MEMBACA ULANG PEMIKIRAN
C. Penulisan Sejarah Indonesia: Mmenuju “The New History” Dalam bagian terakhir ini akan disajikan tawaran penulisan
4. Paradigma tradisional meyakini bahwa sejarah didasarkan pada “the documents”
Ungkapan Ranke (1795-1886) yang sering dikutip adalah “no document no history”. Dokumen-dokumen resmi pemerintah yang disimpan di lembaga arsip-arsip menjadi sumber yang diandalkan waktu itu. Sementara “Sejarah Baru” bersikap terbuka 57 Lihat Richard Robinson, Indonesia The Rise of Capital, (Singapore :
Kin Hup Lee. Printing Co. 1986).
58 Lizzy van Leeuwen, “Orang Kaya di Jakarta Tahun 1994, Seorang Ibu
dan Dua Puteri”, dalam Henk Schulte Nordholt (ed.), Outward Appearances, Trend, Identitas, Kepentingan, (Yogyakarta: LKiS, 2005), hlm. 495-532
untuk memperlakukan sumber-sumber beragam lainnya sebagai “materi sejarah”; data lisan, visual art, patung, diorama, foto, film,
bunyi, bangunan, sikap (manner and style), dan juga data statistik,
dan lain-lain.
Ranke bisa dianggap telah mengingkari metode “klasik” seja- rah, yakni metode Herodotus atau Thucydides (Bapak Sejarah Dunia) ketika menulis perang Peloponnesia. Mereka melakukan wawancara terhadap para prajurit yang terlibat dalam perang tersebut. Sejak saat diyakininya dokumen sebagai sumber satu- satunya yang paling valid, maka penulisan sejarah mengalami kemunduran. Namun, setelah Allan Nevins dari Columbia Uni- versity pada tahun 1948 menggunakan metode Sejarah Lisan da- lam merekonstruksi masa lalu kulit putih Amerika, Sejarah Lisan mulai kembali mengalami kemajuan. Disusul dengan Paul Th-
ompson dalam bukunya berjudul Voice of The Past, Oral History,
metode Sejarah Lisan mengembalikan posisi pentingya, dan membuka potensi rekonstruksi atas masa lalu lebih mudah dilaku-
kan.59 Penulisan sejarah semacam ini (khususnya banyak menggali
aspek sosial) mulai berorientasi pada penulisan sejarah yang beragam, dari lapisan bawah atau “history from below, history from within”. Dengan upaya ini usaha pendemokratisan dalam sejarah dilakukan.
Dalam karya itu, Thompson mencontohkan bagaimana karya-karya George Ewart Evans misalnya, sejarawan ekonomi yang banyak membahas kegiatan ekonomi masyarakat Inggris di masa lalu, bisa dihadirkan dari sudut pandang rakyat. Ia mela- kukan penelitian mengenai pertanian masyarakat East Anglian:
59 Paul Thompson, The Voice of the Past, Oral History, (Oxford Univer-
tentang metode-metodenya, dari pertanian dengan tenaga uap yang besar kepada pertanian bertanah kecil, ekonomi sapi dan jagung, pedagang, petani dan buruh tani. Penelitian itu tersaji dalam dua bukunya berjudul “The Horse in the Furrows, The Farm and the Village” dan “Where Beards Wag All”. Ada sesuatu yang menarik dari sisi perekaman. Ia menunjukkan bagaimana dialek buruh pertanian Inggris kuno dicemooh oleh tuan tanah perkotaan sebab tidak jelas pelafalannya. Buruh itu masih meng- gunakan struktur tata bahasa Chaucerian yang berbeda dengan Inggris konvensional.
Bukankah salah satu inspirasi Sartono Kartodirdjo adalah buku semacam itu? Melihat proses industrialisasi di Inggris tidak dijelaskan sebagaimana selama ini dengan hadirnya teknologi mesin uap, namun proses itu dihadirkan melalui perhatiannya terhadap peranan para petani dan desa ketika mengalami indus- trialisasi (meski dalam hal ini ia hanya berdasarkan pada sumber- sumber tertulis): bagaimana desa mengalami monetisasi, tanah dikonversi, dan para petani meresponnya baik secara positif mau- pun melihatnya sebagai peluang usaha dan seterusnya.
Di Indonesia, penelitian sejarah lisan (baik sebagai metode maupun sebagai sub-disiplin sejarah) telah dimulai oleh ANRI sejak tahun 1972 di bawah koordinator Jose rizal Chaniago (alm.). Serangkaian pelatihan dilakukan untuk menggali sejarah yang masih “kosong” yakni periode 1942-1950 (mengingat revolusi sosial menghancurkan banyak dokumen resmi dan masih banyak-
nya ingatan masyarakat yang belum digali tentang periode itu).60
60 Asvi Warman Adam, “Sejarah Lisan di Asia Tenggara, Sejarah Korban
di Indonesia, dalam P. Lim Pui Huen, Sejarah Lisan di Asia Tenggara, (Jakarta: LP3ES, 2000), hlm xix
Di UGM pada tahun 1989-1990 Kuntowijoyo telah mengem- bangkan sejarah lisan sebagai sejarah alternatif dalam mengung- kap kehidupan buruh dan mandor di pabrik gula Colomadu dekat
Surakarta.61 Terdapat serangkaian wawancara yang dihasilkan
dalam proyek yang melibatkan jurusan Sejarah UGM dan PAU- UGM itu, yang sampai saat ini menunggu diterbitkan. Sejak saat itu pula sejarah lisan menjadi matakuliah wajib di Jurusan Sejarah UGM dan di jurusan-jurusan lain.
