• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Landasan Teori

1. Partisipasi Anak di dalam Pertanian Kentang a.Partisipasi

Kata partisipasi diambil dari bahasa Inggris yaitu participation yang artinya mengikutsertakan pihak lain. Seseorang akan melaksanakan fungsinya di dalam suatu kelompok, dan akan berhasil jika mengikutsertakan partisipasi semua komponen yang ada dalam kelompoknya. Hetifah (2003:187) berpendapat bahwa kendati partisipasi diakui sebagai bagian yang penting dalam proses penyelenggaraan kehidupan, seringkali partisipasi ini tidak bisa dirumuskan posisi dan artinya. Partisipasi dapat mulai dari tahap menentukan mana yang akan dituju dan apa yang akan dihasilkan, yang biasanya disebut dengan tahap rumusan kebijakan dan rencana. Selanjutkan diikuti dengan partisipasi pada tahap menentukan cara untuk mencapai tujuan dan mempertaruhkan sumberdaya agar tujuan dapat tercapai. Akhirnya partisipasi sampai pada tahap mencapai kesamaan pandangan tentang bagaimana memantau dan menilai hasilnya. Dengan demikian secara umum dapat kita mengerti bahwa partisipasi dapat dilakukan mulai dari tahap perumusan kebijakan, penyusunan rencana, tahap implementasi sampai pada tahap

pemantauan dan evaluasi. Jelasnya partisipasi dapat dilakukan pada setiap tahap dalam daur tata penyelenggaraan kehidupan bersama.

Partisipasi adalah perihal turut berperan serta dalam suatu kegiatan. Partisipasi diberi interpretasi yang lebih jelas yaitu ikut serta. Pengertian partisipasi menurut Ensiklopedia pendidikan adalah sebagai berikut: “Sebenarnya partisipasi adalah suatu gejala demokrasi dimana orang diikutsertakan dalam perencanaan serta pelaksaan dan juga ikut memikul tanggungjawab sesuai dengan tingkat kematangan dan tingkat kewajibannya. Partisipasi itu menjadi baik dalam bidang-bidang fisik maupun bidang mental serta penentuan kebijaksanaan.

Menurut Murbyarto dan Kartodirjo (1983:3) partisipasi adalah ketersediaan untuk membantu keberhasilannya setiap program sesuai dengan kemampuan, setiap orang tanpa berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri. Beberapa penulis meyakini bahwa partisipasi adalah kebutuhan hak asasi manusia yang mendasar (Jochen Ropke, 2003:39). Menurut DirJen. Pembangunan Desa tahun 1981 mengartikan partisipasi ialah suatu keikutsertaan seseorang atau kelompok orang dalam suatu aktivitas tertentu. Dalam arti orang atau kelompok orang tersebut ikut merencanakan, melaksanakan dan menikmati hasil dari aktivitas itu sendiri.

Sastrodipoetra dalam Rohman Ainur (2009:45) menyatakan bahwa partisipasi adalah keterlibatan yang bersifat spontan yang

disertai kesadaran dan tanggungjawab terhadap kegiatan kepentingan kelompok untuk kepentingan bersama. Sedangkan definisi lain yang tertulis dalam BPS (1999:23) menerangkan partisipasi adalah kegiatan memanfaatkan waktu luang untuk kegiatan yang berhubungan dengan kegiatan tertentu. Tokoh lain yang mendefinisikan partisipasi secara sedarhana Coben dan Joyomartono (1990:63) bahwa partisipasi sebagai keterlibatan sejumlah besar orang-orang dalam situasi atau tindakan-tindakan dalam usaha meningkatkan kesejahteraan sosial. Sedangkan pendapat Davis dalam Supardjan (2003:57) mengartikan partisipasi sebagai keterlibatan mental dan emosional seseorang dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk ikut serta menyumbangkan kemampuan dalam mencapai tujuan kelompok dan ikut bertanggungjawab atas tujuan kelompok tersebut.

