HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Tingkat Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Terhadap Hutan Kota .1 Persepsi masyarakat .1 Persepsi masyarakat
5.1.2 Partisipasi dan peran masyarakat dalam pengelolaan hutan kota
Partisipasi adalah hal turut berperan serta dalam suatu kegiatan (Suharto dan Iryanto (1989) diacu dalam Rahmawaty et al. (2006). Berdasarkan tangga partisipasi Arnstein, partisipasi masyarakat Kecamatan Bogor Tengah ini berada pada tingkatan terendah yaitu manipulasi dan terapi yang dideskripsikan tidak adanya partisipasi. Pada tingkatan ini tidak ada partisipasi dari masyarakat dalam merencanakan maupun melaksanakan program. Pemegang kekuasaan mendikte masyarakat dimana tidak ada dialog diantara mereka.
Bentuk partisipasi masyarakat dalam upaya pengelolaan hutan kota di Kota Bogor khususnya Kecamatan Bogor Tengah yang dikemukakan oleh seluruh responden penelitian adalah sama, yaitu pada umumnya masyarakat belum pernah berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dalam upaya pengelolaan hutan kota di Kota Bogor. Hal ini sangat bertentangan dengan persepsi dan sikap masyarakat yang positif terhadap kawasan hutan kota. Masyarakat mengetahui arti pentingnya hutan kota yang ada bagi kehidupan mereka dan perlunya kegiatan pelestarian terhadap kawasan, tapi masyarakat belum pernah mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Tidak adanya partisipasi terhadap pengelolaan hutan kota ini terjadi dikarenakan dari pemerintah sendiri memang belum pernah mengadakan kegatan-kegiatan yang menuntut keterlibatan masyarakat baik berupa penyuluhan maupun upaya-upaya pengelolaan lainnya. Berdasarkan karakteristik partisipasi Pretty (1995), partisipasi masyarakat ini digolongkan kedalam partisipasi pasif. Masyarakat berpartisipasi berdasarkan informasi yang mereka terima dari pihak luar tentang apa yang terjadi di lingkungan mereka.
Masyarakat memang belum berpartisipasi secara langsung dalam pengelolaan hutan kota di Kota Bogor baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan maupun pemantauan, namun mereka merasa bertanggungjawab menjaga areal yang ada itu dengan tidak melakukan partisipasi yang negatif seperti mencoret-coret dan menebang pohon di wilayah hutan kota dan melakukan perburuan satwa. Bahkan mayoritas dari masyarakat turut berpartisipasi dalam upaya perbaikan kualitas lingkungan dengan melakukan penanaman di sekitar rumah atau halaman mereka. Beberapa responden dengan tingkat ekonomi atas bersedia berpartisipasi dalam upaya pembiayaan pengelolaan hutan kota, hanya saja tidak adanya pengelolaan dari pemerintahnya sendiri untuk hal tersebut.
