DAFTAR GAMBAR
6 PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN PROGRAM KEUANGAN MIKRO
Pendekatan partisipasi bertumpu pada kekuatan masyarakat untuk secara aktif berperan serta (ikutserta) dalam proses pembangunan secara menyeluruh. Partisipasi aktif masyarakat dalam pelaksanaan program pembangunan memerlukan kesadaran, minat dan kepentingan yang sama. Untuk berhasilnya sebuah program pembangunan, masyarakat dituntut untuk ikut serta terlibat tidak hanya pada aspek kognitif dan praktis tetapi juga ada keterlibatan emosional terhadap program tersebut (Adi 1994).
Selanjutnya Jamieson (1989) dalam Mikkelsen (2011) mengatakan bahwa paradigma pembangunan partisipatoris mengindikasikan adanya dua perspektif: pertama, pelibatan masyarakat setempat dalam pemilihan, perancangan, perencanaan, dan pelaksanaan program atau proyek yang akan mewarnai hidup mereka, sehingga dengan demikian dapatlah dijamin bahwa persepsi setempat, pola sikap dan pola fikir serta nilai-nilai dan pengetahuannya ikut dipertimbangkan secara penuh. Kedua adalah membuat umpan balik (feed back) yang pada hakekatnya merupakan bagian tak terlepaskan dari kegiatan pembangunan.
Berikut adalah hasil kuisioner terhadap beneficeries program Keuangan Mikro dan in-depth interview terhadap stakeholders:
Partisipasi Masyarakat pada Tahap Perencanaan
Keterlibatan masyarakat khususnya penerima manfaat program (beneficeries) dalam proses perencanaan sangatlah penting seperti pada program implementasi TJS PTNNT lainnya. Tabel 42 berikut memberikan gambaran tentang pelibatan masyrakat dalam tahap perencanaan:
Tabel 42 Keterlibatan masyarakat (beneficeries) dalam merencanakan program Keuangan Mikro No Uraian Jumlah % 1 Sangat terlibat 1 2,63 2 Terlibat 12 31,58 3 Kurang terlibat 16 42,11 4 Tidak terlibat Jumlah 9 38 23,68 100 Tabel 42 menunjukkan bahwa sebanyak 42,11% responden menyatakan kurang terlibat, dan 23,68% menyatakan tidak terlibat. Artinya bahwa sekitar 65,79% responden kurang bahkan tidak berpartisipasi dalam proses perencanaan program Keuangan Mikro. Sisanya hanya 31,58% menyatakan terlibat, dan hanya 2,63% responden yang menyatakan sangat terlibat.
Partisipasi Masyarakat padaTahap Implementasi
Sejauhmana tingkat partisipasi masyarakat dalam tahapan implementasi program Keuangan Mikro YOP dapat dilihat pada Tabel 43 berikut:
Tabel 43 Keterlibatan masyarakat (beneficeries) dalam implementasi program Keuangan Mikro No Uraian Jumlah % 1 Sangat terlibat 2 5,26 2 Terlibat 18 47,37 3 Kurang terlibat 15 39,47 4 Tidak terlibat Jumlah 3 38 7,89 100 Tabel 43 menunjukkan bahwa sebanyak 47,37% responden menyatakan terlibat dalam proses pelaksanaan program Keuangan Mikro, dan 5,26% menyatakan sangat terlibat. Artinya sekitar 52,63% masyarakat dilibatkan pada tahapan implentasi ini. Sekitar 39,47% menyatakan kurang terlibat, dan sisanya tidak terlibat sebanyak 7,89%. Keteribatan yang dimaksud dalam hal ini adalah kegiatan pada saat dilakukan survey lapangan, kegiatan realisasi, pemanfaatan modal pinjaman dan kegiatan pengembalian ke PTPOS Indonesia. Dibandingkan dengan tingkat keterlibatan pada tahapan pengelolaan program lainnya (perencanaan, monitoring dan evaluasi), maka pada tahapan inilah keterlibatan masyarakat paling tinggi.
Beberapa hal berikut adalah fakta lain dari hasil survey terkait implementasi program Keuangan Mikro (Tabel 44):
Tabel 44 Pernyataan masyarakat (beneficeries) dalam pelaksanaan program Keuangan Mikro No Uraian Jumlah % 1 1 Kali 1 2,63 2 2 Kali 4 10,53 3 3 Kali 10 26,32 4 > 3 Kali Jumlah 23 38 60,53 100 Sebanyak 60,53% responden menyatakan pernah menerima program Keuangan Mikro YOP lebih dari 3 kali. Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian
besar nasabah YOP berkarakter “baik” karena salah satu syarat memperoleh
pinjaman KeuanganMikro adalah mempunyai karakter baik. Jika tidak, seseorang tidak akan pernah mendapatkan punjaman berikutnya. Oleh karenanya, seseorang yang mendapatkan pinjaman lebih dari tiga kali tentu mempunyai karakter yang telah teruji.
