K ET ERPADU AN ST RAT EGI
PEN GEM BAN GAN K OT A LAN GSA
5.1 ARAHAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTA LANGSA
Berdasarkan amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, Kota Langsa telah menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Langsa yang ditetapkan oleh Peraturan Daerah (Qanun) Nomor 12 Tahun 2013 .
Arahan potensi pengembangan tata ruang Kota Langsa memiliki beberapa potensi pengembangan, salah satunya adalah potensi pengembangan dan peningkatan Kawasan Pelabuhan Kuala Langsa sehingga pertumbuhan kota diharapkan lebih cepat tercapai dan berkembang dari berbagai sektor ekonomi.
Demikian halnya dengan koordinasi perencanaan pembangunan di bidang perekonomian merupakan acuan informasi terhadap pertumbuhan perekonomian dalam rangka melanjutkan dan meningkatkan pembangunan Kota Langsa, dalam hal ini pengembangan pembangunan Kawasan Industri Kuala Langsa (KIKL) Alue Raya Baru ada beberapa hal yang perlu diketahui, sebagai berikut :
Kota Langsa terletak pada kawasan Timur Pulau Sumatera yang berbatasan dengan laut Selat Malaka
sangat tepat untuk dikembangkan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi dan perdagangan baik lokal, regional maupun internasional dengan mengembangkan pelabuhan Kawasan Industri Kuala Langsa (KIKL) Alue Raya Baru sebagai pelabuhan ekspor-impor;
Pembangunan Pelabuhan Kawasan Industri Kuala Langsa (KIKL) Baru Alue Raya ini juga sebagai
therapy traumatic masyarakat untuk menumbuhkan kembali kepercayaan dan kecintaan masyarakat Aceh kepada Pemerintah Pusat;
Menciptakan lapangan kerja baru kepada masyarakat usia kerja dan masyarakat yang kehilangan
pekerjaan (PHK) akibat tidak beroperasinya industri-industri yang ada dikarenakan konflik pada masa lalu;
Tabel 5.1
Arahan RTRW Kota Langsa Untuk Bidang Cipta Karya
ARAHAN POLA RUANG ARAHAN STRUKTUR RUANG
(1) (2)
Kawasan Perlindungan Setempat Sistem Pusat Pelayanan Kota
Kawasan Cagar Budaya Sistem Jaringan Prasarana Kota
Kawasan Lindung Geologi Prasarana Lalu Lintas
Kawasan Rawan Bencana Alam Infrastruktur Perkotaan
Ruang Terbuka Hijau (RTH) Sarana Prasarana Perkotaan
Kawasan Budidaya
Kawasan Peruntukan Lainnya
Sumber : RTRW Kota Langsa 2012-2032
a. Penetapan kawasan strategis provinsi yang ada di Kota Langsa
I. Dari sudut pertumbuhan ekonomi yaitu Kawasan Pusat Perdagangan dan Distribusi Aceh. Dengan karakter pengembangan kawasan strategis memiliki sektor unggulan yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah Aceh, dimana pertumbuhan ekonomi yang pesat selayaknya dikendalikan agar tidak menurunkan kinerja kawasan. Adapun arahan penanganan kawasan strategis ini yaitu dengan mengembangkan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh, mengembangkan dan meningkatkan prasarana dan sarana pendukung pusat-pusat kegiatan ekonomi, mengendalikan pemanfaatan ruang dan alih fungsi ruang yang dapat menurunkan kualitas lingkungan dan layanan transportasi wilayah.
II. Dari sudut pandang kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan yaitu Kawasan Hutan Lindung Manggrove dengan luas 861,78 Ha, dengan karakter pengembangan kawasan strategis untuk perlindungan ekosistem hutan bakau. Arahan penanganan kawasan strategis ini antara lain rehabilitasi dan revitalisasi hutan bakau, pengendalian kegiatan budiday perikanan dan permukiman disekitar kawasan hutan bakau.
Penetapan kawasan strategis Kota Langsa adalah :
1. Kawasan Strategis dari sudut pandang kepentingan pertumbuhanekonomi, meliputi :
a. Kawasan Strategis dari sudut pandang kepentingan ekonomi yaitu KawasanCentral Bussines District (CBD) dengan luas 231,01 Ha;
c. Kawasan Industri Kuala Langsa di Gampong Kuala Langsa Kecamatan Langsa Barat dengan luas 116,00 Ha;
d. Kawasan Industri Buket Rata di Gampong Buket Rata Kecamatan Langsa Timur dengan Luas 300,00 Ha;
e. Kawasan Industri Penyangga di Gampong Sungai Pauh Kecamatan Langsa Barat seluas 69,62 Ha; f. Kawasan Industri sedang Alue Dua di gampong Alue Dua Kecamatan Langsa Baro dengan luas
100,00 Ha; dan
g. Pelabuhan Kuala Langsa di Gampong Kuala Langsa Kecamatan Langsa Barat dengan luas 13,00 Ha.
2. Kawasan Strategis ditinjau dari sudut pandang kepentingan sosial budaya yaitu Kawasan Pendidikan di Gampong Meurandeh Kecamatan Langsa Lama dengan luas 200,00 Ha; Pada Tabel 5.2 memaparkan identifikasi Kawasan Strategis Kota (KSK) Langsa
Tabel 5.2
Identifikasi Kawasan Strategis Kota (KSK) Langsa berdasarkan RTRW
KAWASAN STRTEGIS KOTA SUDUT
KEPENTINGAN LOKASI/BATAS KAWASAN
(2) (3) (4)
Kawasan Tentara Nasional
Indonesia Kepentingan HANKAM Kodim 0104 Aceh Timur di Gampong PayaBujo Seuleumah Kecamatan Langsa Baro Pos TNI AL di Gampong di Gampong Kuala
Langsa, Kecamatan Langsa Barat Koramil 05/LGSK Langsa Kota, Gampong
Teungoh, Kecamatan Langsa Kota Koramil 29/LGSB Langsa Barat di Gampong
Alur Dua, Kecamatan Langsa Baro Koramil 30/LGST Langsa Timur di Gampong Seunubok Antara, Kecamatan Langsa Timur Kawasan Kepolisian Republik
Indonesia Polres Kota Langsa di Gampong Teungoh,Kecamatan Langsa Kota Polairud Kota Langsa di Gampong Kuala
Langsa, Kecamatan Langsa Barat Polsek Langsa Baro di Gampong Alue Dua,
Kecamatan Langsa Baro Polsek Langsa Kota di Gampong Matang
Seulimeng, Kecamatan Barat Polsek Langsa Timur di Gampong Alue Pineng,
Kecamatan Langsa Timur KawasanCentral Bussines District
(CBD) Kepentingan Ekonomi Kota Langsa
Kawasan Industri Alue Raya Gampong Sungai Lueng Kecamatan LangsaTimur / luas 824,87 Ha Kawasan Industri Kuala Langsa Gampong Kuala Langsa Kecamatan LangsaBarat / luas 116,00 Ha Kawasan Industri Buket Rata Gampong Buket Rata Kecamatan LangsaTimur /Luas 300,00 Ha Kawasan Industri Penyangga Gampong Sungai Pauh Kecamatan LangsaBarat seluas 69,62 Ha Kawasan Industri sedang Alue Dua Gampong Alue Dua Kecamatan Langsa Barodengan luas 100,00 Ha Pelabuhan Kuala Langsa Gampong Kuala Langsa Kecamatan LangsaBarat / luas 13,00 Ha. Kawasan Pendidikan Kepentingan SosialBudaya Gampong Meurandeh Kecamatan LangsaLama dengan luas 200,00 Ha Kawasan Hutan Lindung
Gambar 5.1. Peta Kawasan Strategis Kota Langsa
Sumber : RTRW Kota Langsa 2012-2032
b. Arahan pengembangan pola ruang dan struktur ruang yang mencakup
Arahan pemanfaatan ruang wilayah Kota Langsa merupakan perwujudan rencana tata ruang yang dijabarkan ke dalam indikasi program utama kota dalam jangka waktu perencanaan 5 tahunan sampai akhir tahun perencanaan 20 tahun. Arahan pemanfaatan ruang wilayah Kota Langsa berfungsi:
1. Sebagai acuan bagi pemerintah Kota Langsa dan masyarakat dalam pemrograman pemanfaatan ruang; 2. Sebagai arahan untuk sektor dalam penyusunan kegiatan prioritas (besaran, lokasi, sumber pendanaan,
instansi pelaksana, dan waktu pelaksanaan);
3. Sebagai dasar estimasi kebutuhan pembiayaan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun pertama; dan 4. Sebagai acuan bagi masyarakat dalam melakukan investasi.
Arahan pemanfaatan ruang wilayah Kota Langsa disusun berdasarkan : 1. Rencana struktur ruang dan pola ruang;
2. Ketersediaan sumber daya dan sumber dana pembangunan;
3. Kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang ditetapkan; dan
Arahan pemanfaatan ruang wilayah Kota Langsa disusun dengan kriteria :
1. Mendukung perwujudan struktur ruang, pola ruang, dan kawasan strategis kota; 2. Mendukung program utama penataan ruang nasional dan provinsi;
3. Realistis, objektif, terukur, dan dapat dilaksanakan dalam jangka waktu perencanaan;
4. Konsisten dan berkesinambungan terhadap program yang disusun, baik dalam jangka waktu tahunan maupun antar lima tahunan; dan
5. Sinkronisasi antar program harus terjaga.
Untuk mewujudkan keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antar wilayah, maka setiap pusat kegiatan di wilayah Kota Langsa perlu didukung oleh ketersediaan serta kualitas sarana dan prasarana wilayah terutama jaringan transportasi sesuai dengan skala pelayanannya. Perwujudan rencana struktur ruang wilayah Kota Langsa antara lain, mencakup :
1. Perwujudan pusat pelayanan dalam wilayah Kota Langsa, sebagai arahan pembentuk sistem pusat-pusat pelayanan wilayah kota yang memberikan layanan bagi wilayah kota;
2. Perwujudan sistem jaringan prasarana wilayah Kota Langsa, sebagai arahan perletakan jaringan prasarana wilayah kota sesuai dengan fungsi jaringannya yang menunjang keterkaitan antar pusat-pusat pelayanan kota.
