ATURAN WAJIB
2.5 PANDUAN PERANCANGAN RTH KAWASAN ATURAN WAJIB
Aturan Anjuran Tata Bangunan Aturan Anjuran Tata Lingkungan Aturan Anjuran Tata Visual RUMAJA Ruang Manfaat Jalan RUMIJA Ruang Milik Jalan Jalan RUWASJA Ruang Pengawasan Jalan BLOK 4 (SEMPADAN PANTAI)
A B C
PERUNTUKAN LAHAN MAKRO RTH Aktif dan Pasif
PERUNTUKAN LAHAN MIKRO Taman Skala Kota, Joging Track, Adventure Game, Area Olahraga, dan Parkir
KOEFISIEN DASAR BANGUNAN (KDB)
20% (Perdagangan & Jasa) KOEFISIEN LANTAI BANGUNAN
(KLB)
Maks. 0.2 KOEFISIEN DASAR HIJAU (KDH) Min. 70%
KETINGGIAN BANGUNAN
MAKSIMAL
1 Lantai GARIS SEMPADAN BANGUNAN
(GSB)
15 M (dari As Jalan)
PERPETAKAN LAHAN • Luas kapling/persil tipe kecil 120 - 160M2
• Luas kapling/persil tipe sedang 161 - 200M2
• Luas kapling/persil tipe besar > 201M2
JARAK BEBAS BANGUNAN -
BENTUK DAN TATA MASA
BANGUNAN
Bentuk bangunan penunjang disesuaikan dengan fungsinya sebagai penunjang aktifitas di dalam ruang terbuka
Penempatan massa bangunan penunjang tidak menghalangi pergerakan di dalam ruang terbuka, ditempatkanpada sisi persil
ORIENTASI BANGUNAN Bangunan penunjang berorientasi ke dalam ruang terbuka
PENGOLAHAN FASAD
BANGUNAN
• Pengelolaan fasad bangunan penunjang tidak mengikat namun tetap serasi dengan lingkungan
• Elemen transparan minimal 60% berupa berupa jendela yang difungsikan sebagai pencahayaan alami
• Penggunaansusunan material batu alam sebagai pembentuk karakter kawasan ditempatkan pada fasad
• Pemilihan warna tone soft / lembut selaras dengan lingkungan
BAHAN ATAP BANGUNAN Penggunaan material atap sesuai dengan daerah tropis, seperti genteng dan tidak
diperkenankan penggunaan material atap seng dan asbes
Hal -
64
A B C
Penggunaanlisplank kayu sebagai pembentuk karakter kawasan
Penggunaan material lainnya diupayakan yang ramah lingkungan, tidak rentan terhadap bencana, serta mudah dalam perawatan dan pembersihan
SIRKULASI KENDARAAN Tidak ada sirkulasi bagi kendaraan di dalam area ruang terbuka
Fasilitas pejalan kaki berupa jalur pejalan kaki dengan lebar 1.8 m disediakan di sekeliling ruang terbuka
Perkerasan jalur pejalan kaki menggunakan material ubin PC dan dikombinasikan dengan ubin teksturpemandu untuk kebutuhan kaum difabel
SIRKULASI PEJALAN KAKI Penggunaan material batu koral sikat untuk jalur pedestrian yang sekaligus didesain sebagai jalur refleksi
Perletakan ramp adalah pada jalan masuk menuju area dalam ruang terbuka dengan kemiringan maksimal 17%
Penggunaan ramp untuk kontinuitas pergerakan sehingga nyaman bagi siapapun termasuk manula dan difabel
PARKIR Parkir disediakan di dalam area RTH (off-street
parking).
