Erni Irmayanti Hamzah 106704018 Anugrah Mattewakkang 106704040
E. PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP PEMBAGIAN KONDOM GRATIS
1. FPI Bandung Raya, menolak keras pembagian kondom gratis ini karena merupakan tindakan yang melanggar norma agama, Pancasila dan Undang-Undang. Kebijakan ini berarti Menkes melegalkan perzinahan, dan menyuruh para mahasiswa, pelajar dan masyarakat melakukan seks bebas dan sekaligus berupaya meliberalkan budaya bangsa dan oleh karena itu FPI menyerukan sikap agar Menkes menghentikan kegiatan ini dan menggantinya dengan yang tidak melanggar norma agama dan kearifan local. FPI Mengajak kepada seluruh elemen bangsa terutama kaum muslimin untuk mlawan menteri cabul dengan cara menolak paksa dan sweeping terhadap pembagian kondom ini. Sementara ditanya soal cara lain untuk mengatasi penyebaran virus HIV, menegaskan pemerintah dapat melakukan pencegahan dengan cara menutup tempat lokalisasi. Sebab dengan menutup lokalisasi maka penyebaran HIV akan lebih terkontrol dibandingkan membagikan kondom gratis yang mengundang warga untuk melakukan seks bebas dan perzinahan. Caranya banyak sekali, salah satunya apa yang disampaikan Walikota Bandung kan ingin menutup ikon pelacuran. Kenapa tidak ini saja yang didorong oleh pemerintah, khususnya Menkes supaya dipercepat program ini. Artinya saritem ikon pelacuran,
ikon penyebaran virus HIV kenapa tidak di tutup saja, hal ini lebih efektif dibandingkan membagikan kondom.
2. Pembagian kondom gratis berpotensi melegitimasi. Upaya pencegahan HIV/AIDS diisi pembagian kondom gratis. Bukankah pendistribusian kondom gratis kepada kalangan remaja, kemudahan mendapat kondom melalui ATM kondom yang ditempuh selama ini akan berpotensi melegitimasi dan meningkatkan hubungan seks di luar nikah? Pada akhirnya, program kondom itu menjadi masalah baru karena akan menyebarkan seks bebas. Melihat manajemen pencegahan HIV/AIDS, sesungguhnya pemakaian kondom merupakan langkah ketiga alias terakhir. Sementara langkah pertama abstinence dan be faithfull, tidak membahana dan membudaya sebagaimana kondom. Seharusnya penggiatan langkah pencegahan HIV/AIDS dalam bentuk abstinence dan be faithfull berupa meningkatkan pengetahuan yang menunjang perubahan perilaku rasanya lebih perlu digalakkan. Setidaknya segencar seperti promosi pemakaian kondom. Lebih mengedukasi masyarakat tentang bahaya seks bebas, penyakit menular seksual, kegagalan meraih cita, beban hidup menikah dini, serta materi-materi motivasi berkreasi dan berkarya di usia muda, motivasi meraih cita-cita, serta pandangan agama mengenai hubungan seksual kiranya bias menjadi paket pelindung remaja dari perilaku seks bebas.
3. Kondom bukanlah solusi terbaik untuk menyelesaikan dan memutus mata rantai perkembangan HIV/AIDS. Untuk itu, kita sangat mengharapkan peran serta seluruh komponen bangsa, terlebih pemerintah, dalam menjalankan program yang konkret. Artinya, pemerintah menjalankan program terukur untuk menurunkan
insiden infeksi HIV baru.
Berbagai acara dan kegiatan harus gencar diadakan dengan tujuan menyadarkan masyarakat agar mencegah virus HIV tersebar, memberikan edukasi-edukasi
mengenai penyakit mematikan disebabkan virus HIV, serta mempercepat respon masyarakat terhadap HIV dan AIDS dengan fokus pada perlindungan perempuan dan perlindungan anak, mencegah infeksi baru, meningkatkan akses pengobatan dan mengurangi dampak dari AIDS.
4. Perspektif religius-etis berkait pesan implisit dari program itu sendiri. Dari perspektif ini, pembagian kondom secara implisit merupakan semacam dorongan terselubung bagi para pelaku seks bebas (free sex), dalam arti bukan pasangan resmi, untuk meneruskan perilaku tersebut. Kira-kira, konstruksi logis-teologis-etis dirunut demikian:
a) Pembagian kondom secara tidak langsung meng”aman”kan perilaku seks antar-pasangan yang tidak resmi.
b) Karena di”aman”kan, pasangan yang tidak resmi ini semacam mendapat legalisasi tidak langsung untuk terus melakukan perilaku tersebut.
c) Maka, program pembagian kondom gratis merupakan program yang ikut mendorong secara tidak langsung kontinuasi dari perilaku seks antar-pasang yang tidak resmi.
