• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANGERAN PEKIK

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 42-56)

Punten ndalem sewu. Panguwaos menika wewenang. Dene Ratu mekaten wakiling Bethara ing madyapada. Gadhah kuwajban mbabar leres saha adil.(RW: 28)

‘Maafkan saya. Penguasa adalah wewenang. Sedangkan Raja seperti wakilnya Bathara di bumi. Mempunyai kewajiban menebar kebenaran dan keadilan.’

b. Jujur

Jujur yakni sikap dan perilaku yang mencerminkan kesatuan antara pengetahuan, perkataan, dan perbuatan (mengetahui yang benar, mengatakan yang benar, dan melakukan yang benar), sehingga menjadikan orang yang bersangkutan sebagai pribadi yang dapat dipercaya (Suyadi, 2013: 8). Dalam naskah ketoprak “Rembulan Wungu” ini, ada nilai pendidikan karakter yang ditampilkan. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Chafit Ulya berikut.

Saya kira pertunjukan drama sangat kaya dengan muatan pendidikan karakter, meskipun saya tidak bisa menyebutkan satu per satu dari 18 unsur pendidikan karakter. Tetapi bahwa proses mementaskan naskah drama saja sudah mengandung banyak nilai pendidikan karakter, seperti tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, toleransi, rasa hormat, dan sebagainya. Sedangkan dari cerita, kita bisa meneladani karakter tokoh dalam naskah, bagaimana belajar menjadi ksatria, belajar jujur pada diri sendiri, berani menyatakan kebenaran, berani membela dan mempertahankan kebenaran meskipun nyawa taruhannya, perasaan cinta, dan banyak lagi yang lainnya. Sangat banyak nilai pendidikan karakter yang dapat diambil dari naskah drama dan proses pertunjukan drama tersebut. (Catatan lapangan hasil wawancara lampiran ke 5 halaman 181)

Chafit Ulya menjelaskan bahwa dalam naskah ketoprak “Rembulan Wungu” bisa ditemukan nilai pendidikan karakter jujur.

Ketika Rara Hoyi hendak diboyong ke Mataram oleh Wiranala dan Wirakerti, Rara Hoyi dengan berani menolak dan mengatakan dengan jujur

commit to user

bahwa dia tidak mau dijadikan selir oleh Prabu Amangkurat Agung meskipun ayahnya sendiri yaitu Mangunjaya takut dan tidak berani menolak permintaan dari Wiranala dan Wirakerti. Berikut kutipannya.

28.HOYI

(mrengut) Ning kula mboten saged nglampahi Ndara Nggung! Kula mboten purun dipun pundhut selir Ingkang Sinuwun, jalaran kula teksih remen gesang wonten ndhusun sareng kaliyan Bapak lan Simbok kula!(RW: 10)

‘(cemberut) tapi aku tidak bisa melakukannya Ndara Tumenggung!

Aku tidak mau dijadikan selirnya Sinuwun, karena aku masih suka hidup di dusun bersama bapak dan simbokku!’

Rara Hoyi selain jujur tidak mau dijadikan selir oleh Prabu Amangkurat Agung dia juga jujur kepada Pangeran Adipati Anom jika dia mau diajak bertemu kembali dengan Pangeran Adipati Anom.

16.ADIPATI ANOM

(nyedhak) Ora sah wedi. Matur wae apa anane. Yen pancen sliramu gelem, matur apa anane wae. …..(ngrayu) Piye, gelem apa ora?(RW:

14)

‘(mendekat) Tidak usah takut. Bilang saja apa adanya. Kalau kamu mau, bilang apa adanya. (merayu) bagaimana, mau atau tidak?’

17.HOYI

(isin - remen) Purun, Pengeran. (RW: 14)

‘(malu-mau) Mau, Pangeran.

Dalam kutipan dialog di atas terlihat bahwa Rara Hoyi sebenarnya juga menyukai Pangeran Adipati Anom dengan dia mengatakan bahwa dia mau untuk diajak bertemu kembali dengan Pangeran meskipun dia terlihat malu-malu mau saat menjawabnya. Karakter jujur yang lain ditampilkan oleh Pangeran Pekik ketika berhadapan dengan Prabu Amangkurat Agung.

Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan dialog berikut.

66.AMANGKURAT

(nylekit) Ampun meneng mawon Man! Nek pancen pandakwa kula mboten nyata,….diwangsuli mawon!(RW: 30)

‘(menyakitkan) Jangan diam saja Man! Kalau memang tuduhanku tidak nyata, dijawab saja!’

67.PANGERAN PEKIK

(nyembah) Kula akeni Sinuwun.(RW: 30)

‘(menyembah) Saya akui Sinuwun.’

68.AMANGKURAT

commit to user

(manteb) Naaa! Mbok ngoten!…. Sing satriya mawon Man!(RW: 30)

‘(Mantap) Naaa! Seperti itu!... Yang satria saja Man!’

69.PANGERAN PEKIK

(nyembah – manteb) Punten ndalem sewu. Kula mila mboten sarujuk dhateng jumeneng Ndalem! Anggen ndalem yasa kraton ing Plered mboten namung ngrisak lestarining wana! Nanging ugi damel cintrakaning kawula! Jalaran kawula Metaram Sampeyan Ndalemyan peksa nyambut damel mbangun kedhaton!(RW: 30)

‘(menyembah-mantap) Maafkan saya. Saya memang tidak setuju dengan pemerintahan Prabu! Keputusan Prabu untuk membangun keraton di Pleret tidak hanya merusak kelestarian hutan! Tapi juga membuat rakyat sengsara! Sebab rakyat Mataram Prabu paksa untuk membangun keraton!’

Dalam dialog di atas Pangeran Pekik dengan sifat kesatrianya mengakui dan menjawab dengan jujur apa yang telah dituduhkan Prabu Amangkurat Agung kepada Pangeran Pekik bahwa itu benar. Pangeran Pekik memang tidak setuju dengan cara memerintah dari Prabu Amangkurat Agung, bukan karena iri tapi cara sang Prabu dalam memerintah sungguh tidak mempedulikan rakyat-rakyatnya. Beberapa kutipan dialog naskah ketoprak “Rembulan Wungu” di atas mewakili karakter jujur. Karakter tersebut dapat berupa jujur dengan perasaannya sendiri seperti yang dilakukan oleh Rara Hoyi yang memang dari awal tidak mau diboyong ke Mataram dan dijadikan selir sang Prabu Amangkurat Agung, kemudian kejujuran yang dilakukan Pangeran Pekik yang memiliki keberanian yang besar dalam mengakui bahwa dirinya memang tidak setuju dengan cara memerintah yang dilakukan oleh Prabu Amangkurat Agung kepada rakyat Mataram. Kejujuran Pangeran Pekik mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak perlu takut untuk berkata jujur selama itu benar meskipun yang kita hadapi adalah penguasa kita sendiri.

c. Disiplin

Disiplin adalah kebiasaan dan tindakan yang konsisten terhadap segala bentuk peraturan atau tata tertib yang berlaku (Suyadi, 2013: 8). Ketika Rara Hoyi akan diboyong ke Mataram untuk dijadikan selir, Mangunjaya sebagai ayahnya Rara Hoyi tidak bisa mencegah hal tersebut meskipun Rara Hoyi adalah anaknya sendiri, karena Mangunjaya menganggap

commit to user

dirinya hanya sebagai rakyat yang harus patuh terhadap perintah rajanya.

Hal tersebut tergambar dalam kutipan berikut.

30.MANGUNJAYA

Nek sepisan iki aku ora isa apa-apa, Nyi. Merga aku iki punggawa sing kecencang pernatan kudu manut lan nituhu dhawuhing Ratu. Nek aku cawe-cawe perkara iki, aku bakal dianggep luput marang sing kagungan panguwasa, Nyi.(RW: 10)

‘Kalau yang pertama ini aku tidak bisa berbuat apa-apa Nyi. Karena aku ini punggawa yang terikat peraturan dan harus patuh terhadap perintah raja. Kalau aku ikut campur dalam masalah ini, aku akan dianggap salah oleh yang punya kuasa, Nyi.’

