• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

C. Hasil Penelitian

3. Partisipan 3 (P3)

a) Latar belakang dan karakteristik P3

Partisipan ketiga (P3) merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Saat ini P3 telah bekerja di salah satu gerai minuman di wilayah Kota Yogyakarta. Setelah lulus dari SMK, P3 memilih untuk bekerja karena ingin membantu perekonomian keluarga dan menata karir menjadi seorang pengusaha. P3 merupakan sosok remaja perempuan yang cenderung merespon segala permasalahan dengan melakukan berbagai cara supaya emosi negatif yang dirasakan bisa mereda. P3 akan menghindari permasalahan yang besar dan akan melakukan bagian-bagian yang menjadi tugasnya sesuai dengan kemampuan. Ketika ia sedang mengalami masalah dalam hubungan pertemanan, P3 mengakui bahwa dirinya kurang terbuka untuk mengakui kesalahan yang diperbuatnya. Akan tetapi, ia akan tetap mempertahankan pertemanan tersebut apabila sang teman meminta maaf terlebih dahulu. P3 pun mengakui bahwa

dirinya merupakan sosok remaja perempuan yang tidak cukup dekat dengan kedua orangtua, terutama sang ayah. P3 memandang figur ayahnya sebagai sosok yang tidak ramah terhadapnya namun selalu terlihat ramah pada kakaknya. Meski demikian, P3 tetap tumbuh sebagai remaja perempuan yang memiliki beberapa sahabat yang saling mendukung satu sama lain serta mudah menerima setiap keluh kesah.

Jadi bener-bener itu cerita pure tentang kehidupan, bener-bener kita tuh sharing sama, apa ya, kita nyemangatin temen apa sahabat sendiri gimana kita nyelesaiin masalah secara.. Jadi tuh, ada forum kalo kita ngerasa diri sendiri apa.. Kita ada salah sama orang lain, kita ngomong sama sesama sahabat kita sendiri gitu kak. Sama sahabat, kalo sama temen nanti tuh baru ada sisi two face -nya ada lah (Partisipan 3, line 358-368).

P3 tidak menduga bahwa dirinya akan menjadi korban pelecehan seksual secara fisik saat ia hendak berangkat ke sekolah.

Saat mengalami peristiwa ini, P3 masih berusia sekitar 13 tahun dan duduk di bangku SMP. Saat itu, P3 bersepeda ke sekolah seorang diri tanpa ditemani oleh kedua teman lelakinya. Hal itu dilakukannya karena kedua teman lelakinya ini sudah memiliki kekasih masing-masing. P3 tidak ingin merusak hubungan kedua temannya ini sehingga ia memutuskan untuk berangkat ke sekolah seorang diri. Saat P3 mengayuh sepeda melewati jalanan di tepi parit di pagi hari yang cukup sepi, ia didekati oleh seorang bapak pengendara sepeda motor yang tidak dikenal. Setelah jarak sepeda motor dan P3 sangat dekat, pelaku langsung meremas salah satu

payudaranya dengan cepat dan keras. Perilaku pelaku yang tidak dikenal ini dapat disebut pula sebagai pelecehan seksual fisik, dimana pelaku dengan sengaja melakukan kontak fisik terhadap organ seksual korban tanpa disertai persetujuan dari korban.

Terus ya udah aku agak banter, ya motor sama sepeda kan apa..

Lebih cepat motor. Nah kok tiba-tiba ada ‘Tak’! Nggak taunya remes-remes payudara, terus sontak aku kayak pie yo, kayak menjerit nangis. (Partisipan 3, line 515-520).

Hal ini membuat P3 sangat kaget, bingung, dan merasa tidak berdaya. Pikiran-pikiran negatif dan perasaan tidak berharga langsung memenuhi dirinya.

Bener-bener langsung seketika bingung mau ngapain. Kayak nggak ada daya, kayak aku bukan wanita seutuhnya udah kayak gitu..(Partisipan 3, line 520-523).

