METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu
PAR Laki-lak
Tidur (tidur siang dan tidur malam) 1 1
Tidur-tiduran (tidak tidur), duduk diam dan membaca 1.2 1.2
Duduk sambil menonton TV 1.72 1.64
Berdiri diam, beribadah, menunggu (berdiri), berhias 1.5 1.4
Makan dan minum 1.6 1.4
Jalan santai 2.5 2.8
Berbelanja (membawa beban) 5 0
Mengendarai kendaraan 2.4 2.7
Menjaga anak 2.5 0
Melakukan pekerjaan rumah (bersih-bersih dan lain- lain)
2.75 3
Kegiatan berkebun 2.7 3.3 Office worker (duduk didepan meja, menulis dan
mengetik)
1.3 1.3
Office worker (berjalan mondar-mandir sambil membawa arsip)
1.6 1.6
Olahraga (Bulutangkis) 4.85 5.8
Olahraga (jongging, lari jarak jauh) 6.55 8.21
Olahraga (bersepeda) 3.6 3.8
Olahraga (aerobik, berenang, sepak bola dan lain-lain) 7.5 8.0 Sumber : FAO/WHO/UNU (2001)
Physical Activity Level (PAL) selanjutnya dikategorikan menjadi tiga kategori menurut FAO/WHO/UNU (2001), seperti yang tersaji pada Tabel 8. Tabel 8 Kategori Tingkat Aktivitas Fisik Berdasarkan PAL
Kategori Nilai PAL
Aktivitas ringan (sedentary) 1,40 – 1,69 Aktivitas sedang (moderate) 1,70 – 1,99 Aktivitas berat (vigorous) 2,00 – 2,40 Sumber : Sjostrom (2004)
Data frekuensi konsumsi pangan hewani, sayur dan buah didapatkan metode Food Frequency Quesionaire (FFQ) dilengkapi dengan recall 2x24 jam untuk menentukan jumlah pangan yang dikonsumsi. Data yang didapatkan kemudian dihitung frekuensi konsumsinya dalam sehari, kemudian dibandingkan dengan anjuran makanan rata-rata satu hari orang dewasa menurut golongan umur berdasarkan ukuran rumah tangga (URT) (Almatsier 2004). Anjuran makanan rata-rata satu hari untuk orang dewasa menurut golongan umur untuk pangan hewani, sayur dan buah disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9 Anjuran Makanan Rata-Rata Satu Hari Orang Dewasa Menurut Golongan Umur
Golongan Umur (tahun)
Pangan Hewani Sayuran Buah
50 g/ 1 ptg 100 g/ 1 gls 100 g / 1 ptg pepaya Perempuan 16 – 19 3 x 1½ x 3 x 20 – 45 3 x 1½ x 3 x 46 – 59 3 x 1½ x 3 x ≥ 60 3 x 1½ x 3 x
Pengategorian data frekuensi konsumsi pangan hewani dalam satu kali konsumsi setara dengan 50 gram, sayuran setara 100 gram dan buah setara 100 gram. Pengkategorian data frekuensi konsumsipangan hewani, sayur dan buah disajikan dalam Tabel 10.
Tabel 10 Kategori Frekuensi Konsumsi Pangan Hewani, Sayur dan Buah
Jenis Konsumsi Rendah Baik
Pangan hewani < 3x dalam sehari ≥ 3x dalam sehari Sayuran < 1½ x dalam sehari ≥ 1½ x dalam sehari Buah < 3x dalam sehari ≥ 3x dalam sehari Sumber : Almatsier (2004)
Definisi Operasional
Aktivitas Fisik yaitu kegiatan fisik yang dilakukan sampel dalam satu hari dari waktu bangun tidur hingga tidur kembali.
Lama Menstruasi yaitu jumlah hari menstruasi pada satu siklus menstruasi. Menarche yaitu usia sampel ketika pertama kali mendapatkan menstruasi. Keluhan ringan yaitu kondisi sampel mengalami tingkat keluhan menstruasi ringan dengan skor total keluhan menjelang menstruasi 1 sampai 4.
Keluhan sedang adalah kondisi sampel mengalami tingkat keluhan menstruasi sedang dengan skor total keluhan menjelang menstruasi 5 sampai 12.
Keluhan berat adalah kondisi sampel ketika mengalami tingkat keluhan menstruasi berat dengan skor total keluhan menjelang menstruasi lebih besar dari 12.
