PEMILU PASCA ORDE BARU (REFORMASI) DI INDONESIA DAN PROVINSI ACEH
4.2 Pemilu Pasca Orde Baru (Reformasi) di Indonesia
Munculnya gerakan Reformasi pada tahun 1998 yang berhasil menurunkan Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan yang digenggamnya selama 32 tahun juga membawa angin segar terhadap perkembangan demokrasi di negara ini. Dengan adanya gerakan Reformasi yang dimotori oleh para mahasisawa dan akademisi (Pak Amien Rais) telah memberikan secercah harapan bagi masyarakat Aceh untuk melepaskan diri dari berbagai unsur diskrimatif selama lebih kurang 10 tahun terakhir pemerintahan Orde Baru berkuasa. Munculnya harapan dari berbagai kalangan supaya penyelesaian kasus Aceh dari pelbagai kasus kekerasan dapat terlaksana dengan adil sesuai
dengan aspirasi rakyat. Ternyata ketika Soeharto turun tahta dan diganti oleh Presiden BJ Habibie, persoalan yang dialami oleh masyarakat Aceh tidak kunjung terselesaikan dengan baik.
Hanya sebatas janji-janji belaka, realisasi yang tidak kunjung datang.
Aspirasi rakyat Aceh yang paling keras ketika itu supaya pasukan militer non organik ditarik dari Aceh, para pelanggar Hak Asasi Manusia (HAM) ketika Aceh dalam status Daerah Operasi Militer (DOM) dapat diadili di pengadilan, namun penyelesaian kasus ini tidak pernah terselaikan sampai hari ini, dan bahkan pelanggaran HAM itupun terus berlanjut seperti kasus penembakan Tgk. Bantakiah dan santri-santrinya di Desa Blang Brandeh Kecamatan Beutong Kebupaten Aceh Barat dan banyak kasus-kasus serupa lainnya yang dilakukan oleh pihak militer. Dari pelbagai kasus yang tidak terselasaikan itu muncullah gerakan yang dimotori oleh mahasiswa dibawah koordinator Solidaritas Idenpenden Rakyat Aceh (SIRA) dan dengan dukungan oleh beberapa ulama muda di Aceh yang meminta kepada pemerinta untuk melakukan referendum.
Namun dampak dari proses penyelesaian kasus Aceh bukan hanya pada masalah permintaan referendum saja, akan tetapi juga berdampak pada proses pelaksanaan Pemilu pada tahun 1999.
Munculnya gerakan Reformasi pada tahun 1998 yang berhasil menurunkan Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan
yang digenggamnya selama 32 tahun. Presiden BJ Habibie yang mengantikannya, dinilai banyak pihak “masih hijau” dalam dunia politik. Gambaran sebagai anak emas mantan Presiden Soeharto membuat Presiden Habibie berada dibawah tekanan amat berat untuk melakukan reformasi disegala bidang, terutama bidang politik.77 salah satu cara dalam melakukan refomasi terhadap bidang politik tersebut, yaitu dengan melakukan pelaksanaan Pemilu yang dipercepat, yang semestinya pemerintahan hasil Pemilu pada tahun 1997 akan berakhir pada tahun 2002. sehingga dengan dilaksanakannya Pemilu yang dipercepat tersebut akan melahirkan pemimpin bangsa, yang betul-betul hasil pilihan rakyat. Dengan lahirnya UU No. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik dan UU No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum, sehingga menjelang Pemilu pada tahun 1999, telah lahir 168 partai politik yang tercatat di Makamah Agung (MA) untuk berpatisipasi dalam Pemilu pada tahun 1999, namun hanya 48 partai politik saja yang dapat mengikuti pemilihan umum kedelapan dalam sejarah Republik Indonesia, Pemilu yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 7 Juni 1999 telah melahirkan pemimpin bangsa yang baru, yaitu Presiden Abdurrahman Wahid (Gusdur), meskipun partainya (PKB) berada pada peringkat ketiga dalam perolehan suara.
77 King dalam Riswandha Imawan, Partai Politik Di Indonesia:
Pergulatan Setengah Hati Mencari Jati Diri, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Dalam Ilmu Politik Pada FISIPOL UGM, 2004, UGM, Yogyakarta, hlm. 7.
Untuk lebih jelas tentang jumlah perolehan suara partai-partai politik pada Pemilu tahun 1999 dapat lihat dalam tabel di bawah ini:
Tabel 4.1.
