• Tidak ada hasil yang ditemukan

(STUDI KASUS KABUPATEN KLATEN)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "(STUDI KASUS KABUPATEN KLATEN)"

Copied!
407
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

PELAYANAN PUBLIK, PERSEPSI

PEMBANGUNAN DAN LOCAL AREA

CITY BRANDING: KONSEP DAN STRATEGI

(STUDI KASUS KABUPATEN KLATEN)

Oleh:

Dr. Drs. H. Suwardi, M.Si

Dr. Achmad Choerudin, ST., SE., MM

Joko Pramono, S.Sos. M.Si

Dra. Sri Riris Sugiyarti, M.Si

Hasna Wijayati, S.IP, M.A.

Penerbit

(3)

PELAYANAN PUBLIK, PERSEPSI

PEMBANGUNAN DAN LOCAL AREA CITY

BRANDING: KONSEP DAN STRATEGI

(STUDI KASUS KABUPATEN KLATEN)

Penulis:

Dr. Drs. H. Suwardi, M.Si Dr. Achmad Choerudin, ST., SE., MM

Joko Pramono, S.Sos. M.Si Dra. Sri Riris Sugiyarti, M.Si

Hasna Wijayati, S.IP, M.A.

Penyunting: Nuniek Prasetyowati ISBN: 978-623-96670-0-9 Desain sampul dan tata letak:

Anindyo Mahendra Prasetyo

Penerbit: UNISRI Press

Redaksi:

Jalan Sumpah Pemuda No 18. Joglo, Banjarsari, Kota Surakarta [email protected]/ press.unisri.ac.id

Anggota APPTI

Dicetak oleh “Percetakan Kurnia” Solo

Cetakan Pertama, Maret 2021 Copyright © 2021

ISI MENJADI TANGGUNG JAWAB PENULIS

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku tanpa izin tertulis dari penerbit.

(4)

Prakata

Puii dan syukur kehadirat Allah Yang Maha Esa, atas berkat karunia-Nya sehingga penyusunan buku dengan judul "Pelayanan Publik, Persepsi Pembangunan dan Lokal Area City Branding: Konsep dan Strategi' dengan penyusun Tim Peneliti dari Universitas Slamet Riyadi Surakarta (Unisri Press) bisa terealisasi dengan baik.

Buku ini merupakan hasil kajian yang dilakukan Tim Peneliti dari Universitas Slamet Riyadi dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Klaten bertujuan untuk memberikan gambaran terkait kinerja dan prioritas pembangunan Kabupaten Klaten yang dijalankan dalam waktu dari tahun 2018 sampai tahun 2020 melalui kajian ilmiah tentang pelayanan publik, persepsi pembangunan dan lokal area city branding dengan gagasan atau konsep dan cara pencapaian kinerja melalui strategi yang komprehensif sesrrai d,engan visi dan misi Pemerintah Kabupaten Klaten.

Selain itu, buku ini disusun sebagai salah satu pertimbangan, gagasan dan rekomendasi dalam arah pembangunan daerah. merupakan hasil kompilasi dari rangkaian penelitian yang dilakukan dalam waktu 3 (tiga) tahun. Buku memberikan hasil yang baik, sejauhmana pembangunan yang sejalan dengan spirit, ruh dari keinginan masyarakat Kabupaten Klaten serta diwujudkan melalui sinergi yang baik antara stakeholders terkait dengan masyarakat di Kabupaten Klaten. Pada akhirnya, diharapkan buku hasil kajian ini mampu menghasilkan masukan-masukan yang lebih baik bagi pemerintahan dan pembangunan daerah. Tentunya, bisa terealisasi

(5)

dalam kebijakan dan implementasi daerah, sehingga tujuan pembangunan bisa tercapai secara adil dan merata.

Dengan tersusunnya buku ini, sangart membantu peran dan tugas Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kabupaten Klaten sebagai pengambil kebijakan, koordinator perencanaan pembangunan daerah serta pusat penelitian dan pengembangan semakin kuat dalam rangka mendukung pencapaian visi, misi dan tujuan Pembangunan Daerah.

Untuk itu ucapan terima kasih dan apresiasi yang tinggi, kepada Tim Peneliti sekaligus Penyusun Buku dari Universitas Slamet Riyadi Surakarta atas terbitnya buku ini. Semoga bermanfaat dalam kontribusi Pembangunan Daerah di Kabupaten Klaten.

Atas kerjasama, kontribusi, partisipasi dan dukungannya disampaikan terima kasih.

(6)

Kata Pengantar

Rasa syukur yang setinggi-tingginya, kami haturkan ke hadirat Allah Yang Maha Kuasa. Dengan izin dan bimbingan Allah Ta’ala, tim peneliti mampu menyelesaikan rangkaian riset dengan roadmap kajian pembangunan Kabupaten Klaten. Riset mengenai pembangunan di Kabupaten Klaten telah dilakukan selama tiga tahun. Tim juga mengucap terima kasih atas dukungan Bappeda Klaten dalam mendukung kelancaran rangkaian riset ini.

Kepercayaan yang diberikan oleh pemerintahan Kabupaten Klaten mendukung kami dalam mengaktualisasikan keilmuan kami di tengah masyarakat Klaten. Harapan kami, apa yang kami sampaikan di sini dapat memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat Klaten, termasuk demi mendukung pembangunan nasional.

Melalui riset terkait kajian terhadap Persepsi Masyarakat Terhadap Kinerja Pembangunan atau Pemerintah Kabupaten Klaten ini, diharapkan dapat memberikan gambaran terkait kinerja dan prioritas pembangunan Kabupaten Klaten yang dijalankan dalam waktu 2018-2020. Aspek penelitian yang disajikan dalam buku ini sangat luas, mengingat merupakan hasil kompilasi dari rangkaian penelitian yang dilakukan dalam waktu tiga tahun. Diharapkan, melalui buku ini, dapat dipetakan sejah mana pembangunan yang sejalan dengan ruh dari keinginan masyarakat serta diwujudkan

(7)

melalui sinergi yang baik antara stakeholders dengan masyarakat di Kabupaten Klaten. Pada akhirnya, diharapkan kajian ini mampu menghasilkan masukan-masukan yang lebih baik bagi pemerintahan dan pembangunan daerah.

Akhir kata, kami menyampaikan terima kasih kepada para pembaca. Semoga hasil riset ini dapat berkontribusi positif bagi pembangunan Klaten pada khususnya, serta pembangunan Indonesia pada umumnya. Tak lupa, tim peneliti menyampaikan permohonan maaf apabila dalam penyusunan buku kompilasi hasil riset ini terdapat keterbatasan dan kelemahan.

Klaten, 1 Januari 2021 Tim Peneliti

(8)

Daftar Isi

Prakata...ii

Kata Pengantar... v

Daftar Isi...vii

Daftar Tabel... ix

Daftar Gambar... xix

BAB I SELAYANG PANDANG... 1

A. Deskripsi Kabupaten Klaten...1

B. Pembangunan Kabupaten Klaten... 7

C. Perspektif Masyarakat dalam Pembangunan Klaten...12

BAB II Konsep-Konsep Pembangunan...14

A. Pemerintahan Daerah...14

B. Otonomi Pemerintah Daerah...18

C. Paradigma Pembangunan...21

D. Perencanaan Pembangunan...26

E. Pembangunan Partisipatif...28

F. Pengukuran Kualitas Pembangunan... 34

G. Kebijakan Pembangunan Daerah... 36

H. Arah Kebijakan Umum APBD...39

I. City Branding...41

Bab III Konsep-Konsep Pelayanan Publik... 44

(9)

B. Kualitas Pelayanan Publik... 49

C. Indeks Kepuasan Masyarakat...51

D. Aspirasi Masyarakat dan Kualitas Pembangunan...53

Bab IV Persepsi Pembangunan Kabupaten Klaten 2018...58

A. Persepsi Masyarakat dalam Pelayanan... 58

B. Persepsi Masyarakat dalam Kepemimpinan...131

C. Persepsi Komunikasi Pembangunan... 143

BAB V Persepsi Pembangunan Kabupaten Klaten 2019... 154

A. Metode Penelitian... 154

B. Persepsi Kualitas Layanan...158

BAB VI Persepsi Pembangunan Kabupaten Klaten 2020... 297

A. Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap Kinerja PEMKAB KLATEN 2020... 297

B. Capaian Keberhasilan Pemkab Klaten...309

C. Aspirasi Masyarakat dalam City Branding...319

Bab VII Identifikasi Lokal Area City Brandig... 353

Daftar Pustaka...379

(10)

Daftar Tabel

TABEL 1. 1 Jumlah Desa / Kelurahan per Kecamatan di

Kabupaten Klaten...4 Tabel 1. 2 Distribusi pendudukan dan luas Wilayah per

Kecamatan Kabupaten Klaten...6 Tabel 5. 1 Niai Persepsi, Nilai Interval, NIlai Interval Konversi,

Mutu Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan... 157 Tabel 5. 2 Distribusi jawaban persepsi kualitas pendidikan

Sekolah Dasar...159 Tabel 5. 3 Distribusi Jawaban Persepsi Pengeluaran Rumah

Tangga Untuk Biaya Sekolah Dasar...161 Tabel 5. 4 Distribusi jawaban Persepsi Kondisi Sarana Dan

Prasarana Sekolah Dasar...162 Tabel 5. 5 Distribusi Data Persepsi Kemampuan Guru Dalam

Mengajar SD...164 Tabel 5. 6 Distribusi data Persepsi Perlakukan Adil Untuk

Menyekolahkan Anak di SD... 166 Tabel 5. 7 Skor IKM pelayanan pendidikan Sekolah Dasar....168 Tabel 5. 8 Distribusi data persepsi kualitas pendidikan SMP 169 Tebe 5. 9 Distribusi data persepsi pengeluaran rumah tangga

(11)

Tabel 5. 10 Distribusi data persepsi sarana dan prasarana SMP ...172 Tebel 5. 11 Distribusi data persepsi persepsi kemampuan guru

SMP mengajar...174 Tabel 5. 12 Distribusi data persepsi perlakukan adil untuk

menyekolahkan Anak di SMP...176 Tabel 5. 13 Skor IKM Pelayanan Pendidikan SMP... 178 Tabel 5. 14 Distribusi Data Persepsi Kualitas Pelayanan

