• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.6 Pariwisata Dari Sisi Penawaran

Penawaran pariwisata mencakup hal-hal yang ditawarkan oleh daerah destinasi pariwisata kepada wisatawan yang real maupun yang potensial.

Penawaran dalam pariwisata menunjukkan suatu atraksi wisata alamiah dan buatan manusia, jasa-jasa maupun barang-barang dapat menarik wisatawan untuk datang mengunjungi suatu kawasan wisata (Gomang, 2003). Menurut Heriawan (2004), sektor inti dari pariwisata mencakup: hotel, restoran, transportasi domestik dan lokal, industri kerajinan (souvenir), jasa hiburan, rekreasi dan budaya, serta biro perjalanan (paket tour).

Menurut Damanik dan Webber (2006), elemen penawaran wisata terdiri dari triple A, yang terdiri dari:

1. Atraksi

Atraksi dapat diartikan sebagai objek wisata (baik yang bersifat tangible maupun intangible) yang memberikan kenikmatan kepada wisatawan. Atraksi dapat dibagi menjadi tiga, yakni alam, budaya, dan buatan. Atraksi alam meliputi pemandangan alam, seperti Danau Kelimutu atau Gunung Bromo, udara sejuk dan bersih, hutan perawan, sungai, gua, dan lain-lain. Atraksi budaya meliputi peninggalan sejarah seperti Candi

Perambanan, adat-istiadat masyarakat seperti pasar Terapung di Kalimantan. Adapun atraksi buatan dapat dimisalkan Kebun Raya Bogor, Taman Safari, Taman Impian Jaya Ancol, dan sebagainya. Unsur lain yang melekat dalam atraksi adalah hospitally, yakni jasa akomodasi atau penginapan, restoran, biro perjalanan, dan sebagainya.

2. Aksesibilitas

Aksesibilitas mencakup keseluruhan infrastruktur transportasi yang menghubungkan wisatawan dari, ke, dan selama di daerah tujuan wisata.

Akses ini tidak hanya menyangkut aspek kuantitas tetapi juga inklusif mutu, ketepatan waktu, kenyamanan, dan keselamatan. Moda transportasi layak ditawarkan adalah angkutan penumpang tersebut berangkat dan tiba tepat waktu di Objek dan Daya Tarik Wisata (ODTW).

3. Amenitas

Amenitas adalah infrastruktur yang sebenarnya tidak langsung terkait dengan pariwisata tetapi sering menjadi bagian dari kebutuhan wisatawan.

Bank, pertukaran uang, telekomunikasi, usaha persewaan (rental), penerbit dan penjual buku panduan wisata, seni pertunjukan (teater, bioskop, pub, dan lain-lain) dapat digolongkan ke dalam unsur ini.

2.7 Prasarana dan SaranaWisata

Agar suatu obyek wisata dapat dijadikan sebagai salah satu obyek wisata yang menarik dan banyak dikunjungi oleh wisatawan, maka faktor yang sangat menunjang adalah kelengkapan dari sarana dan prasarana obyek wisata tersebut.

Karena sarana dan prasarana juga sangat diperlukan untuk mendukung dari

pengembangan obyek wisata. Menurut Yoeti (1996), mengatakan: β€œPrasarana kepariwisataan adalah semua fasilitas yang memungkinkan agar sarana kepariwisataan dapat hidup dan berkembang sehingga dapat memberikan pelayanan untuk memuaskan kebutuhan wisatawan yang beranekaragam”.

Prasarana tersebut antara lain:

1. Perhubungan: jalan raya, rel kereta api, pelabuhan udara dan laut 2. Instalasi pembangkit listrik dan instalasi air bersih

3. Sistem komunikasi, baik itu telepon, telegraf, radio, televisi 4. Pelayanan kesehatan baik itu puskesmas maupun rumah sakit

5. Pelayanan keamanan baik itu pos satpam penjaga obyek wisata maupun pos-pos polisi untuk menjaga keamanan di sekitar obyek wisata