Rencana Pola Ruang wilayah Kota Langsa dilaksanakan melalui perwujudan kawasan lindung dan perwujudan kawasan budidaya. Kawasan lindung yang terdapat di Kota Langsa adalah : hutan lindung, hutan bakau/mangrove, sempadan sungai, dan sempadan danau/waduk.
Sedangkan kawasan budidaya yang dikembangkan adalah: perumahan yang meliputi perumahan dengan kepadatan tinggi, sedang, dan rendah; perdagangan dan jasa, yang meliputi pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern; perkantoran meliputi : perkantoran pemerintahan dan perkantoran swasta; industri meliputi : industri rumah tangga/kecil; pariwisata meliputi : pariwisata budaya, pariwisata alam, dan pariwisata buatan; ruang terbuka non hijau; dan peruntukan lainnya.
Program perwujudan kawasan strategis kota yang sedang dilaksanakan dan dikembangkan di Kota Langsa yaitu berupa kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan ekonomi. Kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi di kota Langsa yaitu kawasan industri Kuala Langsa.
c. Ketentuan zonasi bagi pembangunan prasarana sarana bidang Cipta Karya
Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah di Kota Langsa berfungsi untuk :
Mengendalikan pengembangan Kota Langsa;
Menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang;
Menjamin agar pembangunan baru tidak mengganggu pemanfaatan ruang yang telah sesuai dengan
rencana tata ruang;
Meminimalkan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang; Mencegah dampak pembangunan yang merugikan; dan
Melindungi kepentingan umum.
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Lindung
1. Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan hutan lindung, terdiri atas: a. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi kegiatan wisata alam;
b. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan budidaya yang dapat mengganggu atau merusak lingkungan fisik alamiah ruang;
c. melaksanakan penetapan batas kawasan hutan secara terkoordinasi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
d. menegaskan batas kawasan lindung secara jelas dilapangan dan mensosialisasikannya pada masyarakat, sehingga masyarakat mengetahuinya; dan
e. mengembalikan dan mengatur penguasaan dan penggunaan tanah sesuai peruntukan fungsi lindung secara bertahap untuk negara.
2. Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan perlindungan setempat, terdiri atas:
a. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi kegiatan transportasi untuk jalur inspeksi sungai/pantai;
b. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan budidaya yang dapat mengganggu atau merusak kualitas air, kondisi fisik dan dasar sungai atau pantai serta alirannya;
3. Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan pelestarian alam dan cagar budaya, terdiri atas: a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan perdagangan dan pariwisata;
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi kawasan perumahan; dan c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan industri;
4. Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan hutan bakau, terdiri atas: a. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi kegiatan wisata alam; dan
b. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan budidaya yang dapat mengganggu atau merusak lingkungan fisik alamiah ruang.
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi pengembangan perumahan; dan c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan industri.
6. Ketentuan umum peraturan zonasi untuk ruang terbuka hijau setempat, terdiri atas: a. kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan rekreasi dan olahraga;
b. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi bangunan penunjang rekreasi dan fasilitas umum lainnya dan bukan bangunan permanen;
c. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan yang mengakibatkan terganggunya fungsi ruang terbuka hijau;
d. ketentuan intensitas bangunan meliputi: KDB paling tinggi sebesar 20 (dua puluh) persen; dan KDH paling rendah sebesar 80 (delapan puluh) persen.
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Budidaya
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan perumahan, meliputi:
1. kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan untuk perumahan yang terdiri atas perumahan kepadatan tinggi, perumahan kepadatan sedang, dan perumahan kepadatan rendah.
2. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi kegiatan penunjang kegiatan perumahan;
3. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan industri besar dan kegiatan lainnya yang mengakibatkan terganggunya kegiatan perumahan;
4. ketentuan intensitas bangunan pada kawasan perumahan kepadatan tinggi meliputi: a. KDB paling tinggi sebesar 75 persen;
b. KLB paling tinggi sebesar 3,2;
c. GSB dengan ketentuan setengah rumija; d. Ketinggian maksimum 4 lantai; dan e. KDH paling rendah sebesar 20 persen;
5. ketentuan intensitas bangunan pada kawasan perumahan kepadatan sedang meliputi: a. KDB paling tinggi sebesar 50 persen;
b. KLB paling tinggi sebesar 2,4;
c. GSB dengan ketentuan setengah rumija; d. Ketinggian maksimum 4 lantai; dan e. KDH paling rendah sebesar 40 persen;
6. ketentuan intensitas bangunan pada kawasan perumahan kepadatan rendah meliputi: a. KDB paling tinggi sebesar 30 persen;
b. KLB paling tinggi sebesar 1,0;
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Perdagangan dan Jasa
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan perdagangan dan jasa, meliputi:
1. Kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan perdagangan besar dan eceran, jasa keuangan, jasa perkantoran usaha dan profesional, jasa hiburan dan rekreasi serta jasa kemasyarakatan;
2. Kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi kegiatan hunian kepadatan menengah dan tinggi; 3. Kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan industri besar dan kegiatan lainnya yang
mengakibatkan terganggunya kegiatan perdagangan dan jasa; 4. Ketentuan intensitas bangunan meliputi:
a. KDB paling tinggi sebesar 70 persen; b. KLB paling tinggi sebesar 5,4; c. GSB paling rendah sebesar 6 meter; d. Ketinggian maksimum 6 lantai; dan e. KDH paling rendah sebesar 20 persen.
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Industri
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan industri, meliputi:
1. kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan industry dan pendukungnya seperti perumahan karyawan, toko dan warung pendukung karyawan;
2. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi kegiatan perumahan, serta pemanfaatan pasar, perkantoran dan jasa;
3. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan perumahan, sekolah, serta kegiatan yang dapat terpengaruh secara negatif oleh polusi yang dihasilkan oleh kegiatan di kawasan industri;
4. ketentuan intensitas bangunan meliputi: a. KDB paling tinggi sebesar 60 persen; b. KLB paling tinggi sebesar 3,6;
c. GSB dengan ketentuan setengah rumija; d. Ketinggian maksimum 6 lantai; dan e. KDH paling rendah sebesar 30 persen.
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Perkantoran
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan perkantoran, meliputi:
1. kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan perdagangan dan jasa, permukiman;
2. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi kegiatan pergudangan, sektor informal dan kegiatan yang berkaitan dengan perkantoran;
4. ketentuan intensitas bangunan meliputi: a. KDB paling tinggi sebesar 50 persen; b. KLB paling tinggi sebesar 2,0;
c. GSB dengan ketentuan setengah rumija; d. Ketinggian maksimum 4 lantai;
e. KDH paling rendah sebesar 30 persen.
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Pariwisata
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan pariwisata, meliputi:
1. kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan pariwisata dan kegiatan penunjang pariwisata;
2. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi kegiatan perdagangan dan jasa, serta kegiatan industri kecil;
3. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan industri besar dan kegiatan yang mengakibatkan terganggunya kegiatan pariwisata;
4. ketentuan intensitas bangunan meliputi: a. KDB paling tinggi sebesar 40 persen; b. Ketinggian maksimum 4 lantai; c. KDH paling rendah sebesar 40 persen.
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Ruang Terbuka Non Hijau
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan ruang terbuka non hijau, meliputi:
1. kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan pemanfaatan ruang untuk kegiatan berlangsungnya aktivitas masyarakat, kegiatan olah raga, kegiatan rekreasi, kegiatan parkir, penyediaan plasa, monument, evakuasi bencana dan landmark;
2. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi kegiatan kegiatan pemanfaatan ruang untuk sektor informal secara terbatas untuk menunjang kegiatan, sesuai dengan KDB yang ditetapkan; dan
3. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi pemanfaatan pemukiman, perkantoran, industry dan daerah terbangun lainnya.
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Ruang Evakuasi Bencana
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan ruang evakuasi bencana, meliputi:
1. kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan pemanfaatan ruang untuk kegiatan pembangunan prasarana dan sarana evakuasi bencana, penghijauan, dan pembangunan fasilitas penunjang keselamatan orang dan menunjang kegiatan operasionalisasi evakuasi bencana;
3. kegiatan yang tidak diperbolehkan pemanfaatan bagi kawasan terbangun perumahan, perkantoran, perdagangan, dan kawasan terbangun yang dapat mempersempit lokasi evakuasi.
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Peruntukan Sektor Informal
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan peruntukan sektor informal, meliputi:
1. kegiatan yang diperbolehkan meliputi kegiatan pemanfaatan ruang untuk kegiatan pembangunan prasarana dan sarana sektor informal, penghijauan, dan pembangunan fasilitas penunjang kegiatan sektor informal;
2. kegiatan yang diperbolehkan bersyarat meliputi Kegiatan rekreasi untuk menunjang kegiatan sektor informal;
3. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan selain sebagaimana tersebut diatas.
