• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paradigma, Konsep dan Tujuan Hukum

BAB I : PEMIKIRAN PROF MAHADI TENTANG

1. Paradigma, Konsep dan Tujuan Hukum

Untuk memahami hukum secara utuh, maka hukum tidak dapat diamati dari satu perspektif saja. Demikian pandangan Prof. Mahadi10 yang sejalan dengan pandangan Gustav Redbruch. 11 Dalam kajian ilmu hukum, paling tidak tercatat tiga paradigma yang melahirkan konsep hukum yakni :

a. Paradigma filosofis - ideologis, yakni memandang hukum sebagai asas moralitas atau asas keadilan yang bernilai universal, dan menjadi bagian inheren dari sistem hukum alam, yang bertujuan untuk mewujudkan keadilan ;

b. Paradigma juridis - normatif yakni : hukum sebagai kaidah-kaidah positif yang berlaku pada suatu waktu tertentu dan tempat tertentu, dan terbit sebagai produk eksplisit suatu sumber kekuasaan politik tertentu yang berlegitimasi ; yang bertujuan untuk menciptakan kepastian hukum ;

lingkungan hidup bersama ditinjau dari segi politik atau dari segi hukum tata negara melainkan juga menjangkau lingkungan hidup bersama ditinjau dari sudut sosiologis.

10 Hukum menurut Prof. Mahadi merupakan satu sistem yang terdiri dari

berbagai komponen. Lebih lanjut lihat Mahadi, Falsafah Hukum Suatu Pengantar, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1989.

11 Gustav Radbruch, Rechts-Philosophie, K.F. Koehler Verlag Stuttgart,

46

c. Paradigma sosiologis - empiris yakni : hukum sebagai institusi sosial yang riil dan fungsional di dalam sistem kehidupan bermasyarakat, baik dalam proses-proses pemulihan ketertiban dan penyelesaian sengketa maupun dalam proses-proses pengarahan dan pembentukan pola-pola perilaku yang baru, yang bertujuan untuk memberi kemanfaatan bagi masyarakat. 12

Yang menarik dalam tulisan Prof. Mahadi, adalah kerap kali dalam pengantar tulisannya menggunakan pendekatan etimologi (bahasa) dan sejarah. Pendekatan sejarah menjadi pendekatan spesifik (khusus) dalam tulisan-tulisan Prof. Mahadi.

Kami mengambil tempat sedikit dalam bahagian ini untuk sekedar memberi uraian selintas tentang perspektif sejarah dalam melihat hukum.

Sama dengan kajian bidang ilmu lainnya, kajian (ilmu) bidang hukum juga mempunyai sejarahnya sendiri. Tempat sejarah hukum dalam sistematika ilmu pengetahuan ditempatkan dalam lapangan humaniora, bidang kajian (ilmu) sejarah. Kajian sejarah hukum adalah

12 F.S.C. Northrop, Cultural Values, dalam Sol Tax, ed., Antropological Today : Selections, Chicago University Press, Chicago, 1962, hal. 422-435, Herbert L.A. Hart,

The Concept of Law, Oxford University Press, London, 1972. : dan Leon H. Mayhew,

The Legal System serta Paul Bohannan, Law and Legal Institutions, kedua-duanya dalam David L. Sills, ed. International Encyclopedia of the Social Sciences,Mac Millan, New York, 1972, hal. 59-66 dan 73-78. Northrop sebenarnya menyebutkan 5 konsep, namun dua konsep yang diberikan olehnya (yaitu konsep Legal Realism dan konsep Kesenian) khusus untuk pembicaraan kali ini bukunya hanya mengulas konsep

47

sebuah kajian terhadap hukum dengan pendekatan (ilmu, metodologi, metode, teori) sejarah. Seperti apa hukum masa lampau, bagaimana cara mengetahui hukum yang berlaku pada priode tertentu, bagaimana bentuk hukum dan penegakannya pada berbagai preodik, bagaimana perubahan hukum dari satu masa ke masa berikutnya, apakah ada kausalitas antara pemberlakuan hukum pada masa lalu dengan pilihan (politik) hukum pada masa berikutnya. Begitu juga dengan pertanyaan apakah pada abad modern secara simetris hukum berjalan seiring dengan lahirnya hukum modern pula. Itu adalah sebahagian saja dari pertanyaan-pertanyaan yang memiliki keterkaitan dengan studi sejarah.

