ULAMA DAN KEPEMIMPINAN
2.2 Ulama Sebagai Elit Keagamaan
Mulanya “teori elit politik”, lahir dari diskusi seru para ilmuwan sosial Amerika tahun 1950-an, antara Schumpeter (ekonom), Lasswell (ilmuwan politik) dan sosiolog C. Wright Mills, yang melacak tulisan-tulisan dari para pemikir Eropa masa awal munculnya Fasisme, khususnya Vilfredo Pareto dan Gaetano Mosca (Italia), Roberto Michels (seorang Jerman keturunan Swiss) dan Jose Ortega Y. Gasset (Spayol).1 Menurut Pareto dan Mosca, bahwa di setiap masyarakat pasti terdapat sekelompok kecil (minoritas) individu yang memerintah anggota masyarakat lainnya (manoritas). Selanjutnya sekelompok kecil individu tadi
1 SP. Varma, Teori Politik Modern, 2001, Raja Grafindo Persada, Jakarta, hlm.199-200.
atau yang merupakan lapisan elit di masyarakatnya dibagi menjadi kelompok elit yang sedang memerintah atau “governing elite” dan kelompok elit yang tidak sedang memerintah atau
“non governing elite”. Di mana kelompok elit yang sedang memerintah terdiri dari orang-orang yang menduduki jabatan-jabatan politis, dan kelompok yang tidak sedang memerintah terdiri dari orang-orang yang tidak menduduki jabatan-jabatan politis tetapi mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi secara langsung pembuatan kebijaksanaan.2
Teori elit menegaskan bahwa setiap masyarakat terbagi dalam dua kategori yang luas yang mencakup: (1) sekelompok kecil manusia yang berkemampuan dan karenanya menduduki posisi untuk memerintah, dan (2) sejumlah besar massa yang ditakdirkan untuk diperintah.3 Kenyataan ini agaknya memang tidak bisa dihindari dan memang tidak perlu dihindari, oleh karena sesungguhnya hal itu mungkin lebih tepat untuk dikatakan sebagai konsekuensi logis dari kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dua kelompok masyarakat akan selalu terformat secara dikhotomis dengan tolok ukur kesetaraan yang tidak pernah seimbang. Artinya, ditinjau dari segi kuantitatif, kelompok elit selalu memiliki jumlah yang jauh lebih kecil ketimbang kelompok massa,
2 Ted Robert Gurr dalam Haryanto, Elit, Massa, dan Konflik, PAU-Studi Sosial UGM, 1991, Yogyakarta, hlm. 8.
3 SP. Varma, loc. cit., hlm. 197.
sementara dilihat dari aspek kualitatif, elit yang jumlahnya kecil itu ternyata memiliki peran politik jauh lebih besar.4
Lasswell menyatakan bahwa elit merupakan suatu kelas yang terdiri dari mereka yang berhasil mencapai kedudukan dominasi dalam masyarakat, dalam artian bahwa nilai-nilai (values) yang mereka bentuk (ciptakan, hasilkan) mendapat penilaian tinggi dalam masyarakat yang bersangkutan. Nilai-nilai atau values tersebut mungkin dapat berwujud kekuasaan, kekayaan, kehormatan, pengetahuan, dan lain-lainnya. Mereka yang berhasil memperoleh dan menguasai nilai-nilai tersebut dalam jumlah yang banyak pada gilirannya akan menduduki lapisan atas dari pada stratifikasi yang ada di masyarakat yang bersangkutan, dan sebaliknya mereka yang kurang atau tidak berhasil sama sekali memperoleh dan menguasai nilai-nilai tersebut akan berada pada lapisan bawah dari stratifikasi.