Konsumsi pangan hewani yaitu asupan pangan hewani dalam sehari ke dalam tubuh berdasarkan ukuran rumah tangga (URT).
Konsumsisayur dan buah yaitu asupan sayur dan buah dalam sehari yang diukur dengan ukuran rumah tangga (URT).
Tidak ada keluhan adalah kondisi sampel tidak mengalami keluhan menstruasi menjelang menstruasi.
Lama Menstruasi yaitu lamanya menstruasi pada satu periode (hari).
PengetahuanPMS adalah informasi yang diketahui sampel mengenai pre menstruasi sindrom
Periode Menstruasi yaitu jarak antara dua masa haid (jarak hari pertama haid ke 1 ke hari pertama haid berikutnya).
Sindrom Pra Menstruasi adalah kumpulan gejala akibat perubahan hormonal yang berhubungan dengan siklus saat ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium). Sampel/POLWAN yaitu populasi personil polisi wanita (POLWAN) yang berada di wilayah kerja Polres Cimahi.
Skor keluhan menstruasi adalah nilai keluhan menstruasi berdasarkan jenis keluhan menstruasi yang dirasakan sampel.
Status Gizi adalah keadaan kesehatan tubuh seseorang sebagai hasil dari konsumsi, penyerapan (absorpsi) dan utilisasi zat gizi yang terdapat pada pangan yang dikonsumsi dan dapat ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT).
Total keluhan menstruasi adalah jumlah skor keluhan menjelang menstruasi. Usia Menarche yaitu haid yang pertama terjadi yang merupakan ciri khas kedewasaan seorang wanita yang sehat dan tidak hamil.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum LokasiPolres Kota Cimahi membawahi 13 Polsek. Pemerintahan terdiri dari 1 Kabupaten Bandung Barat dan 1 kota Cimahi, dengan dengan 19 Kecamatan, 176 desa, dan 15 Kelurahan. Kab Bandung Barat pada bagian barat dan Kota Cimahi terletak diantara 6°41' - 7°19' Lintang Selatan dan diantara 107°22'- 108°5' Bujur Timur. Pada ketinggian antara 110 m - 2.429 m diatas permukaan laut dengan luas wilayah 117.870.502 Ha. Batas Wilayah Polres Kota Cimahi: Wilayah Bagian Utara: berbatasan dengan Polres Purwakarta dan Polres Subang, Wilayah Bagian Timur: berbatasan dengan Polwiltabes Bandung dan Polres Bandung, Wilayah Bagian Selatan: berbatasan dengan Polres Bandung dan Polres Cianjur, Wilayah Bagian Barat: berbatasan dengan Polres Cianjur.
Struktur organisasi di Polres Kota Cimahi terdiri dari Kapolres, Wakapolres, Kabag Ops, Kabag Ren, Kabag Sumda, Kasat Intelkam, Kasat Reskim, Kasat Narkoba, Kasat Sabraha, Kasat Lantas, Kasat Binmas, Kanit P3D, Kapolsek Cimahi, Kapolsek Cimahi Selatan, Kapolsek Batujajar, Kapolsek Margaasih, Kapolsek Cililin, Kapolsek sindangkerta, Kapolsek Gunung Halu, Kapolsek Cipatat, Kapolsek Cipendeuy, Kapolsek Cikalongwetan, Kapolsek Padalarang, Kapolsek Cisarua, Kapolsek Lembang.
Polres Kota Cimahi memiliki lambang yang mempunyai arti khusus bagi seluruh anggotanya, diantaranya yaitu
TRIBRATA dan CATUR PRASETYA. TRIBRATA mempunyai isi yaitu 1) Berbakti kepada nusa dan bangsa dengan penuh ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. 2) Menjunjung tinggi kebenaran, keadilan dan kemanusiaan dalam menegakkan hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. 3) Senantiasa Melindungi, Mengayomi dan Melayani Masyarakat dengan keiklasan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban. CATUR PRASETYA memiliki isi yaitu sebagai Insan Bhayangkara, Kehormatan Saya Adalah Berkorban Demi Masyarakat, Bangsa dan Negara, untuk: 1) Meniadakan segala bentuk gangguan keamanan, 2)
Menjaga keselamatan jiwa raga, harta benda dan Hak Asasi Manusia, 3) Menjamin kepastian berdasarkan hukum, 4) Memelihara perasaan tentram dan damai.
