Hal -
1
BAB VII
KETERPADUAN STRATEGI
PENGEMBANGAN KOTA AMBON
7.1 Arahan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota
Berdasarkan amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, kabupaten/kota wajib menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten/Kota yang ditetapkan oleh Peraturan Daerah Kabupaten/kota. Dalam penyusunan RPI2-JM Bidang Cipta Karya, beberapa yang perlu diperhatikan dari RTRW Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut:
(1). Penetapan Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK) yang didasari sudut kepentingan:
a. Pertahanan keamanan b. Ekonomi
c. Lingkungan hidup d. Sosial budaya
e. Pendayagunaan sumberdaya alam atau teknologi tinggi
(2). Arahan pengembangan pola ruang dan struktur ruang yang mencakup:
a. Arahan pengembangan pola ruang:
Arahan pengembangan kawasan lindung dan budidaya
Arahan pengembangan pola ruang terkait bidang Cipta Karya seperti pengembangan RTH.
b. Arahan pengembangan struktur ruang terkait keciptakaryaan seperti pengembangan prasarana sarana air minum, air limbah, persampahan, drainase, RTH, Rusunawa, maupun Agropolitan.
(3). Ketentuan zonasi bagi pembangunan prasarana sarana bidang Cipta Karya yang harus diperhatikan mencakup ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan lindung, kawasan budidaya, sistem perkotaan, dan jaringan prasarana.
(4). Indikasi program sebagai operasionalisasi rencana pola ruang dan struktur ruang khususnya untuk bidang Cipta Karya.
Dan berdasarkan Perda Nomer 24 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Ambon, bahwa Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK) diperlukan sebagai dasar pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya. Pada pembangunan infrastruktur skala kawasan, pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya diarahkan pada lokasi KSK, dan diharapkan keterpaduan pembangunan dapat terwujud. Tabel 7.1 memaparkan identifikasi arahan RTRW Kabupaten/Kota untuk Bidang Cipta Karya, Tabel 7.2 memaparkan identifikasi Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK), serta Tabel 7.3 memaparkan identifikasi indikasi program khusus untuk Bidang Cipta Karya. Jika RTRW di kabupaten/kota belum disahkan, maka
Hal -
2
Tabel 7.1
Arahan RTRW Kabupaten/Kota untuk Bidang Cipta Karya
Hal -
3
Hal -
4
Hal -
5
Hal -
6
Tabel 7.2
Identifikasi Kawasan Strategis Kabupaten/Kota (KSK) berdasarkan RTRW
Hal -
7 7.2 Arahan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD)
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) disusun berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Dalam undang-undang tersebut, RPJM Daerah dinyatakan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah kebijakan keuangan Daerah, strategi pembangunan Daerah, kebijakan umum, dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana- rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.
Penyusunan RPI2-JM tentu perlu mengacu pada rencana pembangunan daerah yang tertuang dalam RPJMD agar pembangunan sektor Cipta Karya dapat terpadu dengan pembangunan bidang lainnya. Oleh karena itu, ringkasan dari RPJMD perlu dikutip dalam RPI2-JM CK seperti visi, misi, serta arahan kebijakan bidang Cipta Karya di daerah
7.3 Arahan Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung
Penyusunan Perda Bangunan Gedung diamanatkan pada Peraturan Pemerintah No. 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU 28 tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, yang menyatakan bahwa pengaturan dilakukan oleh pemerintah daerah dengan penyusunan Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan kondisi kabupaten/kota setempat serta penyebarluasan peraturan perundang-undangan, pedoman, petunjuk, dan standar teknis bangunan gedung dan operasionalisasinya di masyarakat.
Perda Bangunan Gedung mengatur tentang persyaratan administrasi dan teknis bangunan gedung.
Salah satunya mengatur persyaratan keandalan gedung, seperti keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan. Persyaratan ini wajib dipenuhi untuk memberikan perlindungan rasa aman bagi pengguna bangunan gedung dalam melakukan aktifitas di dalamnya dan sebagai landasan operasionalisasi penyelenggaraan bangunan gedung di daerah. Utamanya untuk daerah rawan bencana, Perda Bangunan Gedung sangat penting sebagai payung hukum di daerah dalam menjamin keamanan dan keselamatan bagi pengguna. Ketersediaan Perda BG bagi kabupaten/kota merupakan salah satu prasyarat dalam prioritas pembangunan bidang Cipta Karya di kabupaten/kota
Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Daerah (RPJMD) setidaknya berisi:
Kebijakan Pembangunan Daerah (berupa visi dan misi, strategi, arah kebijakan, program, serta kebutuhan anggaran, khususnya untuk pembangunan infrastruktur Bidang Cipta Karya)
Kebijakan Keuangan Daerah (berupa strategi keuangan dan arah kebijakan keuangan)
Indikator Kinerja (berupa indikator umum dan agenda prioritas)
Peraturan Daerah tentang
Bangunan Gedung setidaknya berisi:
Ketentuan fungsi bangunan gedung
Persyaratan bangunan gedung
Penyelenggaraan bangunan gedung
Peran masyarakat dan pembinaan dalam penyelenggaraan bangunan gedung
Hal -
8 7.4 Arahan Rencana Induk Sistem Penyediaan Air Minum (RI- SPAM)
Berdasarkan Permen PU No. 18 Tahun 2007, Rencana Induk Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum adalah suatu rencana jangka panjang (15-20 tahun) yang merupakan bagian atau tahap awal dari perencanaan air minum jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan berdasarkan proyeksi kebutuhan air minum pada satu periode yang dibagi dalam beberapa tahapan dan memuat komponen utama sistem beserta dimensi-dimensinya. RI-SPAM dapat berupa RI- SPAM dalam satu wilayah administrasi maupun lintas kabupaten/kota/provinsi. Penyusunan rencana induk pengembangan SPAM memperhatikan aspek keterpaduan dengan prasarana dan sarana sanitasi sejak dari sumber air hingga unit pelayanan dalam rangka perlindungan dan pelestarian air
Tabel 7.4.1 Rencana Pengembangan SPAM Kota Ambon No Kecamatan Desa/
Kelurahan Eksisting Rencana
1 NUSANIWE Desa Latuhalat Jumlah Penduduk 9177 jiwa Jumlah KK 1938
Terdiri dari 32 RT dan 14 RW
Sistem pelayanan air bersih di desa Latuhalat merupakan HiPAM dengan memanfaatkan Sumber Waimikar
(broncapt) dan Air Tanah (pompa) Tingkat pelayanan air belum sepenuhnya melayani sambungan ke masing-masing rumah, akan tetapi
menggunakan kran dan hidran umum.
