BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Penelitian
2. Partisipan 2 (P2)
a) Latar belakang dan karakteristik P2
Partisipan kedua (P2) merupakan anak pertama dari empat bersaudara yang memutuskan untuk menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi Universitas Swasta di Yogyakarta. P2 juga mengisi waktu luang dan menambah pengalaman baru dengan bekerja sebagai reseller produk-produk aksesoris laki-laki dan perempuan. P2 menyatakan bahwa sejak masa remaja awal, ia mudah bergaul dengan banyak orang dan merupakan sosok yang percaya diri. P2 pun sangat terbuka terhadap setiap pengalaman baru, terlebih lagi dalam hubungan pertemanan. P2 memiliki
lingkaran pertemanan yang selalu mendukung dan menjaganya meskipun terdiri dari banyak lelaki. P2 mampu mengomunikasikan kesulitan apabila dirinya tidak sanggup mengatasi masalahnya sendiri, P2 juga seorang remaja perempuan yang tumbuh sebagai sosok yang selalu optimis dan berpikiran objektif meski sedang menghadapi berbagai kesulitan.
Aku ngerasa aku friendly banget.Ada kejadian bahwa, temenku ini menyakiti aku. Dan itu menurut temen-temen yang lain, kamu ngapain sih, masih harus berteman sama dia, merespon hal baik tentang dia? Ya udah, di-cut-off (diputuskan) aja dari hidup.. Tapi aku nggak bisa.. Karena menurut aku, mereka tetep temenku walaupun mereka sudah berbuat jahat kepadaku (Paritisipan 2, line 102-103; 106-115).
Kayak permasalahan misalnya, aku tuh pasti selalu munculin pikiran positif terus, Mbak.. Misalnya aku punya masalah keluarga, (selalu dipikirkan) jangan bilang bahwa, masalahmu ini paling berat, tapi sebenarnya aku ini tuh ngerasa paling berat gitu loh.. Dan aku, aku sendiri nggak bisa move (menghindar) dari situ.
Tapi aku tuh selalu kayak gini.. Ayo Wu, pikirkan bahwa masalahmu ini nggak seberat orang-orang lain, pasti ada lebih berat, tapi kamu pasti bisa menghadapi ini, gitu (Paritisipan 2, line 177-190).
Meski demikian, P2 mengakui bahwa dahulu ia adalah sosok yang sangat bergantung pada orang lain, namun kini sudah belajar untuk semakin mandiri menghadapi tantangan hidup. P2 juga mengakui bahwa hubungannya dengan orangtua tidak begitu dekat, akan tetapi ia memiliki relasi yang lebih baik dengan ayahnya dibandingkan dengan sang ibu. P2 pun merasa bahwa ia belajar untuk selalu berpikir positif dari figur ayahnya yang
mengajarkan banyak hal untuk bisa menerima segala sesuatu hal.
P2 juga merasa memiliki kehidupan relasi romantis yang cukup baik dengan lawan jenis, akan tetapi ia mengakui bahwa dahulu dirinya merasa tidak memiliki pengalaman cukup mengenai pendidikan seksualitas. Hal ini dirasakan oleh P2 setelah mengalami peristiwa kekerasan seksual saat berusia sekitar 16 tahun.
Saat itu, P2 merupakan salah satu koordinator sebuah acara pentas seni sekolah yang berkewajiban untuk mengatur jalanya acara termasuk mengundang bintang tamu (guest star). P2 pun bertemu dengan salah satu band yang memiliki seorang anggota sebagai penghubung band dengan panitia. Kewajiban P2 sebagai koordinator sebuah acara, mengharuskannya untuk bisa menjadi penghubung yang baik. P2 dan beberapa temannya benar-benar bekerja dengan profesional untuk menemani band tersebut berlatih hingga berdiskusi mengenai banyak hal. P2 pun dengan profesional menjalin relasi yang baik dengan salah satu anggota band yang menjadi penghubung tersebut. P2 dan lelaki itu menjadi lebih dekat. P2 tidak mempermasalahkan hal tersebut karena dirinya ingin relasi baik terus berlangsung. Akan tetapi, suatu saat P2 diajak untuk pergi keluar dengan alasan yang tidak begitu jelas.