Polres Kota Cimahi memiliki visi dan misi dalam menjalankan tugas mereka sebagai abdi masyarakat. Isi Visi Polres Kota Cimahi yaitu Terwujudnya Postur Jajaran Polres Kota Cimahi yang professional, bermoral dan modern dipercaya masyarakat tahun 2014, serta mampu mendukung upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menjadi provinsi yang termaju.sedangkan isi dari misinya yaitu
Meningkatkan pelayanan Kepolisian kepada masyarakat melalui bimbingan pengayoman, perlindungan, penyelamatan, pengaturan dan penertiban kegiatan masyarakat agar masyarakat bebas dari segala gangguan fisik dan phsikis.
Mengembangkan Perpolisian masyarakat dengan membangun kemitraan antara Polisi dan masyarakat untuk menyelesaikan masalah sosial.
Meningkatkan kesadaran dan peran serta masyarakat untuk memelihara keamanan, ketertiban, kelancaran lalu lintas.
Menegakkan hukum secara independen, tidak diskriminasi, objektif, proporsional, transparan dan akuntabel untuk menjamin kepastian hukum dan rasa keadilan.
Meningkatkan kemampuan SDM dengan dukungan sarana dan prasarana yang cukup.
Meningkatkan nilai moral dan agama dalam sikap dan prilaku kehidupan. Mendukung upaya pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam mensukseskan pembangunan.
Gambaran Umum Sampel
Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah polisi wanita yang berada di wilayah kerja polres cimahi berjumlah 57 orang,namun yang akhirnya diteliti sebagai sampel hanya 54 orang, karena 3 orang polisi dalam kondisi tidak aktif atau cuti kerja. Keseluruhan sampel berasal dari bagian Basatlantas, Basattahti, Basatbinmas, Basatintelkam, Basatreskim, Humas, Sium, Basatnarkoba, Dokkes, Basatsabhara dengan berbagai tingkatan jabatan mulai dari Kapten (AKP), Letnan Satu (IPTU), Letnan Dua (IPDA), Pembantu Letnan Satu (AIPTU), Pembantu Letnan Dua (AIPDA), Sersan Mayor (BRIPKA), Sersan Kepala (BRIGADIR), Sersan Satu (BRIPTU) dan Sersan Dua (BRIPDA).
Karakteristik Sampel Umur
Jumlah anggota polisi secara keseluruhan yang berada diwilayah kerja Polres Cimahi yaitu 1816 orang, sedangkan jumlah anggota polisi wanita berjumlah 57 orang. Jumlah polisi wanita di Polres Kota Cimahi terdiri dari berbagai umur, sebaran sampel berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 11. Tabel 11 Sebaran Sampel Berdasarkan Umur
Umur Frekuensi Persen (%)
19 – 29 tahun 21 38,9
30 – 49 tahun 31 57,4
50 – 64 tahun 2 3,7
Total 54 100
Berdasarkan Tabel 11, Rentang umur yang mendominasi keanggotaan polisi wanita di Polres Kota Cimahi yaitu dewasa akhir. Rentang umur yang berada pada dewasa akhir biasanya memiliki kadar hormon estrogen yang semakin berkurang (Waryana 2010). Hal ini dapat menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sindrom pra menstruasi, dimana fungsi dari hormon estrogen yaitu membantu proses penebalan dinding rahim untuk mempersiapkan menerima dan memelihara telur yang akan dibuahi.
Tingkat Pendidikan
Karakteristik sampel yang dianalisis selain umur yaitu tingkat pendidikan. Tabel sebaran tingkat pendidikan sampel di Polres Kota Cimahi dapat dilihat pada Tabel 12.
Tabel 12 Sebaran Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Kategori Frekuensi Persen (%)
SMA 41 75,9
Sarjana 13 24,1
Total 54 100
Berdasarkan Tabel 12, rerata tingkat pendidikan anggota Polwan di Polres Kota Cimahi yaitu sekolah menengah atas, namun ada beberapa bergelar sarjana. Penyerapan informasi yang beragam dan berbeda dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Pendidikan akan berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan
manusia baik pikiran, perasaan maupun sikapnya. Semakin tinggi tingkat pendidikan semakin tinggi pula kemampuan dasar yang dimiliki seseorang. Menurut Notoatmodjo (2003), pendidikan menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan masyarakat, tapi peningkatan pengetahuan saja belum cukup berpengaruh langsung terhadap perilaku sebab pendidikan merupakan ”behavioral investment” jangka panjang, tidak segera dan jelas
memperlihatkan hasil. Perilaku merupakan suatu tindakan yang berulang-ulang dilakukan dan dapat dijadikan suatu kebiasaan dari seseorang. Perilaku yang dapat menjadi faktor terjadinya sindrom pra menstruasi yaitu perilaku hidup sehat yang meliputi pemilihan bahan makanan dan aktivitas fisik.
