• Tidak ada hasil yang ditemukan

SISTEM KEPARTAIAN, PARTAI ISLAM DAN PARTAI KEADILAN SEJAHTERA DALAM PEMILU LEGISLATIF 2004 KOTA MEDAN

3.2. Kepartaian di Indonesia

3.3.2. Orde Baru

3.3.2.2. Partai Islam dan Pemilu-Pemilu Pada Masa Orde Baru

79

Nasir Tamara , “Sejarah Politik Islam Orde Baru”,dalam Prisma, No.5 tahun 1988, hal.49-50.

80

Lihat Taufik Abdullah , Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia, Jakarta: LP3ES, 1987.

yang tinggi dalam setiap pelaksanaan Pemilu, dimana hampir mendekati 90% orang memberikan suara dalam Pemilu. Akan tetapi keberkalaan pelaksanaan Pemilu dan tingginya tingkat partisipasi tersebut mengandung kelemahan.

Keberkalaan penyelenggaraan Pemilu ternyata tidak dibarengi dengan tingkat kualitas pelaksanaan Pemilu. Pemilu-Pemilu Orde Baru tercatat mengandung banyak kelemahan dan tingkat demokrasinya sangat rendah. Pemilu-Pemilu Orde Baru diselenggarakan hanya sebagai alat legitimasi pemerintah, bukan sebagai alat demokrasi. Intimidasi, rekayasa, mobilisasi dan kecurangan-kecurangan menghiasi setiap penyelenggaraan Pemilu-Pemilu Orde Baru.

Dalam konteks itu, Wiliam Liddle Indonesianis asal Amerika, berkesimpulan bahwa Pemilu-Pemilu Orde baru bukanlah alat yang memadai untuk mengukur suara rakyat. Hal itu karena Pemilu-Pemilu Orde Baru dilakukan melalui sebuah proses yang tersentralisasi pada tangan-tangan birokrasi. Tangan-Tangan itu tidak hanya mengatur hampir seluruh proses pemilu, tetapi juga berkepentingan untuk merekayasa kemenangan bagi partai politik milik pemerintah, yaitu Golkar. Dalam setiap pemilu, kompetisi ditekan seminimal mungkin dan kebebasan serta keragaman pandangan tidak diperbolehkan atau dilarang.81

Hampir sama dengan Liddle tersebut diatas adalah apa yang dikemukakan oleh Irwan dan Endriana. Kedua peneliti dari Unika Atmajaya ini berdasarkan hasil penelitian Pemilu 1992, memberikan kesimpulan yang senada dengan yang dikatakan oleh Liddle. Erwin dan Endriana menemukan 900 kasus pelanggaran terhadap asas Luber (Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia) pelaksanaan pemilu

81

yang terdiri atas 52 kasus (5.78%) pelanggaran hak kampanye, 38 kasus (4.22%) intimidasi dan kekerasan terhadap partai politik (PPP dan PDI), 101 kasus (11.22%) intimidasi untuk memilih Golkar, 472 kasus (52.44%) pelanggaran terhadap saksi partai politik (PPP dan PDI), 223 kasus (24.78%) pelanggaran dalam pemungutan dan penghitungan suara, dan 14 kasus (1.56%) pelanggaran lain-lain. Dari sejumlah kasus pelanggaran tersebut, 71 (6.97%) pelaku pelanggaran dilakukan oleh aparat keamanan, 296 (29.05%) dilakukan oleh birokrasi pemerintahan, 23 (2.26%) dilakukan oleh Golkar, 618 (60.65%) dilakukan badan peneyelenggara pemilu, dan 11 (1.08%) pelaku-pelaku lain.82

82

Alexander Irwan dan Edriana, Pemilu Pelanggaran Asas Luber, Jakarta: Sinar harapan, 1995.hal. 18-22.

Tingkat partisipasi yang tinggi dalam pemilu-pemilu Orde Baru juga menumbuhkan pertanyaan. Meskipun tingkat voter’s run out (pemakaian hak suara) dalam pemilu-pemilu Orde Baru paling tinggi, rata-rata 90% dibanding dengan berbagai negara dikawasan Asia maupun Eropa dan Amerika. Akan tetapi tingkat voter run out itu tidak mempunyai arti apa-apa apabila dikaitkan dengan partisipasi politik masyarakat Indonesia. Hal ini karena tingkat kehadiran untuk memberikan suara bukanlah semata-mata tindakan yang bersifat pilihan atas kemauan sendiri atau melainkan otonom, melainkan karena dipaksakan oleh faktor yang ada diluar mereka sendiri (mobilisasi). Sehubungan dengan itu maka pemilu-pemilu Orde Baru tidak dapat dijadikan indikator bagi partisipasi politik, karena dalam kenyataan pemilu-pemilu Orde Baru lebih memperlihatkan karakter mobilisasi politik. Disamping itu pemilu-pemilu Orde Baru juga merupakan suatu bentuk seremonial demokrasi, dimana pemilu digunakan sebagai alat legitimasi penguasa dalam upaya mempertahankan kekuasaannya.