Penggunaan material grass block atau paving block pada area parkir yang disediakan
Parkir sepeda disediakan berdekatan dengan halte
RUANG TERBUKA & TATA HIJAU Jarak tanam vegetasi pada RTH adalah setiap 10 m
Penggunaan jenis vegetasi lokal dan beragam namun beradaptasi tinggi, yaitu berupa pohon tahunan atau musiman, tanaman bunga, semak, perdu, serta penutup tanah
Penggunaan material grass block dan paving block untuk elemen keras (hard space), seperti plaza dan area senam
Tanaman penghias atau tanaman sisipan dengan model pot bunga dapat disediakan menyatu dengan elemen pelengkap jalan lainnya, seperti tempat sampah dan PJU
Tidak diperkenankan jenis vegetasi yang beracun, berduri, berdahan mudah patah, dan perakaran yang tidak kuat
Pembatas hanya dimungkinkan sebagai bagian dari desain untuk menciptakan ruang-ruang di dalam ruangterbuka dan harus berupa pagar tanaman dengan ketinggian 60 cm
Hal -
65
A B C
UTILITAS BANGUNAN DAN LINGKUNGAN
Jaringan air bersih diletakkan di dalam ducting bersama dengan jaringan utilitas lainnya
Bangunan Pendukung memiliki septictank dan peresapan untuk pengolahan limbah
RTH harus dilengkapi saluran pembuangan air hujan yang cukup besar dan mempunyai kemiringan yang cukup
Jaringan telepon dan segala macam jaringan kabel seperti fiber optic telepon seluler diletakkan di dalam ducting
Jaringan listrik diletakkan di udara dengan ketinggian sesuai standarisasi PLN
Penyediaan tempat sampah umum harus tertutup dan memisahkan sampah organik dan anorganik dalam suatu wadah yang didesain dengan baik (sesuai standar Dinas PU) dan ornamen yang bercirikan dan mencitrakan nuansa khas local (Motif Salawuku)
Penyediaan pipa-pipa hydrant ditempatkan setiap jarak 200 m pada sisi jalur pejalan kaki dan terhubung dengan jaringan PDAM terkait pengaman kebakaran
PERLETAKAN TATA INFORMASI (SIGNAGE)
Setiap desain papan informasi pertandaan (signage) pada kawasanharus mengikuti warna dan ornamen yang bercirikan dan mencitrakan nuansa khas local (Motif Salawuku)
Papan informasi berupa reklame komersial dipasang pada tiang-tiang PJU yang sudah disediakan dengan desain yang menyatu dengan karakter kawasan
PERLETAKAN STREET FURNITURE
Setiap desain street furniture pada
kawasanharus mengikuti warna dan ornamen yang bercirikan dan mencitrakan nuansa khas local (Motif Salawuku)
Penempatan halte setiap jarak 300 m
Peletakan tempat sampah umum didesain terlindung pada tiap jarak 30 m sebagai bagian dari kelengkapan jalan dan tidak boleh
menggangu sirkulasi pejalan kaki dengan menciterakan nuansa local (Motif Salawuku)
Penempatan bangku duduk didesain menyatu dengan penempatan titik-titik hijau
Lampu Penerangan Jalan Umum ditempatkan pada sisi jalur pejalan kaki pada jarak
maksimum 0 meter, dan ditempatkan secara terpadu dengan lampu penerangan pejalan kaki pada jarak 15 meter
Pada desain street furniture disediakan space untuk sponsor sebagai media promosi
Hal -
66 7.7 Arahan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman
(RP2KP)
Rencana Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Permukiman merupakan suatu dokumen strategi operasional dalam pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan yang sinergi dengan arah pengembangan kota, sehingga dapat menjadi acuan yang jelas bagi penerapan program-program pembangunan infrastruktur Cipta Karya. RP2KP memuat arahan kebijakan dan strategi pembangunan infrastruktur permukiman makro pada skala kabupaten/kota yang berbasis pada rencana tata ruang (RTRW) dan rencana pembangunan (RPJMD). RP2KP memiliki beberapa fungsi, yaitu:
a. sebagai acuan bagi implementasi program-program pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan, sehingga dapat terintegrasi dengan program-program pembangunan lainnya yang telah ada;
b. Sebagai dokumen induk dari semua dokumen perencanaan program sektoral bidang Cipta Karya di daerah;
c. Sebagai salah satu acuan bagi penyusunan RPI2-JM;
d. Sebagai sarana untuk integrasi semua kebijakan, strategi, rencana pembangunan dan pengembangan kawasan permukiman yang tertuang di berbagai dokumen; dan
e. Sebagai dokumen acuan bagi penyusunan kebijakan yang terkait dengan pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan
7.7.1 PENGEMBANGAN KAWASAN PUSAT KOTA 7.7.1.1 Konsep Pengembangan
Kawasan Pusat Kota memiliki fungsi dan peran yang cukup signifikan dalam mendukung pengembangan Kota Ambon. Kawasan Pusat Kota merupakan wilayah pusat kegiatan Kota Ambon bahkan Propinsi Maluku karena pada kawasan ini wdapat berbagai fungsi pemanfaatan lahan yang cukup panting, seperti kawasan pemerintahan, kawasan perkantoran, kawasan perdagangan dan jasa, kawasan pelabuhan dan bandana, serta kawasan permukiman. Kawasan-kawasan tersebut tidak hanya memiliki skala pelayanan kota akan tetapi beberapa diantaranya memiliki skala pelayanan satu propinsi. Peran dan fungsi Kawasan Pusat Kota Ambon tersebut tidak diimbangi dengan perkembangan fisik kota, dimana terdapat banyak permasalahan yang terjadi terutama pada kawasan permukiman penduduk. Oleh karena itu dalam kegiatan Rencana Pengembangan Kawasan Permukiman Prioritas (RPKPP) Tahun 2010 ini, Kawasan Pusat Kota yang menjadi bagian wilayah Kecamatan Sirimau ini dipilih menjadi salah satu kawasan permukiman prioritas yang perlu mendapat penanganan pada tahap 1.
Beberapa permasalahan yang terjadi di Kawasan Pusat Kota Ambon terutama dalam kaitan dengan kondisi permukiman, meliputi menurunnya kondisi permukiman pada wilayah pesisir dan bantaran sungai akibat meningkatnya jumlah permukiman kumuh dan padat penduduk, kemudian menurunnya fungsi beberapa infrastruktur penunjang permukiman akibat kerusakan ataupun belum tersedia.
Apabila tidak segera ditangani maka, permasalahan yang terjadi saat ini akan menghambat perkembangan wilayah kota secara umum.
Konsep penanganan permukiman yang dapat dilaksanakan untuk menyelesaikan permasalahan pada Kawasan Pusat Kota Ambon dapat mengacu pada kebijakan yang telah direncanakan pemerintah daerah, salah satunya adalah konsep waterfront city. Konsep waterfront city ini dilaksanakan dengan menekankan pada upaya pengembangan/penataan wilayah pesisir pada Kawasan Pusat Kota yang notabene terdapat banyak lingkungan permukiman kumuh dan padat
Hal -
67
penduduk. Pengembangan atau penataan lingkungan permukiman tersebut dilakukan untuk memperbaiki kondisi fisik, lingkungan, sosial, ekonomi dan estetika kota, sehingga wilayah pesisir Kota Ambon tersebut tidak hanya menjadi kawasan pusat perdagangan tetapi juga dapat menjadi kawasan wisata dan kawasan permukiman penduduk yang sehat dan layak huni. Kemudian pada wilayah pusat kota, konsep, pengembangan permukiman yang dilakukan adalah dengan melakukan penataan permukiman dan revitalisasi infrastruktur permukiman terutama pada wilayah khusus dan penting seperti kompleks pernerintahan, perkantoran dan perdagangan serta layah permukiman bantaran sungai.