Status Gizi
Status gizi merupakan keadaan tubuh seseorang atau sekelompok orang sebagai akibat dari konsumsi, penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan (Gibson 2005). Pengukuran status gizi dilakukan dengan indikator Indeks Massa Tubuh. Sebaran sampel berdasarkan status gizi dapat dilihat pada Tabel 13. Tabel 13 Sebaran Sampel Berdasarkan Klasifikasi Status Gizi
Kategori Frekuensi Persen (%)
Kurus (underweight) 4 7,3 Normal 36 65,5 Overweight 14 25,5 Obese I 0 0 Obese II 0 0 Total 54 100
Sebagian besar sampel (36%) memiliki status gizi normal, namun terdapat 7,3% sampel yang memiliki status gizi underweight serta 14% memiliki status gizi overweight. Status gizi yang baik akan berpengaruh terhadap kesehatan. Kekurangan atau kelebihan gizi dalam jangka waktu yang panjang akan berakibat buruk terhadap kesehatan. Makanan yang bergizi tinggi akan mengakibatkan pertumbuhan berat badan pada perempuan. Kadar estrogen akan meningkat akibat kolesterol yang tinggi. Apabila komposisi lemak dalam tubuh seseorang kurang maka dapat mempengaruhi kadar estrogen dalam sistem reproduksi sehingga dapat terjadi ketidakseimbangan hormon yang dapat mengakibatkan terjadinya sindrom pra menstruasi (Waryana 2010).
Tingkat Pengetahuan
Peningkatan pengetahuan gizi merupakan salah satu upaya penanggulangan masalah gizi. Faktor penyebab tidak langsung masalah gizi adalah kurangnya ketersediaan pangan, rendahnya daya beli, dan rendahnya pendidikan/pengetahuan yang dipengaruhi faktor sosial budaya (Khomsan 2004). Tingkat pengetahuan gizi seseorang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku dalam pemilihan makanan. Banyak masalah gizi dipengaruhi oleh keterbatasan pengetahuan gizi. Pengetahuan gizi menjadi landasan penting yang menentukan konsumsi makanan seseorang yang selanjutnya akan mempengaruhi status gizinya. Menurut Suhardjo (1996), gangguan gizi disebabkan oleh kurangnya pengetahuan gizi atau kemampuan untuk menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari. Sebaran sampel berdasarkan tingkat pengetahuan dapat dilihat pada Tabel 14.
Tabel 14 Sebaran Sampel Berdasarkan Tingkat Pengetahuan pada Polisi Wanita di Polres Cimahi
Tingkat Pengetahuan Frekuensi
n %
Rendah 2 3,7
Sedang 36 66,7
Tinggi 16 29,6
Total 54 100
Sebagian besar sampel memiliki tingkat pengetahuan berkategori sedang (66,7%). Tingkat pengetahuan yang sedang dapat diartikan akan mempengaruhii sikap dan perilaku yang cukup baik dalam menerapkan informasi untuk kehidupan sehari-hari, sehingga dapat memberikan perubahan perilaku dalam pemilihan bahan makanan ataupun cara penanganan apabila mengalami sindrom pra menstruasi.
Aktivitas Fisik
FAO/WHO/UNU (2001) menyatakan bahwa aktivitas fisik adalah variabel utama, setelah angka metabolisme basal dalam perhitungan pengeluaran energi. Kategori tingkat aktivitas fisik dengan nilai physical activity level (PAL) dibagi dalam tiga bagian, yaitu ringan (1,40≤PAL≤1,69), sedang (1,70≤PAL≤1,99) dan berat (2,00≤PAL≤2,40). Sebagian besar anggota polisi wanita di Polres Kota Cimahi memiliki tingkat aktivitas yang berkategori sedang. Sebaran sampel
berdasarkan tingkat aktivitas fisik pada polisi wanita di Polres Kota Cimahi dapat dilihat pada Tabel 15.
