• Tidak ada hasil yang ditemukan

ULAMA DAN KEPEMIMPINAN

2.3 Partai Politik dan Ulama

Partai politik merupakan organisasi politik yang dibentuk oleh sekelompok warga negara secara sukarela atas dasar persamaan kehendak dan cita-cita untuk memperjuangkan kepentingan anggota, masyarakat, bangsa, dan negara melalui pemilihan umum. Partai politik merupakan keharusan dalam kehidupan politik modern yang demokratis, sebagai suatu organisasi, partai politik secara ideal dimaksudkan untuk mengaktifkan dan memobilisasi rakyat, mewakili kepentingan tertentu, memberikan jalan konpromi bagi pendapat yang saling beraing, serta menyediakan sarana suksesi kepemimpinan politik secara absah (legitimate) dan damai. Karena itu, partai politik dalam pengertian modern dapat didefinisikan sebagai suatu kelompok yang mengajukan calon-calon bagi jabatan publik untuk dipilih oleh rakyat sehingga dapat mengontrol atau mempengaruhi tindakan-tindakan pemerintah. Mark N. Hagopian mendefinisikan partai politik merupakan suatu organisasi yang dibentuk untuk mempengaruhi bentuk dan karakter

35 Nirzalin, Pergeseran Kekuasaan Ulama Politik Dalam Masyarakat Aceh, Tesis S2 Prodi Sosiologi UGM, 2003, Yogyakarta, hlm. 249-250.

kebijaksanaan publik dalam kerangka prinsip-prinsip dan kepentingan ideologis tertentu melalui praktek kekuasaan secara langsung atau partisipasi rakyat dalam pemilihan, sehingga dengan batasan-batasan seperti itu tampak jelas bahwa basis sosiologis suatu partai politik adalah ideologi dan kepentingan yang diarahkan pada usaha-usaha untuk memperoleh kekuasaan.36

Dalam teori demokrasi modern partai politik dipandang sebagai sarana kelembagaan yang utama untuk menjembatani hubungan antara masyarakat dengan pemerintah. Partai-partai dianggap memainkan peranan menyeluruh sebelum, selama, dan sesudah pemilihan umum. Berbeda dengan kelompok kepentingan, partai-partai menjangkau suatu lingkup kepentingan manusia secara luas. Mereka menidentifikasi, memilah, menentukan, dan mengarahkan pelbagai kepentingan tersebut menuju cara-cara bertindak yang dapat dipilih oleh para pemilih dan pemerintah. Partai-partai yang bersaing mengemukakan program-program lintas-kebijakan di dalam konteks persaingan memperebutkan pemerintahan. program-program itu menstrukturkan pilihan para pemilih. Sekali telah duduk dipemerintahan, partai-partai merupakan lembaga pengorganisir utama yang membentuk, melaksanakan dan mengawasi proses penyusunan kebijakan. Sehingga Parpol

36 Ichlasul Amal, Teori-teori Mutakhir Partai Politik, 1996.

Tiara Wacana Yogya, Yogyakarta, hlm. xv.

mendapatkan peran sebagai penghubung dan pengintegrasi yang diembannya sebagai jembatan antara masyarakat dan pemerintah.37

Partai dengan berbagai fungsi yang dimilikinya, seperti fungsi partai sebagai representasi (perwakilan), konversi dan agregasi, integrasi (partisipasi, sosialisasi, mobilisasi), persuasi, represi, rekrutmen, pemilihan pemimpin, pertimbangan-pertimbangan dan perumusan kebijaksanaan, serta kontrol terhadap pemeritah. Dengan fungsi-fungsi tersebut dapat mencapai tujuan politis yang telah rencanakan, sehingga dalam realitasnya Orba merupakan rezim yang secara sadar memasukkan ulama sebagai salah satu instumen untuk mengejar berbagai kepentingan-kepentingannya. Orba “memaksa” para ulama untuk melakukan minimal salah satu dari tiga peran berikut: turut menyukseskan program-program pembangunan, sebagai legitimator stabilitas sosial politik, dan menaikkan perolehan suara Golkar. Selain itu, Orba juga berhasil membentuk suatu orientasi yang jauh dari etika ulama. Orientasi ini terbentuk sebagai implikasi psikologis atas tebentuknya organisasi bentukan negara seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dipupuk dan diberi fasilitas. Pembentukan organisasi ini ternyata tidak lebih dari organisasi perpanjangan

37 Hans-Dieter Klingeman, Richard I. Hofferbert, and Ian Budge, Partai, Kebijakan & Demokrasi, 2000, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hlm. 392-393.

tangan negara, sehingga menciptakan mentalitas orientasi vertikal, terutama disebagian ulama muda yang meniti karir.

