• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM PERJANJIAN KREDIT BANK DAN

B. Tinjauan Umum Kredit Macet

3. Pandangan KUHPerdata Mengenai Kredit Macet

Untuk menentukan apakah suatu kredit dikatakan bermasalah atau macet, didasarkan pada kolektibilitas kredit tersebut. Kolektibilitas adalah keadaan pembayaran pokok atau angsuran dan bunga kredit oleh debitur, serta tingkat kemungkinan diterima kembalinya dana yang ditanamkan dalam surat-surat berharga atau penanaman lainnya.

Para nasabah yang telah memperoleh fasilitas kredit dari bank tidak seluruhnya dapat mengembalikan utangnya dengan lancar sesuai dengan waktu yang telah diperjanjikan. Pada kenyataannya didalam praktik selalu ada sebagian nasabah yang tidak mengembalikan kredit kepada bank yang telah meminjaminya. Akibat nasabah tidak dapat membayar lunas utangnya, maka akan tergambar kredit menjadi terhenti atau macet.

Pemberian kredit merupakan perjanjian pinjam-meminjam uang dan pengembalian kredit merupakan perjanjian pinjam-meminjam uang dan pengembalian kredit atau membayar angsuran kredit disebut dengan prestasi. Apabila debitur tidak dapat membayar lunas utangnya setelah jangka waktu pengembalian tersebut terlewati, maka perbuatannya disebut perbuatan wanprestasi. 40

Ditinjau dari KUHPerdata, maka yang dimaksud dengan macet adalah tidak memenuhi kewajiban dalam suatu perjanjian, dalam hal ini perjanjian kredit. Apa yang menjadi motif dari ingkar janji ( wanprestasi) itu tidak dipersoalkan. Untuk perjanjian timbal balik, maka hak kreditur terhadap debitur adalah menuntut agar pinjaman itu dikembalikan dengan seluruh persyaratan yang terdapat di dalam perjanjian kredit itu (Pasal 1243 KUHPerdata dan seterusnya).41 Bentuk wanprestasi antara lain adalah42

a. Debitur tidak berprestasi

Debitur sama sekali tidak memberikan prestasi. Penyebabnya timbul karena debitur memang tidak mau berprestasi atau bisa juga disebabkan karena memang kreditur obyektif tidak mudah berprestasi lagi atau secara subyektif tidak ada gunanya lagi untuk berprestasi.

b. Debitur keliru berprestasi

Debitur disini memang dalam pikirannya telah memberikan prestasi, tetapi dalam kenyataannya yang diterima kreditur, prestasi itu lain atau berbedaa dengan apa yang diperjanjikan. Misal: kreditur membeli bawang putih, ternyata yang

40

Gatot Supramono, Op.Cit., hal. 268 41

Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis (Bandung:Penerbit Alumni, 2005), hal.107

42

dikirim bawang merah, dalam hal demikian kita tetap beranggapan bahwa debitur

tidak berprestasi. Pada sub bagian ini jadi tidak berprestasi termasuk “penyerahan prestasi yang tidak sebagaimana mestinya” dalam arti tidak sesuai dengan yang

diperjanjikan.

c. Debitur terlambat berprestasi

Berbeda dengan ketentuan di atas, dalam hal ini debitur telah berprestasi, serta obyek prestasinya sesuai dengan apa yang ada dalam perjanjian, tetapi waktu pemenuhan prestasimya tidak sesuai dengan sebagaimana yang telah diperjanjikan.

Dari segi macam-macamnya terdapat lima macam wanprestasi yang dikenal selama ini, yaitu:

1. Debitur tidak melaksanakan sama sekali apa yang telah diperjuangkan; 2. Debitur melaksanakan sebagian apa yang telah diperjanjikan;

3. Debitur terlambat melaksanakan apa yang telah diperjanjikan; 4. Debitur menyerahkan sesuatu yang tidak diperjanjiakan; atau 5. Debitur melakukan perbuatan yang dilarang dalam perjanjian.