Tabel 15 Sebaran Sampel Berdasarkan Tingkat Aktivitas Fisik pada Polwan di Polres Kota Cimahi
Tingkat aktivitas fisik Frekuensi
n %
Ringan 18 33
Sedang 31 57
Berat 5 9
Total 54 100
Rata – rata tingkat aktivitas dari sampel berkategori sedang. Aktivitas yang dilakukan sampel dalam kesehariannya bervariasi diantaranya bekerja dikantor seperti mengetik didepan komputer, mondar-mandir mengurus berkas, rapat, mengatur lalu lintas di pagi dan sore hari, mengurus pembuatan SIM, mengurus pekerjaan kantor lainnya.
Frekuensi Konsumsi Pangan Hewani
Pangan hewani adalah kelompok pangan yang terdiri dari daging, telur, susu, ikan dan hasil olahannya. Sebaran sampel berdasarkan frekuensi konsumsi pangan hewani dapat dilihat pada Tabel 16.
Tabel 16 Sebaran Sampel Berdasarkan Frekuensi Konsumsi Pangan Hewani
Kategori Frekuensi
n %
Kurang 52 96,3
Baik 2 3,7
Total 54 100
Frekuensi konsumsi pangan hewani sampel berkategori kurang dimana frekuensi konsumsi dalam sehari < 3x penukar setara dengan 50 gram per satu penukar. Berdasarkan data recall rata-rata konsumsi pangan hewani sampel dalam sehari yaitu 92 gram, sedangkan anjuran konsumsi pangan hewani dalam sehari yaitu sekitar 150 gram. Hal ini menggambarkan bahwa tingkat konsumsi sampel hanya 61,3%. Jenis bahan makanan yang biasa dikonsumsi sampel bervariasi seperti ikan air tawar, ayam, ati ayam dan daging sapi. Pangan hewani memiliki kandungan vitamin dan mineral seperti vitamin B6 dan mineral Fe yang memiliki tingkat bioavaibilitas tinggi. Vitamin B6 memiliki peranan dalam mengontrol produksi zat serotonin. Serotonin berperan penting dalam fungsi otak dan saraf, apabila kekurangan serotin dapat mengakibatkan rasa depresi,
sedangkan mineral besi (Fe) merupakan mineral mikro yang paling banyak di dalam tubuh manusia dan hewan, yaitu 3-5 gram di dalam tubuh manusia dewasa. Besi mempunyai beberapa fungsi esensial di dalam tubuh yaitu sebagai alat angkut elektron di dalam sel dan sebagai bagian terpadu berbagai reaksi enzim di dalam jaringan tubuh. Status besi seseorang juga mempengaruhi produktivitas kerja, penampilan kognitif dan sistem kekebalan (Almatsier 2004).
Jenis pangan hewani yang dikonsumsi oleh sampel diantaranya yaitu daging ayam, daging sapi, ikan air tawar, ikan asin, susu, telur, dan bakso. Konsumsi pangan yang mengandung besi-hem akan meningkatkan absorpsi zat besi di dalam tubuh. Absopsi besi-hem dua kali lipat lebih besar daripada besi- nonhem. Menurut Almatsier (2004), kekurangan besi pada umumnya menyebabkan pucat, rasa lemah, letih, pusing, kurang nafsu makan, menurunnya kebugaran tubuh, menurunnya kemampuan kerja, menurunnya kekebalan tubuh dan gangguan penyembuhan. Asupan protein yang kurang akan mempengaruhi penurunan frekuensinpuncak LH dan akan mengalami pemendekan fase folikuler rata-rata 3.8 hari, sehingga dapat mengakibatkan ketidakseimbangan hormon dan dapat memperberat keluhan pra menstruasi.
