Banyaknya pengunjung yang datang ke tempat wisata yang ada di Kabupaten
Semarang selama 5 tahun terakhir menunjukan tren yang terus naik. Jumlah
pengunjung tahun 2013 sebanyak 1.366.460 mengalami peningkatan 86.610
(meningkat 7 persen) dibandingkan tahun 2012. Banyaknya pengunjung tidak
terdistribusi normal pada semua obyek wisata.
Kondisi alam Kabupaten
Semarang yang menarik
membuat obyek wisata di
Kabupaten Semarang cukup
diminati oleh banyak
pengunjung. Bahkan banyak
pengunjung yang berasal dari
luar kota terutama pada saat
musim liburan anak sekolah.
Obyek wisata yang ada tersebar
di wilayah Kabupaten Semarang
cukup bervariasi terutama
menjual wisata alam. Pada
Tahun 2013 jumlah wisatawan
domestik maupun asing yang
berkunjung berjumlah
1 366 460 pengunjung,
meningkat 86.610 pengunjung
(6,76 persen) dibandingkan
Tahun 2012 sebanyak
1 279 850. Obyek wisata yang
paling banyak dikunjungi adalah
Gua Maria Kerep Ambarawa,
Candi Gedong Songo, Makam
Nyatnyono dan Pemandian
Muncul, Pemandian Muncul,
Kampoeng Kopi Banaran, dan
pemandian Siwarak. Sedangkan
tempat wisata lainnya kurang
diminati atau belum optimal
pengelolaannya.
16. TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI
Transportasi
Selain telekomunikasi, hal lain yang memiliki peranan penting dalam
meningkatkan pembangunan ekonomi bangsa adalah transportasi dan sarana
pendukungnya. Sarana pendukung utama dalam transportasi darat adalah
panjang jalan beserta kualitasnya, jembatan yang menghubungkan antar
daerah yang sebelumnya dibatasi oleh sungai. Semakin baik kondisi jalan yang
ada akan semakin baik
perputaran roda
perekonomian di daerah
tersebut. Panjang jalan yang
tersedia juga berpengaruh
terhadap deareh-daerah yang
dapat ditempuh oleh sarana
transportasi yang ada. Pada
gilirannya daerah yang telah
tersedia sarana transportasi
ini dapat ikut berputar roda
ekonominya.
Data dari Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Semarang Tahun 2013 panjang
jalan meliputi 54,75 km untuk jalan negara, jalan propinsi 82,51 km dan jalan
kabupaten sepanjang 733,62 km. Panjang Jembatan di Kabupaten Semarang
yaitu 2.722,00 m. Dari keseluruhan Jembatan yang ada di Kabupaten
Semarang, 292,00 m
dalam kondisinya baik
(85,38%), 50 m kondisi
rusak (14,62%). Melihat
kondisi jembatan selama
Tahun 2013, perlu
adanya tindakan untuk
melakukan perbaikan.
Hal ini mengingat masih
banyak jembatan dalam
kondisi rusak sehingga
dapat menyebabkan kenyamanan dan keselamatan pengguna terganggu.
Adanya jembatan yang baik dapat mempermudah transportasi dan
menggerakan roda perekonomian masyarakat.
Berkaitan dengan upaya untuk mempercepat gerak roda perekonomian,
Pemerintah Kabupaten Semarang terus berupaya memperbaiki sektor
angkutan umumnya, utamanya untuk angkutan darat dengan melakukan
peremajaan armada. Dalam jaringan trayek angkutan pedesaan dengan daya
angkut 11/16 tempat duduk dilayani oleh 1.032 angkutan pada Tahun 2013,
terdiri dari angkutan pedesaan dalam kota sebanyak 520 armada dan
angkutan pedesaan antar kota 512 armada. Dibandingkan jumlah armada yang
beroperasi Tahun 2012 di layani oleh 913 armada pada pada Tahun 2013
mengalami peningkatan 119 (13,03%) armada.