Dalam konteks hukum Indonesia, keberadaan hukum Indonesia hari ini tidak terlepas dari dinamika perjalanan sejarah politik hukum sejak jaman Hindia Belanda (dan bahkan sebelumnya) hingga pasca kemerdekaan. 13 Upaya untuk membangun tatanan (sistem) hukum Indonesia adalah sebuah upaya politik yang memang secara sadar dilaksanakan yakni dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang berakar pada transformasi kultural budaya Indonesia asli dan dikombinasikan dengan budaya (hukum) asing yang berasal dari luar dengan segala keberhasilan dan kegagalannya.

(a) dan (b) saja, sedangkan Mayhew dan Bohannan memaksudkan hukum semata-mata dalam konsep tersebut (c).

13 Sebelum masuknya Pemerintah Kolonial Belanda tatanan masyarakat

nusantara telah memiliki hukum asli berupa norma adat, norma agama dan norma kebiasaan yang oleh Van Bollenhoven disebutnya sebagai adat recht, lihat Ter Haar,

48

Transformasi kultural ini di dalamnya menyiratkan transplantasi hukum (yang juga adalah merupakan bahagian dari sub sistem politik dan sub sistem budaya) yang berasal dari proses perjalanan sejarah peradaban Bangsa Indonesia. Pada hakekatnya tidak ada suatu produk hukum yang lahir di Indonesia tidak bersumber dari proses transformasi kultural yang berpangkal pada budaya yang beraneka ragam dan transplantasi budaya asing dalam proses yang disebut sebagai akulturasi dan inkulturasi.

Dalam konteks ini, studi sejarah hukum akan menjadi lebih kaya dengan pemanfaatan ilmu-ilmu sosial seperti ilmu politik, ilmu ekonomi, sosiologi dan antropologi. Sejarah hukum tidak dapat dilepaskan dari perjalanan terbentuknya peradaban suatu bangsa.

Sejak awal perkembangan tata hukum Indonesia yang bersumber dari hukum kolonial, demikian Soetandyo Wignjosoebroto 14 mengungkapkan adalah perkembangan yang sangat dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan liberalisme yang mencoba untuk membukakan peluang-peluang lebar pada dan untuk modal-modal swasta dari Eropa guna ditanamkan kedalam perusahaan-perusahaan besar di daerah jajahan15 (namun juga dengan maksud di lain pihak tetap juga melindungi kepentingan hak-hak masyarakat adat ataupun hak-hak

14 Soetandyo Wignjosoebroto, Dari Hukum Kolonial ke Hukum Nasional Dinamika Sosial-Politik Dalam Perkembangan Hukum di Indonesia, Rajawali Pers, Jakarta, 1994, hal. 3.

15 Sebagai contoh adalah pembukaan besar-besaran lahan perkebunan

49

pertanian tradisional masyarakat pribumi). Perlindungan itu diberikan dengan cara mengefektifkan berlakunya hukum untuk rakyat pribumi, dengan memberi ruang berlakunya hukum adat.

Formula yang digunakan adalah pemerintah Hindia Belanda membagi 3 (tiga) golongan penduduk (di wilayah Hindia Belanda ketika itu) 16 Penduduk di wilayah jajahan Hindia Belanda ketika itu dikelompokkan atas 3 (tiga) golongan yaitu :

1. Golongan Eropa atau yang dipersamakan dengan Eropa

2. Golongan Timur Asing (Timur Asing Tionghoa dan Timur Asing lainnya seperti Arab dan India).

3. Golongan Bumi Putera (penduduk Indonesia asli).

Terhadap ketiga golongan penduduk ini diberlakukan hukum yang berbeda-beda. Untuk golongan Eropa atau yang dipersamakan dengan Eropa misalnya diberlakukan hukum Eropa yakni hukum Belanda yang berakar pada tradisi hukum Indo-Jerman dan Romawi- Kristiani yang dimutahirkan lewat berbagai revolusi yang kemudian dalam lapangan hukum perdata dimuat dalam Burgerlijk Wetboek (BW) dan Wetboek van Koophandel (WvK) atau yang dikenal dengan Kitab Undang-undang Hukum Dagang. Sedangkan untuk golongan Timur Asing Tionghoa sebahagian dinyatakan berlaku hukum perdata Belanda tersebut kecuali mengenai adopsi dan kongsi. Terakhir terhadap

16 Melalui Pasal 75 RR Lama dan kemudian diubah dengan 75 RR Baru yang

sebelumnya juga telah dimuat dalam Pasal 6-10 AB dan terakhir dengan Pasal 131 dan 163 IS. Lihat lebih lanjut E. Utrecht dan Moh. Saleh Djindang, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, Ichtiar Baru, Jakarta, 1983, hal. 167.