5. Kondom itu sendiri bukanlah barang terlarang secara hokum. Jadi, Menkes bukannya mengabaikan pertimbangan teologis-etis di atas. Program pembagian kondom ini, bisa dianggap sebagai solusi pragmatis [langsung tepat sasaran] terhadap akutnya perilaku seks beresiko tersebut. Menkes melakukan apa yang patut ia lakukan pada koridor kawasan kewenangannya. Bahwa ada yang menarik implikasi seakan-akan pembagian kondom merupakan legalisasi secara implisit untuk melakukan seks bebas, merupakan penarikan implikasi yang tendensius. Pembagian kondom dimaksudkan sebagai pencegahan terhadap efek buruk dari
kenyataan mengenai adanya perilaku seks bebas, bukan dorongan untuk melakukan seks bebas.
6. Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) Indonesia melakukan aksi di Perempatan Kantor Pos Besar, Yogyakarta, Minggu (1/12). Dalam aksinya mereka menolak segala bentuk upaya penanggulangan aids melalui sosialisasi penggunaan kondom kepada pelajar, mahasiswa serta masyarakat umum karena hal tersebut akan memicu perilaku seks bebas.
7. BANDA ACEH - Ulama Aceh juga menyebutkan, dengan adanya pembagian kondom gratis malah akan menyebabkan semakin maraknya pergaulan bebas yang seharusnya ditekan agar penyebaran penyakit mematikan tersebut tidak meluas. Beliau meminta semua pihak agar tidak membagikan kondom gratis kepada masyarakat Aceh. Hal tersebut sangat berbahaya karena dapat menambah rusaknya moral masyarakat, khususnya remaja-remaja Aceh. Jika pemerintah khususnya menteri kesehatan ingin menekan jumlah masyarakat yang tertular penyakit HIV/AIDS, pembagian kondom tersebut bukanlah solusi. Aceh menolak pembagian kondom gratis karena kegiatan yang sangat tidak baik karena tidak mendidik masyarakat agar menjauhi pergaulan bebas.
8. Komisi X DPR RI, mengecam program penanggulangan Aids melalui sosialisasi pemakaian kondom kepada masyarakat termasuk pelajar dan mahasiswa sebab, secara tidak langsung ini mengajarkan kepada masyarakat umum, pelajar dan mahasiswa, bahwa melakukan seks di luar pernikahan legal asal menggunakan kondom. Hal ini akan berpotensi memicu perilaku seks bebas yang kontraproduktif, kondomisasi berarti liberalisasi perzinahan yang akan mendatangkan kutukan Allah, dan hidup tidak berkah. Beliau juga mengungkapkan sangat mendukung berbagai upaya penanggulangan penyakit AIDS akibat seks
bebas di luar pernikahan melalui pendidikan, dengan pendekatan moral dan agama,tetapi dengan bentuk sosialisasi tentang bahaya seks sebelum menikah, seks bebas atau bergonta-ganti pasangan seksual, pelacuran, pornografi, narkoba dan menjauhi perilaku Lesbi Gay Biseksual Transgender (LGBT) untuk menghindari resiko bahaya penularan virus HIV dan AIDS.
HASIL SURVEI MASYARAKAT
Dari hasil survey yang kami lakukan ada banyak pendapat yang dikemukakan oleh masyarakat tentang fenomena kondom gratis ini, tapi pemakalah akan menyantumkan beberapa saja di dalam makalah ini karena dari sekian banyak nara sumber mempunyai argumen yang sama, sebagai berikut:
a. Bapak Sukijan (Penjual): Menganggap bahwa semua itu tidak penting, yang terpenting adalah bagaimana dia bisa berjualan dengan lancar, dan selama wacana itu tidak mempengaruhi dagangannya, diapun sependapat. Tapi juga sebaliknya.
b. Bapak Mujahidin (Pemuka Agama): Beliau tidak setuju dengan wacana Pekan Kondom Nasional yang diadakan oleh Menkes (Menteri Kesehatan), beliau juga memberikan solusi alangkah lebih terpuji apabila dari pemerintah lebih mengutamakan untuk memberikan edukasi-edukasi yang lebih bermanfaat, dimana kita dapat mengetahui bahaya dari HIV dan AIDS itu sendiri.
c. Santriwati (Mahasiswi) dia adalah salah satu yang menjadi korban pembagian kondom. Selain itu, dia mengaku terkecoh dengan pembagian tersebut, dia mengira hanya buku AIDS saja yang dibagikan, namun rupanya di dalam buku AIDS tersebut ditempelkan 3 kondom. Dia juga merasa terlecehkan dengan program itu, ”Pastinya ngerasa dilecehkan banget secara aku pakai jilbab ternyata masih dikasih juga,” sesalnya.