Puskesmas...179 Tabel 5. 15 Distribusi Data Persepsi Biaya Berobat Ke

Puskesmas...181 Tabel 5. 16 Distribusi Data Persepsi Sarana Dan Prasarana Fisik

Puskesmas...183 Tabel 5. 17 Distribusi Data Persepsi Kemampuan Petugas

Puskesmas Mengobati Pasien...185 Tabel 5. 18 Distribusi Data Persepsi Perlakukan Adil Petugas

Puskesmas...187 Tabel 5. 19 Skor Ikm Pelayanan Puskesmas... 189 Tabel 5. 20 Distribusi Data Persepsi Kualitas Pelayanan RSUD

Bagas Waras...190 Tabel 5. 21 Distribusi Data Persepsi Biaya Berobat RSUD Bagas

(12)

Tabel 5. 22 Distribusi Data Persepsi Perlengkapan Medis RSUD Bagas Waras...193 Tabel 5. 23 Distribusi Data Persepsi Kemampuan Petugas RSUD Bagas Waras Mengobati Pasien...195 Tabel 5. 24 Distribusi Data Persepsi Keramahan Petugas RSUD

Bagas Waras...197 Tabel 5. 25 Distribusi Data Persepsi Perlakuan Adil Petugas

RSUD Bagas Waras Ke Pasien...199 Tabel 5. 26 Skor IKM Pelayanan RSUD Bagas Waras... 201 Tabel 5. 27 Distribusi Data Persepsi Ketercukupan Bantuan

Sosial... 202 Tabel 5. 28 Distribusi Data Persepsi Keadilan Pembagian

Bantuan Sosial...204 Tabel 5. 29 Skor IKM Pelayanan Bantuan Sosial...206 Tabel 5. 30 Distribusi Data Persepsi Kemudahan Mengakses

Pelayanan KTP...207 Tabel 5. 31 Distribusi Data Persepsi Lama Waktu

Menyelesaikan KTP/KK... 209 Tabel 5. 32 Distribusi Data Persepsi Profesionalitas Petugas

Pelayanan KTP/KK... 211 Tabel 5. 33 Skor Ikm Pelayanan Administrasi Kependudukan

(13)

Tabel 5. 34 Distribusi Data Persepsi Penanganan Ganggunan Pencemaran Limbah Industri...214 Tabel 5. 35 Distribusi Data Persepsi Pengelolaan Sampah....216 Tabel 5. 36 Distribusi Data Persepsi Ketersediaan Ruang Publik, Taman Kota Dan Tempat Bermain...217 Tabel 5. 37 Distribusi Data Persepsi Kerapian Lingkungan

Kampung dan Perumahan... 219 Tabel 5. 38 Distribusi Data Persepsi Kondisi Drainasi/Got

Pembuangan Air...221 Tabel 5. 39 Distribusi Data Persepsi Ketercukupan Air Bersih

Sepanjang Tahun...223 Tabel 5. 40 Skor IKM Penataan Kampung dan Lingkungan

Permukiman...225 Tabel 5. 41 Distribusi Data Persepsi Ketertiban Penggunaan

Fasilitas Umum...226 Tabel 4. 42 Distribusi Data Persepsi Rasa Aman di Masyarakat

...228 Tabel 5. 43 Skor IKM Rasa Aman di Masyarakat...230 Tabel 5. 44 Distribusi Data Persepsi Kemudahan Mengakses

Pelayanan Perizinan...231 Tabel 5. 45 Distribusi Data Lama Waktu Menyelesaikan

(14)

Tabel 5. 46 Distribusi Data Persepsi Profesionalitas Petugas Pelayanan Perizinan...235 Tabel 5. 47 Skor IKM Pelayanan Perizinan...237 Tabel 5. 48 Distribusi Data Persepsi Kemudahan Melakukan

Pengaduan Kepada Aparat Pemerintah Daerah...238 Tabel 5. 49 Distribusi Data Persepsi Keterbukaan dan

Transparansi Aparatur Pemerintah Daerah...240 Tabel 5. 50 Skor IKM Pelayanan Pengaduan dan Transparansi

Aparat Pemerintah Daerah...242 Tabel 5. 51 Distribusi Data Persepsi Capaian Prestasi Olah Raga ...243 Tabel 5. 52 Distribusi Data Persepsi Pembinaan Olah Raga..245 Tabel 5. 53 Distribusi Data Persepsi Pembinaan Kepemudaan

...247 Tabel 5. 54 Skor IKM Pembinaan Kepemudaan dan Olahraga

...248 Tabel 5. 55 Distribusi Data Persepsi Kondisi Perdagangan....250 Tabel 5. 56 Distribusi Data Persepsi Kondisi Fisik Sentra

Perdagangan / Pasar... 252 Tabel 5. 57 Distribusi Data Persepsi Pembinaan UMKM...254 Tabel 5. 58 Distribusi Data Persepsi Keterjangkauan Harga

(15)

Tabel 5. 59 Distribusi Data Persepsi Ketersediaan Bahan Kebutuhan Pokok Masyarakat...258 Tabel 5. 60 Distribusi Data Persepsi Peran Pemerintah Daerah

Memajukan Pertanian Rakyat...260 Tabel 5. 61 Distribusi Data Persepsi Kemudahan Memperoleh

Pekerjaan Dan Penghasilan...262 Tabel 5. 62 Skor IKM Pembangunan Bidang Ekonomi...264 Tabel 5. 63 Distribusi Data Persepsi Ketersediaan Angkutan

Umum Secara Memadai... 266 Tabel 5. 64 Distribusi Data Persepsi Pengaturan Jalan Dan Lalu

Lintas...268 Tabel 5. 65 Distribusi Data Persepsi Kondisi Jalan Dan

Infrastruktur...270 Tabel 5. 66 Skor IKM Pelayanan Perhubungan dan Infrastruktur Jalan... 272 Tabel 5. 67 Distribusi Data Persepsi Kemajuan Seni Budaya

Masyarakat...273 Tabel 5. 68 Distribusi Data Persepsi Peran Pemerintah

Kabupatenmemfasilitasi Even Pentas Seni Dan

Kebudayaan...275 Tabel 5. 69 Skor IKM Pembangunan Seni Budaya... 277 Tabel 5. 70 Distribusi Data Persepsi Pelayanan Perpustakaan

(16)

Tabel 5. 71 Distribusi Data Persepsi Pelayanan Data Arsip

Daerah...280

Tabel 5. 72 IKM Pelayanan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah...281

Tabel 5. 73 Distribusi Data Persepsi Kinerja Program KB... 282

Tabel 5. 74 IKM Kinerja Program KB... 284

Tabel 5. 75 Distribusi Data Persepsi Ketertipan Organisasi Sosial Dan Organisasi Politik... 285

Tabel 5. 76 IKM Pemerintah Kabupaten Klaten...286

Tabel 5. 77 Indeks Kepuasan Masyarakat Kabupaten Klaten294 Tabel 5. 78Nilai Persepsi, Interval IKM, Interval Konversi IKM, Mutu Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan... 295

TABEL 6. 1 Skor IKM Pelayanan dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Klaten...297

TABEL 6. 2 Indeks Kepuasan Masyarakat Pelayanan Lembaga Pelayanan Daerah Klaten...306

TABEL 6. 3 Nilai Persepsi, Interval IKM, Interval Konversi IKM, Mutu Pelayanan dan Kinerja Unit Pelayanan Berdasarkan Permenpan RB No. 14 Tahun 2017...307

TABEL 6. 4 Tabel Nilai Konversi Rekomendasi...308

TABEL 6. 5 Nilai UMK Kabupaten Klaten...313

(17)

TABEL 6. 7 Data Produksi Tanaman Pangan di Kabupaten

Klaten tahun 2017-2019... 314

TABEL 6. 8 Indikator Lingkungan Hidup...315

TABEL 6. 9 Jumlah penduduk yang belum memiliki Akte Kelahiran dan KTP Elektronik...316

TABEL 6. 10 Penanaman Modal dalam Negeri (PMDN)...318

TABEL 6. 11 Jumlah Arsip Kabupaten Klaten... 319

TABEL 6. 12 Prioritas Bidang Pembangunan P1...320

TABEL 6. 13 Prioritas Bidang Pembangunan P2...322

TABEL 6. 14 Prioritas Bidang Pembangunan P3...323

TABEL 6. 15 Bidang Paling Strategis dalam Pembangunan... 324

TABEL 6. 16 Aspirasi Prioritas Pembangunan 5 Tahun kedepan ...325

TABEL 6. 17 Daya Dukung Pendidikan... 326

TABEL 6. 18 Sekolah Unggulan Tingkat SD...327

TABEL 6. 19 Sekolah Unggulan Tingkat SMP...328

TABEL 6. 20 Sekolah Unggulan Tingkat SMA... 329

TABEL 6. 21 Pendidikan Non Formal Favorit... 330

TABEL 6. 22 SMK Favorit... 331

(18)

TABEL 6. 24 Peran Pmerintah Daerah dalam Bidang Pertanian

...333

TABEL 6. 25 Potensi Bidang Pertanian...334

TABEL 6. 26 Strategi dalam Industri Manufaktur... 335

TABEL 6. 27 Potensi Bidang Manufaktur... 336

TABEL 6. 28 Industri kerajinan dan Souvenir...338

TABEL 6. 29 Kesenian dan Pertunjukan... 341

TABEL 6. 30 Peran Pemerintah dalam Kesenian dan Pertunjukan...344

TABEL 6. 31 Industri Pariwisata... 345

TABEL 6. 32 Aspirasi Kebijakan dalam Pengembangan Pariwisata...347

TABEL 6. 33 Potensi Unggulan Wisata Daerah... 348

TABEL 6. 34Aspirasi Pembangunan dalam Perdagangan... 350

TABEL 6. 35 Komoditas Unggulan Daerah... 351

Tabel 7. 1 Bidang Pembangunan P1... 354

Tabel 7. 2 Bidang Pembangunan P2... 357

Tabel 7. 3 Bidang Pembangunan P3... 361

Tabel 7. 4 Daya Dukung Pendidikan... 362

(19)