Apabila macam-macam wanprestasi tersebut dihubungkan dengan kredit macet, maka ada tiga macam perbuatan yang tergolong dalam wanprestasi, yaitu: 1. Nasabah sama sekali tidak dapat membayar angsuran kredit (beserta bunga). 2. Nasabah membayar sebagian angsuran kredit (beserta bunga). Pembayaran

angsuran kredit tidak dipersoalkan apakah nasabah telah membayar sebagian besar atau sebagian kecil angsuran, tetap tergolong kreditnya sebagai kredit macet.

3. Nasabah membayar lunas kredit (beserta bunga) setelah jangka waktu yang diperjanjikan berakhir.

Nasabah terlambat membayar lunas hutangnya. Hal ini tidak termasuk nasabah membayar lunas setelah perpanjangan jangka waktu kredit yang telah disetujui bank atas permohonan nasabah, karena telah terjadi perubahan perjanjian yang disepakati bersama. Jadi yang dimaksudkan tidak pernah terjadi perubahan perjanjian sedikit pun. Keadaan diatas dapat terjadi, setelah bank mengambil langkah untuk menyelesaikannya ke pengadilan, nasabah bersangkutan baru bersedia membayar lunas kreditnya, karena nasabah merasa khawatir apabila dirinya sampai dihukum secara perdata oleh pengadilan akan mengakibatkan kepercayaan masyarakat menjadi berkurang.

Setiap kredit macet merupakan kredit bermasalah, tetapi setiap kredit bermasalah belum tentu kredit macet karena mungkin saja kredit tersebut bermasalah, tetapi sama sekali belum macet. 43

Nasabah-nasabah yang memperoleh kredit dari bank tidak seluruhnya dapat mengembalikan pinjaman dengan baik tepat pada waktu yang diperjanjikan. Pada kenyataannya selalu ada sebagian nasabah yang karena suatu sebab tidak dapat mengembalikan kredit kepada bank yang telah meminjaminya. Akibat nasabah tidak dapat membayar lunas hutangnya, maka menjadikan perjalanan kredit menjadi terhenti atau macet.

Ketidaksanggupan nasabah didalam pembayaran sebagian atau seluruh kewajiban kepada bank seperti yang diperjanjikannya, di dalam hukum perdata disebut wanprestasi.

43

Dasar hukum dari wanprestasi atau ingkar janji pada Pasal 1243 KUHPerdata. Wanprestasi di dalam perjanjian kredit yang berhubungan dengan kredit macet adalah wanprestasi pembayaran (paymentdefault) dan dalam hal ini debitur dianggap melakukan wanprestasi, seandainya ia gagal melakukan pembayaran kembali pokok pinjaman atau bunga pada tanggal jatuh tempo, atau tidak membayar biaya-biaya lain yang merupakan kewajibannya menurut perjanjian kredit atau dokumen lainnya yang terkait.

Kredit macet diartikan bahwa kredit atau utang yang tidak dapat dilunasi oleh debitur karena sesuatu alasan sehingga bank selaku kreditur harus menyelesaikan masalahnya kepada pihak ketiga atau melakukan eksekusi barang jaminan.

BAB III

BANK RAKYAT INDONESIA CABANG KABANJAHE SEBAGAI KORPORASI BUMN

A. Pengertian Korporasi

Korporasi dalam bidang Hukum Perdata sebagai badan hukum (rechtpersoon). Secara etimologis kata korporasi berasal dari kata “corporatio” dalam bahasa latin. seperti kata-kata lainnya yang berakhiran dengan “tio”, maka korporasi sebagai kata benda (substantium), berasal dari kata kerja “corporare

yang banyak dipakai orang pada abad pertengahan sesudah itu. “Corporare” itu sendiri berasal dari kata corpus yang berarti memberikan badan atau membadankan. Dengan demikian, corporatio adalah hasil dari pekerjaan yang membadankan, atau dengan kata lain, badan yang dijadikan orang, badan yang diperoleh dengan perbuatan manusia sebagai lawan terhadap badan manusia yang terjadi menurut alam. Korporasi merupakan istilah yang biasa digunakan oleh para ahli Hukum Pidana dan Kriminologi untuk menyebut apa yang ada dalam bidang lain khususnya Hukum Perdata, sebagai badan hukum atau yang dalam bahasa Inggris disebut legal entities atau corporation. Arti badan hukum atau

korporasi bisa diketahui atass pertanyaan “Apakah subjek hukum itu?”.