Sang lelaki/pelaku inipun mengajak P2 untuk bertamu sejenak ke kost teman pelaku. P2 yang tidak menaruh curiga, langsung
mengikuti pelaku ke dalam kamar kost yang ternyata kosong. P2 semakin berprasangka buruk saat pelaku menutup pintu kamar, menyuruhnya memasuki kamar, dan mematikan lampu. P2 mulai dirayu, disentuh, dan dilucuti pakaiannya sehingga tidak dapat berbuat apa-apa maupun berteriak; P2 merasa tersudutkan.
Terus akhirnya, em, intinya dia nyuruh aku duduk di tempat tidur gitu, terus dimatiin lampunya. Pokoknya ya, digoda gitu lah intinya. Dia matiin lampunya aku nanya, kok dimatiin lampunya, kak? Aku nggak enak perasaan. Tapi aku nggak bisa teriak, tapi aku udah tahu itu hal jahat, gitu. Karena aku takut aku teriak nanti aku juga pasti disalahin gitu loh kalo kedapetan (Paritisipan 2, line 598-601, 613-618).
Pelaku pun mulai melakukan penetrasi alat kelamin pada P2 yang sama sekali belum pernah melakukan hubungan seksual sehingga P2 merasa kesakitan. Hal seperti ini dapat dikategorikan sebagai perkosaan karena adanya pemaksaan penetrasi dari penis ke vagina, tanpa ada persetujuan dari pihak perempuan. Seusai melakukan tindakan sewenang-wenang tersebut, pelaku mengantar P2 pulang. P2 hanya duduk diam di dalam kendaraan yang membawanya karena ia masih merasakan sakit pada vaginanya.
Akhirnya, aku, ya aku sadar kalo pakaianku dibuka, terus, intinya dia having sex (melakukan penetrasi seksual) lah. Tapi itu nggak kemauanku dan itu pertama kalinya. Dan dia, apa ya, kasar, gitu loh. Pengen teriak tapi, ya gitu lah. Nggak bisa, tapi aku cuman bisa nangis. (Partisipan 2, line 619-626).
Saat itu aku inget banget aku nggak bisa juga mikirin yang lain karena sangat sakit di sini, di vagina. Itu, apa.. Darah itu loh..
Kayak gitu.. Karena saking sakitnya, dan apa ya? Inget banget tuh
loh aku kayak, abis kayak gitu dan dia puas, aku inget dia ngerokok. Kayak, gila ni orang, haha. Abis nyakitin gue, woy! Dia cuma duduk ngerokok, terus abis itu aku udah nggak bisa berkata apa-apa. Bener-bener diem banget ampe rumah, ampe dianterin lagi ke rumah. Ampe rumah tuh aku diem aja. Diemnya tuh karena sakit. Sakit banget! (Paritisipan 2, line 762-775).
P2 pun tidak berani mengungkapkan kebenaran pada kedua orangtuanya karena ia merasa telah melakukan kesalahan. P2 juga tetap menjalankan kesehariannya hingga pentas seni sekolah berakhir dan tidak ada lagi kontrak kerja bersama band tersebut.
Selama itu, P2 hanya berharap supaya kontrak kerja segera berakhir dan keduanya tidak bertemu kembali. Hal ini menunjukkan bahwa saat itu P2 mengalami kekerasan seksual oleh orang yang memiliki relasi dengannya meskipun hanya untuk sementara waktu.
P2 melewati masa-masa traumatis tersebut dengan terus berpikir positif. Meski demikian, P2 mengakui bahwa ia cukup merasakan dampak atas kejadian tersebut. Pertama, P2 merasakan trauma seksual tepat setelah peristiwa perkosaan tersebut. Setelah vagina mengeluarkan cukup banyak darah akibat hubungan seksual yang pertama kali dilakukan, P2 merasakan nyeri pada vaginanya.