50

golongan Bumi Putera diberlakukan hukum adat, kebiasaan dan hukum agamanya atau yang dikenal dengan Godien Stigwetten, Volkinstelingen en Gubreiken. 17

Ada upaya pemerintah Hindia Belanda untuk mensejajarkan berlakunya hukum di negaranya dengan hukum yang berlaku di daerah jajahannya. Kebijakan ini kemudian dikenal dengan penerapan azas konkordansi. Meskipun kemudian kebijakan penerapan azas konkordansi ini mendapat perlawanan dari ilmuwan hukum Bangsa Belanda sendiri seperti Van Vollenhoven dan Ter Haar. 18

Dalam bidang hukum perdata, hukum dagang, dan hukum pidana serta hukum acara pidana dan perdata begitu juga hukum-hukum lain yang tersebar secara sporadis ada upaya untuk melakukan kodifikasi dan

17 Dengan latar belakang inilah kemudian Prof. Mahadi menulis buku dengan

tema Perkembangan Hukum Antar Golongan di Indonesia dalam lima jilid yang beliau selesaikan pada tahun 1970. Kata “perkembangan” menunjukkan perjalanan dengan perspektif sejarah .

18 Lihat lebih lanjut, Soetandyo Wignjosoebroto, Hukum Paradigma, Metode dan Dinamika Masalahnya, ELSAM, Jakarta, 2002, hal. 266. Kisah ini diawali dari para pejabat Eropa yang direkrut untuk mengisi jabatan dalam pemerintahan kolonial dan untuk itu perlu pendidikan secara khusus di berbagai kota di Belanda yaitu di Leiden, Delf dan Utrecht yang sebahagian besar diajarkan mengenai hukum, bahasa, adat, kebiasaan dan lembaga-lembaga agama rakyat pribumi di daerah koloni. Di ketiga kota yang beroperasi lembaga pendidikan itu Leiden tercatat paling besar dan paling banyak berpengaruh karena Rijks Univesiteit yang berkedudukan di Leiden menjadi pusat pemikiran liberal yang menganut garis politik etis dalam menangani urusan koloni. Akan tetapi secara mengejutkan Leiden ternyata tidak bisa sejalan dengan rencana orang-orang resmi pemerintahan untuk menjalankan politik hukum pemerintah Hindia Belanda dan diantara orang-orang yang menggagalkan upaya itu adalah Van Vollen Hoven dan Ter Haar dikemudian hari lewat kedua orang inilah akhirnya orang- orang pribumi di Indonesia memiliki hukumnya sendiri yang kemudian dikenal dengan

Adat Rechts atau hukum adat yang untuk pertama kalinya dipergunakan oleh Snouck Hurgronje dalam bukunya De Atjech hers dan Het Gajo Land.

51

unifikasi hukum Eropa di tanah jajahan dijalankan dengan memberlakukan hukum yang berasal dari dalam negerinya. Pemberlakuan hukum Kolonial dengan asas konkordansi ini dikemudian hari menciptakan keadaan pluralisme hukum yang sebelumnya juga telah dipicu oleh perbedaan struktur dan kultur masyarakat Indonesia yang memang dilatarbelakangi oleh suasana pluralisme.

Dapat dikatakan bahwa dampak dari dinamika pilihan politik hukum Pemerintah Hindia Belanda tersebut sampai hari ini membuahkan hasil pluralisme hukum yang tidak berkesudahan. Ditambah lagi pasca kemerdekaan pemerintah Indonesia sendiri melakukan pilihan politik hukum yang tersendiri pula untuk memenuhi tuntutan tatanan hukum Indonesia pasca kemerdekaan. Tampaknya faktor politik tidak pernah lepas dari rangkaian kegiatan penyusunan tata hukum di Indonesia.

Dalam konteks global, pengaruh tekanan politik asing (luar negeri) terus menerpa kebijakan pembangunan hukum di Indonesia. Terutama pasca ratifikasi GATT/WTO 1994 sebagai instrument globalisasi ekonomi (namun tetap membawa dampak pada sistem sosial lainnya) yang mengharuskan Indonesia menyesuaikan beberapa peraturan perundang-undangannya khususnya dalam lapangan Hak Kekayaan Intelektual dengan TRIPS Convention yang merupakan instrumen hukum hasil Putaran GATT/WTO 1994, lapangan hukum investasi, lapangan hukum lingkungan, lapangan hukum perbankan dan bidang-bidang hukum ekonomi lainnya serta lapangan hukum yang terkait dengan perlindungan hak asasi manusia.