Banyaknya permohonan STNK baru untuk kendaraan roda 2 dan roda 4 selama
tiga tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Peningkatan yang sangat
signifikan terjadi pada kendaraan roda 4 dibandingkan tahun 2012. Kendaraan
roda dua mengalami
peningkatan 1.938 unit (6
persen). Peningkatan
permohonan STNK baru
baik kendaraan roda 2
maupun 4 menunjukan
pada Tahun 2013 banyak
pembelian kendaraan
baru maupun pergantian
plat kendaraan yang
sudah habis masa berlakunya. Khusus permohonan baru untuk STNK Roda 2
plat hitam mengalami peningkatan sebesar 2.311 unit, plat merah turun 373
unit, hal ini menunjukan bahwa animo masyarakat untuk membeli motor baru
pada Tahun 2013 meningkat signifikan dibandingkan Tahun 2012. Hal lain yang
perlu diperhatikan Pemerintah Kabupaten Semarang bahwa meningkatnya
kendaraan baru harus diimbangi sarana jalan yang memadai mengingat
bertambahnya kendaraan akan menambah kemacetan lalu lintas.
Permohonan baru STNK roda 4 plat hitam pada Tahun 2013 tercatat sebanyak
6.656 meningkat signifikan sebanyak 3.159 unit (90,33%) dibandingkan Tahun
2012 sebanyak 3.497 unit.
Telekomunikasi
Teknologi informasi menjadi hal yang sangat menunjang berbagai sektor
kegiatan terutama dalam memudahkan komunikasi dan tukar informasi.
Bahkan ada sebuah anggapan bahwa sebuah negara yang menguasai
informasi maka negara itu akan maju. Oleh karena itu teknologi informasi
menjadi pusat perhatian dalam
pembangunan di dunia.
Menyadari pentingnya
teknologi informasi bagi
kemajuan ekonomi, sarana
komunikasi bagi masyarakat
ditingkatkan baik jumlah
maupun kualitasnya. Salah
satunya adalah sarana
telekomunikasi telepon yang di
punggawai oleh PT. Telkom.
Jumlah pengguna telepon
kabel Kabupaten Semarang
pada Tahun 2013 tercatat
23.356 sambungan pelanggan
yang tersebar di 17 kecamatan,
masih ada dua kecamatan yang
belum terjangkau telepon
kabel yaitu Kecamatan
Kaliwungu dan Kecamatan
Bancak. Kecamatan yang
mempunyai sambungan
telepon kabel terbanyak
meliputi Kecamatan Ungaran Barat (3.999), Ungaran Timur (3.526) dan
Ambarawa (3.552). Sambungan telepon kabel di tiga kecamatan tersebut
berjumlah 11.077 (47.41%) pelanggan sedangkan sisanya 12.286 (52.59%)
tersebar di 14 kecamatan.
17. KEAGAMAAN
Jumlah penduduk Kabupaten Semarang tahun 2013 sebanyak 949.815 jiwa.
Jumlah pemeluk agama islam sebesar 888.997 orang (93,60 persen)
sedangkan jumlah pemeluk agama Kristen sebanyak 32.510 orang (3,42
persen), agama Katolik sebanyak 22.443 orang (2,36 persen), agama Budha
sebanyak 4.966 orang (0,52 persen), agama Hindu hanya minoritas yang
tercatat sebanyak 316 orang (0,03 persen), konghuchu mempunyai penganut
63 orang (0,01 persen) serta agama kepercayaan lainnya sebanyak 520 orang
(0,05 persen) yang sebagian besar tinggal di Kecamatan Sumowono,
Bandungan, Jambu dan Ambarawa. Masyarakat yang memeluk agama lainnya
umumnya tinggal di daerah pegunungan dan merupakan adat masyarakat
setempat peninggalan
leluhur yang masih
dilestarikan oleh keturunan
yang masih ada sebagai
contoh Kepercayaan Sapto
Darmo, Tri Tunggal dll.