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Pertahanan dan Keamanan
Ketentuan umum peraturan zonasi untuk kawasan Pertahanan dan Keamanan Negara, meliputi: 1. Kegiatan diperbolehkan kegiatan budidaya yang dapat mendukung fungsi kawasan Pertahanan dan
Keamanan Negara sesuai peraturan perundang-undangan;
2. Kegiatan diperbolehkan dengan syarat, berupa pemanfaatan ruang secara terbatas dan selektif sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
3. kegiatan yang tidak diperbolehkan meliputi kegiatan selain sebagaimana tersebut diatas dan kegiatan pemanfaatan ruang kawasan budidaya tidak terbangun disekitar kawasan Pertahanan dan Keamanan Negara.
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Perkebunan
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan perkebunan disusun dengan ketentuan:
1. diperbolehkan lahan perkebunan besar yang terlantar beralih fungsi untuk kegiatan non perkebunan; 2. diperbolehkannya permukiman perdesaan khususnya bagi penduduk yang bekerja disektor
perkebunan;
3. diperbolehkan adanya bangunan yang bersifat mendukung kegiatan perkebunan dan jaringan prasarana wilayah;
4. diperbolehkan adanya intergrasi dengan tanaman hortikultura, peternakan dan tanaman lahan kering; 5. diperbolehkan bersyarat intergrasi agroindustri pada kawasan perkebunan; dan
6. diperbolehkan alih fungsi kawasan perkebunan menjadi fungsi lainnya sepanjang sesuai dan mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Pertambangan
2. menagatur rehabilitasi kawasan bekas penambangan sesuai dengan kaidah lingkungan;
3. pengawasan secara ketat terhadap kegiatan penambangan untuk mencegah terjadi kerusakan lingkungan;
4. wajib melaksanakan reklamasi pada lahan-lahan bekas galian/penambangan;
5. pengembangan kawasan pertambangan dilakukan dengan mempertimbangkan potensi bahan tambang, kondisi geologi dan geohidrologi dalam kaitannya dengan kelestarian lingkungan;
6. pengelolaan kawasan bekas penambangan harus direhabilitasi sesuai dengan zona peruntukan yang ditetapkan;
7. kewajiban melakukan pengelolaan lingkungan selama dan setelah berakhirnya kegiatan penambangan; 8. tidak diperbolehkan menambang batuan di perbukitan yang di bawahnya terdapat mata air penting atau
pemukiman;
9. tidak diperbolehkan menambang bongkah-bongkah batu dari dalam sungai yang terletak di bagian hulu dan di dekat jembatan;
10. percampuran kegiatan penambangan dengan fungsi kawasan lain diperbolehkan sejauh mendukung atau tidak merubah fungsi utama kawasan;
11. penambangan pasir atau sirtu di dalam badan sungai hanya diperbolehkan pada ruas-ruas jalan tertentu yang dianggap tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan;
12. menetapkan wilayah pertambangan rakyat (WPR) sesuai ketentuan perundang- undangan; dan 13. mengarahkan kegiatan usaha pertambangan untuk menyimpan dan mengamankan tanah atas (top soil)
guna keperluan rehabilitasi lahan bekas penambangan.
Ketentuan Umum Peraturan Zonasi Kawasan Strategis
Ketentuan umum peraturan zonasi kawasan strategis, meliputi:
1. Peraturan zonasi untuk kawasan strategis provinsi disusun dengan ketentuan: a. diperbolehkan dilakukan pengembangan untuk mendukung kegiatan kawasan; b. tidak diperbolehkan dilakukan perubahan secara keseluruhan fungsi dasarnya; dan c. diperbolehkan untuk penyediaan fasilitas dan prasarana.
2. Peraturan zonasi untuk kawasan strategis Kabupaten disusun dengan ketentuan: a. penetapan kawasan strategis Kabupaten;
d. Indikasi Program Sebagai Operasionalisasi Rencana Pola Ruang dan Struktur Ruang Terkait Bidang Cipta Karya
Arahan pemanfaatan ruang wilayah Kota Langsa merupakan perwujudan rencana tata ruang yang dijabarkan ke dalam indikasi program utama kota dalam jangka waktu perencanaan 5 tahunan sampai akhir tahun perencanaan 20 tahun. Arahan pemanfaatan ruang wilayah Kota Langsa berfungsi :
1. Sebagai acuan bagi pemerintah Kota Langsa dan masyarakat dalam pemrograman pemanfaatan ruang; 2. Sebagai arahan untuk sektor dalam penyusunan kegiatan prioritas (besaran, lokasi, sumber pendanaan,
instansi pelaksana, dan waktu pelaksanaan);
3. Sebagai dasar estimasi kebutuhan pembiayaan dalam jangka waktu 5 (lima) tahun pertama; dan 4. Sebagai acuan bagi masyarakat dalam melakukan investasi.
Arahan pemanfaatan ruang wilayah Kota Langsa disusun berdasarkan : 1. Rencana struktur ruang dan pola ruang;
2. Ketersediaan sumber daya dan sumber dana pembangunan;
3. Kesepakatan para pemangku kepentingan dan kebijakan yang ditetapkan; dan
4. Prioritas pengembangan wilayah Kota Langsadan pentahapan rencana pelaksanaan program sesuai dengan RPJPD.
Arahan pemanfaatan ruang wilayah Kota Langsa disusun dengan kriteria :
2. Mendukung perwujudan struktur ruang, pola ruang, dan kawasan strategis kota; 2. Mendukung program utama penataan ruang nasional dan provinsi;
3. Realistis, objektif, terukur, dan dapat dilaksanakan dalam jangka waktu perencanaan;
4. Konsisten dan berkesinambungan terhadap program yang disusun, baik dalam jangka waktu tahunan maupun antar lima tahunan; dan
5. Sinkronisasi antar program harus terjaga.
Untuk mewujudkan keserasian perkembangan kegiatan pembangunan antar wilayah, maka setiap pusat kegiatan di wilayah Kota Langsa perlu didukung oleh ketersediaan serta kualitas sarana dan prasarana wilayah terutama jaringan transportasi sesuai dengan skala pelayanannya. Perwujudan rencana struktur ruang wilayah Kota Langsa antara lain, mencakup :
1. Perwujudan pusat pelayanan dalam wilayah Kota Langsa, sebagai arahan pembentuk sistem pusat-pusat pelayanan wilayah kota yang memberikan layanan bagi wilayah kota;
Rencana Pola Ruang wilayah Kota Langsa dilaksanakan melalui perwujudan kawasan lindung dan perwujudan kawasan budidaya. Kawasan lindung yang terdapat di Kota Langsa adalah : hutan lindung, hutan bakau/mangrove, sempadan sungai, dan sempadan danau/waduk.
Sedangkan kawasan budidaya yang dikembangkan adalah: perumahan yang meliputi perumahan dengan kepadatan tinggi, sedang, dan rendah; perdagangan dan jasa, yang meliputi pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern; perkantoran meliputi : perkantoran pemerintahan dan perkantoran swasta; industri meliputi : industri rumah tangga/kecil; pariwisata meliputi : pariwisata budaya, pariwisata alam, dan pariwisata buatan; ruang terbuka non hijau; dan peruntukan lainnya.
Program perwujudan kawasan strategis kota yang sedang dilaksanakan dan dikembangkan di Kota Langsa yaitu berupa kawasan yang memiliki nilai strategis dari sudut kepentingan ekonomi. Kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi di kota Langsa yaitu kawasan industri Kuala Langsa.
Arahan pemanfaatan ruang terdiri atas: a. indikasi program utama;
b. indikasi sumber pendanaan; c. indikasi pelaksana kegiatan; dan d. waktu pelaksanaan.
Untuk lebih jelasnya mengenai indikasi Indikasi Program RTRW Kota Langsa terkait Pembangunan Infrastruktur Bidang Cipta Karya Tabel 5.3
Tabel 5.3
Identifikasi Indikasi Program RTRW Kota Langsa terkait Pembangunan Infrastruktur Untuk Bidang Cipta Karya
No. USULAN PROGRAM UTAMA LOKASI Merupakan KSK (YA/TIDAK)
1. Peningkatan Fungsi Pusat Pelayanan Kota Peukan Langsa YA APBN/ APBA/ APBK BAPPEDA, Dinas PU,BMCK Prov/Kota
2. Peningkatan Fungsi Sub Pusat PelayananKota 1 - 4 Sub Pusat PelayananKota 1 - 4 YA APBN/ APBA/ APBK BAPPEDA, Dinas PU,BMCK Prov/Kota
3. Peningkatan Fungsi Pusat Lingkungan 1 –7 Pusat Lingkungan1 – 7 YA APBN/ APBA/ APBK BAPPEDA, Dinas PU,BMCK Prov/Kota
4. Peningkatan, dan Pemeliharan JaringanJalan Arteri Primer K1 Jalan Nasional
Jalan Batas Aceh Timur – Sp Tugu Komodor, Jalan A. Yani, jalan Prof. A. Madjid Ibrahim, Jalan H. Agus Salim, Jalan Sp
Tugu Langsa – Perbatasan Kab Aceh Tamiang, Jalan Kuala
Langsa
YA APBN/ APBA/ APBK KEMEN PU DISHUB,Dinas PU, BMCK Prov/Kota
5. Peningkatan, dan Pemeliharan JaringanJalan Kolektor Sekunder
Jalan Iskandar Sani, Ruas Jalan Panglima Polem, Ruas Jalan T. M. Bahrum, Ruas Jalan Tgk. Chik Di Tunong, Jalan Syiah Kuala, Ruas Jalan
Darussalam, Jalan WR. Supratman, Tgk. Chik
Paya Bakong, Jalan Laksamana Malahayati, Jalan T. Nyak Arif, Jalan Elak TVRI, Jalan Chik Tayeb, Jalan Lilawangsa,
Ruas Jalan T. Umar sepanjang.