Akan tetapi, P3 berpikir bahwa dirinya harus tetap melanjutkan sekolah. P3 mencoba menenangkan diri dan melanjutkan perjalanan. Namun, P3 kembali mendapatkan perlakuan yang sama saat melewati jalan lain dan pelaku langsung meninggalkannya begitu saja. Hal ini menunjukkan bahwa P3 mengalami kekerasan seksual yang berbeda dari kedua partisipan sebelumnya. P3 mengalami pelecehan yang dilakukan oleh orang asing yang sama sekali tidak memiliki relasi sebelumnya.

P3 merasakan dampak psikologis yang lebih dalam daripada kedua partisipan sebelumnya. Merasa takut, cemas, dan

tidak berharga sempat dirasakan oleh P3, meskipun ia tidak terlibat dalam suatu relasi dengan pelaku yang asing baginya. P3 pun menyatakan bahwa tepat setelah peristiwa hari itu dirinya memikirkan kesalahan pada dirinya sendiri yang terletak pada pakaiannya atau tidak. Selain itu, sesekali waktu P3 juga masih sedikit merasakan ketakutan ketika melewati melewati lokasi pelecehan.

Hari itu aku juga bercermin sama ituku, kan aku pake baju olahraga, apa bajuku terlalu ketat? Kan aku jadi bingung to, Mbak, apa klambiku (bajuku) terlalu ketat jadi ketok (kelihatan)?

(Partisipan 3, line 1005-1010).

Kalo selama beberapa hari setelah itu, ya masih takut lewat situ.

Maksudnya kayak orang rabu hari kemarin apa ya, kan ulang tahun nya temenku, nah posisinya tuh di M*ro S*****, M*ro K***** atau apa itu lho, pemancingan. Nah itu kan pas disitu (kejadian pelecehan pertama), ha aku reflek tuh loh, Mbak, tiba-tiba, aku langsung megang pinggangnya temenku. Jadi masih kalo lewat situ kadang-kadang ya langsung tiba-tiba keinget aja(Partisipan 3, line607-618).

Akan tetapi kini, P3 tidak pernah mengalami peristiwa itu kembali. P3 senantiasa berjaga-jaga supaya tidak mengalami pelecehan seksual dimanapun berada.

b) Dinamika pertumbuhan pascatrauma dalam diri P3

Peristiwa pelecehan seksual fisik yang dialami oleh P3 membuatnya mengalami pemrosesan kognitif yang mengarahkan P3 menuju pertumbuhan pascatrauma. Pemrosesan tersebut juga ditandai dengan adanya pemikiran berulang yang mengganggu

yang biasanya terjadi secara tiba-tiba, memiliki komponen emosi negatif di dalamnya, dan memunculkan keraguan terhadap nilai atau asumsi diri sebelumnya. Pemikiran berulang ini terjadi dalam diri P3 secara tiba-tiba. Saat P3 melewati tempat dan menghadapi situasi serupa, dirinya merasakan kebingungan dan sedikit ketakutan karena mengingat peristiwa yang membuatnya tertekan.

Nah itu kan pas disitu (kejadian pelecehan pertama), ha aku reflek tuh loh, Mbak, tiba-tiba, aku langsung megang pinggangnya temenku (Partisipan 3, line 613-618).

Hal ini berhubungan dengan adanya stres pascatrauma yang dialami oleh P3 selama ia berjuang dengan pemikiran tersebut.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, emosi negatif menjadi ciri khas suatu pemikiran berulang atau ruminasi. P3 menyatakan bahwa perasaan ketidakberdayaan diri atau emosi negatif juga muncul dalam dirinya.

Kalo kita misalnya nginget lagi itu kejadiannya, malah kita jadi kepikirannya tuh aneh-aneh lagi gitu loh, Mbak. Secara tiba-tiba aneh-aneh gitu. (Partisipan 3, line 647-651).

