BAB II PERKAWINAN BEDA AGAMA DI INDOESIA
B. Rukun dan Syarat Sah Perkawinan
Rukun, yaitu sesuatu ysng mesti ada yang menentukan sah atau tidaknya suatu pekerjaan (ibadah), dan itu termasuk dalam rangkaian pekerjaan itu, seperti membasuh muka untuk dan takbiratul ihram unuk shalat atau adanya calon pengantin laki-laki/perempuan dalam perkawinan. Sementara syarat yaitu sesuatu yang mesti ada yang menentukan sah dan tidaknya suatu pekerjaan (ibadah), tetapi sesuatu itu tidak termasuk dalam rangkaian pekerjaan itu, seperti menutup aurat untuk shalat atau menurut Islam calon pengantin laki-laki itu harus beragama Islam.11
Diskursus tentang rukun merupakan masalah yang serius diantara kalangan fuqaha. Sebagai konsekuensinya terjadi silang pendapat berkenaan dengan apa yang termasuk rukun dan mana yang tidak. Bahkan perbedaan itu juga terjadi dalam menentukan mana yang termasuk rukun dan mana yang syarat. Bisa jadi sebagian ulama menyebutnya sebagai rukun dan ulama lainnya menyebutnya sebagai syarat.12
1. Rukun Perkawinan
Jumhur ulama sepakat bahwa rukun perkawinan itu terdiri atas :13
10
Muhammad Amin Suma, Kawin Beda Agama di Indonesia, h. 97-100. 11
M.A. Tihami, Fikih Munakahat ,(Jakarta: Rajawali press, 2009) h.12 12
Amiur Nuraddin, Hukum Perdata Islam di Indonesia cet-3, (Jakarta: Kencana,) h.60. 13
Lihat Slamet Abidin dan Aminuddin, Fiqh Munakahat 1,( Bandung, Pustaka setia, 1999) h. 64-68. Lihat juga Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat cet-3,( Jakarta, Kencana 2008), h. 46-47
a. Adanya calon suami dan istri yang melakukan perkawinan.
b. Adanya wali dari pihak calon pengantin wanita. Akad nikah akan dianggap sah apabila ada seorang wali atau wakilnya yang menikahannya,
c. Adanya dua orang saksi. Pelaksanaan akad nikah akan sah apabila dua orang saksi yang menyaksikan akad nikah tesebut
d. Sighat akad nikah, yaitu ijab kabul yang diucapkan oleh wali atau wakilnya dari pihak wanita dan dijawab oleh calon pengantin pria.
Tentang jumlah rukun ini, para ulama berbeda pendapat :
Imam Malik mengatakan bahwa rukun perkawinan itu ada lima macam, yaitu : a. Wali dari pihak perempuan
b. Mahar
c. Calon pengantin laki-laki d. Calon pengantin perempuan e. Sighat akad perkawinan.14
Imam Syafi’i berkata bahwa rukun perkawinan itu ada lima macam, yaitu : a. Calon pengantin laki-laki
b. Calon pengantin perempuan c. Wali
d. Dua orang saksi e. Sighat akad nikah.15
14
Menurut ulama Hanafiyah, rukun perkawinan itu hanya ijab dan qabul saja (yaitu akad yang dilakukan oleh pihak wali perempuan dan calon pengantin laki-laki). Sedangkan menurut segolongan yang lain rukun itu ada empat, yaitu :
a. Sighat (ijab dan qabul) b. Calon pengantin laki-laki c. Calon pengantin perempuan
d. Wali dari pihak calon pengantin permpuan.16
Pendapat yang mengatakan bahwa rukun nikah itu adalah empat, karena calon pengantin laki-laki dan calon pengantin permpuan digabung menjadi satu rukun seperti terlihat dibawah ini.
Rukun perkawinan :
a. Dua orang yang saling melakukakn akad perkawinan, yakni mempelai laki-laki dan mempelai permepuan.
b. Adanya wali
c. Adanya dua orang saksi
d. Dilakukan dengan sighat tertentu.17
Lalu dalam konteks wali secara spesifik para ulama berbeda pendapat dalam keharusan adanya wali yakni:
15
Slamet Abidin dan Aminuddin, Fiqh Munakahat 1, h.72 16
Lihat Wahbah al-Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuh, (Beirut: Dar al-Fikr, 1998), h. 36
17
a. Malik berpendapat bahwa perkawinan tidak sah kecuali dengan wali dan
itu merupakan syarat sah, dalam riwayat Asyhab darinya dan Syafi’i juga
menyatakan demikian
b. Abu Hanifah, Zufar, Sya’bi dan Az-Zuhri mengatakan bahwa jika seorang wanita melakukan akad perkawinan tanpa walinya, sedangkan calon suaminya setara dengannya, maka dibolehkan.