6. Peningkatan, dan Pemeliharan JaringanJalan Lokal Sekunder
Jalan Cendana
YA APBN/ APBA/ APBK KEMEN PU DISHUB,Dinas PU, BMCK Prov/Kota
7. Peningkatan, dan Pemeliharan, JaringanJalan Lingkungan Jaringan JalanLingkungan YA APBN/ APBA/ APBK KEMEN PU DISHUB,Dinas PU, BMCK Prov/Kota
8. Peningkatan, dan Pemeliharan Jembatan
Jembatan Kebun Ireng,
YA APBN/ APBA/ APBK KEMEN PU DISHUB,Dinas PU, BMCK Prov/Kota
9. Rencana Pembangunan Jaringan JalanArteri Primer K1 dengan status Jalan Nasional Aceh Timur – batas Aceh
Tamiang
YA APBN/ APBA/ APBK KEMEN PU DISHUB,Dinas PU, BMCK Prov/Kota
10. Rencana Peningkatan dan PembangunanJaringan Jalan Kolektor Primer K3 dengan status Jalan Provinsi
YA APBN/ APBA/ APBK KEMEN PU DISHUB,Dinas PU, BMCK Prov/Kota
11. Rencana Peningkatan dan PembangunanJaringan JalanKolektor Sekunder K4 dengan status Jalan Kota Ruas Jalan Hajar 2, Ruas
Jalan AMD 1, 2, Ruas
12. Terminal Tipe A Gampong Birem PuntongKecamatan Langsa Baro YA APBN/ APBA/ APBK KEMENHUB DISHUBBMCK Prov/Kota
13. Pembangunan dan Pemeliharaan Halte
Gampong Blang
YA APBA/ APBK BMCK KotaDISHUB
Unit Pengujian Kendaraan Bermotor Kecamatan Langsa BaroBirem Puntong YA APBN/ APBA/ APBK BMCK KotaDISHUB
Sistim Jaringan Penyediaan Air Minum Kota Langsa YA APBN/ APBA/ APBK BAPPEDA Kota danPDAM, DINAS PU Provinsi
Pengelolaan Air Limbah disetiap Pusat PelayananKota dan Pusat
Lingkungan YA APBN/ APBA/ APBK
Bapedalda, BMCK Provinsi Aceh, Bapedalda dan Dinas
Kebersihan Pengelolaan Persampahan Seluruh Kecamatan YA APBN/ APBA/ APBK Dinas KebersihanBLHKP, Dinas PU
Prov/Kota Jaringan Drainase Seluruh Kecamatan YA APBN/ APBA/ APBK Dinas PU
Jaringan Jalan Pejalan Kaki
YA APBN/ APBA/ APBK Dinas PU
Sistem Penyediaan Jalur dan Ruang
Evakuasi Bencana Kota Langsa YA APBA/ APBK BPBD, Dinas PU
Sarana dan prasarana kota lainnya (Pos Pemadam, PPI, TPI, Cold Storage)
Gampong Buket Lama sejumlah 2 Unit di Gampong Baroh Langsa
Lama 1 Unit dan Gampong Batee Puteh 1 Unit, Kecamatan Langsa Barat sejumlah 4 Unit di
YA APBN/ APBA/ APBK
BMCK, Dinas PU, DISHUB, Dinas
Gampong Seuriget 1 Unit, Gampong Simpang Lhee 1 Unit, Gampong Kuala
Langsa 1 Unit dan Gampong Telaga Tujuh 1
Unit, Kecamatan Langsa Barat di Gampong Matang
Seulimeng
5.2 ARAHAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) disusun berdasarkan Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Dalam undang-undang tersebut, RPJM Daerah dinyatakan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan program Kepala Daerah yang penyusunannya berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional, memuat arah kebijakan keuangan Daerah, strategi pembangunan Daerah, kebijakan umum, dan program Satuan Kerja Perangkat Daerah, lintas Satuan Kerja Perangkat Daerah, dan program kewilayahan disertai dengan rencana- rencana kerja dalam kerangka regulasi dan kerangka pendanaan yang bersifat indikatif.
5.2.1 Kebijakan Pembangunan Daerah Visi dan Misi
Visi merupakan cara pandang jauh ke depan cita-cita atau kondisi ideal yang diinginkan di masa depan dengan memperhatikan kondisi kekinian, potensi sumber daya lokal (SDA, SDM, dan kemampuan keuangan), serta dinamika dan isue–isue strategis yang berkembang. Visi diartikan pula sebagai suatu idaman masa depan yang hendak dicapai. Idaman tersebut adalah suatu kondisi daerah yang lebih baik dari sebelumnya dan taraf hidup sosial-ekonomi masyarakatnya yang lebih baik pula.
Sesuai amanah Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, bahwa visi dan misi dari Kepala Daerah/Wakil Kepala daerah terpilih, dalam hal ini Walikota dan Wakil Walikota Langsa terpilih melalui Pemilukada kota tahun 2012, ditetapkan menjadi dasar visi dan misi pembangunan kota periode 2012-2017. Atas dasar tersebut, dengan mengedepankan penyelenggaraan pemerintahan yang amanah, Pemerintah Kota menetapkan visi pembangunan kota tahun 2012-2017 sebagai berikut :
“Mewujudkan Langsa Menjadi Kota Berperadaban dan Islami”
Mewujudkan penataan ruang kota serta pusat-pusat pasar dan perdagangan yang tertib dan BERIMAN
(bersih, indah, menarik, dan nyaman);
Mewujudkan pelayanan publik yang berkualitas;
Mewujudkan pembangunan infrastruktur berkualitas guna mendorong percepatan pengembangan kota dan
wilayah;
Mewujudkan permukiman masyarakat yang layak huni dan menata lingkungan hidup yang serasi dan
lestari;
5.2.2 Strategi Dan Arah Kebijakan
Strategi
Strategi pembangunan yang ditempuh untuk merealisasikan sasaran dari misiMewujudkan penataan ruang kota serta pusat-pusat pasar dan perdagangan yang tertib dan BERIMAN (bersih, indah, menarik, dan
nyaman); dalam jangka menengah mendatang yaitu:
1. Penataan ruang kota dan wilayah yang aman, nyaman, efektif, integratif, produktif, dan berkelanjutan sesuai RTRW Kota Langsa;
2. Peningkatan pengawasan secara berkelanjutan untuk menjamin kesesuaian pemanfaatan lahan dengan rencana tata ruang serta menjamin sinkronisasi rencana tata ruang dengan rencana pembangunan, baik antarsektor maupun antarwilayah;
3. Pembangunan kawasan perkotaan yang memperhatikan pengelolaan lingkungan dan berwawasan mitigasi bencana;
4. Pengelolaan pertanahan yang adil dan memperhatikan kearifan lokal dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan; dan
5. Pengembangan pusat pasar dan perdagangan di Kota Langsa yang BERIMAN (bersih, indah, menarik, dan nyaman) guna mendorong aktivitas perdagangan dan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan.
Untuk mewujudkan pelayanan publik yang berkualitas dengan sarana dan prasarana perkotaan yang memadai sesuai standar pelayanan perkotaan, ditempuh strategi pembangunan tahun 2012-2017 sebagai berikut :
1. Peningkatan kualitas cakupan pelayanan air bersih/air minum, termasuk pemeliharaan jaringan secara berkala dan berkesinambungan;
2. Perluasan dan peningkatan kualitas cakupan pelayanan persampahan dan limbah;
3. Peningkatan kualitas pelayanan transportasi kota, termasuk memfungsikan terminal secara optimal;
Strategi pembangunan yang ditempuh untuk mewujudkan sasaran dari misi pembangunan infrastruktur berkualitas guna mendorong percepatan pengembangan kota dan wilayah; dalam jangka menengah ke depan, yaitu :
2. Peningkatan kualitas pelayanan transportasi yang efektif dan efisien yang menghubungkan antargampong dan antarwilayah.
3. Peningkatan kualitas infrastruktur Pelabuhan Kuala Langsa dalam rangka mendorong aktivitas perdagangan ekspor-impor.
4. Pembangunan jaringan air bersih dalam upaya meningkatkan pemerataan distribusi air bersih bagi masyarakat dan mendukung percepatan pencapaian tujuan pembangunan milenium (Millenium Development Goal/MDGs dan SDGs);
5. Peningkatan kualitas sistem jaringan drainase dalam upaya pengendalian banjir di wilayah perkotaan; 6. Peningkatan kualitas sarana dan prasarana persampahan;
Strategi pembangunan yang ditempuh untuk sasaran dari misi Mewujudkan permukiman masyarakat yang layak huni dan menata lingkungan hidup yang serasi dan lestari; dalam jangka menengah ke depan, yaitu :
1. Penyediaan sarana dan prasarana permukiman masyarakat yang berkualitas;
2. Penyediaan perumahan yang layak huni dan terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah; 3. Peningkatan lingkungan permukiman yang sehat dan aman;
4. Peningkatan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas; 5. Peningkatan kualitas dan aksebilitas masyarakat terhadap layanan sanitasi.