Laswell selanjutnya mengatakan bahwa elit adalah individu-individu yang berhasil memiliki sebagian terbanyak dari nilai-nilai, karena kecakapan-kecakapan serta sifat-sifat kepribadian mereka. Dengan keunggulan yang melekat pada dirinya, elit terlihat secara aktif dalam proses pengambilan keputusan-keputusan.5
4 Yunus Sulchan, loc. cit., hlm. 10.
5 Haryanto, Elit, Massa, dan Konflik, PAU-Studi Sosial UGM, 1991, Yogyakarta, hlm. 16.
Kemudian Putnam menyatakan bahwa dikalangan kelompok yang berkuasa (elit) sebenarnya hanya terdapat beberapa individu di antara mereka saja yang secara langsung dapat memutuskan kebijaksanaan. Sehingga dengan demikian harus dapat dibedakan antara elit yang mempunyai pengaruh langsung dalam proses pembuatan kebijaksanaan dan elit yang pengaruhnya tidak langsung dalam proses tersebut. Elit dinyatakan mempunyai pengaruh langsung apabila yang bersangkutan ikut terlibat secara langsung dalam proses pembuatan kebijkasanaan dan ikut dalam menentukan kebijaksanaan final. Sedangkan elit yang dinyatakan mempunyai pengaruh tidak langsung apabila yang bersangkutan hanya dapat mempengaruhi elit lainnya dan elit yang lainnya inilah yang terlibat dan memutuskan dalam proses pembuatan kebijaksanaan.6
Riestedt memahami pengertian elit dari sisi peranan simbolisnya. Menurut Riestedt, elit adalah penentu atau perantara simbolis atau lambang. Tindakan mereka di depan umum atau penampilan mereka, baik yang bersifat instrumental maupun ekspresi, dapat mempengaruhi cara pandang dan pola hidup masyarakat atau ummat. Pemahaman Reistedt tersebut secara tegas menunjukkan bahwa pengertian elit sangat berhubungan dengan problema adaptif dalam pencapaian tujuan dan nilai melalui apa yang mereka selesaikan. Elit cenderung
6 Op. cit., hlm. 19.
dipahami dari sisi kemampuan kerja atau kharisma, integritas diri, dan solidaritasnya. Mereka cenderung dipahami dari sisi nilai yang mereka wakili. Teori-toeri tentang elit ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan elite agama adalah mereka yang memiliki posisi dan peranan strategis dalam agama. status dan peran strategis elit agama ini diakui dan dihargai secara luas dalam masyarakat. Oleh karena itu, mereka lebih berperan di dalam konteks kehidupan sosial yang luas daripada sekedar menyampaikan misi yang sempit. Hakikat dan peran yang tampilkan selalu harus terkait dengan konteks budaya, sehingga memiliki nuansa nilai-nilai hidup masyarakat yang dapat mengakseskan peran dan tanggung jawabnya dalam mengenai permasalahan yang bersifat kontekstual.7
Elit (agama), Keller dalam Lexi A. Lonto menjelaskan bahwa istilah elite (dari bahasa Latin eligere) pertama-tama menunjuk kepada suatu minoritas pribadi yang diangkat untuk melayani suatu kolektivitas dengan cara yang bernilai sosial.
Menurutnya, elit merupakan sekelompok (minoritas) yang memegang posisi terkemuka dalam masyarakat. Mereka adalah minoritas-minoritas yang efektif dan bertanggung jawab. Posisi atau status terkemuka para elit ini diperoleh dari pengakuan masyarakat, bukan pemberian pemerintah.8 Hal yang sama juga
7 Op. cit., hlm. 20.
8 Lexi A. Lonto, Peranan Elite Dalam membina Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama Di Kotamadya Manado, Tesis
diungkapkan oleh Schoorl bahwa elit adalah kelompok orang dalam masyarakat yang mempunyai pengaruh, berkedudukan paling tinggi didalam struktur sosial, politik, pemerintahan, ekonomi, dan agama. Schoorl secara khusus menyebut elit agama bagi mereka yang terkemuka dibidang agama.9 Sebagai elit agama, ulama saling melakukan berbagai cara untuk mendapatkan pengaruh, kekuasaan dan simpati dari masyarakat, baik itu melalui pendekatan wacana, ritual maupun melalui simbolisme keagamaan.
