F. Kerangka Teoretis
2. Teori Berorientasi Identitas
36
2. Teori Berorientasi Identitas
Salah satu teori yang banyak digunakan untuk membaca gerakan sosial baru (New Social Movement) adalah teori berorientasi identitas. Manuel Castells mendefinisikan identitas sebagai sumber makna dan pengalaman seseorang yang mana identitas tersebut merupakan proses konstruksi makna berdasarkan atribut budaya atau seperangkat atribut budaya yang diberi prioritas di atas sumber makna lain.31 Oleh karena itu, identitas kolektif merupakan sebuah konsep yang banyak digunakan untuk mengkaji tentang gerakan sosial.
Seperti ditunjukkan oleh Snow, yang dikutip Scott A. Hunt dan Robert D. Benford yang mengatakan, bahwa identitas kolektif dapat menjadi sebuah konsep yang dapat menangkap “semangat jiwa” dari gerakan sosial baru. Identitas kolektif telah menjadi pusat dalam studi gerakan sosial seperti mengkaji tentang munculnya gerakan, lintasan gerakan, dan dampak gerakan. Identitas kolektif tampaknya merupakan konsep sentral untuk hampir setiap perspektif teoretis dan pertanyaan empiris yang terkait dengan studi kontemporer tentang gerakan sosial.32
Menurut Alberto Melluci dalam the Process of Collective Identity, seperti dikutip Ruth A. Wienclaw dan Alexandra Howson, salah satu hal yang membedakan gerakan sosial baru dengan gerakan sosial lama dalam tindakan
31
Manuel Castells, The Power of Identity 2nd Edition (West Sussex United Kingdom: Wiley
Blackwell Publishing Ltd, 2010), 6-7. 32
Scott A. Hunt dan Robert D. Benford, “Collective Identity, Solidarity, and Commitment”, dalam David A. Snow, Sarah A. Soule dan Hanspeter Kriesi, The Blackwell Companion to Social
37
kolektif adalah rasa identitas kolektif atau citra diri kelompok33 yang muncul serta dibina dan dinegosiasikan oleh anggota gerakan dalam sebuah proses. Karena itu, identitas kolektif dapat ditandai atau dilambangkan dengan gaya, perilaku, atau bahasa yang dibagikan, adanya simbol (misalnya bendera, logo, dan lain-lain); atau bentuk ekspresi seni yang teridentifikasi dalam gerakan (misalnya, lagu-lagu kebebasan).34
Teori berorientasi identitas ini merupakan salah satu orientasi teori kontemporer gerakan sosial baru (New Social Movement). Sebagaimana dijelaskan Oman Sukmana, teori ini muncul sebagai kritik terhadap perspektif teori mobilisasi sumberdaya (Resource Mobilization Theory). Teori mobilisasi sumber daya dalam pandangan teori berorientasi identitas, bahwa basis rasionalitas teori mobilisasi sumber daya dianggap tidak cukup memadai lagi dalam menjelaskan gerakan sosial baru (kontemporer).35
Joshua Gamson menjelaskan, bahwa para peneliti gerakan sosial mulai memperlakukan konstruksi identitas kolektif sebagai aktivitas gerakan sosial yang penting. Seperti dikatakan Alberto Melucci, yang dikutip Gamson, bahwa model gerakan sosial yang berfokus pada tindakan instrumental cenderung memperlakukan identitas kolektif sebagai tindakan ekspresif non-rasional dari individu; juga merupakan pengejaran rasional atas keuntungan politik. Bahkan,
33
Kelompok adalah sebuah unit sosial yang lahir dari aktivitas sejumlah individu yang secara sengaja dan kolektif saling berbagi atribut-atribut atau nilai-nilai yang sama dalam rangka membedakan diri mereka dengan individu-individu lain. Afthonul Afif, Teori Identitas Sosial (Yogyakarta: UII Press, 2015), 2.
