IV. HASILDAN PEMBAHASAN
4.3. Kualitas Air
4.3.2. Parameter kimia
Tabel 9. Parameter kimia stasiun I Pangetahan
No. Parameter Kisaran
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3
1 DO (mg/L) 6 6.6 6.5
2 COD (mg/L) 80 125 95
3 BOD (mg/L) 10.2 40.3 25.4
4 pH 7.8 8.2 8.1
B. Desa Jelerangan
Tabel 10. Parameter kimia stasiun II Jelerangan
No. Parameter Kisaran
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3
1 DO (mg/L) 6 6.2 6.2
2 COD (mg/L) 80 85 82
3 BOD (mg/L) 9.1 9.4 9.1
4 pH 7.9 7.9 7.9
Berdasarkan parameter kimia untuk masing-masing desa dengan 3 (tiga) stasiun yang berbeda dapat dijelaskan hasilnya sebagai berikut :
A. Dissolved Oxygen(DO)
Dissolved Oxygen (DO) atau oksigen terlarut adalah jumlah miligram oksigen yang terlarut dalam satu liter air. Kelarutan oksigen dalam air dipengaruhi oleh suhu, salinitas, dan tekanan atmosfer (Cordova, 2008). Kandungan oksigen berkurang seiring dengan meningkatnya suhu, ketinggian, dan berkurangnya tekanan atmosfer (Effendi 2003). Organisme akuatik membutuhkan oksigen terlarut dalam jumlah yang cukup. Kadar oksigen terlarut yang tinggi tidak menimbulkan pengaruh fisiologis bagi organisme (Effendi 2003). Nilai kadar alamiah dari oksigen terlarut adalah sebesar 5 mg/l (Nemerow, 1991 in Effendi, 2003) dan baku mutu untuk oksigen terlarut adalah sebesar > 3 mg/l (PP no.82 Tahun 2001).
Nilai DO pada stasiun 1, 2, dan 3 Desa Pangetahan secara berurutan adalah 6 mg/L, 6.6 mg/L, 6.5 mg/L. Nilai DO pada ketiga stasiun tersebut tergolong cukup baik dan fotosintesis yang terjadi di perairan juga baik, karena nilai DO berada dalam kisaran kadar alamiah oksigen terlarut perairan. Pada stasiun 1, 2, dan 3 Desa Jelerangan nilai DO secara berurutan adalah 6 mg/L, 6.2 mg/L, 6.2 mg/L. Nilai DO pada ketiga stasiun tersebut berada dalam kisaran alamiah perairan laut. Nilai oksigen terlarut cukup baik hal ini dikarenakan fotosintesis fitoplankton di perairan Pulau Puhawang baik, kecerahan yang baik juga mendukung proses fotosintesi lebih maksimal, kondisi suhu sebesar 30oC yang masih dalam batas aman juga membuat fitoplankton nyaman untuk berfotosintesis menghasilkan oksigen pada kolom perairan. Nilai DO yang baik juga mempengaruhi metabolisme organisme, dengan dukungan ketersediaan oksigen terlarut yang baik maka kelangsungan hidup organisme perairan akan terjamin dan ekosistem perairan dapat berlangsung baik.
B. Chemical Oxygen Demand(COD)
Chemical Oxygen Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimiawi menggambarkan jumlah total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi, baik yang dapat didegradasi secara biologis maupun yang sukar didegradasi secara biologis menjadi CO2 dan H2O.
Keberadaan bahan organik dapat berasal dari alam ataupun dari aktivitas rumah tangga dan industri, misalnya pabrik bubur kertas (pulp), pabrik kertas, dan industri makanan. Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/liter, sedangkan pada perairan yang tercemar terdapat lebih dari 200 mg/liter dan pada limbah industri dapat mencapai 60.000 mg/liter (Effendi 2003).
Nilai COD pada perairan Desa Pangetahan pada stasiun 1, 2, dan 3 secara berurutan adalah 80 mg/L, 125 mg/L, 95 mg/L. Nilai Baku mutu COD adalah 150 mg/L (Anonim, 2007). Nilai kisaran COD pada perairan Desa Pangetahan masih berada pada kisaran aman karena dari ketiga stasiun masih berada nilainya kurang dari 150 mg/L. Pada perairan Desa Jelerangan, nilai COD perairannya pada stasiun 1, 2, dan 3 secara berurutan adalah 78 mg/L, 85 mg/L, 82 mg/L. Nilai kisaran COD pada perairan Desa Jelerangan juga masih tergolong aman karena masih berada pada kisaran kurang dari 150 mg/L. Nilai COD di Pulau Puhawang tergolong baik untuk kepentingan perikanan, karena proses oksidasi bahan organik secara kimiawi dapat berlangsung normal sehingga pasokan CO2 dan H2O bagi ekosistem dapat terjaga dengan baik.