Komposisi jumlah pemeluk
agama menurut kecamatan
sangat beragam, namun
jumlah penduduk agama
Islam hampir mendominasi
di semua kecamatan
dengan persentase diatas 90 persen, kecuali Kecamatan Getasan (80,05
persen) dan Kecamatan Ambarawa (82,59) yang komposisi pemeluk agama
islamnya di bawah 90 persen. Kecamatan dengan komposisi persentase
pemeluk Agama Islam tertinggi adalah di Kecamatan Bancak (99,92 persen)
dan Suruh (99,43 persen) sedangkan persentase sisanya adalah pemeluk
Agama Kristen, Katolik dan Hindu. Secara agregat Kecamatan dengan jumlah
pemeluk Agama Islam terbanyak meliputi : Kecamatan Ungaran Barat, Bergas,
Ungaran Timur, Tengaran, Suruh, Tuntang dan Bandungan dengan jumlah
lebih dari 50.000 pemeluk. Hal ini berkaitan dengan jumlah penduduknya yang
memang banyak di bandingkan dengan kecamatan lainnya. Berdasarkan
persentase jumlah pemeluk terhadap total penduduk kecamatan pemeluk
Agama Kristen dan Katolik terbanyak di Kecamatan Ambarawa sebanyak
10.111 (17,72 persen), Getasan sebanyak 7.818 (15,97 persen), Ungaran Barat,
Bawen dan Kaliwungu masing-masing sebanyak ± 9 persen serta Ungaran
Timur ± 6 persen, sedangkan komposisi terkecil di Kecamatan Bancak, Suruh
dan Susukan dengan persentase kurang dari 0,5 persen.
Jumlah Fasilitas peribadatan 2013, sarana Ibadah yang ada di Kabupaten
Semarang terdiri dari Masjid, Mushola, Gereja Kristen, Gereja Katolik, Pura,
Vihara dan Klenteng sejumlah 5.302 bangunan tempat ibadah yang tersebar di
19 kecamatan. Jumlah Masjid sebanyak 1.666 buah (31 persen), Mushola
sejumlah 3.306 buah (62 persen), 247 Gereja Kristen (5 persen) dan 25 Gereja
Katolik (0,47 persen; selain itu juga memiliki 5 Pura (0,09 persen) dan 52
Vihara (0.98 persen) serta Kleteng 1 buah. Banyaknya fasilitas ibadah masjid
dan mushola ini (93,58 persen) sebanding dengan jumlah pemeluk agama
Islam (93 persen). Kondisi tempat ibadah ini juga berbanding lurus untuk
pemeluk agama lainnya,
bila banyak pemeluk agama
tertentu maka akan
diimbangi dengan
banyaknya tempat ibadah
bagi pemeluk agama
tersebut. sehingga dua hal
ini tidak bisa dipisahkan
dalam kehidupan
beragama.
Berdasarkan data dari Kantor Kementrian Agama Kabupaten Semarang Tahun
2013, banyaknya Jemaah haji yang berangkat ketanah suci tahun 2013
sebanyak 584 orang
mengalami penurunan
sebanyak 107 orang (15
persen) dibandingkan
tahun 2012 sebanyak 691
jemaah haji. Mengingat
sistem kuota yang ada
Jemaah haji yang daftar
akan berangkat untuk 10
tahun atau lebih untuk
keberangkatan, sehingga
perlu sistem Jemaah haji
yang online yang bisa diakses oleh masyarakat untuk memudahkan dalam
memantau perkembangan bagi yang sudah daftar maupun yang waiting list.
18. INDEK HARGA KONSUMEN (IHK) DAN INFLASI
Inflasi Tahun Kalender 2013 di Kota Ungaran-Kabupaten Semarang sebesar ±
8,11%. Inflasi tertinggi terjadi pada bulan Juli 3,45% dan terendah pada bulan
September sebesar -0,45% atau terjadi deflasi. Pada bulan Juli terjadi inflasi
sebesar 3.45% terutama disebabkan karena adanya kenaikan indeks pada
kelompok transportasi (8.75%) dan kelompok bahan makanan (5.50%),
makanan jadi (2,54%).