6. Pelayananwisatawan baik berupa pusat informasi ataupun kantor pemandu wisata

7. Pom bensin 8. Dan lain-lain

Sarana kepariwisataan adalah perusahaan-perusahaan yang memberikan pelayanan kepada wisatawan, baik secara langsung maupun tidak langsung danhidup serta kehidupannya tergantung pada kedatangan wisatawan (Yoeti, 1996). Sarana kepariwisataan tersebut adalah:

a) Perusahaan akomodasi: hotel, losmen, bungalow

b) Perusahaan transportasi: pengangkutan udara, laut atau kereta api dan bus yang melayani khusus pariwisata saja.

c) Rumah makan, restaurant, depot atau warung-warung yang berada di sekitar obyek wisata dan memang mencari mata pencaharian berdasarkan pengunjung dari obyek wisata tersebut

d) Toko-toko penjual cinderamata khas dari obyek wisata tersebut yang notabene mendapat penghasilan hanya dari penjualan barang-barang cinderamata khas obyek tersebut.

e) Dan lain-lain

Dalam pengembangan sebuah obyek wisata sarana dan prasarana tersebut harus dilaksanakan sebaik mungkin karena apabila suatu obyek wisata dapat membuat wisatawan untuk berkunjung dan betah untuk melakukan wisata disana maka akan menyedot banyak pengunjung yang kelak akan berguna juga untuk peningkatan ekonomi baik untuk komunitas di sekitar obyek wisata tersebut maupun pemerintah daerah.

2.8 Penelitian Terdahulu

Berkaitan dengan penelitian ini ada beberapa penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti lain sebelumnya yang permasalahannya hampir sama dengan penelitian yang dilakukan sekarang, diantaranya dapat dilihat pada tabel 2.2

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu

No Peneliti (tahun) Judul Hasil Penelitian

1 Valentino

Indikator-antara Surakarta dengan

Penentuan variabel daya saing industri pariwisata Kabupaten sekitar wilayah Danau Toba disesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan dari penelitian ini.

Analisis perkembangan daya saing industri pariwisata penting untuk dilakukan.

Hasil analisis dapat menunjukkan perkembangan potensi pariwisata yang juga dapat memperlihatkan sejauh mana pemerintah maupun swasta memaksimalkan potensi yang ada. Selain itu, untuk menentukan daya saing industri pariwisata

menggunakan analisis Competitiveness Monitor yang memperhatikan kedelapan indikator dari WWTC dan melakukan penghitungan sesuasi dengan seluruh indikator daya saing.

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Dari gambar diatas terlihat bahwa, dalam menentukan Indeks Daya Saing Industri Pariwisata terlebih dahulu mencari jumlah dari Daya Saing yang memperhatikan kedelapan indikator.

Daya Saing

Indeks Pariwisata

Indeks Komposit

Indeks Daya Saing Parawisata

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk menjelaskan secara sistematik, faktual dan akurat tentang fakta-fakta dan sifat-sifat suatu objek atau populasi tertentu. Penelitian ini menekankan pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik.

3.2 Batasan Operasional

Adapun batasan operasional yang terdapat dalam penelitian ini menggacu pada variabel Competitiveness Monitor (Human Tourism Indicator (HTI), Price Competitiviness Indicator (PCI), Infratructure Development Indicator (IDI), Environment Indicator (EI), Technology Advancement Indicator (TAI), Human Resources Indicator (HRI), Openess Indicator (OI) dan Social Development Indicator (SDI)) dari setiap kabupaten yang di teliti pada tahun 2016.

3.3 Definisi Operasional

Dalam penelitian ini menggunakan variabel daya saing. Daya saing industri pariwisata di lima Kabupaten sekitar wilayah Danau Toba ini di ukur melalui tersedianya potensi-potensi yang dimiliki daerah tersebut baik potensi alam, budaya dan agama. Dapat dilihat pada Tabel 3.1 Parameter, Sumber data dan Kegunaan kedelapan indikator, indikator ini diadopsi dari penelitian Ackory Natalia Malau (2016). Kedelapan indikator yang digunakan dalam analisis penentuan daya saing penelitian ini adalah :

Tabel 3.1

Parameter, Sumber Data dan Kegunaan

Parameter Sumber Data Kegunaan

Human Tourism

a. Human Tourism Indicator (HTI)

