V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.3 Perubahan Kualitas Air Sungai Di DAS Cisadane Segmen Hulu
5.3.2 Parameter kimia
5.3.2.1 Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO)
Oksigen terlarut adalah komponen kimia perairan yang sangat dibutuhkan oleh organisme aquatik sebagai unsur dalam pernapasannya. Terjadinya pencemaran dalam perairan dapat menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen terlarut dalam air tersebut yang berdampak pada kematian organisme aquatik. Berdasarkan hasil pengukuran diketahui bahwa pada tahun 2004 nilai minimum oksigen terlarut berada pada kisaran baku mutu air berada pada kisaran kelas II-III dan pada tahun 2005 nilai minimum oksigen terlarut berada dalam kisaran kelas I dan II. Air dapat digunakan untuk peruntukan dalam budidaya perikanan, peternakan, irigasi dan lainnya. Untuk
kehidupan organisme air seperti ikan, dilihat dari nilai maksimum DO setiap tahunnya dapat menopang kehidupan organisme aquatik yaitu umumnya lebih dari 5,8 mg/l nilai yang seharusnya.
Keterangan : BM I,II,III,IV = Baku Mutu Air Kelas I,II,III,IV
Gambar 14 Fluktuasi DO di tiga titik pantau tahun 2004-2008.
Penurunan nilai oksigen terlarut ini dapat disebabkan oleh masuknya limbah atau bahan pencemar dalam jumlah yang besar ke dalam perairan yang mengakibatkan kenaikan suhu perairan. Limbah domestik merupakan salah satu limbah utama yang menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut (Effendi 2003). Tinggi rendahnya suhu sangat mempengaruhi besarnya konsentrasi DO di air. Jika terjadi kenaikan suhu maka daya larut oksigen akan menurun dan sebaliknya (Odum 1971, diacu dalam Kurniawan 2005).
Jika dilihat berdasarkan klasifikasi Klein (1971), hasil pengukuran Oksigen terlarut selama lima tahun pada tiga titik pantau ini, mewakili ke empat tipe air sungai yaitu dari kondisi bagus hingga tercemar. Hal ini dilihat dari persen saturasi yang berada pada kisaran 9% sampai 99%. Darmono (2006) juga menyatakan bahwa cepat atau lambatnya arus sungai juga mempengaruhi besarnya DO. Pada sungai yang besar dengan arus yang deras sejumlah kecil bahan pencemar akan mengalami pengenceran sehingga konsumsi oksigen terlarut yang diperlukan oleh kehidupan air dan biodegradasi akan cepat diperbaharui begitu pun sebaliknya.
5.3.2.2 BOD dan COD
Damar (1996) menyatakan nilai BOD dan COD dapat dijadikan indikator pencemaran bahan organik. BOD merupakan parameter yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh organisme hidup untuk memecah atau
mengoksidasi bahan-bahan buangan dalam air (Fardiaz 1992). Perairan alami memiliki nilai BOD antara 0,5-7,0 mg/l (Jeffries dan mills 1996, diacu dalam Suripin 2002). Perairan yang memiliki nilai BOD lebih dari 10 mg/liter dianggap telah mengalami pencemaran. Hasil pengukuran selama 5 tahun sebanyak 11 pengukuran menunjukkan pada tahun 2004, 2005 dan 2007 nilai rata-rata BOD masih berada dalam batas normal untuk perairan alami. Sedangkan pada tahun 2008 nilai BOD telah melampaui batas maksimum kisaran batu mutu air kelas IV dengan nilai maksimum dan minimum masing-masingnya 28 mg/l dan 13 mg/l, sehingga dapat dikatakan perairan mengalami pencemaran.
Keterangan : BM I,II,III,IV = Baku Mutu Air Kelas I,II,III,IV
(a) (b)
Gambar 15 Fluktuasi BOD (a) dan COD (b) di tiga titik pantau tahun 2004 - 2008.
Kondisi ini menyebabkan perlu pertimbangan dan kewaspadaan dalam pemanfaatannya sesuai dengan peruntukannya. Nilai COD juga mengalami peningkatan setiap tahunnya dan berada pada kisaran baku mutu air kelas I-IV. Nilai tertinggi sebesar 58 mg/l terdapat pada tahun 2008 di titik pantau III (Rumpin). Tingginya nilai BOD dan COD ini sangat dipengaruhi oleh besarnya limbah dan sampah yang masuk ke sungai tanpa mengalami dekomposisi yang sempurna. Limbah domestik, industri, pertanian, dan peternakan adalah penyumbang terbesar. Limbah ekskreta manusia menghasilkan bahan buangan organik yang dapat meningkatkan kadar BOD badan air (Yulaswati et al. 2004). Akibatnya jumlah oksigen yang diperlukan untuk biodegradasi bahan organik ini pun meningkat. Hal ini menyebabkan terjadinya penurunan konsentrasi DO dalam air yang secara tidak langsung mengancam kehidupan organisme aquatik.