sedangkan indek
kelompok yang
mengalami penurunan
yaitu kelompok sandang
(-0,72). Tingginya inflasi di
bulan Juli 2013
disebabkan karena
pendaftaaran sekolah dan
perayaan Hari Raya Idul
Fitri yang menyebabkan
kebutuhan akan bahan pokok masyarakat meningkat tajam. Banyaknya arus
mudik mengakibatkan biaya transportasi membengkak, harga tiket mengalami
peningkatan baik darat, laut dan udara. Kebiasaan masyarakat konsumtif pada
saat Lebaran menyebabkan kebutuhan akan kebutuhan pokok baik makanan
maupun non makanan (sandang) meningkat. Moment ini dimanfaatkan
pedagang untuk menaikan harga disamping karena melonjaknya permintaan
pasar. Kondisi ini hampir terjadi disemua wilayah Indonesia mengingat tradisi
lebaran yang masih kental di masyarakat Islam khususnya.
Angka inflasi terendah selama tahun 2013 terjadi di bulan September,
rendahnya angka inflasi ini akibat inflasi bulan Juli dan Agustus yang mencapai
titik tertinggi sehingga pada bulan September justru banyak penurunan harga
pada berbagai kebutuhan pokok. Penurunan harga berdampak pada turunnya
indek harga konsumen yang secara langsung mengakibatkan deflasi. Deflasi
pada bulan September sebesar -0,45%, hal ini disebabkan dibeberapa
kelompok kebutuhan pokok justru mengalami penurun. Penurunan indeks
pada kelompok bahan makanan sebesar -2,37%, kelompok transportasi
sebesar -0,21%. Sedangkan kelompok kebutuhan lainnya pada bulan
September mengalami kenaikan relative kecil dan bervariatif, kenaikan
terbesar terjadi pada kelompok sandang yaitu sebesar 1,53%.
Inflasi Kota Ungaran dipenghujung tahun yang biasanya tinggi masih
terkendali. Inflasi pada bulan Desember sebesar 0,22%, lebih rendah 0,09%
dibanding inflasi bulan November. Inflasi sebesar 0,22% terutama disebabkan
adanya peningkatan indeks pada kelompok perumahan sebesar 0,55%, bahan
makanan (0,24%). Kenaikan indek kelompok ini diakibatkan karena
meningkatnya kebutuhan kelompok bahan makanan menjelang perayaan
Natalan dan Tahun Baru serta meningkatnnya harga perumahan diakhir tahun
yang menyebabkan indek pada kelompok perumahan mengalami kenaikan
yang cukup tinggi dibandingkan kelompok pengeluaran lainnya.
Inflasi daerah sekitar Kota
Ungaran bisa menjadikan
parameter keberhasilan
pemerintah daerah dan
pusat untuk menjaga
kesetabilan harga sehingga
masyarakat punya daya
beli yang cukup terhadap
kebutuhan pokoknya.
Kondisi ini diharapkan
dapat menggerakan roda
perekonomian disemua
sektor. Inflasi tahun
kalender beberapa kota di sekitar Ungaran, yaitu Kota Semarang, Kota Demak,
Kota Kendal dan Kota Salatiga, selama tahun 2013 secara rata-rata berada
dalam angka satu digit ± 8 %,inflasi tertinggi terjadi di Kota Demak sebesar
8,22%. Inflasi Kota Ungaran 8,11% berada diurutan ketiga tertinggi diantara
kota-kota sekitarnya sedangkan inflasi terendah di Kota Salatiga sebesar
7,67%. Inflasi Kota Ungaran lebih tinggi 0,12% dari inflasi Jawa Tengah yang
sebesar 7,99%. Secara umum inflasi tahun kalender di Kota Ungaran dan
kota-kota disekitarnya masih berada pada angka 1 digit, hal ini menunjukkan
kondisi perekonomian yang stabil, masyarakat punya daya beli. Kondisi ini
diharapkan akan memacu pertumbuhan ekonomi wilayah Ungaran dan
sekitarnya yang dapat meningkatkan pendapatan regional sehingga
berdampak langsung pada peningkatan pendapatan perkapita penduduk.