Indikator ini menunjukkan pencapaian perkembangan ekonomi daerah akibat kedatangan turis pada daerah tersebut. Pengukuran yang digunakan adalah Tourism Participation Index (TPI) yaitu rasio antara jumlah aktivitas turis (datang dan pergi) dengan jumlah penduduk daerah destinasi. Dalam penelitian ini, ukuran yang digunakan adalah TPI, dengan rumus:

𝑇𝑃𝐼 = π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘‡π‘’π‘Ÿπ‘–π‘  π‘π‘’π‘Ÿ πΎπ‘Žπ‘π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘’π‘› π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘ƒπ‘’π‘›π‘‘π‘’π‘‘π‘’π‘˜ π‘π‘’π‘Ÿ πΎπ‘Žπ‘π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘’π‘›

b. Price Competitiveness Indicator (PCI)

Indikator ini menunjukkan harga komoditi yang dikonsumsi oleh turis selama berwisata seperti biaya akomodasi, travel, sewa kendaraan dan sebagainya. Pengukuran yang digunakan untuk menghitung PCI adalah Purchasing Power Parity (PPP). Proksi yang digunakan untuk mengukur PPP adalah rata-rata tarif minimum hotel yang merupakan hotel worldwide. Sehingga rumus yang digunakan untuk menghitung PPP adalah:

𝑃𝑃𝑃 = π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘Šπ‘–π‘ π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘€π‘Žπ‘› π‘€π‘Žπ‘›π‘π‘Žπ‘›π‘’π‘”π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž π‘π‘’π‘Ÿ πΎπ‘Žπ‘π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘’π‘› Γ— π‘…π‘Žπ‘‘π‘Ž

βˆ’ π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Ž π‘‡π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘“ π»π‘œπ‘‘π‘’π‘™ Γ— π‘…π‘Žπ‘‘π‘Ž βˆ’ π‘Ÿπ‘Žπ‘‘π‘Ž π‘€π‘Žπ‘ π‘Ž π‘‡π‘–π‘›π‘”π‘”π‘Žπ‘™

c. Infrastructure Development Indicator (IDI)

Indikator ini menunjukkan perkembangan infrastruktur yang disebabkan oleh kedatangan wisatawan ke daerah tujuan wisata.

infrastruktur yang baik dapat menarik minat wisatawan untuk datang.

Begitu pula sebaliknya, kedatangan wisatawan dapat meningkatkan pendapatan pemerintah daerah sehingga dapat meningkatkan kualitas infrastruktur yang dimiliki. Panjang jalan beraspal dan kualitas jalan menjadi proksi bagi indikator ini.

IDI =π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π½π‘Žπ‘™π‘Žπ‘› πΎπ‘’π‘Žπ‘™π‘–π‘‘π‘Žπ‘  π΅π‘Žπ‘–π‘˜ π‘π‘’π‘Ÿ πΎπ‘Žπ‘π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘’π‘›

π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π½π‘Žπ‘™π‘Žπ‘› π΅π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘ π‘π‘Žπ‘™ π‘π‘’π‘Ÿ πΎπ‘Žπ‘π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘’π‘› Γ— 100 d. Environment Indicator (EI)

Indikator ini menunjukkan kualitas lingkungan dan kesadaran penduduk dalam memelihara lingkungannya. Pengukuran yang digunakan adalah indeks emisi CO2 dan indeks kepadatan penduduk (rasio antara jumlah penduduk dengan luas daerah). Sementara pengukuran pada indeks emisi CO2 tidak terdapat data maka yang digunakan untuk menghitung EI adalah indeks kepadatan penduduk. Jumlah penduduk yang besar dapat membantu pemerintah untuk sadar akan lingkungan di sekitarnya.