Tabel 7. 6 Komoditas Andalan... 368

Tabel 7. 7 Peran Pemerintah di Bidang Pertanian...370

Tabel 7. 8 Potensi Unggulan Pertanian...371

Tabel 7. 9 Strategi Memajukan Industri Manufaktur... 373

Tabel 7. 10 Peran Pemerintah Daerah dalam Kesenian dan Pertunjukan...373

Tabel 7. 11 Aspirasi dalam Prioritas Pembangunan... 374

Tabel 7. 12 Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Pariwisata... ...377

Tabel 7. 13 Peran Pemerintah Daerah dalam Sektor Perdagangan... 378

(20)

Daftar Gambar

GAMBAR 1. 1 Peta Administratif Kabupaten Klaten...2

Gambar 1. 2 Peningkatan PDB Kabupaten Klaten 2015 – 2019.. ...8

Gambar 2. 1 Struktur Partisipasi Masyarakat dalamperencanaan... 29

Gambar 2. 2 Langkah-langkah perencanaan partisipatif yang disusun dari bawah... 32

GAMBAR 6. 1 Angka Harapan Sekolah... 309

GAMBAR 6. 2 Usia Harapan Hidup (UHH)...310

GAMBAR 6. 3 Persentase Penduduk Miskin...311

GAMBAR 6. 4 Indeks Pembangunan Manusia (IPM)... 311

GAMBAR 6. 5 Kondisi Jalan Baik... 312

GAMBAR 6. 6 Kawasan Permukiman Kumuh Perkotaaan...313

GAMBAR 6. 7 Jumlah Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) di Kabupeten Klaten...317

(21)

PELAYANAN PUBLIK,

PERSEPSI PEMBANGUNAN

DAN LOCAL AREA CITY

BRANDING:

KONSEP DAN STRATEGI

(STUDI KASUS KABUPATEN

KLATEN)

(22)

BAB I

SELAYANG PANDANG

A. Deskripsi Kabupaten Klaten

Dari sisi geografis, letak wilayah Kabupaten Klaten berada di jalur yang sangat strategis. Ibukota Kabupaten Klaten terletak di Kecamatan Klaten Tengah. Klaten secara langsung berbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jika dilihat dari sisi bentangan garis katulistiwa, Kabupaten Klaten terletak antara 7032`19” Lintang Selatan sampai 7048`33” Lintang Selatan dan antara 110026`14” Bujur Timur sampai 110047`51” Bujur Timur. Luas wilayah dari Kabupaten Klaten mencapai 65.556 ha (655,56 km2) atau seluas 2,014% dari luas Provinsi Jawa Tengah, yang luasnya 3.254.412 ha. Luas wilayah Klaten ini meliputi seluruh wilayah administrasi di Kabupaten Klaten yang terdiri dari 26 Kecamatan. Secara administratif Kabupaten Klaten menaungi 26 kecamatan, yang terdiri dari 391 Desa, 10 Kelurahan, 3.703 Dukuh.

Secara geografis sebelah timur Kabupaten Klaten berbatasan dengan kabupaten Sukoharjo. Di sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Gunungkidul (Daerah Istimewa Yogyakarta). Di sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta) serta Kabupaten Magelang dan di sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Boyolali. Wilayah Kabupaten Klaten terbagi menjadi tiga dataran yakni Sebelah Utara Dataran Lereng Gunung Merapi, Sebelah Timur

(23)

Membujur Dataran Rendah, Sebelah Selatan Dataran Gunung Kapur.

Menurut topografi kabupaten Klaten terletak di antara gunung Merapi dan pegunungan Seribu dengan ketinggian antara 75-160 meter di atas permukaan laut yang terbagi menjadi wilayah lereng Gunung Merapi di bagian utara areal miring, wilayah datar dan wilayah berbukit di bagian selatan. Jarak Kota Klaten dengan Kota Lain se Karesidenan Surakarta :

 KotaKlaten ke Kota Boyolali : 38 Km,

 KotaKlatenke Wonogiri : 67 Km,

 KotaKlaten ke Kota Solo : 36 Km,

 KotaKlaten ke Karanganyar : 49 Km,

 KotaKlaten ke Kota Sukoharjo : 47 Km,

 KotaKlaten ke Sragen : 63 Km.

GAMBAR 1. 1 Peta Administratif Kabupaten Klaten

(24)

Keadaan iklim Kabupaten Klaten termasuk iklim tropis dengan musim hujan dan kemarau silih berganti sepanjang tahun, temperatur udara rata-rata 28°-30° Celsius dengan kecepatan angin rata-rata sekitar 153 mm setiap bulannya dengan curah hujan tertinggi bulan Januari (350mm) dan curah hujan terrendah bulan Juli (8mm).

Wilayah Kabupaten Klaten terbagi menjadi 3 (tiga) dataran: (1) Dataran Lereng Gunung Merapi membentang di sebelah utara meliputi sebagian kecil sebelah utara wilayah Kecamatan Kemalang, Karangnongko, Jatinom dan Tulung; (2) Dataran Rendah membujur di tengah meliputi seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Klaten, kecuali sebagian kecil wilayah merupakan dataran lereng Gunung Merapi dan Gunung Kapur; dan (3) Dataran Gunung Kapur yang membujur di sebelah selatan meliputi sebagian kecil sebelah selatan Kecamatan Bayat dan Cawas. Melihat keadaan alamnya yang sebagian besar adalah dataran rendah dan didukung dengan banyaknya sumber air maka daerah Kabupaten Klaten merupakan daerah pertanian yang potensial disamping penghasil kapur, batu kali dan pasir yang berasal dari Gunung Merapi.

Ketinggian daerah sekitar 3,72% terletak di antara ketinggian 0 - 100 meter di atas permukaan laut. Terbanyak 83,52% terletak di antara ketinggian 100 - 500 meter di atas permukaan laut. Sisanya 12,76% terletak di antara ketinggian 500 - 2500 meter di atas permukaan laut.

Klasifikasi Tanah di Kabupaten Klaten. Jenis tanah terdiri dari 5 (lima) macam: (1) Litosol : Bahan induk dari skis kristalin dan batu tulis terdapat di daerah kecamatan Bayat.; (2) Regosol Kelabu : Bahan induk abu dan pasir vulkanik termedier terdapat di Kecamatan Cawas, Trucuk, Klaten Tengah, Kalikotes, Kebonarum, Klaten Selatan, Karangnongko, Ngawen, Klaten Utara, Ceper, Pedan,

(25)

Karangdowo, Juwiring, Wonosari, Delanggu, Polanharjo, Karanganom, Tulung dan Jatinom; (3) Grumusol Kelabu Tua : Bahan induk berupa abu dan pasir vulkan interme-dier terdapat di daerah Kecamatan Bayat, Cawas sebelah selatan; (4) Kompleks Regosol Kelabu dan Kelabu Tua : Bahan induk berupa batuk apurnapal terdapat di daerah Kecamatan Klaten Tengah dan Kalikotes sebelah selatan; dan (5) Regosol Coklat Kekelabuan : Bahan induk berupa abu dan pasir vulkan intermedier terdapat di daerah Kecamatan Kemalang, Manisrenggo, Prambanan, Jogonalan, Gantiwarno dan Wedi.

Kabupaten Klaten terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas 391 desa dan 10 kelurahan. Ibukota kabupaten ini berada di Kota Klaten, yang terdiri atas tiga kecamatan yaitu Klaten Utara, Klaten Tengah, dan Klaten Selatan. Kota Klaten dulunya merupakan kota administratif, namun sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, tidak dikenal adanya kota administratif, dan Kota Administratif Klaten kembali menjadi bagian dari wilayah Kabupaten Klaten. Rata tingkat kepadatan penduduk di Kabupaten Klaten mencapai angka 1.747,47 jiwa/km².

TABEL 1. 1 Jumlah Desa / Kelurahan per Kecamatan di Kabupaten Klaten

Nama kecamatan JUMLAH

Kelurahan Desa

Prambanan - 16

Gantiwarno - 16

Wedi - 19

(26)

Cawas - 20 Trucuk - 18 Kalikotes - 7 Kebonarum - 7 Jogonalan - 18 Manisrenggo - 16 Karangnongko - 14 Ngawen - 13 Ceper - 18 Pedan - 14 Karangdowo - 19 Juwiring - 19 Wonosari - 18 Delanggu - 16 Polanharjo - 18 Karanganom - 19 Tulung - 18 Jatinom 1 17 Kemalang 13 Klaten Selatan 1 11 Klaten Tengah 6 3 Klaten Utara 2 6 JUMLAH 10 391

(27)

Tabel 1.2Distribusi pendudukan dan luas Wilayah per Kecamatan Kabupaten Klaten Nama kecamatan Jumlah penduduk (Jiwa) Luas wilayah (km2) Jumlah Kelurahan Desa Prambanan 48.521 24,3 16 Gantiwarno 34.339 25,64 16 Wedi 47.226 24,38 19 Bayat 53.065 39,43 18 Cawas 50.424 34,47 20 Trucuk 70.346 33,81 18 Kalikotes 33.296 12,98 7 Kebonarum 17.845 9,67 7 Jogonalan 54.059 26,7 18 Manisrenggo 39.342 26,96 16 Karangnongko 32.508 26,74 14 Ngawen 40.453 16,97 13 Ceper 58.634 24,45 18 Pedan 42.657 19,17 14 Karangdowo 38.563 29,23 19 Juwiring 53.708 29,79 19 Wonosari 58.214 31,14 18 Delanggu 39.474 18,78 16 Polanharjo 36.480 23,84 18 Karanganom 40.784 24,06 19 Tulung 45.499 32 18 Jatinom 53.819 35,53 1 17 Kemalang 35.446 51,66 13

(28)

Klaten Selatan 42.413 14,43 1 11

Klaten Tengah 39.981 8,92 6 3

Klaten Utara 46.147 10,38 2 6

JUMLAH 1.163.218 655,56 10 391

Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Klaten

B. Pembangunan Kabupaten Klaten

Sebagai daerah otonom, Kabupaten Klaten berkewajiban memberikan pelayanan kepada masyarakat, sesuai dengan tupoksinya. Penyelenggaraan pemerintah didasarkan pada Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, serta penyelenggaraan layanan publik di Klaten dilaksanakan dengan berdasarkan pada Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 tentang pelayanan publik. Pemerintah daerah juga mengacu pada amanat Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 14 Tahun 2017 untuk melakukan evaluasi pembangunan dengan melaksanakan survey kepuasan masyarakat terhadap lembaga pelayanan teknis daerah secara rutin.