34
Ruth A. Wienclaw dan Alexandra Howson, “Major Social Movements” dalam Theories of
Social Movements: Sociology Reference Guide (Pasadena California Hackensack New Jersey:
Salem Press, 2011), 40. 35
38
dalam model aktor rasional yang lebih canggih yang didasarkan pada aktor kolektif, tindakan kolektif sebagaimana William Gamson ungkapkan, bahwa: "keberadaan identitas kolektif dalam gerakan sosial harus dimunculkan".36
Teori berorientasi identitas dalam studi gerakan sosial biasanya dipahami sebagai keberadaan pra-gerakan, yang kemudian membuatnya terlihat melalui pengorganisasian dan menerapkannya secara politis. Melucci dan ahli teori lain dari gerakan sosial baru, sebagaimana dikutip Gamson mengatakan, bahwa identitas kolektif diperlukan untuk tindakan kolektif. Identitas kolektif dalam gerakan sosial dikonseptualisasikan sebagai "proses rekomposisi yang berkelanjutan dan sebagai aspek dinamis dari kemunculan tindakan kolektif".37
Berbicara tentang identitas, merujuk pendapat Porta dan Diani, bahwa identitas tidak mengacu pada objek otonom, atau milik aktor sosial. Identitas lebih tepatnya dapat dimaknai sebagai proses di mana aktor sosial mengenali diri mereka sendiri, dan diakui oleh aktor lain, sebagai bagian dari kelompok yang lebih luas, dan mengembangkan keterikatan emosional. Kelompok tidak didefinisikan dalam referensi dalam ciri-ciri sosial tertentu seperti: kelas, jenis kelamin, etnis, orientasi seksual, atau sejenisnya. Kelompok juga tidak mengacu pada organisasi tertentu, meskipun istilah kelompok sering didefinisikan dalam istilah-istilah tersebut.
Oleh karena itu, identitas kolektif dapat didasarkan pada orientasi bersama, nilai, sikap, pandangan dunia, gaya hidup, serta pengalaman berbagi
36
Joshua Gamson, “The Dilemmas of Identity Politics”, dalam Jeff Goodwin dan James M. Jasper,
the Social Movements Reader Cases and Concept Third Edition (West Sussex. UK: John Wiley &
Sons, Ltd, 2015), 356. 37
39
pengalaman.38 Identitas dalam gerakan sosial memiliki bangunan karakteristik: pertama, identitas adalah komponen penting dari aksi kolektif. Kedua, hadirnya banyak identitas yakni perasaan individu memiliki beberapa kelompok berbeda dan terkadang didefinisikan sebagai referensi terhadap kriteria yang sangat beragam. Dari sudut pandang tertentu, identitas gerakan sosial beroperasi sebagai prinsip pengorganisasian kaitannya dengan pengalaman individu dan kolektif.39
Berikut ini kata kunci dalam memahamai teori berorentasi identitas dalam gerakan sosial baru, sebagaimana dijelaskan Hunt dan Benford. Pertama, micro-mobilization adalah istilah untuk menyoroti aktivitas (pekerjaan) di mana para aktivis terlibat untuk menghasilkan sebuah gerakan. Micro-mobilization merupakan sebentuk kerja kolaboratif yang dilakukan individu atas nama gerakan sosial atau organisasi gerakan sosial untuk mengumpulkan, menyiapkan, mengkoordinasi, menggunakan, dan mereproduksi sumber daya material, tenaga kerja, dan ide untuk tindakan kolektif.
Kedua, solidaritas berakar pada konfigurasi hubungan yang menghubungkan anggota kelompok satu dengan yang lain. Solidaritas – meminjam istilah Blumer—adalah “esprit de korps” yaitu perasaan pengabdian dan antusiasme untuk kelompok yang dibagi oleh anggota. Perasaan ini menunjukkan rasa solidaritas untuk memiliki seperti ikatan rasa kolektivitas yang menubuh; dan semangat yang melibatkan perasaan dengan kelompok. Ketiga, komitmen merupakan konsep yang dipahami sebagai kunci untuk menjelaskan partisipasi gerakan sosial. Komitmen adalah garis tindakan yang konsisten dalam
38
Donatella Della Porta dan Mario Diani, Social Movements An Introduction 2nd Edition (Malden,
USA: Blackwell Publishing, 2006), 91. 39
40
gerakan. Komitmen juga dimaknai sebagai keterikatan diri dengan persyaratan hubungan sosial. Komitmen mengacu pada kesediaan seseorang untuk melaksanakan suatu tindakan sosial di mana hal ini merupakan sifat dasar diri sebagai pribadi. Keempat, identitas kolektif.40
Pada tingkat yang paling mendasar identitas kolektif adalah rasa kebersamaan dari rasa “ke-kita-an” dan merupakan “agen kolektif “. Dari definisi ini dapat dilihat bahwa karakter identitas kolektif memiliki banyak dimensi termasuk elemen kognitif, moral, dan emosional. Identitas kolektif terkait dengan konsep-konsep seperti ideologi, identitas pribadi, dan motivasi untuk mengidentifikasi identitas kolektif dalam gerakan sosial.41
3. Framing (Pembingkaian)
Teori framing (pembingkaian) mencoba untuk memahami tentang cara gerakan sosial dan aktor gerakan sosial menciptakan dan menggunakan makna, peristiwa, dan ide yang dibingkai. Pembingkaian menunjuk pada upaya strategis yang dilakukan secara sadar oleh kelompok-kelompok orang untuk membentuk pemahaman bersama mengenai dunia dan diri mereka sendiri yang melegalkan dan mendorong aksi keloktif dalam gerakan sosial.42 Benford dan Snow,
40
Menurut Melucci, sebagaimana dikutip Karl Dieter Opp, dalam membangun identitas dan protes kolektif, gerakan sosial mengacu pada semua jenis tindakan yang terkait dengan gerakan sosial, termasuk perilaku protes. Dalam gerakan sosial terdapat proses di mana para aktor menghasilkan makna, berkomunikasi, bernegosiasi, dan membuat keputusan di mana hasilnya dapat berupa demonstrasi atau gerakan sosial. Identitas kolektif dapat digunakan dalam melihat gerakan sosial. Karl Dieter Opp, Theories of Political Protest and Social Movements: A Multidisciplinary
Introduction, Critique, and Synthesis (Abingdon Oxon, Canada and USA: Routledge: 2009),
204-210. 41
Scott A. Hunt dan Robert D. Benford, “Collective Identity, Solidarity, and Commitment”, dalam David A. Snow, Sarah A. Soule dan Hanspeter Kriesi (ed), The Blackwell Companion to Social
Movements (Malden USA: Blackwell Publishing Ltd, 2004), 43.