Ketaatan Mangunjaya terhadap keraton Mataram sangat terlihat, meskipun dia sebenarnya juga tidak ingin membiarkan anaknya diboyong ke Mataram karena memang Hoyi juga tidak mau tapi sebagai rakyat yang terikat aturan dan harus mematuhi perintah sang raja, Mangunjaya menyerahkan anaknya untuk dibawa oleh Wiranala dan Wirakerti.

Karakter disiplin juga diperlihatkan oleh Alap-alap saat meringkus para Kraeng dari Makassar di alas demung, dia mengatakan kepada para Kraeng bahwa kepulangannya ke Mataram harus bisa membawa para Kraeng karena memang perintah dari sang Prabu Amangkurat Agung seperti itu. Perhatikan kutipan berikut.

09.ALAP-ALAP

(nyaut – manteb) Kuwi dudu urusanku! Sebab wanter dhawuh dalem Ingkang Sinuwun, baliku meyang Metaram kudu bisa ngrangket kowe sak kanca!(RW: 12)

‘(menyahut-mantap) Itu bukan urusanku! Sebab berdasarkan perintah Sinuwun, pulangku ke Mataram harus bisa meringkus kamu dan teman-temanmu!’

Selain kutipan di atas, berikut ini juga menunjukkan kedisiplinan yaitu dalam menerima perintah dari Prabu Amangkurat Agung.

45.AMANGKURAT

(wibawa) Wiwit sesuk, para kawula didhawuhi nyambutgawe yasa kedhaton lan bendungan! Sapa sing wani mbadal dhawuhingsun kudu diukum pati! Dene yen ana nayaka sing ora sarujuk, enggal dibanda lan dipepe neng ngalun-alun Metaram!(RW: 5)

‘(berwibawa) Mulai besok, rakyat diperintahkan untuk bekerja membuat keraton dan bendungan! Siapa yang berani menolak perintahku harus dihukum mati! Sedangkan jika ada abdi keraton yang

commit to user

tidak setuju, segera diikat dengan tali dan dijemur di Alun-alun Mataram!’

46.SINDUREJA

(nyembah) Sendika.(RW: 5)

‘(menyembah) Baiklah.’

49.AMANGKURAT

Kaya rembugingsun wingi, sak-bubare pisowanan sira ingsun keparengake lumawat menyang Mbanyuwangi, sakperlu nindakke dhawuh timbalaningsun.(RW: 6)

‘Seperti pembicaraan kemarin, setelah selesainya pertemuan kamu aku ijinkan pergi ke Banyuwangi, untuk menjalankan perintahku.’

50.WIRANALA & WIRAKERTI (nyembah – mantep) Sendika!(RW: 6)

‘(menyembah-mantap) Baiklah.’

Kutipan tersebut memperlihatkan kedisiplinan seorang prajurit dalam menjalankan perintah yang diberikan oleh sang raja. Walaupun resiko di depan menghadang namun harus tetap dijalankan dengan sungguh-sungguh. Jadi, karakter-karakter yang ada pada kutipan di atas sudah mewakili disiplin dalam mematuhi peraturan dan menjalankan perintah.

d. Kerja keras

Kerja keras adalah perilaku yang menunjukkan upaya secara sungguh-sungguh (berjuang hingga titik darah penghabisan) dalam menyelesaikan berbagai tugas, permasalahan, pekerjaan, dan lain-lain dengan sebaik-baiknya (Suyadi, 2013: 8). Dalam naskah ketoprak “Rembulan Wungu”

terdapat nilai pendidikan karakter kerja keras yang ditampilkan. Karakter kerja keras ada dalam diri banyak tokoh salah satunya adalah Wiranala.

Wiranala yang mendapat tugas dari Prabu Amangkurat Agung berusaha sekuat mungkin untuk membujuk Mangunjaya agar mau untuk menasihati anaknya Rara Hoyi agar mau diboyong ke Mataram. Perhatikan kutipan dialog berikut.

20.WIRANALA

Sampeyan niku rak Bapakne. Mosok ora isa ngandhani anak supaya manut wong tuwa.…. Ngendi ana pandhe kalah karo wesi. ….Pun

commit to user

sakniki Hoyi mang undang, mang takoni onten ngarep kula kalih Kakang Wiranala.(RW: 9)

‘Kamu itu kan bapaknya. Masa tidak bisa menasehati anak supaya patuh dengan orang tua. Mana ada pandai besi kalah dengan besinya.