6. Peningkatan keterlibatan kelompok masyarakat, dunia usaha/swasta,LSM, dan lembaga pemerhati lingkungan hidup dalam mendukung pelestarian lingkungan hidup secara terpadu dan kontinyu;
7. Perluasan ruang terbuka hijau guna mewujudkan lingkungan yang aman dan sehat; dan
Arah Kebijakan
Dalam rangkaMewujudkan penataan ruang kota serta pusat-pusat pasar dan perdagangan yang tertib dan BERIMAN (bersih, indah, menarik, dan nyaman);Untuk tercapainya sasaran pembangunan dari misi
ini, arahan kebijakan pembangunan jangka menengah ke depan, meliputi :
1. Mengembangkan ruang kota dan wilayah yang aman, nyaman, efektif, integratif, produktif, dan berkelanjutan sesuai RTRW Kota Langsa;
2. Mengoptimalkan pengawasan secara berkelanjutan untuk menjamin kesesuaian pemanfaatan lahan dengan rencana tata ruang serta menjamin sinkronisasi rencana tata ruang dengan rencana pembangunan, baik antarsektor maupun antarwilayah;
3. Membangun kawasan-kawasan perkotaan yang ramah lingkungan dan berwawasan mitigasi bencana; 4. Melaksanakan pengelolaan pertanahan yang berkeadilan dan berlandaskan kearifan lokal guna
mendukung pembangunan berkelanjutan; dan
Untuk Mewujudkan pelayanan publik yang berkualitas; dengan sarana dan prasarana perkotaan yang
memadai sesuai standar pelayanan perkotaan, diarahkan kebijakan pembangunan tahun 2012- 2017 sebagai berikut :
1. Meningkatkan kualitas cakupan pelayanan air bersih/air minum dan melakukan pemeliharaan jaringan secara berkala dan berkesinambungan;
2. Meningkatkan cakupan pelayanan persampahan dan limbah;
Arah kebijakan pembangunan yang ditempuh untuk Mewujudkan pembangunan infrastruktur yang berkualitas guna mendukung percepatan pengembangan kota dan wilayah;melalui capaian sasaran
dari misi tersebut dalam jangka menengah ke depan, sebagai berikut :
1. Meningkatkan kualitas infrastruktur, meliputi jalan, jembatan, drainase, tanggul, listrik, transportasi, ICT, dan internet dalam mendukung percepatan pengembangan kota dan wilayah;
2. Meningkatkan kualitas pelayanan transportasi yang efektif dan efisien yang menghubungkan antargampong dan antarwilayah;
3. Meningkatkan kualitas infrastruktur Pelabuhan Kuala Langsa dalam rangka mendorong aktivitas perdagangan ekspor-impor;
4. Membangun jaringan air bersih yang integral dan terpadu dalam upaya meningkatkan pemerataan distribusi air bersih bagi masyarakat dan mendukung percepatan pencapaian tujuan pembangunan milenium (Millenium Development Goal/MDGs);
5. Mengembangkan sistem jaringan drainase secara terpadu dalam upaya pengendalian banjir di wilayah perkotaan;
6. Meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana persampahan;
7. Meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam perencanaan transportasi kota; dan
8. Meningkatkan cakupan program PNPM Mandiri perkotaan dan perdesaan, terutama pembangunan infrastruktur dasar berbasis masyarakat.
Arah kebijakan pembangunan yang ditempuh untuk Mewujudkan permukiman masyarakat yang layak huni dan menata lingkungan hidup yang serasi dan lestari;Dengan sasaran dari misi tersebut dalam
jangka menengah ke depan, yaitu :
1. Meningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana permukiman masyarakat yang berkualitas; 2. Menyediakan perumahan yang layak huni dan terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah; 3. Meningkatkan lingkungan permukiman yang sehat dan aman;
4. Meningkatkan kualitas kinerja cakupan pelayanan air minum, limbah, dan persampahan sampai ke pelosok gampong;
5.2.3 Program dan Kebutuhan Anggaran
Program pembangunan kota periode 2012-2017 diarahkan untuk melaksanakan program-program yang termasuk ke dalam prioritas pembangunan. Program prioritas pembangunan adalah program pembangunan yang harus segera diselesaikan dalam rangka pencapaian visi dan misi Walikota dan Wakil Walikota terpilih. Program prioritas pembangunan didasarkan karena (1) adanya keterbatasan dana yang tersedia; (2) adanya sarana dan prasarana yang telah ada yang masih dimanfaatkan; (3) adanya permasalahan yang sifatnya mendesak untuk dilaksanakan; serta (4) adanya komponen kawasan yang mempunyai multiplier effect yang besar untuk merangsang tercapainya struktur yang diinginkan, misalnya jaringan jalan. Dengan memperhatikan visi dan misi kota periode 2012-2017, maka program berdasarkan prioritas pembangunan kota(yang berkaitan denan Kecipta Karyaan)selama lima tahun ke depan adalah sebagai berikut:
I. Mewujudkan tata ruang kota dan wilayah yang aman, nyaman, efektif, integratif, produktif, dan berkelanjutan
1. Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang; 2. Program Penataan Ruang;
3. Program Penataan Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah.
II. Meningkatkan pelayanan publik yang berkualitas
1. Program mengintensifkan penanganan pengaduan masyarakat;
2. Program Penataan dan Penyempurnaan Kebijakan Sistem dan Prosedur Perizinan;
III. Meningkatkan pembangunan infrastruktur yang berkualitas guna mendukung percepatan pengembangan kota dan wilayah
1. Program pembangunan Infrastruktur Perdesaan; 2. Program Pengawasan Jasa Konstruksi;
3. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Air minum dan Air Limbah; 4. Program Pembangunan Saluran Drainase/Gorong-Gorong;
5. Program Pembangunan Turap/Talud/Bronjong;
IV. Meningkatkan kualitas permukiman masyarakat yang layak huni dan menata lingkungan hidup yang serasi dan lestari
1. Program Pengembangan Kinerja Pengelolaan Persampahan;
2. Program Pengendalian Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup; 3. Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH);
4. Program penguatan kelembagaan dan regulasi kebencanaan;
7. Program Pengembangan Perumahan.
Untuk penganggaran program program yang berkaitan dengan kecipta Karyaan yang terkandung dalam Dokumen RPJM Kota langsa dapat diliahat di Tabel 5.4(Lampiran 5.4)
5.2.4 Kebijakan Keuangan Daerah
Pagu indikatif program adalah jumlah dana yang mampu dialokasikan oleh Pemerintah Kota Langsa untuk mendanai program prioritas tahunan, yang perhitungannya didasarkan pada satuan harga yang ditetapkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk mempermudah perhitungan pengalokasian pagu pendanaan secara indikatif, terlebih dahulu disusun pagu indikatif, baik untuk urusan wajib dan urusan pilihan. Tabel Indikatif disajikan di Tabel 5.5 (Lampiran 5.5)
5.2.5 Indikator Kinerja
Pengukuran kinerja merupakan proses membandingan kinerja dengan ukuran berupa indikator kinerja. Pengukuran kinerja dilakukan dengan membandingkan realisasi dengan target yang direncanakan sesuai dengan peraturan perundang undangan. Pengukuran kinerja dilakukan setelah pelaksanaan kegiatan sesuai dengan penetapan kinerja dalam dokumen perencanaan. Hasil pengukuran kinerja yang dilengkapi dengan analisis dan evaluasi atas capaian kinerja disajikan dalam pelaporan kinerja. Penetapan indikator kinerja kota pada dasarnya bertujuan untuk memberi gambaran lengkap tentang tingkat pencapaian hasil penyelenggaraan pemerintahan dalam hubungannya dengan hasil pembangunan kota pada setiap akhir periode perencanaan pembangunan kota. Penetapan indikator kinerja tersebut sangat penting agar manfaat (outcome) dari suatu program/kegiatan pembangunan dapat diukur tingkat pencapaian hasil dan manfaatnya. Tingkat capaian target dapat dipantau setiap saat, di samping permasalahan dan kendala yang dihadapai dapat dengan mudah diatasi.
Berdasarkan Permendagri Nomor 54 tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah, maka setiap daerah wajib menetapkan Indikator Kinerja Daerah, yang nantinya akan diukur pada setiap akhir tahun anggaran. Penetapan indikatorindikator tersebut tidak terlepas dengan isu-isu strategis, strategi dan kebijakan yang ditempuh sejak awal dalam menindaklanjuti penanganan isu-isu strategis yang dihadapi.
5.3 ARAHAN PERATURAN DAERAH TENTANG BANGUNAN GEDUNG
Penyusunan Perda Bangunan Gedung diamanatkan pada Peraturan Pemerintah No. 36 tahun 2005 tentang Peraturan Pelaksanaan UU 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, yang menyatakan bahwa pengaturan dilakukan oleh pemerintah daerah dengan penyusunan Peraturan Daerah tentang Bangunan Gedung berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan kondisi kabupaten/kota setempat serta penyebarluasan peraturan perundang-undangan, pedoman, petunjuk, dan standar teknis bangunan gedung dan operasionalisasinya di masyarakat.
Perda Bangunan Gedung mengatur tentang persyaratan administrasi dan teknis bangunan gedung. Salah satunya mengatur persyaratan keandalan gedung, seperti keselamatan, kesehatan, kenyamanan dan kemudahan. Persyaratan ini wajib dipenuhi untuk memberikan perlindungan rasa aman bagi pengguna bangunan gedung dalam melakukan aktifitas di dalamnya dan sebagai landasan operasionalisasi penyelenggaraan bangunan gedung di daerah. Pemerintah Kota Langsa telah menetapkan Perda/Qanun Kota Langsa Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Bangunan Gedung.