Pemilu-pemilu Orde Baru, karena selalu dimenangkan oleh Golkar sebagai partai pemerintah, akibatnya melahirkan sistem kepartaian yang hegemonik. Sistem partai hegemonik berada diantara sistem partai dominan dan sistem satu partai. Dalam sistem ini eksistensi partai-partai politik diakui tetapi peranannya dibuat seminimal mungkin, terutama dalam pembentukan pendapat umum.83

Melihat sepak terjang tersebut, Subchan ZE, tokoh muda NU mengatakan bahwa permainan politik sudah tidak adil lagi. Menteri Dalam Negeri yang harusnya menjadi wasit melainkan sudah menjadi “buldozer”.

Dengan gambaran pemilu-pemilu Orde baru seperti itu bagaimana partai-partai Islam dalam setiap pelaksanaan Pemilu-Pemilu Orde Baru. Apabila kita mengamati laporan-laporan bacaan yang ada, terlihat bahwa persaingan antara partai-partai Islam dengan partai pemerintah, Golkar, sangat menonjol dan ketat adalah pada pelaksanaan Pemilu 1971 dan Pemilu 1977. Pada Pemilu 1971 pemerintah berusaha agar “pembangunan yes politik no”. Disamping itu pihak militer juga berusaha mati-matian memenangkan Golkar.

84

Bukan hanya itu saja bahkan selama berlangsung kampanye banyak terjadi intimidasi dan tekanan terhadap masyarakat agar memilih Golkar. Dalam upaya menghadapi tekanan tersebut 700 ulama NU, dalam rangka untuk memenangkan partai-partai Islam, kemudian mengeluarkan fatwa yang menyatakan wajib hukumnya bagi setiap umat Islam untuk menusuk tanda gambar partai Islam.85

83

Dikutip dari Abdul Azis Thaba, Islam dan Negara dalam politik Orde Baru, Jakarta: Gema Insani Pers, 1996, hal.210.

84

Dikuti dari Aminudin, Kekuatan Islam dan Pergulatan Kekuasaan di Indonesia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999, hal.94.

85

Dengan gambaran seperti itu, William Liddle mengatakan tentang hasil pemilu 1971. menurut Liddle semua partai politik, kecuali satu, terkubur dibawah tanah longsoran Golkar. PNI, partai Nasionalis yang memperoleh suara paling banyak dalam pemilu 1955, kehilangan hampir seluruh struktur kadernya, ketika Mendagri (Menteri Dalam Negeri) mendekritkan monoloyalitas pejabat-pejabat departemen kepada Golkar. Parmusi dari Islam modernis, penerus Masyumi yang merupakan partai terbesar kedua pada pemilu 1955, dipimpin secara buruk karena campur tangan pemerintah dan sebab itu tidak mampu menyelenggarakan kampanye yang efektif. Hanya NU yang mengalami peningkatan kecil dari presentase suaranya dari Pemilu 1955.86

...wajib hukumnya bagi setiap peserta pemillu 1977 dari kalangan umat Islam pria maupun wanita, terutama bagi warga Partai Persatuan Pembangunan untuk turut menegakkan Hukum Dan Agama Allah dalam kehidupan bangsa kita, dengan jalan menusuk tanda gambar Partai Pada pemilu 1977, ketika partai-partai Islam berfusi dan membentuk wadah baru dengan nama Partai Persatuan Pembangunan, persaingan antara Golkar sebagai partai dengan PPP sebagai representasi partai Islam berjalan sengit. Liddle melukiskan suasana Pemilu 1977 sebagai pertarungan dua kekuatan, the government versus Islam. Dalam pemilu ini Golkar berhadapan langsung dengan PPP. Golkar merupakan personifikasi dari sekularisasi dengan program pembangunan ekonomi, sementara PPP memporsinifikasikan diri sebagai kekuatan Islam dengan menggunakan Ka’bah sebagai lambangnya.

Dalam menghadapi Golkar tersebut, K.H.Bisri Sjansuri, Rois ‘Aam PB NU dan Ketua Umum Majelis Syuro PPP mengeluarkan fatwa pada saat menjelang Pemilu 1977, ia mengatakan bahwa:

86

Persatuan Pembangunan pada waktunya nanti... Maka barang siapa diantara umat Islam yang menjadi peserta dalam pemilu tetapi tidak menusuk tanda gambar Partai Persatuan Pembangunan, karena takutnya hilang kedudukan atau mata pencaharian maupun karena sebab-sebab lain, adalah termasuk orang yang meninggalkan Hukum Allah.87

Akan tetapi dalam pemilu-pemilu berikutnya perolehan suara PPP semakin menurun. Hal ini karena bukan saja akibat intimidasi, manipulasi, dan rekayasa dalam setiap penyelenggaraan pemilu namun juga diakibatkan oleh perubahan ideologis yang dialami PPP dan konflik internal PPP seperti yang telah dijelaskan di atas.

Hasil Pemilu 1977 menunjukkan perolehan suara PPP naik dari pemilu sebelumnya. Ketika partai-partai Islam belum berfusi, perolehan suara pada pemilu 1971 adalah 27.11% dan pada pemilu 1977 menjadi 29.29%. jadi naik dua persen.

88

87

Dikutip dari Syamsudin Haris, PPP dan Politik Orde baru, Jakarta: Grasindo, 1991, hal.1.

88

Syamsudin Haris, Ibid. hal.1.