c. Sedangkan Daud membedakan antara gadis dan janda, dia berkata
“disyaratkan adanya wali pada gadis dan tidak disyaratkan adanya wali
pada janda”
d. Berdasarkan riwayat Ibnu Al Qasim dari Malik tentang perwalian terdapat pendapat keempat, yaitu bahwa disyaratkannya wali dalam nikah adalah sunah bukan wajib. Hali itu kaena diriwayatkan darinya, bahwa dia berpendapat adanya hak warisan antara suami istri tanpa wali, dan boleh bagi seorang wanita yang tidak memiliki kemuliaan untuk mewakilkan kepada seorang laki-laki dalam menikahkannya. Dia juga mensunahkan agar seorang janda mengajukan kepada walinya untuk menikahkannya. Seolah-olah menurutnya wali itu termasuk kesempurnaan bukan rukun. Berbeda dengan ungkapan ulama Bghdad yang termasuk pengikut Malik (yaitu mereka mengatakan bahwa wali termasuk rukun bukan syarat kesempurnaan)18
18
Ibnu Rusyd, Bidayatul Mujtahid 2 Terjemah Bahasa Indonesia,(Jakarta, Pustaka azam : 2007), h. 14-15
2. Syarat Sah Perkawinan
Syarat-syarat perkawinan merupakan dasar dasar bagi sahnya perkawinan.19 Lalu syarat perkawinan juga merupakan syarat yang bertalian dengan rukun-rukun perkawinan, yaitu syarat-syaat bagi calon mempelai, wali, saksi, dan ijab kabul.20
Syarat suami
a. Bukan mahram dari calon istri b. Tidak terpaksa atas kemauan sendiri c. Orangnya tertentu, jelas orangnya d. Tidak sedang ihram.
Syarat istri
a. Tidak ada halangan syarak, yaitu tidak bersuami, bukan mahram, tidak sedang dalam iddah
b. Merdeka atas kamauan sendiri c. Jelas orangnya
d. Tidak sedang dalam berihram Syarat wali a. Laki-laki b. Baligh c. Waras akalnya d. Tidak dipaksa 19
Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat cet-3, h. 49 20
e. Adil
f. Tidak sedang dalam ihram Syarat saksi
a. Laki-laki b. Baligh
c. Waras akalnya d. Adil
e. Dapat mendengar dan melihat f. Bebas tidak dipaksa
g. Tidak sedang dalam berihram
h. Memahami bahasa yang digunakan dalam ijab kabul.
Syarat-syarat sighat : hendakanya dilakukan dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh orang yang melakukan akad, penerima akad, dan saksi, shigat hendakanya menggunakan ucapan yang menunjukkan waktu akad dan saksi. Shigat hendaknya mempergunakan waktu lampau, atau salah seorang mempergunakan kalimat yang menunjukkan waktu lampau sedang lainnya dengan menunjukkan waktu yang akan datang.21
Kata sah berarti menurut hukum yang berlaku disaat perkawinan itu dilaksanakan tidak menurut tata tertib hukum yang telah ditentukan maka perkawinan itu tidak sah. Jadi dalam konteks Indonesia jika tidak mnegikuti aturan Undang-
21
Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, berarti tidak sah menurut perundangan, kalau tidak menurut hukum agama berarti tidak sah menurut agama, begitu pula kalau tidak menurut tata tertib hukum adat tidak sah menurut hukum adat. Sahnya suatu perkawinan telah diatur dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang menetapkan sebagai berikut:22
1) Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing- masing agamanya dan kepercayaannya;
2) Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Lebih lanjut pada penjelasannya disebutkan bahwa tidak ada perkawinan di luar hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu. Hal ini sesuai dengan Pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi:
1) Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa;
2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing –masing dan beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu.23 Dari ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan jelas terlihat bahwa Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menentukan sahnya suatu perkawinan kepada hukum agama dan kepercayaannya masing-masing pemeluknya. Setelah perkawinan dilangsungkan menurut tata cara masing-masing agama dan kepercayaannya, maka kedua mempelai
22
Slamet Abidin dan Aminuddin, Fiqh Munakahat 1, h.35 23
menandatangani akta perkawinan yang telah disiapkan oleh pegawai pencatat perkawinan.24