Hasil penelitian “Persepsi Masyarakat terhadap Kualitas Pembangunan di Kabupaten Klaten” yang dilakukan atas kerjasama LPPM Unisri dengan Pemerintah Kabupaten Klaten Tahun 2018 menunjukkan adanya persepsi yang “positif”. Artinya masyarakat Kabupaten Klaten menganggap kualitas pembangunan yang selama ini telah dijalankan dalam beberapa tahun terakhir memiliki dampak positif. Selain itu, popularitas Bupati Sri Mulyani juga dinyatakan tinggi serta dipersepsikan memiliki aseptabilitas baik untuk memajukan Kabupaten Klaten hingga 2021.

(29)

Hal ini sejalan dengan laporan Badan Pusat Statistik yang menunjukkan adanya peningkatan nilai PDB (Produk Domestik Bruto) Kabupaten Klaten dari tahun 2015 hingga 2019. Adapun kenaikan tersebut dapat dilihat dalam grafik berikut:

Gambar 1. 2 Peningkatan PDB Kabupaten Klaten 2015 – 2019

Sumber: BPS, 2020

Peningkatan nilai PDB menjadi indikator bahwa kebijakan yang dijalankan di Klaten memiliki dampak positif terhadap pembangunan. Industri yang paling besar menyumbang dalam PDB adalah industri pengolahan, yakni hingga 37% dan diikuti dengan perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor dengan kontribusi 16,16% dari total PDB. Sedangkan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, menyumbang 10,57% dari total PDB Kabupaten Klaten. Berbagai informasi pembangunan Kabupaten Klaten ini dapat menjadi rujukan dalam melakukan

(30)

evaluasi kebijakan serta kinerja pemerintahan. Selain itu, dapat pula menjadi pijakan dalam perencanaan pembangunan selanjutnya. Tentu saja, diharapkan pembangunan selanjutnya akan mampu terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Klaten.

Kabupaten Klaten merupakan wilayah yang berada di antara jalur dua kota besar yaitu Surakarta dan Yogyakarta. Hal ini membawa dampak positif bagi kabupaten Klaten untuk berkembang lebih pesat. Untuk mampu mencapai pembangunan berkelanjutan, dibutuhkan usaha-usaha yang tepat. Pemerintah daerah harus mampu membangun dengan berpijak pada kepentingan masyarakat serta menyesuaikan potensi daerah yang ada. Dengan demikian, pembangunan daerah bisa memberikan kontribusi positif berupa kesejahteraan masyarakat Kabupaten Klaten.

Salah satu hal penting yang dianggap perlu dimiliki dalam pembangunan daerah adalah city branding. City Branding merupakan sebuah proses dari sebuah branding. Branding

merupakan salah satu proses strategi pemasaran yang seringkali diterjemahkan sederhana sebagai kegiatan beriklan. Namun,

Branding lebih merupakan aktivitas menentukan citra yang ingin

dibentuk melalui berbagai macam kegiatan promosi (iklan, publisitas dan sebagainya) seiring dengan pembenahan fitur produk yang sesuai dengan citra yang ingin dibentuk. City branding adalah strategi yang membuat suatu tempat ‘berbicara’ kepada masyarakat. Kavaratzis (2004: 70) menjelaskan bahwa City

Branding dipahami sebagai sarana untuk mencapai keunggulan

kompetitif dalam rangka untuk meningkatkan investasi dari pariwisata, dan juga sebagai pencapaian pembangunan masyarakat. Memperkuat identitas lokal dan identitas warga dengan kota

(31)

mereka dan mengaktifkan semua kalangan sosial demi menghindari pengucilan dan kerusuhan sosial.

City Branding menjadi konsep yang dianggap mampu mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Hal ini pun dapat dimanfaatkan oleh pemerintah Kabupaten Klaten. Kabupaten Klaten perlu membangun city branding yang tepat, sehingga mampu dikenal oleh masyarakat luas, baik di dalam maupun di luar Klaten. Melalui strategi City Branding, upaya menjual potensi daerah diharapkan berjalan lebih optimal.

Konsep pembangunan daerah dengan mengandalkan city

branding banyak dipilih oleh berbagai kota/ kabupaten di Indonesia.

Otonomi daerah telah memberikan ruang bagi daerah untuk menjadi pelaku utama yang memiliki peran besar dan lebih mononjol dalam menjalankan hubungan geografis regional, bahkan hingga ke tingkat global. Kondisi ini turut memunculkan persaingan antar kota untuk bisa memperoleh kepercayaan sebagai daerah terbaik dalam aspek tertentu, atau dengan identitas tertentu. Hal ini sangat bergantung pada bagaimana dearah tersebut dapat menyampaikan kekuatan kompetisi dengan relevansi daerah tersebut. Terdapat keterkaitan erat di antara perencanaan dengan pemasaran kota (city marketing) serta city branding. Ketiganya saling mendukung dan bersinergi dalam usaha pembangunan daerah (Dinnie, 2011:50).

City Branding Kabupaten Klaten selain sebagai ciri khas

daerah, dapat menjadi merek yang memiliki nilai tersendiri di dalam persepsi masyarakat luas. Dengan begitu masyarakat harus berusaha mengeksplorasi apa yang menjadi potensi daerah. Keller (1998:3) menerangkan bahwa pada dasarnya, nama baik atau reputasi ada di benak konsumen dalam hal pengetahuan merek dapat dilihat sebagai jaringan asosiasi. Pengetahuan ini dapat meningkatkan nilai jual atau nilai tambah dari suatu produk atau

(32)

jasa. Inilah yang membuat kekuatan city branding terhadap pembangunan daerah bisa memberikan dampak positif.

Sebuah city branding yang kuat pertama-tama harus meningkatkan kesadaran publik mengenai keberadaan tempat itu. Kedua, membuat pelanggan potensial kota, menganggap kualitas sebagai lebih baik bahwa para pesaingnya. Evaluasi keberhasilan

city branding pada penelitian ini dilihat dari persepsi masyarakat

kabupaten Klaten tentang city branding Kabupaten Klaten. Pengukuran kekuatan city branding pada penelitian ini didasarkan pada persepsi serta kesadaran masyarakat tentang keberadaan kotanya atau persepsi mereka terhadap city branding dan potensi daerahnya.

Kabupaten Klaten sendiri telah mengawali untuk mengembangkan city branding demi mendukung pembangunan daerah. Namun, penilaian sejauh mana keberhasilan city branding ini tentu perlu dilakukan. Selain itu, dibutuhkan partisipasi masyarakat dalam upaya menilai kinerja pemerintahan kabupaten. Pemerintah perlu memahami sejauh mana capaian keberhasilan dari berbagai implementasi kebijakan yang telah dijalankan. Pemahaman terhadap kinerja pemerintah kabupaten ini dapat diketahui melalui penilaian terhadap Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM).

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu adanya evaluasi terhadap keberhasilan city branding yang telah dilakukan oleh Kabupaten Klaten, serta dilengkapi dengan informasi mengenai indeks kepuasan masyarakat dan juga capaian keberhasilan Kabupaten Klaten. Dengan demikian, dapat dipetakan langkah tepat untuk perencanaan pembangunan selanjutnya. Untuk menggali potensi daerah, penelitian dilakukan dengan mengedepankan partisipasi masyarakat, serta dengan cara

(33)

menjaring aspirasi masyarakat tentang potensi daerah yang layak diangkat untuk mendukung city branding.

C. Perspektif Masyarakat dalam

Pembangunan Klaten

Pemerintah memiliki beberapa tugas pokok yang harus dilaksanakan. Salah satu tugas pokok pemerintah adalah memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pelayanan harus dilaksanakan untuk memenuhi hak-hak warga negaranya. Asmawi (2012:22) menyatakan bahwa “pemerintahan modern, pada hakekatnya adalah pemberdayaan dan pelayanan kepada masyarakat”. Sedangkan Ndraha (2003:76) mengemukakan bahwa “pemerintah memiliki dua fungsi dasar yaitu fungsi primer atau fungsi pelayanan dan fungsi sekunder atau fungsi pemberdayaan”. Dari berbagai pendapat di atas, pemerintah memiliki tugas utama memberikan layanan kepada masyarakat. Dalam memberikan pelayanan, pemerintah tidak berdiri sendiri, namun pemerintah juga memiliki tugas dalam mengembangkan kemampuan dan kreatifitas masyarakat untuk kemajuan bersama.

Undang-Undang Nomor 25 tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik mengamanatkan bahwa setiap instansi penyelenggara negara wajib memberikan pelayanan publik berdasarkan tugas dan fungsi yang diemban. Pelayanan hendaknya diberikan secara menyeluruh tanpa adanya diskriminasi. Pelayanan publik juga harus dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Denhardt dan Denhardt (2003:24) mengungkapkan bahwa pemilik kepentingan publik yang sebenarnya adalah masyarakat. Selain itu Dwiyanto (2008:149) juga menyatakan bahwa tujuan utama pelayanan publik adalah memenuhi kebutuhan warga pengguna agar dapat

(34)

memperoleh pelayanan yang diinginkan dan memuskan. Maka administrator publik atau pemerintah seharusnya memusatkan perhatiannya pada tanggung jawab melayani dan memberdayakan warga negara. Peningkatan kualitas pelayanan harus selalu dilakukan untuk memberikan pelayanan yang sesuai dengan harapan masyarakat. Pelayanan yang diberikan harus melalui sistem, prosedur,azas dan metode yang jelas. Dengan sistem dan metode yang jelas, masyarakat dimudahkan dalam mendapatkan pelayanan yang cepat dapat memenuhi hak dari setiap warga negara Indonesia.