Pengertian subjek hukum pada pokoknya adalah manusia dan segala sesuatu yang berdasarkan tuntutan kebutuhan masyarakat, yang oleh hukum diakui sebagai pendukung hak dan kewajiban. Pengertian inilah yang dinamakan badan hukum.

yang mempunyai identitas sendiri, kekayaan sendiri terpisah dari kekayaan

anggota”. 44

Berbicara mengenai badan hukum, sebenarnya bermula sekedar dalam konsep Hukum Perdata sebagai kebutuhan untuk menjalankan kegiatan yang diharapkan lebih berhasil. Keberadaan korporasi sebagai suatu badan hukum, nukan muncul dengan begitu saja. Maksudnya munculnya suatu korporasi sebagai badan hukum bukan ada dengan sendirinya, melainkan didirikan oleh pendiri- pendiri yang menurut Ilmu Hukum Perdata memiliki kewenangan untuk mendirikan korporasi. Menurut Sutan Remy Sjahdeni dalam buku Mahmud Mulyadi dan Feri Antoni Surbakti, korporasi dilihat dari bentuknya dapat diberi arti luas dan sempit. Arti sempit korporasi adalah badan hukum sedangkan dalam arti luas dapat berbentuk badan hukum atau bukan badan hukum. Satjipto Rahardjo menyatakan korporasi adalah suatu badan hasil ciptaan hukum, yang diciptakannya itu terdiri daari corpus yang membuat badan itu mempunyai kepribadian. 45

Utrecht/Moh. Soleh Djindang dalam buku Muladi dan Dwidja Priyatno

Tentang Korporasi adalah: “Suatu gabungan orang yang dalam pergaulan hukum

bertindak bersama-sama sebagai suatu subjek hukum tersendiri suatu personifikasi. Korporasi adalah badan hukum beranggota, tetapi mempunyai hak dan kewajiban sendiri terpisah dari hak dan kewajiban anggota masing-masing.46

A.Z.Abidin dalam buku Muladi dan Dwidja Priyanto menyatakan bahwa korporasi dipandang sebagai realita sekumpulan manusia yang diberikan hak

44

Mahmud Mulyadi dan Feri Antoni Surbakti, Politik Hukum Pidana Terhadap Kejahatan Korporasi (Jakarta: PT. Sofmedia, 2010), hal. 11.

45

Ibid., hal. 12. 46

Muladi dan Dwidja Priyatno, Pertanggungjawaban Pidana Korporasi (Jakarta: PT. Kencana, 2010), hal. 25.

sebagai unit hukum, yang diberikan pribadi hukum untuk tujuan tertentu. Menurut Subekti dan Tjitrosudibio yang dimaksud dengan corporate atau korporasi adalah suatu perseroan yang merupakan badan hukum. 47

Adapun pengertian korporasi dalam Ensiklopedia Ekonomi, keuangan dan perdagangan yang dihimpun oleh A. Abdurachman menyatakan: Corporatio (korporasi: perseroan) adalah suatu kesatuan menurut hukum atau suatu badan susila yang diciptakan menurut Undang-Undang sesuatu negara untuk menjalankan suatu usaha atau aktivitas atau kegiatan lainnya yang sah. Badan ini dapat dibentuk untuk selama-lamanya atau untuk sesuatu jangka waktu terbatas, mempunyai nama dan identitas yang dengan nama dan identitas itu dapat dituntut dimuka pengadilan, dan berhak akan mengadakan suatu persetujuan menurut kontrak dan melaksanakan semua fungsi lainnya yang seseorang dapat melaksanakannya menurut kontrak dan melaksanakan semua fungsi lainnya yang seseorang dapat melaksanakannya menurut Undang-Undang suatu negara. Pada umumnya suatu Corporation dapat merupakan suatu organisai pemerintah, setengah pemerintah, atau partikelir. 48