d. Saudara Imron Ghozaly (Mahasiswa): Dia mempunyai anggapan bahwa Pemerintah lebih baik mengadakan Pekan Seks Nasional dari pada Pekan Kondom Nasioanal, dia menganggap bahwa secara tidak langsung pemerintah telah memberikan legalitasisasi seks bebas. Dia mempunyai pendapat seharusnya pemerintah membagikan songkok atau sejenisnya dan membagikan kerudung gratis untuk para remaja di Indonesia.
e. Ibu Sri Hartatik (Bidan): Beliau setuju-setuju saja dengan wacana yang sedang buming ini, tapi beliau juga tidak semata-mata setuju dengan wacana ini. Beliau setuju tapi dengan catatan pembagian kondom ini dibagikan di tempat-tempat yang memang rentan terkena virus HIV dan AIDS. Tidak sembarangan dibagikan kepada para remaja.
f. Fadil Rizki Aprilyan (Pelajar): Dia sangat setuju langkah yang dibuat oleh Menkes tentang wacana ini, dia berpendapat bahwa kenapa ketika kita mendengar kata kondom identik dengan freesex, padahal kondom adalah termasuk alat medis yang membantu pencegahan virus HIV/AIDS dan program KB, dia menganggap bahwa pola pikir kita harus lebih dewasa dengan realita yang ada di kehidupan sehari hari. Pemerintah telah tepat untuk agenda ini, pemerintah tidak semata-mata hanya membagikan kondom tapi pemerintah juga menyediakan bus yang juga disa kita bisa berkonsultasi bagaimana dan apa sebenarnya HIV/AIDS itu. “toh kita juga tau, jauh-jauh hari sebelum wacana ini ada, sudah banyak para pelajar dan mahasiswa yang sudah melakukan seks bebas”, kata dia sembari tertawa.
g. Rasmah (Mahasiswi) Menolak adanya pekan kondom nasional di Indonesia. Pekan kondom tidak memberikan dampak signifikan terhadap turunnya angka
penderita AIDS di Indonesia, angka penderita AIDS semakin bertambah. Kondom bukan solusi.
h. Haidir (mahasiswa) Menolak pembagian kondom yang tidak tepat sasaran. Hal tersebut akan menjadi pintu dari perbuatan seks bebas.
i. Roby (Guru) Mendukung segala bentuk penanggulangan AIDS yang sesuai dengan norma dan nilai agama tanpa harus membuka kesempatan untuk merusak moral anak-anak Indonesia.
j. Akbar (Mahasiswa) Mengajak Masyarakat Indonesia untuk terus memberi dukungan dan kepedulian kepada para penderita AIDS tanpa harus mengucilkannya dari masyarakat
k. Eny (Mahasiswa) Meminta kepada pemerintah dan masyarakat Indonesia untuk berperan aktif mencegah HIV/AIDS tanpa harus merusak moral bangsa Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Fitria, Eva. 2013. Macam-Macam Alat Kontrasepsi.
http://cara-kesehatan.blogspot.com/2013/03/macam-alat-kontrasepsi.html. Diakses
tanggal 18 Januari 2014.
Hanafiah, Junaidi. 2013. Pembagian Kondom Gratis Ditentang.
http://sosbud.kompasiana.com/2013/12/03/pembagian-kondom-gratis-lirikan-dari-atas-dan-bawah-615130.html. Diakses tanggal 18 Januari 2014.
Kardianan.2009. Journal of Pelayanan Kontrasepsi (Internet). Available from : (http//.www.info-kia.com.id) (Accessed 12 Des 2013).
Kartika, Eny. 2013. Mengenal Kelebihan & Kekurangan 6 Metode Kontrasepsi.http://cara-kesehatan.blogspot.com/2013/03/macam-alat-kontrasepsi.html. Diakses tanggal 18 Januari 2014.
Tukiran. 2010. Program Keluarga Berencana (KB). Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
NAMA : erli angraeni NIM : 106704014
TTL : maros, 7 juni 1992 ASAL DAERAH : takalar
ALAMAT : btn pemda blok e 22 no.30
NAMA : erni irmawanti hamzah NIM : 106704018
TTL : pinrang, 6 juni 1992 ASAL DAERAH : pinrang
ALAMAT : jl. Toddopuli 10 blok g3/4
NAMA : anugrah mattewakkang NIM : 10670405040
TTL : gowa, 11 september 1992 ASAL DAERAH : gowa
ALAMAT :
NAMA : andi nurwahida razak NIM : 106704006
TTL : Makassar, 4 desember 1991 ASAL DAERAH : makassar
ALAMAT : jl. Btn minasaupa blok j3/2
NAMA : afdilla noviastri NIM : 106704034
TTL : bone, 4 november 1991 ASAL DAERAH : bone