5.3.1 Ketentuan Fungsi Bangunan Gedung Fungsi Bangunan Gedung
Fungsi bangunan gedung merupakan ketetapan pemenuhan persyaratan teknis bangunan gedung ditinjau dari segi tata bangunan dan lingkungan maupun keandalan bangunan gedung.
a. fungsi hunian mempunyai fungsi utama sebagai tempat tinggal manusia yang meliputi rumah tinggal tunggal, rumah tinggal deret, rumah tinggal susun, dan rumahtinggal sementara;
b. fungsi keagamaan mempunyai fungsi utama sebagai tempat melakukan ibadah
c. fungsi usaha mempunyai fungsi utama sebagai tempat melakukan kegiatan usaha yang meliputi bangunan gedung perkantoran, perdagangan, perindustrian,
perhotelan/penginapan, wisata dan rekreasi, terminal dan bangunan gedung tempat penyimpanan; d. fungsi sosial dan budaya mempunyai fungsi utama sebagai tempat melakukan kegiatan sosial dan
budaya yang meliputi bangunan gedung pelayanan pendidikan,
pelayanan kesehatan, kebudayaan, laboratorium, dan bangunan gedung pelayanan umum;
e. fungsi khusus mempunyai fungsi utama sebagai tempat melakukan kegiatan yang mempunyai tingkat kerahasiaan tinggi atau yang penyelenggaraannya dapat membahayakan masyarakat di sekitarnya dan/atau mempunyai risiko bahaya tinggi yang meliputi bangunan gedung untuk reaktor nuklir, instalasi pertahanan dan keamanan dan bangunan sejenisnya yang ditetapkan oleh Menteri; dan
f. fungsi campuran atau ganda adalah bangunan gedung yang memiliki lebih dari satu fungsi.
Prasarana dan Sarana bangunan gedung berfungsi
a. fungsi sebagai pembatas/penahan/pengaman yang meliputi pagar, tanggul/talud, dan Turap batas kavling/persil;
c. fungsi sebagai perkerasan yang meliputi jalan, lapangan upacara, dan lapangan olah raga terbuka; d. fungsi sebagai penghubung yang meliputi jembatan, danbox culvert;
e. fungsi sebagai kolam bawah tanah yang meliputi kolam renang, kolam pengolahan air , bak air di bawah tanah, sumur peresapan air hujan, sumur peresapan air limbah, dan septic tank;
f. fungsi sebagai menara yang meliputi menara antena, menara bak air dan cerobong. g. fungsi sebagai monumen yang meliputi tugu, dan patung;
h. fungsi sebagai instalasi / gardu yang meliputi instalasi listrik, instalasi telepon/ komunikasi, dan instalasi pengolahan;
i. fungsi reklame/papan nama yang meliputi billboard, papan iklan, papan nama (berdiri sendiri atau berupa tembok pagar); dan
j. fungsi fasilitas umum.
(1) Fungsi bangunan sebagaimana dimaksud dalam diatas diklasifikasikan berdasarkan tingkat
kompleksitas, tingkat permanensi, tingkat resiko kebakaran, zonasi gempa, lokasi, ketinggian bangunan dan status kepemilikan.
(2) Klasifikasi bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur sebagai berikut:
a. klasifikasi berdasarkan tingkat kompleksitas meliputi : 1) bangunan sederhana;
2) bangunan tidak sederhana; dan 3) bangunan khusus.
b. klasifikasi berdasarkan tingkat permanensi meliputi : 1) bangunan permanen;
2) bangunan semi permanen; dan 3) bangunan darurat atau sementara.
c. klasifikasi berdasarkan tingkat risiko kebakaran meliputi : 1) bangunan gedung tingkat risiko kebakaran tinggi; 2) bangunan gedung tingkat risiko kebakaran sedang;dan 3) bangunan gedung tingkat risiko kebakaran rendah.
d. klasifikasi bangunan gedung berdasarkan pada zonasi gempa sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
e. klasifikasi bangunan gedung berdasarkan lokasi meliputi : 1) bangunan gedung di lokasi padat;
2) bangunan gedung di lokasi sedang; dan 3) bangunan gedung di lokasi renggang.
f. klasifikasi bangunan gedung berdasarkan ketinggian meliputi :
2) bangunan gedung bertingkat sedang dengan jumlah lantai 5 (lima) sampai dengan 8 (delapan) lantai; dan
3) bangunan gedung bertingkat rendah dengan jumlah lantai 1 (satu) sampai dengan 4 (empat) lantai.
g. klasifikasi bangunan gedung berdasarkan status kepemilikan meliputi:
1) bangunan gedung milik negara, bangunan gedung milik badan sosial, dan bangunan gedung milik yayasan;
2) bangunan gedung milik badan usaha; dan
3) bangunan gedung milik perorangan, bangunan gedung kedutaan besar negara asing dan bangunan gedung diplomatik lainnya dikategorikan sebagai bangunan gedung milik perorangan.
(3) Penjabaran detail tentang klasifikasi Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Walikota
Perubahan Fungsi dan Klasifikasi Bangunan Gedung
(1) ‘Fungsi dan klasifikasi bangunan gedung dapat diubah melalui permohonan baru izin mendirikan bangunan.
(2) ‘Perubahan fungsi dan klasifikasi bangunan gedung diusulkan oleh pemilik dalam bentuk rencana teknis bangunan gedung sesuai dengan peruntukan lokasi yang
diatur dalam dokumen RTRW.
(3) Perubahan fungsi dan klasifikasi bangunan gedung wajib diikuti dengan pemenuhan persyaratan administratif dan persyaratan teknis bangunan gedung.
(4) Perubahan fungsi dan klasifikasi bangunan gedung ditetapkan dalam izin mendirikan bangunan gedung, kecuali bangunan gedung fungsi khusus.
5.3.2 Persyaratan Bangunan Gedung
(1) Setiap bangunan gedung wajib memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung.
(2) Persyaratan administratif bangunan gedung meliputi:
a. status hak atas tanah, dan / atau izin pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah; b. status kepemilikan bangunan gedung; dan
c. izin mendirikan bangunan gedung.
(3) Persyaratan teknis bangunan gedung meliputi persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan gedung.
5.3.3 Penyelenggaraan Bangunan Gedung
(1) Pelaksanaan konstruksi bangunan gedung dimulai setelah pemilik bangunan gedung memperoleh izin mendirikan bangunan gedung, dan salinan dokumen IMB harus tersedia di lokasi pekerjaan.
(2) Pelaksanaan konstruksi bangunan gedung wajib berdasarkan dokumen rencana teknis dalam lampiran keputusan IMB.
(3) Pelaksanaan mendirikan bangunan gedung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah berupa pembangunan bangunan baru, mengubah, memperluas, mengurangi dan merawat bangunan gedung. (4) Selama pelaksanaan pembangunan penyelenggara pembangunan diwajibkan memagar keliling
dan/atau memasang pengaman di tempat pembangunan tersebut.
(5) Selama pelaksanaan pembangunan wajib memasang papan/tanda IMB di lokasi pembangunan yang mudah dilihat umum.
A. Pelaksanaan Bangunan Gedung
(1) Pelaksanaan mendirikan bangunan gedung wajib dimulai paling lambat 6 (enam) bulan sejak ditetapkannya IMB.
(2) Apabila dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak ditetapkannya IMB pelaksanaan mendirikan
bangunan gedung belum dimulai, maka IMB tersebut dapat diperpanjang 2 (dua) kali dengan masing – masing waktu perpanjangan paling lama 6 (enam) bulan.
(3) Apabila dalam jangka waktu 6 (enam) bulan sejak ditetapkannya IMB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan/atau 6 (enam) bulan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pelaksanaan pembangunan tidak dimulai, maka IMB batal demi hukum.
5.3.4 Peran Serta Masyarakat
(1) Dalam penyelenggaraan bangunan gedung, masyarakat dapat berperan untuk memantau dan menjaga ketertiban, baik dalam kegiatan pembangunan, pemanfaatan, pelestarian, maupun kegiatan pembongkaran bangunan gedung.
(2) Pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara objektif, dengan penuh tanggung jawab, dan dengan tidak menimbulkan gangguan dan/atau kerugian bagi pemilik dan/atau pengguna bangunan gedung, masyarakat dan lingkungan.
(3) Masyarakat melakukan pemantauan melalui kegiatan pengamatan, penyampaian masukan, usulan, dan pengaduan.
(4) Dalam melaksanakan pemantauan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), masyarakat dapat melakukannya baik secara perorangan, kelompok atau organisasi kemasyarakatan.
(5) Berdasarkan pemantauannya, masyarakat melaporkan secara tertulis kepada Pemerintah Kota terhadap:
b. bangunan gedung yang pembangunan, pemanfaatan, pelestarian, dan/atau pembongkarannya berpotensi menimbulkan gangguan dan/ atau bahaya bagi pengguna, masyarakat dan lingkungannya.
5.4 ARAHAN RENCANA INDUK SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM (RI - SPAM)
Berdasarkan Permen PU No. 18 Tahun 2007, Rencana Induk Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum adalah suatu rencana jangka panjang (15-20 tahun) yang merupakan bagian atau tahap awal dari perencanaan air minum jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan berdasarkan proyeksi kebutuhan air minum pada satu periode yang dibagi dalam beberapa tahapan dan memuat komponen utama sistem beserta dimensi-dimensinya. Penyusunan rencana induk pengembangan SPAM memperhatikan aspek keterpaduan dengan prasarana dan sarana sanitasi sejak dari sumber air hingga unit pelayanan dalam rangka perlindungan dan pelestarian air.
5.4.1 Rencana Sistem Pelayanan
Pengembangan air bersih di Kota Langsa dirancang untuk mencapai tujuan peningkatan cakupan pelayanan seluruh lapisan masyarakat melalui penataan jaringan air minum memanfaatkan sumber air baku yang ada. Namun demikian berdasarkan data awal yang diperoleh cakupan pelayanan air minum pada daerah pelayanan yang ada di Kota Langsa baru mencapai 33,67 % dari jumlah penduduk sebesar 154.722 jiwa. Tentunya hal itu masih sangat jauh dari harapan untuk pemerataan pemakaian air bagi penduduk yang ada di Kota Langsa pada saat ini. Berdasarkan hasil pengolahan data dan perencanaan pengembangan air bersih pada jangka tahun menengah yaitu pada tahun 2019 jumlah penduduk terlayani sebanyak 176.045 jiwa dengan tingkat pelayanan direncanakan sudah mencapai 100%. Dan untuk jangka panjang yaitu pada tahun 2034 jumlah penduduk terlayani sebanyak 236.259 jiwa dengan tingkat pelayanan mencapai 100 %.