Pengusaha mempunyai kepentingan atas kelangsungan dan keberhasilan perusahaan adalah jelas daan wajar, yaitu karena tanggung-jawab moralnya sebagai pimpinan, sebagai sumber penghidupan dan untuk mendapatkan keuntungan yang sesuai dengan modal yang ditanamkannya. Sementara dipihak lain yaitu karyawan dan serikat pekerja juga mempunyai kepentingan yang sama atas perusahaan, yaitu sebagai sumber penghasilan dan penghidupannya. 49

47 Ibid, hal. 25 48 Ibid, hal. 26 49

Masitah Pohan, Tanggungjawab Sosial Perusahaan Terhadap Buruh (Jakarta: PT. Pustaka Bangsa Press, 2008), hal. 21.

Didorong oleh kepentingan yang sama antara pengusaha dan karyawan atas jalannya perusahaan dan dengan adanya keterlibatan keduanya dalam proses produksi, maka timbullah hubungan antara pengusaha dan karyawan atau serikat pekerja. Hubungan tersebut dinamakan hubungan industrial atau Industrial Relation. 50

Ciri-Ciri dari Sebuah Badan Hukum Adalah:

1. Memiliki kekayaan sendiri yang terpisah dari kekayaan orang-orang yang menjalankan kegiatan dari badan-badan hukum tersebut.

2. Memiliki hak-hak dan kewajiban yang terpisah dari hak dan kewajiban orang- orang yang menjalankan kegiatan badan hukum tersebut.

3. Memiliki tujuan tertentu.

4. Berkesinambungan (memiliki kontinuitas) dalam arti keberadaanya tidak terkait pada orang-orang tertentu, karena hak-hak dan kewajibannya tetap ada meskipun orang yang menjalankan berganti.51

B. BRI Sebagai Korporasi BUMN 1. Sejarah Bank Rakyat Indonesia (BRI)

Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah salah satu bank milik pemerintah yang terbesar di Indonesia. Pada awalnya Bank Rakyat Indonesia (BRI) didirikan di Purwokerto, Jawa Tengah oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Bestuurs Ambtenaren atau Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi yang berkebangsaan Indonesia (pribumi). Berdiri tanggal 16 Desember 1895 yang kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran BRI.

50

Ibid., hal. 22. 51

Pada periode setelah kemerdekaan Republik Indonesia, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1946 Pasal 1 disebutkan bahwa BRI adalah sebagai Bank Pemerintah pertama di Republik Indonesia. Dalam massa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948, kegiatan BRI sempat terhenti untuk sementara waktu dan baru mulai aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. Pada waktu itu mealui PERPU No. 41 Tahun 1960 dibentuklah Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN) yang merupakan peleburan dari BRI Bank Tani Nelayan dan Nederlandsche Maatschappij (NHM), kemudian berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) No. 9 Tahun 1965 tentang pembentukan bank tunggal dengan nama Bank Negara Indonesia. Dalam ketentuan baru itu, Bank Indonesia Urusan Koperasi Tani dan Nelayan (eksBKTN) diintegrasikan dengan nama Bank Negara Indonesia unit II bidang Rural, sedangkan NHM menjadi Bank Negara Indonesia unit II bidang Ekspor Impor (Exim).

