• Tidak ada hasil yang ditemukan

KOMITMEN NAHDLATUL ULAMA (NU) DALAM MENJAGA LINGKUNGAN DAN SUMBER DAYA ALAM

A. Respons NU dalam Persoalan Lingkungan Hidup, Sumber Daya Alam, dan Agraria dan Agraria

2. Pandangan NU Tentang Sumber Daya Alam (SDA)

132

sebagian besar rakyat Indonesia. Hilangnya hutan menyebabkan hilangnya sumber makanan dan obat-obatan. Hal ini berarti seiring dengan meningkatnya kerusakan hutan maka semakin tingginya tingkat kemiskinan rakyat. Lebih dari itu, sebagian masyarakat miskin di Indonesia hidup berdampingan dengan hutan.

Dengan kata lain, pembangunan dan industrialisasi ditujukan untuk kemaslahatan, alih-alih yang terjadi adalah pemiskinan dan kian meningkatnya kemiskinan.197 Dengan melihat persoalan lingkungan hidup di Indonesia yang semakin mengkhawatirkan, keputusan Muktamar NU ke-33 di Jombang menjelaskan bahwa Nahdlatul Ulama sebagai salah satu pemilik sekaligus pendiri bangsa ini bertanggung jawab untuk mengawal terwujudnya pembangunan dan industrialisasi yang ramah lingkungan di negeri ini yaitu pola pembangunan dan industrialisasi yang menjamin keberlanjutan lingkungan dan menjamin semakin sejahteranya rakyat Indonesia.198

2. Pandangan NU Tentang Sumber Daya Alam (SDA)

Untuk yang kesekian kalinya Muktamar NU memberikan perhatian yang serius mengenai sumber daya alam (SDA), karena masalah sumber daya alam masih menjadi isu yang terus aktual. Hasil keputusan Muktamar NU ke 33 di Jombang, Jawa Timur pada 1-5 Agustus 2015/ 16-20 Syawal 1436 H, juga membahas tentang persoalan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Dalam hasil keputusan Muktamar NU ke-33 dideskripsikan bahwa Indonesia adalah salah satu negara yang diberi anugerah oleh Allah SWT berupa sumber daya alam yang melimpah, sehingga hampir semua korporasi tambang dan gas

197

Hasil Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama ke-33 di Jombang. Selengkapnya lihat, Ibid., 312-313.

198

133

internasional melakukan bisnis eksplorasinya. Di satu sisi bisnis tersebut menguntungkan rakyat Indonesia, sedangkan di sisi lain menimbulkan kerusakan lingkungan alam yang luar biasa dampaknya. Sejauh ini batasan etis eksplorasi sumber daya alam telah banyak diabaikan.

Pengusaha melakukan eksplorasi pada batas-batas tertentu telah melakukan eksploitasi tanpa mempertimbangkan visi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Eksploitasi dilakukan hanya mempertimbangkan kepentingan ekonomi semata seakan-akan tidak ada lagi manusia yang akan hidup setelah masa eksploitasi berakhir. Pencemaran udara tidak diperhitungkan, rusaknya alam tidak dipikirkan, hancurnya tatanan musim dengan pancaroba berkepanjangan dan matinya segala biota, flora dan fauna dianggap sebagai konsekuensi yang wajar-wajar saja dari sebuah pertumbuhan ekonomi.199

Melihat persoalan-persoalan sebagaimana dipaparkan di atas, hasil keputusan Muktamar NU ke-33 di Jombang merumuskan keputusan sebagai berikut: (1) eksploitasi kekayaan alam yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan hukumnya adalah haram. (2) pemberian ijin eksploitasi oleh aparat pemerintah yang berdampak pada kerusakan alam yang tidak bisa diperbaiki lagi maka hukumnya haram jika disengaja. (3) sikap yang dilakukan oleh masyarakat adalah wajib amar makruf nahi munkar sesuai kemampuannya.200 Padahal, sumber daya alam Indonesia ini diperuntukkan untuk kesejahteraan rakyat. Menyoroti terkait persoalan sumber daya alam ini, keputusan Muktamar

199

Hasil Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama ke-33 di Jombang. Selengkapnya lihat, Ibid., 139.