Sambungan langsung diprioritaskan untuk fasiitas-fasilitas umum seperti Kantor Desa, Gereja, Puskesmas
dan Sekolah
Penggiliran air di masing-masing reservoir/hidran/kran umum sebagai upaya pemenuhan air bersih dengan ketersediaan debit yang kecil
Meningkatkan pelayanan air melalui peningkatan sambungan ke rumah-rumah warga
Meningkatkan debit ketersediaan air sehingga jam layanan air bersih bertambah
Optimalisasi broncapt waimikar Penambahan hidran untuk beberapa RT yang belum/kurang terlayani air (RT 401, 402)
Desa Seilale Jumlah Penduduk 1302 Jiwa Jumlah KK 340 KK
Terdiri dari 3 RW dan 7 RT
Sistem pelayanan air bersih menggunakan HiPAM dengan memanfaatkan sumur bor yang disalurkan pada
reservoir dan kran umum
Penggiliran air sebagai upaya pemenuhan air bersih dengan ketersediaan debit yang kecil
Peningkatan pelayanan air dengan cara meningkatkan jumlah sambungan ke rumah- rumah warga
Peningkatan debit ketersediaan air dengan menambah beberapa titik sumur bor baru
Tingkat pelayanan saat ini optimal untuk 2 RW saja, sehingga perlu ada penambahan untuk RW 3
Desa
Nusaniwe Jumlah Penduduk 3073 Jiwa Jumlah KK 510 KK
Terdiri dari 2 Dusun 4 RW dan 16 RT (Erie, Airlow)
Sistem pelayanan air bbersih
Meningkatkan pelayanan air melalui sambungan ke rumah- rumah warga
Beberapa daerah memiliki potensi air tanah yang cukup
Hal -
9
No Kecamatan Desa/
Kelurahan Eksisting Rencana
menggunakan HIPAM dengan memanfaatkan Sumber Waihoa Kecil (broncapt) dan disalurkan pada beberapa reservoir yang ada (4 reservoir untuk melayani 4 RW)
Penggiliran air sebagai upaya pemenuhan air bersih dengan ketersediaan debit yang kecil
baik, (RW 2 dap 3) sehingga dapat dimanfaatkan sebagaidaerah untuk mengebor air bersih
Desa
Amahusu Jumlah Penduduk 4845 jiwa Jumlah KK 1150 KK
Terdiri dari 3 Dusun, 8 RW dan 22 RT (Dusun Wakang, Dusun Nahel, Gn Nona) Terlayani air bersih dari PDAM, HIPAM Daerah yang sulit air ada di Gunung Nona ( RT 004/05 dan RT 005/04)
Eksisting saat ini masyarakat di Gunung Nona membeli air dari mobil tanki
Terdapat potensi sumber air (Kebun Rata, Air Berbunyi, Wai Iner, Batu Panjang)
Peningkatan debit air dengan memanfaatkan sumber-sumber air yang ada
Perbaikan pipa/jaringan transmisi (upaya perawatan)
Membentuk kelembagaan air sehingga kelembagaan yang ada saat ini (masyarakat) lebih terkelola
Melestarikan kawasan-kawasan tangkapan air (Gunung Nona, Nahel)
Kel. Nusaniwe Jumlah Penduduk 6728 Jiwa Jumlah KK 1886 KK
Terdiri dari 7 RW dan 22 RT
Pelayanan air oleh PDAM dan swakelola masyarakat (sumur bor, reservoir, kran umum)
Tidak terdapat keluhan yang signifikan
Peningkatan pelayanan air bagi masyarakat yang belum memiliki akses, minimal dengan
membangun kran
komunal/reservoir (RW 5, 6 dan 7)
Membentuk kelembagaan HIPAM sehingga upaya pengelolaan air lebih optimal Pelestarian daerah-daerah resapan air
Kel. Benteng Jumlah Penduduk 14507 Jiwa Jumlah KK 2914 KK
Terdiri dari 8 RW 35 RT
Pelayanan air bersih telah terlayani oleh PDAM
Permasalahan yang ada, adalah penggiliran air mengingat debit air (Wainitu) digunakan untuk melayani beberapa kelurahan sekaligus
Peningkatan pelayanan air bersih dengan meningkatkan debit/ketersediaan air yang ada Terdapat daerah-daerah
kantung air yang berpotensial untuk dilakukan pengeboran air sebagai sumber air tanah
Desa
Urimessing Jumlah Penduduk 6705 Jiwa Jumlah KK 1509 KK
Terdiri dari 4 Dusun, 5 RW dan 31 RT (Kusu-Kusu, Seri, Mahia, Tuni)
Pelayanan air bersih di Dusun Mahia dan Tuni telah terlayani jaringan PDAM Untuk Dusun Kusu-Kusu Sereh dan
Dusun Seri telah ada program
Peningkatan pelayanan air bersih di Dusun Seri dan Kusu- Kusu Seri dengan cara meningkatkan debit air, hidran/kran umum
Memanfaatkan sumber Waipui yang belum digunakan untuk
Hal -
10
No Kecamatan Desa/
Kelurahan Eksisting Rencana
bantuan pemerintah dengan memanfaatkan sumber air yang ada Terdapat Perusahaan Air Minum Wai Seri di Dusun Seri yang telah memberikan kontribusi cukup baik bagi
pemenuhan kebutuhan air bersih untuk warga sekitar
Potensi Sumber Air antara lain, S Laweru, Mata Air Gendi, Wai Seri, dan Waipui
melayani masyarakat Mengoptimalkan tingkat pelayanan sumber air bersih yang telah ada (S Laweru,, Mata Air Gendi dan Wai Seri) dengan cara perbaikan broncapt dan bangunan air
lainnya sebagai upaya perawatan
Reboisas/ penghilauan untuk kawasan-kawasan tangkapan air Kel. Kudamati Jumlah Penduduk 18106 Jiwa
Jumlah KK 3177 KK Terdiri dari 7 RW 43 RT
Telah terlayani oleh jaringan PDAM Terdapat Sumber Wainitu dan Air Keluar
Peningkatan pelayanan untuk warga masyarakat yang belum mendapat akses air bersih (daerah kaki gunung)
Optimalisasi pemanfaatan sumber air Keluar
Kel. Wainitu Jumlah Penduduk 7828 jiwa Jumlah KK 625 KK
Terdiri dari 6 RT dan 27 RW Telah terlayani oleh PDAM
Keluhan masyarakat adalah kualitas air yang menurun
Indikasi pencemaran air akibat sumber air yang terletak di bawah kawasan
permukiman sehingga rawan pencemaran
Meningkatkan pelayanan jaringan air bersih ke rumah- rumah
Melakukan uji kualitas air bersih terkait keluhan warga masyarakat yang ada
Memperbaiki system purifikasi/pengolahan air bersih Memberntuk HIPAM sebagai upaya pengawasan dan pengendalian penggunaan air bersih
Kel.
Manggadua Jumlah Penduduk 4131 Jiwa Terdiri clad 4 RW 10 RT Sumber air yang ada dan telah dimanfaatkan : Sumber Air Keluar Telah terlayani oleh PDAM dan HIPAM
Meningkatkan pelayanan jaringan air bersih ke rumah- rumah atau dengan kran umum Mengelola dan menjaga daerah tangkapan air serta areal sempadan mata air
Kel.
Urimessing Jumlah Penduduk 1913 Jiwa Jumlah KK 635 KK
Terdiri dari 4 RW dan 14 RT Terlayani oleh jaringan PDAM
Tidak terdapat keluhan yang cukup signifikan
Meningkatkan pelayanan jaringan air bersih
Mengelola dan menjaga daerah tangkapan air
Kel. Waihaong Jumlah Penduduk 6413 Jiwa Jumlah KK 1011 KK
Terdiri dari 4 RW dan 14 RT Sumber Air Putri
Telah terlayani oleh PDAM
Tidak terdapat keluhan yang cukup signifikan dari masyarakat
Meningkatkan pelayanan jaringan air bersih
Mengelola dan menjaga daerah tangkapan air serta areal sempadan mata air
Kel. Silale Jumlah Penduduk 5127 Jiwa Meningkatkan pelayanan
Hal -
11
No Kecamatan Desa/
Kelurahan Eksisting Rencana
Jumlah KK 802 KK
Terdiri dari 4 RW dan 14 RT Terlayani oleh PDAM
Tidak terdapat keluhan yang cukup signifikan
Terdapat beberapa daerah potensial air tanah
jaringan air bersih
Mencoba mengkaji areal areal potensial pemanfaatan air tanah ( RW 1 dan RW 2)
2 SIRIMAU Desa Soya Jumlah Penduduk 8878 Jiwa
Terdir i dari 9 RW dan 18 RT (Kopertis, Kayu Putih dan Soya Atas)
Pernenuhan air bersih dilakukan secara swadaya oleh masyarakat
Potensi sumber air yang ada Kayu putih, Soya Atas, Kopertis, Batu Gosok, Mata Tujuh, Wailani, Ma Uang,
Salawaku
Beberapa sumber air dikelola dan dimanfaatkan untuk melayani beberada desa lain
Pengembangan sumber air untuk pemanfaatan pemenuhan kebutuhan air di desa sekitar Peningkatan jaringan air bersih ke rumah-rumah warga (Ds Soya Atas)
Pemanfaatan sumber air yang belum termanfaatkan (Ma Uang Salawaku, Batu Gosok)
Kel. Waihoka Jumlah Penduduk 4443 Jiwa Jumlah KK 1-187 KK Terdiri dari 4 RW dan 15 RT
Pelayanan air dilakukan oleh PT DSA, mengingat wilayah Kec Sirimau adalah wilayah Konsesi PT DSA
Tidak terdapat keluhan yang cukup signifikan (selain akses air bersih yang bergiliran)
Peningkatan kualitas dan kuantitas debit air untuk pelayanan ke rumah-rumah warga
Meningkatkan kontinuitas pelayanan air bersih yang ada
Kel Karang
Panjang Jumlah Penduduk 9174 Jiwa Jumlah KK 1976 KK
Terdiri dari 6 RW 21 RT
Pelayanan air dilakukan oleh PT DSA Tidak terdapat keluhan yang signifikan
Peningkatan kualitas dan kuantitas debit air untuk pelayanan ke rumah-rumah warga
Meningkatkan kontinuitas pelayanan air bersih yang ada Kel. Batu Meja Jumlah Penduduk 13063
Jumlah KK 1882 KK Terdiri dari 7 RW 31 RT
Pelayanan air dilakukan oleh PT DSA dan swakelola oleh masyarakat menggunakan sumber air mata tujuh Tidak terdapat keluhan yang cukup signifikan