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa partisipasi adalah ketersediaan seseorang mengikuti suatu kegiatan untuk meluangkan waktu, tenaga, pikiran untuk menjalankan dan mengelola suatu kegiatan. Dalam hal ini partisipasi merupakan keterlibatan anak dalam kegiatan pertanian baik perawatan maupun pengolahan lahan pertanian kentang di Desa Dieng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.

1) Dimensi partisipasi

Istilah partisipasi mempunyai banyak dimensi, tergantung dari sudut mana kita memandang. Partisipasi bisa dipandang dari

sifatnya, bentuk pelaksanaan dan peran serta perorangan atau kelompok. Dimensi-dimensi tersebut dijelaskan sebagai berikut oleh Hendar Kusnadi (2005:92):

a) Dimensi partisipasi dipandang dari sifatnya. Berupa partisipasi dipaksakan dan partisipasi sukarela.

b) Dimensi partisipasi dipandang dari bentuknya. Partisipasi dapat bersifat formal dan informal. Pada partisipasi yang bersifat formal biasanya telah tercipta suatu mekanisme formal dalam pengambilan keputusan dan dalam pelaksanaan setiap kegiatan. Pada partisipasi informal biasanya hanya mendapat persetujuan lisan.

c) Partisipasi dipandang dari pelaksanaannya. Partisipasi dapat dilaksanakan secara langsung maupun secara tidak langsung. 2) Jenjang kesukarelaan atau partisipasi

Dusseldrop dalam Mardikanto (2003:23) membedakan adanya beberapa jenjang kesukarelaan sebagai berikut:

a) Partisipasi spontan, yaitu peran serta yang tumbuh berdasarkan motivasi intrinsik berupa pemahaman, penghayatan dan keyakinannya sendiri.

b) Partisipasi terinduksi, yaitu peran serta yang tumbuh karena terinduksi oleh adanya motivasi ekstrinsik (berupa bujukan, pengaruh, dorongan) dari luar, meskipun yang bersangkutan tetap memiliki kebebasan penuh untuk berpartisipasi.

c) Partisipasi tertekan oleh kebiasaan, yaitu peran serta yang tumbuh berdasarkan tertekan yang dirasakan sebagaimana layaknya warga masyarakat pada umumnya atau peran serta yang dilakukan untuk mematuhi kebiasaan, nilai-nilai atau norma yang dianut oleh masyarakat setempat. Jika tidak berperanserta, khawatir akan tersisih atau dikucilkan oleh masyarakatnya.

d) Partisipasi tertekan oleh sosial-ekonomi, yaitu peran serta yang dilakukan karena takut akan kehilangan status sosial atau menderita kerugian atau tidak memperoleh bagian manfaat dari kegiatan yang dilakukan.

e) Partisipasi tertekan oleh peraturan, yaitu peran serta karena takut menerima hukuman dari peraturan/hukum-hukun yang sudah diberlakukan.

Dusseldorp juga membuat klasifikasi dalam 9 dasar tipe klasifikasi dari partisipasi yaitu:

a) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada derajat kesukarelaan, yang terdiri dari partisipasi bebas dan partisipasi terpaksa.

b) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada cara keterlibatan, yang terdiri dari partisipasi langsung dan partisipasi tidak langsung.

c) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada keterlibatan terdiri dari 6 langkah yaitu: perumusan tujuan, penelitian, persiapan rencana, penerimaan rencana, pelaksanaan, penilaian.

d) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada tingkatan organisasi, dibedakan menjadi dua yaitu partisipasi yang terorganisasi0dan0partisipasi0yang0tidak0terorganisasi. e) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada intensitas dan

frekuensi kegiatan, dibedakan menjadi dua yaitu partisipasi intensif dan partisipasi ekstensif.

f) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada lingkup liputan kegiatan. Penggolongan partisipasi ini ada dua yaitu partisipasi tak terbatas dan partisipasi terbatas.

g) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada pada efektifitas, dibedakan menjadi dua yaitu partisipasi efektif dan partisipasi tidak efektif.

h) Penggolongan partisipasi pada siapa yang terlibat.

i) Penggolongan partisipasi berdasarkan pada gaya partisipasi. Penggolongan partisipasi berdasarkan gaya partisipasi ini dibedakan menjadi tiga yakni: pembangunan lokalitas, perencanaan sosial dan aksi sosial.