Hasil Perolehan Suara Partai Politik di Indonesia Pada Pemilu 1999
No Nama Partai Politik Jumlah %
1. PIB 192.712 0,18
2. KRISNA 369.719 0,35
3. PNI 377.137 0,36
4. PADI 85.838 0,08
5. KAMI 289.489 0,27
6. PUI 269.309 0,25
7. PKU 300.064 0,28
8. P. Masyumi Baru 152.589 0,14
9. PPP 11.329.905 10,71
10. PSII 375.920 0,36
11. PDI Perjuangan 35.689.073 33,74
12. P. Abulyatama 213.979 0,20
13. PKM 104.385 0,10
14. PDKB 550.846 0,52
15. PAN 7.528.956 7,12
16. PRD 78.730 0,07
17. PSII 1905 152.820 0,14
18. PKD 216.675 0,20
19. PILAR 40.517 0,04
20. PARI 54.790 0,05
21. PPI I Masyumi 456.718 0,43
22. PBB 2.049.708 1,94
23. PSP 49.807 0,05
24. PK 1.436.565 1,36
25. PNU 679.179 0,64
26. PNI Front Marhaen 365.176 0,35
27. IP-KI 328.654 0,31
28. P. Republik 328.564 0,31
29. PID 62.901 0,06
30. PNI Massa Marhaen 345.629 0,33
31. Murba 62.006 0,06
32. PDI 345.720 0,33
33. Golkar 23.741.749 22,44
34. PP 655.052 0,62
35. PKB 13.336.982 12,61
36. PUDI 140.980 0,13
37. PBN 140.980 0,13
38. MKGR 204.204 0,19
39. PDR 427.854 0,40
40. P. Cinta Damai 168.087 0,16
41. PKP 1.065.686 1,01
42. SPSI 61.105 0,06
43. PNBI 149.136 0,14
44. PBI 364.291 0,34
45. SUNI 180.167 0,17
46. PND 96.984 0,09
47. PUMI 49.839 0,05
48. PPI 63.934 0,06
Jumlah 105.786.661 100
Sumber : Data olahan dari berbagai sumber, KPU Dalam Angka, KPU Nasional 1999.
Kalau kita lihat dari hasil perolehan suara dari masing-masing partai politik peserta Pemilu tahun 1999 (48 Parpol) pada skala nasional seperti yang tercantum dalam Tabel 4.1 di atas, dalam Pemilu tersebut Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mendapat peroleh suara terbanyak dibandingkan dengan partai politik lainnya, sebuah prestasi yang luar biasa bagi partai sekuler ini dalam perolehan suara dalam Pemilu pada tahun 1999, tentunya sebuah prestasi yang tidak pernah dibayangkan, karena eksistensi partai ini (gempalan PDI) tergolong baru walaupun elitnya adalah orang-orang lama. PDIP yang meraih 35.689.073 suara atau 33,74 persen mampu menduduki posisi pertama dalam perolehan suara. Namun sayangnya partai pemenang Pemilu tahun 1999 ini tidak menjadi partai yang berkuasa, dimana figur yang dicalonkan untuk
menjadi presiden dari PDIP hanya mampu menjadi wakil presiden, yang mendampingi Presiden Abdurrahman Wahid dari PKB.
Golongan Karya, yang dikucilkan ketika itu karena kedekatannya dengan rezim (partai pemerintah), ternyata Golkar masih tetap sebagai OPP yang masih diperhitungkan, dan masih mempunyai dukungan besar dari konstituennya. Golkar memperoleh 23.741.749 suara atau 22,44 persen, suatu hal yang mengejutkan tentang perolehan suara bagi partai yang baru menamakan dirinya sebagai partai politik yang pada masa Orde Baru merupakan OPP yang sangat dekat dengan pemerintah, bahwa dalam posisinya yang serba sulit ditengah-tengah gunjingan publik mulai dari tingkat pusat sampai ketingkat daerah karena kedekatannya dengan rezim Orde Baru ternyata masih mempunyai pendukung yang lumayan banyak, walaupun mendapatkan posisi diurutan kedua, meskipun tidak mampu merebut kursi orang nomor satu (presiden) di Indonesia, namun Golkar mampu mendapatkan posisi orang nomor satu di lembaga legislatif (DPR).