Terkait perolehan informasi, bahwa informasi awal tentang program Keuangan Mikro umumnya diperoleh dari petugas YOP yang berada di desa (biasa disebut Operasional Pembiayaan atau disingkat OP), hal ini dinyatakan oleh 52,63% responden. Sedangkan informasi lainnya diperoleh dari, tetangga, aparat desa, dan dari saudara/ kerabat masing sebesar 15,79% (Tabel 45).
Tabel 45 Pernyataan masyarakat (beneficeries) menerima informasi tentang program Keuangan Mikro
No Uraian Jumlah %
1 Tetangga 6 15,79
2 Saudara/ kerabat 6 15,79
3 Aparat desa 6 15,79
4 Petugas dari YOP/ PTNNT Jumlah
20 38
52,63 100 Terkait dengan kegiatan sosialisasi program yang dilakukan oleh pihak YOP terhadap masyarakat, sebanyak 86,84% responden menyatakan pernah menerima sosialisai tentang program tersebut, sisanya hanya 13,16% menyatakan tidak ada/ tidak pernah mendapatkan sosialisasi (Tabel 46).
Tabel 46 Pernyataan masyarakat (beneficeries) terkait kegiatan sosialisasi program Keuangan Mikro
No Uraian Jumlah % 1 Ada 33 86,84 2 Tidak ada Jumlah 5 38 13,16 100 Terkait sosialisasi, pandangan berbeda dikemukakan tokoh masyarakat yang juga mantan kepala desa berikut ini:
“Waktu saya menjadi kepala desa dulu, syaratnya hanya
sepengetahuan kepala desa saja. Namun saat ini saya tidak tahu
persyaratannya” (MTr, 2014).
Pernyataan para tokoh tersebut menunjukkan bahwa pendekatan sosialisasi yang dilakukan YOP belum menyentuh kalangan di luar nasabah, khususnya tokoh masyarakat yang sebenarnya dapat berperanserta dalam membantu mensukseskan pelaksanaan program.
Pernyataan senada juga disampaikan oleh tokoh masyarakat dan juga mantan kepala desa lainnya sebagai berikut:
“…tidak ada sosialisasi. Pernah sekali dan itu sudah cukup lama. Sebenarnya harus ada keterlibatan desa sebagai pengontrol, sehingga kalau nasabah macet atau nakal, desa punya wewenang untuk memanggil nasabah tersebut. Saat ini, desa tidak mau pusing dengan program tersebut” (LBA 2014).
Jika dicermati, pernyataan LBA di atas menyiratkan bahwa
stakeholders berharap dilibatkan dalam pengelolaan program, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi setidaknya dalam monitoring dan proses edukasi kepada nasabah. Jika dilihat dari sisi TJS PTNNT, maka pelibatan stakeholders dalam pengelolaan program adalah bagian dari upaya
engagement.
Selanjutnya, sebanyak 60% responden menyatakan bahwa bidang usaha yang dikelola dalam program Keuangan Mikro YOP adalah usaha perdagangan,
disusul bidang pertanian 18,42%, peternakan 10,53%, bidang jasa sebanyak 7,89%, dan sisanya bidang perkebunan sebanyak 2,63% (Tabel 47).
Tabel 47 Pernyataan masyarakat (beneficeries) terkait kegiatan sosialisasi program Keuangan Mikro
No Uraian Jumlah % 1 Usaha Pertanian 7 18.42 2 Usaha Peternakan 4 10.53 3 Usaha Perkebunan 1 2.63 4 Usaha Jasa 3 7.89 5 Usaha Perdagangan Jumlah 23 38 60.53 100 Berkembangnya usaha dibidang perdangan pada Tabel 48, merupakan salah satu dampak dari proses industrialisasi tambang PTNNT.
Partisipasi Masyarakat padaTahap Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi, merupakan salah satu tahapan yang menentukan dalam kesuksesan sebuah program. Tingkat partisipasi masyarakat pada tahap monitoring dan evaluasi pada program Keuangan Mikro YOP dapat dilihat dari Tabel 48 di bawah ini:
Tabel 48 Keterlibatan masyarakat (beneficeries) dalam monitoring dan evaluasi program Keuangan Mikro
No Uraian Jumlah % 1 Sangat terlibat 2 5,26 2 Terlibat 14 36,84 3 Kurang terlibat 12 31,58 4 Tidak terlibat Jumlah 10 38 26,32 100 Tabel 48 menunjukkan bahwa sebanyak 36,84% responden menyatakan terlibat, dan 5,26% menyatakan sangat terlibat dalam mengontrol progam Keuangan Mikro. Sisanya, sebanyak 31,58% nasabah menyatakan kurang, dan 26,32% merasa tidak terlibat. Keteribatan yang dimaksud dalam hal ini berupa (1) penggunaan pinjaman dan waktu pengembalian pinjaman di tingkat usaha yang dilaksanakan, dan (2) mencari tahu (dalam komunitas) siapa saja yang mendapatkan program Keuangan Mikro serta bagaimana mengelola dan mengembalikan pinjaman.
