BAB II PERTUMBUHAN, PERKEMBANGAN
2. Pertumbuhan dan Perkembangan
1. PENGANTAR
Dalam bab ini penulis akan membicarakan tentang pertumbuhan dan perkembangan Hinduisme, serta beberapa aspek kunci dalam Hinduisme. Pertumbuhan dan perkembangan Hinduisme dikupas dalam bab ini untuk memberikan penggambaran konteks historis dan geopolitik India pada setiap waktu pertumbuhannya. Kemudian, untuk melihat dan memudahkan melihat karakteristik ajaran-ajaran Hinduisme penulis mencoba menjabarkan beberapa aspek-aspek kunci dalam Hinduisme.
2. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN HINDUISME
Jika kita membicarakan Hinduisme maka kita juga harus berbicara tentang sejarah perkembangan dan latar belakang budaya India. Ada dua peradaban yang
memberikan penggambaran tentang perkembangan kebudayaan India, peradaban Mohenjo-Daro dan Harappa.
Penemuan dari penggalian Tanah di Mohenjo-Daro dan Harappa memberikan sebuah penggambaran tentang peradaban Bangsa Dravida8. Penemuan yang digali di lembah Sungai Indus itu meninggalkan benteng, bangunan-bangunan, jalan-jalan dan sistem air.
Ditemukannya lumbung-lumbung, rumah-rumah besar, patung kecil di Harrappa menunjukan bahwa Bangsa Dravida menyembah dewa-dewa sebelum masa Hindu.
Ciri keagamaan Bangsa Dravida adalah menyembah lingga9.
Bangsa Dravida bukanlah sebuah bangsa kerajaan, hal ini diperkuat dengan tidak ditemukannya tanda-tanda Kerajaan. Corak masyarakat bangsa Dravida adalah masyarakat para Imam, pedagang dan petani10. Bangsa Dravida mempunyai ciri-ciri berkulit kelam, berhidung pesek bengkok dan berwajah buruk. Ciri-ciri bangsa Dravida ini ditemukan pada veda. Bangsa Dravida adalah bangsa yang berpradaban tinggi. Hal ini ditunjukan
8 Bdk DR. Harun Hadiwijono, 1971, Agama Hindu Dan Budha, Jakarta : Percetakan BPK , hlm. 12.
9 Robert C. Zaehner, 1966, Hinduism, Oxford : Oxford University, hlm. 15.
10 Bdk DR. Harun Hadiwijono, 1971, Agama Hindu Dan Budha, Jakarta : Percetakan BPK , hlm. 12.
dengan kota Mohenjo-Daro dan Harappa yang merupakan sebuah kota yang maju11.
Malapetaka menghampiri Bangsa Dravida ketika bangsa Arya berupaya menaklukan mereka. Bangsa Arya adalah sebuah bangsa yang berasal dari sekelompok suku dari Utara (Utara Iran, Rusia). Dalam buku ‚Hinduism‛
yang dikarang Robert C. Zaehner dikatakan bahwa bahasa sansekerta adalah suatu bentuk dan perkembangan dari bahasa ‚vedis‛ yang lebih kuno. Bahasa tersebut adalah bahasa Indo Eropa yang mempunya hubungan yang sangat erat dengan kelompok bahasa-bahasa Iran yang dipakai pada masa kekasisaran Persia pertama. Baik orang-orang India maupun orang-orang Iran menyebut diri mereka orang-orang Arya. Arya adalah suatu istilah yang berarti ‚ Bangsawan atau orang terhormat‛, berlawanan dari bangsa-bangsa yang ditundukan.
Dari penjelasan di atas jelaslah terlihat bahwa bangsa Arya bukanlah bangsa asli dari tanah Hindustan.
Sedangkan bangsa Dravida adalah bangsa asli dari tanah Hindustan. Bangsa Dravida adalah bangsa yang maju, karena jika dibandingkan dari bangsa Arya sebagai bangsa penakluk, bangsa Dravida telah dapat membaca dan menulis walaupun hingga kini belum ada yang bisa
11 Robert C. Zaehner, 1966, Hinduism, Oxford : Oxford University, hlm. 15.
menerjemahkannya12. Dilihat dari data-data diatas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa bangsa Arya tidak lebih beradab dari bangsa Dravida namun dapat menaklukan bangsa Dravida. Hal ini menunjukan bahwa bangsa Arya adalah bangsa yang pandai berperang. Kehebatan bangsa Arya dalam berperang desebabkan karena mereka hidup mengembara13.
Terminologi Hindu sebagai sebuah agama mempunyai banyak perdebatan. Hinduisme oleh kebanyakan tokoh bisa berarti sebuah cara hidup bangsa dan juga bisa diartikan sebagai sebuah agama nasional. Hal ini menunjukan bahwa Hinduisme disamping sebagai sebuah gerakan ‚Helenis-nya‛ ala India juga bisa diartikan sebagai sebuah ‚Yudaisme-nya‛ India14.