Sudah sekarang Hoyi panggilkan, kamu tanyakan di depanku dan kakang Wiranala.’

Selain sosok Wiranala yang bekerja keras untuk meyakinkan Mangunjaya agar mau membujuk Rara Hoyi agar mau diboyong ke Mataram, Nyi angunjaya juga sekuat tenaga berusaha meyakinkan suaminya, agar bisa mempertahankan Rara Hoyi agar tidak diboyong ke Mataram. Perhatikan kutipan di bawah.

36.NYI MANGUNJAYA

(nesu) Pak! Sampeyan niku pripun ta?! Anake wedok niki njaluk direwangi! Ning kena napa sampeyan malah ming meneng mawon!

Sampeyan niku Bapakne lho! Mosok ora isa ngewangi anak sing lagi ketaman perkara!! Mbok omong ta Pak! Omong!!(RW: 10)

‘(marah) Pak! Kamu itu bagaimana?! Anak perempuannya ini minta dibantu! Tapi kenapa kamu hanya diam saja! Kamu itu bapaknya lho!

Masa tidak bisa membantu anaknya yang terkena masalah!! Bicaralah Pak! Bicara!’

Beberapa kutipan di atas menunjukkan karakter kerja keras tokoh dalam meyakinkan seseorang untuk mau melakukan apa yang diinginkannya, meskipun memang tidak semua usaha kerja keras tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang diinginkan.

e. Kreatif

Kreatif adalah sikap dan perilaku yang mencerminkan inovasi dalam berbagai segi dalam memecahkan masalah sehingga selalu menemukan cara-cara baru, bahkan hasil-hasil baru yang lebih baik dari sebelumnya (Suyadi, 2013: 8). Karakter kreatif ditunjukkan Nyi Wirareja saat berdebat dengan Ki Wirareja membicarakan Rara Hoyi akan diserahkan kepada Prabu Amangkurat Agung atau Pangeran Adipati Anom, dengan mantapnya Nyi Wirareja menjatuhkan pilihan kepada Pangeran Adipati Anom, karena dia tahu bahwa Rara Hoyi sesungguhnya mencintai Pangeran Adipati Anom, bukan Prabu Amangkurat Agung yang sifatnya

commit to user

sungguh tidak bisa dijadikan contoh. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut.

73.NYI WIRAREJA

Nek ngoten, apike Hoyi dicaoske Njeng Pengeran Tejaningrat mawon Pak.(RW: 19)

‘Kalau begitu, bagusnya Hoyi diserahkan kepada Pangeran Tejaningrat saja Pak.’

Tidak hanya sampai disitu tapi juga Nyi Wirareja juga mendukung Pangeran Pekik dan Ratu Wandan untuk menjodohkan Rara Hoyi dan Pangeran Adipati Anom untuk demi kepentingan keraton Mataram, meskipun Ki Wirareja berusaha untuk menghalanginya karena takut kepada Prabu Amangkurat Agung namun Nyi Wirareja tetap membela dengan segala pemikiran-pemikirannya. Perhatikan kutipan berikut.

93.NYI WIRAREJA

(nyaut) Ning napa enggih Ingkang Sinuwun duka, wong sing ajeng mundhut Hoyi niku putrane dhewe! Mosok, Bapak kok ora gelem ngalah karo anak!(RW: 20)

‘(menyahut) Tapi apa iya Sinuwun akan marah, yang ingin mengambil Hoyi saja putranya sendiri! Masa, bapak tidak mau mengalah dengan anak!’