Frekuensi Konsumsi Sayur dan Buah
Sayur dan buah adalah sumber vitamin dan mineral yang berasal dari tanaman, yaitu bunga, daun, batang, umbi atau buah (Baliwati 2004). Seperti halnya pangan hewani, sayur dan buah memiliki kandungan vitamin dan mineral yang cukup banyak, banyak vitamin larut lemak, larut air serta mineral yang beragam. asupan vitamin dan mineral yang berasal dari sayur dan buah akan mempengaruhi status kesehatan bagi seseorang. Sebaran sampel berdasarkan frekuensi konsumsi sayur dan buah dapat dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17 Sebaran Sampel Berdasarkan Frekuensi Konsumsi Sayur dan Buah
Dari keseluruhan sampel, rata-rata sampel memiliki tingkat konsumsii sayur yang kurang baik. Frekuensi konsumsi sayur sampel dalam satu hari ≤ 1½
Kategori Frekuensi Sayur Buah n % n % Kurang 29 53,7 54 100 Baik 25 46,3 0 0 Total 54 100 54 100
satuan penukar atau setara dengan 100 gram per satuan penukar, konsumsi buah sampel ≤ 3 satuan penukar atau setara dengan 100 gram per satuan penukar. Berdasarkan hasil recall rata-rata konsumsi sayur dan buah sampel dalam sehari yaitu 135.7 gram dan 76.4 gram. Anjuran untuk konsumsi sayur dan buah masing-masing 300 gram dan 300 gram dalam sehari, sehingga tingkat konsumsi sayur dan buah sampel dalam sehari yaitu 45% dan 25%. Frekuensi konsumsi sayur dan buah dari sampel yang kurang dapat diakibatkan oleh ketersediaan makanan dilingkungan kerja yang tidak ada, kesadaran mengenai kesehatan yang kurang dari sampel dan kondisi pekerjaan yang padat sehingga sampel hanya mengonsumsi makanan yang instan.
Kandungan mineral yang terdapat di sayur dan buah yang memiliki pengaruh terhadap sindrom pra menstruasi yaitu magnesium (Mg) dan kalsium (Ca) yang sangat berperan dalam sistem otot tubuh. Mineral tersebut berfungsi dalam mengatur fungsi sel, seperti untuk transmisi saraf, kontraksi otot, penggumpalan darah dan menjaga permeabilitas membran sel. Kalsium mengatur pekerjaan-pekerjaan hormon-hormon dan faktor pertumbuhan (Almatsier 2004).
Jenis sayur dan buah yang dikonsumsi oleh sampel diantaranya adalah bayam, buncis, wortel,daun singkong, kacang panjang, sawi hijau, labu siam dan kangkung. Kekurangan kalsium (Ca) pada masa pertumbuhan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan sehingga tulang kurang kuat, mudah bengkok dan rapuh. Kecukupan kalsium (Ca) berdasarkan WKNPG (2004) untuk wanita usia 16-18 tahun adalah 1000 mg dan untuk wanita usia 19-29 tahun adalah 800 mg. Apabila kebutuhan sumber mineral tersebut kurang maka dapat memperberat sindrom pra menstruasi.
Usia Menarche, Periode Menstruasi dan Lama Menstruasi
Menarche merupakan usia ketika pertama kali mendapat menstruasi. Sebagian besar sampel memiliki usia menarche antara 12 – 18 tahun. Sebaran sampel berdasarkan usia menarche dapat dilihat pada Gambar 2.
Gambar 2 Sebaran Sampel Berdasarkan Usia Menarche
Sebagian besar sampel (59,3%) memiliki usia menarche antara 10-14 tahun. Tidak ada sampel yang memiliki usia menarche < 10 tahun. Perkembangan seksual sekunder dipengaruhi oleh faktor endogen dan eksogen antara lain status gizi, lingkungan, media massa, sosial ekonomi dan derajat kesehatan secara keseluruhan. Terdapat pengaruh antara jumlah lemak tubuh tertentu saat pra menstruasi ataupun saat menstruasi. Teori ini menekankan bahwa menarche terjadi pada berat badan tertentu dan pada usia tertentu pada seorang wanita. Menarche yang datang lebih dini biasanya disebabkan oleh beberapa faktor lain yaitu berat badan yang berlebih, aktifitas fisik, dan genetic. Selain itu, dipengaruhi oleh rangsangan-rangsangan kuat seperti film, buku-buku bacaan dan majalah orang dewasa yang dapat mempercepat menstruasi dini (Waryana 2010).