Berdasarkan Undang-Undang No. 14 Tahun 1967 tentang Undang-Undang Pokok Perbankan dan Undang-Undang No. 13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral, yang intinya mengembalikan fungsi Bank Indonesia sebagai Bank Sentral dan Bank Negara Indonesia Unit II bidang Rular dan Ekspor Impor dipisahkan masing-masing menjadi dua bank, yaitu Bank Rakyat Indonesia daan Bank Ekspor Impor Indonesia. Selanjutnya, berdasarkan Undang-Undang No. 21 Tahun 1968 menetapkan kembali tugas-tugas pokok BRI sebagai Bank Umum.

Sejak tanggal 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 21 Tahun 1992 status BRI berubah menjadi Perseroan Terbatas. Saampai sekarang, PT. BRI

(Persero) yang didirikan sejak tahun 1895 tetap konsisten memfokuskan pelayanan kepada masyarakat kecil, di antaranya dengan memberikan fasilitas kredit kepada golongan pengusaha kecil. Hal ini antara lain tercermin pada perkembangan penyaluran KUK (Kredit Usaha Kecil) pada tahun 1994 sebesar Rp. 6.419,8 milyar yang meningkat menjadi Rp. 8.231,1 milyar pada tahun 1995 dan pada tahun 1999 sampai dengan bulan September sebesa Rp. 20.466 milyar.

Seiring dengan perkembangan dunia perbankan yang semakin pesat maka sampai saat ini Bank Rakyat Indonesia mempunyai unit kerja yang berjumlah 4.447 buah yang terdiri dari 1 Kantor Pusat BRI, 12 Kantor Wilayah, 12 Kantor Inspeksi/SPI, 170 Kantor Cabang (dalam negeri), 145 Kantor Cabang Pembantu, 1 Kantor cabang khusus, 1 New York Agency, 1 Caymand Island Agency, 1 Kantor Perwakilan Hongkong, 40 Kantor Kas Bayar, 6 Kantor Mobil Bank, 193 P. POINT,3.705 BRI UNIT, dan 357 Pos Pelayanan Desa.

Kepemilikan Bank Rakyat Indonesia (Persero) masih 100% ditangan Pemerintah Republik Indonesia. Bank Rakyat Indonesia (BRI) selalu mengunggulkan dan memberikan kepuasan kepada seluruh nasabah yang telah mempercayai Bank Rakyat Indonesia (BRI) sebagai Bank Umum selama ini. Semuanya akan dilakukan Bank Rakyat Indonesia (BRI) dalam melayani nasabah. Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga akan mampu bersaaing dalam dunia perbankan di Indonesia dengan sebaik-baiknya dan tidaak akan berbuat curang untuk mengalahkan para pesaingnya.

Bank Rakyat Indonesia (BRI) sudah berdiri sejak lama dan tahu mengenai masalah perbankan di Indonesia daan merupakan bank milik negara. Sebagian besar bank diIndonesia, Bank rakyat Indonesia (BRI) yang mempunyai unit kerja

atau cabang yang terbanyak dinegara ini karena Bank Rakyat Indonesia (BRI) selalu peduli terhadap rakyat miskin yang masih banyak tinggal di daerah pedesaan, tidaak membeda-bedakan status sosial, dan semuanya di mata bank Rakyat Indonesia (BRI) sama saja.

Visi BRI:

Bank terkemuka dan terbuka yang selalu mengutamakan kepuasan semua para nasabah yang ada di seluruh Indonesia agar selalu mempercayai Bank Rakyat Indonesia sebagai bank terbaik di Indonesia ini.

Misi BRI:

1. BRI melakukan kegiatan perbankan yang terbaik dengan memprioritaskan pelayanan kepada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk menunjang perekonomian di negara Indonesia.

2. BRI memberikan pelayanan prima kepada para nasabahnya melalui jaringan kerja luas dan didukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional dan ahli dengan melakukan banyak praktik tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).

3. BRI selalu memberikan keuntungan dan manfaat seoptimal mungkin kepada berbagai pihak yang berkepentingan atau kepada para nasabah.