Kecemasan, ketakutan, dan rasa tidak berharga juga masih dirasakan oleh P2 setelah beberapa minggu setelah peristiwa tersebut.
Saat itu aku inget banget aku nggak bisa juga mikirin yang lain karena sangat sakit di sini, di vagina. Itu, apa.. Darah itu loh..
Kayak gitu.. Karena saking sakitnya, dan apa ya? Inget banget tuh
loh aku kayak, abis kayak gitu dan dia puas, aku inget dia ngerokok. Kayak, gila ni orang, haha. Abis nyakitin gue, woy!(Partisipan 2, line 762-770).
Rasa cemas setelah kejadian itu hanya berlangsung seminggu, kayaknya.. Karena, em, mungkin aku, leb, lebih waspada lah lebih tepatnya (Partisipan 2, line 812-815).
Akan tetapi, P2 mengungkapkan bahwa terkadang ia masih merasakan kecemasan dan sedikit ketakutan saat berada dalam situasi serupa. P2 kini sedang menjalin relasi romantis dengan seorang lelaki. Lelaki tersebut pernah mencoba untuk lebih intim dengan P2, namun P2 merasa bingung dan takut saat lelaki tersebut mencoba melucuti pakaian dalam P2 dan memegang pergelangan tangannya secara tiba-tiba.
Ketika ada sentuhan fisik kali, itu bikin aku nginget. Karena belum lama ini, yang kemarin itu, yang seorang yang aku kenal, pernah menggenggam pergelangan tanganku dengan sangat erat, itu mengingatkanku kembali saat itu, dan itu baru terjadi umur ini, gitu. Waktu ketika gini (dipegang tangan) sama si pria ini, pria kenalanku ini, aku kayak ngerasa orangnya yang itu tuh, yang di atasku. Hah, kayak, kayak gitu loh.. Terus kayak kaget. Bingung aja.. (Paritisipan 2, line 633-640; 891-895).
Meski demikian, untuk saat ini P2 tidak lagi berhubungan dengan pelaku dan tidak pernah sampai memperbolehkan sang kekasih untuk melakukan penetrasi kelamin terhadapnya. P2 kembali menjalani keseharian di perkuliahan dengan kondisi dirinya sebagai penyintas yang hanya baru diketahui oleh sedikit orang.
b) Dinamika pertumbuhan pascatrauma dalam diri P2
Stres pascatrauma yang dialami oleh P2 juga memunculkan suatu pemrosesan kognitif yang membawanya kepada pertumbuhan pascatrauma. Pemrosesan kognitif tersebut diawali dengan proses ruminasi atau pemikiran berulang otomatis atau mengganggu. P2 mengungkapkan bahwa pemikiran berulang ini terjadi secara tiba-tiba. Akan tetapi, P2 juga tidak memungkiri bahwa apa yang ia pikirkan terjadi setelah munculnya suatu rangsangan
Kadang bingung sih.. Kok kayaknya muncul? Gitu.. Aku malah bingung.. Haha.. Kan aku awalnya nggak tahu kalo hal itu bikin inget aku.. Jadi bingung aja.. (Partisipan 2, line 865-868).
Sentuhan fisik yang spontan dari pasangannya cukup mampu membuat P2 merasakan peristiwa kelam itu kembali. Kebingungan dan ketakutan sempat menguasai dirinya. Hal ini digambarkan ke dalam munculnya rasa ketidakberdayaan diri sebagai bagian dari pemikiran berulang tersebut.
Aku sedih nggak bisa jaga diriku.. Karena, kok aku mau-mau aja, sih, berdua pergi? Gitu.. (Partisipan 2, line 759-761).
Rasa tidak berdaya atau emosi negatif yang muncul, membuat P2 memikirkan kembali pandangan inti yang dimilikinya dahulu.
