indonesia secara umum dan di Jawa secara khusus.
Konteks kebutuhan akan upacara kurban ini dicatat oleh Mpu Praranca dengan begitu jelas dalam Negarakertagama. Upacara Nyadran itu merupakan peninggalan upacara Srada yang dilakukan oleh Prabu Hayam Wuruk. Upacara itu dilakukan oleh Prabu Hayam Wuruk untuk memperingati wafatnya Rajapatni100. Dalam perkembangannya, pun setelah Islam masuk upacara ini tetap dilakukan dengan istilah Nyadran. Upacara ini biasanya dilakukan di sebelah makam dalam bulan arwah atau Ruwah yakni bulan Sya’ban. Bulan Sya’ban adalah bulan sebelum masa puasa Ramadhan.
Agama Hindu sudah sangat meresap pada tulang sumsum kehidupan masyarakat Jawa. Inti ajaran Hindu adalah bagaimana seseorang itu dapat lepas dari ikatan samsara. Keterulangan hidup di dunia ingin dikalahkan dengan mendapatkan mokhsa atau pelepasan. Salah satu jalan yang harus ditempuh dalam mewujudkan cita-cita tersebut adalah dengan memisahkan badan materi halus
100 Prof. Dr. Slamet Muljana, 1968, Runtuhnja Keradjaan Hindu Djawa dan Timbulnja Negara-negara Islam di Nusantara, Djakarta :Bhratara, hlm. 237.
dan materi kasar. Jalan pemisahan ini dapat dilakukan dengan cara Yoga. Yoga yang banyak dilakukan dan diterapkan di Jawa adalah Rajayoga yakni yoga yang didasarkan pada pernafasan: penarikan nafas, panahanan nafas dan penghembusan nafas101.
Orang yang telah dapat menemukan inti sejati dalam dirinya maka orang itu akan mendapatkan keselamatan.
Serupa dengan pandangan Hindu tentang moksha sebagai jalan keselamatan, kebatinan Jawa pun juga menawarkan hal yang serupa. Keselamatan akan dicapai ketika seorang dapat menyeimbangkan harmoni dalam diri dengan alam semesta. Itulah jalan bagi warga kebatinan untuk dapat terbebas dalam samsara hidup. Segala hal yang semula tak beraturan menjadi jelas beraturan ketika sang aku ini memperoleh keselamatan. Keselamatan ini diperoleh dengan Manunggaling Kawula Gusti atau bersatunya manusia dengan Tuhan dan mengarahkan pada kesatuan akan asal dan tujuan (sangkan paraning dumadi)
4. RELEVANSI
Kebatinan Jawa adalah mistik. Seperti telah dibahas pada bab sebelumnya, mistik dipahami sebagai sebuah subsistem yang ada dalam hampir semua agama dan
101 Prof. Dr. Slamet Muljana, 1968, Runtuhnja Keradjaan Hindu Djawa dan Timbulnja Negara-negara Islam di Nusantara, Djakarta :Bhratara, hlm. 239.
sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia untuk mengalami dan merasakan emosi bersatu dengan Tuhan102. Di samping itu mistik kerap kali dihubungkan dengan hal-hal gaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia yang biasa. Mistik adalah visi dasar dari javanisme103. Aliran kebatinan di Jawa mengalami perkembangan yang pesat.
Menurut data resmi, di seluruh propinsi Jawa-Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta terdapat hampir 300 kelompok aliran kebatinan104. Aliran kebatinan yang beranekaragam itu tidak hanya menyebar di kawasan Jawa saja, bahkan aliran-aliran ini sudah merambah ke luar negeri. Sering kali aliran kebatinan Jawa disebut dengan Kejawen. Kejawen bukanlah sebuah kategori agama, melainkan lebih mengacu pada sebuah etnis dan gaya hidup yang diinspirasikan oleh pemikiran kebudayaan Jawa105. Bagi orang Jawa, hakekat kejawen adalah kebatinan. Hal ini menunjukan bahwa kebatinan Jawa itu terletak pada mistisisme atau secara literalal kebatinan dihubungkan sebagai sebuah ilmu yang berada di batin
102 Bdk TimPenyusun Kamus; Pusat Pembinaan Dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1991, Edisi kedua Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta : Balai Pustaka.
103 S. De Jong, 1976, Salah satu Sikap Hidup Orang Jawa, Yogyakarta:
Kanisius, hlm. 10.
104 Bdk S. De Jong, 1976, Salah satu Sikap Hidup Orang Jawa, Yogyakarta:
Kanisius, hlm 10.
105 Bdk Niels Mulder, 2005, Mysticim in Java: Ideology in Indonesia, Yogyakarta: Kanisius, hlm.16-17.
(science of the batin )106. Dalam bagian ini, guna memberi gambaran mengenai aliran kebatinan Jawa penulis akan membahas pada dua aliran kebatinan yang berkembang dan mempunyai pengaruh dan pengikut yang cukup banyak. Kedua aliran itu adalah Sapto Darmo dan Sumarah.