Pandangan tentang Tuhan dalam Hinduisme secara dogmatis cukup longgar untuk tidak membicarakan tentang ada atau tidak adanya Tuhan. Ketentuan-ketentuan dogmatis tentang ada atau tidaknya Tuhan dan inti dari sebuah agama seolah bukan masalah yang mendasar dalam Hinduisme. Menjadi seorang Hindu yang baik tidak-lah menjadi masalah ketika pandangan Ketuhanan pribadinya
12 Robert C .Zaehner, 1966, Hinduism, Oxford : Oxford University, hlm. 15.
13 DR. Harun Hadiwijono, 1971, Agama Hindu Dan Budha, Jakarta : Percetakan BPK , hlm. 12.
14 Bdk Robert C. Zaehner, 1966, Hinduism, Oxford : Oxford University, hlm. 1.
cenderung Monisme, Panteisme, Politeisme atau bahkan Ateisme. Bagi Hinduisme yang terpenting adalah bagaimana mereka mencapai ‚dharma yang Abadi‛
(Sanatana Dharma).
Kata dharma dalam Hinduisme dimengerti dalam dua pengertan. Pertama, dalam pengertian yang lebih sempit, dharma dimengerti sebagai sebuah kata-kata yang tertulis dalam teks-teks suci khususnya dalam teks-teks yang berkenaan dengan adat kebiasaan Hindu. Kedua dalam pengertian yang lebih luas, dharma dimengerti sebagai sebuah pengandaian-pengandaian religius, dimana hukum-hukum tersebut bertumpu.
Dalam Hinduisme klasik yang ditunjukan dalam veda, ajaran mengenai perpindahan jiwa atau kelahiran kembali menjadi sebuah pengandaian-pengandaian pokok.
Ajaran-ajaran tersebut secara menyeluruh diterima oleh sekte-sekte Hindu dan juga aliran-aliran filsafat. Ajaran ini diterima bukan karena wahyu dogmatis namun terlebih karena berasal dari sebuah kenyataan eksistensial yang ditunjukkannya15.
Dengan menerima ajaran-ajaran tentang perpindahan jiwa berarti Hinduisme juga menerima ajaran tentang Reinkarnasi. Sebuah ajaran yang mengajarkan bahwa jiwa individu dilahirkan kembali merupakan akibat
15 Bdk Robert C. Zaehner, 1966, Hinduism, Oxford : Oxford University, hlm. 4.
perbuatan buruk atau baik yang dilakukan dalam kehidupan yang sebelumnya. Dari reinkarnasi inilah kemudian muncul istilah karma. Karma adalah sebuah hukum perbuatan sebab akibat. Perbuatan apapun yang telah diperbuat oleh seseorang merupakan akibat dari suatu sebab dan pada gilirannya menjadi penyebab dari akibat lainnya.
Dari ‚proses‛ karma itu munculah sebuah istilah baru yaitu samsara. Samsara adalah seluruh proses dalam reinkarnasi dan karma. Samsara diartikan sebagai sebuah lintasan atau peredaran bagi semua yang ada, yang dikondisikan oleh suatu masa lampau penyebab abadi, yakni dharma dari alam semesta. Dharma ini tidak memiliki awal dan akhir.
Manusia senyatanya ingin mendapatkan keselamatan yang abadi, begitu pula dalam ajaran Hindu pasti juga menawarkan suatu jalan keselamatan. Keselamatan dari lingkaran samsara dan penderitaan dunia menjadi penawaran akan suatu keselamatan dalam Hinduisme.
Dunia samsara artinya suatu keadaan yang digambarkan dengan adanya ruang dan waktu, sebab dan akibat. Jadi jelaslah bahwa dalam alam pikiran Hindutujuan setiap orang adalah lepas dari lingkaran waktu dan perbuatan.
Karya keselamatan ini dalam konsep Hindu disebut moksha atau mukti.
Dalam Hinduisme klasik ada sebuah istilah lagi yang maknanya berpengaruh bagi perkembangan Hinduisme, yaitu brahman. Brahman dapat berarti sebagai sebuah ilmu atau ucapan yang suci, suatu nayanyian atau mantera sebagai pernyataan yang kongkrit dari hikmat rohani16 istilah brahman dalam Hinduisme klasik melukiskan baik keadaan kodrati jiwa yang telah mendaptkan moksha maupun sumber dari mana seluruh keberadaan ini bersumber. Brahman ini pula-lah yang menghubungkan antara dunia samsara dan mokhsa. Jadi dari alur penjelasan di atas dapat dilihat bahwa brahman, dharma, mokhsa, samsara, karmaadalah konsep-konsep kunci dalam pemikiran Hinduisme klasik17.