19. INVESTASI
Berdasarkan data dari Kantor Penanaman Modal dan Perijinan Terpadu
Kabupaten Semarang, perkembangan proyek dan nilai investasi yang di
tanamkan selama tahun 2009-2013 di wilayah Kabupaten Semarang
mengalami trend yang
fluktuatif, banyaknya
proyek dan nilai
investasi pada tahun
2013 mengalami
kenaikan 44 proyek
dengan kenaikan nilai
ivestasi sebesar 111
milyar rupiah atau naik
43 persen dibanding
tahun 2012.
Perkembangan nilai
investasi pada tahun 2013 menunjukan kecenderungan positif yang membuat
investor tertarik untuk berinvestasi di Kabupaten Semarang, hal ini akibat dari
dari adanya kemudahaan akses jalan tol serta faktor-faktor lain yang
mendukung kebijakan investasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah.
Pada Tahun 2013
perkembangan perbitan
Surat Ijin Usaha
Perusahaan (SIUP) yang
terdaftar di Kantor
Penanaman Modal dan
Perijinan Terpadu
Kabupaten Semarang
berdasarkan golongan
perusahaan, terdapat
kenaikan pada
penerbitan SIUP untuk
skala perusahaan dagang kecil sebesar 80 peusahaan (21 persen) sedangkan
untuk skala menengah dan besar mengalami penurunan masing masing 16
perusahaan menengah (57 persen) dan 1 perusahaan dagang besar (12.5
persen).
20. PENDAPATAN REGIONAL
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Semarang selama 5 tahun
terakhir menunjukan tren positif, terjadinya peningkatan yang signifikan baik
PDRB atas dasar harga konstan maunpun berlaku. Pada Tahun 2013 PDRB atas
dasar harga berlaku sebesar Rp. 15,748 trilyun, dan atas dasar harga konstan
sebesar Rp. 6,573
trilyun. Perkembangan
nilai PDRB atas dasar
harga berlaku
meningkat sebesar
1,903 trilyun atau
13,74% dibandingkan
Tahun 2012. Sedangkan
perkembangan nilai
PDRB atas dasar harga
konstan tahun 2013
meningkat sebesar
350,020 milyar atau
5,62% dibandingkan
Tahun 2012.
Struktur ekonomi Kabupaten Semarang atas dasar harga berlaku didominasi
oleh industri dengan kontribusi sebesar 41,81%. Komposisi ini tidak
menunjukkan banyak perubahan pada lima tahun terakhir dimana
kontribusinya selalu menunjukkan angka di kisaran ± 42%. Kemudian disusul
oleh sektor
perdagangan, rumah
makan dan jasa
akomodasi dengan
kontribusi sebesar
22,37%. Untuk sektor
pertanian mempunyai
kontribusi sebesar
14,00% yang terutama
didukung oleh sub
sektor tanaman pangan
sebesar 7,87% dan sub
sektor peternakan sebesar 4,00% dari nilai total PDRB. Sedangkan struktur
PDRB Kabupaten Semarang Tahun 2013 atas dasar harga konstan sama
dengan struktur PDRB atas dasar harga berlaku, yaitu didominasi oleh 3 sektor
yaitu sektor industri dengan kontribusi sebesar 45,75%, sektor perdagangan,
hotel, dan restoran dengan kontribusi sebesar 22,16%, serta sektor pertanian
dengan kontribusi sebesar 12,03%. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten
Semarang Tahun 2013 yang ditunjukkan oleh laju pertumbuhan Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000 adalah
sebesar 5,62%, menurun 0,40% di bandingkan dengan pertumbuhan ekonomi
Tahun 2013 yang tumbuh 6,02%. Pertumbuhan riil sektoral Tahun 2013
mengalami fluktuasi dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan tertinggi dicapai
oleh sektor keuangan sebesar 8,66%, meskipun peranannya terhadap PDRB
hanya sekitar 3,62%. Sedangkan sektor pertanian selama Tahun 2013
mengalami penurunan sebesar -1,18% dibandingkan tahun sebelumnya,
subsektor peternakan mengalami penurunan paling tinggi diantara subsektor
pertanian lainya yaitu sebesar 5%. Hal ini berkaitan dengan berkurangnya
populasi sapi akibat kebutuhan daging segar sapi dipasaran regional maupun
nasional yang meningkat dengan suplai sapi berkurang akibat kebijakan
pemerintah menghentikan sementara impor daging sapi.