Peningkatan kualitas dan kuantitas debit air untuk pelayanan ke rumah-rumah warga
Pengendalian guns lahan di sekitar kawasan mata air Reboisasi kawasan mata air Pembentukan lembaga pengefola air yang bertujuan untuk mengawasi dan mengelola penggunaan air serta sumber air yang ada di Kel Batu Meja Kel. Batu
Gajah Jumlah Penduduk 8104 jiwa
Jumlah KK 1305 Jiwa Peningkatan kualitas dan kuantitas debit air untuk
Hal -
12
No Kecamatan Desa/
Kelurahan Eksisting Rencana
Terdiri dari 4 RW 22 RT
Pelayanan air bersih dilakukan oleh PT DSA dan swakelola oleh masyarakat dengan menggunakan sumber batu gajah Terdapat pula badan sungai batu gajah yang masih bisa dimanfaatkan (sebagai cuci dan mandi)
pelayanan ke rumah-rumah warga
Pengendalian guna lahan di sekitar kawasan mata air Pelestarian kawasan sungai sehingga dapat dimanfaatkan untuk alternative sumber air bersih
Peningkatan kualitas dan kuantitas debit air untuk pelayanan ke rumah-rumah warga
Kel. Ahusen Jumlah Penduduk 4695 Jiwa Jumlah KK 798 KK
Terdiri dari 5 RW dan 16 RT
Pelayanan air bersih dilakukan oleh PT DSA dan swadaya oleh masyarakat dengan menggunakan air tanah
Peningkatan kualitas dan kuantitas debit air untuk pelayananan ke rumah-rumah
Kel. Honipopu Jumlah Penduduk 7711 Jiwa Jumlah KK 2088 KK
Terdiri dari 4 RW dan 22 RT
Pelayanan air bersih dilakukan oleh PT DSA dan swadaya masyarakat dengan cara membeli air pada mobil tanki
Peningkatan kualitas dan kuantitas debit air untuk pelayananan ke rumah-rumah
Kel. Uritetu JUmlahPenduduk 5566 Jiwa Jumlah KK 1069 KK Terdiri dari 4 RW dan 16 RT
Palayanan air bersih dilakukan oleh PT DSA dan swadaya masyarakat
Peningkatan kualitas dan kuantitas debit air untuk pelayananan ke rumah-rumah
Kel. Rijali Jumlah Penduduk 6899 Jiw Jumlah KK 980 KK
Terdiri dari 5 RW dan 18 RT
Pelayanan air bersih dilakukan oleh PT DSA dan Swadaya masyarakat (beli air/air tanah)
Peningkatan kualitas dan kuantitas debit air untuk pelayananan ke rumah-rumah
Kel. Amantelu Jumlah Penduduk 8599 Jiwa Jumlah KK 1209 KK
Terdiri dari 6 RW dan 20 RT
Pelayanan air bersih dilakukan oleh PT DSA dan Swadaya masyarakat
Peningkatan kualitas dan kuantitas debit air untuk pelayananan ke rumah-rumah
Kel. Batu
Merah Jumlah Penduduk 49113 Jiwa Jumlah KK 7379 KK
Terdiri dari 8 RW dan 23 RT
Terdapat sumber air besar, yang digunakan sebagai sumber air PT DSA dan melayani beberapa kelurahan di sekitar
Pelayanan air bersih dilakukan oleh PT
Peningkatan kualitas dan kuantitas debit air untuk pelayananan ke rumah-rumah Pengamanan daeah sekitar Pengelolaan daerah resapan air Membentuk lembaga pengelola air bersih masyarakat
Hal -
13
No Kecamatan Desa/
Kelurahan Eksisting Rencana
DSA dan swadaya oleh masyarakat (pembangunan broncapt dan reservoir serta kran-kran umum)
Kel. Pandan
Kasturi JUmlah penduduk 6495 jiwa Jumlah KK 2083 KK
Terdiri dari 22 RW dan 90 RT
Pelayanan air bersih dilakukan oleh PT DSA
Peningkatan kualitas dan kuantitas air bersih
Desa Hative
Kecil Jumlah Penduduk 5545 Jiwa Jumlah KK 1446 KK
Terdiri dari 5 RW dan 27 RT
Pelayanan air bersih dilakukan oleh PT DSA swakelola oleh masyarakat
Peningkatan kualitas dan kuantitas air bersih
Desa Galala Jumlah Penduduk 1777 Jiwa Jumlah KK 352 KK
Terdiri dari 2 RW dan 5 RT
Pelayanan air bersih dilakukan oleh PT DSA dan swadaya masyarakat (sumur bor, membeli air pada mobil tanki dan penyedia air)
Peningkatan kualitas dan kuantitas air bersih
Daerah potensial/ kantung- kantung air di RW 1, sehingga dapat dilakukan upaya pengeboran sebagai sumber air tanah baru
3 Leitimur
Selatan Desa Leahari Jumlah Penduduk 607 Jiwa Jumlah KK 167 KK
Pelayanan air bersih dilakukan oleh swadaya masyarakat dengan menggunakan mata air sebagai sumber air bersihnya (kepala air/saringan air) Permintaan masyarakat agar jaringan air bersih dapat menjangkau sarana-sarana umum seperti gereja,
sekolah dan kantor desa (mengingat fasilitas umum tersebut topografinya lebih tinggi daripada mata air yang
ada)
Peningkatan kualitas dan kuantitas air bersih
Eksplorasi daerah-daerah potensial air bersih
Membangun instalasi perpompaan untuk menarik air ke daerah-daerah tinggi
Desa Rutong Jumlah Penduduk 785 Jiwa Jumlah KK 180 KK
Pelayanan air bersih menggunakan system kran komunal menggunakan air bor dan mata air
Peningkatan kualitas dan kuantitas air untuk sambungan rumah
Desa Hutumuri Jumlah Penduduk 3992 Jiwa Jumlah KK 957 KK
Pelayanan air bersih dengan menggunakan Sumber Wailea, untuk disalurkan ke kran-kran umur tersedia di beberapa titik desa
Tidak terdapat keluhan yang signifikan dari masyarakat
Peningkatan kualitas dan kuantitas air
Pengembangan kelembagaan pengelola air bersih
Desa Naku Jumlah Penduduk 721 Jiwa
Jumlah KK 148 KK Peningkatan kualitas dan kuantitas air bersih
Hal -
14
No Kecamatan Desa/
Kelurahan Eksisting Rencana
Terdiri dari 4 RT
Pelayanan air bersih menggunakan sumber air dari Desa Soya
Potensi air bersih meliputi wai Kinaroang dan Anihang
Telah ads program PU Provinsi untuk perbaikan sumber-sumber air bersih
Pengembangan kelembagaan Pembangunan broncapt di sumber-sumber desa
Uji kualitas air bersih mata air terpilih
Desa Kilang Jumlah Penduduk 954 Jiwa Jumlah KK 219 KK
Terdiri dari 6 RT
Pelayanan air bersih swadaya dari masyarakat
Potensi air bersih terdapat Sumber Ilang Alang,
Terdapat sungai untuk digunakan sebagai cuci dan mandi warga, (belum bisa digunakan sebagai air minum) Keluhan masyarakat adalah masalah kontinuitas air bersih, (hal ini wajar dan umum terjadi di Kota
Mengingat kondisi sumber air yang sedikit, sehingga perlu penggiliran air)
Peningkatan kualitas dan kuantitas air bersih
Pengamanan sumber-sumber mata air yang ada
Pengendalian guna lahan di sekitar sumber mata air
Pengembangan kelembagaan Uji kualitas air bersih yang belum termanfaatkan
Pembangunan instalasi pengolahan air bersih
Desa Hukurila Jumlah Penduduk 550 Jiwa Jumlah KK 144 KK
Terdiri dari 3 RT
Pelayanan air bersih menggunakan sumur bor (di RT 3) atas hasil program P2KP
Transmisi air dilakukan secara bergiliran sebagaimana yang terjadi di beberapa desa di Kota Amban
Potensi air bersih adalah Sepriha, Leimang (RT 3) dan Wei Waah
Peningkatan kualitas dan kuantitas air bersih dengan cara memanfaaatkan debit-debit air yang belum termanfaatkan Pengamanan daerah sekitar mata air/sumber air
Pengembangaan kelembagaan air
Pembangunan
Broncapt/bangunan air untuk pemanfaatan sumber air
Desa Ema Jumlah penduduk 835 Jiwa Jumlah KK 400 KK
Pelayanan air bersih dilakukan secara swadaya oleh masyarakat
Potensi air bersih cukup melimpah mengingat debit yang cukup besar terdapat sumber air di Desa Ema
meliputi Wei Majapahit dan Waitepreu yang juga digunakan sebasai daerah wisata
Peningkatan kualitas dan kuantitas air bersih untuk sambungan ke rumah-rumah dan sarana umum yang ada
Pengamanana daerah sekitar mata air
Pengembangan kelembagaan air
Desa Hatalai Jumlah Penduduk 958 Jiwa Jumlah KK 238 Jiwa Terdiri dari 6 RT
Pelayanan air bersih menggunakan reservoir dan pemanfaatan sumber air hasil dari program P2KP
Peningkatan kualitas dan kuantitas air bersih untuk sambungan rumah-rumah Instalasi perpompaan untuk mengakomodir 2 RT yang belum terlayani secara baik
Hal -
15
No Kecamatan Desa/
Kelurahan Eksisting Rencana
Potensi air bersih meliputi Huhung, Kayali, dan Wei Kinaroang (wai Kinaroang dimanfaatkan pula oleh desa Kilang dan Naku)
Terdapat 2 RT yang kesulitan air mengingat lokasinya berada di atas/lebih tinggi dari sumber yang ada
Pengamanan daerah sekitar mata air mengingat sumber air yang ada juga dimanfaatkan oleh desa-desa lain
4 BAGUALA Desa Latta JUmlah penduduk 1290 Jiwa Jumlah KK 325 KK
Terdiri dari 4 RW dan 12 RT
Sumber air bersih -berasal dari air tanah (menggunakan sumur bor) di lima RT , yaitu RT-1 RT 4. RT 5, RT 7, RT 9 dan RT 10 dengan sumber pendanaan dari program P2KP
RT yang belum terlayani air bersih adalah RT 3 (RW 1) , RT 8 (RW 2) , RT 9 (RW 3) , RT 10, RT 11.