3) Bentuk partisipasi

Menurut Djatmika (2003:34) partisipasi seseorang dapat diperinci menjadi:

a) Seseorang berpartisipasi dalam memberikan kontribusi atau memberikan sumber dayanya.

b) Seseorang berpartisipasi dalam mengambil keputusan. c) Seseorang berpartisipasi dalam mengambil keuntungan.

Sedangkan bentuk partisipasi menurut Ropke (2003:52) dengan membagi partisipasi menjadi:

a) Partisipasi dalam menggerakkan atau mengkontribusi sumberdaya.

b) Partisipasi dalam mengambil keputusan (perencanaan, implementasi atau pelaksanaan dan evaluasi).

c) Partisiapsi anggota dalam menikmati manfaat. 4) Jenis-jenis partisipasi

Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang partisipasi, disini akan dijelaskan mengenai jenis-jenis partisipasi menurut Keith Davis dalam Sastroputro (1989:56). Jenis-jenis partisipasi, yaitu:

a) Partisipasi berupa pikiran (psychological participation), merupakan jenis keikurtsertaan secara aktif dengan mengarahkan pikiran dalam suatu rangkaian kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu.

b) Partisipasi berupa tenaga (physical participation), adalah partisipasi dari individu atau kelompok dengan tenaga yang dimilikinya, melibatkan diri dalam suatu aktivitas dengan maksud tertentu.

c) Partisipasi yang berupa tenaga dan pikiran (physical and psychological participation). Partisipasi ini sifatnya lebih luas lagi disamping mengikutsertakan aktivitas secara fisik dan non-fisik secara bersama.

d) Partisipasi yang berupa keahlian (participation with skill), merupakan bentuk partisipasi dari orang atau kelompok yang mempunyai keahlian khusus, yang biasanya juga berlatar belakang pendidikan baik formal maupun non-formal yang menunjang keahliannya.

e) Partisipasi yang berupa barang (material participation), partisipasi dari orang atau kelompok dengan memberikan barang yang dimilikinya untuk membantu pelaksanaan kegiatan tersebut.

f) Partisipasi yang berupa uang (money participation), partisipasi ini hanya memberikan sumbangan uang kepada kegiatan. Kemungkinan partisipasi ini terjadi karena orang atau kelompok tidak bisa terjun langsung dari kegiatan tersebut. Jadi partisipasi yang berupa uang atau barang sifatnnya tersamar, karena dalam hal ini individu atau kelompok tidak

kelihatan secara jelas beraktivitas melainkan mengikutsertakan barang atau uangnya.

5) Persyaratan terjadinya partisipasi

Berdasarkan pendapat Keith Davis dan Newstorm dalam Hayati (2001:18) bahwa ada beberapa persyaratan terjadinya partisipasi, yaitu antara lain:

a) Waktu yang cukup untuk berpartisipasi. b) Keuntungan lebih besar dari kerugian. c) Relevan dengan kepentingan.

d) Kemampuan.

e) Kemampuan berkomunikasi timbal balik.

f) Tidak timbul perasaan terancam bagi kedua belah pihak. g) Masih dalam bidang keleluasaan.

Menurut Krech dkk (1988) dalam Sugiyo (1993:5) partisipasi merupakan salah satu bentuk tingkah laku yang ditentukan oleh lima faktor, antara lain:

1) Pengetahuan atau kognitif. Berupa pengetahuan tentang tema, fakta, aturan dan keterampilan membuat translation.

2)Kondisi situasional. Seperti lingkungan fisik, lingkungan sosial, psikososial dan faktor-faktor sosial.

3)Kebiasaan sosial. Seperti kebiasaan menetap.

4)Kebutuhan. Meliputi kebutuhan approach (mendekatkan diri), avoid (menjauh) dan kebutuhan individual.

5)Sikap. Meliputi pandangan, perasaan, kesediaan bereaksi, interaksi sosial, minat dan perhatian.