Kemudian partai politik yang lahir setelah jatuhnya rezim Orde Baru hanya dua partai politik saja yang dapat mengikuti kontestan dalam Pemilu 2004, yaitu PKB dengan perolehan 13.336.982 suara atau 12,61 persen yang menempati pada urutan ketiga, meskipun partai yang dibidani oleh Gusdur ini berada pada peringkat ketiga dalam perolehan suara pada
Pemilu tahun 1999, namun partai ini yang didukung oleh beberapa partai lainnya (yang bergabung dalam poros tengah) telah mengantarnya ke Istana Negara. selanjutnya PPP yang juga salah satu partai politik yang telah mempunyai pengalaman dalam Pemilu pada masa Orde Baru harus puas pada urutan keempat dengan perolehan 11.329.905 suara atau 10,71 persen.
Sedangkan PAN yang dipimpin oleh Amien Rais (Bapak Reformasi) harus puas pada urutan kelima dengan perolehan 7.528.956 suara atau 7,12 persen, walaupun partai yang diidentikkan dengan Muhammadiyah ini berada pada posisi kelima dalam perolehan, tetapi partai ini telah melahirkan ketua lembaga tertinggi yang baru, dimana kepemimpinnnya telah dipisahkan dengan kepemimpinan lembaga legislatif, yang didasarkan pada UU No. 4 Tahun 1999 tentang Kedudukan MPR, DPR, dan DPRD. Sedangkan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang juga merupakan salah satu partai politik lama, yang sudah mempunyai pengalaman dalam beberapa Pemilu pada masa pemerintahan Orde Baru hanya memperoleh 345.720 suara atau hanya 0,33 persen.
Hasil dari perolehan suara masing-masing dari 48 partai politik pada Pemilu tahun 1999, hanya lima partai politik saja yang memperoleh suara signifikan, dimana partai-partai tersebut memperebutkan 462 kursi di DPR RI. Setelah peristiwa nasional yang kerap disebut pesta demokrasi ini usai, lebih dari lima puluh persen partai yang berkontes ternyata tidak mendapat
kursi. Dengan demikian, jumlah kursi di DPR dibagi kepada 21 partai saja.78 Untuk lebih jelas tentang pembagian kursi bagi partai politik pada Pemilu Tahun 1999 dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:
Tabel 4.2.
Perolehan Kursi DPR RI Pemilu Tahun 1999 No Nama Partai Politik Jumlah Kursi
1. PDI Perjuangan 153
2. P. Golkar 120
3. PPP 58
4. PKB 51
5. PAN 34
6. PBB 13
7. PK 7
8. PDKB 5
9. PNU 5
10. PKP 4
11. PDI 2
12. P. Bhinneka Tunggal Ika 1
13. PKD 1
14. PDR 1
15. IP-KI 1
78 Litbang Kompas, Wajah Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Pemilihan Umum 1999, 2000, Harian Kompas, Jakarta, hlm. vii.
16. PP 1
17. PSII 1
18. PNI Massa Marhaen 1
19. PNI Front Marhaen 1
20. PPII Masyumi 1
21. PKU 1
Jumlah 462
Sumber: Hasil olahan dari Harian Kompas, 2000, hlm. vii
Dari 21 wakil partai politik ini beserta wakil dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polisi kemudian membentuk DPR RI periode 1999-2004 yang jumlahnya 500 orang. Mereka terbagi ke dalam sepuluh fraksi, yaitu Fraksi PDI Perjuangan (F-PDIP), Fraksi Partai Golkar (F-PG), Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP), Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB), Fraksi Reformasi (F-Reformasi) yang merupakan fusi dari Partai Amanat Nasional dan Partai Keadian, Fraksi Partai Bulan Bintang (F-PBB), Fraksi Kesatuan Kebangsaan Indonesia (F-KKI). Fraksi ini merupakan fusi dari delapan partai, masing-masing Partai Keadilan dan Persatuan, Partai Demokrasi Indonesia, Partai Nasional Indonesia (PNI) Massa Marhaen, Partai Nasional (PNI) Front Marhaen, Partai Bhinneka Tunggal Ika, Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia, Partai Persatuan dan Partai Katolik Demokrat. Lalu Fraksi Perserikatan Daulatul Ummah (F-PDU). Fraksi ini
merupakan fusi dari Partai Nahdlatul Ummat, Partai Syarikat Islam Indonesia, Partai Kebangkitan Umat, Partai Daulat Rakyat, dan Partai Politik Islam Indonesia Masyumi. Fraksi terakhir adalah Fraksi TNI/Polri.79