Uraian di atas menunjukkan sisi kreatif dari seorang Nyi Wirareja, meskipun dirinya hanya sebagai abdi dalem namun pemikiran-pemikirannya tak terduga dan dia tetap menjunjung tinggi kebenaran yang seharusnya ditegakkan oleh siapapun tidak peduli memiliki pangkat ataukah tidak. Hal tersebut mengajarkan kita, walaupun kita tidak memiliki kedudukan dan berada di bawah penguasaan seorang yang besar tapi kita harus tetap berani untuk menyuarakan kebenaran dengan pemikiran- pemikiran kita.

f. Mandiri

Mandiri adalah sikap dan perilaku yang tidak tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan berbagai tugas maupun persoalan (Suyadi, 2013: 8). Dalam naskah ketoprak “Rembulan Wungu”, Nyi Wirareja istri dari Ki Wirareja menunjukkan kemandiriannya ketika sedang berdebat dengan suaminya. Dia bahkan mengatakan kalau dia tidak takut diceraikan kalau memang dia berkata benar. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut.

commit to user 122.NYI WIRAREJA

(nesu) Nek kula pinter omong njur sampeyan ajeng napa?! Ajeng ngejak pegatan, engghih!… Mbok ayo, nek nyata sampeyan wani megat,..kula mang pegat sakniki!(RW: 23)

‘(marah) Kalau aku pintar berbicara terus kamu mau apa?! Mau mengajak pisah,iya! Ayolah kalau memang kamu berani mau mengajak pisah, aku diceraikan sekarang!’

Karakter mandiri yang lain juga ditunjukkan oleh Rara Hoyi ketika masih di kampung bersama bapak dan ibunya. Meskipun dia dirumah bersama orang tuanya tapi tidak serta merta dia menggantungkan segala pekerjaan rumah kepada orang tuanya, di rumah dia juga memasak sendiri untuk menyiapkan makan. Hal tersebut tergambar pada kutipan berikut.

22.HOYI

(ngadeg radi tebih) Ana apa ta Pak kok ngundang aku? Aku ki lagi masak neng pawon, nyepakke dhahar. …. (maju) Ana apa ta Pak?(RW: 9)

‘(berdiri agak menjauh) Ada apa Pak kok memanggilku? Aku ini sedang emmasak di dapur, menyiapkan makanan. (maju) Ada apa Pak?’

Dari beberapa kutipan dialog di atas menunjukkan kemandirian wanita-wanita di naskah ketoprak “Rembulan Wungu”. Bukan berarti karena mereka wanita kemudian selalu menggantungkan hidup kepada lelaki atau orang tua. Nyi Wirareja yang tidak takut untuk dipisah oleh suaminya bukan berarti karena dia berani melawan suami namun karena dia ingin mempertahankan pendapatnya yang benar. Adapun Rara Hoyi juga termasuk anak yang mandiri, dengan tidak menggantungkan pekerjaan rumahnya kepada kedua orang tuanya meskipun kedua orang tuanya ada di rumah. Karakter mandiri pada naskah ketoprak “Rembulan Wungu” tersebut patut menjadi contoh.

g. Demokratis

Demokratis adalah sikap dan cara berpikir yang mencerminkan persamaan hak dan kewajiban secara adil dan merata antara dirinya dengan orang lain (Suyadi, 2013: 8). Pada saat acara jumenengan mengangkat Prabu Amangkurat Agung dan Pangeran Adipati Anom, semua keputusan itu dilakukan berdasarkan musyawarah demokratis oleh semua pangeran,

commit to user

saudara-saudara, dan juru bicara yang ada di keraton Mataram. Tampak pada kutipan berikut.

18.SINDUREJA

(wibawa) Adhedhasar unjuk rembuge Hastha Nayaka, kadang Sentana lan para Pengeran, dina iki, aku, iya badal wakil dalem kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma sarta para Parampara Metaram, byawara marang para kang padha sowan kabeh!

………(wibawa) Sepisan, wiwit dina Respati manis iki, Raden Mas Jibus, iya Kanjeng Pengeran Adipati Anom Arya Metaram, putra dalem Kanjeng Sultan Agung ingkang angka sepuluh, resmi jumeneng Nata jejuluk, Kanjeng Susuhunan Ingalaga, iya Kanjeng Sunan Prabu Amangkurat Agung ing Metaram!…….(wibawa) Kapindhone, Kanjeng Sunan Prabu Amangkurat Agung, kepareng amisudha putra dalem Kanjeng Pengeran Tejaningrat minangka Pangeran Adipati Anom! Sapa kang ora sarujuk marang byawara iki bakal adu arep karo Kanjeng Pangeran Pekik sarta para senapati Metaram liyane!(RW: 3)

‘(berwibawa) Berdasarkan musyawarah dari Juru bicara, saudara-saudara, dan para pangeran, hari ini aku sebagai wakil dari Kanjeng Sultan Agung Hanyakrakusuma serta para juru bicara Mataram, mengumumkan kepada semua yang hadir! (Berwibawa) Pertama, mulai di hari Kamis manis ini, Raden Mas Jibus atau Kanjeng Pangeran Adipati Anom Arya Mataram, putra dari kanjeng Sultan Agung yang ke sepuluh, resmi naik tahta bergelar Kanjeng Sunan Ingalaga Kanjeng Sunan Prabu Amangkurat Agung ing Mataram!