𝐸𝐼 =π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘ƒπ‘’π‘›π‘‘π‘’π‘‘π‘’π‘˜ π‘π‘’π‘Ÿ πΎπ‘Žπ‘π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘’π‘› πΏπ‘’π‘Žπ‘  π·π‘Žπ‘’π‘Ÿπ‘Žβ„Ž π‘π‘’π‘Ÿ πΎπ‘Žπ‘π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘’π‘› e. Technology Advancement Indicator (TAI)

Indikator ini menunjukkan perkembangan infrastruktur dan teknologi modern yang ditunjukkan dengan meluasnya penggunaan internet, mobile telephone dan ekspor produk-produk berteknologi tinggi. Pengukuran yang digunakan adalah Jaringan Internet (rasio penggunaan Jaringan Internet dengan jumlah penduduk)

𝑇𝐴𝐼 =π‘ƒπ‘’π‘›π‘”π‘”π‘’π‘›π‘Žπ‘Žπ‘› π½π‘Žπ‘Ÿπ‘–π‘›π‘”π‘Žπ‘› πΌπ‘›π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘›π‘’π‘‘ π‘π‘’π‘Ÿ πΎπ‘Žπ‘π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘’π‘›

f. Human Resources Indicator (HRI)

Indikator ini menujukkan kualitas sumber daya manusia daerah tersebut sehingga dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada turis.

Pengukuran HRI menggunakan indek pendidikan yang terdiri dari rasio penduduk yang bebas buta huruf dan rasio penduduk yang berpendidikan SD, SMP, SMA, Diploma dan Sarjana.

𝐻𝑅𝐼 = π‘ƒπ‘’π‘›π‘‘π‘’π‘‘π‘’π‘˜ π‘Œπ‘Žπ‘›π‘” π΅π‘’π‘π‘Žπ‘  π΅π‘’π‘‘π‘Ž π»π‘’π‘Ÿπ‘’π‘“ π‘π‘’π‘Ÿ πΎπ‘Žπ‘π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘’π‘› π‘ƒπ‘’π‘›π‘‘π‘’π‘‘π‘’π‘˜ π΅π‘’π‘Ÿπ‘π‘’π‘›π‘‘π‘–π‘‘π‘–π‘˜π‘Žπ‘› 𝑆𝐷, 𝑆𝑀𝑃, 𝑆𝑀𝐴, π·π‘–π‘π‘™π‘œπ‘šπ‘Ž π·π‘Žπ‘›

π‘†π‘Žπ‘Ÿπ‘—π‘Žπ‘›π‘Ž π‘π‘’π‘Ÿ πΎπ‘Žπ‘π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘’π‘›

g. Openess Indicator (OI)

Indikator ini menunjukkan tingkat keterbukaan destinasi terhadap perdagangan internasional dan turis internasional. Pengukurannya menggunakan rasio jumlah wisatawan mancanegara dengan total PAD.

𝑂𝐼 =π½π‘’π‘šπ‘™π‘Žβ„Ž π‘Šπ‘–π‘ π‘Žπ‘‘π‘Žπ‘€π‘Žπ‘› π‘€π‘Žπ‘›π‘π‘Žπ‘›π‘’π‘”π‘Žπ‘Ÿπ‘Ž π‘π‘’π‘Ÿ πΎπ‘Žπ‘π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘’π‘› π‘‡π‘œπ‘‘π‘Žπ‘™ 𝑃𝐴𝐷 π‘π‘’π‘Ÿ πΎπ‘Žπ‘π‘’π‘π‘Žπ‘‘π‘’π‘›

h. Social Development Indicator (SDI)

Indikator ini menunjukkan kenyamanan dan keamanan turis untuk berwisata di daerah destinasi. Ukuran SDI adalah lama rata-rata masa tinggal turis di daerah destinasi.

3.4 Populasi dan Sampel

Populasi adalah sekelompok entitas yang lengkap yang dapat berupa orang, kejadian atau benda yang mempunyai karakteristik tertentu, yang berada dalam satu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan

Sampel adalah sebagian untuk diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Soekidjo. 2005 : 79). Yang termasuk sempel pada penelitian ini adalah Kabupaten Dairi, Kabupaten Samosir, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Samosir dikarenakan tidak tersediannya data di dua Kabupaten lain yaitu Kabupaten Humbang Hasundutan dan Kabupaten Karo.

Berikut tabel yang menunjukan indikator daya saing industri pariwisata terhadap kabupaten disikitar Danau Toba.