P2 merasakan bahwa peristiwa yang ia alami berdasarkan ketidaksigapannya dalam edukasi seksual. Perasaan takut, enggan, dan perilaku membatasi diri dengan teman-teman lelakinya pun dilakukan oleh P2. P2 merasa bahwa semuanya itu membuat dirinya ragu
terhadap semua nilai yang telah diterimanya. Dahulu P2 senang bergaul dan terbuka dengan lelaki, namun setelah peristiwa tersebut dirinya menjadi lebih tertutup.
Karena, mungkin saat itu aku memang adalah manusia yang kurang beruntung. Menurutku, mungkin saat itu pengetahuanku tentang pengenalan seks itu kurang, itu menurutku (Partisipan 2, line 993-997).
Awal-awal (setelah mengalami kejadian) mungkin berkurang sih..
Lebih ke untuk ke gender-nya.. Awal, aku inget banget awal.. Tapi, senyum sumringah gitu, tapi aku nggak kayak gitu waktu itu (saat di awal pasca peristiwa). Karena agak, takut juga (Partisipan 2, line 1223-1237).
Meski demikian, P2 memilih untuk bisa mengelola setiap emosi negatif yang muncul dengan melakukan pembukaan diri (self-disclosure). P2 mencoba untuk menceritakan pengalaman traumatis tersebut pada orang-orang yang sudah dipercayainya.
Sejauh ini kan baru dua orang, anda (pewawancara) dan pria itu (yang mengetahui cerita tentang pengalaman kekerasan seksual Wu) – (Partisipan 2, line 1052-1055).
P2 memang baru-baru ini menceritakan pengalamannya tersebut. Sesaat setelah mengalami peristiwa kekerasan seksual, P2 sama sekali tidak bercerita pada siapapun karena akan adanya stigmatisasi yang mungkin ditujukan padanya. Akan tetapi, P2 juga melakukan pengelolaan pemikiran berulang dengan koping. Saat itu,
emosi negatif yang dirasakan memang beragam sehingga P2 meresponnya dengan menangis dan sesekali melakukan perjalanan untuk membuat perasaannya lebih baik.
Aku pasti, e, kalo misalnya aku tahu jalan di daerah itu, aku pasti keluar. Mending aku keluar dari gedung, lihat jalanan, lihat orang-orang, aktivitas apa gitu, itu yang aku lakuin... Kalo aku di situ tuh, tetep aja kayak ngerasa di situ loh masalahnya, masih di situ-situ masalahnya.. Jadi mending aku keluar, plong-in (membuat lega) aja mata, pikiran, kayak gitu, kayak, nyari angin lah bahasanya..
(Partisipan 2, line 353-357;365-370).
Pembukaan diri dan koping yang dilakukan oleh P2 berdampak pada pengaruh-pengaruh sosiokultural yang membangkitkan kepercayaan dirinya. Pengaruh ini bersifat pengaruh proksimal yang ia peroleh dari lingkungan terdekatnya yaitu dukungan sosial.
Cuman, baiknya pria ini adalah, kamu harus ini, kamu harus jangan di situ terus, kamu harus membiasakan dirimu.. Kalo enggak mungkin nanti calon suamimu apa gimana, gitu.. Ya nggak tahu, calon suamiku tuh dia apa bukan.. Hahaha.. Aku tahu, dia baik halnya, biar aku tuh nggak terpuruk terus tentang pegangan tangan kayak gini atau gitu..
Ya menurutku dukungan dari dia sih lumayan, sih.. Sejauh ini dia juga membantuku.. Dan dia menerima itu. Aku udah bilang sama dia..
(Partisipan 2, line 684-695).
P2 mendapatkan dukungan emosional dari pasangannya. P2 merasakan bahwa kekasihnya mampu mendengarkan dan memahami seluruh ceritanya tanpa merendahkan P2. P2 juga menganggap bahwa bentuk dukungan dari kekasihnya bukan hanya perhatian, namun juga perlakuan yang tepat supaya P2 tidak merasakan ketakutan lagi. P2 juga memperoleh dukungan kepemilikan sumber daya dari
lingkungan pertemanannya meskipun tidak ada yang mengetahui masa lalu yang berat tersebut.
