• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pandangan Ulama Klasik tentang Perkawinan Beda Agama

Dalam dokumen Perkawinan Beda Agama di Indonesia (Halaman 50-56)

BAB II PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDOESIA

D. Pandangan Ulama Klasik tentang Perkawinan Beda Agama

Perkawinan beda agama pada prinsipnya adalah tidak dianjurkan bahkan dilarang, meskipun demikian dalam konteksnya perkawinan jenis ini dikategorisasikan ke dalam dua yakni perkawinan antara muslim dengan musyrik dan muslim dengan ahli kitab yang keduanya berimplikasi hukum yang berbeda.

1. Perkawinan Laki-laki Muslim dengan Perempuan non-Muslim

Pada umumnya ulama klasik sepakat bahwa perkawinan beda agama antara laki-laki muslim dengan Perempuan ahli kitab (yahudi dan nashrani) adalah boleh atau diperbolehkan dalam syariat Islam. Hal ini dilandasi pada firman firman Allah SWT :

31

Ahmad Baso dan Ahmad Nurcholish , Pernikahan Beda Agama: Kesaksian, Argumen Keagamaan, dan Analisis Kebijakan (Jakarta: KOMNAS HAM bekerja sama dengan ICRP, 2005), h. 7.

Artinya : pada hari ini dihalalkan bagimu segala hal yang baik-baik. Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka. (Dan dihalalkan bagimu menikahi) perempuan-perempuan yang menjaga kehomatan diantara perempuan-perempuan yang beriman dan permpuan yang menjaga kehormatan diantara oang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu, apabila kamu membayar maskawin mereka untuk menikahinya, tidak dengan maksud berzina, bukan untuk menjadikannya perempuan piaraan. Siapa yang kafi sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amal mereka dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. (al-Maidah : 5).”

Beberapa sahabat senior yang berpandangan seperti itu diantaranya adalah Umar, Usman, Thalhah, Hudzaifah, Salman, Jabir, dan beberapa sahabat lainnya. Semua menunjukkan atas dibolehkannya laki-laki muslim menikahi perempuan ahli kitab. Bahkan diantara mereka ada yang mempraktekannya, seperti sahabat Thalhah dan Hudzaifah, sementara tidak ada satupun sahabat Nabi yang menentangnya. Dengan demikian, dibolehkannya melakukakan perkawinan ini sudah merupakan ijma‟ sahabat. Dalam hal ini ibnu al-Mundzir mengatakan bahwa jika ada riwayat

dari ulama salaf yang mengharamkan pernikahan tersebut di atas, maka riwayat itu dinilai tidak shahih.32

Adapun sahabat Umar yang menyuruh beberapa sahabat yang lain agar menceraikan istri-istri mereka yang ahli kitab, maka hal itu dipahami sebagai suatu kekhawatiran beliau. Sebagai Khalifah, beliau khawatir perilaku mereka akan menjadi fitnah bagi umat Islam. Atas dasar inilah, Umar mencegah mereka untuk menikahi ahli kitab, tetapi hal itu bukan berarti beliau mengharamkannya, maksud fitnah disini adalah perilaku mereka itu akan ditiru oleh anak buahnya karena mereka para pemimpin, sehingga nanti wanita-wanita Islam tidak ada yang menikahinya.33

Meskipun banyak diantara ulama yang membolehkannya, akan tetapi ulama yang melarangnya secara mutlak pun ada. Bahkan dalam konteks Indonesia Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah memfatwakan pada Fatwa MUI No.04/MUNAS VII/MUI/8/2005 bahwa haram hukumnya perkawinan antar muslim dan non-muslim baik ahli kitab maupun selainnya. Hal demikian berlandaskan pada firman Allah swt

:

32

Lihat: Abu Muhammad Abdullah bin Ahmad Muhammad bin Qudamah, Al-Mughni Juz IX, (Saudi Arabia, Dar Alam al-Kutub, 1997), h. 545.

33

“Artinya : dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sampai mereka beriman. Sungguh hamba sahaya perempuan beriman lebih baik daripada perempuan musyrik, walaupun dia menaik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sampai mereka beriman. Sungguh hamba sahaya laki-laki lebih beriman lebih baik dari laki-laki musyrik walaupun mereka menarik hatimu. Mereka mengajaka ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.(al-Baqarah : 221)

Lalu selain itu, diterangkan-Nya juga dalam surat al-Mumtahanah ayat 10 yang berbunyi :

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu permpuan-perempuan yang beriman, maka hendaknya kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka. Maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka benar-benar beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang itu tiada hala pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami-suami) mereka mahar yang mereka bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar. Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (pernikahan) dengan permpuan-perempuan kafir. Dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar. Demikian hukum Allah yang ditetapkan-Nya diantara kamu. Dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana”. (al-Mumtahanah : 10)

Disamping itu mereka juga mengacu pada perkataan Abdullah bin Umar bahwa tidak ada kemusyrikan yang lebih besar daripada perempuan yang meyakini bahwa Isa bin Maryam adalah Tuhannya. Dengan demikian, perkawinan lelaki muslim dengan wanita non-muslim secara sepenuhnya haram, karena ahli kitab itu kategori kaum musyrikin. Sementara menurut Ibnu Abbas, hukum perkawinan dalam al-Baqarah ayat 221 dan al-Mumtahanah ayat 10 di atas dimana laki-laki muslim haram menikahi wanita non-muslim telah dihapus (mansukh) oleh surah al-Maidah ayat 5 yang membolehkan laki-laki muslim mengawini wanita ahli kitab. Karenanya yang berlaku adalah hukum dibolehkannya perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan ahli kitab.34

2. Perkawinan Laki-laki non-Muslim dengan Perempuan Muslimah

Sementara perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan muslim diperdebatkan tentang hukum kebolehannya, maka perkawinan laki-laki non-muslim dengan perempuan muslim dalam pandangan ulama secara umum menghukuminya haram dan diantara ulama klasik tesebut tidak tedapat perdebatan terkait hal ini. Meskipun surah al-Mumtahanah ayat 10 telah di nasakh oleh surah al-Maidah ayat 5, namun karena ayat tersebut tidak menjelaskan tentang perkawinan antara laki-laki non-muslim dengan perempuan muslim, sehingga para ulama beranggapan bahwa yang diperbolehkan hanyalah perkawinan antara laki-laki muslim dengan perempuan non-muslim tapi tidak sebaliknya.

34

Meski demikian, bukan berarti tidak ada yang memperdebatkannya dan berpandangan berbeda. Semisal Cak Nur, diantara ilmuan yang membolehkan terjadinya perkawinan antara laki-laki non-muslim dengan perempuan muslim. Pendapat seperti ini muncul karena anggapan bahwa tidak ada nash yang mengatur secara jelas perkawinan seperti ini, meskipun tidak ada yang memperbolehkan perkawinan seperti itu. Tapi menarik juga untuk dicermati, karena tidak ada larangan yang sharih.35

35

Dalam dokumen Perkawinan Beda Agama di Indonesia (Halaman 50-56)

Dokumen terkait