(berwibawa) Kedua Kanjeng Sunan Prabu Amangkurat Agung akan diijinkan untuk menjadikan putranya Pangeran Tejaningrat sebagai Pangeran Adipati Anom! siapa yang tidak setuju dengan pengumuman ini akan bertanding dengan Kanjeng Pangeran Pekik dan para senapati Mataram yang lain.’

Dari kutipan tersebut, ditemukan wujud demokrasi yaitu memutuskan sesuatu secara bersama-sama atau musyawarah. Keputusan yang diambil secara bersama-sama atau musyawarah memungkinkan untuk terjadinya kesepakatan yang adil dan tidak merugikan pihak-pihak yang lain.

h. Semangat kebangsaan atau nasionalisme

Semangat kebangsaan atau nasionalisme adalah sikap dan tindakan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau individu dan golongan (Suyadi, 2013: 9). Dalam naskah ketoprak “Rembulan Wungu” terdapat wujud karakter semangat kebangsaan atau nasionalisme yaitu ketika Pangeran Pekik dan Ratu

commit to user

Wandan menentang Prabu Amangkurat Agung demi kepentingan rakyat Mataram. Perhatikan kutipan berikut.

94.PEKIK

Bojomu bener, Beine. Ora-orane Kanjeng Sunan duka marang kowe.

Sing luwih wigati. Aku nyurung dhaupe Tejaningrat karo Hoyi kuwi ora mung kanggo aku. Ning ya kanggo kawigatene Metaram. …Coba pikiren, Kanjeng Sunan kae Ratu sing angel dingerteni sipat lan pikirane! Lha wong Metaram lagi paceklik malah ngundha layangan karo tindak besiyar tekan sak jabaning rangkah Metaram!(RW: 20)

‘Istrimu benar, Bei. Tidak akan Kanjeng Sunan marah kepadamu.

Yang lebih penting aku mendorong bersatunya Tejaningrat dengan Hoyi itu bukan hanya untukku tapi juga untuk kepentingan Mataram.

Coba sekarang pikir, Kanjeng Sunan itu Raja yang susah dimengerti sifat dan pikirannya! Mataram sedang paceklik kok malah bermain layang-layang dan pergi bertamasya keluar wilayah Mataram!’

Keputusan Pangeran Pekik mungkin akan melanggar keinginan Prabu Amangkurat Agung, tapi untuk kepentingan rakyat Mataram Pangeran Pekik rela melakukannya. Karakter semangat kebangsaan yang lain juga ditunjukkan oleh istrinya yaitu Ratu Wandan yang juga mendrorong keputusan Pangeran Pekik. Perhatikan kutipan berikut.

104.RATU WANDAN

(nyaut) Mula Beine, amrih Metaram iki bisa dadi becik,Tejaningrat kudu enggal jumeneng. Mangka Tejaningrat duwe penjaluk, gelem jumeneng yen sing nyisihi minangka garwa prameswari, anakmu Hoyi. …Lha yen nganti Tejaningrat kagol, ora gelem jumeneng, sing bakal kelangan gedhe Metaram. Merga nasibe Metaram ing mbesuke, gumantung wayah Pengeran Tejaningrat.(RW: 21)

‘(menyahut) Maka Bei, supaya Mataram ini bisa menjadi baik, Tejaningrat harus segera naik tahta. Sedangkan Tejaningrat punya keinginan, mau naik tahta jika yang menjadi istrinya adalah anakmu Rara Hoyi. Kalau sampai tejaningrat tidak mau naik tahta maka yang akan rugi besar adalah Mataram. Karena nasib Mataram di masa depan tergantung pada Pangeran Tejaningrat.