Pelaksanaan Pemilu 1999 adalah sebuah bukti yang paling nyata penolakan bangsa ini terhadap berlakunya sistem lama dibawah kendali Soeharto. Sebab, dengan adanya Pemilu 1999 berarti semua hasil proses politik pada tahun 1997, yang seharusnya baru berakhir tahun 2002, sama sekali tidak diakui keabsahannya. Baik secara legal formal maupun substansi demokrasi. Meskipun masa persiapan tergolong singkat, pelaksanaan pemungutan suara pada Pemilu 1999 ini bisa dilakukan sesuai jadwal, yakni tanggal 7 Juni 1999. Tidak seperti yang diprediksikan dan dikhawatirkan banyak pihak sebelumnya, ternyata Pemilu 1999 bisa terlaksana dengan damai, tanpa kekacauan yang berarti.80 Pemilu pada tahun 1999 di Indonesia pada dasarnya memang terlaksana dengan damai dan tertip walaupun banyak terjadi berbagai kecurangan dalam pelaksanaannya, akan tetapi lain halnya dengan pelaksanaan Pemilu 1999 di Aceh. Tampaknya hanya di Aceh yang mempunyai kendala berarti, tentunya hal tersebut tidak terlepas dari situasi dan kondisi keamanan pada saat itu. Sebenarnya
79 Op. cit, hlm. vii-viii.
80 Fadillah Putra, Partai Politik dan Kebijakan Publik, 2003, Pustaka Pelajar: Yogyakarta, hlm. 87-88.
pelaksanaan Pemilu 1999 di Aceh tetap dilaksanakan seperti halnya dengan daerah-daerah lain di Indonesia, namun hanya terlaksana di beberapa daerah saja.
Pemilihan umum tahun 2004 yang dilaksanakan dengan menggunakan sistem pemilihan yang baru. Dengan menggunakan sistem proporsional daftar calon terbuka untuk memilih anggota DPR, DPRD propinsi, DPRD kabupaten/kota, selanjutnya dalam Pemilu tahun 2004 juga menggunakan sistem distrik untuk memilih anggota DPD, dan sistem pemilihan langsung (Pilsung) untuk memilih presiden dan wakil presiden (tahap I dan II). Dalam Pemilu tahun 2004 setiap partai politik peserta Pemilu menyusun daftar calon anggota DPR (D) dengan preferensi urutan “nomor jadi”. Namun pemilih diharuskan memilih tanda gambar partai politik atau tanda gambar dan nama calon. Jika pilihan pada nama calon tanpa disertai tanda gambar maka suara dinyatakan tidak sah. Tetapi pilihan pada tanda gambar tanpa nama calon adalah sah. Calon yang memperoleh dukungan suara ekuivalen dengan “harga kursi”
Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) atau lebih otomatis menjadi anggota dewan. Kelebihan dukungan suara pada calon anggota menjadi milik partai politik. Partai politik menentukan sendiri calon yang dikehendaki untuk menjadi calon anggota dewan berdasarkan dukungan suara yang dihimpun dari tanda gambar dan kelebihan suara pada “calon jadi” menurut nomor urut.
Pemilu 2004 juga ditandai dengan adanya skeptisme masyarakat
pemilih terhadap Pemilu 2004 ini dan pada proses transisi demokrasi. Karena hasil Pemilu 1999 dilihat masyarakat tidak membawa pengaruh berarti bagi perbaikan keadaan umum di negeri ini.81
Sehingga ada pendapat yang menyatakan bahwa Pemilu 2004 merupakan sarana paling baik untuk menganti atau memperbaiki pemerintahan menjadi lebih baik dan efektif untuk mengatasi krisis nasional. Pemilihan umum pada tahun 2004 masih berlangsung dalam konteks transisi politik nasional.
Transisi politik dari rejim Orde Baru ke pemerintahan demokrasi pasca Soeharto hingga kini belum menghasilkan konsolidasi demokrasi yang kuat. pengikut rejim Orde Baru masih kuat bercokol dalam struktur politik. Sementara, pemerintahan demokratis belum terkonsolidasi, sangat lemah, belum mampu mengatasi krisis ekonomi dan gejolak politik nasional. Di sisi lain, bangsa ini masih menghadapi berbagai masalah sosial yang akut, seperti kesenjangan sosial, kemiskinan, pengangguran, dan praktek korupsi yang makin merajalela di masyarakat.82 Dan mereka masih memimpikan kembali kemasa lalu, dalam kepartaian misalnya, para pengikut Orde Baru mulai lebih berani terang-terangan menampakkan diri, bahkan dalam masa kampanye Pemilu 2004 tanpa ragu
81 Daniel Sparringa Dalam M. Faried Cahyono dan Lambang Trijono (Editor), Pemilu 2004: Transisi Demokrasi dan Kekerasan, 2004, CSPS BOOKS, Yokyakarta, hlm. 13-15.