12 (RW 4).
Potensi air tanah cukup tinggi, mengingat daerah Kecamatan Baguala hingga Teluk Amnon merupakan daerah tangkapan air
Peningkatan kualitas dan kuantitas air bersih untuk sambungan rumah-rumah Ekspolasi daerah-daerah potensial pengeboran air
Pengamanan daerah-daerah resapan air
Pembentukan,fungsi
kelembagaan selain sebagai pengelota air bersih, tapi juga berfungsi sebagai pengawas daerah-daerah resapan air
Kel. Lateri Jumlah Penduduk 4493 Jiwa Jumlah KK 830 KK
Terdiri dari 5 RW.dan 26 RT
Daerah yang mengalami sulit air adalah RW 3, RT 4, RT 5, dan RT 6, RW 1, (RT 1, RT 2, dan RT 3)
Sumber air terlayani oleh PDAM, program P2KP (menggunakan reservoir dan pompa) serta sumur secara
swadaya oleh masyarakat
Sesuai arahan RTRW, daerah Kelurahan Lateri akan diarahkan sebagai daerah permukiman penduduk.
Pengembangan jaringan air bersih untuk daerah yang belum terlayani secara
optimal (RW 1 dan 2)
Pengawasan daerah-daerah RTH dan Kawasan Resapan Air
Desa Halong Jumlah Penduduk 10107 Jiwa Jumlah KK 1815 KK
Terdiri dari 13 RW dan 45 RT
Pelayanan air bersih sebagian dilayani oleh PDAM, sebagian secara swadaya oleh masyarakat
Terdapat pula usaha air minum warga, yang dimanfaatkan mobil-mobil tangki air untuk mengambil air dan didistribusikan/diperjual belikan pada masyarakat yang belum terlayani air
Pembuatan bak penampung untuk menampung ivapan air dari mata air yang dimanfaatkan
mobil tangki, beserta instalasi
pengolahannya agar dapat dimanfaatkan secara lebih optima
Desa Passo Jumlah Penduduk 18862 Jiwa
Jumlah KK 3826 KK Pengembangan kuantitas dan kualitas air bersih
Hal -
16
No Kecamatan Desa/
Kelurahan Eksisting Rencana
Terdiri dari 13 RW dan 63 RT
Pelayanan air bersih menggunakan sumber air Waimahu, yang merupakan bantuan dari pemerintah untuk kemudian dibangun reservoir dank ran-kran umum, mengingat jaringan PDAM masih belum melayani
sebagian wilayah di Desa Passo
RT yang sudah terlayani antara lain adalah RT 017, RT 018, RT 019, RT 020, RT 021, RT 022, RT 023, RT
024, dan RT 040 (sumber air waimahu terletak di RT 040)
Sumber surnber air yang ada di Desa Passo adalah Sumber Waimahu, Waitonahitu dan Waiyori
Optimalisasi peanfaatan sumber air waimahu
Pengkajian Waitonahitu dan Waiyori untuk dijadikan sumber air baku altemative
Pelestarian kawasan-kawasan sempadarimata air dan areal resapan air
Pembentukan/pengembangan kekembagaan masyarakat terkait pengelolaan
serta pengawasan penggunaan air bersih
Desa Negeri
Lama Jumlah Penduduk 1556 Jiwa Jumlah KK 693 KK
Terdiri dari 4 RW dan 8 RT
Pelayanan air bersih menggunakan air tanah/air bor dan telah terlayani oleh PDAM
Tidak terdapat keluhan yang cukup signifikan dari warga masyarakat (kecuali masalah kontinuitas air bersih
yang merupakan permasalahan utama untuk penyediaan air bersih di Kota Ambon terkait sedikitnya sumber
air yang termanfaatkan)
Pengembangan jaringan pelayanan untuk warga masyarakat yang belum mendapat akses air bersih, baik dengan menggunakan kran umum ataupun sambungan rumah
Desa Nania Jumlah Penduduk 2401 Jiwa Jumlah KK 1457 KK
Terdiri dari 3 RW dan 12 RT
Pelayanan air bersih oleh PDAM dan juga swadaya masyarakat dengan menggunakan air tanah (sumur)
Potensi di Desa Nania adalah banyaknya daerah-daerah kantung air yang bisa dimanfaatkan sebagai
sumber air baku untuk pelayanan masyarakat (hal yang sama untuk sebagian bestir wilayah di Kecamatan Teluk Ambon dan Kecamatan Baguala, dimana banyak terdapat kantung-kantung resapan air
Pengembangan jaringan pelayanan untuk warga masyarakat yang belum mendapat akses air bersih, baik dengan menggunakan kran umum ataupun sambungan rumah
Pengelolaan dan pengawasan daerah-daerah tangkapan air
Desa Waiheru Jumlah Penduduk 6105 Jiwa Jumlah KK 2813 KK
Terdiri dari 9 RW dan 24 RT
Pelayanan air bersih oleh PDAM dan Swakelola (HIPAM) oleh masyarakat,
Pengembangan jaringan pelayanan air bersih untuk masyarakat yang belum mendapatkan akses, dengan cara menggunakan kran umum
Hal -
17
No Kecamatan Desa/
Kelurahan Eksisting Rencana
dimana memanfaatkan sumber air
Waiheru dan waitongkau ataupun sambungan rumah Perbaikan reservoir dan broncaptering untuk mengoptimalkan penampungan air bersih
Pelestarian kawasan sempadan mata air dan areal resapan air Pengembangan kelembagaan pada masyarakat
5 Teluk
Ambon Desa Hunuth Jumlah Penduduk 1463 Jiwa Jumlah KK 375 KK
Terdiri dari 3 RW dan 11 RT
Pelayanan air bersih diiakukan secara swakelola oleh masyarakat (mats air di RT 302) dan swadaya, dengan membuat sumur bor, mengingat daerah ini mudah untuk mendapatkan air bersih
Daerah-daerah yang belum terlayani adalah RT 301 (daerah pegunungan) mengingat air tidak bisa naik serta kurang optimal (dalam haI kontnuitas sebagaimana yang banyak terjadi di wilayah Kota Ambon)
Pengembangan jaringan pelayanan air bersih
Perbaikan system perpompaan untuk melayani daerah-daerah dengan topografi tinggi
Pembentukan/pengembangan fungsi kelembagaan
Pengawasan terhadap kawasan sekitar mata air dan daerah resapan air
Desa Poka Jumah Penduduk 2063 Jiwa Jumlah KK 817 KK
Terdiri dari 4 RW 26 RT
Jenis pelayanan air bersih di Desa Poka dengan menggunakan Sumur bor (13 RT), Sumur Galian (1 RT)
dan menggunakan sungai (6 RT).
Untuk wilayah yang membutuhkan penanganan air bersih ada di RT 002/005, RT 003/05, RT 002/001, RT 006/01 RT 003/03 dan RT 003/06.