52

Dominasi politik asing dan kepentingan politik negara maju tidak dapat dilepaskan dari langkah-langkah kebijakan negara Indonesia dalam penyusunan peraturan perundang-undangan di Indonesia bahkan undang- undang dalam bidang politik dan keamanan. Faktor yang turut mempengaruhi pilihan kebijakan politik itu tidak lain dikarenakan lemahnya penguasaan kapital dalam negeri Indonesia, rendahnya tingkat kemampuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, sumber daya manusia Indonesia dan memburuknya sistem pengelolaan manajemen negara. Inilah yang menurut M. Solly Lubis 19 sebagai sebuah kelemahan yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia dengan ungkapan sebagai berikut :

Mereka (negara maju, pen) memiliki dan menguasai keunggulan strategis dalam tiga hal, yakni keunggulan capital (funds and equipment) keunggulan teknologi canggih dan keunggulan manajemen yang cukup rapid an tersistem dengan apik.

Kelemahan dan ketergantungan kita di tiga bidang itu, sekaligus membuktikan lemahnya kemandirian kita dan ketergantungan inilah yang menyebabkan kita tidak bisa mengelakkan intervensi dan berbagai dikte terbuka ataupun terselubung oleh negara- negara lain itu terhadap kita.

Bahkan disana-sini terasa sebagai eksploitasi ekonomi, dominasi politis dan penetrasi kultur, tiga target mana adalah merupakan tiga target utama pada kaum kolonialis-imperalis dan kapitalis. Dominasi kebijakan politik ekonomi asing di Indonesia sebenarnya tidak hanya dimulai pada saat ratifikasi konvensi-konvensi

19 Lihat lebih lanjut M. Solly Lubis M. Solly Lubis, Serba-Serbi Politik & Hukum, PT. Sofmedia, Jakarta, 2011, hal. 97. Lihat juga Sritua Arief & Adi Sasono,

53

yang berkaitan dengan perdagangan internasional seperti GATT/WTO serta konvensi-konvensi internasional lainnya. Perebutan negara-negara yang hari ini sebagai penguasa ekonomi di dunia yang tergabung dalam negara industri maju seperti G-8 dan G-20 berawal dari perjalanan sejarah yang cukup panjang. Peristiwa yang melatar belakangi munculnya Perang Dunia ke-2 adalah tidak terlepas dari perebutan sumber-sumber ekonomi yang ada di berbagai belahan bumi. Ekspansi negara-negara Eropa ke Asia, sebut saja misalnya Inggris ekspansi ke India, Burma, Hongkong dan Malaysia, Prancis ekspansi ke Indocina (Laos, Kamboja dan Vietnam), Belanda ekspansi ke Indonesia bahkan Amerika dengan sekutunya Inggris, Prancis dan Belanda turut mengontrol aktivitas di kawasan Pasifik. Sampai hari ini, negara-negara maju tersebut termasuk Jepang meskipun kalah dalam Perang Asia Timur Raya melawan negara-negara sekutu (Amerika dan Eropa) dominasi dalam politik ekonomi semakin hari semakin menguat hingga hari ini. Catatan yang dikemukakan oleh Stephen E. Ambrose dan Douglas G. Brinkley, 20 memberikan pencerahan untuk sampai pada suatu kesimpulan bahwa kekuatan politik ekonomi di berbagai belahan Asia masih dan akan terus berada di bawah bayang-bayang kekuatan Barat (Amerika dan Eropa Barat) :

On the other side of the world the United States, in combination with the British, French and Dutch, still ruled the Pacific. American Control of Hawaii and the Philippines, Dutch control

20 D Stephen E. Ambrose and Douglas G. Brinkley, Rise to Globalism, American Foreign Policy Since 1938, Penguin Books, London, 2011, hal. 1.

54

of the Netherlands East Indies (N.E.I., today’s Indonesia),

French control of Indochina (today’s Laos, Cambodia (Democratic Kampuchea), and Vietnam), and British control of India, Burma, Hong Kong and Malaya gave the Western powers a dominant position in Asia. Japan, ruled by her military, was aggressive, determined to end white man’s rule in Asia, and thus a threat to the status quo. But Japan lacked crucial natural resources, most notably oil, and was tied down by her war in China.