Parisipasi adalah suatu proses yang aktif, yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasannya untuk melakukan hal itu. Pengertian dari partisipasi di dalam penelitian ini bahwa partisipasi adalah sebagai suatu keikutsertaan dan peran serta anak pada suatu kegiatan yaitu pertanian kentang. Partisipasi anak berupa partisipasi tenaga dan pikiran atau ide dalam proses pertanian kentang, dari proses penanaman kentang sampai pada proses pemasaran kentang. Partisipasi anak dalam kegiatan pertanian kentang diukur melalui intensitas bekerja anak dalam kegiatan pertanian kentang.

Adapun indikator partisipasi anak di dalam pertanian kentang yang diteliti di dalam penelitian ini meliputi:

1) Partisipasi dalam persiapan 2) Partisipasi dalam penanaman 3) Partisipasi dalam pemeliharaan 4) Partisipasi dalam pemupukan 5) Partisipasi dalam pengairan

6) Partisipasi dalam perlindungan dari hama/penyakit 7) Partisipasi dalam panen

Dalam mengukur partisipasi digunakan deskriptif persentase dengan memberi skor 1 sampai 4. Pilihan jawaban responden meliputi: tidak pernah, kadang-kadang, sering, selalu. Kemudian hasil jawaban responden diklasifikasikan menjadi 4 kelas, yaitu: Sangat Rendah (SR), Rendah (R), Tinggi (T), Sangat Tinggi (ST) (Azwar,2012:105).

b. Anak

Menurut Undang-Undang Perlindungan Anak No. 23 Tahun 2002 yang berbunyi: “Anak adalah amanah dan karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya”. Definisi anak pada Pasal 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan “Seorang anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”. Berdasarkan Undang-Undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang menetapkan bahwa “Setiap anak berhak atas perlindungan orangtua, keluarga, masyarakat dan negara. Menindaklanjuti Undang-Undang tersebut, maka telah dilakukan pemerataan sekolah di seluruh pelosok negara untuk meningkatkan pendidikan anak. Serta menekankan pada hak anak atas perlindungan terhadap ketenagakerjaan”.

Selain Undang-Undang di atas, berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 1999 tentang Pengesahan Konvensi Ilo mengenai usia minimum untuk diperbolehkan bekerja menetapkan bahwa: “Konvensi

No. 10 Tahun 1921 mengenai Usia Minimum untuk Sektor Agraria, menetapkan bahwa usia minimum untuk bekerja 14 (empat belas) tahun. Dalam penerapan Konvensi tersebut, di banyak negara masih ditemukan berbagai bentuk penyimpangan batas usia minimum untuk bekerja. Oleh karena itu ILO merasa perlu menyusun dan mengesahkan konvensi yang secara khusus mempertegas batas usia minimum untuk diperbolehkan bekerja yang berlaku di semua sektor yaitu 15 (lima belas) tahun”. Definisi anak di dalam penelitian ini adalah semua anak pada usia 16 - 18 tahun yang telah lulus SMP dan belum melanjutkan ke SMA di Desa Dieng.

c. Pertanian Kentang

Pertanian itu tak lain daripada “bercocok tanam” memang demikian arti pertanian dalam percakapan sehari-hari. Arti sehari-hari tersebut sering disebut dengan nama pertanian dalam arti sempit. “Arti ilmiah dari istilah pertanian lebih luas daripada pengertian sehari-hari, meliputi bidang-bidang seperti bercocok tanam (pertanian dalam arti sempit), perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan, pengolahan hasil bumi dan pula pemasaran hasil bumi” (Kaslan, 1991). Sedangkan menurut Setyowati dan Hardati (2009) pertanian adalah suatu jenis kegiatan yang berdasarkan proses pertumbuhan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Sebagai suatu kegiatan atau proses di dalamnya terdapat unsur-unsur yang saling berkaitan. Unsur-unsur tersebut antara lain adalah proses produksi, usaha tani dan perusahaan

tani. Selain itu ada unsur manusia, tumbuhan, hewan, dan lingkungan tidak dapat dilepaskan begitu saja dari unsur-unsur pokok.