Dan karena banyaknya teman, aku tuh jadi kayak kehibur.. Walaupun mereka nggak tahu tuh aku lagi kenapa.. (Partisipan 2, line 831-834).
P2 merasa bahwa banyaknya teman yang dimiliki mampu membuatnya terhibur dengan segala sikap dan perilakunya. Walau begitu, P2 juga melakukan pembukaan diri yang lebih mendalam yakni berdoa atau menceritakan seluruh kisahnya kepada Tuhan.
Saat itu, P2 merasakan bahwa hanya Tuhan yang dapat ia andalkan.
Kebiasaanku adalah, ketika aku nggak bisa cerita sama orang, menurutku itu tidak perlu dibicarakan sama sesama teman, aku selalu berbicara sendiri. Berbicara sendiri itu, aku ngobrol sama Yang Mahakuasa (Partisipan 2, line 1540-1545).
Pembukaan diri yang dilakukan oleh P2 membuatnya mampu mengalami perubahan-perubahan dalam berpikir dan berasumsi. Hal ini menunjukkan bahwa P2 juga mengalami pemikiran berulang yang lebih disengaja atau terkontrol. P2 memikirkan peristiwa traumatis berulang kali untuk mengantisipasi atau mengatasi masalah yang mungkin terjadi di masa depan untuk menghilangkan emosi-emosi negatif yang bermunculan.
Karena mungkin kayak gini, kalo misalnya aku diajak ke rumah berdua sama ini, kalo bisa jangan. Aku udah nge-cut-nya gitu. Aku udah mengerti bahwa, walaupun kita ini udah kenal temen kita deket banget, kita nggak ada yang tahu (Partisipan 2, line 815-821).
P2 menjadi lebih memikirkan caranya berinteraksi dengan lawan jenis. P2 lebih melihat batasan dalam berelasi terutama saat berada dalam situasi yang kurang menguntungkan. P2 pun merasa bahwa dirinya harus lebih mengutamakan kepentingan anak perempuannya kelak (jika ia diberi anak perempuan) dalam berelasi dengan siapapun. P2 ingin menjadi figur orangtua yang memahami dan mengerti lingkaran pertemanan anaknya supaya ia bisa memberikan nasihat-nasihat untuk menjaga diri.
(Mewujudkan) Kebebasan buat anak. Dulu, kan dulu aku kenal banyak pria nih.. Aku sampai berpikiran bahwa, nanti anakku yang cewek, harus kayak gini juga kayak aku.. Kayak aku tuh maksudnya, temenan sama siapapun, cowok yang banyak, gitu.. Karena itu pasti bakal ngelindungin anakku, karena itu yang kurasain.. Tapi setelah, e, itu, aku malah, ini sih, bukan ngebebasin semua, aku ngebebasin, iya, tapi untuk pertemanan, aku harus tahu semua temennya (Partisipan 2, line 1371-1383).
P2 pun memahami peristiwa traumatis sebagai bagian dari masa lalunya yang tidak mungkin hilang begitu saja. Peristiwa keekrasan seksual yang pernah menimpa P2 membuat dirinya menjadi pribadi yang mampu memaafkan dan mengikhlaskan. P2 juga memiliki tanggapan berbeda kepada para korban kekerasan seksual setelah dirinya sendiri mengalami peristiwa tersebut. P2 memahami bahwa dunia seorang penyintas tidak akan hancur hanya karena satu trauma mendalam. Seorang penyintas masih memiliki banyak kesempatan untuk melakukan hal-hal baik dalam hidupnya.
Jadi aku emang yang kayak, menurutku aku yang udah kayak, ya udah maafin. Maafin, ikhlasin, pengalaman ya udah, pengalamanmu ya udah sampe situ.(Partisipan 2, line 2488-2492).
Penerimaan yang dilakukan P2 mendorongnya untuk mengubah pandangan atau keyakinan inti dalam dirinya pula.
