• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengapa Panduan ini?

Salah satu cara paling efektif untuk mencegah eksploitasi pekerja migran, termasuk perempuan dan pekerja migran di perekonomian informal, adalah dengan menjamin hak untuk berorganisasi, berunding bersama dan membentuk atau bergabung dengan serikat pekerja di negara tujuan. Terdapat tingkat eksploitasi tenaga kerja, pekerja anak, perdagangan manusia dan kerja paksa yang lebih rendah yang ditemukan di industri yang memiliki representasi serikat pekerja yang kuat. Pengorganisasian merupakan pintu masuk untuk meningkatkan anggota baru serikat pekerja, untuk menangani masalah mereka, untuk memberikan akses yang lebih baik ke pendidikan dan pelatihan, dan pada akhirnya memungkinkan mereka untuk melakukan perundingan untuk mengurangi kesenjangan upah gender, menaikkan upah dan tunjangan dan memperbaiki kondisi kerja, termasuk mencegah kekerasan dan eksploitasi (ILO dan UN Women 2019c, 1).

Hak universal atas persamaan perlakuan dan non-diskriminasi berlaku untuk semua pekerja migran tanpa memandang gender. Semua pekerja migran harus menikmati upah yang sama untuk pekerjaan yang bernilai sama dan dapat menggunakan hak-hak mereka – termasuk hak berserikat pekerja – tanpa ancaman pelecehan atau kekerasan.

Memastikan hak-hak ini juga memastikan bahwa baik migrasi maupun gender tidak disalahgunakan untuk tujuan melemahkan syarat dan ketentuan kerja yang ada (ILO 2014a, Paragraf 42).

Dari perkiraan 11,6 juta pekerja migran di Asia Tenggara dan Pasifik pada 2017, 5,2 juta adalah perempuan, pangsa yang hampir setara (ILO 2018d). Namun dalam lanskap yang terlihat setara ini, data menunjukkan bahwa pekerja migran menerima upah lebih rendah dibandingkan pekerja warga negara setempat, dan pekerja migran perempuan memiliki upah terendah dari semuanya (ILO dan UN Women 2020a). Ekonomi di Asia dan Pasifik memperoleh keuntungan dari tenaga kerja perempuan, tetapi pengembalian kepada perempuan belum adil – terutama bagi perempuan migran.

Sebagaimana ditekankan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2019, “Diskriminasi [yang dihadapi oleh perempuan migran] berdampak pada penikmatan hak asasi manusia oleh perempuan dan anak perempuan dan meningkatkan kemungkinan mereka akan mengalami diskriminasi yang ditargetkan, jamak atau struktural, termasuk risiko kekerasan” (Majelis Umum PBB 2019, Paragraf 10).

Mayoritas pekerja migran, termasuk perempuan di antara mereka, tidak berserikat di negara-negara ASEAN, dan tidak dapat memanfaatkan hak tindakan bersama yang melekat dalam serikat pekerja untuk menghapuskan berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan, diskriminasi dan eksploitasi yang mereka hadapi di tempat kerja (Marks dan Olsen 2015). Pekerja migran seringkali tidak diizinkan oleh UU atau dalam praktik untuk bergabung atau membentuk serikat pekerja, atau dilarang menduduki jabatan pimpinan serikat pekerja. Sektor-sektor yang sebagian besar mempekerjakan perempuan, terutama di perekonomian informal, misalnya pekerjaan rumah tangga dan hiburan, juga menghadapi pembatasan atau hambatan yang lebih besar dalam melaksanakan kebebasan berserikat. Oleh karena itu, pekerja migran perempuan menghadapi bentuk diskriminasi yang unik – baik sebagai migran maupun sebagai perempuan – yang menghalangi hak mereka untuk berorganisasi dan melakukan perundingan bersama.

© ILO/ Marcel Crozet

Perempuan di Asia dan Pasifik paling sedikit terwakili dalam keanggotaan serikat pekerja di antara semua kawasan di seluruh dunia, dan hanya mengisi 34,1 persen dari anggota di kawasan tersebut – jauh di bawah rata-rata global sebesar 42,4 persen (Equal Times 2018, 10). Secara global, perempuan mengisi 14,4 persen dari dua teratas jabatan pimpinan serikat pekerja – presiden dan wakil presiden – di dalam serikat pekerja individual (Equal Times 2018, 15). Pekerja migran perempuan menghadapi hambatan untuk berorganisasi, misalnya jam kerja panjang, tidak ada hari libur, tempat kerja terisolasi, hambatan bahasa dan terbatasnya pengetahuan tentang hak. Banyak juga yang takut dipecat atau menghadapi sanksi dari otoritas lokal jika mereka terlibat dalam kegiatan pengorganisasian. Jika mereka mampu dan ingin terlibat dalam pengorganisasian, pekerja migran perempuan pada umumnya menghadapi beban tiga kali lipat yang menghalangi, yaitu tugas kerja berbayar, pekerjaan perawatan dan rumah tangga dan tanggung jawab serikat pekerja. Ini semua masih ditambah lagi dengan kurangnya hak-hak dasar karena status migran mereka.