Pendapat lain tentang pengertian pertanian menurut Banowati dan Sriyanto (2011:43) pertanian secara general dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu pertanian dalam arti sempit dan pertanian dalam arti luas. Pertanian dalam arti sempit, jenis pertanian ini disebut juga dengan pertanian rakyat. Juga bisa diartikan sebagai pengolahan tanaman dan lingkungan untuk memberikan produk. Sistem ini diusahakan dalam skala kecil dan perlakuannya bersifat keluarga. Produk utama yang dihasilkan adalah tanaman pokok yang dikonsumsi sehari-hari seperti beras, palawija dan tanaman hortikultura. Pertanian ini diusahakan di sawah, ladang dan pekarangan. Tujuan usaha ini adalah untuk konsumsi sendiri. Dari segi ekonomi, pertanian rakyat merupakan tanaman subsisten, sedangkan pertanian dalam arti luas yaitu kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam untuk menghasilkan produk dengan campur tangan manusia. Pertanian dalam arti luas meliputi pertanian dalam arti sempit (bercocok tanam), perkebunan, kehutanan, peternakan dan perikanan. Sedangkan secara ekonomis pertanian dibagi menjadi dua, yaitu pertanian rakyat terutama bersifat subsisten (tidak untuk komersial) dan pertanian yang bersifat komersial (tujuan untuk pasar). Pertanian merupakan suatu aktivitas manusia yang disengaja, langkah yang perlu dilakukan sehubungan

dengan behavior environment atau pemberdayaan masyarakat antara lain melalui revitalisasi sektor pertanian dengan menggunakan lahan sesuai daya dukungnya. Jika kegiatan pertanian dalam arti luas dilakukan sesuai dengan kemampuan lahannya maka akan membuka lapangan kerja yang menyerap tenaga kerja, sehingga dapat menekan jumlah pengangguran, menghasilkan panen yang optimal, meningkatkan pendapatan petani dan anggota masyarakat lainnya, serta diharapkan dapat mengurangi bencana alam akibat penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuan atau potensi fisiknya. Secara ringkas pengertian pertanian adalah sebagai berikut: 1) proses produksi, 2) pertanian atau pengusahaan, 3) tanah tempat usaha, 4) usaha pertanian (farm business). Pertanian merupakan kegiatan produksi yang memanfaatkan sumberdaya alam (tanah) dengan cara menanam tanaman pertanian.

Kentang adalah tanaman dari keluarga Solanaceae yang memiliki akar umbi yang dapat dimakan. Kata kentang juga biasa digunakan untuk menyebut akar ini. Kentang adalah salah satu makanan pokok di Eropa walaupun awalnya berasal dari Amerika Selatan. Tanaman kentang pertama kali dikembangkan di Eropa pada abad XVI. Kentang merupakan tanaman dikotil yang berbentuk semak/herba. Batangnya yang berada di atas tanah, dan jenis warnanya beragam yaitu berwarna hijau, kemerah-merahan, atau ungu tua. Warna batang dipengaruhi oleh umur tanaman dan keadaan

lingkungan. Pada kesuburan tanah yang lebih baik atau lebih kering, tanaman yang sudah tua warnanya akan lebih menyolok. Bagian bawah batangnya bisa sampai berkayu. Sedangkan batang tanaman muda tidak berkayu sehingga tidak terlalu kuat dan mudah roboh (Herawati, 2012:90).

Jenis kentang (Solanum tuberosum L) termasuk jenis tanaman sayuran berumur pendek dan berbentuk perdu/semak. Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya satu kali produksi, setelah itu mati. Untuk umur tanaman kentang antara 90 - 180 hari. Dalam dunia tumbuhan kentang diklasifikasikan sebagai berikut:

1) Devisi : Spermatophyta 2) Subdivisi : Angiospermae 3) Kelas : Dicotiledonea 4) Family : Solanaceae

5) Genus : Solanum

6) Species : Solanum tuberosum

Varietas kentang yang banyak ditanam di Indonesia adalah kentang kuning yaitu varietas granola, atlantis, cipanas dan segunung (Herawati, 2012:91). Sedangkan jenis tanaman kentang di Desa Dieng didominasi oleh jenis granola.