Evaluasi secara berkala merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan secara berkelanjutan. Evaluasi dilakukan dengan melakukan survey terahap kepuasan masyarakat. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 14 Tahun 2017 tentang Pedoman Survei Kepuasan Masyarakat Terhadap Layanan Publik, survei kepuasan masyarakat adalah pengukuran secara komprehensif tentang tingkat kepuasan masyarakat yang diperoleh dari hasil pengukuran atas pendapat masyarakat dalam memperoleh pelayanan dari penyelenggara pelayanan publik. Pasal 1 PermenPAN RB 14 Tahun 2017 menyatakan bahwa Penyelenggara pelayanan publik wajib melakukan Survei Kepuasan Masyarakat secara berkala minimal 1 (satu) kali setahun.

Kabupaten Klaten selaku daerah otonom memiliki kewajiban dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Penyelenggara layanan publik di Klaten hendaknya dilaksanakan berdasarkan pada UU no. 25 tahan 2009. Dalam rangka melaksanakan amanat Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 14 Tahun 2017 maka kabupaten Klaten melaksanakan survey kepuasan masyarakat terhadap lembaga pelayanan teknis daerah.

(35)

BAB II

Konsep-Konsep

Pembangunan

A. Pemerintahan Daerah

Pemerintahan Indonesia dilaksanakan berdasarkan asas desentralisasi sehingga kewenangan pengelolaan dan pengembangan wilayah-wilayahnya didelegasikan kepada pemerintahan daerah. Secara riil, pemerintah daerah diamanati beberapa kewenangan yang bersifat otonom, dengan tetap dibatasi peraturan perundang-undangan yang ditentukan pemerintah pusat. Pemerintah daerah dapat mengatur urusan rumah tangganya dan memiliki kewenangan atasnya. Dalam implementasinya, berbagai hal ini merujuk pada asas otonomi daerah. Azas otonomi pemerintahan daerah adalah asas otonomi yang luas dan bertanggung jawab, yang menempatkan pemerintah daerah untuk dapat bertindak sebagai kepanjangan tangan pemerintah pusat demi menjalankan fungsi dan tugas negara.

Perundangan terkait tata kelola pemerintah daerah ini telah diberlakukan sejak sebelum reformasi, dengan merujuk pada Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 1974. Namun, perundangan ini terus berkembang karena asas otonomi daerah yang pada saat itu diimplementasikan dinilai lebih bersifat

(36)

sentralistik. Undang-Undangan terkait pemerintahan daerah lalu mengalami revisi melalui Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 2000, dan kembali direvisi dengan memasukkan unsur pemilihan langsung kepala daerah oleh rakyat melalui Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004. Terakhir, revisi dilakukan pada Undang-Undang Pemerintahan Daerah melalui Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014. Aturan inilah yang menjadi acuan utama bagi pemerintah daerah untuk menjalankan tugas dan wewenangnya, di samping berbagai aturan pendukung lain.

Otonomi daerah yang diberikan tetap harus mengacu pada kepentingan nasional. Ini membuat hubungan sinergitas yang baik antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/ kota harus tetap terjalin. Dalam berbagai tingkatan pemerintahan ini, juga perlu penyesuaian sehingga tidak terjadi overleaping kewenangan dan kebijakan. Untuk itu, dibutuhkan tata kelola pemerintahan yang baik, demi memastikan rangkaian tugas dan tanggung jawab kepemerintahan di berbagai tingkatnya bisa terbagi habis di masing – masing tataran pemerintahan, dengan proporsi tepat dan seimbang.

Ada berbagai hal yang memang harus diperhatikan oleh pemerintahan daerah dalam menyelenggarakan tugas dan wewenangnya. Paling tidak, terdapat delapan azas pemerintahan yang harus menjadi pijakan penyelenggaraan pemerintahan daerah, yang meliputi :

1. Asas kepastian hukum adalah asas yang mengutamakan

landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggara Negara;

(37)

2. Asas tertip penyelenggara, merupakan landasan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggara Negara;

3. Asas kepentingan umum, merupakan asas yang

mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif;

4. Asas keterbukaan, merupakan pijakan untuk membuka diri

terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informas yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggara negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia Negara;

5. Asas proporsinalitas, merupakan asas yang mendorong

untuk mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban;

6. Asas profesionalitas, merupakan asas yang mengutamakan

keadilan yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

7. Asas akuntabilitas, merupakan pijakan untuk menentukan

setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara yang harus dipastikan bisa dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan

8. Asas efisiensi dan efektifitas, merupakan asas yang

menjamin terselenggaranya kepada masyarakat dengan menggunakan sumber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab (efisiensi = ketepatgunaan, kedayagunaan, efektivitas = berhasil guna).

(38)

Pembangunan yang bersifat menyeluruh harus diwadahi secara tepat dengan melihat berbagai aturan, asas serta realita dalam masyarakat. Ini membuat pemerintah daerah seharusnya bisa lebih paham dalam implementasinya. Wewenang perencanaan dan pelaksanaan pembangunan diserahkan di tingkat daerah agar pembangunan daerah dapat menjangkau seluruh pembangunan dan meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat. Hal ini dilaksanakan secara terpadu dengan mengembangkan swadaya gotong royong dan juga mampu meningkatkan partisipasi aktif masyarakat.

Pembangunan daerah diarahkan agar mampu secara optimal memanfaatkan potensi sumber daya alam serta mengembangkan sumber daya manusia yang ada di daerahnya, sesuai dengan karakteristik daerah masing-masing. Hal ini dilakukan melalui upaya peningkatan kualitas hidup, keterampilan, prakarsa dengan bimbingan dan bantuan dari pemerintah. Pengaturan terkait pembangunan daerah ini juga telah diatur dalam Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah.

Pasal 258 ayat 1 Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2014 menyebutkan bahwa daerah melaksanakan pembangunan untuk peningkatan dan pemerataan pendapatan masyarakat, kesempatan kerja, lapangan berusaha, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan publik dan daya saing daerah. Pada pasal 261 ayat 1, juga terdapat penjelasan bahwa pelaksanaan perencanaan pembangunan, daerah menggunakan pendekatan teknokratik, partisipatif, politis, serta atas-bawah dan bawah-atas. Maksud dari pasal ini adalah pentingnya menyelaraskan pembangunan di daerah dengan pembangunan nasional, dengan tetap memperhatikan kondisi daerah dan kebutuhan masyarakat

(39)

setempat. Guna mencapai maksud tersebut, dibutuhkan adanya pendekatan partisipatif sehingga hasil pembangunan daerah dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

B. Otonomi Pemerintah Daerah

Semenjak era reformasi pemerintah daerah di Indonesia mengalami babak baru. Pada masa sebelumnya di era orde baru penyelenggaraan pemerintahan daerah di dasarkan pada Undang – Undang nomor 5 tahun 1974. Azas otonomi pemerintahan daerah adalah azas otonomi yang luas dan bertanggung jawab. Azas otonomi ini menempatkan pemerintah daerah lebih sebagai kepanjangan tangan dari pemerintah pusat. Secara riil pemerintah daerah lebih sedikit memiliki kewenangan yang bersifat otonom. Urusan rumah tangga pemerintah daerah sangat terbatas. Aktivitas pemerintah daerah lebih banyak pada pelaksanaan fungsi tugas perbantuan. Mensukseskan program pemerintah pusat yang ada di daerah.

Praktek tatakelola pemerintah daerah yang lebih sentralistik tersebut, direvisi setelah dilaksanakannya undang – undang pemerintah daerah yang baru. Undang – undang nomer 22 tahun 2000. Tahun 2004 pemerintah menyempurkan lagi tatakeloa pemerintah daerah dengan memasukan aspek kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat. Undang – undang nomer 32 Tahun 2004 menjadikan kedudukan pemerintah daerah menjadi lebih kuat. Kepala Daerah dipilih langsung oleh rakyat.

Tahun 2014 pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk mengeluarkan pasal – pasal yang mengatur tentang pemerintahan pemerintahan dasa dari undang – undang nomer 32 tahun 2004. Pengaturan tentang pemerintahan desa dibuat dalam undang –

(40)

undang tersendiri, yaitu Undang – Undang nomer 6 Tahun 2014. Walaupun setelah era reformasi dasar hukum penyelenggarakan pemerintah daerah telah mengalami tiga kali perubahan, namun prinsip dan azas otonomi daerah tidak mengalami perubahan. Pemerintah mempertahankan kebijakan umum untuk menempatkan pemerintah daerah bagian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Indonesia. Pemerintah daerah diberikan kewenangan besar dalam mengelola urusan pemerintahan lokal.

Azas otonomi daerah yang diterapkan di era reformasi itu berubah menjadi azas otonomi daerah yang seluas – luasnya. Desentralisasi kewenangan dan anggaran dialihkan dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Pemerintah Daerah menjadi memiliki urusan rumah tangga pemerintah daerah yang lebih banyak.

Penyelenggaraan pemerintahan daerah di era reformasi, menganut delapan azas pemerintahan di daerah, yaitu: (1) Asas kepastian hukum adalah asas yang mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan penyelenggara Negara; (2) Asas tertip penyelenggara adalah asas menjadi landasan keteraturan, keserasian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggara Negara; (3) Asas kepentingan umum adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif; (4) Asas keterbukaan adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informas yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang penyelenggara negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia Negara; (5) Asas proporsinalitas adalah asas yang mengutamakan keseimbangan

(41)

antara hak dan kewajiban; (6) Asas profesionalitas adalah asas yang mengutamakan keadilan yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; (7) Asas akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; dan (8) Asas efisiensi dan efektifitas adalah asas yang menjamin terselenggaranya kepada masyarakat dengan menggunakan sumber daya tersedia secara optimal dan bertanggung jawab (efisiensi = ketepatgunaan, kedaygunaan, efektivitas = berhasil guna).

Hubungan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten kota diharapakan memiliki sinergitas yang baik. Hal ini dimaksudkan menghindari terjadi overleapping kewengan, dan kebijakan. Selin itu juga dimaksudkan untuk memastikan seluruh rangkaian tugas dan tanggung jawab kepemerintahan terbagi habis di masing – masing tataran pemerintahan.