82 Lambang Trijono, op. cit, hlm. 57-58.
mengajak rakyat untuk tidak malu menjadi “antek Seoharto”.
Menurutnya, menjadi antek Soeharto baik, karena di jaman Presiden Soeharto kehidupan sejahtera. Namun, bisa dimengerti bagaimana tawaran kembali ke masa Orde Baru mendapat angin segar karena pemerintahan transisi pasca Soeharto, belum mampu melakukan konsolidasi yang memadai hingga mampu menjawab krisis nasional.83 Dalam Pemilu 2004 ini, bahwa rakyat tidak hanya memilih DPR (D), Presiden dan Wakil Presiden secara langsung, akan tetapi rakyat juga ikut memilih secara langsung anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai penganti keanggotaan Utusan Daerah (yang dulunya dipilih oleh DPRD propinsi) dalam lembaga tertinggi negara (MPR), dimana dalam Pemilu-pemilu sebelumnya belum pernah ada.
Pemilu dengan mengunakan mekanisme atau aturan main yang baru, dengan menggunakan sistem baru (proporsional daftar terbuka untuk memilih anggota DPR RI, DPRD propinsi, DPRD kabupaten/kota dan sistem distrik untuk memilih anggota DPD) berdasarkan dengan UU No. 12 Tahun 2003 tentang Pemilu dan UU No. 31 Tahun 2002 tentang Parpol. Namun yang jelas bahwa di Indonesia telah menghasilkan dua kali Pemilu setelah lengsernya kekuasaan Orde Baru, Pemilu pertama pada
83 M. Faried Cahyono dan Lambang Trijono (Editor), Pemilu 2004 : Transisi Demokrasi dan Kekerasan, 2004, CSPS BOOKS, Yokyakarta, hlm. 3-4.
tahun 1999 (7 Juni 1999) walaupun masih tetap menggunakan sistem lama (proporsional daftar tertutup) sesuai dengan UU N0.
3 Tahun 1999 tentang Pemilu, yang telah menglami beberapa kali perubahan, perubahan pertama terjadi pada tahun 2000 yaitu dengan keluarnya UU No. 4 Tahun 2000, dan perubahan kedua pada tahun 2003 yaitu dengan keluarnya UU No. 31 Tahun 2003). Walaupun dalam Pemilu tahun 1999 menggunakan sistem pemilihan yang tidak berbeda dengan sistem pemilihan sebelumnya, akan tetapi dalam Pemilu yang pertama pasca Orde baru, telah ada kebebasan tentang keberadaan partai-partai baru dengan berbagai ideologi yang dianutnya, yang berdasarkan UU No. 2 Tahun 1999 tentang Parpol yang hasilnya telah disampaikan di atas. Pemilu kedua pasca Orde Baru terlaksana pada tahun 2004 yang dilaksakan dalam beberapa tahap, tahap I (pertama) dalam Pemilu 2004 adalah Pemilu DPR, DPD dan DPRD (5 April 2004), tahap II (kedua) adalah Pemilu Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) tahap pertama (5 Juli 2004), sedangkan tahap ketiga dalam Pemilu tahun 2004 adalah Pemilu Capres dan Cawapres tahap kedua (20 September 2004). Hasil dari Pemilu pada tahun 2004 secara nasional dalam Pemilu legislatif telah melahirkan anggota parlemen yang berasal dari berbagai partai politik, baik partai politik lama (Orba dan 1999) maupun partai politik baru (2004).