Sehingga dengan semangat keyakinan masyarakat Aceh, bahwa ulama dayah (pesantren) adalah “pewaris” nabi dan penafsir yang legitimate terhadap ajaran-ajaran agama Islam telah menempatkan para ulama menjadi kelompok elit masyarakat Aceh yang sangat berkuasa, telah menjadikan para ulama sebagai kelas masyarakat Aceh yang “suci” dan tak tersentuh (untouchable man). Otoritas keilahian menjadi basis utama bagi munculnya kepatuhan yang tak terbatas dari masyarakat Aceh kepada para ulama dalam pelbagai horizon sosial. Intervensi ulama dalam khasanah sosial dipandang sebagai sesuatu yang sah dan “suci”.10 Ulama dalam konfigurasi sosio-kultural masyarakat Aceh, merupakan sosok yang
Pada Program Studi Ketahanan Nasional UGM, 2001, Yogyakarta, hlm. 19.
9 Ibid.
10 Nirzalin, loc. cit., hlm. 119-120.
berkuasa. Kekuasaan ulama ini terus bersemai dalam “lahan subur” psiko-sosial masyarakat Aceh yang religius. Ulama merupakan elite agama yang menguasai ranah keagamaan, dalam ranah inilah terlihat sekali bagaimana kekuasaan mereka berlangsung secara hegemonik dan dominatif. Praktek kekuasaan yang hegemonik dan dominatif ini, oleh para ummatnya dianggap sebagai sesuatu praktek kekuasaan yang
“wajar” dan sudah seharusnya. Hal ini dikarenakan ulama diyakini sebagai pewaris-pewaris yang legitimate dari ajaran Islam.11
Dalam banyak hal, mereka (ulama) dipandang menempati kedudukan dan otoritas keagamaan setelah Nabi Muhammad. Salah satu hadis Nabi yang paling populer menyatakan bahwa ulama adalah pewaris para Nabi. Karenanya mereka sangat dihormati kaum muslimin lainnya, pendapat-pendapat mereka dianggap mengikat dalam berbagai masalah, bukan hanya menyangkut masalah keagamaan, tetapi sering pula dalam masalah-masalah lain.12 baik itu dalam kehidupan keagamaan, sosial, cultural maupun dalam kehidupan politik.
Ditempatkannya kyai (ulama) pada posisi tertinggi (elit) adalah sebagai salah satu ciri terpenting pesantren (dayah). Ciri ini, misalnya, terlihat pada pola hubungan antara kiai dengan santrinya dan masyarakat di sekitarnya. Para santri patuh dan
11 Op. cit., hlm. 123
12 Azyumardi Azra dalam Nirzalin, loc. cit., hlm. 13.
taat tanpa reserve kepada kiai, apa yang difatwakan kiai biasanya selalu diikuti. Bahkan, pola hubungan demikian telah diwujudkan ke dalam suatu doktrin: Sami’na wa Atha’na (kami mendengar dan kami patuh).13 Sehingga dengan posisi dan pengaruhnya tersebut ulama di Aceh, tidak hanya sebagai elite (agama) yang mempunyai otoritas dalam bidang keagamaan saja, akan tetapi pengaruh ulama di Aceh juga telah dilibatkan secara langsung dalam pembuatan kebijakan. Hal ini dapat dibuktikan dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh, khususnya keistimewaan keempat, yang memberikan peran kepada ulama dalam penetapan kebijakan daerah.
Selain ulama sebagai kelompok elit dalam kehidupan masyarakat Aceh terdapat juga kelompok elit lainnya, dalam lintasan sejarah, di Aceh pada masa kesultanan dulu, terdapat tiga kelompok elit, yaitu sultan, uleebalang (kaum bangsawan)
14 dan ulama. Namun setelah hapusnya kesultanan, pada masa
13 Muhammad Asfar, Pergeseran Otoritas Kepemimpinan Politik Kiai, Prisma N0. 5 Tahun XXIV, LP3ES, 1995, Jakarta, hlm.
29.
