• Tidak ada hasil yang ditemukan

Paradigma Sektoral (Lama) VS Paradigma Trade-in-Task (Baru), (Safadi, 2013)

46

Diagram 12 Paradigma Sektoral (Lama) VS Paradigma Trade-in-Task (Baru), (Safadi, 2013)

Integrasi kedalam rantai nilai global juga menghadirkan perspektif pentingnya peran perdagangan barang antara. Hal ini terkait dengan bagaimana di era rantai nilai global saat ini, suatu produk akhir telah mengalami berbagai proses produksi dan penggabungan komponen (perakitan) didalamnya. Komponen dan produk akhir tersebut tentunya berasal dari berbagai jenis barang antara yang diproduksi di berbagai negara di dunia. Sehingga pertukaran barang antara menjadi krusial, dan mengindikasikan bahwa untuk menghasilkan produk ekspor yang berkualitas tentunya dibutuhkan impor barang antara yang juga berkualitas. Dan seiring dengan meningkatnya kualitas ekspor, maka nilai dari transaksi ekspor juga akan meningkat, dengan implikasinya adalah struktur neraca transaksi berjalan yang lebih kuat.

Industrial Upgrading dan Migrasi Ke Negara Maju

Keberhasilan industrial upgrading dalam memperkuat struktur sisi penawaran di Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh opsi-opsi yang tersedia terkait arah kebijakan industri ke depan. Untuk mengetahui opsi-opsi tersebut dapat mengambil pelajaran dari pengalaman negara peers pesaing utama, misalnya SIngapura, Malaysia dan China. Untuk ini dilakukan pengukuran pergeseran output industri Indonesia vis a vis peers dengan menggunakan pendekatan Trade-In-Value-Added dengan klasifikasi output industri berdasarkan teori Smiley Curve (Grafik 17). Dari hasil analisis perbandingan

a ta a tahu da didapatka ah a Nega a Pee s elakuka le eli g da i aktu ke

waktu, yaitu menyeimbangkan pangsa output industri ke ketiga sisi smiley curve. Dimulai dari

47 dengan meningkatkan pangsa aktivitas R&D dan sourcing (sisi kiri smiley curve), seperti Malaysia dan China. Opsi kedua adalah dengan meningkatkan pangsa logistics, sales, services (sisi kanan smiley curve), seperti yang dilakukan Singapura. Baik opsi bergerak ke sisi kiri ataupun sisi kanan smiley curve membawa konsekuensi yaitu turunnya pangsa sektor produksi di sisi tengah smiley curve. Indonesia sendiri, dari tahun 2000 sampai tahun 2009 terlihat tidak banyak mengalami perubahan berarti, dengan pangsa output industri masih didominasi oleh aktivitas produksi (sisi tengah smiley curve) yang mencapai 75,8% pada tahun 2000, dan mencapai 74,5% output industri pada tahun 2009.

Grafik 17 Perbandingan Posisi Pencapaian Negara-Negara Dalam Melakukan Industrial Upgrading, 2000 & 2009

48

Grafik 18 Komparasi CA/GDP R&D intensive, labor intensive, energy intensive, dan others, Indonesia dengan Peers

Keberhasilan dalam melakukan industrial upgrading juga berpotensi memperbaiki kinerja transaksi berjalan. Sebagaimana yang diilustrasikan pada Grafik 18, negara yang struktur ekspornya didominasi oleh barang-barang R&D Intensive cenderung memiliki rasio CA/GDP yang surplus, sedangkan Negara dengan struktur ekspor barang labor intensive cenderung memiliki rasio CA/GDP yang defisit. Kemudian untuk Negara dengan profil ekspor yang didominasi barang energy intensive cenderung memiliki kinerja CA/GDP yang semakin memburuk walaupun masih cukup kuat, termasuk Indonesia yang sudah mencatatkan defisit neraca transaksi berjalan secara persisten dalam 9 kuartal terakhir.