Tak pelak lagi pada masa Orba itu persoalan ulama mengalami cobaan yang berat ketika pemerintah mengitervensi mereka untuk mendukung partai yang lagi berkuasa (Golkar) sehingga secara etika ulama mulai tercemar. Bila kita mau memperdebatkan lebih besar maka perbincangan pun barang kali mirip gagasan julian benda pengkhianatan para intelektual.

Rumusan klasik tentang etika ulama dapat dijumpai pada gagasan pada imam Al-Ghazali. Rumusannya ini lebih difokuskan pada hubungan ulama dengan kekuasaan. Etika ulama dalam pandangan Al-Ghazali, kurang lebih adalah upaya untuk berhati-hati bahkan mesti menjaga jarak dengan kekuasaan. Karena kewibawaan personal dan keluasan ilmu ulama bisa menjadi pengabsah kekuasaan. Sementara sebaliknya, jika tidak berhati-hati, kekuasaan bisa merusak pribadi dan misi ulama. Sehingga dalam perkembangannya banyak ulama sekarang ini untuk berusaha mengkoreksi diri mereka, yang dulunya fatwa-fatwa politik mereka tidak mau didengarkan oleh publik, sehingga dengan pergeseran dukungan mereka terhadap partai baru sekarang ini bisa menjadi momentum untuk memperbaiki citra mereka dihadapan publik.

Boleh jadi diantara kita memandang bahwa gerakan

“kembali ke ummat” yang dilakukan oleh ulama sebagai reaksi psikologis dari berbagai bentuk tekanan yang ada, karena begitu

menyempitnya ruang gerak ulama pada masa Orba. Namun gerakan tersebut justeru sangat menjanjikan, baik dimasa transisi sekarang maupun pada masa mendatang. Bila perlembagaan demokrasi kita berhasil, secara teoritis ulama tidak akan mengalami peminggiran dan penjinakan seperti yang terjadi pada era Orba. Mereka masih memiliki akses dan terlibat dalam proses-proses politik meskipun mereka berada diluar kekuasaan. Keterlibatan mereka ini justeru karena mereka berada ditengah-tengah umat. Kecakapan dan dukungan ulama membuat mereka dengan sendirinya diperhitungkan sehingga dapat menjadi pengontrol perilaku pemerintah, sehingga nantinya dalam proses perkembangan demokrasi tidak ada pihak-pihak tertentu untuk mendiskriminasi terhadap kebebasan dalam berpolitik, termasuk kehidupan perpolitikan para ulama.

Pemuka agama merupakan golongan fungsional yang pada umumnya memiliki kharisma dalam lingkungan tertentu dan menjadi panutan bagi masyarakat. Apalagi dilingkungan masyarakat yang bersifat sosialistis religius, maka petunjuk-petunjuk mereka pada umumnya dipatuhi oleh pengikutnya dan rakyat disekitarnya. Banyak di antaranya yang menjadi tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh.38 Sehingga Parpol sangat menyadari tentang peran ulama dalam masyarakat, mereka sangat didengar dan lebih efektif dalam membina masyarakat.39

38 Sekjen DPP Golkar dalam Nirzalin, loc. cit.,hlm. 213.

39 Ibid, hlm. 213.

Komunitas Islam sebagai ikatan sosial, yang menentukan nilai dasar dari peranan dan tempat seseorang dalam hubungan sosial, komunitas Islam pertama-tama adalah suatu ikatn sosial yang kehadirannya dimungkinkan oleh komitmen yang sakral dan yang secara transendental dipertanggungjawabkan. Sebagai kelompok dari mereka yang percaya, maka komunitas ini bersifat universal, setidaknya demikianlah halnya dari sudut doktrin dan konsepsi ideal tentang “ummat”.40 Hal tersebut tidak terlepas dari budaya politik dari suatu masyarakat.