Visi Unit BRI:

Menjadi lembaga keuangan dengan reputasi internasional, tumbuh sehat melalui penyediaan jasa perbankan untuk pengusaha mikro, kecil, dan menengah. Misi Unit BRI:

a. Memberikan layanan perbankan tanpa subsidi kepada para nasabah dengan menawarkan produk pinjaman, simpanan, daan jasa bank dengan bunga pasar yang telah ditentukan oleh Pemerintah Indonesia.

b. Memberikan layanan jasa keuangan yang dibutuhkan oleh nasabah mikro. 2. Struktur Organisasi Bank Rakyat Indonesia

Pengertian organisasi beraneka ragam tergantung dari sudut mana yang

bersangkutan melihatnya. Menurut S.P. Siagian daalam bukunya “Filsafat Administrasi”, organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau

lebih yang bekerja bersama serta secara formal terikat dalam raangka pencapaian sesuatu tujuan yang telah ditentukan dalam ikatan dimana terdapat seseorang atau bebrapa orang yang diisebut atasan dan seseorang atau beberapa orang yang disebut bawahan.

Struktur organisasi adalah suatu susunan dan hubungan antara tiap bagian serta posisi yang ada pada organisasi atau perusaahaan daalam menjalankan kegiatan operasional untuk mencapai tujuan. Struktur organisasi mmenggambarkan dengan jelas pemisahaan pekerja antara yang satu dengan yang lain dan bagaimana fungsi dan aktivitas dibatasi. Dalam struktur organisasi yang baik harus dijelaskan hubungan wewenang siapa yang melapor kepada siapa, yang menyusun pembagian kerja, dan merupakan suatu sistem komunikasi. Dengan demikian, kegiatan yang beraneka ragam dalam perusahaan disusun secara teratur sehingga tujuan usaha yang ditetapkan sebelumnya dapat dicapai dengan baik.

PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Cabang Kabanjahe bentuk organisasinya adalah fungsional dan staff, jenjang karir para anggotaa organisasi tidak terikat pada tingkat pangkat daan jabatan struktural yang

diperuntukkan bagi mereka yang memimpin satuan-satuan kerja yang melakukan kegiatan penunjang dimana pengendalian oleh pimpinan tidak terlalu ketat, namun tidak mengabaikan fungsi pengawasan.

C. Prinsip-Prinsip BRI Dalam Penyaluran Kredit

Kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang diberikan oleh bank mengandung risiko, sehingga dalam setiap pemberian kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah harus memperhatikan asas-asas perkreditan atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang sehat dan berdasarkan prinsip kehati-hatian. Untuk itu sebelum memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, bank harus melakukan penilaian yang seksama terhadap berbagai aspek. Berdasarkan penjelassan pasal 8 Undang- Undang Perbankan yang Diubah, yang mesti dinilai oleh bank sebelum memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah watak, kemampuan, modal, agunan, dan prospek usaha dari nasabah debitur, yang kemudian terkenal dengan sebutan “The five C of credit analysis”atau 5 C’s.

Prinsip-prinsip yang biasa dijadikan acuan dalam penilaian pemberian kredit perbankan tersebut adalah52

1. Prinsip Kepercayaan

Setiap pemberian kredit sebenarnya harus selalu disertai oleh kepercayaan, yaitu kepercayaan dari kreditur akan bermanfaatnya kredit bagi debitur sekaligus kepercayaan bahwa debitur dapat membayar kembali kreditnya.

2. Prinsip Kehati-hatian

52

Munir Fuadi, Hukum Perkreditan Kontemporer (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1996), hal. 24-28.

Prinsip kehati-hatian (prudent) adalah salah satu konkretisasi daari prinsip kepercayaan dalam suatu pemberian kredit. Untuk mewujudkan prinsip ini maka berbagai jenis usaha pengawasan dilakukan, baik oleh bank yang bersangkutan (internal) maupun oleh bank luar (eksternal) yang dalam hal ini adalah bank sentral.