Pengembangan jaringan pelayanan air bersih untuk masyarakat yang belum mendapatkan akses, dengan cara menggunakan kran umum ataupun sambunga rumah Pengembangan kelembagaan untuk mengelola pemakaian air bersih komunal (yang menggunakan pompa air) Sumber air alternative yang dapat dimanfaatkan adalah air tanah, sedangkan sungai hanya dapat dimanfaatkan untuk keperluan cuci atau mandi Kel. Tihu Jumlah Penduduk 796 jiwa
Terdiri dari 5 RW dan 15 RT
Pelayanan air bersih rata-rata diiayani secara swadaya oleh masyarakat dengan menggunakan air tanah yakni melalui sumur bor atau sumur gali mengingat daerah dataran di Kelurahan Tihu memiliki banyak tampungan air
Pengembangan jaringan perpipaan, untuk meminimalisir penggunaan sumur tanah (sebagai upaya untuk mencegah terjadinya penurunan muka tanah)
Pengelolaan daerah resapan ar Desa Rumah
Tiga Jumlah Penduduk 5067 Jiwa
Jumlah KK 2449 KK Pengembangan jaringan perpipaan untuk meminimalisir
Hal -
18
No Kecamatan Desa/
Kelurahan Eksisting Rencana
Terdiri dari 16 RW dan 55 RT
Pelayanan air bersih secara swadaya oleh masyarakat (beli air, sumur warga) dan secara swakelola (oleh masyarakat hipam melalui program-program pemerintah) dengan memanfaatkan potensi sumber air bersih yang ada Potensi sumber air adalah air tanah dan mata air
penggunaan sumur tanah (sumur warga)
Pengelolaan daerah resapan air Pengembangan kelembagaan
Desa Wayame Jumlah Penduduk 4792 Jiwa Jumlah KK 1200 KK
Terdiri dari 10 RW dan 21 RT
Pelayanan air bersih dengan menggunakan air tanah yang dikelola oleh PDAM dan sebagian melalui swakelola masyarakat (Hipam) dengan program-program bantuan pemerintah Daerah yang mengalami keluhan air bersih adalah RT 001, RT 003, RT 004 dan RT 012
Potensi sumber air adalah bak asrama dari mata air di RT 5 dan RT 6
Dua buah mata air di dusun Kranjang dan pemanfaatan kali wayame (untuk cuci dan mandi)
Selain itu sekitar 3 km dari kali wayame, terdapat sumber air tapi belum dimanfaatkan mengingat jarak
yang cukup jauh dari permukiman
Pengembangan jaringan untuk pelayanan masyrakat yang belum memiliki akses dengan peningkatan kran umum ataupun sambungan rumah
Pelestarian daerah-daerah resapan den sempadan meta air Pengembangan kelembagaan
Desa Hative
Besar Jumlah Penduduk 19168 jiwa Jumlah KK 1120 KK
Terdiri dari 6 RW dan 25 RT
Pelayanan air bersih umumnya secara swadaya oleh masyarakat dengan menggunakan sumur-sumur dan membeli air
Untuk pelayanan secara swakelola, telah dilakukan berdasarkan program bantuan pemerintah (Hipam)
dengan memanfaatkan sumber waiyohu
Pengembangan jaringan untuk pelayanan masyarakat yang belum memiliki akses air bersih (daerah gunung)
Pelestarian daerah-daerah resapan air den sempadan mata air
Desa Tawiri Jumlah Penduduk 3629 Jiwa Jumlah KK 1870 KK
Terdiri dari 8 RW dan 24 RT
Pelayanan air bersih secara swadaya oleh masyarakat dengan menggunakan sumur-sumur gali/sumur
dan juga swakelola masyarakat untuk HIPAM yang melayani beberapa RT
Pengembangan jaringan untuk pelayanan masyarakat yang belum memiliki akses air bersih Pelestarian daerah resapan air den sempadan mata air
Hal -
19
No Kecamatan Desa/
Kelurahan Eksisting Rencana
Desa Laha Jumlah Penduduk 10862 Jiwa Jumlah KK 2245 KK
Terdiri dari 6 RW dan 18 RT
Pelayanan air bersih secara swadaya oleh masyarakat dengan menggunakan sumur-sumur gali
Pelayanan swakelola dengan menggunakan hipam
Pengembangan jaringan untuk pelayanan masyarakat yang belum memiliki akses air bersih Pelestarian daerah resapan/tangkapan air
Tabel 7.4.2 Rencana Pengembangan SPAM
No Zona
Pengembangan Kebutuhan Debit Sumber Air Rencana Pengembangan
Tahun Debit Nama Debit
1 Zona 1 2013-2017 254.2 A/P I (PDAM) 10 Pemeliharaan dan perlindungan kawasan mata air yang telah dimanfaatkan oleh kota Ambon (PDAM dan PT DSA), yaitu Batu Gajah, Air Besar, Air Panas dan Wainiuw
Pembangunan broncaptering serta stud! kelayakan mata air alternative (kolam sampe, air batu setan, wai sila, wai ruhu) Perawatan dan pemeliharaan jaringan pipa yang telah ada Pembangunan Hidran Umum, Sumur dangkal, Penampungan Air Hujan (PAH), serta
Penyediaan Mobil Tangki Air untuk melayani daerah-daerah yang tidak bisa dijangkau dengan sistem perpipaan.
Kecamatan
Sirimau 2018-2022 324.4 A/P 2A (PDAM) 10 2023-2017 414.0 A/P 4 (PDAM) 10 A/P 6 (PDAM) 10 A/P 7 (PDAM) 5 A/P Skip
(PDAM) 5
Batu Gajah
(PDAM) 10
Air Besar (PT
DSA) 20
Air Pana I (PT
DSA) 10
Air Panas II (PT
DSA) 20
Walniuw (PT
DSA) 27
Sungai Waai
Hoka 5
Kolam Sampe 5 Air Batu Setan 5
Total 152
2 Zona II 2013-2017 163.1 A/P - 1 A
(PDAM) 10 Pemeliharaan dan perlindungan kawasan mata air yang telah dimanfaatkan oleh kota Ambon, yaitu Air Salobar, Air Keluar serta mata air Waipompa Pembangunan broncaptering serta studi kelayakan mata air alternative (kali batu gajah, mata air silale, wai eri, air berbunyi, Kecamatan
Nusaniwe 2018-2022 208.1 A/P - 11
(PDAM) 5
2023-2017 265.6 Air Salobar
(PDAM) 10
Wainitu 86
Air Keluar 20
Waipompa 30
Hal -
20
No Zona
Pengembangan
Kebutuhan Debit Sumber Air Rencana Pengembangan
Tahun Debit Nama Debit
Air Amahusu 10 laweru dan mata air pancoran tuju)
Perawatan dan pemeliharaan jaringan pipa yang telah ada Pembangunan Hidran Umum, Sumur dangkal, Penampungan Air Hujan (PAH), serta
Penyediaan Mobil Tangki Air untuk melayani daerah-daerah yang tidak bisa dijangkau dengan sistem perpipaan, meliputi Desa Silale, Desa Latulahat, Desa Urimesing dan Desa Nusaniwe.
Kali Batu Gala 5 Mata Air
Pancoran Tuju 5 Air Berbunyi/
Kebun Rata 5
Total 186
3 Zona III 2013-2017 17.1 Sungai Waai
Kinaroan 5 Pembangunan broncaptering serta studi kelayakan mata air alternative (air besar Naku, Wal Majapahit, Air Basaar Hutumuri, Hutung, Kinaroan)
Perawatan dan pemeliharaan jaringan pipa yang telah ada (system perpipaan komunal/hidran yang telah dilaksanakan sebelumnya melalui program hibah danp rogram bantuan macam PUP Pembangunan Hidran Umum, Sumur dangkal, Penampungan Air Hujan (PAH), serta
Penyediaan Mobil Tangki Air untuk melayani daerah-daerah yang tidak bisa
dijangkau dengan sistem perpipaan.
Kecamatan
Leitimur Selatan 2018-2022 21.8 Air Basar Naku 10 2023-2017 27.8 Air Basar 12 Waal Majapahit 5 Air Basar
Hutumuri 5
Kali Taisapu 5
Total 42
4 Zona IV 2013-2017 81.3 A/P Waiheru 30 Pemeliharaan dan perlindungan kawasan mata air yang telah dimanfaatkan oleh kota Ambon (waiheru, A/P Lateri)
Pembangunan broncaptering serta studi kelayakan mata air alternative (Air Besar, sumber- Hative;-Waai-T-onioi-Waal- Salak-)
Perawatan dan pemeliharaan jaringan pipa yang telah ada Pembangunan Hidran Umum, Sumur dangkal, Penampungan Kecamatan
Baguala 2018-2022 103.8 A/P 9 5
2023-2017 132.5 A/P 10 5
A/P Lateri 5 A/P Negeri
Lama 5
Air Basar 5 Waai Heru 30
Total 85
Hal -
21
No Zona
Pengembangan
Kebutuhan Debit Sumber Air Rencana Pengembangan
Tahun Debit Nama Debit
Air Hujan (PAH), serta
Penyediaan Mobil Tangki Air untuk melayani daerah-daerah yang tidak bisa dijangkau dengan sistem perpipaan.
5 Zona V 2013-2017 80.5 AP-8 5 Pembangunan broncaptering
serta studi kelayakan mata air alternative
Perawatan dan pemeliharaan jaringan pipa yang telah ada (sumur bor wayame)
Pembangunan Hidran Umum, Sumur dangkal, Penampungan Air Hujan (PAH), serta
Penyediaan Mobil Tangki Air untuk melayani daerah-daerah yang tidak bisa dijangkau dengan sistem perpipaan.