14 Uleebalang merupakan semacam raja-raja kecil di wilayah atau negerinya. Kedudukan ini bersifat turun temurun. Dizaman kesultanan, uleebalang diangkat oleh sultan melalui sarakata (surat pengangkatan) yang dibubuhi cab sikureueng. Sarakata memberikan legitimasi terhadap kekuasaan uleebalang atas wilayahnya, dan sekaligus merupakan pengakuan si uleebalang
pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kelompok elit pribumi yang menonjol adalah uleebalang dan ulama.15 Kaum ulama dan golongan uleebalang semakin ketat bersaing dalam berebut pengaruh dan kekuasaan. Persaingan tersebut terus berlangsung di zaman Jepang sampai pada awal kemerdekaan. puncak dari persaingan ini adalah peristiwa berdarah Cumbok yang terjadi beberapa bulan sesudah proklamasi kemerdekaan R.I. Kaum ulama keluar sebagai pemenang, dan hal itu banyak berpengaruh terhadap perkembangan Aceh selanjutnya.16
Seiring dengan perkembangannya, yang hanya dapat mempertahan diri sebagai kelompok elit dalam masyarakat Aceh sampai sekarang ini adalah, elit agama (ulama) yang mempunyai kemampuan dalam bidang keagamaan, dan elite adat seperti
atas kekuasaan sultan. Meskipun sultan memberi otonomi yang luas kepada para uleebalang, sarakata menunjukkan bahwa ia dapat mengontrol mereka. lihat Alfian (pengantar), Kelompok Elit Dan Hubungan Sosial Di Pedesaan, 1988, YIIS, Jakarta, hlm. 3.
15 M. Masyhur Amin, Kedudukan Kelompok Elite Aceh Dalam Perspektif Sejarah dalam Alfian (pengantar), Kelompok Elit Dan Hubungan Sosial Di Pedesaan, 1988, YIIS, Jakarta, hlm.
12.
16 Alfian (peng), Kelompok Elit Dan Hubungan Sosial Di Pedesaan, 1988, YIIS, Jakarta, hlm. 4.
Imeum Mukim17 sebagai pemimpin ditingkat Mukim18 dan Keuchik19 sebagai pemimpin di tingkat Gampong20, mereka ini mempunyai kemampuan dalam bidang adat-istiadat dan pemerintahan di Aceh. Namun terjadi perubahan besar terhadap lembaga-lembaga tradisional ini pada tahun 1979 yang merupakan sebagai akibat lahirnya Undang-Undang (UU) Nomor 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Meskipun UU Nomor 5 tahun 1979 tidak mengatur secara jelas tentang keberadaan lembaga pemerintahan Mukim, dalam kenyataannya pengaruh dan peranan lembaga kemukiman masih sangat terasa
17 Imeum mukim adalah pimpinan sebuah pemerintahan tradisional di Aceh yang dibentuk pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintah Aceh dalam tahun 1607-1636 Masehi. Dalam strukrur pemerintahan kesultanan Aceh waktu itu, kedudukan kemukiman merupakan unit pemerintahan tingkat ketiga setelah pemerintahan sagoe pada tingkat kedua dan kerajaan (raja) pada tingkat pertama. Namun sekarang ini kedudukannya berada antara camat dan gampong (sebutan desa di Aceh) yang mempunyai otoritas dalam bidang pemerintahan dan adat, sehingga mereka juga berperan sebagai penghubung antara Keuchik dan Camat.
18 Mukim adalah lembaga tradisional di Aceh yang perperan sebagai lembaga koordinator atas beberapa Gampong yang setiap kemukiman biasanya terdapat satu buah mesjid yang dipimpin oleh Imeum Mesjid.