Pada hakekatnya uraian itu akan mencoba mencari jawabannya melalui studi sejarah dan perbandingan hukum. Trend studi hukum ke depan akan membawa kecenderungan ke arah studi hukum yang multi paradigma itu, sebagaimana disederhanakan dalam matrik berikut ini.

Matrik 1

Paradigma, Konsep, Tujuan dan Bidang Kajian Hukum

Paradigma Konsep Tujuan Bidang Kajian

Hukum

a. Filosofis hukum ideologi

Hukum sebagai asas moralitas atau asas keadilan yang bernilai universal

Keadilan filsafat

b.Juridis/norma tif

Hukum sebagai kaidah/norma sebagai produk eksplisit dari sumber kekuasaan politik yang sah

Kepastian hukum Jurisprudence (ilmu hukum normatif) c. Sosiologis/hu

kum empiris

Hukum sebagai institusi sosial yang riil dan fungsional dalam sistem kehidupan bermasyarakat

Kemanfaatan Sosiologi Antropologi Politi hukum Psikologi hukum Law and Society Law in Action d.Historis Hukum dimaknai sebagai gagasan atau

ide, sekumpulan norma dan sebagai instrument atau lembaga yang berada pada ruang sosial pada masa atau periode waktu tertentu dengan segala dinamikanya

Melihat dinamika hukum masa lalu untuk merumuskan hukum masa depan

Sejarah hukum

e. Metodologis/ comparative law

Sekumpulan ide, norma yang lahir pada ruang sosial yang berbeda-beda sistem, struktur dan kultur, kurun waktu yang menyebabkan perbedaan pada pemberian makna dan sikap serta perilaku hukum masyarakatnya.

Untuk bahan pertimbangan dalam pilihan politik hukum guna merumuskan sistem hukum yang lebih baik

Studi perbandingan hukum.

55

Konsep tersebut pada butir (a) di atas adalah konsep yang berwarna moral dan filosofis, yang melahirkan cabang kajian hukum yang amat moralistis dengan bidang kajiannya Filsafat Hukum. Konsep tersebut pada butir (b) merupakan konsep positivistis - tidak hanya yang Austinian melainkan juga yang pragmatik-realis dan yang Neo-Kantian atau Kelsenian - yang melahirkan kajian-kajian ilmu hukum positif atau dalam terminologi Anglo Saxon disebut "jurisprudence". Konsep-konsep tersebut pada butir (c) adalah konsep sosiologi atau antropologi, yang kemudian melahirkan kajian-kajian sosiologi hukum, antropologi hukum, atau juga cabang kajian yang akhir-akhir ini banyak dikenal dengan nama "Hukum dan Masyarakat", atau Law in Society, Law in action. Konsep sebagaimana dimaksud dalam butir d, adalah konsep historis, dimana hukum dimaknai sebagai gagasan atau ide, sekumpulan norma dan sebagai instrument atau lembaga yang berada pada ruang sosial pada masa atau periode waktu tertentu dengan segala dinamikanya seperti yang diperkenalkan oleh Friedrich Carl von Savigny dan pelopor berikutnya Alan Watson. Akhirnya ada kecenderungan yang berkembang akhir-akhir ini yakni paradigma comperative law, yang melahirkan konsep hukum sebagaimana dimaksud dalam butir (e), di mana hukum dimaknai sebagai sekumpulan ide, norma yang lahir pada ruang sosial yang berbeda-beda sistem, struktur dan kultur, kurun waktu yang menyebabkan perbedaan pada pemberian makna dan sikap serta perilaku

56

hukum masyarakatnya. Pendekatan melalui studi perbandingan hukum ini dengan baik diperkenalkan oleh Werner Menski 21 dan Esin Orucu. 22

Kelima paradigma hukum ini sebenarnya telah digeluti oleh Prof. Mahadi dalam perjalanan karir akademiknya. Hanya saja pada waktu itu Prof. Mahadi belum mensistematiskannya dalam uraian-uraian yang lebih terinci. Namun demikian, betapapun juga kecenderungan terhadap kajian hukum yang berkembang akhir-akhir ini bukanlah hal yang baru dalam pandangan Prof. Mahadi. Butir-butir pemikiran beliau yang tersebar dalam berbagai naskah menunjukkan ketajaman visi beliau dalam melihat bidang kajian (ilmu) hukum ke depan. Beliau adalah seorang visioner hukum sejati yang pernah dilahirkan oleh bangsa ini.

Dokumen terkait