Pandangan mengenai keharusan menjadi teladan setiap saat, berubah menjadi hal lain yang lebih baik.
Aku jadi sekarang tuh jadi kayak nggak memikirkan hal itu gitu loh..
Karena, apa ya? Intinya aku udah nggak memikirkan bahwa aku nggak harus jadi teladan.. Cuman alangkah lebih baiknya aku, e, ya layaknya manusia yang berbuat sewajarnya, e, berbuat hal-hal baik dan hal baik itu bisa membuat orang lain juga baik, bahagia, bisa mengikuti hal baik itu juga, bisa ditularkan ke yang lain kayak gitu, itu sih aku pikirnya sekarang.. (Partisipan 2, line 2318-2329).
Perubahan pemikiran ini juga diikuti dengan munculnya aspek-aspek pertumbuhan pascatrauma yang secara umum dialami oleh P2.
Pertama, P2 mengalamiperubahan dalam diri (perceived change in self) yang meliputi aspek tumbuhnya kekuatan personal dan menemukan peluang-peluang baru dalam hidup. Saat P2menemukan kekuatan personalyang muncul dari dalam dirinya, P2 merasakan kekuatan tersebut terwujud dalam bentuk mental yang lebih kuat sebagai seorang penyintas kekerasan seksual.
Sejauh ini aku jadi lebih kuat sih.. Dulu menurutku aku juga lemah, lebih tepatnya. Tapi sekarang, aku kuat. I’m strong (aku kuat)! ..
Lebih jadi wanita yang kayak tegar aja sih, udah.. Tegar, kuat, kayak, banyak proses, pasti banyak proses yang aku lewatin. (Partisipan 2, line 1177-1182; 1193-1196).
P2 pun merasakan bahwa mental yang kuat tersebut diikuti dengan perilaku yang lebih siap untuk menolak sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. P2 mengatakan “tidak” apabila hal itu memang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang dianut olehnya.
Kita punya kekuatan sendiri. Katakan tidak, itu harus, gitu, kalau menurut kita itu nggak nyaman. Tegur boleh, tegur-menegur orang misalnya kalo kita nggak suka hal itu, tapi mungkin dengan kalimat yang lebih enak didengar..(Partisipan 2, line 1183-1189).
Kini, P2 pun merasa bahwa dirinya juga mampu mengandalkan diri sendiri dengan lebih baik. Dahulu hidupnya berkecukupan dan P2 mengakui bahwa dirinya bergantung dengan segala yang ada, namun kini P2 menyadari bahwa tangung jawab pada diri sendiri adalah tanggung jawab terbesar. P2 pun memutuskan untuk lebih mengandalkan dirinya sendiri karena menganggap bahwa dirinyalah yang wajib mengatasi semua masalah yang terjadi. Banyak teman dan lingkungan yang mendukungnya untuk berkembang, tetapi saat ia harus mengatasi permasalahan pribadi, P2 selalu berusaha untuk bangkit kembali.
Karena aku yang kayak gini sih; kamu pasti bisa Wu. Kayak ngomong sama diri, gitu. Dan ternyata emang ketika ngomong sama diri sendiri, rasanya itu, wah, iya kamu udah denger dirimu. Gitu.. Gitu sih.. Penguatan dari diri itu ternyata menurutku lebih membantu daripada penguatan orang. (Partisipan 2, line 2070-2077).
Sikap mengandalkan diri sendiri juga disebabkan oleh perubahan pemikiran bahwa hidup P2 bukan menjadi tanggung jawab orangtuanya lagi saat P2 sudah melakukan berbagai aktivitas di luar
rumah. P2 menyadari bahwa orangtuanya pun sudah memberikan kepercayaan kepadanya untuk bersosialisasi dimanapun ia berada.
Saat sudah mengenal hubungan romantis setelah peristiwa kekerasan seksual tersebut, P2 juga memahami bahwa dirinya harus menetapkan batasan dalam hubungan seksual. P2 akan mengatakan “tidak” untuk hubungan seksual yang tidak diinginkannya.