3. Prinsip 5 C

a. Character (Watak)

Watak, sifat, kebiasaan peminjam kredit sangat berpengaruh pada pemberian Kredit. Kreditur ( pihak pemberi utang) dapat meneliti apakah calon penerima kredit masuk kedalam Daftar orang Tercela (DOT) atau tidak. Untuk itu kreditur juga dapat meneliti biodatanya dan informasi dari lingkungan usahanya. Informasi dari lingkungan usahanya dapt diperoleh dari supplier dan customer dari peminjam kredit. Selain itu dapat pula diperoleh dari Informasi Bank Sentral, namun tidak dapat diperoleh dengan mudah oleh masyarakat umum, karena informasi tersebut hanya dapat diakses oleh pegawai Bank bidang perkreditan dengan menggunakan password dan komputer yang terhubung secara on-line dengan Bank Sentral atau Bank Indonesia. Dalam hal ini yaitu adanya keyakinan dari pihak Bank bahwa si peminjam mempunyai moral, watak ataupun sifat-sifat pribadi yang positif dan kooperatif dan mempunyai rasa tanggung-jawab baik dalam kehidupan pribadi sebagai manusia, kehidupannya sebagai anggota masyarakat ataupun dalam menjalankan kegiatan usahanya.

Yaitu suatu penilaian kepada calon debitur mengenai kemampuan melunasi kewaajiban-kewajibannya dari kegiatan usaha yang dilakukannya atau kegiatan usaha yang akan dilakukannya yang akan dibiayai dengan kredit dari bank. Kapasitas atau kemampuan peminjam kredit adalah berhubungan dengan kemampuan seorang peminjam kredit untuk mengembalikan pinjaman. Untuk mengukurnya, kreditur dapat meneliti kemampuan peminjam kredit dalam bidang manajemen, keuangan, pemasaran, dan lain- lain. Disini kreditur atau bank perlu mengetahui, apakah nasabah mempunyai pengetahuan yang cukup dibidang usaha tersebut, apakah nasabah cukup berpengalaman mengelola usahanya.

c. Capital (Modal)

Dengan melihat banyaknya modal yang dimiliki peminjam kredit atau melihat berapa banyak modal yang ditanamkan peminjam kredit dalam usahanya, kreditur dapat menilai modal peminjam kredit. Semakin banyak modal yang ditanamkan, peminjam kredit akan dipandang semakin serius dalam menjalankan usahanya.Modal yang ada pada peminjam hakekatnya akan mengurangi resiko modal tersebut meliputi barang bergerak serta barang tidak bergerak yang ada dalam perusahaan.Disini bank berfungsi hanya menyediakan tambahan modal. Untuk mengetahui sejumlah mana kemampuan nasabah dapat menyediakan modal sendiri dapat dilihat dari laporan keuangan perusahaan.

d. Condition Of Economy (Kondisi Ekonomi)

Bank harus menilai sampai dimana dan berapa jauh pengaruh dari adanya suatu kebijaksanan pemerintah di bidang ekonomi terhadap prospek industri

dimana perusahaan pemohon kredit termasuk di dalamnya,disini apakah pelaksanaan usaha dilakukan dalam keadaan baik sehingga dapat berjalan lancar serta menguntungkan.Keadaaan perekonomian di sekitar tempat tinggal calon peminjam kredit juga harus diperhatikan untuk memperhitngkan kondisi ekonomi yang akan terjadi dimasa datang. Kondisi ekonomi yang perlu diperhatikan antara lain masalah daya beli masyarakat, luas pagar, persaingan, perkembangan teknologi, bahan baku, pasar modal, dan lain sebagainya.

e. Collateral (Jaminan/Agunan)

Disini debitur harus menunjukkan jaminan untuk mendapatkan krdit yang diberian oleh pihak bank. Jaminan dibuthkan untuk berjaga-jaga seandainya peminjam kredit tidak dapat mengembalikan pinjamannya. Biasanya nilai jaminan lebih tinggi dari jumlah pinjaman. Dalam hal ini jaminan ini

Dokumen terkait