• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.2 Paradigma Penelitian

Banyak definisi yang mengartikan paradigma, namun secara umum paradigma dapat diartikan sebagai seperangkat kepercayaan atau keyakinan dasar yang menuntun seseorang dalam bertindak dalam kehidupan sehari – hari. Dalam paradigma, ilmuwan berupaya mengembangkan sejumlah perangkat keyakinan dasar yang mereka gunakan dalam mengungkapkan hakikat ilmu yang sebenarnya dan bagaimana cara untuk mendapatkannya (Salim, 2001:34). Ilmuwan mencari sebuah model untuk menjelaskan suatu bagian–bagian berhubungan atau bagaimana bagian-bagian berfungsi.

“Paradigma adalah basis kepercayaan utama atau metafisika dari sistem berpikir: basis dari ontologi, epistemologi, dan metodologi. Dengan demikian, paradigma membawa konsekuensi praktis berperilak, cara berpikir, interpretasi dan kebijakan dalam pemilihan terhadap masalah” (Agus Salim). Atas dasar filosofi ini, menyatakan bahwa hubungan epistemologis antara pengamat dan objek merupakan satu kesatuan, subjektif dan merupakan hasil perpaduan interaksi diantara keduanya.Paradigma penelitian yang dipakai penulis dalam penelitian ini adalah paradigma konstruktivis. Paradigma konstruktivis adalah sebuah jawaban atau bisa dikatakan sebagai sebuah pertentangan dari paradigma positivsme. Agus Salim (2001:41) mengatakan bahwa “Paham ini berpendapat bahwa realitas itu ada dalam bentuk bermacam – macam konstruksi mental, berdasarkan

pengalaman sosial, bersifat lokal dan spesifik tergantung pada orang yang melakukannya.” Karena itu salah satu alasan penulis memilih untuk menggunakan paradigma konstruktivis karena penulis setuju dengan paham ini, bahwa sebuah realitas yang ada di masyarakat tidak bisa digeneralisasikan ke setiap orang seperti yang dilakukan oleh penganut paham paradigma positivis.

Tugas ilmu sosial dalam hal ini mengamati cara agen melakukan penafsiran, memberikan makna terhadap realitas. Makna berupa partisipan agen melakukan kontrak melalui proses partisipasi dalam kehidupan dimana dia hidup. Dalam tradisi konstruktivis mereka ingin keluar motif dan alasan tindakan individual guna memasuki daerah struktural.

Paradigma konstruktivis bisa dijelaskan melalui empat dimensi seperti yang diutarakan oleh Deddy N Hidayat (Wibowo, 2011:28) sebagai berikut:

a. Ontologis: Relativism, realitas merupakan konstruksi sosial. Kebenaran suatu realitas bersifat relative, berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial. b. Epistemologis: Subjectivist, pemahaman tentang suatu

realitas atau temuan suatu penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti.

c. Axioligis: Nilai estetika dan bagian moral merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu penelitian. Peneliti sebagai

passionate, participant, fasilitator yang menjembatani

keragaman subyektivitas pelaku sosial. Tujuan penelitian : rekonstruksi sosial secara dialektis antara peneliti dengan pelaku sosial yang diteliti.

d. Metodelogis: Menekankan empati, interaksi dialektis antara peneliti responden untuk merekonstruksi realitas yang diteliti melalui metode –metode kualitatif seperti participant

Pemaknaan Logo XL akan dikupas berdasarkan teori semiotika Charles Sanders Pierce dimana teori semiotika ini akan menganalisa sebuah tanda atau gambar. Bukan hanya dengan teori semiotika tetapi juga akan dilihat apakah tanda yang ada di PT XL Axiata Tbk. Sesuai dengan teori-teori ilmu desain. Apakah sebuah iklan di Indonesia sudah mampu mengikuti teori-teori mengenai tanda atau gambar.

Ada tiga paradigma ilmu pengetahuan yang dikembangkan para ilmuwan dalam mengembangkan suatu ilmu. Yaitu Positivisme dan postpositivisme, Konstruktivisme (interpreatif) dan Critical Theory atau teori-teori kritis (Salim, 2001:102). Berikut contoh tabel:

Tabel 3.2

Tiga Perspektif atau Paradigma Ilmu Sosial

Positivisme dan Postpositivisme Konstruktivisme (Interpreatif) Critical Theory (Teori-teori Kritis) Menempatkan

ilmu-ilmu sosial seperti ilmu alam dan ilmu fisika, dan sebagai metode yang terorganisir untuk menyatukan

deductive logic

dengan pengamatan empiris guna secara

probalistic

menemukan atau mencari informasi hukum kausal biasa digunakan

memprediksi pola-pola umum gejala sosial tertentu.