Terkait dengan permasalahan pengelolaan hutan kota, masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi obyek melainkan dapat menjadi subyek dalam program-program pengelolaan lingkungan. Dengan demikian akan tumbuh perasaan memiliki dan dengan sukarela akan menjaga dan mengelola lingkungan dengan baik. Persepsi masyarakat yang cenderung baik merupakan modal pertama untuk menyertakan masyarakat dalam program pengelolaan hutan kota. Hal ini sejalan
dengan pernyataan Surata (2003) persepsi sangat mempengaruhi perilaku seseorang terhadap lingkungannya. Seseorang yang mempunyai persepsi benar mengenai lingkungan, kemungkinan besar orang tersebut berperilaku positif terhadap upaya-upaya pelestarian lingkungan. Masyarakat dapat bertindak sebagai pelaku utama, penerima manfaat dan sekaligus sebagai pengawas kegiatan dalam program pengelolaan hutan kota. Masyarakat merupakan penerima langsung manfaat dari adanya hutan kota karena faktor keberadaan mereka yang dekat dengan kawasan hutan kota. Sebagai pengawas, masyarakat dapat mengawasi/kontrol berbagai kegiatan di kawasan hutan kota kapan saja tanpa harus meninggalkan pekerjaan mereka. Dengan peran masyarakat sebagai pengawas, maka permasalahan-permasalahan yang terjadi di kawasan hutan kota dapat dideteksi sedini mungkin dan dapat segera dilaporkan ke pemerintah. Sehingga pemerintah dan masyarakat dapat bersama-sama menangani permasalahan yang timbul dengan cepat. Peran masyarakat sebagai pelaku utama memegang peran sentral dalam implementasi program pembangunan dan pengelolaan hutan kota, sehingga pengelolaan tidak lagi terpaku pada pemerintah. Bentuk partisipasi masyarakat dalam mengelola lingkungan dapat dilakukan mulai dari proses perencanaan sampai operasional mengelola hutan kota. Sesuai dengan pernyataan Huda (2008) yang menyatakan bahwa pelibatan masyarakat dalam pengelolaan ekosistem dapat dilakukan dalam beberapa tahap yaitu pada tahapan perencanaan, pelaksanaan awal, adopsi program/persetujuan, implementasi/pelaksanaan serta tahapan pemantauan dan evaluasi. Partisipasi masyarakat tersebut dalam mengelola merupakan suatu aset sumber daya manusia yang harus dimanfaatkan secara maksimal guna memelihara hutan kota yang ada.
Bentuk partisipasi masyarakat yang dapat dilakukan dalam berbagai tahap pengelolaan hutan kota tersaji dalam Tabel 7.
Tabel 7 Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan kota
Tahapan Partisipasi peran masyarakat dalam pengelolaan hutan kota Perencanaan Partisipasi dalam pengumpulan data dasar dan pelatihan pengumpulan data
Menghadiri pertemuan dalam identifikasi dan analisis isu.
Pemberi masukan terhadap permasalahan serta penentuan prioritas isu Berpartisipasi dalam penyusunan draft perencanaan
Pelaksanaan awal Berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan pendidikan lingkungan hidup Berpartisipasi dalam pelatihan pengelolaan
Berpartisipasi dalam pembuatan konsep rencana pengelolaan
Pengambil keputusan dan pelaksanaan dalam kegiatan pelaksanaan awal Berpartisipasi dalam penentuan kelompok inti/kelompok perencanaan Pengambil keputusan dan pemberi masukan dalam rencana pengelolaan hutan kota
Adopsi program/ Berpartisipasi dalam menentukan isu prioritas, tujuan pengelolaan, dan kegiatan yang akan dilakukan, serta waktu pelaksanaan.
persetujuan
Berpartisipasi dalam persetujuan rencana pengelolaan, dan pendanaan Memberi dukungan terhadap pendanaan dan bantuan teknis
Mencari dukungan dana dan bantuan teknis melalui swadaya masyarakat, pengusaha, lembaga donor lain, LSM, perguruan tinggi, selain dukungan dana dari pemerintah.
Bersama-sama dengan pemerintah menyetujui rencana pengelolaan, strategi, dan pendanaannya.
Berpartisipasi dalam peluncuran dokumen rencana pengelolaan Implementasi/ Berpartisipasi dalam rapat untuk menentukan rencana tahunan
pelaksanaan Berpartisipasi dalam rapat untuk menentukan anggota kelompok pengelola Pengambil keputusan bagi prioritas kegiatan dalam rencana tahunan Penyusunan rencana kerja/kegiatan
Pemberi kontribusi tenaga dan dana Berpartisipasi dalam pelaksanaan kegiatan
Berpartisipasi dalam pembuatan laporan dan pertanggungjawaban keuangan dan program
Berpartisipasi dalam presentasi laporan dalam rapat umum Pemantauan dan Berpartisipasi dalam pelatihan pemantauan dan evaluasi
evaluasi Bertindak sebagai pengawas kesepakatan/aturan dan pelaporan pelaksanaan aturan dan rencana
Bertindak sebagai pemantau dan pengevaluasi pelaksanaan rencana kerja tahunan dan dana.