• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paradigma Pembangunan

Dalam dokumen (STUDI KASUS KABUPATEN KLATEN) (Halaman 42-47)

BAB II Konsep-Konsep Pembangunan

C. Paradigma Pembangunan

Paradigma pembangunan selalu mengalami perubahan. Saat ini paradigma pembangunan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. “Tugas pembangunan merupakan tanggung jawab seluruh komponen masyarakat dan bukan tugas pemerintah semata-mata” (Siagian, 2007:142). Hal ini bermakna bahwa pemerintah tidak lagi sebagai provider dan pelaksana, melainkan lebih berperan sebagai fasilitator dan katalisator dari dinamika pembangunan. Masyarakat memiliki peran penting mulai dari perencanaan pembangunan hingga

evaluasi. Masyarakat mempunyai hak untuk terlibat dalam memberikan masukan dan mengambil keputusan. Dengan adanya partisipasi masyarakat, diharapkan hasil pembangunan dapat dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat.

Pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah tentunya memiliki tujuan untuk mencapai masyarakat yang sejahtera. Sehingga posisi masyarakat merupakan posisi yang penting dalam proses pelaksanaan pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Keberhasilan dalam pembangunan dapat dilihat dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pembangunan partisipasi masyarakat merupakan hal yang sangat mempengaruhi keberhasilan proses pembangunan itu sendiri. Surmayadi (2010:46) partisipasi berarti peran serta seseorang atau kelompok masyarakat dalam proses pembangunan baik dalam bentuk pernyataan maupun dalam bentuk kegiatan dengan memberi masukan pikiran, tenaga, waktu, keahlian, modal dan atau materi, serta ikut memanfaatkan dan menikmati hasil-hasil pembangunan.

Partisipasi sebagai salah satu elemen pembangunan merupakan proses adaptasi masyarakat terhadap perubahan yang sedang berjalan. Sumodiningrat menambahkan, bahwa syarat yang harus terdapat dalam proses pembangunan berkelanjutan adalah dengan mengikutsertakan semua anggota masyarakat/rakyat dalam setiap tahap pembangunan (Sumodiningrat, 1988). Conyers (1991) memberikan tiga alasan utama sangat pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, yaitu: (1) Partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan dan proyek akan gagal, (2) Masyarakat mempercayai program pembagunan jika dilibatkan

dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena masyarakat lebih mengetahui seluk beluk proyek dan merasa memiliki proyek tersebut, (3) Partisipasi merupakan hak demokrasi masyarakat dalam keterlibatannya di pembangunan.

Peran serta masyarakat telah menunjukkan buktinya dalam kesuksesan pembangunan. Kemajuan spektakuler dalam pengembangan demokrasi deliberatif (musyawarah/mufakat) terjadi di negara Brazil melalui partisipasi warga dalam proses penyusunan anggaran yang disebut Participatory Budgeting.

Participatory Budgeting pada awalnya diterapkan di kota Porto

Alegre yang kemudian menyebar ke kota-kota lainnya di negara tersebut. Prestasi gemilang Kota Porto Alegre disebabkan sistem pemerintahan yang mampu menerapkan “administrasi populer” (International Institute for Environment and Development, 2002). Ciri utamanya adalah administrasi pemerintah yang mengadopsi model demokrasi partisipatoris, yaitu keterlibatan masyarakat dalam empat hal : (1) pengalokasian dalam sistem anggaran, (2) re-orientasi prioritas publik oleh masyarakat, (3) integrasi kebijakan pengelolaan lingkungan, dan (4) regenerasi ruang-ruang publik. Karena penerapannya sangat berhasil, model Participatory

Budgeting dijadikan sebagai referensi dunia internasional dalam

mengembangkan demokrasi di tingkat daerah dalam rangka membangun tata pemerintahan daerah yang baik (good local

governance), yang menjadi sasaran pembangunan millenium pada

saat ini (the millennium development goals) (Carbanes,2003)

Partisipasi masyarakat dalam pembangunan juga menjadi paradigma baru dalam pembangunan di Indonesia. Pentingnya keterlibatan masyarakat di dalam penyusunan perencanaan pembangunan sangat ditekankan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