Tabel 3.2

Populasi dan Sampel Tujuh Kabupaten Wilayah Sekitar Danau Toba Pada Tahun 2016

No Indikator

Kabupaten Dairi Humbang

Hasundutan Karo Samosir Simalungun Tapanuli utara

Sumber : Badan Pusat Statistik (setiap Kabupaten)

Keterangan sebagai berukut : (A) adalah Jumlah Turis.

(B) adalah Jumlah Penduduk.

(C) adalah Jumlah Wisatawan Mancanegara.

(D) adalah Rata-rata Tarif Hotel.

(F) adalah Panjang Jalan Beraspal.

(G) adalah Panjang Jalan Berkualitas Baik.

(H) adalah Luas Daerah.

(I) adalah Penggunaan Jaringan Internet.

(J) adalah Jumlah Penduduk yang Bebas Buta Huruf.

(K) adalah Jumlah Penduduk yang Berpendidikan SD, SMP, SMA, Diploma dan Sarjana.

(L) adalah Total PAD.

Dari Tabel 3.2 terdapat beberapa simbol yaitu simbol () dan simbol (-).

Simbol () menandakan bahwa tersedianya data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik sebaliknya, apabila keterangan simbol (-) maka data tidak tersedia di Badan Pusat Statistik. Dari Tabel 3.2 peneliti hanya dapat meneliti lima kabupaten yaitu Kabupaten Dairi, Kabupaten Samosir, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Toba Samosir di karenakan hanya kelima kabupaten tersebut yang memiliki data yang lengkap.

3.5 Jenis Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data yang digunakan untuk analisis daya saing merupakan data sekunder tahun 2012-2016. Data-data yang digunakan pada penelitian ini diperoleh dari berbagai dinas pemerintahan Kabupaten Dairi, Kabupaten Samosir, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Toba Samosir yaitu Badan Pusat Statistik (BPS), Dinas Pendapatan Daerah dan Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya dari setiap

Kabupaten yang diteliti. Selain itu, data juga diperoleh dari literatur yang ada di internet.

3.6 Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan yang relevan, akurat dan realistis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan yaitu merupakan satu cara untuk memperoleh data dengan cara membaca literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang sedang diteliti. Dalam studi kepustakaan ini data yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS), Dinas Pendapatan Daerah, dan Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya dari setiap Kabupaten yang diteliti.

3.7 Metode Analisis Data

Tujuan penelitian pada poin pertama dapat dilihat dengan cara penelitian ini melakukan penghitungan index daya saing pariwisata dengan memasukkan seluruh indikator daya saing dari World Travel and Tourism Council (WWTC) sebanyak 8 indikator dan mengkhususkan pada setiap Kabupaten yang diteliti.

Analisis penentuan daya saing ini penting dilakukan untuk memberikan gambaran posisi daya saing pariwisata di daerah wisata Danau Toba. Dalam penelitian ini tahapan analisis yang dilakukan adalah :

2. Menghitung indeks pariwisata dari kedelapan indikator-indikator pembentuk indeks daya saing yang dikemukakan di atas segala formula

Normalisasi (

𝑋

𝐼𝐢) = π‘›π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘Žπ‘˜π‘‘π‘’π‘Žπ‘™βˆ’π‘›π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘šπ‘–π‘›π‘–π‘šπ‘’π‘š π‘›π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘šπ‘Žπ‘˜π‘ π‘–π‘šπ‘’π‘šβˆ’π‘›π‘–π‘™π‘Žπ‘– π‘šπ‘–π‘›π‘–π‘šπ‘’π‘š

Keterangan :

𝑋𝐼𝐢 : Koefisien normalisasi suatu lokasi (c) dan variabel (i)

Untuk menentukan indeks daya saing pariwisata tersebut perlu diperhatikan adanya variabel yang akan dihitung satu-persatu menurut indikator-indikator daya saing potensi yang di miliki oleh daerah yang bersangkutan. Analisis perhitungan indeks pariwisata sangat diperlukan dalam menganalisis panatapan potensi yang dimiliki. Dengan potensi yang ada di daerah tersebut maka akan didapatkan salah satu besarnya salah satu besarnya salah satu poensi yang dimiliki daerah tersebut. Tujuannya adalah untuk meningkatkan keunggulan daerah destinasi dengan daerah lain di sekitarnya.