42
Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial Perspektif Klasik, Modern, Postmodern, dan
41
sebagaimana dikutip Jonathan Christiansen mengungkapkan, bahwa “proses pembingkaian menjadi pertimbangan, di samping adanya mobilisasi sumber daya serta proses peluang/ kesempatan politik, sebagai pusat dinamis dalam memahami karakter dan jalur gerakan sosial.”43
Ide framing (pembingkaian) berasal dari karya Erving Goffman berjudul Frame Analysis.44 Menurut Goffman, sebagaimana dikutip Opp, bingkai (framing) mengacu pada organisasi pengalaman atau ke sistem kepercayaan.45 Seperti dikutip Christiansen, Goffman menjelaskan bahwa orang membingkai pengalaman untuk mengatur dan memahami dunia di sekitar mereka. Analisis framing dapat membantu seseorang dalam menafsirkan dunia berdasarkan posisi sosial mereka dan pengalaman sebelumnya.46 Benford dan Snow menjelaskan bahwa “bingkai tindakan kolektif adalah kumpulan keyakinan dan makna berorientasi aksi yang menginspirasi dan melegitimasi kegiatan dan kampanye organisasi gerakan sosial”.47 Framing (pembingkaian) gerakan sosial memfokuskan pada empat bidang: pertama, menciptakan dan menggunakan framing (pembingkaian) untuk aksi kolektif. Kedua, adanya proses framing.
Adat ke Politik Transformasi Gerakan Sosial di Amerika Latin, (Serpong Tangerang Selatan:
Marjin Kiri, 2017), 33. 43
Jonathan Christiansen, “Framing Theory”, dalam Theories of Social Movements: Sociology
Reference Guide (Pasadena California Hackensack New Jersey: Salem Press, 2011), 145.
44
Dieter Opp, Theories of Political Protest and Social Movements: A Multidisciplinary
Introduction, Critique,and Synthesis, 235.
45
Ibid., 235. 46
Jonathan Christiansen, “Framing Theory”, 147. Untuk memahami lebih jauh tentang teori
Framing dalam gerakan sosial, lihat Jeff Goodwin dan James M. Jasper, The Social Movements Reader Cases and Concept Third Edition (West Sussex UK: Wiley Blackwell, 2015), 136-142.
47
R Benford dan D. Snow, “Framing Processes and Social Movements: An Overview and Assessment” dalam Annual Review of Sociology, 26. 1 (2000), 614.
42
Ketiga, mempertimbangkan peluang dan kendala. Keempat, efek framing pada hasil gerakan dan proses lainnya.48
Kerangka teoretis sebagaimana dipaparkan di atas, dalam penelitian ini peneliti gunakan untuk membaca dan menganalisis terkait gerakan lingkungan FNKSDA utamanya teori mobilisasi sumber daya untuk menganalisis dalam membaca komunitas santri “progresif” dari kalangan kaum muda NU sebagai sumber daya gerakan sosial dalam mengusung isu lingkungan dan sumber daya alam. Teori berorientasi identitas dalam penelitian ini digunakan untuk membaca dan menganalisis tentang Nahdliyin sebagai identitas NU serta merupakan identitas kolektif dalam gerakan sosial FNKSDA. Sedangkan teori Framing (pembingkaian) dalam penelitian ini digunakan untuk membaca tentang bagaimana aktivis FNKSDA membingkai isu kaitannya dengan lingkungan dan sumber daya alam (SDA) dalam gerakan sosial.