Perkembangan pendapatan regional per kapita atas dasar harga konstan 2000
periode 2009-2013 secara umum lebih rendah dibandingkan dengan
perkembangan pendapatan regional per kapita atas dasar harga berlaku pada
periode waktu yang sama. Pada Tahun 2013, pendapatan regional per kapita
atas dasar harga
berlaku mencapai
14,343 juta rupiah,
naik 12,32% dari Tahun
2013 sebesar 12,769
juta rupiah. Sedangkan
untuk PDRB per kapita
selama Tahun 2009–
2013 baik atas dasar
harga konstan 2000
maupun atas dasar
harga berlaku
menunjukan tren yang naik selama 5 tahun terakhir. Peningkatan perkapita
penduduk diharapakan dapat meningkatkan daya beli masyarakat secara
umum hal ini mengindikasikan adanya peningkatan taraf hidup masyarakat.
21. K E U A N G A N
Pegadaian
Kinerja Perum Pegadaian di Kabupaten Semarang dari tahun ke tahun terus
menunjukkan kemajuannya. Baik dari segi banyaknya nasabah, kredit yang
disalurkan maupun pelunasan kredit yang telah disalurkan. Dalam upaya
mempermudah pelayanan kepada nasabah, pegadaian di Kabupaten
Semarang melakukan pembagian kinerja menjadi 3 kantor pelayanan, yaitu
Pegadaian Ambarawa, Pegadaian Ungaran dan Pegadaian Suruh.
Laporan dari Perum pegadaian Kabupaten Semarang melaporkan bahwa pada
Tahun 2013 telah disalurkan kredit kepada nasabah sebesar Rp. 65,543 milyar
turun sangat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp.
104,790 milyar. Jumlah boreg pada tahun 2013 total sebanyak 31.688 unit.
Berdasarkan bulan penerimaan kredit yang disalurkan, bulan Januari
merupakan waktu penyaluran kredit paling banyak, sedangkan bulan Juni
bulan paling sedikit kredit tersalurkan.
Sementara dari sisi
pelunasan kredit,
selama Tahun 2013
tercatat kredit yang
dilunasi sebanyak Rp.
57,256 milyar dengan
jumlah boreg yang
telah ditebus sebanyak
29.871 unit. Pelunasan
kredit terbanyak juga
terjadi di bulan Januari
sedangkan paling
sedikit di bulan
Desember. Dari nilai
kredit yang disalurkan
dan pelunasan kredit yang dilunasi terjadi pada bulan yang mendekati sama,
hal ini menunjukan bahwa ada sinergi antara perum pegadaian dan
masyarakat yang membutuhkan pinjaman (Simbiosis Mutualisme).
Perbankan
Lembaga perbankan berfungsi sebagai penghimpun dan penyalur dana
masyarakat. Peranannya seiring dengan perjalanan waktu dirasakan semakin
besar. Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Ungaran memberikan informasi
bahwa selama lima tahun terakhir jumlah nasabah Bank BRI Cabang Ungaran
mengalami peningkatan dari sisi jumlah nasabah maupun simpanan. Kenaikan
jumlah nasabah dan
simpanan yang sangat
signifikan terjadi pada
tahun 2013. Laporan
Bank BRI Cabang
Ungaran pada Tahun
2013 memiliki nasabah
sebanyak 107.226
orang dengan jumlah
tabungan sebanyak Rp.