Industrial upgrading juga merupakan faktor penting yang sangat diperlukan untuk memastikan bahwa transformasi perekonomian Indonesia pada akhirnya dapat menurunkan tingkat ketimpangan pendapatan dalam perekonomian secara natural, seiring dengan meningkatnya pendapatan per kapita. Berdasarkan kurva kuznet, suatu negara pasti akan mengalami peningkatan inequality seiring dengan peningkatan pendapatan per kapita nya. Diukur menggunakan indikator rasio Gini, data antarnegara menunjukkan bahwa inequality suatu negara akan meningkat sampai

suatu titik tertentu sebelum akan kembali menurun, seiring peningkatan pendapatan per kapita (Grafik 19). Oleh karena itu, hanya dengan cara terus meningkatkan pendapatan per kapita lah, Indonesia dapat menurunkan inequality yang terjadi sebagai konsekuensi pertumbuhan ekonomi.

49

Grafik 19 Kurva Kuznet, Gini Ratio VS Pendapatan per Kapita, Selected Countries

Hasil pe elitia G.A Diah Uta i & ‘et i C isti a Growth & Inequality in Indonesia : Does

Kuz ets Cu e Hold? , de ga e ggu aka etode odel pa el data di a is de ga data

panel 26 provinsi dari 2000 s.d 2011, menunjukkan hasil bahwa fenomena Kuznets Curve berlaku

untuk perekonomian Indonesia dimana ketimpangan diperkirakan akan menurun seiring dengan meningkatnya pendapatan per kapita. Dalam konteks ini, industrialisasi menjadi salah satu faktor

pe ti g u tuk e astika ah a Kuz ets th eshold dapat te apai.

Industrial upgrading pada hakekatnya adalah transformasi kehandalan dunia usaha kearah yang lebih berdaya saing secara global. Akan tetapi agar dampak dari industrial upgrading dapat optimal, maka diperlukan transformasi modal-modal dasar pembangunan. Modal-modal dasar apa saja yang diperlukan? Untuk menjawab pertanyaan ini, Grafik 20 dibawah kiranya dapat memberi indikasi awal. Terlihat pada grafik bahwa kapabilitas industrial memiliki dampak positif pada kenaikan pendapatan per kapita. Akan tetapi kemampuan suatu negara untuk mencapai tingkat pendapatan per kapita yang lebih tinggi juga ditentukan oleh kapasitas inovasi yang dimilikinya. Ini artinya, untuk dapat memberi dampak maksimal pada kesinambungan migrasi ke negara maju diperlukan pula peningkatan kapasitas inovasi.

50

Grafik 20 Plot Kapabilitas Industri VS Pendapatan per Kapita

Lebih lanjut, untuk meningkatkan kapasitas inovasi diperlukan penguatan enabling factors

yang dapat mendorong aktivitas inovasi. Terkait ini, aktivitas banyak dipengaruhi oleh kualitas pendidikan dan infrastruktur digital, selain aktivitas R&D yang merupakan bentuk langsung dari inovasi. Menggunakan indikator Knowledge Economy Index (KEI) yang terdiri dari tiga komponen Utama yaitu Innovation Index, Education Index, dan ICT, analisis grafis menunjukkan pengaruh yang positif dari pendidikan dan kualitas infrastruktur digital terhadap aktivitas inovasi (Grafik 21).

51 Analisis lebih lanjut kemudian dilakukan untuk masing-masing komponen pendorong inovasi, yaitu kualitas pendidikan dan kualitas infrastruktur. Untuk kualitas pendidikan, analisis grafis menunjukkan bahwa pendidikan tersier sangat vital berperan dalam meningkatkan pendapatan per kapita 20 negara Asia yang menjadi sampel. Pendidikan tersier yang dimaksud terdiri dari 4 bidang pendidikan tinggi, yaitu sosial, bisnis, dan hukum (1), sains (2), teknik, manufaktur, dan konstruksi (3), dan kesehatan (4). Kemudian, 4 bidang pendidikan tersier yang ada, ternyata juga memiliki efektivitas yang berbeda-beda didalam mempengaruhi kenaikan pendapatan per kapita. Hasil analisis menunjukkan bahwa bidang teknik, manufaktur, konstruksi, serta bidang kesehatan memiliki efektivitas tertinggi didalam mempengaruhi peningkatan pendapatan per kapita (Grafik 22).