Ada 31 urusan pemerintahan yang di desentralisasikan ke daerah provinsi dan kabupaten/kota. Urusan pemerintahan tersebut yaitu: (1) Sosial; (2) Lingkungan Hidup; (3) Perdagangan; (4) Kelautan dan Perikanan; (5) Kehutanan; (6) Pendidikan dan Kebudayaan; (7) Kesehatan; (8) Usaha Kecil dan Menengah; (9) Tenaga Kerja dan Transmigrasi; (10) Pertanian dan Perkebunan; (11) Pertambangan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM); (12) Perhubungan; (13) Penanaman Modal; (14) Pariwisata dan Ekonomi Kreatif; (15) Kependudukan; (16) Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; (17) Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera;

(42)

(18) Perindustrian; (19) Pekerjaan Umum; (20) Penataan Ruang; (21) Pemuda dan Olah Raga; (22) Komunikasi dan Informasi; (23) Perumahan; (24) Arsip; (25) Pertanahan; (26) Kesatuan Bangsa dan Politik; (27) Statistik; (28) Pemerintahan Umum; (29) Pemberdayaan Masyarakat Desa; (30) Kepegawaian; (31) Perpustakaan Hakekat dari mengukur indek kepuasan masyarakat adalah mananyakan kepada masyarakat apakah mereka puas terhadap penyelenggaraan urusan pemerintahan yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Klaten. Dari 33 urusan tersebut terdapat urusan – urusan langsung outpunya dirasakan oleh masyarakat. Namun demikian ada pula out kinerja pelaksanaan urusan tidak dirasakan secara langsung. Dalam hal urusan yang langsung dirasakan masyarakat pengukuran IKM dapat dilakukan dengan mengajukan indikator – indikator IKM sebagaimana Permenpan RB No 14 Tahun 2017. Sedangkan urusan yang tidak secara langsung berhubungan dengan pelayanan masyarakat dapat diajukan indikator – indikator tertentu disesuaikan dengan karakteristik output kinerja dampak yang dirasakan oleh masyarakat.

C. Paradigma Pembangunan

Paradigma pembangunan selalu mengalami perubahan. Saat ini paradigma pembangunan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. “Tugas pembangunan merupakan tanggung jawab seluruh komponen masyarakat dan bukan tugas pemerintah semata-mata” (Siagian, 2007:142). Hal ini bermakna bahwa pemerintah tidak lagi sebagai provider dan pelaksana, melainkan lebih berperan sebagai fasilitator dan katalisator dari dinamika pembangunan. Masyarakat memiliki peran penting mulai dari perencanaan pembangunan hingga

(43)

evaluasi. Masyarakat mempunyai hak untuk terlibat dalam memberikan masukan dan mengambil keputusan. Dengan adanya partisipasi masyarakat, diharapkan hasil pembangunan dapat dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat.

Pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah tentunya memiliki tujuan untuk mencapai masyarakat yang sejahtera. Sehingga posisi masyarakat merupakan posisi yang penting dalam proses pelaksanaan pembangunan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Keberhasilan dalam pembangunan dapat dilihat dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pembangunan partisipasi masyarakat merupakan hal yang sangat mempengaruhi keberhasilan proses pembangunan itu sendiri. Surmayadi (2010:46) partisipasi berarti peran serta seseorang atau kelompok masyarakat dalam proses pembangunan baik dalam bentuk pernyataan maupun dalam bentuk kegiatan dengan memberi masukan pikiran, tenaga, waktu, keahlian, modal dan atau materi, serta ikut memanfaatkan dan menikmati hasil-hasil pembangunan.

Partisipasi sebagai salah satu elemen pembangunan merupakan proses adaptasi masyarakat terhadap perubahan yang sedang berjalan. Sumodiningrat menambahkan, bahwa syarat yang harus terdapat dalam proses pembangunan berkelanjutan adalah dengan mengikutsertakan semua anggota masyarakat/rakyat dalam setiap tahap pembangunan (Sumodiningrat, 1988). Conyers (1991) memberikan tiga alasan utama sangat pentingnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, yaitu: (1) Partisipasi masyarakat merupakan suatu alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan dan proyek akan gagal, (2) Masyarakat mempercayai program pembagunan jika dilibatkan

(44)

dalam proses persiapan dan perencanaannya, karena masyarakat lebih mengetahui seluk beluk proyek dan merasa memiliki proyek tersebut, (3) Partisipasi merupakan hak demokrasi masyarakat dalam keterlibatannya di pembangunan.

Peran serta masyarakat telah menunjukkan buktinya dalam kesuksesan pembangunan. Kemajuan spektakuler dalam pengembangan demokrasi deliberatif (musyawarah/mufakat) terjadi di negara Brazil melalui partisipasi warga dalam proses penyusunan anggaran yang disebut Participatory Budgeting.

Participatory Budgeting pada awalnya diterapkan di kota Porto

Alegre yang kemudian menyebar ke kota-kota lainnya di negara tersebut. Prestasi gemilang Kota Porto Alegre disebabkan sistem pemerintahan yang mampu menerapkan “administrasi populer” (International Institute for Environment and Development, 2002). Ciri utamanya adalah administrasi pemerintah yang mengadopsi model demokrasi partisipatoris, yaitu keterlibatan masyarakat dalam empat hal : (1) pengalokasian dalam sistem anggaran, (2) re-orientasi prioritas publik oleh masyarakat, (3) integrasi kebijakan pengelolaan lingkungan, dan (4) regenerasi ruang-ruang publik. Karena penerapannya sangat berhasil, model Participatory

Budgeting dijadikan sebagai referensi dunia internasional dalam

mengembangkan demokrasi di tingkat daerah dalam rangka membangun tata pemerintahan daerah yang baik (good local

governance), yang menjadi sasaran pembangunan millenium pada

saat ini (the millennium development goals) (Carbanes,2003)

Partisipasi masyarakat dalam pembangunan juga menjadi paradigma baru dalam pembangunan di Indonesia. Pentingnya keterlibatan masyarakat di dalam penyusunan perencanaan pembangunan sangat ditekankan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

(45)

Peraturan tersebut menekankan adanya pendekatan partisipatif masyarakat. Pendekatan ini kemudian diatur dalam empat pasal yaitu Pasal 2, Pasal 5, Pasal 6 dan Pasal 7. Sistem perencanaan yang diatur dalam UU Nomor 25 Tahun 2004 dan aturan pelaksanaannya menerapkan kombinasi pendekatan antara top-down ( atas-bawah) dan bottom-up (bawah-atas), yang lebih menekankan cara-cara aspiratif dan partisipatif. Aturan ini menegaskan nahwa perencanaan pembangunan dan pelaksanaannya harus berorientasi ke bawah dan melibatkan masyarakat luas. Alexander Abe (2002) mengemukakan pengertian perencanaan partisipatif sebagai perencanaan yang dalam tujuannya melibatkan kepentingan masyarakat, dan dalam prosesnya melibatkan rakyat (baik secara langsung maupun tidak langsung) tujuan dan cara harus dipandang sebagai satu kesatuan. Suatu tujuan untuk kepentingan rakyat dan bila dirumuskan tanpa melibatkan masyarakat, maka akan sangat sulit dipastikan bahwa rumusan akan berpihak pada rakyat.

Dalam mewadahi pembangunan yang bersifat menyeluruh dan dari bawah, wewenang perencanaan dan pelaksanaan pembangunan diserahkan di tingkat daerah. Pembangunan daerah merupakan seluruh pembangunan yang dilaksanakan di daerah dan meliputi aspek kehidupan masyarakat, dilaksanakan secara terpadu dengan mengembangkan swadaya gotong royong serta partisipasi masyarakat secara aktif. Dalam hubungan ini pembangunan daerah diarahkan untuk memanfaatkan secara maksimal potensi sumber daya alam dan mengembangkan sumber daya manusia dengan meningkatkan kualitas hidup, keterampilan, prakarsa dengan bimbingan dan bantuan dari pemerintah. Hal ini telah diatur dalam UU no 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah. Berdasarkan pasal 258 ayat 1 UU no 23 tahun 2014, daerah melaksanakan pembangunan untuk peningkatan dan pemerataan pendapatan

(46)

masyarakat, kesempatan kerja, lapangan berusaha, meningkatkan akses dan kualitas pelayanan publik dan daya saing daerah. Pasal 261 ayat 1 juga menjelaskan bahwa pelaksanaan perencanaan pembangunan, daerah menggunakan pendekatan teknokratik, partisipatif, politis, serta atas-bawah dan bawah-atas. Pasal ini bermaksud bahwa pembangunan di daerah harus selaras dengan pembangunan nasional, namun harus tetap memperhatikan kondisi daerah dan kebutuhan masyarakat setempat. Untuk itulah pendekatan partisipatif sangat dibutuhkan dalam mensukseskan pembangunan daerah, sehingga hasilnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah meliputi beberapa aspek dalam pembangunan. Pasal 354 ayat 2 UU No 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah dapat mencakup penyusunan Perda dan kebijakan Daerah yang mengatur dan membebani masyarakat; perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemonitoran, dan pengevaluasian pembangunan Daerah; pengelolaan aset dan/atau sumber daya alam Daerah; dan penyelenggaraan pelayanan public. Dalam peraturan terssebut peran masyarakat dalam pembangunan mencakup perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, pemonitoran, dan pengevaluasian pembangunan Daerah. Partisipasi ini dapat berbentuk konsultasi publik, musyawarah, kemitraan, penyampaian aspirasi, pengawasan atau bentuk lain. Partisipasi masyarakat dalam pembangunan daerah juga diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. Dengan cara ini pemerintah mampu menyerap aspirasi masyarakat, sehingga pembangunan yang

(47)

dilaksanakan dapat memberdayakan dan memenuhi kebutuhan rakyat banyak. Rakyat harus menjadi pelaku dalam pembangunan. Masyarakat perlu dibina dan dipersiapkan untuk dapat merumuskan sendiri permasalahan yang dihadapi, merencanakan langkah-langkah yang diperlukan, melaksanakan rencana yang telah diprogramkan, menikmati produk yang dihasilkan dan melestarikan program yang telah dirumuskan dan dilaksanakan. Berdasarkan latar belakang tersebut, kabupaten Klaten perlu melakukan evaluasi kinerja pembangunan dari perpsektif masyarakat dan menjaring aspirasi masyarakat untuk rencana pembangunan berikutnya.