Peraturan tersebut menekankan adanya pendekatan partisipatif masyarakat. Pendekatan ini kemudian diatur dalam empat pasal yaitu Pasal 2, Pasal 5, Pasal 6 dan Pasal 7. Sistem perencanaan yang diatur dalam UU Nomor 25 Tahun 2004 dan aturan pelaksanaannya menerapkan kombinasi pendekatan antara top-down ( atas-bawah) dan bottom-up (bawah-atas), yang lebih menekankan cara-cara aspiratif dan partisipatif. Aturan ini menegaskan nahwa perencanaan pembangunan dan pelaksanaannya harus berorientasi ke bawah dan melibatkan masyarakat luas. Alexander Abe (2002) mengemukakan pengertian perencanaan partisipatif sebagai perencanaan yang dalam tujuannya melibatkan kepentingan masyarakat, dan dalam prosesnya melibatkan rakyat (baik secara langsung maupun tidak langsung) tujuan dan cara harus dipandang sebagai satu kesatuan. Suatu tujuan untuk kepentingan rakyat dan bila dirumuskan tanpa melibatkan masyarakat, maka akan sangat sulit dipastikan bahwa rumusan akan berpihak pada rakyat.

Dalam mewadahi pembangunan yang bersifat menyeluruh dan dari bawah, wewenang perencanaan dan pelaksanaan pembangunan diserahkan di tingkat daerah. Pembangunan daerah merupakan seluruh pembangunan yang dilaksanakan di daerah dan meliputi aspek kehidupan masyarakat, dilaksanakan secara terpadu dengan mengembangkan swadaya gotong royong serta partisipasi masyarakat secara aktif. Dalam hubungan ini pembangunan daerah diarahkan untuk memanfaatkan secara maksimal potensi sumber daya alam dan mengembangkan sumber daya manusia dengan meningkatkan kualitas hidup, keterampilan, prakarsa dengan bimbingan dan bantuan dari pemerintah. Hal ini telah diatur dalam UU no 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah. Berdasarkan pasal 258 ayat 1 UU no 23 tahun 2014, daerah melaksanakan pembangunan untuk peningkatan dan pemerataan pendapatan

masyarakat, kesempatan kerja, lapangan berusaha, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan publik dan daya saing daerah. Pasal 261 ayat 1 juga menjelaskan bahwa pelaksanaan perencanaan pembangunan, daerah menggunakan pendekatan teknokratik, partisipatif, politis, serta atas-bawah dan bawah-atas. Pasal ini bermaksud bahwa pembangunan di daerah harus selaras dengan pembangunan nasional, namun harus tetap memperhatikan kondisi daerah dan kebutuhan masyarakat setempat. Untuk itulah pendekatan partisipatif sangat dibutuhkan dalam mensukseskan pembangunan daerah, sehingga hasilnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah meliputi beberapa aspek dalam pembangunan. Pasal 354 ayat 2 UU No 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah dapat mencakup penyusunan Perda dan kebijakan Daerah yang mengatur dan membebani masyarakat; perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemonitoran, dan pengevaluasian pembangunan Daerah; pengelolaan aset dan/atau sumber daya alam Daerah; dan penyelenggaraan pelayanan public. Dalam peraturan terssebut peran masyarakat dalam pembangunan mencakup perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemonitoran, dan pengevaluasian pembangunan Daerah. Partisipasi ini dapat berbentuk konsultasi publik, musyawarah, kemitraan, penyampaian aspirasi, pengawasan atau bentuk lain. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah juga diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Dengan cara ini pemerintah mampu menyerap aspirasi masyarakat, sehingga pembangunan yang

dilaksanakan dapat memberdayakan dan memenuhi kebutuhan rakyat banyak. Rakyat harus menjadi pelaku dalam pembangunan. Masyarakat perlu dibina dan dipersiapkan untuk dapat merumuskan sendiri permasalahan yang dihadapi, merencanakan langkah-langkah yang diperlukan, melaksanakan rencana yang telah diprogramkan, menikmati produk yang dihasilkan dan melestarikan program yang telah dirumuskan dan dilaksanakan. Berdasarkan latar belakang tersebut, kabupaten Klaten perlu melakukan evaluasi kinerja pembangunan dari perpsektif masyarakat dan menjaring aspirasi masyarakat untuk rencana pembangunan berikutnya.

Dalam dokumen (STUDI KASUS KABUPATEN KLATEN) (Halaman 42-47)

Dokumen terkait