Berdasarkan pertimbangan diatas, maka rencana pengembangan air minum di Kota Langsa adalah sebagai berikut:
1. Penataan sistem jaringan sampai tahun 2019 diarahkan untuk meningkatkan pelayanan di daerah yang saat ini sudah terdapat sistem jaringan air minum meliputi wilayah dengan mengutamakan daerah-daerah potensial yang dimiliki setiap kecamatan yang ada di Kota Langsa yaitu sebagai berikut :
Sumber air yang digunakan adalah masih diharapkan dari Krueng Langsa dan Waduk Alue Gampo sebagai sumber alternatif bagi penyuplai sumber air Instasi Pengulahan Air (IPA) Keumuning.
2. Penataan sistem jaringan sampai tahun 2019 akan memanfaatkan potensi air baku yang dimiliki diarahkan : a. Untuk meningkatkan pelayanan pada daerah yang sudah ada sistem jaringan.
b. Pengembangan jangkauan pelayanan pada daerah-daerah yang mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi namun sistem jaringan air minum masih sangat sedikit.
Penataan sistem jaringan sampai tahun 2034 diarahkan untuk meningkatkan daerah yang sudah ada sistem jaringan juga pengembangan jangkauan pelayanan. Sumber air yang digunakan perlu dicarikan alternatif baru apabila nantinya sumber air baku yang ada tidak cukup lagi menampung kebutuhan air minum untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang ada di Kota Langsa melalui pembangunan embung-embung air terutama di bagian hulu hulu kawasan yang masih memiliki jenis batuan dengan akuifer tinggi dan vegetasi utuh, termasuk kemungkinan pemanfaatan air tanah.
5.4.2 Rencana Pengembangan SPAM
Guna menunjang pengembangan daerah layanan dan meningkatkan sistem jaringan pipa PDAM Kota Langsa, pengembangan perlu diarahkan pada dua upaya :
1. Upaya yang bersifat ekstensif, dalam arti bahwa potensi penambahan pelanggan baru dari wilayah layanan baru perlu didukung dengan pengadaan sistem jaringan distribusi baru.
2. upaya yang bersifat intensif, dalam arti bahwa potensi pelanggan lama dan penambahan pelanggan baru dari wilayah layanan lama perlu didukung dengan perbaikan sistem jaringan pipa distribusi yang efisien dengan tingkat kebocoran dan kualitas tekanan yang lebih baik.
Baik upaya ekstensif maupun intensif tersebut perlu diikuti dengan peletakan dasar manajemen tekanan dan perbaikan sistim monitoring kehilangan air. Selanjutnya agar upaya pengembangan dapat menyesuaikan dengan kondisi cashflow PDAM Kota Langsa, pelu disusun prioeritas atau tahapan dalam pelaksanaan baik upaya yang bersifat ekstensif maupun intensif.
Prioritas didasarkan pada pertimbangan :
1. peningkatan pendapatan dari penambahan pelanggan baru pada pengembangan jaringan baru
Perusahaan Daerah Air Minum Kota Langsa menggunakan indikator kehilangan air : • memiliki data base sebab-sebab kehilangan
• menetapkan target penurunan kehilangan air • menetapkan strategi penurunan kehilangan air • memperbaiki efisiensi manajemen
• sosialisasi kepada pelanggan danstakeholders • kerjasama dengan pihak ketiga (mitra swasta)
Tabel 5.4. Rencana Profit Airminum Kota Langsa
Sumber : RISPAM 2014 Kota Langsa
Gambar 5.3. Peta Jaringan Airminum Kota Langsa
Sumber : RTRW Kota Langsa 2012-2032
5.4.3 Rencana Penurunan Kebocoran
Pada awalnya, istilah yang digunakan untuk Unaccounted for Water (UFW). Istilah Unaccounted for Water (UFW) pada masa lalu telah dipakai secara luas. Secara sederhana UFW juga diartikan sebagai Kehilangan air. Tidak ada yang mendefinisikan UFW secara detil sehingga pemahaman pelaku air minum mengenai UFW menjadi dangat luas dan beragam. Istilah UFW kemudian digantikan oleh NRW yaitu Non-Revenue Water atau dapat diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Kehilangan Air. Kehilangan Air adalah selisih antara jumlah air yang dipasok kedalam jaringan perpipaan air dan jumlah air yang dikonsumsi.
Tingkat kehilangan air adalah persentase perbandingan antara kehilangan air dan jumlah air yang dipasok kedalam jaringan perpipaan air.
ℎ =
ℎ
ℎ 100%
Secara ringkas, peta dari kondisi NRW dapat disederhanakan dengan memfokuskan isu sebagai gambar dibawah
Kebocoran air selalu menjadi momok bagi perusahaan air minum (PAM) atau Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Banyak uang yang mengalir percuma hanya karena PAM/PDAM tidak dapat mengendalikan kebocoran air. Bila di rata-rata kebocoran air PAM/PDAM seluruh Indonesia memang masih cukup tinggi, yakni 33 persen. PDAM Kota Langsa bahkan kebocoran airnya masih diatas angka 40 persen.
Kebocoran dari sistem distribusi berbeda-beda menurut kecermatan dalam konstruksinya dan umur serta kondisi dari sistem yang bersangkutan. Pada suatu sistem yang sedang bekerja, jumlah kebocoran total dihitung dari perbedaan antara input ke dalam sistem yang diukur dan penyaluran ke para pelanggan yang terlihat dalam meteran. Pada pipa distribusi yang mengalirkan air pada pelanggan, kehilangan air sangat besar karena banyaknya pipa-pipa kecil yang potensial sebagai sumber kebocoran.
Gambar 5.4 Diagram Potensi Mengurai Kebocoran Pada Sistem Pendistribusian
Pendeteksian kebocoran dan penanganannya merupakan hal yang sangat penting untuk segera ditangani untuk menghindari kehilangan air yang lebih besar. Terdapat lima permasalahan yang umum terjadi pada sistem distribusi, yaitu :
a. Ukuran pipa yang terlalu kecil
Bila ukuran pipa yang terlalu kecil, dapat timbul permasalahan ketika terjadi kondisihigh-flow.
b. Sistem pemompaan yang tidak mencukupi
Dalam sebuah zona tekan yang menggunakan pompa, tekanan yang turun dengan signifikan dapat mengindikasikan masalah pada kapasitas pompa. Penurunan tekanan paling dramatis akan terjadi pada
Water Loss/ NRW
Apparent Losses (Komersial) Real Losses
(teknik)
Kebocoran (Tampak & tak Tampak)
Kebutuhan untuk peningkatan proses pelayanan
Kebutuhan untuk peningkatan proses pelayanan
Sistem pengawasan dan pengendalian Ilegal (Consumption &
conecction)
situasi ketika energi pompa kebanyakan digunakan dibanding menanggulangi friksi, atau bila ada tangki penyimpanan dalam zona tekan tersebut. Ketika debit naik sampai level tertentu head pompa akan turun,begitu pula dengan tekanan.
c. Tekanan rendah sepanjang waktu
Bila terdapat tekanan rendah secara konsisten di suatu wilayah, maka biasanya penyebab masalah adalah pelanggan berada pada elevasi yang terlalu tinggi pada zona tekan tersebut. Masalah ini muncul bahkan pada periode demand rendah. Mengubah ukuran pipa atau kapasitas pompa tidak akan memperbaiki masalah. Dalam banyak kasus, solusi terbaik adalah dengan memindahkan batasan zona tekan sehingga pelanggan yang mendapat tekanan air rendah tersebut sekarang dilayani dari zona tekan terdekat yang lebih tinggi. Bila tidak terdapat zona dengan tekanan yang lebih tinggi, maka sebaiknya dibuat zona tekan yang baru.
d. Tekanan tinggi pada kondisidemandrendah
Tekanan tinggi biasanya disebabkan karena melayani pelanggan yang berbeda pada elevasi rendah dalam suatu zona tekan. Biasanya tekanan tinggi paling mudah dielevasi dengan mensimulasikan model pada demandrendah, kira-kira 40-60 persen daridemandrata-rata, atau pada saatminimum demand.
e. Ukuran pipa yang terlalu besar
Pipa yang terlalu besar dapat menjadi sulit untuk diidentifikasi karena sistem lebih sering bekerja dengan baik. Efek negatifnya adalah besarnya biaya infrastruktur dan kemungkinan buruknya kualitas air karena jauhnya lintasan. Bila sebuah pipa dicurigai terlalu besar diameternya, maka dalam pemodelan sebaiknya dilakukan simulasi saat kondisi kritis. Apabila tekanan tidak turun ke dalamrangeyang tidak dapat diterima, maka pipa tersebut sebaiknya dipertimbangkan untuk diperkecil ukurannya.
Kebocoran air biasanya disebabkan oleh dua hal, yakni kebocoran secara teknis dan kebocoran secara non teknis atau komersial. Kebocoran teknis disebabkan oleh bocor pada pipa transmisi/distribusi atau air tersebut digunakan sebagai bagian dari proses pengolahan air atau pelayanan kepada pelanggan, seperti pembersihan pipa, dll.