D. Perencanaan Pembangunan

Pembangunan adalah pergeseran dari suatu kondisi nasional yang satu menuju kondisi nasional yang lain, yang dipandang lebih baik dan lebih berharga (Katz dalam Tjokrowinoto 2005). Disamping itu pembangunan juga merupakan proses multi dimensional yang menyangkut perubahan-perubahan yang penting dalam suatu struktur, sistem sosial ekonomi, sikap masyarakat, lembaga-lembaga nasional, akselerasi pertumbuhan ekonomi, pengangguran kesenjangan dan pemberantasan kemiskinan (Todaro,2001). Dalam pengertian pembangunan para ahli memberikan berbagai macam definisi tentang pembangunan, namun secara umum ada suatu kesepakatan bahwa pembangunan merupakan proses untuk melakukan perubahan. Siagian (2004) memberikan pengertian tentang bagaimana pembangunan sebagai “suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa,

(48)

negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (Nation building)”.

Pembanguan harus merata secara nasional melalui pembangunan di daerah. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah pasal 1 ayat 2 Pembangunan daerah adalah pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata, baik dalam aspek pendapatan, kesempatan kerja, lapangan berusaha, akses terhadap pengambilan kebijakan, berdaya saing, maupun peningkatan indeks pembangunan manusia. Dalam melakukan pembangunan yang tepat diperlukan perencanaan pembangunan yang sesuai dengan kondisi daerah. Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Menurut Albert Waterston dalam Tjokroamidjojo (1990:12) menyebutkan perencanaan pembangunan adalah melihat kedepan dengan mengambil pilihan berbagai alternatif dari kegiatan untuk mencapai masa depan tersebut dengan terus mengikuti agar supaya pelaksanaan tidak menyimpang dari tujuan. Berdasarkan Peraturan presiden Nomor 8 Tahun 2008 pasal 1 ayat 3 Perencanaan Pembangunan Daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan di dalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu.

Sebelum merencanakan pembangunan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan Menurut Koiruddin (2005:151-152) ada

(49)

beberapa hal yang perlu diketahui sebelum memulai perencanaan pembangunan, yakni sebagai berikut:

1. Permasalahan yang dihadapi sangat terkait dengan faktor ketersediaan sumber daya yang ada;

2. Tujuan serta sasaran rencana yang ingin dicapai oleh pelaksana;

3. Kebijakan dan cara mencapai tujuan maupun sasaran berdasarkan alternatif yang di pandang paling baik; 4. Penjabaran dalam program-program atau kegiatan

yang kongkrit;

5. Jangka waktu pencapaian, yang harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (a) adanya koordinasi antara berbagai pihak, (b) adanya konsistensi dengan variabel sosial ekonomi, (c) adanya penetapan skala prioritas. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Perencanaan Pembangunan dalam bidang apapun, pada hakikatnya menghendaki terjadinya keseimbangan yang tercermin dalam konsep pemerataan. Oleh sebab itu partisipasi masyarakat sanagat diperlukan untuk mengembangkan usaha perencanaan pembangunan, membangun sinergi antar seluruh stakeholder dalam memecahkan masalah dan mencari alternatif-alternatif pembangunan yang lebih baik.

E. Pembangunan Partisipatif

Kunci dari keberhasilan pembangunan adalah adanya partisipasi masyarakat. Secara umum pengertian dari partisipasi masyarakat dalam pembangunan adalah keperansertaan semua anggota atau wakil-wakil masyarakat untuk ikut membuat keputusan dalam proses perencanaan dan pengelolaan

(50)

pembangunan termasuk di dalamnya memutuskan tentang rencana-rencana kegiatan yang akan dilaksanakan, manfaat yang akan diperoleh, serta bagaimana melaksanakan dan mengevaluasi hasil pelaksanaannya. Melihat dampak penting dan positif dari perencanaan partisipatif, dengan adanya partisipasi masyarakat yang optimal dalam perencanaan diharapkan dapat membangun rasa pemilikan yang kuat dikalangan masyarakat terhadap hasil-hasil pembangunan yang ada. Geddesian (dalam Soemarmo 2005) mengemukakan bahwa pada dasarnya masyarakat dapat dilibatkan secara aktif sejak tahap awal penyusunan rencana. Keterlibatan masyarakatdapat berupa pendidikan melalui pelatihan, partisipasi aktif dalam pengumpulan informasi, dan partisipasi dalam memberikan alternatif rencana dan usulan kepada pemerintah. Secara skematis struktur partisipasi dalam perencanaan seperti berikut :

Gambar 2. 1 Struktur Partisipasi Masyarakat dalamperencanaan

Sumber : Geddesian dalam Soemarmo (2005)

Bentuk lain dari partisipasi masyarakat adalah seperti yang dikemukakan oleh Robert (dalam Soemarmo, 2005). Robert pada dasarnya sependapat dengan geddesian. Ia mengemukakan bahwa partisipasi masyarakat pada dasarnya diperlukan sejak awal dalam perencanaan pembangunan. Perencanaan pertisipatif menurut Robert dibagi atas perencanaan sebagai aktivitas perencana dan aktivitas masyarakat.

(51)

Berdasarkan gambar di atas, partisipasi masyarakat berada pada tahap pemilihan alternatif kebijakan dan program sementara penetapan tujuan, sasaran dan kebijakan dilakukan secara bersama dengan perencana. Adanya partisipasi masyarakat dalam penetapan tujuan, sasaran dan kebijakan secara bersama antara masyarakat dan perencana menurut Mc Connel (dalam Soemarmo, 2005) merupakan input sekaligus sebagai ekspresi dan aspirasi masyarakat..

Menurut Juliantara (2002) substansi dari partisipasi adalah bekerjanya suatu sistem pemerintahan dimana tidak ada kebijakan yang diambil tanpa adanya persetujuan dari rakyat, sedangkan arah dasar yang akan dikembangkan adalah proses pemberdayaan, lebih lanjut dikatakan bahwa tujuan pengembangan partisipasi adalah : Pertama, bahwa partisipasi akan memungkinkan rakyat secara mandiri (otonom) mengorganisasi diri, dan dengan demikian akan memudahkan masyarakat menghadapi situasi yang sulit, serta mampu menolak berbagai kecenderungan yang merugikan. Kedua, suatu partisipasi tidak hanya menjadi cermin konkrit peluang ekspresi aspirasi dan jalan memperjuangkannya, tetapi yang lebih penting lagi bahwa partisipasi menjadi semacam garansi bagi tidak diabaikannya kepentingan masyarakat. Ketiga, bahwa persoalan-persoalan dalam dinamika pembangunan akan dapat diatasi dengan adanya partisipasi masyarakat.

Literatur klasik selalu menunjukan bahwa partisipasi adalah keikutsertaan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, sampai evaluasi program pembangunan, tetapi makna substantif yang terkandung dalam sekuen-sekuen partisipasi adalah voice, akses dan control (Juliantara, 2002). Pengertian dari masing-masing sekuen tersebut di atas adalah:

(52)

1. Voice, maksudnya adalah hak dan tindakan warga masyarakat dalam menyampaikan aspirasi, gagasan, kebutuhan, kepentingan dan tuntutan terhadap komunitas terdekatnya maupun kebijakan pemerintah.

2. Akses, maksudnya adalah mempengaruhi dan menentukan kebijakan serta terlibat aktif mengelola barang-barang publik, termasuk didalamnya akses warga terhadap pelayanan publik.

3. Control, maksudnya adalah bagaimana masyarakat mau dan mampu terlibat untuk mengawasi jalannya tugas-tugas pemerintah. Sehingga nantinya akan terbentuk suatu pemerintahan yang transparan, akuntabel dan responsif terhadap berbagai kebutuhan masyarakatnya

Alexander Abe (2002) mengemukakan pengertian perencanaan partisipatif sebagai perencanaan yang dalam tujuannya melibatkan kepentingan masyarakat, dan dalam prosesnya melibatkan rakyat (baik secara langsung maupun tidak langsung) tujuan dan cara harus dipandang sebagai satu kesatuan. Suatu tujuan untuk kepentingan rakyat dan bila dirumuskan tanpa melibatkan masyarakat, maka akan sangat sulit dipastikan bahwa rumusan akan berpihak pada rakyat Lebih lanjut Abe mengemukakan langkah-langkah dalam perencanaan partisipatif yang disusun dari bawah yang dapat digambarkan sebagai tangga perencanaan sebagai berikut:

(53)

Gambar 2. 2 Langkah-langkah perencanaan partisipatif yang disusun dari bawah

Penyelidikan

Perumusan masalah

Identifikasi daya dukung Rumusan tujuan

Langkah rinci Merancang

Sumber: data, diolah.

Pandangan di atas mencerminkan bahwa partisipasi masyarakat dalam tahapan-tahapan pembangunan pada prinsipnya merupakan tahapan pengambilan keputusan tentang rencana yang dilakukan. Tahapan selanjutnya dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan yaitu menerima manfaat secara proporsional, dan mengawasi program pembangunan yang dilaksanakan. Dengan perencanaan pembangunan yang melibatkan partisipasi masyarakat, berarti sudah mempertimbangkan kebutuhan dan situasi lingkungan masyarakat. Hal ini penting dalam tahapan proses selanjutnya, dimana masyarakat akan melaksanakan program yang direncanakan. Jika mereka merasa ikut memiliki dan merasakan manfaat program tersebut, maka diharapkan masyrakat dapat secara aktif melakukan pengawasan terhadap program, sehingga penyimpangan-penyimpangan dapat lebih dihindarkan,

(54)

guna mencapai keberhasilan pembangunan sesuai tujuan yang telah direncanakan.

Terkait dengan masyarakat dalam tahapan kegiatan pembangunan, (Siagian, 2004) menyatakan bahwa partisipasi dalam pengambilan keputusan merupakan proses dalam memilih alternatif yang diberikan semua unsur masyarakat, lembaga formal, lembaga sosial dan lain-lain. Ini berarti partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan sangat penting, karena masyarakat dituntut untuk dapat menentukan apa yang ingin dicapai, permasalahan apa yang dihadapi, alternatif apa yang kiranya dapat mengatasi masalah itu, dan alternatif mana yang terbaik harus dilakukan guna mengatasi permasalahan tersebut.