Karakter semangat kebangsaan dan nasionalisme ditunjukkan oleh Pangeran Pekik dan Ratu Wandan dengan menentang Prabu Amangkurat dan menjodohkan Pangeran Adipati Anom dan Rara Hoyi demi kepentingan Mataram. Sikap Prabu Amangkurat Agung yang semkin menjadi-jadi dengan menyengsarakan rakyat Mataram, membuat keduanya tidak bisa tinggal diam. Karakter yang

commit to user

ditampilkan di atas merupakan karakter kebangsaan atau nasionalisme yang ditunjukkan dengan tidak takut menentang penguasa jika yang dilakukan adalah benar dan demi negaranya.

i. Cinta tanah air

Cinta tanah air adalah sikap dan perilaku yang mencerminkan rasa bangga, setia, peduli, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, budaya, ekonomi, politik, dan sebagainya, sehingga tidak mudah menerima tawaran bangsa lain yang dapat merugikan diri bangsa sendiri (Suyadi, 2013: 9). Ratu Wandan digambarkan begitu cinta dengan Negara Mataram sehingga mereka berdua rela mati demi kesetiaannya dengan Mataram. Tampak pada kutipan berikut.

78.RATU WANDAN

(tatag) Sinuwun. Wiwit badhe sowan kala, manah lan pikiran kula sampun kula tata!!Kula mboten badhe ngraes, nyuwun sih pangapunten ndalem! Semanten ugi Kangmas Pengeran Pekik!

Jalaran kula ngertos, Sampeyan Ndalem sampun ketlikung dening kumalungkunging panguwaos! Penggalih dalem sampun ketruwu dhateng gebyaring kadonyan, saktemah sepi dhateng sih katresnan, lan tebih saking raos kamanungsan!(RW: 31)

‘(teguh) Sinuwun. Sejak akan datang kesini, hati dan pikiran saya sudah tertata! Saya tidak akan mengemis minta pengampunanmu!

Begitu juga dengan kangmas Pangeran Pekik! Sebab saya tahu, kamu itu sudah melenceng dan dibutakan oleh kesombongan kekuasaan!

Hatimu juga sudah dipenuhi dengan kesilauan dunia, yang sangat jauh dari rasa kasih sayang dan kemanusiaan!’

Wujud dari kesetiaan Pangeran Pekik dan Ratu Wandan terhadap Mataram, keduanya rela menerima hukuman mati dari Prabu Amangkurat Agung yang kejam. Wujud rasa cinta tanah air dari Pangeran Pekik dan Ratu Wandan patut menjadi teladan untuk kita agar kita juga bisa mencintai negeri kita Indonesia dan mau menjaganya dari orang-orang yang punya rencana jahat merusak negeri kita.

j. Komunikatif

Komunikatif adalah senang bersahabat atau proaktif yakni sikap dan tindakan terbuka terhadap orang lain melalui komunikasi yang santun sehingga tercipta kerja sama secara kolaboratif dengan baik(Suyadi, 2013:

commit to user

9). Dalam naskah ketoprak “Rembulan Wungu” wujud karakter komunikatif tergambar dalam kutipan berikut ini.

01.MANGUNJAYA

(gembira) Mangga mangga, lenggahipun dipun agem sekeca kemawon.(RW: 8)

‘(gembira) silakan silakan.. duduknya dibuat yang nyaman saja.’

02.WIRANALA & WIRAKERTI (gembira) Enggih, Kang.(RW: 8)

‘(gembira) iya, Kang.’

03.MANGUNJAYA

(gembira) Nyuwun pangapunten,…. wonten ndhusun Dhi. Papanipun reged tur mboten mitayani.(RW: 8)

‘(gembira) Minta maaf, di dusun Dhi, tempatnya kotor dan tidak bagus.’

04.WIRANALA

(ngguyu) Omah kula rika nggih padha mawon, Kang!(RW: 8)

‘(tertawa) rumahku disana juga sama saja, Kang!’

05.WIRAKERTI

(ngguyu) Metaram kalih Mbanyuwangi niku pun mboten onten

(ngguyu) Metaram kalih Mbanyuwangi niku pun mboten onten

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 42-56)

Dokumen terkait