Serikat pekerja secara regional dan global sering menangani masalah migran, atau kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. ACTRAV dan Safe and Fair bermaksud agar panduan pelatihan ini memungkinkan serikat pekerja mampu menangani kebutuhan khusus pekerja migran perempuan, dengan menyatukan kedua unsur ini.

Program Aman dan Adil: Mewujudkan Hak dan Peluang Pekerja Migran Perempuan di Kawasan ASEAN Region (2018–2022) merupakan bagian dari Inisiatif Spotlight Uni Eropa-PBB multi-tahun untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan, multi-tahun. Safe and Fair dilaksanakan oleh ILO dan UN Women, bekerja sama dengan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan. Safe and Fair memberikan bantuan dan dukungan teknis dengan tujuan umum untuk membuat migrasi tenaga kerja aman dan adil bagi semua perempuan di kawasan ASEAN. Safe and Fair bermitra dengan ILO ACTRAV untuk meningkatkan peluang bagi pekerja migran perempuan untuk berorganisasi di tingkat regional, nasional dan lokal untuk menangani eksploitasi tenaga kerja dan diskriminasi berbasis gender dan untuk meningkatkan migrasi yang aman dan adil.

Panduan ACTRAV manual In Search of Decent Work: Migrant Workers’ Rights: A Manual for Trade Unionists yang disusun pada 2008 merupakan rujukan yang berguna untuk merancang Panduan ini. Panduan ini meninjau tren kekinian dalam migrasi dengan fokus pada pekerja migran perempuan, mengkaji standar ketenagakerjaan internasional dan instrumen lain yang berkaitan dengan hak pekerja migran dan perempuan di antara mereka, dan menyoroti perkembangan terkait migrasi dan UU ketenagakerjaan nasional di ASEAN. Panduan ini memberikan modul pembelajaran tentang kondisi kerja dan hidup pekerja migran perempuan, perlindungan sosial sensitif gender, kontribusi sosial ekonomi pekerja migran perempuan dan mitos umum yang meruntuhkan perlindungan hak-hak mereka. Panduan ini membahas isu-isu eksploitasi, misalnya kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan, diskriminasi kehamilan, kurangnya perlindungan maternitas, serta isu-isu khas untuk industri yang didominasi oleh perempuan, misalnya pekerjaan perawatan/rumah tangga dan hiburan. Panduan ini akan fokus membahas cara

membangun kepemimpinan perempuan serta cara berorganisasi dalam perekonomian informal, di mana pekerja migran perempuan mendominasi.

Pada Konferensi Regional ILO tentang Perempuan dan Masa Depan Kerja di Asia dan Pasifik di Bangkok pada 2018, para pendukung yang hadir menjelaskan bahwa dalam proses untuk memperluas kepemimpinan dan suara perempuan, kendala dan persepsi gender tertentu harus dihadapi untuk menghapus prasangka yang tidak disadari.

Psikolog perilaku menyatakan bahwa setiap orang, bahkan yang sangat peduli tentang keragaman sekalipun, tunduk pada prasangka yang tidak disadari. Persepsi stereotip tetap ada tentang peran dan tanggung jawab perempuan dan laki-laki, serta warga negara dan migran, yang menghadirkan tantangan berat untuk meningkatkan kepemimpinan perempuan dan memastikan pelibatan para migran dalam gerakan buruh (ILO 2018b, 22). Pedagogi panduan ini mendorong renung atas prasangka yang tidak disadari ini sebagai cara untuk mempromosikan kepemimpinan yang lebih besar di kalangan dan oleh perempuan dan migran.

Partisipasi dan kepemimpinan perempuan dan migran dalam gerakan serikat pekerja sangat penting untuk menangani masalah gender di tempat kerja dan untuk mengurangi kesenjangan gender di tempat kerja dan di masyarakat.

© ILO/Stephanie Simcox

© ILO/Stephanie Simcox

Modul 1.

Tren gender migrasi