Sejarah lisan telah mendemokratisasi pengetahuan sejarah, “It allows heroes not just from the leaders, but from the unknown majority of the people. ....It bring history into, and out of, the com-
munity”.62
Sayangnya, meski sejarah lisan telah diajarkan dan menjadi bagian dari metode penelitian sejarah, posisinya masih ditempat- kan secara minor sebagai “pelengkap” dari sumber tertulis, dan ditempatkan semata-mata sebagai “metode”, yakni cara mengum- pulkan data berupa wawancara. Padahal sejarah lisan dapat menjadi penelitian mandiri sebagai sejarah lisan itu sendiri dan membawa implikasi metodologis sekaligus metodis tatkala ia diposisikan sebagai terobosan dalam menembus realitas di balik fakta: yakni ingatan. Berbagai ingatan yang bersifat traumatik atas masa lalu, dimana kekerasan dan ketidakadilan menimpa
pelaku sejarah (survivor), maka sejarah lisan dapat menemukan
61 Kuntowijoyo, Perubahan Sosial di Pedesaan: Sejarah Lisan di Surakarta,
1930-1960, (PAU-UGM dan Jurusan Sejarah UGM, 1990).
62 Paul Thompson, op.cit., hlm 18
63 Jonh Roosa dan Ayu Ratih, “Sejarah Lisan di Indonesia dan Kajian
Subyektifitas”, dalam Henk Shulte Nordholt, Bambang Purwanto, dan Ratna Saptari, op.cit.
kembali suara mereka yang selama ini dibungkam atau disem-
bunyikan.63 Sejarah lisan dapat menghadirkan kembali subyek-
subyek yang selama ini absen dalam narasi sejarah atau yang kemunculannya dilihat sebagai pesakitan belaka. Hal demikian memang sulit dilakukan. Peneliti sering menghadapi dua kendala krusial; pertama, cenderung menjalankan tugas sebagai psikiater
yang sedang melakukan trauma healing, dan kedua, larut dalam
suasana traumatisme, kesedihan, dan subyektifitas pelaku tanpa bisa mengungkap realitas faktawi berupa tragedi yang menimpa si pelaku.
Jenis sejarah lisan yang terakhir ini, yang umumnya lebih menyoroti akibat dari suatu peristiwa sebagaimana metode seja- rawan Piere Nora, tentu jauh dari jangkauan historiografi Sarto- noian yang lebih menekankan pada sebab-sebab peristiwa sejarah. Ia juga berbeda dengan proyek sejarah lisan ANRI atau Depar- temen Pendidikan dan Kebudayaan yang menempatkan negara sebagai fokus perhatiannya dan apa yang disebut sebagai “pelaku sejarah” sebagai atribut kenegaraan itu. Historiografi semacam inilah yang diharapkan mampu menjawab tantangan penulisan sejarah di negara-negara pasca rezim otoriter.
5. “Mengapa Brutus Menikam Caesar?”
Cara pandang sejarah tradisional mengikuti cara pandang seperti yang dikenal melalui ucapan R. G. Collingwood; “ketika sejarawan bertanya ‘Mengapa Brutus menikam Caesar?’, artinya adalah ‘Apa yang dipikirkan Brutus saat itu, sehingga mengaki- batkan ia menikam Caesar?’” Kata “apa yang dipikirkan” itu hen- dak membawa penjelasan ke arah “psikologi pribadi” semata, padahal bisa dibaca secara lebih luas sebagai kepentingan kelom- pok, perseteruan terselubung parlemen dsb.
Pandangan semacam itu dapat dilakukan dalam penelitian biografi dan sejenisnya. Ketokohan tidak hanya dilihat sebagai gejala tunggal namun dalam bingkai sosial dan kulturalnya. Biografi adalah kombinasi antara perwatakan tokoh, “sejarah substantif” sang tokoh yang berisi tentang rentetan aktifitasnya, apa, kapan, dan dimana, serta keadaan zaman tokoh (sosial- kultural).
Sudah banyak penulisan biografi dalam historiografi Indo-
nesia. Di antaranya adalah karya M. Nursam, Pergumulan Seorang
Intelektual: Biografi Soedjatmoko. Dalam tulisan itu dijelaskan latar belakang keluarga priyayi Jawa yang kuat agamanya, pendidikan
Belanda, setting Hindia Belanda, Jepang, dan perkembangannya
berinteraksi dengan dunia internasional melalui pengalamannya menjadi wartawan, politisi dan diplomat, memberi gambaran
tentang “siapa sosok” dan mengapakah Soedjatmoko itu.64
Sartono Kartodirdjo pernah menuliskan pengalamannya semasa periode revolusi di dua kota. Ia menempatkan penga- laman itu dalam konteks yang lebih luas saat itu. Ia ingin menun- jukkan bahwa pengalaman subyektifitas seseorang menjadi bahan baku penulisan sejarah suatu masyarakat.