668,775 milyar. Secara
kuantitas jumlah
nasabah BRI tahun 2013 mengalami peningkatan sebanyak 14.426 nasabah,
peningkatan jumlah nasabah secara signifikan berdampak pada peningkatan
jumlah simpanan nasabah sebanyak Rp. 139,570.milyar.
Ada beberapa jenis simpanan/tabungan yang ada di Bank BRI Cabang Ungaran
meliputi : Simpedes, Britama, ONH, Deposito dan Giro. Dari laporan yang
masuk persentase jumlah simpanan Simpedes tercacat paling tinggi sebesar 78
persen dari total simpanan, kemudian Tabungan Britama 17 persen, Tabungan
ONH 3 persen, Deposito 2 persen
dan Giro kurang dari 1 persen.
Tingginya komposisi tabungan
Simpedes di Bank BRI
menandakan besarnya animo
masyarakat pedesaan untuk
menabung mengingat bahwa Bank
BRI mempunyai cabang sampai
tingkat kecamatan sehingga
masyarakat desa merasakan
kemudahan akses dan kemudahan
pelayanan.
Bank Jateng Cabang Ungaran (BPD) selama lima tahun terakhir jumlah
nasabah mengalami peningkatan, namun untuk jumlah simpanan terjadi
penurunan pada tahun 2013 dibandingkan 2012. Berdasarkan laporan kondisi
tahun 2013 jumlah simpanan nasabah mengalami penurunan akan tetapi
jumlah nasabah baru meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Jumlah nasabah Bank Jateng Cabang Ungaran sebanyak 86.669 nasabah
mengalami peningkatan 22.616 nasabah (35,30%), sedangkan jumlah
simpanan atau tabungan sebesar Rp. 832,183 milyar atau menurun sebesar
Rp. 210,982 milyar dibandingkan Tahun 2012. Secara rata-rata besarnya
tabungan setiap
nasabah Bank Jateng
pada tahun 2013
berkisar ± Rp. 9,6 juta.
Dibandingkan rata-rata
simpanan nasabah
pada tahun 2012
sebesar Rp. 16,28 juta,
rata-rata simpanan
tahun 2013 mengalami
penurunan sebesar RP.
6,68 juta atau turun 41
persen.
Jenis simpanan/tabungan yang ada di Bank Jateng Cabang Ungaran meliputi :
Tabungan Kredit, Giro, Deposito, Bima, Hiprada, Simpeda, Tabunganku,
Tabungan Qurban Dan Tabungan Haji. Persentase jumlah simpanan Kredit
tercacat paling tinggi
sebesar 47 persen dari
total simpanan,
kemudian Tabungan
Giro 19 persen,
Tabungan Deposito 16
persen, Tabungan Bima
9 persen, Hiprada 5
persen, Simpeda 4
persen dan Tabungan
lainnya masing-masing
kurang dari 1 persen.
Keuangan Daerah
Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Semarang selama lima tahun
terakhir terus mengalami peningkatan. Banyak sumber-sumber pendapatan
asli daerah terus digali dan diupayakan sebagai pendapatan asli daerah,
sehingga setiap tahun dituntut akan peningkatan pendapatan guna membiayai
kebutuhan APBD disamping dari anggaran (DAU) pusat. PAD pada tahun 2013
ditargetkan sebesar
Rp. 1.382 milyar
terealisasi sebesar Rp.
1.373 milyar (99,33
persen). Perlu langkah
kongkrit untuk
mencapai target yang
sudah ditetapkan yaitu
dengan tindakan pro
aktif.