3. Melakukan perhitungan index composite dari kedelapan indikator yang menentukan daya saing pariwisata

π‘Œ

π‘˜π‘

=

1 𝑛Ʃ𝑋𝐼𝐢

Keterangan :

π‘Œπ‘˜π‘ : Indeks komposit k (k=1 sampai 8) c : Lokasi

k : Indikator-indikator daya saing n : Jumlah variabel dari k

Ʃ𝑋𝑖𝑐 : Perhitungan perjumlahan setiap indikator

Dalam menentukan indeks komposit perlu diperhatikan kedelapan indikator yang menentukan daya saing pariwisata karena akan diketahui nilai dari keseluruhan indikator-indikator daya saingnya.

4. Menghitung indeks daya saing pariwisata

𝑍

𝑐

= Ζ©π‘Š

π‘˜

π‘Œ

π‘˜π‘

Keterangan :

𝑍𝑐 : Daya saing pariwisata

π‘Œπ‘˜πΆ : Bobot asosiasi pada setiap indikator

Ζ©π‘Šπ‘˜ : Perhitungan pemjumlahan bobot asosiasi setiap indikator

Nilai indeks β€œ0” menunjukan kemampuan daya saing rendah, sedangkan nilai β€œ1” menunjukan kemampuan daya saing yang tinggi/baik (Craiwell 2007).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum per Kabupaten

4.1.1 Kabupaten Dairi

4.1.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Dairi

Luas keseluruhan desa yang berjumlah 161 desa di Kabupaten Dairi yaitu 2.287,70 km2 , dimana Kabupaten Dairi terletak sebelah Barat Laut Propinsi Sumatera Utara. Kabupaten Dairi sebagian besar terdiri dari dataran tinggi dan berbukit-bukit yang terletak antara 98000' - 98030' dan 2015'-3000' Lintang Utara (LU).

Sebagian besar tanahnya didapati gunung-gunung dan bukit-bukit dengan kemiringan bervariasi sehingga terjadi iklim hujan tropis. Kota Sidikalang adalah ibukota Kabupaten Dairi berada pada ketinggian 1.066 meter diatas permukaan laut. Pada umumnya Kabupaten Dairi berada pada ketinggian rata-rata 700 s/d 1.250 m diatas permukaan laut. Sedangkan Kecamatan Tigalingga, Kecamatan Siempat Nempu dan Kecamatan Silima Pungga-Pungga terletak pada ketinggian antara 400 - 1.360 m diatas permukaan laut. Kecamatan Sumbul, Sidikalang , Kerajaan dan Kecamatan Tanah Pinem berada pada ketinggian 700- 1.600 meter diatas permukaan laut. Kabupaten Dairi yang terletak disebelah barat laut propinsi Sumatera Utara yang berbatasan dengan, Sebelah utara dengan Kabupaten Aceh Tenggara (Propinsi NAD ) dan Kabupaten Tanah Karo, Sebelah timur dengan kabupaten Toba Samosir, Sebelah selatan dengan Kabupaten Pakpak Bharat, Sebelah barat dengan Kabupaten Aceh Selatan (Propinsi Nanggroe Aceh

Kabupaten Dairi yang terdiri dari 15 Kecamatan memiliki desa sebanyak 161 desa. Dengan Kecamatan yang memiliki desa paling banyak yaitu kecamatan Tanah Pinem dengan jumlah 19 desa, di urutan kedua ada Kecamatan Sumbul dengan jumlah desa sebanyak 18 desa. Di urutan ke tiga ada Kecamatan Silima Pungga-pungga dengan jumlah desa sebanyak 15 desa. Sedangkan Kecamatan yang memiliki jumlah desa yang paling sedikit yaitu Kecamatan Sitinjo di urutan pertama dengan jumlah sebanyak 3 desa dan urutan kedua Kecamatan Silahisabungan dengan jumlah sebanyak 5 desa.