200

134

NU ke-33 di Jombang, merumuskan beberapa permasalahan pokok tentang permasalahan tersebut, diantaranya:

1. Terkait dengan sumber daya alam:

a. Penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam ada di tangan orang perorang atau oleh sekelompok orang. Telah terjadi monopoli, oligopoli dan praktek kartel dan hal ini bertentangan dengan pasal 33 UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

b. Hak menguasai oleh negara selama ini telah didelegasikan kepada pihak swasta yang bermodal besar.

c. Pengertian ”untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat” diartikulasikan secara sempit, yaitu hanya dalam bentuk pengenaan pajak dan royalti yang ditarik oleh pemerintah. Sedangkan keterlibatan rakyat dalam mengelola sumber daya alam hanya dalam bentuk dan sebatas sebagai tenaga kerja. d. Hak pengusahaan hutan hanya diberikan pada kelompok pengusaha kelas

atas dan kelompok bermodal kuat, sementara hak masyarakat lokal/ hak rakyat untuk turut mengelola hutan tidak diberikan sebagaimana mestinya. 2. Terkait dengan tambang/ migas dan pertambangan umum:

a. Pertamina melakukan kontrak bagi hasil dari eksploitasi dan pemasaran diberikan kepada perusahaan-perusahaan besar.

b. Dalam pertambangan umum, misalnya pertambangan emas rakyat, usaha penambangan yang dilakukan oleh rakyat lokal tergusur oleh penambang besar dengan modal besar, dengan alasan penambang rakyat tidak

135

mempunyai teknologi dan manajemen yang baik serta tidak mempunyai ijin.

3. Terkait dengan MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia)

a. Dalam rangka mewujudkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia/ MP3EI, telah terjadi pengambil alihan tanah warga secara sewenang-wenang oleh Pemerintah.201

Hasil keputusan Muktamar NU ke-33 di Jombang dalam merespon persoalan tersebut merumuskan beberapa tujuan: pertama, memastikan terjaminnya penguasaan sumber daya alam benar-benar untuk kepentingan dan bermanfaat bagi masyarakat banyak. Industri migas dan mineral adalah sektor industri padat modal yang seharusnya dikelola dan didanai oleh negara bukan dilepaskan kepada para pemodal asing (swasta). Kedua, meneguhkan kembali komitmen pada pembangunan sektor kelautan dan kemaritiman, sekaligus memberikan appeal kepada pemerintah agar sektor SDA tidak dilupakan dan dikuasai oleh para pemodal asing. Pengelolaan SDA harus dikembalikan sesuai amanat konstitusi yaitu untuk kesejahteaan masyarakat banyak.202

Keputusan Muktamar NU ke-33 di Jombang juga diketengahkan analisa terkait persoalan sumber daya alam. Dalam keputusan tersebut dijelaskan bahwa sumber daya alam merupakan sektor strategis yang akan selalu menjadi isu strategis dalam pembangunan yang dijalankan oleh setiap rezim pemerintahan. Selama sektor SDA masih menjadi tumpuan utama pemasukan keuangan negara,

201

Hasil Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama ke-33 di Jombang. Selengkapnya lihat, Ibid., 243-244.

202

136

bisa dipastikan pengelolaan SDA akan menjadi isu krusial dan memerlukan penanganan yang penuh kehati-hatian. Apalagi dalam kondisi negara yang sedang mengalami krisis perekonomian, maka godaan untuk melakukan eksploitasi SDA dalam waktu yang secepat-cepatnya dan hasil yang sebesar-besarnya selalu dihadapi oleh Pemerintah. Dalam konteks ini Pemerintah dihadapkan pada pilihan untuk lebih memprioritaskan pengelolaan SDA pada perusahaan yang memiliki modal besar, mengingat usaha sektor ini memerlukan investasi dan modal yang besar.203

Sebagai wujud kepedulian Nahdlatul Ulama (NU) terhadap

keberlangsungan dan kelestarian sumber daya alam untuk menopang kehidupan umat manusia di masa-masa mendatang, Muktamar NU ke-33 di Jombang menyimpulkan dan membuat catatan rekomendasi yang ditujukan kepada Pemerintah. Pertama, melakukan moratorium terhadap semua izin perusahaan berskala besar di bidang perkebunan, kehutanan, pertambangan dan pesisir serta meninjau ulang semua kebijakan dan izin yang diterbitkan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah dalam bidang SDA. Kedua, menghentikan segala bentuk penanganan konflik yang disebabkan oleh persoalan pengelolaan sumber daya alam dengan cara kekerasan dan mengutamakan proses dan cara-cara dialogis.

Ketiga, membentuk lembaga khusus yang berfungsi menyelesaikan konflik agraria yang memiliki wewenang untuk membuat rekomendasi untuk dilaksanakan oleh Pemerintah. Keempat, mengembalikan tanah dan sumber daya

203

137

air milik rakyat yang dikuasai oleh perusahaan ataupun pemerintah kepada pemiliknya semula.204