4.1. Sapto Darmo
Sapto Darmo adalah salah satu aliran besar kejawen yang perkembangannya dapat terasa hingga kini. Aliran ini dibentuk dan diproklamirkan oleh Hardjosapuro setelah ia mendapatkan wahyu. Setelah menerima wahyu,Ia bergelar rohani Sri Gutomo pada Desember 1952 di Pare, Kediri.
Kemudian selama hidupnya dia mengajarkan ajarannya hingga akhir hayatnya pada 6 Desember 1964. Secara etimologis nama Sapto Darmo diambil dari bahasa Jawa;
sapto yang artinya tujuh dan darmo yang artinya kewajiban suci. Jadi, sapto darmo artinya tujuh kewajiban suci. Berikut ini adalah tujuh kewajiban suci yang menajdi landasan hidup para penghayat kebatinan:
1. Setyo tuhu marang Allah Hyang Maha Agung, Maha Rokhim, Maha Adil, Maha Wasesa lan Maha Laneggeng.
(Setia dan taat kepada Allah Maha Agung, Allah Allah Maha Rahim, Allah Maha Adil, Allah Maha Kuasa, dan Allah Maha Kekal).
106 Bdk Niels Mulder, 2005, Mysticim in Java: Ideology in Indonesia, Yogyakarta: Kanisius, hlm. 48.
2. Kanthi jujur lan sucining ati, kudu setya anindakake angger-angger ing Negarane. (Jujur dan suci hati menjalankan undang-undang negara).
3. Melu cawe-cawe acancut tali wanda njaga adeging Nusa lan Bangsane. (ikut berpartisipasi dan siap siaga menjaga berdirinya Nusa dan Bangsa).
4. Tetulung marang sapa bae yen perlu kanthi ora nduweni pamrih apa bae, kajaba mung rasa welas lan asih.
(Menolong siapa saja yang perlu bantuan, dengan tanpa pamrih, kecuali hanya atas dasar cinta kasih).
5. Wani urip kanthi kapitayan saka kekuwatane dhewe.
(Berani hidup dengan kepercayaan penuh pada kekuatan diri-sendiri).
6. Tanduke marang warga bebrayan kudu susila kanthi alusing budi pekerti, tansah agawe pepadhang lan mareming liyan. (persekutuan hidup warga didasarkan pada perbuatan yang susila, dengan kelembutan budi pekerti, selalu memberikan pencerahan dan kepuasan kepada orang lain).
7. Yakin yen kahanan donya iku ora langgeng, tansah owah gingsir (Anyakra Manggiling). (Yakin bahwa dunia ini tidak abadi, melainkan berubah-ubah (angkoro manggilingan ini melambangkan bahwa hidup ini serupa dengan roda, kadang kita ada di bawah dan kadang bisa kita berada di atas. Pemikiran ini
dihubungkan dengan senjata kresna Cokro Manggilingan yang berbentuk seperti roda).
Sekarang aliran ini banyak berkembang di Yogya dan Jawa Tengah, bahkan sampai ke luar Jawa. Aliran ini mempunyai pasukan dakwah yang dinamakan Korps Penyebar Sapto Darmo, yang dalam dakwahnya sering dipimpin oleh ketuanya sendiri (Sri Pawenang) yang bergelar Juru Bicara Tuntunan Agung. Penghayat Sapta Dharma mendasarkan apa saja yang dilakukan sebagai suatu ibadah, baik makan, tidur, dan sebagainya. Tetapi ibadah utama yang wajib dilakukan adalah Sujud, Racut, Ening dan Ulah Roso.
Sujud, adalah ibadah menyembah Tuhan; sekurang-kurangnya dilakukan sekali sehari. Konsep ibadah dalam Sapto Darmo tercermin pada ajaran mereka tentang ‚Sujud Dasar‛. Sujud Dasar terdiri dari tiga kali sujud menghadap ke Timur. Sikap duduk dengan kepala ditundukkan sampai ke tanah, mengikuti gerak naik sperma yakni dari tulang tungging ke ubun-ubun melalui tulang belakang, kemudian turun kembali. Amalan seperti itu dilakukan
Sujud, adalah ibadah menyembah Tuhan; sekurang-kurangnya dilakukan sekali sehari. Konsep ibadah dalam Sapto Darmo tercermin pada ajaran mereka tentang ‚Sujud Dasar‛. Sujud Dasar terdiri dari tiga kali sujud menghadap ke Timur. Sikap duduk dengan kepala ditundukkan sampai ke tanah, mengikuti gerak naik sperma yakni dari tulang tungging ke ubun-ubun melalui tulang belakang, kemudian turun kembali. Amalan seperti itu dilakukan