Dan berdasarkan luas wilayahnya maka Kecamatan Sitinjo merupakan Kecamatan yang memiliki wilayah yang paling luas yaitu 466,7 KmΒ². Sedangkan wilayah yang paling luas urutan kedua adalah Kecamatan Tanah Pinem yaitu 439,40 KmΒ². Kecamatan yang paling kecil adalah Kecamatan Sidikalang yang memiliki luas 35,09 KmΒ² dan terdiri dari 6 desa. Kecamatan yang paling kecil urutan kedua adalah Kecamatan Berampu yang memiliki luas 40,85 KmΒ² dan terdiri dari 5 desa.

4.1.1.2 Kependudukan Kabupaten Dairi

Tahun 2016, pada 161 desa di Kabupaten Dairi, penduduk Kabupaten Dairi berjumlah 280.610 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 101,62 jiwa per KmΒ². Jumlah penduduk terbanyak terdapat di Kecamatan Sumbul yaitu sebanyak 34.467 jiwa dan luas wilayah 188,80 Km dengan kepadatan penduduk 182,56 jiwa per KmΒ², sedangkan penduduk paling sedikit berada di kecamatan Silahisabungan dengan jumlah penduduk sebanyak 4.482 dan luas wilayah 75,62 Km2 dengan kepadatan penduduk 59,27 jiwa per KmΒ² (Badan Pusat Statistik).

Tabel 4.1

Jumlah penduduk Kabupaten Dairi (2012-2016) Tahun Jumlah Penduduk (jiwa)

2012 273.394

2013 276.237

2014 277.575

2015 279.090

2016 280.610

Sumber : BPS Kabupaten Samosir

Masyarakat desa yang paling ramai atau pemukiman yang padat penduduknya ada pada kecamatan sidikalang dengan kepadatan penduduk 541,32 jiwa per KmΒ², hal ini dikarenakan masyarakat desa yang jumlahnya banyak sebesar 18.995 jiwa jika dibandingkan dengan luas desa yang ada pada kecamatan sidikalang, dengan luas total 35,09 KmΒ². Kepadatan penduduk desa yang terkecil ada pada kecamatan sitinjo dengan kepadatan penduduk 21,31 jiwa per KmΒ², hal ini dikarenakan jumlah masyarakat desa yang bermukim di kecamatan sitinjo sebesar 9.946 jiwa masih kurang jika dibandingkan dengan luas desa yang ada pada kecamatan sitinjo, dengan luas total sebesar 466,7 KmΒ² (Badan Pusat Statistik).

4.1.1.3 Potensi Dan Perkembangan Pariwisata Di Kabupaten Dairi Kabupaten Dairi memiliki jumlah objek wisata mencapai 11 titik lokasi objek wisata. Terdapat 3 objek wisata di Kecamatan Sitinjo yaitu objek wisata Taman Wisata Iman, objek wisata Air Terjun Lae Pandorah dan Taman Tugu TB Simatupang, di Kecamatan Silahisabungan juga terdapat 2 lokasi objek wisata

Kecamatan Gunung Sitember terdapat 2 objek wisata yaitu Gua Kendet Liang dan Air Terjun Sampuren Desa Gundaling dan di Kecamatan Sidikalang terdapat 3 lokasi objek wisata yaitu Taman Kota Sidikalang, Puncak Sidiangkat dan Gedung Djauli Manic. Sedangkan di Kecamatan Parbuluan mempunyai 1 objek wisata yaitu Taman Wisata Alam Sicike-cike. Berikut ini adalah 3 objek wisata andalan Kabupaten Dairi menurut BPS, yaitu :

1. Taman Wisata Iman Sitinjo

Taman Wisata Iman berada di Bukit Sitinjo dengan luas 130.000 m2, terletak di Desa Sitinjo, Kecamatan Sitinjo, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Terletak sekitar 10 km dari Ibu Kota Kabupaten Dairi, Sidikalang atau sekitar 154 km dari Medan. TWI merupakan tempat wisata religius.

TWI bukan hanya mewakili salah satu agama saja yang diakui di Indonesia melainkan semua agama. Mewakili yang dimaksud adalah bahwa dalam TWI terdapat berbagai bangunan-bangunan yang duanggap bersejarah bagi pemeluk agama masing-masing. Mulai dari tempat peribadatan hingga miniatur bangunan yang dianggap bersejarah dan mengenangkan peristiwa-peristiwa penting bagi pemeluknya sehingga tempat ini menjadi salah satu tempay wisata unggulan di Kabupaten Dairi.