Sementara kebocoran komersial disebabkan oleh pencurian air – warga menyambung langsung pipa jaringan rumah/kantor/instansi/hotel ke pipa transmisi/distribusi tanpa melewati meter air yang digunakan sebagai alat ukur pemakaian air oleh PAM/PDAM, mengkondisikan meter air sehingga berputar lebih lambat atau tidak seperti yang seharusnya, dll. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan oleh PDAM Kota Langsa dalam menurunkan tingkat kebocoran/kehilangan air yang selama ini terjadi, diantaranya :
Membuat masyarakat merasa memiliki air bersih dengan melakukan beragam edukasi baik melalui media
melihat kebocoran air di jalan, difasilitas umum atau dimanapun masyarakat secara sukarela menghubungi call centre maupun jejaring sosial yang disediakan oleh ATB karena sayang melihat air terbuang secara percuma.
Memberi penghargaan pada masyarakat yang rajin melaporkan kebocoran air secara sukarela saat Hari
Pelanggan Nasional. Biasanya diberikan souvenir hingga bingkisan berupa makanan. Terkadang foto mereka dipampang di media masa lokal sebagai pelanggan terpilih.
Memanfaatkan teknologi seperti membangun jaringan Sistem Informasi Geografis (SIG). Melalui sistem
tersebut kebocoran air akan lebih terlihat. Apalagi saat ada laporan kebocoran air dari masyarakat, akan ada tanda merah pada lokasi yang dilaporkan. Bila belum diperbaiki dan petugas belum mengunggah foto sebagai bukti verifikasi, tanda tersebut akan tetap merah. Bila dalam jangka waktu yang sudah ditentukan warnanya masih merah, aka nada pemberitahuan secara berjenjang kepada atasan petugas tersebut hingga pucuk pimpinan, tentu dengan konsekuensi yang sudah ditetapkan.
Membenamkancar tracer pada setiap mobil operasional. Hal tersebut dilakukan untuk memantau apakah petugas tersebut betul-betul ke lokasi kebocoran air yang sudah ditetapkan untuk diperbaiki, atau ke tempat lain dan melakukan aktifitas diluar pekerjaan.
Mengganti meter air secara berkala setiap lima tahun sekali. Meter air yang digunakan lewat dari lima
tahun dan tidak pernah dikalibrasi ulang rentan menguntungkan pelanggan karena biasanya perputaran meter air tersebut akan semakin melambat sehingga penghitungan pemakaian air tidak akurat.
Menggunakan pembacaan meter air yang modern. Saat menginput data penggunaan air melalui meter air,
petugas pembacaan meter air juga harus melampirkan foto aktual dari meter air tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari kesalahan pembacaan meter air yang nantinya merugikan PDAM maupun pelanggan, selain itu untuk menekan “kenakalan” petugas yang mungkin ada yang malas untuk datang langsung ke lokasi sehingga menginput data secara kira-kira.
Melakukan water balance atau mebandingkan antara air yang diolah, yang didistribusikan, dan yang menjadi uang. Bila ada kejanggalan langsung dilakukan verifikasi, dicek dimana letak kebocoran air. Biasanya mereka melakukan pengecekan pada malam hari di wilayah yang diduga terjadi kebocoran. Mengapa dilakukan pada malam hari? Karena saat malam tidak banyak pelanggan yang menggunakan air sehingga lebih mudah untuk menelusuri kebocoran air, apalagi bila saat malam hari tersebut terlihat di sistem penggunaan air masih tinggi.
Menetapkan zona dan sub-zona untuk lebih memudahkan pelayanan maupun pengecekan bila terjadi
kebocoran air. Hal tersebut juga lebih memudahkan untuk mempetrbaiki bila memang terjadi kebocoran air baik karena teknis – memang karena pipa bocor, atau karena ada pencurian air.
Membentuk Tim Tanggap Cepat sehingga saat ada keluhan kebocoran air tim tersebut siap meluncur untuk
Membentuk bagian kebocoran air, bagian tersebut tidak disisipkan kepada bagian lain, misalkan bagian
distribusi atau produksi. Hal tersebut dilakukan agar penanganan kebocoran air lebih fokus, serius dan berkelanjutan.
5.5 ARAHAN STRATEGI SANITASI KOTA (SSK)
5.5.1 Kerangka kerja pembangunan sanitasi
Arah Strategi program pembangunan sanitasi kota Langsa terbagi dalam tiga tahapan. Adapun tahapan pembangunan sanitasi kota yang mencakup program jangka pendek, menengah, dan jangka panjang, sebagaimana di uraikan dibawah ini.
Tahap Pertama (2011 – 2012)
Pada tahapan ini terdapat beberapa program yang mendesak yang harus dicapai pada tahun 2011 – 2012.
Tahap Kedua (2013 - 2014)
Sasaran program pada tahap kedua direncanakan dicapai antara tahun 2013 – 2014. Tahap ini bertujuan untuk mencapai target yang telah ditetapkan dalam RPJM dan RPIJM Kota Langsa. Sasaran selanjutnya yang harus dicapai antara tahun 2012 – 2015 adalah pemenuhan target dan sasaran dalam MDG (Millenium Development Goals).Pada tahap ini seluruh sistem pengelolaan sanitasi minimal telah mencapai sekitar 75 % dari program yang ditetapkan.
Tahap Ketiga (2015 - 2019)
Universal Access adalah komitmen pemerintah untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar air minum dan sanitasi masyarakat Indonesia. Melalui kerja sama lintas sektor di pusat dan daerah, serta dukungan swasta, masyarakat dan lembaga donor, Indonesia optimis mencapaiUniversal Access Air Minum dan Sanitasi pada Tahun 2019 seperti yang diamanatkan RPJMN 2015-2019
Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) Tahap II, lebih berorientasi pada peralihan tahapan, dari fase perencanaan ke fase implementasi. Eksistensi Program PPSP Tahap II sebagai bagian dari upaya akselerasi pencapaian Universal Access 2019 memiliki peran penting, tidak hanya menjadi instrumen advokasi dan pengarusutamaan pembangunan sanitasi serta penyiapan dokumen perencanaan sanitasi tetapi saat ini yang terpenting adalah penyiapan implementasi pembangunan sanitasi yang dituangkan dalam sebuah dokumen strategi sanitasi kabupaten/kota.
5.5.2 Tujuan dan Sasaran Sektor Sanitasi A. Tujuan Dan Sasaran Sektor Sanitasi
Pembangunan sanitasi pada dasarnya terkait erat dengan kemiskinan, tingkat pendidikan, kepadatan penduduk serta daerah kumuh yang memiliki pengaruh terhadap kesehatan lingkungan, dan pada gilirannya akan sangat mengintervensi dalam menentukan taraf produktifitas masyarakat. Pemerintah Kota langsa saat ini masih diperhadapkan pada beberapa persoalan termasuk belum tertanganinya sektor sanitasi. Oleh karena itu Dokumen Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kota langsa diharapkan dapat berperan nyata sebagai rujukan sharing peran stakeholders sanitasi yang partisifatif, kendali bagi realisasi pembangunan sanitasi serta dijadikan salah satu instrumen dalam mengestimasi kebutuhan pembiayaan pembangunan sanitasi. Berdasarkan posisinya, Dokumen Strategi Sanitasi Kota langsa berfungsi sebagai acuan perencanaan pembangunan sanitasi jangka menengah termasuk dalam mengakselerasi capaian target universal access 2019 yang pada akhirnya diharapkan dapat bermuara pada perbaikan kondisi lingkungan dan peningkatan produktifitas masyarakat Kota langsa.
Visi sanitasi Kota Langsa ditetapkan dengan mempertimbangkan dan bersifat mendukung terhadap visi induk Kota Langsa sebagaimana yang ditetapkan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Langsa saat ini dan visi sebagaimana Rencana Strategis SKPD terkait dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kota Langsa. Oleh karena demikian, dalam bidang pembangunan sanitasi, Pokja Sanitasi Kota Langsa telah menyusun Visi dan Misi Sanitasi yang merupakan hasil dari kolaborasi pemikiran dari berbagaistakeholder terkait.
Visiyang dimaksudkan dalam pemutakhiran Strategi Sanitasi Kota (SSK) Kota Langsa pada dokumen ini adalah kondisi sanitasi ideal yang ditetapkan secara nasional sebagai arah pembangunan sektor sanitasi perkotaan menujuUniversal Accespada tahun 2019 sebagai arus utama dalam setiap upaya melalui berbagai program daerah bidang sanitasi secara sistematis dan terukur. Sedangkan misi yang dimaksudkan dalam dokumen ini adalah merupakan penjabaran mengenai tugas yang akan diemban oleh Pemerintah Kota Langsa melalui peran Satuan Perangkat Kerja Daerah terkait dan pihak-pihak lain secara terkoordinasi untuk memastikan visi sanitasi Kota Langsa tercapai pada tahun 2019.
Tabel 5.5 Arahan Strategi Sanitasi Kota Langsa
VISI Kota Misi Kota Visi Sanitasi Kota Misi Sanitasi Kota Langsa
Mewujudkan Langsa Menjadi Kota Berperadaban dan Islami
1. Menegakkan dan menjalankan 3. Mewujudkan penataan ruang kota
serta pusat-pusat pasar dan perdagangan yang tertib dan
Terwujudnya Langsa Menjadi Kota Berperadaban, dengan Meningkatnya Kualitas Hidup di Lingkungan Perkotaan Melalui Pembangunan Sanitasi menuju
Universal Accespada tahun 2019.
Misi Air Limbah Domestik : - Meningkatkan kualitas cakupan
akses, layanan air limbah - Meningkatkan kualitas dan kuantitas
pengelolaan, air limbah - Meningkatkan peran masyarakat
dan dunia usaha dalam pengelolaan Air Limbah