Kecamatan
Teluk Ambon 2018-2022 109.1 A/P-5A 5
2023-2017 139.9 A/P-5B 5
A/P-5 5
Waai Ila 5
Air Batu Koneng 10
Total 35
7.4.3 Rencana Penurunan Kebocoran
Rencana Penurunan Kebocoran ini mengacu pada kebijakan masing-masing system pengelola air yang terdapat di Kota Ambon. Sebagaimana yang telah diketahui bahwa, system pengelolaan air di Kota Ambon dibagi menjadi 3 macam system yaitu, system perpipaan PDAM, system perpipaan Non- PDAM dan juga system non perpipaan.
Terkait dengan rencana penurunan kebocoran, untuk PDAM sendiri saat ini memiliki tingkat kebocoran yang cukup besar, yakni sekitar 63%. Oleh sebab itu perlu ada upaya -penururnan- kebocoran-dengart- Cara -perbaikan system-perpipaan untuk masalah teknis, dan juga peningkatan.
kualitas SDM untuk masalah non teknis. Target ke depan adalah penurunan kebocoran hingga tahap yang diperbolehkan, yakni kisaran 10-15 %.
Untuk system perpipaan Non-PDAM, yang saat ini dikelola oleh PT. PDAM diketahui bahwa tingkat kebocoran yang ada saat ini mencapai 24%. Adapun target perancanaan dari DSA sendiri adalah penurunan hingga 10% untuk tahun 2014. Oleh sebab itu diharapkan bagi PT DSA, mampu memenuhinya dan mengoptimalkan kinerja teknisnya hingga tahun rencanaan yang ada (2027) Sedangkan untuk system non-perpipaan, saat ini yang ada di masyarakat bukanlah kebocoran, melainkan idle capacity, atau air yang belum termanfaatkan. Oleh karena itu, target perencanaan ke depan adalah untuk mengoptimalkan penggunaan-penggunaan air/tangkapan air bagi masyarakat melalui system pemberdayaan dan pengembangan masyarakat. Sehingga masyarakat lebih sadar akan pentingnya melestarikan air bersih.
Hal -
22 7.5 Arahan Strategi Sanitasi Kota (SSK)
Strategi Sanitasi Kota adalah dokumen rencana strategis berjangka menengah yang disusun untuk percepatan pembangunan sektor sanitasi suatu Kota/Kabupaten, yang berisi potret kondisi sanitasi kota saat ini, rencana strategi dan rencana tindak pembangunan sanitasi jangka menengah. SSK disusun oleh Pokja Sanitasi Kabupaten/Kota didukung fasilitasi dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Dalam menyusun SSK, Pokja Sanitasi Kabupaten/Kota berpedoman pada prinsip:
a. Berdasarkan data aktual (Buku Putih Sanitasi);
b. Berskala kota dan lintas sector (air limbah, drainase, persampahan);
c. Disusun sendiri oleh kota dan untuk kota; dan
d. Menggabungkan pendekatan „top down‟ dengan „bottom up’.
7.5.1 Tahapan Pengembangan Sanitasi
Tahapan pengembangan sanitasi di Kota Ambon dilakukan untuk mengidentifikasi sistem sanitasi yang paling sesuai untuk suatu kawasan dan membantu perumusan program dan kegiatan yang paling sesuai dengan kondisi kawasan tersebut. Sistem sanitasi ditentukan berdasarkan pentahapan implementasi jangka pendek (1-2 tahun), jangka menengah (5 tahun), dan jangka panjang (10-15 tahun).
Beberapa factor yang mempengaruhi pentahapan pengembangan sanitasi di Kota Ambon adalah (1) faktor pengelolaan (peraturan, pengelolaan kelembagaan, pengaturan O&M, kepemilikan aset); (2i) faktor fisik wilayah (kepadatan penduduk, pemanfaatan lahan, dan topografi); (3) faktor keuangan dan pendanaan (kapasitas fiskal, dukungan, dan mekanisme pendanaan).Selain itu beberapa factor yang memjadi pertimbangan dalam pemilihan teknologi adalah (1) lingkungan (risikokesehatan, pemanfaatan air tanah dan air permukaan); (2) budaya dan perilaku (tingkat kesadaran, keterampilanmanajemen masyarakat); dan (3) biaya investasi dan berulang (keterjangkauan, ketepatan teknologi).
Berdasarkan hal-hal di atas, tahapan pengembangan sanitasi di Kota Ambon dilakukan dengan memperhitungkan pula komponen kepadatan penduduk, sebagai gambaran factual kompleksitas perkotaan (urban) dan non perkotan (rural), dimana manusia menjadi unsur yang penting dalam pengelolaan sanitasi. Sehubungan dengan itu, maka kepadatan penduduk di Kota Ambon terdistribusi dalam 5 kategori sebagaimana Tabel 7.5.1.a. dan Peta 7.5.1.
Tabel 7.5.1.a. Kepadatan Penduduk di Kota Ambon No Kepadatan Indikator(Org/
ha) Prosentase Wilayah Penduduk
1 Rural < 25 34% 17.93%
2 Peri Urban 25-100 14% 11.50%
3 Urban Low 100-175 28% 46.00%
4 Urban Medium 175-250 10% 7.50%
5 Urban High >250 14% 16.70%
Sumber: Hasil Analisis, 2012
Mengacu kepada 7.5.1.a tersebut, dan Peta 7.5.1. penduduk Kota Ambon dengan kepadatan tinggi (urban high) terkosentrasi pada 7 kelurahan/desa/negeri (14%), yaitu 6 Kelurahan di Kawasan Pusat
Hal -
23
Kota, yaitu Kelurahan Nusaniwe, Wainitu, Kudamati, Waihaong, Silale, dan Rijali, serta Desa Nania.
Kepadatan penduduk tersebut, dibarengi dengan factor-faktor lainnya, termasuk budaya dan perilaku masyarakat, menjadi pertimbangan untuk penentuan tahapan dan zona pengembangan sanitasi.
7.5.2 Tahapan Pengembangan Sub Sektor Air Limbah Domestik
Tahapan pengembangan air limbah domestic, berdasarkan hasil analisis, menggunakan system on- site, dan system off-site (Tabel 7.5.2.b dan Peta 7.5.2.b), yang terbagi dalam beberapa zona.
Mengacu kepada Peta 7.5.1.b, Zona I merupakan zona pengelolaan limbah domestic menggunakan system off site, yang terkonsentrasi pada kawasan Pusat Kota Ambon dan Kawasan Passo.Saat ini system off site skala kota belum ada (Tabel 7.5.2.b), dan dalam jangka menengah sampai jangka panjang direncanakan akan dibangun pada 3 kawasan, khususnya di Pusat Kota dan Passo, ketika tidak terkendala dengan kesiapan lahan.
Zona II merupakan pengelolaan limbah domestic menggunakan system setempat individual (on-site), yang terkonsentasi di semua kawasan rural, khususnya Negeri Amahusu sampai Latuhalat, Negeri Urimessing, Negeri Soya, semua Negeri di Kecamatan Leitimur Selatan, dan Negeri Hative Besar sampai Negeri Laha. Saat ini pada kawasan ini terdapat 74% jamban individual yang sehat, dan dalam jangka panjang direncanakan dibangun sampai 100%, mengingat kepadatan penduduk dan bangunan cenderung rendah dan jarang.
Zona III, merupakan pengelolaan limbah secara on-site, baik secara individual maupun komunal khususnya MCK++, yang terkonsentasi dari Kawasan Negeri Halong sampai Lateri, dan Waiherusampai Wayame, serta kawasan-kawasan tertentu di Zona I.
Tabel 7.5.2.b. Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik Kota Ambon
No Sistem Cakupan
Layanan Eksisting (%)
Target Cakupan Layanan Jangka
Pendek Jangka
Menengah Jangka Panjang A Sistem On-site
1 Individual (tangki septik) 74% 80% 85% 100%
2 Komunal (MCK, MCK++) 1. Kec. Nusaniwe 2. Kec. Sirimau 3. Kec. T.A. Baguala 4. Kec. Teluk Ambon
442 KK 747 KK 93 KK 80 KK
519 KK 850 KK 284 KK 150 KK
800 KK 1.000 KK
400 KK 300 KK
800 KK 1.000 KK
400 KK 300 KK B Sistem Off-site
1 Skala Kota 0 0 1 Kawasan 3 Kawasan
2 Skala Kawasan 2 Lokasi 3
Kawasan 5 Kawasan 10 Kawasan Sumber: Hasil Analisis, 2012
Sementara itu, pengelolaan air limbah domestic dengan system off-site, di Kawasan Pusat Kota (Peta 7.5.2.c) menunjukan bahwa Zona 1 yang merupakan prioritas jangka pendek sampai menengah, terkonsentasi di Pusat Kota Ambon, khususnya di kelurahan Wainitu, Silale, Waihaong, Ahusen, Batu Meja, Uritetu dan Rijali. Zona 2 merupakan prioritas jangka menengah ke panjang terkonesntasi di Negeri Batu Merah, Kelurahan Amantelu, Kelurahan Karang Panjang, dan Kelurahan Mangga Dua.