Realisasi APBD Pemerintah Kabupaten Semarang yang meliputi aspek :
pendapatan, belanja dan pembiayaan dalam lima tahun terakhir terus
mengalami peningkatan. Diharapkan pendapatan melebihi dari belanja dan
pembiayaan sehingga masih terdapat surplus anggaran. APBD Kabupaten
Semarang pada tahun 2013 mengalami peningkatan di bandingkan Tahun
2012. Jumlah pendapatan sebesar Rp. 1.373 milyar,- bersumber dari
Pendapatan Asli
Daerah (PAD) sebesar
215,68 Milyar (15,70
persen), Pendapatan
transfer 1.139,6 (82,98
persen) baik dari
Transfer dana
perimbangan pusat,
Dana Alokasi Umum
(DAU), dana bagi hasil
pajak maupun bukan pajak serta Dana Alokasi Umum, sedangkan Rp. 18 milyar
(1,32 persen) lainnya berasal dari lain lain pendapatan yang sah. Penggunaan
ABPD untuk belanja sebesar Rp. 1.333 milyar terutama digunakan untuk
belanja operasi 78,93 persen (belanja pegawai & barang dan jasa) serta
belanja modal 17.07 persen sedangkan 4 persen sisanya untuk belanja transfer
dan belanja tak terduga.
22. KRIMINALITAS
Tingkat kriminalitas di masyarakat tidak lepas dari ketimpangan kondisi sosial
ekonomi yang ada, masyarakat yang sudah mapan tingkat kriminalitasnya
cenderung rendah. Mahalnya biaya hidup dan rendahnya pendapatan
menimbulkan ketidakcukupan akan hidup layak. Hal ini mendorong orang
untuk melakukan tindakan kriminal. Pada tahun 2013 diwilayah Kabupaten
Semarang tingkat kriminalitas
mengalami kenaikan hal ini bisa
dilihat dari jumlah narapidana
yang terjerat kasus pidana yang
berada di Lembaga
Pemasyarakatan Ambarawa.
Berdasarkan data yang ada
pada tahun 2013 tercatat 358
narapidana yang berada di LP
Ambarawa dari berbagai
kejahatan yang dilakukan. Jumlah ini mengalami kenaikan sebanyak 133
narapidana (59 persen) dari tahun sebelumnya.
Selama tahun 2013, tindakan
kriminalitas yang paling banyak
dilakukan dimasyarakat adalah
pencurian 120 kasus (34
persen), Narkotika 61 kasus (17
persen), perlindungan anak 22
kasus (10 persen), sedangkan
kasus penipuan, penggelapan,
perampokan, mata uang,
perjudian jumlah kejahatan
yang ada sebanyak ± 10-20
kasus (3-6 persen). Tindakan
kejahatan yang tidak dilakukan
(0 kasus) selama tahun 2013
adalah : kejahatan politik,
pembakaran, penyuapan,
penculikan, merusak barang,
penyimpangan jabatan, subversi serta kesehatan/kehutanan.
23. PARTAI POLITIK (PARPOL)
Jumlah Pemilih pada Pilihan Legislatif (Pileg) sebanyak 744.958 pemilih
sedangkan suara sah yang masuk sebanyak 573.898 suara. Jumlah suara ini
tersebar tidak merata di kecamatan, dengan tingkat partisipasi pemilih
sebesar 77,04 persen. Suara terbanyak berada di Kecamatan Suruh, Ungaran
Barat, Tengaran dan Tuntang, sedangkan yang terkecil di Kecamatan Bancak,
Kaliwungu dan Sumowono. Persentase pemilih yang menggunakan hak
pilihnya paling besar di kecamatan Getasan, Bawen, Tengaran, Bandungan dan
Bergas dengan partisipasi
lebih besar dari 80 persen.
Persentase partisipasi
pemilih terkecil di
Kecamatan Bancak (66,63
persen) dan Kecamatan
Suruh 69,54 persen). Ada
beberapa kecamatan yang
persentase partisipasi
pemilihnya di bawah angka
partisipasi Kabupaten
sebesar 77,04 persen
meliputi kecamatan :
Bancak, Suruh, Susukan,
Kaliwungu, Bringin,
Pabelan, Ungaran Barat,
Ambarawa dan Sumowono.
Banyaknya suara yang sah untuk calon anggota legislatif untuk anggota DPD,
DPR, DPRD TK I dan DPRD TK II tidak sama, hal ini menunjukan bahwa pemilih
Dalam dokumen
Data Strategis Kabupaten Semarang 2014 i
(Halaman 51-69)