Grafik 22 Plot Gni/Cap Vs Pendidikan Tersier Untuk Masing-Masing Bidang Pendidikan

Pentingnya bidang teknik (engineering dan technology) juga terkonfirmasi dari jumlah tenaga peneliti yang mendominasi di negara maju. Dibandingkan tenaga riset di bidang lainnya, Negara maju seperti Singapura, Korea, dan Jepang memiliki tenaga riset bidang teknik yang sangat besar, masing-masing mencapai 53,50%, 62,17%, dan 67,04%. Negara berkembang didalam kelompok pendapatan menengah-tinggi seperti Malaysia juga memiliki profil yang sama. Hal ini berkebalikan dengan Negara berkembang yang masih berada di tingkat pendapatan yang lebih rendah, dimana dominasi tenaga peneliti berasal dari bidang sains murni, seperti di Indonesia, Thailand, dan Filipina (Grafik 23).

52 Kualitas pendidikan tersier juga menjadi salah satu faktor utama pendukung penurunan tingkat ketimpangan pendapatan secara natural seiring migrasi ke negara maju. Hal ini dapat ditunjukkan pada hasil estimasi pada Tabel 3. Hasil empiris ini menunjukkan bahwa persentase jumlah populasi dengan tingkat pendidikan tersier berkorelasi negative terhadap kesenjangan pendapatan. Hal ini sejalan dengan teori yang menyebutkan bahwa perbaikan kualitas pendidikan akan meningkatkan pendapatan masyarakat. Sedangkan dari sisi fungsional, pendidikan akan meningkatkan produktivitas, dimana semakin tinggi tingkat pendidikan akan mendorong tingkat produktivitas.24

Tabel 3 Dynamic Panel SYS-GMM Estimation of Determinant of Inequality

Gini Ratio Estimated

Coefficients

Standard

Error P>|z| Gini Ratio

Estimated Coefficients

Standard

Error P>|z|

L.Gini Ratio 0.1850 0.0179 0.000 L.Gini

Ratio 0.1564 0.0179 0.000 YCap 0.1566 0.0298 0.000 YCap 0.1567 0.0298 0.000 YCap2 -0.0015 0.0000 0.000 YCap2 -0.0018 0.0000 0.000 Pop 0.0696 0.0340 0.041 Schooling -0.0406 0.0046 0.000 CPI 0.0005 0.0000 0.000 S.Industry -0.0276 0.0045 0.000 Schooling -0.0604 0.0100 0.000 IHK 0.00062 0.0000 0.000 S.Agriculture 0.0415 0.0167 0.013 Tertier -0.0006 0.0001 0.001 S.Industry -0.0343 0.0049 0.000

Arellano Bond Test z Prob > z Arellano Bond Test z Prob > z

Order 1 Order 2 -1.9176 -1.4867 0.0552 0.1371 Order 1 Order 2 -1.8235 -1.2654 0.0682 0.2057

Sargan Test Chi2(11) = 24.8377

Prob>chi2= 0.1660

Sargan Test Chi2(11) = 25.6374

Prob>chi2= 0.1406

Catatan: Hasil di panel kiri dari Utari & Christina, 2013, sementara itu hasil di panel kanan adalah reestimasi dan pengembangan oleh Penulis