7.7.1.2 Rencana Program
Konsep pengembangan kawasan permukiman prioritas di pusat kota Ambon yang meliputi konsep waterfront city dan konsep penataan lingkungan permukiman kota lainnya dapat diwujudkan melalui beberapa Rencana program. Rencana program ini didasarkan padaa permasalahan kawasan serta analisa kebutuhan kawasan.
A. Perumahan
Program kegiatan pembangunan yang dapat dilakukan untuk menangani permasalahan perumahan pada Kawasan Pusat Kota, meliputi:
Program Penyediaan/ Pembangunan Rusunawa
Kegiatan pembangunan perumahan sudah tidak dapat dilaksanakan lagi pada lingkungan permukiman padat penduduk seperti pada Desa Batumerah dan Kelurahan Rijali karena tidak tersedia lagi ruang pembangunan. Salah satu program yang dapat dilaksanakan untuk menyelesaikan permasalahan peningkatan kebutuhan perumahan adalah pembangunan rusunawa yang dikhususkan untuk penduduk yang mau pindah dari lingkungan permukiman kumuh yang ada.
Pembangunan rusunawa diharapkan dapet mengatasi permasalahan permukiman padat penduduk yang ada di kawasan pusat kota ini serta dapat memberikan peluang dalam menunjang peningkatan kualitas masyarakat, antara. lain:
Penyediaan tempat hunian yang layak sesuai dengan kebijakan penataan wang dan program pembangunan,
Menanggulangi lingkungan permukiman di kawasan perkotaan yang cenderung tidak sehat (kumuh dan padat penduduk),
Menjembatani masyarakat yang belum mempunyai rumah tempat tinggal untuk mendapatkan tempat hunian yang layak huni dengan cara menyewa terutama sesuai bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Hal -
68
Program Rencana Revitalisapi Permukiman Pada Kawasan Perdagangan
Pada kawasan perdagangan seperti pada wilayah, pesisir, banyak terdapat rumah tinggal yang bercampur dengan fungsi perdagangan (toko). Kondisi bangunan rumah toko tersebut sebagian besar sudah tua dan kurang terawatt. Apabila kondisi kawasan perdagangan ini tidak diperhatikan, maka bangunan yang ada tidak akan lagi menunjang aktivitas perdagangan yang ada serta akan mengganggu kondisi estetika lingkungan Kota Ambon. Diperlukan regulasi dan rencana penataan yang sesuai sehingga pada kawasan perdagangan tersebut menjadi kawasan ekonorTv vital soft layak huni.
Program Penertiban Ungkungan Permukiman Selmiang Bantaran Sungai dan Kawasan Pesisir
Pada saat ini di Kawasan Pusat Kota banyak terdapat lingkungan kumuh dan padat penduduk terutama berada di sepanjang bantaran sungai dan wilayah pesisir pantai.
Kondisi permukiman tersebut cukup buruk sehingga diperkkakan menurunkan kualitas lingkungan hidup dan memperburuk estetika lingkungan kota. Program penertiban permuMman kumuh dan padat penduduk ini perlu dilaksanakan sebagai salah satu upaya untuk menunjang konsep waterfront city, yaitu menciptakan kawasan pesisir yang indah, bersih, sejahtera dan teratur sehingga mampu memberikan manfaat bagi perkembangan kota secara, umum. Program penertiban ini juga dilakukan karena pada lingkungan permukiman yang ads di Kota Ambon sebagian terdiri dart bangunan atau perumahan yang berstatus ilegal. Program penertiban ini dapat dilaksanakan dilakukan dengan memberikan insentif kepada pemilik atau penghuni bangunan atau rumah pada kawasan bantaran sungai dan sungai yang mau berpindah dari kawasan permukiman tersebut.
Insentif yang diberikan dapat berupa pemberian prioritas bantuan atau fasilitasi sewa pada rusunawa yang direncanakan akan dibangun serta keringanan pajak pada lokasi permukiman penduduk yang baru, sehingga penduduk tidak lagi membangun rumah atau bangunan pada bantaran sungai dan pesisir pantai.