Dalam melihat sejarah hindusime Profesor Zaehner membagi dalam empat fase yang berbeda18, yaitu:
1. Dalam Fase yang paling awal tergambar dalam karya sastra yang disebut Rig vedha. Dalam fase ini Hindusime terlihat masih sangat dekat hubungannya dengan agama dari bangsa-bangsa Indo-Eropa. Di samping itu, hal yang paling mencolok dalam fase ini adalah warna politeisme sangat dominan.
16 DR. Harun Hadiwijono, 1971, Agama Hindu Dan Budha, Jakarta : Percetakan BPK , hlm. 25.
17 Robert C. Zaehner, 1966, Hinduism, Oxford : Oxford University, hlm. 6.
18 Bdk Robert C. Zaehner, 1966, Hinduism, Oxford : Oxford University, hlm. 6-9.
2. Fase yang kedua adalah masa di mana ada penekanan terhadap moksha dan pembebasan jiwa manusia dalam lingkaran samsara.Jiwa manusia yang mencapai moksha inilah yang akhirnya menggantikan kedudukan dewa-dewa. Jadi dalam fase ini corak monisme yang pantesis menjadi keutamaan dalam penghayatan Hinduisme.
3. Fase yang ketiga adalah masa dimana kerangka ideologis dan kerangka sosial dalam Hinduisme mulai dibicarakan. Kerangka ideologis Hinduisme selalu berkutat dalam pemikiran tentang moksha dan lingkaran samsara. Pembebasan dari keterikatan perpindahan jiwa, kematian dan kelahiran kembali adalah cita-cita ideologis dari setiap penganut Hindu.
Sedangkan kerangka sosiologisnya ialah sistem kasta.
Bagi orang golongan ortodoks, kasta adalah hal yang mendasar yang menunjukan ‚kehinduaan‛
seseorang. Bagi mereka melakukan kewajiban sebagaimana diatur dalam kastanya adalah lebih luhur dibandingkan memperdebatkan tentang kepercayaan tentang Tuhan yang banyak atau satu.
Melakukan kewajiban kasta dan menerima veda adalah hal yang mendasar sebagai seorang Hindu, sebaliknya menolak dan mengabaikan kasta dan veda berarti berada di luar Hindu.
Dalam fase yang ketiga ini tampil sosok dewa yang berkuasa yaitu, Vishnu dan Shiva. Kedua dewa ini diterima sebagai Tuhan yang Absolut19. Nuansa menonjolkan sosok Vishnu dan Shiva ini seolah ingin menunjukanan warna monoteisme dalam fase ini.
Jadi jelaslah dalam fase ini hal menonjol dan menjadi penekanan adalah monotesieme dan sistem kasta.
4. Dalam fase yang ke-empat ini tergambar dalam sosok seorang Mahatma Gandhi. Dia sosok yang ingin memurnikan kembali ajaran Hindu. Baginya dharma yang sebenarnya adalah dharma hukum yang abadi bukan dharma yang dibuat oleh manusia. Dharma buatan manusia inilah yang akhirnya menyebabkan ketidakadilan dalam masyarakat. Gandhi beranggapan bahwa kasta adalah momok yang menakutkan dan menggerogoti agama Hindu itu sendiri. Baginya kasta itu menggambarkan ketidakadilan. Dalam fase ini golongan Gandhi terlihat ingin memberikan sebuah paradigma baru bahwa yang terpenting secara mendasar adalah kerohanian sedangkan segala formalitas ditolaknya karena dianggap mempunyai akibat yang buruk. Fase yang keempat ini lebih terjadi di India saja.
Kekerasan hati Gandhi yang ingin merubah
19 Bdk Robert C. Zaehner, 1966, Hinduism, Oxford : Oxford University, hlm. 7.
paradigma inilah yang akhirnya membuat dia dibunuh oleh seorang Hindu Ortodoks.
Walaupun Hindu seperti halnya agama-agama di dunia ini terus mengalami perkembangan dalam pandangan keagaman namun ada beberapa hal yang sangat mendasar yang mana diterima oleh semua kalangan Hindu. Dalam bukunya ‚Hinduism‛ almarhum Profesor Zaehner memberikan tiga pengandaian dasar yang diterima oleh semua aliran dan sekte Hinduisme:20
1. Alam semesta diatur menurut perputaran waktu.
2. Jiwa individu sebagai mikrokosmos diatur dalam suatu hukum sebab dan akibat yang sama halnya dengan makrokosmos.
3. Pelepasan diri dari bentuk eksistensi yang senantiasa berubah ini pada akhirnya dimungkinkan untuk semua orang.
3. ASPEK-ASPEK KUNCI DALAM HINDUISME