Panjang masa siklus menstruasi rata-rata 28 hari, 14 hari persiapan untuk ovulasi dan 14 hari selanjutnya endometrium disiapkan untuk kedatangan ovum yang dibuahi kira-kira pada hari ke-21. Bila hanya ovum yang tidak dibuahi yang tiba dalam uterus maka pada hari ke-28 endometrium runtuh dan menstruasi pun terjadi dan siklus diulang sekali lagi. Lama siklus menstruasi pada wanita sangat bervariasi, namun rat-rata periode menstruasi seorang wanita yaitu 28 hari dari permulaan masa menstruasi ke permulaan menstruasi berikutnya (Ganong 1992). Sebaran sampel berdasarkan periode menstruasi dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3 Sebaran Sampel Berdasarkan Periode Menstruasi
Periode menstruasi adalah jarak antara dua masa haid (jarak hari pertama haid ke 1 ke hari pertama haid berikutnya). Periode menstruasi sebagian besar sampel antara 25-30 hari termasuk kedalam kategori normal. Apabila seseorang memiliki periode menstruasi melebihi 35 hari dan mengalami haid yang tidak teratur dan haid yang sedikit sekali, hal tersebut menandakan bahwa seseorang mengalami oligomenore. Penyebabnya yaitu karena stres, penyakit kronik, tumor yang memproduksi estrogen, asupan gizi yang kurang, gangguan pola makan (anoreksia nervosa dan bulimia).
Hasil penelitian serupa sebelumnya menemukan rata-rata lama menstruasi 3-5 hari dianggap normal dan lebih dari 9 hari dianggap tidak normal (Affandi 1999). Sebaran sampel berdasarkan lama menstruasi dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4 Sebaran Sampel Berdasarkan Lama Menstruasi
Sebagian besar sampel (81,48%) memiliki lama menstruasi berkisar 3-9 hari dalam satu periode menstruasi. Hal tersebut menyatakan bahwa rata-rata
Hari Har
i
Harisampel termasuk dalam lama menstruasi yang normal. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Tenia (2010) pada sampel nonatlet yang memiliki lama menstruasi yang normal. Lama menstruasi yang tidak normal dapat diakibatkan oleh status gizi dan kadar lemak tubuh seseorang yang kurang, sehingga dapat mengakibatkan kadar hormon estrogen yang rendah dan berdampak terjadi ketidakseimbangan hormon dan memperberat keluhan pra menstruasi.
Jenis Keluhan Sindrom Pra Menstruasi
Sebaran sampel berdasarkan jumlah kasus sindrom pra menstruasi disajikan pada Tabel 18. Kasus sindrom pra menstruasi yang paling banyak terjadi pada sampel adalah gangguan emosional (21%). Hal ini sesuai dengan penelitian Lutfiah (2007) yaitu sebagian besar sampel yang diteliti mengalami gangguan emosional menjelang menstruasi.
Tabel 18 Sebaran Sampel Berdasarkan Jumlah Jenis Keluhan Sindrom Pra Menstruasi
Jenis Keluhan Frekuensi
n %
Sakit kram di bawah perut 18 9,2
Pusing 13 6,7
Mual 3 1,5
Muntah 2 1
Sakit pada payudara 39 20
Sakit pinggang 38 19,5
Lesu 16 8,2
Jerawat 25 12,8
Lebih emosional 41 21
Berdasarkan Tabel 18, jenis keluhan yang lebih banyak dirasakan oleh sampel yaitu lebih emosional dan rasa sakit pada payudara, dimana keluhan tersebut dalam menghambat produktivitas kerja sampel. Rata – rata keluhan tersebut mulai dirasakan sampel dua hari sebelum menstruasi.
Kategori Jenis Keluhan Sindrom Pra Menstruasi
Tabel 19 menjelaskan mengenai penjumlahan skor keluhan berdasarkan jenis keluhan menstruasi yang dialami oleh sampel kemudian dikategorikan menjadi tidak ada keluhan, ringan, sedang dan berat.
Tabel 19 Sebaran Sampel Berdasarkan Kategori Jenis Keluhan Sindrom Pra Menstruasi
Kategori Jenis Keluhan Sindrom pra menstruasi
Frekuensi
n %
Tidak ada keluhan 0 0
Ringan 19 35,2
Sedang 28 51,9
Berat 7 13,0
Total 54 100
Sebagian besar sampel (51,9%) memiliki kategori keluhan sedang. Hal ini diduga karena sebagian besar sampel selama sindrom pra menstruasi mengeluhkan lebih emosional dibandingkan dengan jenis keluhan yang lainnya. Dimana nilai skor keluhan untuk keluhan emosional bernilai rendah. Tidak ada