DAN SUMBER DAYA ALAM
3. Tipologi Gerakan Sosial
73
upaya sadar, sungguh-sungguh, dan sengaja dari voluntarisme insani dari aktivisme kolektif yang terorganisir untuk menolak beberapa bagian dari sebuah tatanan sosial atau untuk melindungi sebuah tatanan sosial, atau lebih dari itu, untuk mengubah sebuah tatanan sosial dan untuk menciptakan sebuah tatanan sosial yang lebih baik. Kebanyakan gerakan sosial mengekspresikan dan menunjuk pada sebuah arus deras cita-cita dan aktivitas yang relatif pejal dan terkonsentrasi dari sebuah aktivitas yang relatif terorganisir.
Keempat, berbeda dari konsepsi perubahan sosial, terutama dalam orientasi fungsionalnya, semua gerakan sosial di-ciri-kan oleh kelaziman adanya inti kritis, isi konfliktual, dan kontradiksi-kontradiksi sosial. Gerakan sosial dicirikan oleh adanya kesadaran kolektif yang bangkit dalam diri masyarakat terhadap beberapa nilai, norma, dan praktek sosial di sebuah masyarakat pada periode tertentu yang dianggap tak adil, menindas, dan tak bisa ditolerir oleh sebuah kelompok sosial. Gerakan sosial merujuk pada sebuah teknik sosial yang alami, yang seringkali terpaksa menentang dan menolak situasi-situasi ketidakadilan dan penindasan yang ada. Oleh karena itu, gerakan sosial merupakan aksi sosial yang disengaja yang memiliki tujuan, metode, dan prosedur organisasi serta komunikasi tertentu.100
3. Tipologi Gerakan Sosial
Antropolog David Aberle, dalam “The Peyote Religion Among the Navaho”, sebagaimana dikutip Flynn, memperkenalkan tipologi gerakan sosial yang menonjol dari gerakan sosial, yaitu: gerakan sosial model alternative,
100
Rajendra Singh, Gerakan Sosial Baru, terj. Eko P. Darmawan (Yogyakarta: Resist Book, 2010), 37-40.
74
redemptive, reformative, dan revolutionary model. Model Aberle ini adalah salah satu sistem klasifikasi gerakan sosial yang paling berpengaruh. Menurut Aberle, gerakan sosial dapat diklasifikasikan berdasarkan dua dimensi: (1) dilihat dari lokus perubahan yakni besarnya perubahan yang dikehendaki, dan (2) jumlah atau tipe perubahan yang dikehedaki. Skema klasifikasi gerakan sosial Aberle ini dapat digunakan untuk mengevaluasi populasi target dan ruang lingkup sebagian besar gerakan sosial. Selain itu, gerakan sosial alternatif, redemptive, reformatif, dan revolusioner ini dapat menggambarkan sebagian besar gerakan sosial.101
Gerakan transformatif, bekerja untuk perubahan struktural total atau lengkap. Mereka dapat berpartisipasi dalam aksi kekerasan untuk mencapai perubahan dan dapat mengantisipasi datangnya perubahan dahsyat. Sebagai contoh gerakan identitas keagamaan. Sedangkan, gerakan reformasi bekerja untuk menciptakan perubahan sosial parsial untuk mengatasi ketidakadilan dan ketidaksetaraan. Gerakan-gerakan reformatif cenderung memiliki tujuan yang dinyatakan sebagai keinginan untuk mendorong dan mempromosikan perubahan positif dan mencapai tatanan sosial yang adil. Gerakan-gerakan reformatif juga cenderung menjadikan isu tunggal sebagai gerakan sosial. Gerakan-gerakan reformatif bekerja untuk menciptakan perubahan sosial parsial untuk mengatasi ketidakadilan dan ketidaksetaraan.
Gerakan-gerakan reformatif ini cenderung memiliki tujuan untuk mendorong dan mempromosikan perubahan positif serta mencapai tatanan sosial yang adil. Menurut Almanza-Alcalde, sebagaimana dikutip Flynn, dalam banyak
101
75
kasus, misalnya, masalah tunggal akan menjadi titik awal untuk platform perubahan dan restrukturisasi sosial yang lebih besar. Sebagai contoh, gerakan reformasi politik telah mengurangi utang luar negeri negara-negara miskin dan setelah berhasil bercabang untuk mengubah aturan perdagangan dunia.