Memandang ilmu sosial sebagai analisis

sistematis terhadap

socially meaningful action, melalui

pengamatan langsung terhadap perilaku sosial dalam setting yang alamiah, agar mampu memahami dan

menafsirkan bagaimana perilaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan

memelihara dunia sosial mereka.

Mendefinisikan ilmu sosial sebagai proses yang secara kritis berusaha mengungkap

“the real structure”

dibalik ilusi. False

needs, yang

dinampakkan dunia materi dengan tujuan membantu membentuk suatu kesadaran sosial dan merubah kondisi kehidupan mereka.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan Paradigma Konstruktivis dengan alasan paradigma ini dianggap mampu melihat bagaimana realitas sosial dari logo XL dapat dipahami sebagai suatu realitas yang telah dikonstruksikan dan bagaimana konstruksi tersebut terbentuk. Paradigma ini lebih bertujuan untuk mengadakan

pemahaman dan rekonstruksi sosial. Aliran ini menyatakan bahwa realitas itu ada dalam beragam bentuk sosial, bersifat lokal dan spesifik, serta tergantung pada pihak yang melakukannya. (Agus Salim, Teori dan Paradigma Penelitian Sosial,Tiara W acana Yogyakarta, 2006).

Penciptaan realitas dilakukan dengan menggunakan bahasa (verbal maupun visual) atau tanda bahasa (simbol). Ketika akan menciptakan realitas perusahaan, maka logo dapat digunakan untuk penggambaran realitas itu, namun di saat akan menciptakan citra realitas terhadap suatu barang, maka bahasa saja tidak cukup untuk tujuan tersebut, sehingga digunakan tanda bahasa sebagai alat penggambaran citra tersebut. Di dalam iklan, bahasa digunakan dengan dua tujuan, pertama sebagai media komunikasi dan kedua bahasa digunakan untuk menciptakan sebuah realitas. Sebagai media komunikasi, penggunaan bahasa iklan dilihat sebagai yang bermakna informatif sedangkan sebagai wacana penciptaan realitas.

Metode Konstruktivisme mengakui konstrak-konstruk mempunyai kondisi sosial yang alami dan dipelajari melalui hubungan dengan orang lain. Budaya sangat penting dalam memahami suatu peristiwa. Penulis memahami bahwa tanda dan gambar dalam logo merupakan suatu konstruksi proses interaksi dalam kelompok, masyarakat dan budaya.

Paradigma merupakan pola/model tentang bagaimana sesuatu terstruktur (bagian/hubungan) atau bagaimana bagian-bagian berfungsi

(perilaku yang didalamnya ada kontek khusus/dimensi waktu).

Paradigma menggariskan apa yang seharusnya dipelajari, pernyataan- pernyataan apa yang seharusnya dikemukakan dan kaidah-kaidah apa yang seharusnya diikuti dalam menafsirkan jawaban yang diperolehnya. Dengan demikian paradigma adalah ibarat sebuah jendela tempat orang mengamati dunia luar, tempat orang bertolak menjelajahi dunia dengan wawasanya.

Terdapat tiga paradigma ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh para ilmuwan dalam mengembangkan suatu ilmu, yaitu : Positivisme dan Postpositivisme, Kontruktivisme (Interpretative), dan Critical Theory atau teori-teori kritis.

Penelitian ini menggunakan paradigma kontruktivisme. “Paradigma konstruktivis memandang ilmu sosial sebagai analisis sistematis atas „socially meaningful action‟ melalui pengamatan langsung terhadap perilaku sosial dalam setting yang alamiah, agar dapat memahami dan menafsirkan bagaimana perilaku sosial yang bersakngkutan menciptakan dan memelihara sosial mereka.

Alasan peneliti menggunakan paradigma kontruktivisme, karena penulis setuju bahwa realitas yang ada di masyarakat tidak dapat digeneralisasikan ke setiap orang seperti yang dilakukan oleh penganut paham paradigma postivisme.

Dokumen terkait