2. Taman Wisata Alam (TWA) Sicike-cike

TWA Sicike-cike adalah salah satu destinasi wisata di Kabupaten Dairi yang menonjolkan keindahan dan keasrian alam yang berpadu dengan konsep pelastarian alam. Taman Wisata Alam (TWA) Sicike-cike merupakan salah satu hutan suaka alam, hutan pelestarian alam yang berada

di bawah pengelolaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara yang ada di Kecamatan Parbuluan dan Kecamatan Sitinjo Kabupaten Dairi, serta Kecamatan Kerajaan Kabupaten Pakpak Bharat.

TWA Sicike-cike merupakan salah satu dari 124 TWA yang ada di Indonesia atau salah satu dari 6 TWA yang ada di Provinsi Sumatera Utara.

3. Air Terjun Lae Pandorah

Air Terjun Lae Pandorah letaknya yang tepat berada di tepi jalan raya lintas Sumatera Utara – Aceh menjadikan air terjun ini kerap disinggahi oleh para wisatawan. Air Terjun Lae Pandorah merupakan salah satu dari 11 tempat wisata yang berada di Kabupaten Dairi, keunikannya terletak pada warna airnya yang berwarna merah darah pada waktu tertentu. Kata

β€œPandorah” berasal berasal dari kata daroh yang artinya darah. Air Terjun Lae Pandorah memiliki ketinggian sekitar 3 meter, dan aliran airnya langsung menuju Lau Renun yang cocok dijadikan sebagai lokasi arum jeram. Derasnya debit air pandorah adalah alasan mengapa setiap pengunjung harus berhati-hati karena air terjun ini terdiri dari 7 tingkat.

Melihat dari banyak nya tempat pariwisata yang ada di Kabupaten Dairi maka jumlah turis yang datang dari nusantara dan mancanegara pada tahun 2016 yaitu berjumlah 126.866 jiwa, dimana data yang saya dapat ini berasal dari jumlah turis yang datang ke tempat wisata unggulan yang ada di Kabupaten Dairi.

4.1.2 Kabupaten Samosir

4.1.2.1 Kondisi Geografis Kabupaten Samosir

Luas wilayah Kabupaten Samosir secara keseluruhan mencapai 254.715 Ha, terdiri dari daratan seluas 144.455 Ha dan perairan danau seluas 110.260 Ha.

Luas dan batas perairan di kawasan Danau Toba belum ada ketentuan yang pasti.

Namun mengingat Pulau Samosir tepat berada dan dikelilingi oleh Danau Toba, secara proporsional luas perairan Danau Toba yang menjadi bahagian daerah Kabupaten Samosir sewajarnyalah merupakan bagian yang terluas dibandingkan dengan enam kabupaten-kabupaten lainnya di sekeliling perairan Danau Toba.

Posisi Geografis, Komposisi Wilayah dan Kemiringan Posisi geografis Kabupaten Samosir berada pada 2Β°24’ - 2Β°45’ Lintang Utara dan 98Β°21’- 99Β°55’

Bujur Timur. Secara administratif wilayah Kabupaten Samosir diapit oleh tujuh kabupaten, yaitu di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Karo dan Kabupaten Simalungun, di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir, di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbahas dan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Kabupaten Pakpak Barat. Kabupaten Samosir terdiri dari 9 kecamatan, 6 kecamatan berada di Pulau Samosir di tengah Danau Toba dan 3 kecamatan di daerah lingkar luar Danau Toba tepat pada punggung pegunungan Bukit Barisan.

Kabupaten Samosir terletak pada wilayah dataran tinggi, dengan ketinggian antara 700 s/d 1.995 meter di atas permukaan laut.Jenis tanah

Kabupaten Samosir terletak pada wilayah dataran tinggi, dengan ketinggian antara 700 s/d 1.995 meter di atas permukaan laut.Jenis tanah

Dokumen terkait