Sedangkan Zona 3 diupayakan untuk optimal jangka panjang, meliputi Kelurahan Pandan Kasturi, Desa Galala, Negeri Hative Besar; Kelurahan Waihoka, Mangga Dua, Kudamati, dan Benteng.
Hal -
24
Pada sisi lain pengelolaan air limbah domestic dengan system off-site, di Kawasan Passo (Peta 7.5.2.d) menunjukan bahwa Zona 1 yang merupakan prioritas jangka pendek, terkonsentasi di tengah Negeri Passo.Zona 2 merupakan prioritas jangka menengah ke panjang terkonesntasi di kawasan permukiman Negeri Lama, Nania, dan pengungsi di Wai Yori.Sedangkan Zona 3 diupayakan untuk optimal jangka panjang, meliputi permukiman-permukiman di pinggiran Kawasan Passo tersebut.
Hal -
25
Peta 7.5.1.A. Peta Sebaran Kepadatan Penduduk Kota Ambon
Hal -
26
Peta 7.5.2.b. Peta Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik – Sistem Onsite KotaAmbon
Hal -
27
Peta 27.5.2.c. Peta Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik – Sistem Offsite Kawasan Pusat Kota Ambon
Hal -
28
Peta 7.5.2.d.. Peta Tahapan Pengembangan Air Limbah Domestik – Sistem Offsite Kawasan Passo
Hal -
29
7.5.3 Tahapan Pengembangan Sub Sektor Persampahan
Tahapan pengembangan persampahan, berdasarkan hasil analisis, menggunakan system local, langsung dan tidak langsung (Tabel 7.5.3.c dan Peta 7.5.3.e), yang terbagi dalam beberapa zona, yaitu pelayanan penuh jangka pendek, jangka tengah, dan jangka panjang.
Mengacu kepada Peta 7.5.3.e, Zona I merupakan zona pelayanan penuh jangka pendek, yaitu pelayanan penuh secara langsung harian terhadap permukiman yang terkonsentrasi dari Laha sampai dengan Pusat Kota.Zona 2 adalah zona layanan penuh sampai jangka menengah, yang terkonsentrasi pada Negeri-Negeri di Kecamatan Nusaniwe.Sedangkan Zona 3 terkonsentasi pada beberapa kawasan pegunungan di Negeri Soya, dan Negeri-Negeri pegunungan di Kecamatan Leitimur Selatan, dengan lebih berorientasi pada pengolahan sampah berbasis masyarakat.
Tabel 7.5.3. Tahapan Pengembangan PersampahanKota Ambon No Sistem Cakupan Layanan
Eksisting (%)
Target Cakupan Layanan (%) Jangka
Pendek Jangka
Menengah Jangka Panjang A Penanganan
Langsung
1 Kawasan Komersil 10% 20% 40% 80%
2 Pengolahan Berbasis
Masyarakat 5% 10% 30% 75%
B Penanganan Tidak Langsung
1 Permukiman 60% 70% 80% 100%
2 Pasar/ Terminal 70% 80% 100% 100%
3 Jalan 30% 40% 80% 100%
4 Tempat Sosial, Sarana
Umum lain 50% 60% 80% 100%
Sumber: Hasil Analisis, 2012
Jika mengacu kepada tahapan pengembangan persampahan Kota Ambon (Tabel 2.3), maka penanganan sampah secara langsung masih tergolong kecil, yaitu 10% untuk kawasan komersil, dan 5% untuk pengolahan berbasis masyarakat. Adanya anggapan bahwa sampah adalah urusan Pemerintah Kota Ambon, masih perlu terus dirubah, sehingga masyarakat merasa bertanggung jawab untuk bersama-sama mengelola sampahnya perlu terus didorong.Karena itu diharapkan dalam jangka panjang penanganan langsung kawasan komersil mencapai 80%, dan pengolahan berbasis masyarakat mencapai 75%.
Pada sisi lain, penanganan tidak langsung (Tabel 2.3), melalui pengangkutan oleh mobil layanan sampah sampah menjadi kebutuhan utama, khususnya di permukiman, pasar/ terminal, jalan, tempat social, dan sarana umum lainnya. Hal ini menyebabkan biaya operasional pelayanan sampah setiap tahunnya meningkat.Penanganan secara tidak langsung akan efektif, ketika pemilahan sampah dilakukan. Karena itu terus didorong pengolahan sampah yang baik, dengan pemilahan dari sumber sampah.
Hal -
30
Peta 7.5.3.Peta Tahapan Pengembangan Persampahan Kota Ambon
Hal -
31
7.5.4 Tahapan Pengembangan Sub Sektor Drainase
Tahapan pengembangan darianse, berdasarkan hasil analisis, (Tabel 7.5.4 dan Peta 7.5.4), yang terbagi dalam beberapa zona, yaitu pelayanan penuh jangka pendek, jangka tengah, dan jangka panjang.
Mengacu kepada Peta 7.5.4, Zona I merupakan zona pelayanan penuh jangka pendek sampai menengah, dengan cakupan sampai 90% kawasan, yang terdistribusi pada kawasan Pusat Kota dan kawasan Passo. Zona 2, merupakan pelayanan jangka menengah, dan Zona 3, merupakan pelayanan jangka menengahdan panjang, dengan masing-masing cakupan pelayanan sampai 70%
kawasan. Zona 4 merupakan pelayanan jangka panjang, meliputi kawasan negeri-negeri di kecamatan Nusaniwe, Kecamatan Leitimur Selatan, Negeri Soya, Negeri Hative Besar, Negeri Tawiri, dan Negeri Laha. Penanganan darianse pada Zona 4, merupakan penanganan berbasis masyarakat.
Tabel 7.5.4.Tahapan Pengembangan Drainase Kota Ambon No Sistem CakupanLayanan
Eksisting (%)
Target CakupanLayanan (%) Jangka
Pendek Jangka
Menengah Jangka Panjang
1 TERSIER 75 80 90 100
2 SEKUNDER 80 85 95 100
3 PRIMER 85 90 95 100
Mengacu kepada tahapan pengembangan drainase (Tabel 7.5.4), maka system pengembangan drainase adalah tersier, sekunder, dan primer, yang dipadukan pada setiap zona. Diharapkan sampai jangka panjang, penanganan drainase telah optimal 100%, sesuai cakupan pelayanan masing-masing sesuai Peta 7.5.4.
Hal -
32
Peta 7.5.4. Peta Tahapan Pengembangan Drainase Kota Ambon
Hal -
33 7.6 Arahan Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL)
Berdasarkan Permen PU No. 6 Tahun 2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan, RTBL didefinisikan sebagai panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan
KAWASAN PASSO
7.6.1 Konsep elemen Perancangan
Tabel 7.6.1 Program Bangunan & Lingkungan Kawasan Passo
No. Isu Pengembangan Konsep Manfaat
1 SISTEM TRANSPORTASI MENCIPTAKAN KORIDOR EFISIENSI DAN KEAMANAN
• Kondisi jalan yang rusak
• Tidak ada jalur pejalan kaku yang aman dan nyaman
• Kebutuhan sirkulasi dan sistem transportasi yang lebih baik
• Polusi udara dan kebisingan
• 90% pengguna jalan adalah mobil
• Jalan yang lebih besar dilengkapi jalur pejalan kaki yang aman dan nyaman
• Memisahkan sirkulasi kendaraan dengan jalur pejalan kaki
• Pilihan moda transportasi lebih banyak
• Keterpaduan sistem prasarana dan utilitas
• Penggunaan material yang berkelanjutan
• Berorientasi pada manusia (pengembangan jalur pejalan kaki, jalur sepeda, dan angkutan umum massal)
• Efisiensi penggunaan bahan bakar kendaraan bermotor
• Mengurangi polusi udara dan kebisingan
2 SISTEM RUANG TERBUKA DAN
RTH MENCIPTAKAN LINKAGE RUANG
TERBUKA DAN RUANG TERBUKA HIJAU
KENYAMANAN DAN
KESEIMBANGAN LINGKUNGAN
• Tidak ada kenyamanan dan keamanan pengguna jalan karena tidak ada buffer hijau sebagai peredam polusi udara dan kebisingan
• Keterbatasan ruang untuk bermain dan melakukan aktivitas luar ruangan, padahal banyak terdapat ruang-ruang terbuka
• Mengembangkan koridor hijau jalan
• Mengembangkan node-node berupa ruang terbuka sebagai titik transit dalam radius yang nyaman bagi pejalan kaki dengan waktu jarak tempuh 10 menit
• Menjaga fungsi lindung sungai dan menjadikannya ruang terbuka hijau
• Mengurangi ketergantungan
penggunaan kendaraan bermotor dan berorientasi pada pejalan kaki
• Mengurangi polusi udara dan kebisingan
• Mempertahankan keanekaragaman hayati 3 LINGKUNGAN PERMUKIMAN MENCIPTAKAN KEBERLANJUTAN
LINGKUNGAN DENGAN TATA BANGUNAN YANG BAIK
TEMPAT TINGGAL YANG LAYAK
• Kondisi infrastruktur yang buruk: air bersih minim, sistem drainase dan sanitasi buruk, kurangnya manajemen pengelolaan sampah yang baik
• Mengembangkan infrastruktur terpadu dan saling terintegrasi
• Pengelolaan limbah/sampah perkotaan dengan prinsip mengurangi sampah/limbah, mengembangkan proses daur ulang dan meningkatkan nilai ambah (konsep 3R);
• Mendorong peran aktif masyarakat dalam meningkatkan kualitas lingkungan
• Meningkatnya kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan
• Mengurangi resiko banjir
Hal -
34
Konsep Penangaan
Kawasan Passo merupakan kawasan yang berkembang dengan cepat maka perlu dilakukan 3 (tiga) pendekatan utama yaitu :
1. Perkembangan baru fungsi perdagangan skala besar, serta mixuse guna mendukung CBD baru & Pengendalian perkembangan fungsi terbangun pada koridor arteri Jl.