24

53

Grafik 23 % Komposisi Tenaga Peneliti Menurut Bidang Penelitiannya

Faktor pendorong aktivitas inovasi yang berikutnya adalah kualitas infrastruktur baik fisik maupun digital. Untuk melihat lebih detail terkait kondisi infrastruktur fisik dan non-fisik di seluruh propinsi di Indonesia, dilakukan regresi cross-section 27 propinsi dengan pendapatan per kapita sebagai variable dependen dan infrastruktur fisik sebagai variabel independen (Tabel 4). Selain itu ditambahkan juga aspek kualitas SDM dan besaran investasi kedalam model. Dari hasil regresi cross- section dan robustness check menggunakan beberapa model yang berbeda didapatkan hasil bahwa infrastruktur terkait pasokan energi yang diproksi menggunakan kapasitas listrik terpasang, kemudian kapasitas bongkar muat pelabuhan terhadap total perdagangan, dan investasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan per kapita di suatu propinsi. Sedangkan peningkatan panjang jalan ternyata berpengaruh negatif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan per kapita. Hal ini kemudian membawa kepada argumen bahwa Indonesia sebagai Negara maritim harus lebih fokus mengembangkan infrastruktur laut, karena lebih efektif didalam meningkatkan kesejahteraan, dibandingkan dengan infrastruktur jalan.

67.04

62.17

53.30

40.75

34.87

34.41

11.82

11.12

0.00

10.00

20.00

30.00

40.00

50.00

60.00

70.00

80.00

Rep of Korea Singapore Japan Malaysia Philippines Myanmar Thailand

Indonesia natural sciences

medical and health sciences humanities

engineering and technology agricultural sciences

54

Tabel 4 Estimasi GNI/Cap: SDM, Energi, Jalan, Pelabuhan, Investasi

Berdasarkan hasil analisis berbagai indikator tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa kualitas infrastruktur fisik & digital, aktivitas R&D dan inovasi, serta kapabilitas industri menjadi kunci untuk menjawab pertanyaan what to reform terkait upaya untuk memperkuat kesinambungan migrasi Indonesia ke negara maju.

Aspek Spasial Industrial Upgrading

Untuk melengkapi pembahasan tentang industrial upgrading, perlu kiranya untuk menyampaikan pandangan awal tentang dimensi spasial dari kebijakan industrial upgrading. Profil spasial struktur industri di nusantara sesungguhnya sudah memberikan sedikit gambaran bahwa kawasan Jawa merupakan basis berdirinya industri manufaktur berteknologi rendah-menengah- tinggi. Sedangkan Kawasan Luar Jawa merupakan basis berdirinya industri SDA ekstraktif dan industri manufaktur berteknologi rendah.

55 Apabila dilihat dari faktor endowments masing-masing wilayah, Kawasan Jawa juga memiliki daya saing yang paling tinggi dibandingkan wilayah lain. Dari sisi tenaga kerja, daya saing upah di 4 provinsi Kawasan Jawa merupakan yang terendah dibandingkan wilayah lain di nusantara. Ini berarti, akan sangat sulit untuk mengembangkan industri manufaktur di luar Kawasan Jawa akibat daya saing upah yang sudah tidak kompetitif lagi. Hal ini juga membuktikan bahwa migrasi industri manufaktur ke luar kawasan Jawa tidak akan terjadi (Grafik 24).

Grafik 24 Daya Saing Upah Di Jawa Akan Menipis

Dari sisi kualitas infrastruktur fisik, yang diukur dari kapasitas pelabuhan, rasio jalan, dan rasio elektrifikasi, kawasan Jawa juga jauh lebih unggul dibandingkan Kawasan Luar Jawa (Grafik 25 & Grafik 26). DKI, Jabagtim, dan Jabagbar memiliki kualitas pelabuhan yang berada jauh diatas rata- rata nasional, sedangkan Jabagbar sampai saat ini menggunakan pelabuhan di DKI untuk mendukung aktivitas ekspor impornya. Untuk kualitas jalan, hanya kawasan Balinustra yang memiliki kualitas jalan yang hampir mendekati kawasan Jawa. Kemudian ketersediaan energi juga lebih terjamin di Kawasan Jawa, ditunjukkan dari rata-rata ketersediaan yang mencapai 75%, jika dibandingkan Kawasan Sumatera yang hanya sebesar 58%, dan Kawasan Kalimantan, Sulawesi, Papua yang hanya sebesar 51%.