19 Keuchik adalah sebutan kepala desa di Aceh.
20 Gampong adalah suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk sebagai kesatuan masyarakat hukum yang merupakan organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah Mukim setiap Gampong biasanya terdapat satu buah Meunasah yang dipimpin oleh Imeum Meunasah.
bahkan masih dibutuhkan seperti dalam setiap rapat-rapat Gampong (sebutan desa di Aceh), Imeum Mukim masih tetap diikut sertakan dalam setiap pengabilan keputusan. Namun dengan adanya berbagai kebijakan dalam penyelenggaraan pemerintahan pada masa lalu yang menitikberatkan pada sistem yang terpusat (sentralistik) sehinggga menjadi sumber bagi munculnya berbagai macam ketidakadilan dalam kehidupan masyarakat.
Lembaga pemerintahan Mukim merupakan organisasi lokal yang meliputi kekuasaan yang bersifat tradisional di Aceh, yang sekarang ini mulai diatur kembali dalam berbagai undang-undang walaupun secara substansinya masih diperdebatkan, seperti: (1). UU Nomor 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah yaitu: BAB XI pasal 95 tentang Pemerintahan Desa dan pasal 104 tentang Badan Perwakilan Desa, serta Pasal 106 tentang lembaga-lembaga lain. (2) UU Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Khususnya mengenai Pemerintahan Desa BAB VI yaitu dalam pasal 7 sampai dengan pasal 10. Pasal 10 Undang-undang ini menyebutkan khusus mengenai lembaga Mukim, dan (3) UU Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus. Mukim adalah wilayah yang meliputi beberapa gampong di bawah satu kecamatan yang luasnya di sesuaikan dengan batas-batas Mukim yang sudah ada atau ditentukan lain oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).
Kemukiman sebagai pusat interaksi masyarakat dengan medianya adalah Mesjid sebagai pusat komunikasi dalam rangka menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang menyangkut dengan kegiatan Mukim. Dari sekian banyak jumlah Mesjid dalam setiap kemukiman ada satu yang disebut sebagai Mesjid Jamik, yang merupakan sarana kegiatan Imeum Mukim. Atas dasar kerjasama dalam bidang keagamaan yang pada mulanya antar gampong, sehingga terbentuk kesatuan hukum yang bercorak agama.
Wilayah kemukiman dipimpin oleh seorang Imeum Mukim yang mengurus masalah umum, termasuk didalamnya masalah adat dan Imeum Mesjid yang mengurus masalah keagamaan, kedua pejabat administrasi masyarakat pedesaan ini mengalami perbedaan proses legitimasi, Imeum Mukim dan Keuchik, yang selanjutnya disebut pemimpin formil tradisionil dipilih oleh masyarakat menurut syarat tradisionil, diangkat dan disyahkan serta diberi honor oleh pemerintahan, sebagai mana yang disebutkan dalam Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Aceh No. 32/GA/1961 tentang peraturan memilih, mengakui dan memberhentikan Keuchik di daerah Istimewa Aceh. Sedangkan legitimasi Imeum Mesjid (sebutan Imam Mesjid di Aceh) dan Imeum Menasah (sebutan Imam Surau/Musallla di Aceh) tetap ada pada tradisi masyarakat pedesaan, termasuk penghasilannya yang bersama-sama dengan biaya pemeliharaan Mesjid dan Meunasah (sebutan musalla atau
surau di Aceh) yang di peroleh dari tanah komunal yang disebut umang sara menurut istilah masyarakat setempat.