1) Lahan pertanian kentang

Menurut Johara (1999) dalam Setyowati dan Hardati (2009:34) ruang (space) adalah seluruh permukaan bumi yang merupakan

lapisan biosfera, tempat hidup tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Ruang dapat berubah karena proses alam atau tindakan manusia. Ruang identik dengan lahan yang merupakan aset yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi ataupun sosial. Tanah (land) memiliki arti yang sangat penting bagi manusia karena merupakan tempat dimana manusia melakukan segala aktivitas, dapat digunakan sebagai tempat tinggal (bermukim), berusaha (menopang kebutuhan hidup) dan juga berfungsi tempat interaksi antar manusia (interaksi soial). Seperti dikemukakan oleh Marsil (1974) bahwa ruang akan digunakan oleh manusia untuk menempatkan lokasi aktivitas secara efisien. Pernyataan Marsil tersebut berimplikasi pada tiga prinsip pemanfaatan ruang oleh manusia seperti:

a) Memaksimalkan nilai guna dan produktivitas suatu ruang atau tempat dengan usaha yang minimal.

b) Memaksimalkan interksi spasial dengan usaha atau biaya yang minimal.

c) Menciptakan aktivitas-aktivitas ekonomi sedekat mungkin satu dengan lain tergantung pada sumber daya dan kekuatan hubungan tersebut.

Tidak semua lahan dapat dijadikan lahan pertanian kentang. Menurut Herawati (2012:93) ada beberapa syarat tumbuh untuk pertanian kentang, yaitu:

a) Iklim

(1)Daerah curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun sangat sesuai untuk membudidayakan kentang. Daerah yang sering mengalami angin kencang tidak cocok untuk budidaya kentang.

(2)Lama penyinaran yang diperlukan tanaman kentang untuk kegiatan fotosistesis adalah sekitar 9 - 10 jam/hari. Lama penyinaran juga berpengaruh terhadap waktu dan masa perkembangan umbi.

(3)Suhu optimal adalah 18 - 20o C. Pertumbuhan umbi akan terhambat apabila suhu tanah kurang dari 10o C dan lebih dari 30o C.

(4)Kelembaban yang sesuai untuk tanaman kentang adalah 80 - 90%. Kelembaban yang terlalu tinggi akan menyebabkan tanaman mudah terserang hama dan penyakit, terutama yang disebabkan oleh cendawan.

b) Media tanam

(1)Secara fisik, tanah yang baik untuk bercocok tanam kentang adalah yang berstruktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, drainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam. Sifat fisik tanah yang baik akan menjamin ketersediaan oksigen di dalam tanah.

(2)Tanah yang memiliki sifat ini adalah tanah andosol yang terbentuk di pegunungan-pegunungan.

(3)Keadaan pH tanah yang sesuai untuk tanaman kentang bervariasi yaitu antara 5,0 - 7,0 tergantung pada varietasnya. Untuk produksi yang baik pH yang rendah tidak cocok ditanami kentang. Pengapuran mutlak diberikan pada tanah yang memiliki nilai pH dibawah 7,0.

c) Ketinggian tempat

Daerah yang cocok untuk menanam kentang adalah pada dataran tinggi/daerah pegunungan, dengan kemiringan antara 1.000 - 3.000 m dpl. Ketinggian idealnya berkisar antara 1.000 - 3.000 m dpl. Beberapa varietas dapat ditaman di dataran menengah (300 - 700 m dpl).

Sedangkan keadaan di lapangan penelitian ditemukan kondisi fisik lahan pertanian kentang di Desa Dieng meliputi:

(1) Pola pertanian kentang di Desa Dieng

Pola pertanian kentang di Desa Dieng adalah pertanian lahan kering. Lahan kering/ladang merupakan sistem pertanian yang paling primitif. Suatu sistem peralihan dari tahap budaya pengumpul ke tahap budaya penanam. Pengelolaan tanahnya sangat minimum, produktivitas bergantung pada ketersediaan lapisan humus yang ada, yang terjadi karena sistem hutan. Sistem ini pada umumnya

terdapat di daerah yang berpenduduk sedikit dengan ketersediaan lahan tak terbatas. Tanaman yang diusahakan pada umunya tanaman pangan, seperti padi, jagung atau umbi-umbian (Banowati dan Sriyanto, 2011:41). Luas lahan pertania di Desa dieng seluas 62,51 hektar. Di tahun 2012 jumlah produksi kentang sebanyak 10.771,17 kw. Sehingga produktivitas pertahunnya sebanyak 172,30 kw/ha.