Grafik 25 Upah & Kapasitas Pelabuhan, Per Wilayah

0 500 1000 1500 2000 Sumbagut Sumbagteng Sumbagsel DKI Jakarta Jabagbar Jabagteng Jabagtim Balnustra Kalimantan Sulampua Upah (Rp.000) Kapasitas Pelabuhan

Infrastructure

2010

>10250 >2719 > > 3545.6

56

Grafik 26 Kualitas Jalan & Ketersediaan Listrik, Per Wilayah

Sehingga dapat disimpulkan, untuk membangun industri manufaktur berteknologi menengah-tinggi, lokasi yang tepat adalah di Kawasan Jawa. Di sisi lain, Kawasan Luar Jawa harus dapat meningkatkan nilai tambah dari industri SDA nya dengan melakukan hilirisasi.

Industrial Upgrading dalam Konteks Pembangunan Ekosistem Inovasi di Nusantara

Masalah kapabilitas industrial yang sudah obsolete pada sisi penawaran mendorong adanya kebutuhan untuk melakukan industrial upgrading baik di Kawasan Jawa maupun Kawasan Luar Jawa. Sementara itu, untuk dapat meningkatkan kapabilitas industri yang tertinggal, industrialisasi perlu diarahkan agar berbasis sains & teknologi. Basis ini dapat diperkuat dengan meningkatkan aktivitas R&D Indonesia yang masih tertinggal dibandingkan Peers (Grafik 27). Selain mempertimbangkan bahwa pesaing di regional juga melakukan hal yang sama25, industri yang berbasis sains & teknologi adalah juga industri-industri yang padat menyerap modal manusia sehingga mempercepat peningkatan pendapatan per kapita suatu negara.

25

(1) China memberikan kebebasan kepada universitas untuk menjalankan bisnis berorientasi profit dengan basis riset sains & teknologi. Hal ini secara langsung mengurangi porsi pemerintah didalam pangsa pengeluaran R&D, yang berkorelasi positif dengan peningkatan pendapatan per kapita. (2) India masih mengandalkan pendanaan R&D dari pemerintah dengan pangsa 51%, namun fokus diarahkan untuk riset pada bidang engineering, bioteknologi, dan medical sciences. (3) Jepang meluncurkan program modal ventura untuk bisnis start-up berbasis teknologi pada tahun 2002 yang mendorong partisipasi lebih dari 1,000 Universitas di Jepang untuk ambil bagian. Hasilnya adalah terjadi peningkatan aplikasi paten, IPO

perusahaan berbasis teknologi, dan peningkatan pertumbuhan partisipasi dari universitas di seluruh Jepang. (4) Singapura mencanangkan skema R&D Assistance untuk meningkatkan kolaborasi antara universitas dengan industri. Kemudian didirikan lembaga transfer teknologi yang mengelola Intelectual Property. Selengkapnya lihat WIPO (2007)

10 30 50 70 90 110 Sumbagut Sumbagteng Sumbagsel DKI Jakarta Jabagbar Jabagteng Jabagtim Balnustra Kalimantan

Sulampua Rasio Jalan

57

Grafik 27 GERD-Gross Expenditure on R&D

Tidak hanya sekedar besarnya pengeluaran di bidang R&D, namun jenis riset yang dilakukan juga penting. Dari data pangsa pengeluaran R&D berdasarkan jenis risetnya, ditemukan perilaku bahwa negara-negara maju memiliki komposisi aktivitas R&D yang tidak hanya bertumpu dari sektor bisnis semata, namun sudah berpindah pada aktivitas R&D yang sifatnya experimental dan juga riset aplikatif. Dalam hal ini, Indonesia bahkan belum mencatatkan pengeluaran R&D terkait aktivitas yang sifatnya experimental dan juga aplikatif, sama dengan beberapa Negara ASEAN lain seperti Brunei, Vietnam, Laos, dan Filipina. Sedangkan Negara maju seperti Jepang, Korea, dan Singapura memiliki komposisi pengeluaran R&D yang cukup besar dari riset experimental serta riset aplikatif. Hal ini sesungguhnya menggambarkan maturitas dari industrialisasi di suatu Negara (Grafik 28).