Fred Voget seperti dikutip Flynn adalah antropolog budaya dan etnolog India yang pertama kali menggunakan istilah gerakan reformatif ini pada 1956 di mana gerakan ini merujuk pada upaya kreatif yang sadar pada bagian dari kelompok bawahan untuk memperoleh reintegrasi pribadi dan sosial melalui penolakan, modifikasi, dan sintesis selektif.102 Gerakan sosial yang beragam menurut Aberle seperti dipaparkan di atas, menurut Iwan Gardono Sujatmiko, dapat disederhanakan dan ditipologikan dilihat dari “besarnya perubahan sosial yang dikehendaki” pada (skala); dan “tipe perubahan yang dikehendaki”. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:103
Tabel 2. Tipologi Besarnya Perubahan Sosial Yang Dikehendaki
Besaran TIPE
Perubahan Perorangan Perubahan Sosial Sebagian Alternative Movements Reformative Movements
Menyeluruh Redemptive Movements Transformative Movements
Alternative Movements ini berupaya untuk mengubah sebagian perilaku orang, seperti tidak merokok. Sementara redemptive movements mencoba mengubah perilaku perorangan secara menyeluruh, seperti dalam bidang
102
Ibid., 30. 103
Iwan Gardono Sujatmiko, “Gerakan Sosial dalam Dinamika Masyarakat”, dalam Darmawan Triwibowo (ed), Gerakan Sosial Wahana Civil Society bagi Demokratisasi, (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2006), xviii.
76
keagamaan. Reformative movements mencoba mengubah masyarakat namun dengan ruang lingkup yang terbatas, seperti gerakan persamaan hak dan perempuan. Sedangkan transformtive movements adalah gerakan yang mencoba mengubah masyarakat secara menyeluruh di mana fokus gerakannya pada dimensi tertentu seperti demokrasi, hak asasi manusia (HAM), keadilan sosial, gerakan lingkungan, bantuan hukum dan perempuan.104
Horton dan Hunt, sebagaimana dikutip Nanang Martono, membagi gerakan sosial dalam enam bentuk. Pertama, gerakan perpindahan: bentuk gerakan sederhana (secara fisik) yang dapat dilakukan individu, kelompok, dan masyarakat. Kedua, gerakan ekspresif, sebuah gerakan yang mengubah ekspresi atau reaksi masyarakat pada objek tertentu. Ketiga, gerakan utopia, bertujuan menciptakan masyarakat sejahtera skala terbatas/ lingkup kecil. Keempat, gerakan reformasi, berusaha memperbaiki berbagai ketimpangan dalam masyarakat (biasanya muncul di negara demokratis). Kelima, gerakan revolusioner, gerakan yang dibangun untuk mengganti sistem lama ke baru. Keenam, gerakan perlawanan yaitu gerakan sosial bertujuan menghambat atau menghalangi suatu perubahan sosial tertentu.105
Selain itu, terdapat klasifikasi gerakan sosial yang didasarkan pada kriteria, yaitu: pertama, perubahan yang diinginkan seperti gerakan sosial dengan tujuan terbatas hanya untuk mengubah aspek tertentu dalam masyarakat tanpa menyentuh inti struktur lembaganya. Seperti gerakan radikal yaitu gerakan yang
104
Ibid., xix. 105
Martono, Sosiologi Perubahan Sosial Perspektif Klasik, Modern, Postmodern, dan
77
berupaya pada perubahan yang mendalam dan menyentuh landasan organisasi sosial. Ada juga gerakan sosial yang berorientasi norma dan berorientasi nilai.
Kedua, kualitas perubahan yang diinginkan yaitu di dalamnya termasuk gerakan konservatif yang mengarah pada masa lalu; dan gerakan progresif yakni gerakan yang menekankan pada inovasi, mengenalkan lembaga baru yang berorientasi masa depan. Ketiga, gerakan menurut target perubahannya seperti gerakan yang memusatkan target perubahannya pada perubahan struktur sosial. Atau, gerakan sosial yang berorientasi pada perubahan diri individu. Keempat, arah perubahan yang diinginkan yaitu seperti gerakan sosial positif yang berupaya mengenalkan perubahan serta membuat perbedaan, misalnya gerakan anti globalisasi.
Kelima, gerakan yang didasarkan pada strategi yang mendasari/ logika tindakan mereka, seperti gerakan yang mengikuti logika instrumental yang bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan politik serta memaksakan perubahan yang diinginkan, di mana tujuannya sebagai kontrol politik. Selanjutnya, gerakan yang mengedepankan logika perasaan yakni bertujuan untuk menguatkan identitas untuk mendapat pengakuan umum dan mendapat posisi setara dengan kelompok lain, misal, gerakan feminisme. Keenam, berdasarkan sejarah perkembangannya, yakni seperti gerakan sosial lama (Traditional/ Old Social Movement) dan gerakan sosial baru (New Social Movement).106
Selain tipologi seperti dijelaskan di atas, seiring perkembangan jaman dapat ditambahkan tipologi gerakan sosial menurut “masa berlaku” yakni di
106
78
dalamnya gerakan sosial yang bersifat temporal (sementara); dan gerakan yang bersifat permanen (ajeg) yang berlaku cukup lama. Semenata, gerakan sosial menurut “wujud keanggotaannya” seperti gerakan sosial abstrak di mana para partisipan tidak terbentuk secara fisik, namun tetap memiliki anggota biasanya memanfaatkan teknologi informasi. Gerakan sosial konkret, yaitu gerakan sosial yang para anggotanya dapat ditemukan secara fisik dan domisili anggota dapat diketahui.107