Menurut Adi (2001), dalam perkembangan pemikiran tentang partisipasi masyarakat dalam upaya pengembangan suatu komunitas, belumlah cukup hanya melihat partisipasi masyarakat hanya pada tahapan perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan. Partisipasi masyarakat hendaknya pula meliputi kegiatan-kegiatan yang tidak diarahkan (non direktif), sehingga partisipasi masyarakat meliputi proses-proses:

1. Tahap Assesment

2. Tahap perencanaan alternatif program atau kegiatan. 3. Tahap pelaksanaan (implementasi) program atau kegiatan. 4. Tahap evaluasi (termasuk didalamnya evaluasi input,

proses dan hasil).

Berdasarkan hal di atas, maka dapat dilihat bahwa partisipasi yang dilakukan masyarakat bersama-sama pihak terkait lainnya dalam berbagai tahapan pembangunan akan menghasilkan konsensus dalam kebijakan pembangunan, dan sekaligus melatih masyarakat menjadi lebih pandai khususnya dalam penanganan masalah-masalah yang muncul di masyarakat.

(55)

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa suatu perencanaan partisipatif yang melibatkan seluruh warga masyarakat dalam pembangunan, merupakan metode atau cara perencanaan yang memfungsikan kelembagaan masyarakat secara nyata di dalam menyusun perencanaan pembangunan. Dengan cara ini diharapkan masyarakat mampu melaksanakan, memelihara, dan menindak-lanjuti hasil-hasil pembangunan.

F. Pengukuran Kualitas Pembangunan

Pembangunan merupakan suatu konsep yang menunjukkan adanya suatu pergeseran dari kondisi nasional yang satu menuju kondisi nasional lainnya, yang dipandang lebih baik dan lebih berharga (Katz dalam Tjokrowinoto 2005). Pembangunan juga dimaknai sebagai suatu proses multi dimensional yang di dalamnya menyangkut terjadinya aneka perubahan penting dalam suatu struktur, sistem sosial ekonomi, sikap masyarakat, lembaga-lembaga nasional, akselerasi pertumbuhan ekonomi, pengangguran kesenjangan dan pemberantasan kemiskinan (Todaro,2001).

Siagian (2004) menyatakan bahwa pembangunan merupakan “suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (Nation building)”. Dari berbagai uraian tersebut, kita bisa melihat bahwa para ahli memberikan berbagai macam definisi dalam pengertian pembangunan. Tapi, pada intinya, kita dapat menarik bahwa secara umum pembangunan yang dimaksud merujuk pada suatu proses untuk melakukan perubahan.

Dalam pemerintahan daerah, pembangunan inilah yang menjadi target untuk dicapai, agar muaranya sampai pada

(56)

kesejahteraan masyarakat. Melalui pembangunan di daerah, diharapkan juga bisa berlangsung pembangunan yang merata. Pembangunan harus merata secara nasional dengan mengandalkan pemerintahan daerah yang menjalankan pembangunan di daerah masing-masing. Implementasi pembangunan daerah juga tetap harus berpijak pada aturan-aturan yang berlaku. Selain itu, mampu dipersepsikan masyarakat secara positif. Dalam hal ini, partisipasi masyarakat penting untuk memberikan penilaian kinerja pemerintah daerah, melalui penilaian dalam Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM.).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah pasal 1 ayat 2 Pembangunan daerah diartikan sebagai suatu pemanfaatan sumber daya yang dimiliki untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat yang nyata, baik dalam aspek pendapatan, kesempatan kerja, lapangan berusaha, akses terhadap pengambilan kebijakan, berdaya saing, maupun peningkatan indeks pembangunan manusia. Pembangunan yang tepat membutuhkan perencanaan pembangunan yang sesuai kondisi daerah. Ini membuat proses pembangunan dan program-program yang dijalankan bisa berbeda satu daerah dengan daerah lain, meski tetap dengan tujuan pembangunan nasional yang utuh.

Perencanaan merupakan proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, dengan mengandalkan urutan pilihan, serta memperhitungkan sumber daya yang tersedia. Albert Waterston dalam Tjokroamidjojo (1990:12) menyatakan bahwa perencanaan pembangunan perlu melihat ke depan dengan mengambil pilihan berbagai alternatif dari kegiatan untuk mencapai masa depan tersebut, lalu terus mengikutinya agar

(57)

pelaksanaannya tidak menyimpang dari tujuan. Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 pasal 1 ayat 3 menjelaskan bahwa Perencanaan Pembangunan Daerah berupa proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan dengan melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial yang ada pada suatu lingkungan wilayah atau daerah, dalam jangka waktu tertentu.

Selanjutnya, partisipasi masyarakat dalam tahapan kegiatan ini juga harus tetap dipertimbangkan. Masyarakat dapat bertindak dalam memberikan masukan atau aspirasi untuk mendukung prioritas pembangunan pemerintah. Selain itu, masyarakat juga dapat menjadi penilai dari keberhasilan program pembangunan yang dijalankan pemerintah, yakni melalui penilaian IKM. IKM penting diketahui guna evaluasi kinerja pemerintah daerah, dan menilai kelebihan serta kelemahan pemerintah daerah, sehingga dapat ditentukan kebijakan yang lebih tipat di tahun pemerintahan berikutnya.

G. Kebijakan Pembangunan Daerah

Pelaksanaan pembangunan dilaksanakan secara simbang dan menyeluruh. Pembangunan daerah dilaksanakan sesuai dengan kebijakan nasional dan kondisi daerah setempat. dalam melaksanakan pembangunan daerah perlu dilakukan perencanaan yang baik. Pembiayaan dalam pembangunan ini kemudian tertuang dalam Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah. Revrisond Baswir (1997:25) menyatakan, bahwa anggaran secara umum dapat diartikan sebagai rencana keuangan yang mencerminkan pilihan kebijaksanaan untuk satu periode dimasa yang akan datang.

(58)

Anggaran pendapatan belanja daerah (APBD), sebagai rencana operasional/keuangan daerah, dimana satu pihak menggambarkan perkiraan pengeluaran setinggi-tingginya guna membiayai kegiatan-kegiatan dan proyek-proyek daerah dalam satu tahun anggaran tertentu, dan dipihak lain mengambarkan perkiraan penerimaan dan sumber-sumber penerimaan daerah guna menutupi pengeluaran-pengeluaran yang dimaksud.

Mustopadidjaya, AR (1997:12) menyatakan bahwa Penyusunan rencana Anggaran Pembangunan salah satu kegiatannya adalah identifikasi kebutuhan, yaitu mengidentifikasi kebutuhan serta mempertimbangkan kebijaksanaan yang menyangkut pengalokasian pada program-program yang dihubungkan baik dengan tujuan perekonomian secara keseluruhan maupun sasaran-sasaran spesifik sektoral dan regional tertentu. Pelaksanaan penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dalam hal ini Anggaran Pembangunan, berdasarkan perencanaan melibatkan berbagai Instansi di daerah baik didaerah tingkat I maupun daerah tingkat II..Adapun Instansi di maksud meliputi BAPPEDA tingkat I/BAPPEDA tingkat II, Biro Penyusunan Program/Bagian Penyusunan Program, Biro Keuangan/Bagian Keuangan, Dinas tingkat I/Dinas tingkat II dan DPRD tingkat I/DPRD tingkat II.

Dilihat dari konsep dan prakteknya, proses penyusunan anggaran terdiri dari dua hal, yaitu perencanaan dan penganggaran (Iksan, M. 2012). Serta dari sifatnya, perencanaan dan penganggaran di pemerintahan daerah dilaksanakan secara terintegrasi dengan berlandaskan pada konsep penggunaan sumberdaya/dana yang ada untuk pemenuhan kebutuhan Masyarakat. Anggaran disusun sesuai dengan kebutuhan

Gambar

GAMBAR 1. 1 Peta Administratif Kabupaten Klaten
Tabel 1. 2 Distribusi pendudukan dan luas Wilayah per Kecamatan Kabupaten Klaten Nama kecamatan Jumlah penduduk (Jiwa) Luas wilayah(km2) JumlahKelurahan Desa Prambanan 48.521 24,3 16 Gantiwarno 34.339 25,64 16 Wedi 47.226 24,38 19 Bayat 53.065 39,43 18 Caw
Gambar 1. 2 Peningkatan PDB Kabupaten Klaten 2015 – 2019
Tabel 4. 1 Persepsi Masyarakat Terhadap Kualitas Pendidikan Indikator Kualitas Frequency Persentase
+7

Referensi

Dokumen terkait

Teori kang digunakake yaiku teori tindak tutur komisif, miturut Leech (1993:64) TTN kalebu tindak tutur komisif yaiku tindak tutur tumrap panutur marang mitratuture sing

Hasil penelitian di lapangan menunjukkan bahwa implementasi pendidikan gratis di Desa Bontotanga berjalan dengan baik dan hal yang menjadi pendukung implementasi

1. Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan melibatkan siswa secara aktif dalam memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir siswa yang lebih tinggi. Pengetahuan

Hubungan pelaksanaan sanitasi klinik dengan ketersediaan sarana sanitasi dasar meliputi Kepemi- likan Sumber Air Bersih (SAB), Jamban Keluarga (JAGA), dan Saluran

Bagaimanakah dengan rujukan PONED dalam implementasi pelayanan PONED di Puskesmas Patumbak Kabupaten Deli Serdang Tahun 2016. 1.3

pengembangan Pada pengembangan jaringan jalan dilakukan juga pemberian vegetasi pada kiri kanan jalan untuk mengurangi dampak polusi suara dan udara.  Perlu penyediaan jalur

Ukur Arus yang mengalir pada rangkaian, dan catat hasil pengukuran Anda pada Tabel Kerja.1.1.2. Lakukan perhitungan nilai R total dengan teori pada tiap langkah

Penggunaan Fuzzy AHP adalah untuk mengakomodir sifat samar (uncertainty) yang terjadi ketika mengambil keputusan Berdasarkan hasil perhitungan yang sudah dilakukan dengan