Perkataan ulama berasal dari bahasa Arab, jamak (plural) dari kata ‘alim yang berarti orang yang mengetahui, orang yang berilmu. Ulama berarti para ahli ilmu atau para ahli pengetahuan atau para ilmuwan. Pemakaian kata ulama di Indonesia agak bergeser sedikit dari pengertian aslinya dalam bahasa Arab, di Indonesia, ‘alim diartikan seorang yang jujur dan tidak banyak bicara, di Aceh khususnya dan Indonesia pada umumnya, perkataan ulama hanya digunakan untuk para ahli agama Islam saja.21 Di Indonesia ulama juga mempunyai sebutan yang berbeda di setiap daerah, seperti, kiai (Jawa), ajengan (Sunda), syeikh (Sumatera Utara/Tapanuli), buya (Minangkabau), tuan guru (Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Tengah).22 Dalam masyarakat Aceh, ulama dipanggil dengan sebutan teungku, namun tidak semua panggilan teungku merujuk pada sosok ulama. Terminologi teungku merupakan terminologi yang masih bersifat general, istilah teungku sering digunakan dalam konsumsi dialektika sehari-hari, seperti dalam menyapa seseorang yang baru dikenalnya, menyambut tamu yang belum dikenal, sebutan bagi
21 Ismuha dalam Taufik Abdullah (ed.), Agama dan Perubahan Sosial, Rajawali, Jakarta, hlm. 3.
22 Rusjdi Ali Muhammad, Revitalisasi syari’at Islam Di Aceh, 2003, Logos Wacana Ilmu, Jakarta, hlm. 73.
orang yang sedang menuntut ilmu agama, dan panggilan murid (santri) terhadap gurunya (ulama).
Dalam realitasnya sebutan teungku di Aceh mempunyai tiga makna, yang pertama sebutan teungku sebagai titel panggilan, yang kedua sebutan teungku sebagai titel keturunan, dan yang ketiga adalah sebutan teungku sebagai panggilan kehormatan terhadap kapasitas keilmuan agama yang dimiliki oleh seseorang. Berkaitan dengan sebutan teungku yang masih bersifat general dalam masyarakat Aceh, maka disini perlu ditekankan bahwa yang dipanggil dengan sebutan teungku adalah bagi individu yang mempunyai kapasitas keilmuan agama yang luas dan tinggi, inilah disebut sebagai ulama dalam masyarakat Aceh.
Dalam memperoleh gelar keulamaan dalam masyarakat Aceh, ada dua syarat yang harus dipenuhi oleh sesorang, pertama individu itu mempunyai pengetahuan agama Islam yang luas, kedua individu tersebut mendapatkan pengakuan (legitimasi) dari masyarakatnya. Syarat pertama dapat dipenuhi setelah seseorang menempuh masa belajar agama Islam yang cukup lama, sedangkan syarat yang kedua baru dapat dipenuhi setelah masyarakat melihat ketaatan dari seseorang terhadap ajaran agama Islam. Apabila seseorang memiliki pengetahuan agama dengan luas dan tinggi, tetapi jika tidak diamalkan maka orang tersebut tidak akan mendapat pengakuan dari masyarakat sebagai seorang ulama. Pengakuan sebagai seorang ulama harus
diiringi dengan penghormatan terhadap orang yang diakui tersebut, sedangkan bagi orang yang mengetahui agama dengan luas tapi tanpa diamalkan, maka individu tersebut tidak diakui dan dihormati terhadap keulamaannya, bahkan mendapatkan celaan ummatnya.23
Ulama di Aceh secara garis besar dapat dikategorikan dalam dua kelompok, kelompok pertama adalah ulama yang belatarbelakang pendidikan agamanya dari dayah (pesantren) yang merupakan lembaga tradisional di Aceh bersifat non formal, yang hanya mempelajari tentang ilmu keagamaan saja.
Sedangkan kelompok yang kedua adalah ulama yang pendidikan agamanya ditempuh pada lembaga-lembaga pendidikan formal, seperti Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Muhammadiyah, dan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan formal lainnya yang lebih bersifat modern, yang tidak hanya mempelajari ilmu keagamaan saja tetapi juga mempelajari ilmu pengetahuan lainnya (umum). Kemudian dari dua kategori ulama tersebut, hanya ulama dayah (pesantren) tradisional yang diakui oleh masyarakat Aceh. Hal ini mungkin disebabkan oleh sikap masyarakat yang sangat fanatik terhadap para ulama (sebagai pewaris Nabi) dan mungkin disebabkan pula oleh keberadaan dayah (pesantren) itu sendiri, dimana sebelum adanya lembaga pendidikan lain di Aceh, dayah sudah ada duluan dalam masyarakat Aceh.