Terkait pelibatan masyarakat dan stakeholders dalam monitoring dan evaluasi program Keuangan Mikro, beberapa pandangan para tokoh berikut berbeda dengan pandangan para responden, seperti pandangan salah seorang kepala desa berikut ini:
“Dulu sebenarnya kami sempat dilibatkan. Namun selama ini kami sudah tidak dilibatkan lagi. Padahal sebenarnya jika desa dilibatkan paling tidak kami akan bertanggungjawab untuk mengontrol pogram
tersebut disamping bisa memastikan siapa yang layak mendapatkan
bantuan” (LNw 2014).
Pernyataan tersebut diperkuat oleh pernyataan tokoh lain yang merupakan mantan kepala desa berikut ini:
“…ya haruslah, sesekali harus melibatkan tokoh-tokoh masyarakat untuk rapat, evaluasi dan lain sebagainya. Namun sejauh ini tidak
pernah dilakukan” (MTr 2014).
Pandangan tokoh lainnya memperkuat pandangan sebelumnya, sekaligus menyampaikan konsen jika program melibatkan pemerintah desa dan tokoh masyarakat, sebagai berikut:
“Program ini tidak melibatkan tokoh masyarakat atau desa. Sampai saat ini kita tidak pernah diajak rapat dalam pembahasan program tersebut. Meskipun saya juga melihat akan rumit juga jika dalam program ini melibatkan pemerintah desa dan tokoh masyarakat. Sehingga sampai saat ini tidak ada kontrol dari tokoh masyarakat” (URh 2014).
Pendapat yang sama juga dikemukan tokoh dan juga mantan kepala desa lainnya berikut:
“Saya tidak melihat ada keterlibatan pemerintah desa dalam program
ini. Desa tidak memiliki kewajiban untuk mengontrol program
tersebut” (SUd, 2014).
Pendangan yang bermakna lebih luas lagi disampaikan oleh tokoh dan juga mantan kepala desa berikut:
“Dari segi organisasi mungkin ketidak terlibatan desa juga tidak
masalah. Namun sebagai mitra memang harus dilibatkan karena jika terjadi sesuatu dengan program ini kita bisa minta bantuan desa. Memang sejauh ini Desa hanya sebatas mengetahui saja tidak terlibat secara katif seperti masa-masa awal” (MYn 2014).
Pandangan tokoh berikut memperkuat pernyataan sebelumnya bahkan dengan mengambil perbandingan dengan program yang sama yang dilaksanakan oleh pemerintah yaitu PNPM, sebgai berikut:
“Ya perlu sekali karena selama ini mereka tidak pernah menjalin
komunikasi atau kemitraan dengan pemerintah desa. Kita lihat seperti program PNPM misalnya, program ini langsung dikelola di desa. Saya
menganggap ini kendala program YOP selama ini” (RTn 2014).
Pemaparan terkait partisipasi di atas, dapat diikhtisar beberapa poin penting sebagai berikut:
1) Partisipasi masyarakat dalam program Keuangan Mikro dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu, partisipasi nasabah (beneficeries) dan partisipasi
stakeholders (kepala desa, tokoh masyarakat dan para elit desa).
2) Nasabah selanjutnya disebut masyarakat pada umumnya pernah dilibatkan dilibatkan dalam tahapan program minimal pada tahap pelaksanaan/ implementasi program. Sedangkan stakeholders yang diwawancari semuanya
satu bahasa mengatakan bahwa mereka tidak pernah sekalipun dilibatkan dalam semua tahapan pengelolaan program.
3) Khusus terkait pelibatan dalam pengelolaan program, beberapa stakeholders
menganggap bahwa pendekatan yang dilakukan YOP Jilid I lebih baik dibandingkan Jilid II karena memberikan ruang partisipasi bagi mereka.
4) Pelibatan masyarakat dan stakeholders dalam pengelolaan program akan dapat meningkatkan kinerja program.
5) Pelibatan stakeholders dalam pengelolaan program, disamping membantu melakukan kontrol atau pengwasan juga dapat memberikan edukasi kepada masyarakat. Dalam perspektif TJSP, hal tersebut merupakan bagian dari upaya
engagement.
6) Jika merujuk kepada konsep Cohen and Uphoff (1980) dalam Nasdian (2014) yang melihat bahwa keterlibatan masyarakat dalam sebuah program dimulai dari tahap pembuatan keputusan, penerapan keputusan, penikmatan hasil, dan evaluasi, maka masyarakat hanya dilibatkan tahap penerapan keputusan dan menikamati hasil. Pada tahapan monitoring sebagian kecil dilibatkan, sedangkan pada tahapan terpenting yaitu perencanaan tidak pernah ada pelibatan.
7) Rendahnya tingkat partisipasi tersebut sangat berkaitan dengan karakteristik program Keuangan Mikro YOP dimana nasabah hanya menerima keputusan/ hasil penentuan. Sementara stakeholders tidak memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam pengelolaan Keuangan Mikro YOP.
7 STRATEGI PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN PROGRAM