Pemikiran yang aneh atau lebih tepatnya memiliki prasangka buruk mengenai kejadian yang mungkin akan menimpanya kembali juga membuat P3 menjadi menyesali sikapnya yang hanya berdiam diri saat menghadapi pelaku. P3 menyesali hal tersebut karena ia merasa tidak bisa berbuat banyak untuk keselamatan dirinya sendiri saat itu.

Maksudnya harusnya pas kejadian itu kalo bisa, kakiku tak tendang gini, kalo bisa.. Aku tuh berpikirnya tuh harusnya kayak gitu. Tapi ini enggak, kan aku diem aja posisinya tuh kan, jadi kayak, kok yo aku ra koyo ngono (kok aku nggak kayak gitu) - (Partisipan 3, line 760-767).

Selain itu, P3 juga merasakan keraguan terhadap asumsi atau persepsi diri sebelumnya atau yang bisa juga dikatakan sebagai berubahnya keyakinan atau pandangan inti yang dimiliki akibat peristiwa kekerasan seksual yang dialami. P3 sempat memiliki perubahan pemikiran tentang kepercayaan terhadap orang lain terutama lelaki seperti yang sudah dijelaskan pada narasi kehidupannya.

Kita jadi kayak, aku jadi kayak mikir musibah itu ternyata nggak cuma kayak musibah, musibah tuh nggak cuma kayak dari temen dari.. Pokoknya yang deket sama kita, orang asing pun yang sama sekali aku nggak kenal pun bisa ngasih aku, e, bisa melakukan itu tuh loh. Jadi dulu tuh, sempet berpikir percaya, sama orang mudah percaya, sama orang. Semenjak kejadian itu tuh kepercayaan sama orang tuh susah. Jadi misal kalo aku dah deket sama orang itu, oke aku baru percaya, tapi selagi orang itu masih asing aku nggak akan percaya sama dia (Partisipan 3, line 818-832).

P3 juga merasakan perbedaan pemikiran lain setelah mengalami trauma yaitu pemikiran mengenai gaya berbusana. P3 pernah menyebutkan bahwa dirinya terkadang mengecek gaya berpakaiannya di kaca bangunan yang jalanannya sepi. Setelah peristiwa tersebut, P3 menilai bahwa pakaian yang dipakainya turut menjadi faktor pemicu pelaku pelecehan seksual saat itu. Asumsi ini berbeda dengan asumsi sebelumnya tentang gaya berpakaian.

Jadi ki kadang-kadang tuh sekarang kalo misalnya lewat jalan tempat sepi atau orang banyak tuh, maksudnya sepi bangunan-bangunan gitu. Mesti tak lihat-lihat di kaca, di kaca maksudnya tak lihat lihat bajuku pantas nggak depan, maksudnya apa ya, aku lebih suka baju kedodoran daripada mepet aku ga suka, kan dilihatin sama orang to itu. Nah, itu kadang-kadang tuh orang tuh jadi omongan orang, jadi nggak suka gitu lho (Partisipan 3, line 1010-1021).

Asumsi yang berubah mengakibatkan P3 memiliki dorongan untuk mencari pertolongan pada orang lain dengan cara membuka diri melalui bercerita. P3 menceritakan pengalaman buruknya kepada teman dekatnya dan teman P3 yang menceritakan kembali kepada guru.

Kan aku nangis di kelas, sedangkan kelasku deket sama ruang guru. Ada pak guru tuh dateng, (Pak Guru bertanya) kamu kenapa? Aku kayak nggak berani cerita to, terus aku kan dah cerita to sama Tata, Tata yang cerita (Partisipan 3, line 547-553).

Tindakan yang dilakukan oleh P3 saat mencari pertolongan juga diliputi dengan luapan emosi yang tergolong ke dalam respon otomatis saat stres terjadi langsung. Respon tersebut adalah menangis sebagai salah satu cara koping yang dimunculkan oleh P3. Hal tersebut secara tidak langsung membuat P3 lebih bisa memikirkan langkah selanjutnya. Hal ini juga dilakukan oleh P3 karena ia merasa bahwa ia membutuhkan keamanan dan dukungan dari teman-temannya. P3 pun dengan cepat memikirkan keamanannya di esok hari. P3 memutuskan untuk menitipkan

sepeda di rumah temannya dan menaiki bus untuk sampai ke sekolah.