Pemilu Legislatis pada tahun 2004 memberikan tanda-tanda bahwa pada tataran masyarakat terjadi perkembangan
yang positif bagi politik Indonesia ke depan. Pertama, sebagian perilaku pemilih meskipun masih banyak yang menjadi pendukung fanatik partai politik tertentu, tetapi sebagian telah mulai bergeser dari pola panutan (tradisional) menjadi lebih rasional. Dalam arti mereka tidak lagi berorientasi kepada tokoh yang dianggap sebagai panutan atau patronnya. Hal ini yang dapat disebutkan disini adalah pergeseran pola tersebut terjadi dari sikap pemilih (suporter) yang semula menganggap Pemilu sebagai kewajiban telah mulai bergerk kearah sikap yang menunjukkan pilihan mereka yang didasari atas dasar kesadaran bahwa memilih itu adalah hak (voter). Kedua, Pemilu pada tahun 2004 juga memberikan indikasi yang kuat bahwa masyarakat menginginkan perubahan dan tahu bagaimana menghukum partai politik yang ingkar janji. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari peran masyarakat (civil society) yang dengan gencar melakukan pendidikan dan pencerahan kepada masyarakat, suatu tugas yang seharusnya dilakukan oleh partai politik. 84
Ketiga, meskipun masih ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kecenderungan pemilih dalam masyarakat diwarnai oleh sikap primordial keagamaan, tetapi kenyataan isu-isu yang lebih rasional dan sikap yang inklusif mempunyai daya
84 Koirudin, Profil Pemilu 2004: Evaluasi Pelaksanaan, Hasil Dan Perubahan Peta Politik Nasional Pasca Pemilu Legislatif 2004, 2004, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, hlm. xvii.
tarik yang lebih besar. Oleh sebab itu pada masa mendatang kiranya partai yang inklusif dan menawarkan isu yang secara rasional dapat dianggap menjanjikan perubahan nasib rakyat adalah partai yang akan didukung oleh masyarakat. Keempat, partai yang mampu mendidik dan membentuk kader partai yang mempunyai integritas dan membuktikan satunya kata dengan perbuatan adalah partai politik yang akan menjadi partai yang tangguh karena mendapat dukungan rakyat.85 Sehingga dalam Pemilu Legislatif (DPR) RI pada tahun 2004 telah menghasilkan anggota parlemen yang baru, yang dianggap lebih plural, karena terpilih dari berbagai partai politik. Untuk lebih jelas tentang hasil Pemilu Legislatif (DPR) RI dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:
Tabel 4.3.
Hasil Perolehan Suara Partai Politik (Legislatif) Pada Pemilu 2004 Di Indonesia
No Nama Partai Politik Jumlah % 1. Partai Nasional Indonesia
Marhaenisme
923.159 0,81
2. Partai Buruh Sosial Demokrat 636.397 0,56 3. Partai Bulan Bintang 2.970.487 2,62
4. Partai Merdeka 842.541 0,74
5. Partai Persatuan Pembangunan 9.248.764 8,15
85 Op. cit, hlm. xvii-xviii.
6. Partai Persatuan Demokrasi
10. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia
13. Partai Amanat Nasional 7.303.324 6,44 14. Partai Karya Peduli Bangsa 2.399.290 2,11 15. Partai Kebangkitan Bangsa 11.989.56
4
10,57
16. Partai Keadilan Sejahtera 8.325.020 7,34 17. Partai Bintang Reformasi 2.764.998 2,44 18. Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan
21.026.62 9
18,53
19. Partai Damai Sejahtera 2.414.254 2,13 20. Partai Golongan Karya 24.480.75
7
21,58
21. Partai Patriot Pancasila 1.073.139 0,95 22. Partai Syarikat Indonesia 679.296 0,60 23. Partai Persatuan Daerah 657.916 0,58
24. Partai Pelopor 878.932 0,77
Jumlah Suara Sah 113.462.4
14
76,7
Jumlah Suara Golput 23.551.32
1
16
Jumlah Suara Tidak Sah 10.957.92
5
7,4
Jumlah Pemilih 147.971.1 66
100
Sumber : KPU Nasional, 5 Mei 2004
Dari Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa, Golkar yang dulunya anti disebut partai politik, namun dalam Pemilu tahun 2004 Golkar menjadi salah satu partai politik dari 24 partai yang ada di Indonesia. Sebagai partai besar yang pernah berkuasa lebih kurang 32 tahun di Indinesia, dan juga partai yang pernah dikalahkan oleh partainya wong cilik (PDIP) pada Pemilu 1999, dimana sebagai salah satu penyebab dari sebagian besar penyebab lainnya, tentang berkurangnya jumlah pemilih Golkar dalam Pemilu tahun 1999, tentunya tidak terlepas dari eksistensi Golkar pada masa lalu, dianggap sebagai organisasi politiknya rejim Orde Baru yang didukung kuat oleh kekuatan militer
(TNI/Polri) yang difonis oleh sebagian orang sebagai penghacur NKRI. Dengan terkuaknya (terbuka) segala rahasia kinerja Orde Baru ketika itu, yang menuai cercaan dari berbagai elemen masyarakat, terutama elemen mahasiswa dan akademisi yang cenderung lebih banyak tahu tentang kebobrokan pemerintahan Orde Baru. Sehingga Golkar dalam Pemilu pada tahun 1999 hanya mampu memperoleh 23.741.749 suara atau 22,44 persen, sebagai posisi kedua setelah PDIP.
