IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
28. Sekretaris SEM
4.2.2. Panen dan Pasca panen kelapa sawit
a) Kriteria matang panen
Di PT. Pangian melakukan panen pada saat buah matang memberondol 5 jatuh secara alami dipiringan. Meskipun kriteria matang panen telah ditentukan berondol 5, namun masih ada ditemukan dilapangan yang melakukan panen tidak sesuai kriteria matang panen, yaitu melakukan panen buah mentah hard & black (HB). Penyebab utama terjadinya buah HB adalah pemanen mengejar Tonase, atau pemanen lebih cenderung mementingkan berat tandan tonase perharinya tinggi, tanpa memperhatikan dampak produksi buah kelapa sawit kedepan. Apabila pemanen melakukan panen buah HB akan berdampak negatif terhadap produksi kedapan, ini terjadi pasokan buah untuk rotasi panen minggu berikutnya akan berkurang sehingga akan merugikan pemanen sendiri.
Salah satu usaha Perusahan untuk mengurangi buah HB, yaitu dengan melakukan peringatan terhadap pemanan dan melakukan sistem denda apabila ditemukan buah H/B, setiap tandan dikenakan sanksi sebesar Rp. 30.000 /tandan.
Fraksi TBS dan mutu panen diperusahaan hanya menggunakan kriteria matang panen yaitu berdasarkan jumlah berondolan yang jatuh dipiringan, namun jika dihubungkan dengan fraksi dapat digolongkan kedalam fraksi 1 dan 2 yaitu untuk fraksi 1 kulit luar memberondol 12,5-25%, sedangkan fraksi 2, 25-50% buah luar memberondol. Sukamto (2008), dikenal 5 Fraksi TBS. Berdasarkan fraksi TBS
tersebut, derajat kematangan yang baik adalah jika tandan yang dipanen berada pada fraksi 1, dan 2.
b) Rotasi dan sistem panen
Rotasi panen di PT. Pangian menggunakan sistem 6/10, artinya dalam sepuluh hari terdapat enam hari panen dan masing- masing ancak panen diulangi (dipanen) pada sepuluh hari berikutnya. Sistem panen yang digunakan adalah ancak tetap.
Rotasi panen dianggap baik bila buah tidak lewat matang untuk di panen, yaitu dengan menggunakan sistem 5/7. Artinya dalam satu minggu terdapat lima hari panen dan masing- masing ancak panen diulangi (dipanen) pada tujuh hari
berikutnya (Fauzi
et al
., 2014).Menurut Lubis (1992), panen kelapa sawit juga dipengaruhi oleh iklim sehingga dikenal panen puncak dan panen kecil. Seperti rotasi 5/7 yang digunakan pada saat panen puncak dan pada luasan panen kecil.
Adanya perbedaan antara rotasi panen dikebun pangian dengan literatur di sebabkan karena luasan yang akan di panen cukup luas sehingga pihak kebun mengambil kebijakan dengan menggunakan rotasi panen 6/10.
Sistem ancak panen yang digunakan di PT. Pangian adalah ancak tetap. Sehingga karyawan panen lebih aktif dan bertanggung jawab terhadap ancak masing-masing. Karyawan lebih cenderung melakukan panen sesuai dengan standart perusahan karena melalui ancak tetap, pengawasan mandor dan assisten afdeling terhadap karyawan panen lebih mudah dan lebih cepat, namun dari sisi negatifnya karyawan yan melakukan panen masih tergolong lambat, hal tersebut
dapat di lihat dari TBS yang dipanen masih lama tersimpan di dalam kebun atau lambat sampai di TPH, sehingga terjadi keterlambatan dalam pengangkutan buah ke pabrik. Menurut Pahan (2010), kelebihan ancak tetap adalah tanggung jawab karyawan terhadap ancak tinggi, kondisi areal relative bagus karena kesalahan dapat dideteksi dengan mudah, penguasaan terhadap areal oleh karyawan tinggi sehingga lebih mudah mencari solusi sendiri jika menemukan kesulitan kerja.