Setelah itu, istirahat aku bilang sama temenku yang (biasa) naik bus, eh nek misal aku sesuk nitip pit di rumah, maksudnya aku ke rumah dia buat nitip sepeda, terus habis itu aku naik bus sama dia, terus (teman menjawab) iya rapopo (Partisipan 3, line 575-580).

Keterbukaan diri yang dilakukan oleh P3 membuatnya menerima pengaruh sosiokultural berupa dukungan-dukungan sosial yang tentunya berasal dari orang-orang yang dikenalnya secara dekat atau bisa disebut juga dengan pengaruh proksimal.

Dukungan emosional merupakan bentuk dukungan yang diterima oleh P3 pertama kali yang membuatnya merasa nyaman dan diperhatikan. Ketika sebelumnya P3 memaparkan bahwa ia takut dan menangis, teman-teman sekitarnya banyak memberikan dukungan. Teman-temannya pun tidak merasa bahwa P3 bersalah ataupun merasa jijik terhadap dirinya.

Temenku nggak jijik sama aku, maksudnya aku pernah digituin, oh berarti emang aku masih berguna. Jadi temenku masih bisa nerima aku, orangtuaku nggak nyalahin aku, jadi oh ya aku emang nggak salah, aku korban. Itu sih, Jadi aku berpikir, oh ya udah berarti emang aku masih bisa hidup gitu..(Partisipan 3, line 622-630).

Dukungan-dukungan lainnya juga termanifestasikan dalam dukungan kepemilikan sumber daya. Dukungan ini membuat P3 merasakan lingkaran pertemanan yang mampu membuatnya nyaman dan diterima. P3 pun memaparkan bahwa teman-temannya

yang justru mendorongnya untuk terbuka kepada keluarga supaya mampu mendapatkan solusi ataupun dukungan lebih.

Wes kowe ki ngomong wae fi, karo wong tuamu timbang koyo ngene terus (Sudah, kamu itu ngomong aja sama orangtuamu, Fi, daripada kamu kayak gini terus). Ya udah aku pulangnya bilang sama ibukku nek aku tuh habis gini, gini (Partisipan 3, line 590-596).

Selain itu, P3 juga memperoleh dukungan instrumental dukungan dalam bentuk pertolongan nayata yang bisa berupa materi atau bentuk fisik lainnya. Permintaan bantuan yang dilakukan oleh P3 direspon dengan baik oleh salah satu temannya.

P3 berinisiatif untuk menitipkan sepeda pada temannya dan berangkat bersama menaiki bus. Hal ini dilakukan oleh P3 supaya terhindar dari pelecehan seksual yang bisa terulang.

Setelah itu, istirahat aku bilang sama temenku yang (biasa) naik bus, eh nek misal aku sesuk nitip pit di rumah, maksudnya aku ke rumah dia buat nitip sepeda, terus habis itu aku naik bus sama dia, terus (teman menjawab) iya rapopo (Partisipan 3, line 575-580).

P3 juga memilih langkah untuk berdoa atau menceritakan (segala tekanan) langsung pada Tuhan beberapa lama setelah peristiwa pelecehan seksual menimpa dirinya. Berdoa dan mencurahkan isi hati pada Tuhan dianggap sebagai sikap yang dilakukan P3 karena ia menempuh pendidikan di sekolah berbasis agama, sehingga ia masih intensif melakukannya.

Nek waktu itu kan, waktu di Madrasah kan, namanya Madrasah kan itu waktu aku kejadian sekolah di Madrasah, jadi aku masih intens sama Tuhan gitu loh (Partisipan 3, line 1059-1063).