C. Biochemical Oxygen Demand(BOD)
Biochemical Oxygen Demand(BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biokimiawi BOD merupakan gambaran kadar bahan organik, sejumlah kadar oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba aerob untuk oksidasi bahan organik menjadi karbondioksida dan air (Davis and Conwell, 1991 in Effendi 2003). Dengan kata lain, BOD menunjukkan jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh proses respirasi mikroba aerob yang terdapat dalam botol BOD yang diinkubasi pada suhu sekitar 20oC selama lima hari, dalam keadaan tanpa cahaya (Boyd, 1988 in Effendi, 2003). Nilai BOD perairan dipengaruhi oleh suhu, densitas plankton, keberadaan mikroba, serta jenis dan kandungan bahan organik. Bahan organik merupakan hasil pembusukan tumbuhan dan hewan yang telah mati atau hasil buangan dari limbah domestik dan industri.
Pada perairan alami, yaitu berperan sebagai sumber bahan organik adalah pembusukan tanaman. Perairan alami memiliki nilai BOD antara 0,5 – 7,0 mg/liter (Jeffries dan Mills, 1996 in Effendi, 2003). Perairan yang memiliki nilai BOD lebih dari 10 mg/liter dianggap telah mengalami pencemaran.
Pada perairan Desa Pangetahan, nilai BOD pada stasiun 1, 2, dan 3 secara berurutan adalah 10.2 mg/L, 40.3 mg/L, 25.4 mg/L. Nilai BOD pada stasiun 2 dan 3 melebihi batas aman yaitu 10 mg/L dan dianggap telah mengalami pencemaran. Hal ini terjadi karena posisi stasiun 2 dan 3 lebih dekat ke pemukiman penduduk dibanding stasiun 1, sehingga nilai BOD akibat pembuangan limbah rumah tangga di stasiun 2 dan 3 lebih tinggi. Disamping itu, posisi Desa Jelerangan juga terletak di sebelah utara pulau dan pada Teluk Ratai yang terbebas daru arus kuat perairan Teluk Lampung (Gambar 1). Nilai BOD pada perairan Desa Jelerangan adalah 9.1 mg/L, 9.4 mg/L, 9.1 mg/L. Ketiga stasiun pada Desa Jelerangan memiliki nilai BOD yang masih berada dalam kisaran aman, karena nilai BOD kurang dari 10 mg/L.
D. Derajat Keasaman (pH)
Derajat keasaman (pH) merupakan unit pengukuran yang menggambarkan derajat asiditas, alkalinitas suatu larutan terutama sebagai indikator kualitas air (Cordova, 2008). Nilai pH suatu perairan mencirikan keseimbangan antara asam dan basa dalam air (Saeni, 1989 in Cordova, 2008). Skala pH mengacu kepada kekuatan atau konsentrasi dari ion atau atom hidrogen dalam air. Nilai pH air dapat mempengaruhi jenis dan susunan zat dalam lingkungan perairan, mempengaruhi jenis dan toksisitas dari unsur-unsur renik seperti logam (Saeni, 1989 in Cordova, 2008). Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai pH di perairan adalah aktivitas fotosintesis, suhu, serta terdapatnya anion dan kation (Cordova, 2008). Nilai kadar alamiah untuk derajat keasaman adalah sebesar 7-8,5 (Effendi 2003) dan nilai baku mutunya sebesar 6 - 9 (PP no. 20 Tahun 1990).
Nilai pH pada perairan Desa Pangetahan pada stasiun 1, 2, dan 3 secara berurutan adalah 7.8, 8.2, 8.1. Pada ketiga stasiun tersebut nilai pH masih berada dalam kisaran kadar alamiah untuk derajat keasaman sebesar 7-8.5, dan masih nilai pH pada ketiga stasiun di Desa Pangetahan masih berada dalam kisaran baku
mutu sebesar 6-9. Pada perairan Desa Jelerangan nilai pH stasiun 1, 2, dan 3 memiliki nilai pH yang sama yaitu 7.9. Nilai pH pada desa Jelerangan masih berada pada kisaran kadar alamiah untuk derajat keasaman sebesar 7-8.5, dan nilai pH berada dalam kisaran baku mutu sebesar 6-9. Berdasarkan nilai pH pada perairan Desa Jelerangan yang sama, maka perairan tersebut memiliki kemampuan fotosintesis yang sama dan baik, sehingga ekosistem perairan juga akan stabil dan kehidupan organisme juga dapat berlangsung dengan baik.
4.4. Karakteristik Sosial Ekonomi