Namun dalam Pemilu pada tahun 2004 peroleh suara bagi partai yang berlambang pohon beringin ini mengalami perubahan (peningkatan), Golkar mampu mebuat sejarah baru dalam kehidupan politik di tanah air. Dengan berbagai hal yang bersifat negatif yang ditempelkan kepadanya, meskipun Golkar telah menyatakan diri untuk mereformasi partainya, tetapi sebagian orang berpendapat bahwa pernyataannya itu tidak sebanding dengan dosa-dosa yang pernah dilakukan pada masa Orde Baru berkuasa, apalagi elit-elit ditubuh Golkar masih warisan dari Orde Baru. Partai Golkar mampu memposisikan dirinya pada urutan teratas (pertama), walaupun tidak memperoleh prestasi seperti dalam Pemilu pada masa Orde Baru berkuasa. Pada Pemilu tahun 2004 Golkar memperoleh 24.480.757 suara atau 21,58 persen. Meskipun tidak mendapat suara mutlak (50 persen lebih), namun sebuah keberhasilan yang luar biasa bagi sebuah partai yang eksistensinya sedang diuji, karena kedekatannya dengan rejim Orde Baru.
Sebaliknya nasib bagi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), sebagai partai jawara (pemenang) pada Pemilu tahun 1999, akan tetapi pada Pemilu tahun 2004 harus puas disodok dan di tempatkan pada posisi kedua oleh partai yang menjadi lawan kuatnya pada Pemilu sebelumnya, yaitu partai Golkar. Sehingga pada Pemilu tahun 2004 PDIP harus puas dengan memperoleh 21.026.629 suara atau 18,53 persen.
Perolehan suara PDIP pada Pemilu tahun 2004 mengalami penurunan yang luar biasa, baik dari segi jumlah pemilih yang memilih PDIP maupun dari segi jumlah persentase jumlah pemilih secara keseluruhan yang menjadi perserta Pemilu pada tahun 2004 dibandingkan dengan perorehan suara pada Pemilu tahun 1999 yang memperoleh 35.689.073 suara atau 33,74 persen.
Menurunnya jumlah pemilih (konstituen) terhadap PDIP pada Pemilu tahun 2004, tidak terlepas dari kinerja elit PDIP pada masa lalu. Sebelum berlangsungnya Pemilu tahun 2004, PDIP merupakan partainya penguasa walaupun hasil penggulingan Gusdur (Abdurrahman Wahid) dari tampuk kepemimpinan, mundurnya Gusdur dari orang nomor satu di Indonesia karena tersadung kasus dana hibah dari Sultan Brunai Darussalam (Sultan Hasanul Bolqiah), yang dikenal dengan kasus ”Brunaigate”. Sehingga dengan dasar konstitusi (UUD 1945) terpilihlah Megawati Sukarno Putri yang berpasangan dengan Hamzah Haz, sebagai penerus Gusdur hingga masa
pemerintahannya berakhir pada tahun 2004 masing-masing sebagai presiden dan wakil presiden, meskipun nama kabinetnya diganti dari Kabinet Pembangunan (Gusdur) menjadi Kabinet Gotong Royong.
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai partai yang sedang berkuasa, ketika Megawati Sukarno Putri menjadi presidennya. Tetapi pada masa pemerintahannya berjalan, banyak kebijakan-kebijakan yang hasilkan, yang menurut sebagian orang tidak berpihak kepada rakyat kecil,
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebagai partai yang sedang berkuasa, ketika Megawati Sukarno Putri menjadi presidennya. Tetapi pada masa pemerintahannya berjalan, banyak kebijakan-kebijakan yang hasilkan, yang menurut sebagian orang tidak berpihak kepada rakyat kecil,