23 Ismuha dalam Taufik Abdullah, loc. cit., hlm. 18.
Dalam masyarakat Aceh, ulama diidentikkan dengan teungku. Secara kultural, teungku merupakan orang-orang tamatan dayah (pesantren) atau yang pernah hidup dilingkungan dayah ataupun orang-orang yang dipercayai menduduki jabatan keagamaan dalam masyarakat seperti teungku khatib (imam khutbah), teungku imeum (sebutan imam surau di Aceh), teungku balee (balai pengajian), dan teungku bileu (sebutan muezzin di Aceh). Kenyataan ini dapat dipahami karena sampai hari ini dayah untuk kultur masyarakat Aceh tetap dipandang sebagai soko guru pendidikan agama dan keulamaan, dan orang-orang yang terlibat dalam lembaga keagamaan desa umumnya dari kalangan dayah dengan pengecualian dibeberapa tempat, terutama daerah perkotaan. Secara ideal, tidak semua teungku identik dengan ulama karena tidak semua santri berhasil menyelesaikan studinya di dayah sampai jenjang terakhir. Ada orang yang karena pernah beberapa bulan mengaji did ayah sudah melekat label ke-teungku-an pada dirinya. Dengan demikian, secara kultural tidak teungku disebut ulama dan tidak semua ulama disebut teungku. Orang-orang yang secara ideal/substansial dapat disebut ulama, untuk masyarakat Aceh tidak disebut teungku jika bukan alumni dayah (pesantren).24
24 Daniel Djuned, Reposisi Ulama Di Era Reformasi (Seminar Sehari Pembangunan Aceh Era Reformasi, Revitalisasi Peran Ulama), 1998, IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh, hlm. 3.
Dalam masyarakat yang religius dan fanatik, seperti masyarakat Aceh sudah barang tentu ulama mempunyai peran yang sangat besar dalam berbagai konfigurasi kehidupan kemasyarakatan. Dalam realitasnya, ulama tidak hanya menjadi
“suluh” dalam kehidupan agama, tetapi juga dalam aspek sosial lainnya termasuk juga aspek politik. Eksistensi kekuasaan ulama dalam masyarakat Aceh tercermin dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tingkat paling bawah (desa) sampai ketingkat paling tinggi (provinsi). Eksistensi ulama tersebut bukan hanya tercermin pada masa sekarang, akan tetapi secara historis, keberadaan ulama dalam masyarakat sudah tercermin mulai dari masa kerajaan, dan masa revolusi. Begitu juga dengan eksistensi kekuasaan ulama dalam kancah politik.25 Bahwa pada dasarnya ulama di Aceh berperan sebagai penasehat raja atau penguasa, kemudian ketika Kesultanan Aceh akhirnya terputus, sebagai akibat langsung dari Perang Aceh, para ulama makin memunculkan diri sebagai “perumus ke-Aceh-an” yang otentik.
26 seperti tercermin dalam sepenggal kata bijak orang Aceh yang menyebutkan bahwa, Adat bak Poteu Meureuhom, Hukom bak Syiah Kuala (Adat berada ditangan Sultan, Hukum berada ditangan Ulama), yang menunjukkan bahwa betapa besarnya peran ulama ketika itu, dan bahkan pada masa sekarang peran
25 Nirzalin, op. cit., hlm. 22-24.
26 Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat: pantulan Sejarah Indonesia, 1996, LP3ES, Jakarta, hlm. 61.
ulama dalam masyarakat Aceh diperkuat dengan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh, khususnya keistimewaan keempat, yang memberikan peran kepada ulama dalam penetapan kebijakan daerah.
Dalam masyarakat Aceh golongan ulama adalah salah
Dalam masyarakat Aceh golongan ulama adalah salah