c) Alat panen dan pasca panen
Alat panen dan pasca panen yang digunakan di PT pangian untuk TM > VI adalah Eggrek, Gancu, Kampak/Parang, Gerobak, Batu asah, Truck/Johndere, Tojok, Garukan, Timbangan Automatic, Komputer, Alat tulis. Menurut Suwanto (2005) alat yang digunakan untuk pemanenan kelapa sawit dengan umur > VI adalah eggrek. Sedangkan alat yang di gunakan untuk langsir buah dan mengumpulkan brondolan adalah gerobak, gancu, garu, karung. Dari penjelasan tersebut dapat di simpul kan bahwa alat panen dan pasca panen yang di PT pangian sudah sesuai dengan literatur yang ada.
d) Panen
Teknik panen yang baik bertujuan untuk memperoleh jumlah minyak maksimum dengan kualitas yang paling baik. Supaya panen berjalan dengan lancar, tempat pengumpulan hasil (TPH) harus dipersiapkan dan jalan pengangkutan hasil (pasar pikul) diperbaiki untuk memudahkan pengangkutan hasil panen dari kebun ke pabrik. Para pemanen juga harus mempersiapkan peralatan yang akan digunakan. Pemanenan kelapa sawit perlu memperhatikan beberapa
ketentuan umum agar tandan buah segar (TBS) yang dipanen sudah matang, sehingga minyak kelapa sawit yang dihasilkan bermutu baik (Siregar, 2012).
Panen yang dilakukan kebun PT. Pangian sudah berjalan cukup baik namun masih ada karyawan yang kurang ahli dalam memanen. Hal ini berpengaruh terhadap kualitas buah yang dipanen. Masih banyak buah yang tidak sesuai dengan kriteria buah yang telah ditetapkan oleh perusahaan.
Pengawasan terhadap panen dilakukan oleh mandor panen, assisten, Divisi Manager beserta Pimpinan kebun, Hal ini dilakukan agar pemanen melakukan panen sesuai dengan anjuran atau standar operasional perusahan, biasanya penilaian panen dilakukan sekali dalam sebulan oleh tim agronomi, yang berguna untuk mengurangi kehilangan hasil yang dilakukan pada saat panen.
Menurut Pahan (2010), diperkebunan kelapa sawit, yang paling penting berperan, bertanggung jawab dan berpengaruh terhadap besar kecilnya losses/ kehilangan produksi ialah assisten afdeling. Oleh karena itu, penghayatan yang mendalam akan losses produksi oleh seorang assisten sangat dibutuhkan. Pemeriksaan kualitas panen dan kualitas buah harus dilakukan dengan benar.
e) Kebutuhan tenaga pemanen
Kebutuhan tenaga pemanen di PT pangian sudah di tetap kan oleh perusahaan berdasarkan ancak masing – masing yaitu 2,5 ha atau 15 ha/pemanen. Karena tanaman yang ada di PT pangian sudah tua sehingga produksi nya menurun. Maka dari itu untuk penentuan tenaga pemanen tidak dilakukan dengan penghitungan AKP (angka kerapatan panen).
f) Pasca panen
Menurut Sastrosayono (2006), pengangkutan buah dari kebun ke pabrik harus dilakukan secepat mungkin, maksimal 8 jam setelah panen. Buah kelapa sawit yang dipotong hari ini harus diolah langsung agar asam lemak bebas (ALB) tidak tinggi. ALB yang tinggi menyebabkan minyak mudah membeku pada suhu kamar sehingga menyulitkan dalam proses pemasaran minyak nantinya.
Pengangkutan buah yang ada pada kebun PT. Pangian dilakukan pada hari itu juga harus di kirim ke pabrik agar kualitas buah yang di harapkan dapat tercapai. Agar asam lemak bebas (ALB) tidak tinggi. ALB yang tinggi menyebabkan minyak mudah membeku pada suhu kamar sehingga menyulitkan dalam proses pemasaran minyak nantinya.
Sortasi TBS di pabrik di tekankan untuk memeriksa keadaan buah yang telah sampai di pabrik. Pelaksanaan kegiatan ini adalah satu kebijakan dari perusahaan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas buah. Kegiatan sortasi TBS di pabrik biasanya hanya di terapkan oleh perusahaan-perusahaan yang mengolah hasil sendiri atau menjual dalam bentuk minyak kelapa sawit (CPO), karena untuk mendapatkan minyak CPO yang berkualitas buah yang di olah harus benar-benar memenuhi kriteria kematangan buah.