Segala upaya yang dilakukan oleh P3 untuk mengatasi tekanan juga memengaruhinya untuk bisa memikirkan peristiwa traumatis berulang kali dengan lebih terkontrol. Hal ini dilakukannya untuk memenuhi beberapa tujuan, yakni mengantisipasi atau mengatasi masalah yang mungkin terjadi di masa depan. P3 mengungkapkannya dengan sedikit penyesalan, namun ia juga mengungkapkan dengan gagasan yang rasional untuk menjaga diri.

Maksudnya harusnya pas kejadian itu kalo bisa, kakiku tak tendang gini, kalo bisa.. Aku tuh berpikirnya tuh harusnya kayak gitu. Tapi ini enggak, kan aku diem aja posisinya tuh kan, jadi kayak, kok yo aku ra koyo ngono (kok aku nggak kayak gitu). Harusnya tuh aku tendang motornya kalo bisa aku, terus aku teriak, lha itu aku ga teriak. Harusnya aku ki bengok, harus nya, mengharuskan jadi kayak punya pandangan kalo, oh kudune ngene-ngene (oh, harusnya begini, begini), itu..Ya sempet, Mbak, waktu itu to, sesuk meneh nek ngene meneh, ameh mbengok sak banter-banter e aku (besok lagi kalo seperti ini lagi, mau teriak sekeras-kerasnya aku) - (Partisipan 3, line 760-773; 777-781).

Selain itu, P3 juga menyatakan bahwa dirinya memahami peristiwa traumatis sebagai bagian dari masa lalu atau kenanganyang ia miliki. P3 mengikhlaskan pengalaman tersebut sebagai musibah yang pernah dilaluinya, setiap kali ia mengingat peristiwa tersebut.

Terus kalo misalnya gimana aku bisa ya udah, maksudnya mulai bisa menerima kalo aku pernah digituin ya (Partisipan 3, line 618-621).

Jadi kadang ya udah, tapi ada dalam hati ini tuh masih mikir.

Kejadian ini tuh masih mikir tapi kan kita jangan, jangan, jangan.

Jadi ya udah ikhlas, ikhlas, ikhlas. Nanti tiba-tiba, kalo kita kan mulut ikhlas, nah terus nanti kayak ada setan tuh njerumus tuh kayak ngingetin gitu lho satu titik dimana, ya itu kejadian itu kok ya (muncul lagi), kok ya.. Jadi mikir, tapi nanti aku mikir ya udahlah ikhlas musibah ya udah (Partisipan 3, line 691-701).

Penerimaan diri masa lalu diikuti pula perubahan pandangan atau keyakinan inti dalam diri P3. Meskipun memang kini menjadi hanya bisa percaya pada orang yang memang bisa memberikan kepercayaan, namun P3 tetap bisa menjalin pertemanan dengan baik. Pandangan terhadap cara berpakaian pun menjadi pemikiran P3.

Merasa tidak nyaman kalo, yang tadinya saya merasa saya harus percaya sama laki-laki, tapi ternyata nggak semudah itu semua laki-laki dipercaya. Oke, e, nggak mudah untuk percaya orang lain, maka, saya lebih, e, kalo dia baru memberikan saya kepercayaan, ataupun baru dia membuktikan ke aku kalo misalnya:

nih, aku per, aku bisa dipercaya, gitu, baru aku bisa percaya tapi kalo selamanya itu nggak ada ya udah, ga bisa percaya.

(Partisipan 3, line 1445-1456).

Ya….terus ya sebenernya kalo, aku tau kalo pakaian seksi itu emang nggak, bisa aja enggak, gitu lho mbak. Tapi, yang dulu mindset-ku itu, apa, yang pake baju seksi, terus njuk (lalu) terus, apa jenenge (namanya), yang, apa, meningkatkan gairah seksual orang, yang kayak gitu, nah, itu mindset-ku yang dulu.(Partisipan 3, line 1555-1562).

Bentuk keikhlasan yang menarik yang dikemukakan oleh P3 secara tidak langsung juga menjadi pengantara yang