Setiap masyarakat memiliki budaya politiknya masing-masing, baik masyarakat yang masih tergolong tradisional maupun masyarakat yang sudah maju. Almond dan Powell mendefinisikan budaya politik sebagai suatu konsep yang terdiri dari sikap, keyakinan, nilai-nilai dan ketrampilan yang sedang berlaku bagi seluruh anggota masyarakat, termasuk pola-pola kecenderungan-kecenderungan khusus serta pola-pola kebiasaan yang terdapat pada kelompok-kelompok masyarakat.41 Lebih lanjut Almond dan Verba menjelaskan pula bahwa istilah budaya politik mengacu pada orientasi politik, sikap terhadap sistem politik dan bagian-bagian serta peranan masyarakat itu

40 Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat: pantulan Sejarah Indonesia, 1996, LP3ES, Jakarta, hlm. 58-59.

41 Gabriel A. Almond dan G. Bigham Powell dalam Iwan Waris, Elite Di Sulawesi Selatan: Studi Tentang Peranan Elite Lokal Terhadap partisipasi Politik Masyarakat, Tesis Pada Program Studi Ilmu Politik UGM, 1994, hlm. 15-16.

dalam sistem tersebut.42 Menurutnya orientasi politik mengcu pada: orientasi cognitf, orientasi afectif, dan orientasi evaluatif.

Yang disebut pertama, orientasi cognitif, menyangkut pengetahuan dan kepercayaan pada politik, peranan dan segala kewajibannya, serta input dan outputnya; orientaasi afectif bersangkut paut dengan masalah perasaan terhadap sistem politik, peran yang bersangkutan dan penampilan para aktor;

sementara itu orientasi evaluatif berkenaan dengan masalah keputusan dan pendapat tentang obyek-obyek politik yang secara tipical melibatkan kombinasi standar nilai dan kriteria informasi serta perasaan.43

Bertitik tolak dari pola orientasi politik tersebut, Almond dan Verba kemudian memunculkan tipe-tipe kebudayaan politik.

Menurutnya ada tiga tipe budaya politik, yaitu budaya politik parokial, budaya politik subyek dan budaya politik partisipan.

Menyangkut pengertian ketiga tipe budaya politik tersebut, Almond mengemukakan bahawa, berdasarkan sikap, nilai-nilai, informasi, dan kecakapan politik yang dimiliki kita dapat menggolongkan orientasi-orientasi warganegara terhadap kehidupan politik dan pemerintahan negaranya; atau dengan kata lain, kita bisa menggolongkan kebudayaan politiknya,

42 Ibid.

43 Iwan Waris, Elite Di Sulawesi Selatan: Studi Tentang Peranan Elite Lokal Terhadap partisipasi Politik Masyarakat, Tesis Pada Program Studi Ilmu Politik UGM, 1994, hlm 16-17.

paling tidak dalam kegiatan pemberian suara (voting), dan memperoleh informasi cukup banyak tentang kehidupan politik kita sebut budaya politik partisipan. Orang-orang yang secara pasif patuh pada pejabat-pejabat pemerintah dan undang-undang, tetapi tidak melibatkan diri dalam politik atau memberikan suara dalam pemilihan, kita sebut budaya politik subyek. Golongan ketiga adalah orang-orang yang sama sekali tidak menyadari atau mengabaikan adanya pemerintahan dan politik.44

Berdasarkan konsep, seperti yang digambarkan di atas bahwa sanya masyarakat Aceh juga mempunyai budaya politiknya sendiri, sebagai paduan yang mengarahkan masyarakat kearah bagaimana sebaiknya berperilaku dalam kehidupan politik. Tentunya budaya politik masyarakat Aceh tidak terlepas dari nilai-nilai Islam yang menempatkan posisi ulama sebagai posisi teratas dalam kehidupan sosial kemasyarakat, sehingga apa yang di sampaikan oleh mereka harus dipatuhi, dan juga tidak terlepas pula dari nilai-nilai budaya lokal yang tercermin dalam kehidupan adat-istiadatnya yang sarat dengan nilai-nilai agama (Islam).

44 Gabriel A. Almond dalam Iwan Waris, loc.cit., hlm-16-17.