Woltermonginsi di & Jl. Leowatimena
2. Revitalisasi kawasan sempadan pantai sebagai destinasi wisata & konservasi area bakau serta lahan belum terbangun untuk fungsi lindung
3. Peningkatan kualitas blok permukiman
Hal -
35
7.6.2 Sistem Ruang Terbuka Dan Tata Hijau
Penataan sistem ruang terbuka dan pola tata hijau bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan kota dengan menyediakan lingkungan yang aman, sehat dan menarik serta berwawasan ekologis.
Pada prinsipnya penataan sistem ruang terbuka diatur melalui pendekatan desain tata hijau yang membentuk karakter lingkungan serta memiliki peran penting baik secara ekologis, rekreatif dan estetis bagi lingkungan sekitarnya, dan memiliki karakter terbuka sehingga mudah diakses sebesar- besarnya oleh publik, termasuk masyarakat difabel dan lanjut usia.
Konsep dasar penataan sistem ruang terbuka dan tata hijau:
Membentuk jaringan tautan (linkage) melalui komponen-komponen utama RTH sebagai satu kesatuan sistem RTH;
Menciptakan ruang terbuka publik yang berkualitas untuk mewadahi aktivitas sosial masyarakat dan membuat kawasan menjadi lebih hidup. Ruang-ruang terbuka tersebut dapat berupa taman- taman umum (public parks), mulai dari taman-taman lingkungan (community parks) pada skala ruang Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), Kelurahan hingga Kecamatan, bahkan taman kota (city parks) pada skala kota;
Menciptakan RTH yang dapat menambah karakter dan nilai kualitas lingkungan, sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya;
Mengembangkan vegetasi sebagai elemen yang mempertegas ruang, baik sebagai elemen pengarah, penghubung, maupun pengalir pergerakan.
Prinsip Penataan A Koridor
Koridor Jalan • Pengembangan koridor sebagai ruang terbuka publik mampu menciptakan kreatifitas dan identitas koridor
Koridor Sungai • Penataan sempadan sungai sebagai ruang terbuka untuk aktivitas sosial
• Penggunaan vegetasi peneduh dengan perakaran kuat yang berfungsi sebagai buffer pengaman ekologis sungai
B Ruang Terbuka • Pengembangan ruang terbuka terdiri dari hard and soft lansekap yang seimbang
• Pengembangan vegetasi beragam, disamping menjaga fungsi ekologis juga sebagai elemen arsitektural
C Persimpangan • Pengembangan vegetasi rendah pada daerah bebas pandang (perdu) 7.6.3 Rencana Penataan Kawasan
Rencana penataan Kawasan Passo selaras dengan Visi Kawasan Passoyaitu :“Liveable place In The New CBD of Ambon City with integrated activities in the green environment‟ diterjemahkan sebagai kawasan yang layak huni dalam konsteks pusat distrik perdagangan kota ambon yang terintegrasi dengan wawasan lingkungan, dengan pertimbangan prinsip-prinsip utama yaitu :
Tata guna lahan Keberagamanan fungsi yang selaras dengan lingkungan Intensitas pemanfaatan
ruang
Intensitas bangunan yang selarasproporsi RTH yang seimbang
Sistem sirkulasi dan penghubung
Sistem sirkulasi yang mudah, nyaman, aman dan menerus dan terpadu dengan sistem RTH
Tata massa bangunan Tata bangunan yang berorientasi bagi pajalan kaki Sistem ruang terbuka dan
tata hijau
Keterkaitan ruang terbuka dan tata hijau sebagai ruang integrasi sosial antar komunitas namun tetap memiliki fungsi ekologis
Tata kualitas lingkungan Suasana lingkungan yang festive sehingga terwujud “sense of
Kawasanpassomemilikipotensipengembanganhutankota (bakau) sebaagaai area
sempadanpantai&lahanuntukpengembangan RTH
publikdenganfungsiekologiskeduanyajugadidukungolehpengembanganpusataktivita sbertemalingkungan
Hal -
36
place”
Sistem prasarana dan utilitas lingkungan
Sistem utilitas yang terpadu (integrated) dalam sistem prasarana (infrastruktur) kawasan
Prinsip-prinsip diatas diturunkan pada 7(tujuh) program penataan kawasan yaitu :
1) Penataan koridor jalan Arteri Jl. Leo Watimena, dengan pendekatan perancangan pengendalian pembangunan
Dengan fungsi utama sebagai koridor perdagangan – jasa akan diarahkan sebagai koridor jalan arteri yang berkaarakter lokal, koridor yang atraktif saat dilintasi kendaraan dan koridor yang memiliki identitas yang kuat sehingga dapat menciptakan pengalaman ruang bagi warga kota.
2) Penataan koridor jalan kolektor Jl. Sisingamangaraja, dengan pendekatan perancangan pengendalian pembangunan
Dengan fungsi utama sebagai koridor perdagangan – jasa, pelayanan umum, akan diarahkan sebagai koridor yang aktif, koridor yang atraktif dan koridor yang memiliki identitas yang kuat sehingga dapat menciptakan pengalaman ruang bagi warga kota.
3) Penataan RTH publik passo, dengan pendekatan pembangunan baru & peningkatan kualitas ; Pengembangan RTH mengoptimalkan lahan kosong sebagai media aktif rekreasi kota, pedestrian, jalur hijau serta kegiata luar ruangan. Tema yang akan digunakan adalah ” fun city”
atau ”Taman wisata”, dimana elemen tradisionalitas kota ambon & kawasan passo akan dikemas menjadi atraksi wisata yang unik.
4) Penataan bangunan sepanjang koridor jalan arteri, dengan pendekatan perancangan pengendalian pembangunan
5) Penataan area sempadan pantai& sempadan sungai, dengan pendekatan perancangan konservasi & pengendalian pembangunan serta konservasi & preservasi Peningkatan kualitas infrastruktur lingkungan permukiman , dengan pendekatan perancangan peningkatan kualitas Dengan konsep penanganan Urban renewal yaitu dengan prinsip restrukturisasi kawasan.
Dimana beberapa fungsi yang ada pada kawasan ini antara lain permukiman dan berbagai pelayanan pendukung permukiman, ruang terbuka hijau publik, ruang terbuka biru kota, dan ruang terbuka hijau sempadan sungai.
7.6.4 Rencana Penggunaan Lahan Makro
Beberapa dasar pertimbangan rencana peruntukan lahan Kawasan Passo yaitu :
Mewadahi dinamika perkembangan penggunaan lahan, kemampuan pertumbuhan kawasan dan kebutuhan pengembangan destinasi baru kota mengantisipasi bangkitan pergerakan yang melintas di jalan arteri.
Dinamika perkembangan kea rah sempadan sungai & pantai perlu dikenaalikan agar tercita lingkungan yang seimbang
Dinamika perkembangan kawasan sebagai dampak aglomerasi fasilitas pendidikan, perdagangan skala kota, dan permukiman kepadatan sedang
Rencana penggunaan lahan dikawasan passo diarahkan untuk mendukung pengembangan koridor sebagai penghubung kawasan CBD kota ambon, dimana arahannya sebagai berikut :
A. Pengembangan fungsi perdagangan & jasa pada koridor jalan arteri & kolektor (jl.Leo watimena &jl. Sisingamangaraja) diarahkan untuk pengembangan perdagangan & jasa dengan pendekatan perancangan pengendalian pembangunan baru
Sebagai bentuk aktualisasi dari pengembangan koridor jalan arteri dan kolektor kota sesuai dengan arahan RTRW Kota Ambon dan upaya perubahan citra kota sebagai CBD baru kota yang menarik. Arahan umum pengembangan koridor dengan fungsi perdagangan-jasa dan perkantoran ini antara lain :