58 Dalam konteks spasial, kerangka industrial upgrading perlu dikembangkan sesuai dengan hasil analisis Where to Locate, sehingga analisis akar masalah dibedakan untuk Kawasan Jawa dan Kawasan Luar Jawa. Dengan mempertimbangkan faktor endowments masing-masing kawasan, pengembangan industri berteknologi menengah-tinggi dapat dilakukan di Kawasan Jawa, sedangkan Kawasan Luar Jawa dapat dikembangkan untuk industri berteknologi rendah dengan basis input SDA. Untuk memetakan kebutuhan industrial upgrading tersebut, dilakukan analisis akar masalah yang berangkat dari karakteristik produk yang akan dikembangkan serta motif investor didalam melakukan investasi. Karakteristik produk dan motif investasi akan membawa pada suatu lingkungan enabling factor yang dapat mewujudkan industrialisasi yang diinginkan.

Industrial Upgrading di Kawasan Jawa (Pembangunan Techno & Science Parks di Jawa)

Kawasan Jawa dapat diarahkan untuk mengembangkan industri berteknologi menengah- tinggi. Agar industri tersebut dapat tumbuh dengan baik, diperlukan fasilitas pendukung yang dapat menjawab prasyarat daya saing investasi. Efisiensi biaya produksi, besarnya ukuran pasar konsumsi, dan juga variasi kebutuhan permintaan kelas menengah akan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor untuk berbisnis di Kawasan Jawa. Bentuk fasilitasi industri yang dapat menjawab kebutuhan investor tersebut adalah ketersediaan energi, layanan publik, infrastruktur logistik perdagangan, tenaga kerja terampil, alokasi anggaran untuk aktivitas R&D, dan adanya insentif yang diberikan oleh pemerintah.

Produk teknologi menengah-tinggi umumnya berasal dari produsen global dengan merek dagang yang sudah mendunia. Daya tawar merek yang dimiliki sedemikian besar sehingga untuk menarik investasi, dibutuhkan perlakuan khusus berupa insentif. Pemerintah dapat memberikan insentif berupa keringanan pajak (tax holiday) serta alokasi kawasan industri khusus, disamping peran pemerintah sebagai koordinator investasi dan pengelola regulasi26.. Solusi kawasan industri khusus ditujukan untuk mempercepat penyediaan enabling factor yang terdiri dari berbagai aspek diatas.

Pasokan tenaga kerja berkualitas juga harus didukung dengan fasilitas hidup dan tempat tinggal yang berkualitas. Perencanaan kota yang ramah terhadap kebutuhan tenaga kerja terampil akan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi talenta calon pekerja di industri berteknologi menengah-tinggi. Infrastruktur digital seperti koneksi broadband, dan

26

Terdapat beberapa prinsip filosofis yang mendasari kesuksesan pemerintah didalam melakukan industrial upgrading berbasis sains & teknologi terintegrasi, yaitu visi pembangunan kawasan yang jelas, dukungan yang kontinu dalam ekspansi jejaring industri, komitmen proaktif dan partisipasi berdasarkan kepercayaan dan otonomi, dan pembelajaran interaktif lewat knowlegde sharing. Selengkapnya lihat Rhee et al. (2013)

59 infrastruktur sains & teknologi seperti fasilitas laboratorium riset, dan adanya kerjasama riset universitas-industri juga menjadi penting untuk mengintegrasikan kawasan industri berbasis sains dan teknologi yang terhubung dengan universitas dan pemerintah (triple helix). (Diagram 13)

Diagram 13 Analisis Akar Masalah Terkait Industrial Upgrading

Dokumen terkait