(2) Kondisi tanah pertanian kentang di Desa Dieng

Berdasarkan Peta Tanah Skala 1: 50.000 kondisi tanah di Dieng tidak bervariasi, jenis tanah yang berkembang adalah tanah alluvial, regosol, andosol dan sedikit organosol ekotraf. Berdasarkan sampel analisis Bappeda, struktur tanah granuler, permeabilitas sedang, pH 5,6, kadar bahan organik (BO) 2,3%, kandungan pasir kasar sebesar 5,1%, kandungan pasir halus dan debu sebesar 68%. Tekstur pada umumnya sandy loam pada lapisan atas dan loam sandy clay pada lapisan bawah. Secara umum identifikasi jenis tanah di kawasan Dieng terdiri dari tanah regosol berkembang dari batuan lepas-lepas merupakan tanah yang masih muda karena belum mengalami proses pelapukan lanjut. Jenis tanah regosol potensial kesuburan tanah cukup tinggi namun kesuburan aktual rendah karena tingginya proses pelindihan tanah. Kondisi tanah telah banyak

mendapat campur tangan manusia, karena penduduknya memanfaatkan lahan untuk pertanian kentang secara intensif. Pengaruh pupuk kandang dan pupuk kimia sangat dominan. Lahan pertanian terdapat pada kemiringan 15 - 40% (Setyowati dan Hardati, 2009:29).

(3) Iklim di Desa Dieng

Dieng merupakan daerah perbukitan dengan ketinggian berkisar antara 1.500 - 2.000 m dpl, dengan curah hujan rata-rata lebih dari 3.500 mm/tahun, curah hujan bulan terbasah pada bulan Januari dan bulan terkering pada bulan Agustus. Puncak hujan pada akhir bulan Desember sampai bulan Januari. Menurut klasifikasi Schmidt - Ferguson iklim Dieng tergolong tipe A, yaitu iklim basah. Temperatur udara rerata berkisar antara 19,3oC - 20,6oC. Kelembaban udara rata-rata sekitar 86,6%, kelembaban udara minimum 53% dan kelembaban udara maksimum 100%. Sistem pengairan untuk pertanian menggunakan pipa-pipa kecil (Setyowati dan Hardati, 2009:32).

(4) Jangka waktu panen pertanian kentang

Jangka waktu yang dibutuhkan pertanian kentang untuk sekali panen adalah 3 bulan.

Beberapa alasan penduduk Dieng melakukan usaha tanaman kentang dikemukakan sebagai berikut:

(1)Tanaman kentang paling ekonomis dan menguntungkan karena dalam satu tahun bisa tiga kali panen, walaupun biaya produksi mahal tetapi petani masih memperoleh keuntungan yang lebih.

(2)Tanaman kentang tidak mengenal musim, kapanpun bisa ditanam asalkan disiram.

(3)Kentang tidak mudah busuk, bisa tahan selama dua bulan setelah dipanen (dengan angka susut sebesar 5% saja).

(4)Pemasaran sangat mudah, petani tidak perlu memasarkan karena pembeli datang sendiri.

(5)Tanaman kentang merupakan tradisi turun temurun sehingga budaya menanam kentang terus berjalan (Setyowati dan Hardati, 2009:40).

Herawati (2012:104) menjelaskan standar produksi kentang meliputi klasifikasi dan syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara pengujian contoh, syarat penandaan dan pengemasan. Kentang yang segar adalah umbi batang dari tanaman kentang dalam keadaan utuh bersih dan segar, sesuai

Dokumen terkait