Aku merasa bahwa dulu itu, sebelum kejadian, aku ngerasa kalo aku tuh sepenuhnya adalah tanggung jawab orangtuaku, kayak gitu.. Dan 25% itu aku (yang bertanggung jawab), 75% itu tadinya orangtuaku..
Kenapa aku setelahnya bisa berpikir seperti ini, aku menilai diriku adalah tanggung jawabku dengan 95% dan 5% orangtua, karena ketika aku sudah mengalami masa itu, aku ngerasa bahwa kayak, ternyata orangtuaku tuh nggak sepenuhnya, nggak se-75% itu bertanggung jawab akan diriku. Karena yang membawa diriku adalah diriku, yang membawa tubuhku adalah aku, gitu. Dari situ aku belajar bahwa ketika aku sudah dilepaskan oleh orangtua, maksudnya dilepaskan untuk mengikuti suatu kegiatan, acara, dan sebagainya, itu aku yang tanggung jawab gitu loh.. Aku ngerasa bahwa misalnya nih, aku melakukan sesuatu hal yang bukan kekerasan seksual atau apapun, misalnya entah aku bercumbu ya sama pacarku, aku tahu batas-batasannya yang menurutku aku belum mau. Kan kita, bisa aja aku lakuin entah having sex atau apa, cuman, emang belum mau..
Gitu.. Ya itu tanggung jawabku. Tanggung jawabku misalnya aku nggak mau ya dia harus ngerti gitu.. Tanggung jawab kalo misalnya putus ya putus aja gitu, karena kita having sex atau apa, cuman belum mau, gitu..(Partisipan 2, line 2192-2212, 2218-2231).
Ketika P2 menemukan peluang-peluang baru dalam hidupnya setelah melalui peristiwa kekerasan seksual, P2 merasakan bahwa peluang-peluang baru yang muncul ini terwujud dalam dorongan untuk melakukan perubahan baru dalam hidupnya. P2 memiliki visi baru untuk membentuk keluarga yang saling terbuka di
masa depan. Hal ini adalah hal baru baginya karena P2 belum merasakan adanya keterbukaan yang baik di dalam keluarganya sejak dulu.
Aku pengen punya family yang bahagia.. Kesedihan pasti ada dalam family tapi setidaknya, nantinya aku sama suami, bisa, e, meng-handle beberapa masalah yang bakal muncul atau datang, kan muncul dari internal, datang dari luar.. Bisa kita selesai, bener-bener yang, e, oke, kita duduk bareng, apa nih yang masalah ini.. Kita harus gimana.. Dan kalo bisa jangan sampe ada pisah, gitu loh..(Partisipan 2, line 1688-1698).
P2 pun merasakan bahwa dirinya semakin baik dalam melakukan berbagai hal. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pelajaran hidup yang telah dilaluinya setelah kekerasan seksual.
Ya menurutku itu pasti lah.. (Lamanya proses) membantu, enam tahun pemulihan ini dan orang-orang di sekitarku.. Lebih jadi wanita yang kayak tegar aja sih, udah.. Tegar, kuat, kayak, banyak proses, pasti banyak proses yang aku lewatin.(Partisipan 2, line 1174-1177;1193-1196).
Ketiga, P2 juga merasakan perubahan hubungan dengan orang lain(a changed relationship with others). Secara umum, P2 mengungkapkan bahwa dirinya memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain. P2 memang mengakui bahwa sejak dahulu dirinya adalah pribadi yang ramah dan terbuka untuk menjalin pertemanan dengan orang lain. Akan tetapi, peristiwa traumatis ini
Ketiga, P2 juga merasakan perubahan hubungan dengan orang lain(a changed relationship with others). Secara umum, P2 mengungkapkan bahwa dirinya memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain. P2 memang mengakui bahwa sejak dahulu dirinya adalah pribadi yang ramah dan terbuka untuk menjalin pertemanan dengan orang lain. Akan tetapi, peristiwa traumatis ini