Penyumbang BOD terbesar yaitu pada titik pantau 3 tepatnya di Kecamatan Rumpin yang sudah merupakan perbatasan antara Kabupaten Bogor dan Kabupaten
Tangerang. Daerah ini termasuk daeran lingkup perkotaan dengan pemukiman padat dan beragam aktivitas hidup salah satunya keberadaan bermacam jenis industri. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Hill (2004) bahwa tingginya nilai BOD sering diindikasikan dengan tingginya hasil aktivitas manusia seperti kotoran ataupun limbah meliputi pengolahan limbah di perkotaan, industri makanan, pengolahan kimia tumbuhan, industri pulp dan kertas, penyamak kulit dan rumah pemotongan hewan.
5.3.2.3 pH
Nilai pH digunakan sebagai pengukur sifat keasaman dan kebasaan air. Air murni memiliki pH yang berkisar 7. Sedangkan nilai pH untuk air normal yang memenuhi syarat untuk kehidupan adalah berkisar antara 6,5-7,5 (Wardhana 2001). Hasil pengukuran pH setiap tahunnya menunjukkan bahwa nilai pH mengalami fluktuasi yang tidak jauh berbeda setiap tahunnya. Nilai pH masih memenuhi syarat pH air normal untuk kehidupan. Nilai pH ini juga masih memenuhi baku mutu air berdasarkan PP No.82 tahun 2001 tentang Pengelolaan kualitas air dan Pengendalian Pencemaran Air karena masih berada dalam rentang nilai pH untuk kelas I-IV yaitu 6-9 yang mengindikasikan bahwa air masih dapat dipergunakan sesuai peruntukannya.
Keterangan : Rentang BM = Rentang Baku Mutu Air (PP No 82 Tahun 2001) Gambar 16 Fluktuasi pH di tiga titik pantau tahun 2004-2008.
Jika dilihat berdasarkan kisaran pH untuk syarat kehidupan, nilai pH dari beberapa tahun seperti tahun 2004, 2005, 2007 dan 2008 melebihi kisaran pH yang seharusnya. Namun hal ini belum bisa didindikasikan bahwa perairan tersebut sudah
dalam keadaan tercemar tapi dapat diasumsikan bahwa air tidak memenuhi syarat untuk kehidupan dan perlu pertimbangan dalam penggunaannya.
5.3.2.4 Fosfat
Unsur fosfat merupakan salah satu parameter kimia kualitas air yang memiliki peranan yang cukup penting. Nilai terbesar fosfat terdapat pada tahun 2008 yaitu sebesar 0,335 mg/l pada titik pantau II dan terendah terdapat pada tahun 2004 sebesar 0,005 mg/l pada titik pantau III. Titik pantau II berada pada kawasan di titik pertemuan antara aliran sungai dari beberapa kecamatan di Kabupaten Bogor dan beberapa kecamatan di Kota Bogor. Berdasarkan PP No. 82 tahun 2001, nilai tertinggi fosfat ini masih berada dalam kisaran baku mutu air yaitu tergolong kelas I - III yang mengindikasikan bahwa air tersebut masih dapat dipergunakan sesuai dengan peruntukannya seperti irigasi, perikanan, peternakan dan lainnya.
Keterangan : BM I, II = Baku Mutu Air Kelas I, II (PP No 82 Tahun 2001)
Gambar 17 Fluktuasi fosfat di tiga titik pantau tahun 2004-2008.
Tingginya kandungan fosfat di titik pantau II ini dapat disebabkan oleh akitivitas buangan rumah tangga seperti detergen, industri kimia dan aktifitas pertanian yang masuk ke sungai. Detergen merupakan bahan pembersih yang salah satu unsurnya adalah ortofosfat beracun (Fardiaz 1992). Peningkatan buangan detergen ke sungai dapat meracuni kehidupan oraginsme aquatik. Selain itu penggunaan pupuk dan insektisida yang berlebihan juga dapat meningkatkan kandungan fosfat sehingga dapat menyebabkan tejadinya eutrofikasi pada badan sungai.